Setelah pulang dari acara wisuda Shaka, aku langsung merebahkan tubuhku di kamar. Sedangkan Shaka sibuk berkutat di layar laptopnya. Memang aku akui dia memang anak yang rajin dan pekerja keras, tak mengenal kata capek dan lelah, meskipun dia baru pulang dari acara wisudanya.
Sambil rebahan, pikiranku terus melayang pada pertemuanku dengan Bang Hakam di acara wisuda Shaka tadi. Awalnya aku kira hari ini adalah hari bahagiaku dimana aku akan menyaksikan anakku lulus menyandang gelar Sarjana. Namun hari bahagiaku ini sedikit terganggu, karena adanya kehadiran Bang Hakam dan keluarganya yang datang secara tiba-tiba itu, setelah belasan tahun lamanya kami tidak berjumpa dengannya. Hal-hal sedih di masa lalu pun kini mulai bermunculan lagi di benakku. Aku ingat betul dulu di saat sidang perceraian yang terakhir Bang Hakam melemparkan uang 100 ke arah wajahku.
"Arini ini uang jajan untuk Shaka. Dihemat ya! Dan ingat jangan digunakan untuk keperluanmu!" Aku ingat kata-kata yang menyakitkan itu, hingga sampai sekarang pun aku masih mengingatnya, tak mungkin lupa.
Waktu itu Shaka sangat masih kecil belum mengerti tentang masalah kedua orang tuanya. Kira-kira Shaka berusia 5 tahun ketika aku dan Bang Hakam bercerai. Sedih memang sedih harus dibuang dan dicampakkan demi wanita lain dan keluarganya, tapi apalah dayaku saat itu hanya bisa pasrah dan menerimanya.
Sederetan kisah sedih di masa laluku seolah-olah berebutan kembali muncul di benakku. Hingga tak terasa di ujung ekor mataku menggenang air mata. Cepat aku mengusapnya, agar tidak tumpah meleleh di pipiku.
Aku mencoba menarik nafas dalam-dalam, membuang semua kisah sedih itu dalam benakku. Sekarang aku sudah bahagia dengan anakku. Aku tak boleh mengingat kenangan pahit itu lagi, tak boleh.
Di tengah lamunanku yang lumayan menguras emosi dan air mata, tiba-tiba ketukan pintu terdengar dua kali dari luar, dan siapa lagi jika bukan Shaka anakku. Ya, karena di rumah ini memang ada aku dan Shaka saja, tidak ada yang lain.
"Bu, Ibu, Shaka boleh masuk tidak?" tanya Shaka dari luar kamar. Ah, betapa sopannya anakku ini, mau bertemu denganku saja harus minta izin segala. Padahal tanpa meminta izin pun aku pasti mengijinkannya masuk.
"Masuk saja, Nak, sini!" sahutku dari dalam kamar. Aku pun langsung bangkit dari tidurku dan cepat membereskan segala kekacauan yang ada di wajahku. Sisa-sisa genangan air mata buru-buru aku seka dengan ujung bajuku, agar tidak terlihat jika aku sudah habis menangis. Dan sebisa mungkin aku memasang wajah hangat, seperti tak ada tanda-tanda kesedihan sebelumnya.
Pintu pun terbuka, terlihat Shaka menghampiriku. Lalu dia duduk di sampingku. Sejenak dia menatapku, seolah-olah memastikan Ibunya ini tidak kenapa-kenapa.
"Ibu, tidak apa-apa, kan?" katanya sambil mengusap punggung tanganku, yang kulitnya lumayan sudah tidak sekencang dulu di saat Shaka berusia 5 tahunan.
"Ibu, tidak apa-apa, Nak. Jangan terlalu mengkhawatirkan Ibu." Aku mencoba menyembunyikan rasa sedih, ketika ingatan masa lalu kerap datang dalam benakku.
"Syukurlah kalau Ibu tidak apa-apa." Sejenak Shaka terdiam, dan sejurus kemudian dia melanjutkan kembali ucapannya.
"Bu, masalah tadi mengenai kedatangan laki-laki itu, jangan Ibu pikirin, ya! Shaka juga sebenarnya tidak senang bertemu dengan laki-laki itu lagi. Apalagi minta tolong demi Istri barunya itu. Memang laki-laki itu tidak tahu malu," ucap Shaka dengan berapi-api.
"Siapa bilang Ibu memikirkan laki-laki itu. Entahlah seenaknya saja dia mengemis padamu minta uang, padahal dulu mana ingat dia sama kamu, Nak." Aku pun sama kesalnya seperti Shaka, hanya sekedar membicarakannya saja hati dan pikiran ini terasa mendadak panas.
"Syukurlah kalau Ibu tidak memikirkannya. Oh, ya, Bu, jangan pernah ada kata istilah Ibu tergoda dengan laki-laki itu, Shaka tak rela jika Ibu kembali padanya." Tanpa disangka dan di luar dugaanku, tiba-tiba Shaka berkata seperti itu. Ingin rasanya aku tertawa, bisa-bisanya anakku bisa berpikiran ke arah itu. Sudah jelas aku sangat membencinya. Jangankan ada pikiran untuk balikan lagi dengan Bang Hakam, hanya sekedar mendengar namanya saja aku sudah muak dan jijik.
"Shaka, Shaka, Nak, kamu ini ada-ada saja. Lucu Ibu mendengarnya. Tujuh turunan pun Ibu tak sudi berbaik hati lagi dengan laki-laki itu." Aku terkekeh sambil menepuk pelan pundak Shaka.
"Iya, bener ya, Bu, pokoknya Shaka tidak ridho jika Ibu balikan lagi sama laki-laki itu. Dan jika itu terjadi, Shaka akan hidup sendiri tidak mau tinggal lagi dengan Ibu, titik." Terlihat wajah Shaka merenggut, dan aku pun langsung menenangkannya, membawanya dalam pelukanku.
"Dari dulu sampai sekarang Ibu sudah nyaman hidup seperti ini, hidup berdua denganmu, Nak. Enak saja dia mau kembali lagi pada Ibu, setelah belasan tahun lamanya dia mencampakkan kita. Kita berdua sekarang sudah bahagia dan nyaman seperti ini, jangan berpikiran yang aneh-aneh lagi, ya!" Aku mengelus rambut anakku penuh kasih sayang.
Tubuh Shaka yang dulu jika aku peluk terasa kecil dan mungil, tapi tubuhnya yang sekarang terasa besar dan berisi, tak bisa aku peluk dalam gendonganku lagi. Sekarang Shaka anakku sudah tumbuh besar dan dewasa. Usianya sudah memasuki kepala dua, tepatnya sekarang dia berusia 22 tahun. Sudah besar dan dewasa, kan?
"Sudah sekarang jangan bicarakan laki-laki itu lagi! Lebih baik sekarang kamu makan, ya. Sebentar Ibu mau angetin dulu makanannya, biar enak nggak dingin. Kita makan bareng-bareng, yah. Rasanya Ibu sudah lama tidak makan bareng lagi sama kamu. Ayo, Nak!" Shaka begitu nyaman ada dalam pelukanku, mendengarkan dan mendengarkan ucapanku. Lantas perlahan aku pun merenggangkan pelukanku, dan mengajaknya bangkit untuk keluar dari kamar.
"Iya, Bu." Shaka menyetujui usulku.
Lalu kami berdua pun pergi ke dapur. Aku sengaja menghangatkan dulu makanan agar nanti dimakan tidak terasa dingin. Sedangkan Shaka menunggu duduk di meja makan.
Tak harus memakan waktu lama, sebentar saja aktivitasku sudah selesai. Aku membawa satu persatu makanan yang barusan sudah aku hangatin, dan terlihat Shaka pun bergegas membantuku membawa semua makanan ke meja makan.
Melihat makanan sudah rapi terhidang di meja makan, membuat air liurku menetes, sudah tak tahan lagi menahan lapar. Dan sama halnya dengan Shaka yang terlihat sangat lapar sekali.
Cepat aku sodorkan piring ke arah Shaka, dan dia pun langsung mengisinya dengan banyak beraneka ragam makanan. Terlihat dia sangat lahap sekali, sampai-sampai dia tersedak, saking cepatnya dia makan. Dan aku pun sejenak memandangnya dengan tatapan bahagia. Sekarang dia bisa makan enak, makanan apapun pasti bisa dibeli. Sedangkan dulu hanya sekedar makan dengan sayur pun rasanya susah sekali. Ah, keadaan kami yang dulu sangat miris sekali, menyedihkan.
"Bu, kenapa bengong saja? Ayo makan!" Suara Shaka membuyarkan lamunanku. Sejenak dia pun menghentikan aktivitas mengunyahnya dan menatapku.
"Eh, i-iya, Nak." Aku sedikit gelagapan, karena malu sudah ketahuan sedang melamun oleh Shaka.
Aku pun langsung menyendok nasi dan makanan yang lainnya di atas piring yang ada di hadapanku. Dan aku pun langsung memulai aktivitas makan. Akhirnya kami makan bersama-sama dengan lahap dan penuh suka cita. Beberapa kali anakku menambah makan lagi, rupanya dia benar-benar sedang lapar. Maklum tadi selepas usai acara wisuda aku dan Shaka tak sempat makan di luar dulu, takut Bang Hakam dan keluarganya menyusul kami. Jadi aku dan Shaka langsung pulang saja ke rumah, tak pergi kemana-mana dulu.
Ketika kami sedang nikmat-nikmatnya makan, dari arah luar terdengar suara ketukan pintu yang diikuti dengan ucapan Assalamualaikum.
Aku dan Shaka pun menghentikan aktivitas makan kami, dan mempertegas pendengaran kami, memastikan siapa orangnya yang akan bertamu ke rumah kami?
"Bu, itu siapa, ya? Perasaan hari ini aku tidak punya janji dengan teman-temanku." Shaka menatap ke arahku.
"Entahlah, Ibu juga tidak tahu. Apa mungkin Mang Kardi, ya, yang nagih uang kebersihan bulan ini." Aku mengangkat kedua bahuku. Namun sesaat kemudian aku teringat pada Mang Kardi petugas kebersihan, yang sebulan sekali suka berkeliling ke rumah-rumah warga untuk menagih uang iuran kebersihan.
"Oh, iya, mungkin saja itu Mang Kardi," ucapnya mengiyakan perkataanku.
"Ibu, kedepan dulu, ya, takut Mang Kardinya bosan nunggu." Aku pun langsung menghentikan aktivitas makan, dan segera bergegas ke arah depan untuk membuka pintu.
Sesampainya aku langsung membuka pintu, dan oh sungguh di luar dugaanku, ternyata orang yang ada di hadapanku ini bukannya Mang Kardi, melainkan lelaki tak tahu diri alias mantan suamiku yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Mau apa lagi lelaki ini datang menampakkan batang hidungnya lagi," batinku kesal dan dongkol.
Aku mendengus kesal dan membuang kasar wajahku, jijik untuk melihatnya.
"Arini," sapa Bang Hakam memulai ucapannya.
"Hmmm." Hanya kata itu yang keluar dari mulutku.
"Boleh aku masuk?" tanyanya sambil larak lirik ke arah dalam seperti ada sesuatu yang dicarinya.
"Bicara saja di sini! Ada kepentingan apa kamu datang menemui kami lagi? Apa tadi kamu tidak cukup bertemu dengan Shaka?" Rasanya aku ingin membanting menutup pintu ini. Mau apa lagi orang ini datang menemui kami.
"Aku ada urusan dengan Shaka. Ini penting banget. Tolong panggilkan Shaka!" Shaka lagi, Shaka lagi, sepertinya orang ini tak bosan-bosannya menguntit anakku. Pasti ada udang di balik batu lagi, nih.
"Shaka sedang tidur, kasihan dia capek." Bohongku pada Bang Hakam.
"Bangunkan saja!" Terlihat dari raut wajahnya jika dia ingin segera bertemu dengan Shaka.
"Tidak, kamu pergi saja dari sini!" Usirku, yang sudah tidak tahan lagi melihat wajah Bang Hakam.
"Aku ada perlu dengan anakku bukan denganmu, Arini." Lagi dan lagi dia menyertakan kata anakku sebagai pembelaan dirinya.
Ya, Tuhan terbuat dari apa hati orang ini? Hingga tak punya rasa malu sedikitpun. Bayangkan belasan tahun lamanya dia mencampakkan Shaka begitu saja, dan sekarang tiba-tiba dia muncul lagi ingin meminta tolong. Dasar gila!
"Itu siapa, Bu?" Shaka tiba-tiba datang menyusulku. Dan langkahnya terhenti seiring kedua matanya menangkap sosok Bang Hakam yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Shaka." Terlihat kedua mata Bang Hakam berbinar-binar manakala melihat Shaka.
Aku menoleh ke arah Shaka, dan tampak dia pun tak suka atas kedatangan orang yang selama ini dia benci.
"Mau apa dia ke sini, Bu?" tanya Shaka setengah berbisik kepadaku.
"Katanya dia perlu denganmu. Jangan-jangan dia mau minta tolong lagi sama kamu, Nak." Cebikku ke arah Bang Hakam.
Sedangkan Bang Hakam yang jadi bahan pusat pembicaraan kami, dia hanya cengar-cengir tak karuan saja. Sepertinya dia enggan untuk meninggalkan tempat ini. Benar-benar ada maunya ini orang.
"Ayah, ada perlu denganmu, Nak." Idih Bang Hakam ikut-ikutan segala manggil Shaka dengan sebutan 'Nak' sama seperti aku. Gayanya seperti orang lemah lembut saja, padahal dulu sewaktu Shaka masih kecil tabiatnya seperti Ayah tiri saja, sedikit-sedikit marah dan main pukul sama Shaka.
Shaka menghembuskan nafas kesalnya, dan akhirnya menatap malas ke arah wajah Bang Hakam.
"Ya, sudah Ayah duduk dulu saja." Tunjuk Shaka pada kursi kayu yang ada di beranda depan rumahku. Ya, meskipun di belakang dia menggebu-gebu membenci Bang Hakam, namun di depannya dia masih mempertahankan etika kesopanannya sebagai anak, mau memanggil Bang Hakam dengan sebutan 'Ayah'. Jika saja itu ada diposisi orang lain, mungkin Bang Hakam sudah diusir saat ini juga.
Bang Hakam tampak bahagia dan sumringah manakala mendapat respon yang baik dari Shaka. Dan berbeda balik dengan aku, rasanya hati ini kesal pada Shaka, bisa-bisanya dia memberi hati pada lelaki yang telah menelantarkannya itu.
Rupanya Shaka pun tahu dan mengerti, jika aku pasti akan kesal karena sikapnya yang terlalu baik itu. Dia mengedipkan matanya, lalu berbisik.
"Tenang saja, Bu, aku tidak akan sebaik yang Ibu pikirkan." Setelah berbisik padaku, lalu Shaka melangkah, dan dengan santainya dia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi, seperti tak ada beban apapun.
Kemudian Bang Hakam pun menyusul Shaka, lalu duduk berseberangan dengannya.
"Nak, Ibu ke dapur dulu, takut ada orang yang kehausan," sindirku sambil mencebikkan bibir.
Bang Hakam sekilas menatapku, lalu memalingkan lagi wajahnya. Mungkin dia merasa tersindir dengan ucapanku barusan. Ya, seharusnya orang seperti dia jangan dibikin nyaman dikasih minum segala, biar dia tahu dan sadar jika aku tak mau lagi kedatangan dirinya.
Sedangkan Shaka hanya mengangguk singkat saja, dia mungkin tahu aku hanya sekedar basa-basi saja, biar tidak terlalu terlihat mantan dengan mantan saling bermusuhan.
Aku masuk ke dalam rumah dan menuju dapur untuk mengambil air minum. Sengaja aku menuangkan air putih ke dalam dua gelas, tentunya untuk Shaka dan mantan suamiku. Saat menuangkan air minum ke dalam gelas untuk Bang Hakam ingin rasanya aku menaruh racun dalam air tersebut, saking bencinya aku pada dia.
Tak lama kemudian aku pun kembali ke beranda depan sambil membawa air minum untuk Shaka dan Bang Hakam.
Aku menaruh gelas yang berisi air minum untuk Shaka secara lembut, namun untuk Bang Hakam sengaja aku menaruhnya dengan sedikit kasar, hingga air minum tersebut sedikit bercipratan ke meja. Dan Bang Hakam terlihat mendengus kesal, namun dia tidak berani berkata apapun selain memperhatikanku dengan tatapan kesalnya.
Setelah beberapa detik lamanya kami saling diam tak ada yang bersuara. Dan akhirnya aku pun berinisiatif untuk memulainya, agar Bang Hakam cepat mengutarakan apa maksud kedatangannya itu? Dan tentunya agar dia tidak berlama-lama ada di rumahku.
"Bang, katanya ada perlu dengan Shaka? Nah, sekarang ada orangnya. Cepat katakan! Ada perlu apa?" Tanpa basa-basi lagi aku bertanya pada intinya saja.
Terlihat Bang Hakam menatap ragu pada Shaka. Nampak benar di guratan wajahnya jika dia sedang susah. Tak seperti dulu yang selalu menatap tegak orang yang ada di hadapannya, sombong dan menganggap remeh orang lain.
"Ayah minta uang, sekarang Ayah tidak kerja lagi. Ayah sudah di PHK, belum dapat kerjaan lagi. Mana Mira mau melahirkan, Ayah benar-benar tidak punya uang. Lagipula kan kamu sudah bekerja dan tentunya banyak uang, tolonglah orang tua yang sedang kesusahan!" Lagi dan lagi itu yang diutarakan Bang Hakam, seperti permintaannya di saat acara wisuda Shaka.
Rasanya hati ini berdenyut nyeri ketika mendengar permintaan Bang Hakam barusan. Beraninya dia meminta uang pada Anak yang dulu dia telantarkan demi wanita yang bernama Mira itu. Ya, dia adalah wanita selingkuhan Bang Hakam yang kini sudah menjadi istrinya dan mengandung anaknya. Alih-alih sekarang dia minta tolong pada Shaka untuk membantu biaya lahiran Istrinya itu, apa dia tidak malu? Sungguh gila lelaki ini.
Aku sengaja diam saja menunggu Shaka bicara. Aku ingin mendengar apa yang akan dia katakan pada lelaki tak tahu diri itu.
"Sekarang Ayah di PHK bilang sama aku, tapi dulu waktu Ayah banyak uang tidak bilang apapun padaku. Malah Ayah asyik dengan istri baru dan anak tiri Ayah. Dan sudah aku katakan, aku tak banyak uang untuk menolong hidup kalian. Lagipula itu bukan urusanku," ucap Shaka mantap dan itu membuat aku senang. Rupanya Shaka pun tak sudi jika uang hasil keringatnya itu dimakan Ayahnya.
"Meskipun begitu aku tetap Ayahmu dan kamu tetap harus berbakti kepada orang tua. Berbakti pada seorang Ayah itu wajib hukumnya, Shaka," ujar Bang Hakam yang kata-katanya itu seperti orang benar dan bijak saja.
Aku dan Shaka hampir saja bersamaan menghembuskan nafas, demi mendengar kata-kata Bang Hakam yang sok benar itu.
"Berbakti? Apa kamu dulu merasa menafkahi anakmu tidak?" Sengaja aku memotong perkataan Bang Hakam. Rasanya rasa muakku pada Bang Hakam sudah ada di ubun-ubun kepalaku.
Bang Hakam melirik ke arahku dengan sorotan mata yang penuh dengan kebencian.
"Arini tidak seharusnya kamu bicara seperti itu. Ini pasti ajaranmu yang sudah menanamkan rasa benci pada Shaka. Harusnya anak itu diajarin yang baik-baik, diajarin hormat dan sayang pada Ayahnya, bukan sebaliknya diajarin membenci Ayahnya." Ya, Gusti Allah ingin rasanya aku menimpuk orang ini. Bukannya merasa bersalah sudah menelantarkan Shaka dari kecil sampai dewasa, ini malah menyalahkanku, benar-benar tidak tahu malu.
Untuk yang kesekian kalinya aku menghembuskan nafas beratku. Entah apa lagi yang harus aku katakan pada laki-laki yang ada di hadapanku ini. Bukannya malu malah semakin melunjak.
"Bang, harusnya kamu sadar diri dong, wajar saja Shaka tidak sayang padamu, lah kamu juga tidak sayang padanya. Sadar nggak sih dulu kamu menelantarkan Shaka? Sadar nggak?" Intonasi suaraku mulai meninggi. Kesabaranku sudah habis, tak bisa ditahan lagi.
Raut wajah Bang Hakam terlihat memerah, dan rahang kokohnya pun mengeras. Dia pun nampak ingin marah padaku, namun demi mengingat niatnya untuk meminta uang pada Shaka, maka mau tidak mau dia menahan amarahnya padaku.
"Shaka kan ada kamu, ya, kamu lah yang berkewajiban menanggung hidup Shaka. Sedangkan kewajibanku menanggung Istri dan keluargaku." Entah dari mana Bang Hakam punya paham seperti itu? Sungguh gila orang ini.
Mendengar seperti itu Shaka langsung menggelengkan kepalanya. Dia memijat keningnya dan memalingkan wajahnya. Sepertinya dia enggan untuk menyahuti perkataan Bang Hakam. Ya, memang jika diladeni rasanya otak ini menjadi mendidih. Jadi mungkin Shaka lebih baik diam saja, daripada dosa harus melawan.
"Lantas jika kamu tidak merasa punya kewajiban menanggung hidup Shaka, kenapa kamu sekarang minta tolong sama dia? Ya, sudah kesusahanmu itu berbagi saja dengan Istri dan keluargamu saja." Aku mendengus kesal. Sengaja aku memalingkan wajah, lebih memilih melihat wajah Shaka saja.
"Kalau tidak ada aku, ya, Shaka tidak akan ada. Tidak ada yang namanya mantan Ayah, ingat itu!" Perkataan Bang Hakam sudah ngelantur kemana-mana. Harusnya yang berkata seperti itu aku dan Shaka bukan dia.
Shaka yang mulanya diam saja, namun demi mendengar perkataan Bang Hakam yang semakin ngelantur kemana-mana, akhirnya dia angkat bicara juga. Membenarkan posisi duduknya, lalu menatap tajam ke arah wajah Bang Hakam.
"Maaf sudah aku katakan, aku tak punya uang. Ibuku lebih membutuhkannya daripada untuk lahiran Istri barumu itu." Kata-kata Shaka terdengar tajam. Terlihat benar dari raut wajahnya, jika dia sudah jengah mendengar perkataan Bang Hakam tersebut.
"Shaka kamu tega tidak mau memberi Ayah uang. Benar-benar Ibumu sudah mendidik kamu jadi anak yang tidak benar." Gila ini lelaki menyalahkan aku, demi sikap Shaka yang tak mau memberinya uang.
"Ya, Shaka tega karena kamu juga dulu tega sama dia, iya, kan?" selaku sambil mencebikkan bibir.
Brakkk ... Tiba-tiba Bang Hakam langsung menggebrak meja. Kedua matanya memerah, dengan sorot mata penuh amarah dan kebencian.
"Anak dan Ibu sama saja, sama-sama pelitnya," geram Bang Hakam dengan gemeretak giginya yang terdengar keras.
Sontak Shaka langsung berdiri, terlihat dadanya naik turun, demi menahan rasa marahnya pada Bang Hakam.
"Dengar! Ayah tak berhak memarahi Ibuku. Dia yang sudah berjuang mempertahankan hidupku dari kecil sampai aku dewasa seperti ini, jadi jangan pernah satu kata pun Ayah mengeluarkan kata-kata kotor pada Ibuku. Ingat itu, camkan baik-baik!" Tanpa permisi pada Bang Hakam, dia langsung meninggalkan tempat duduknya, dan bergegas melangkah cepat menuju ke dalam rumah.
Aku menghembuskan nafas berat, aku benar-benar sudah tidak tahan dengan kehadiran Bang Hakam di rumahku.
"Sebaiknya kamu pergi saja dari sini! Kamu lihatkan Shaka marah dan tidak mau bertemu denganmu lagi! Pergilah!" Aku menunjuk ke arah depan dengan gerakan mataku, mengisyaratkan agar Bang Hakam cepat pergi dari sini.
Bang Hakam mendengus kesal dan terlihat merapikan bajunya yang sedikit kusut, menandakan dia akan bersiap-siap pergi dari sini, dan itu membuatku senang.
"Iya Shaka bersikap kurang ajar kepadaku, karena kamu yang mengajarinya. Kamu mengajarinya agar dia pelit padaku, bukan?" Sebelum dia bangkit dari duduknya, sempat-sempatnya dia bicara seperti itu. Dasar laki-laki tidak tahu diri. Bukannya dia yang pelit pada Shaka? Eh, sebaliknya dia yang berkata seperti itu.
Sambil marah-marah dia langsung melangkah dan membanting kasar pagar rumahku. Untung saja jantungku tidak copot mendengar suara bantingan keras itu.
"Dasar mantan tidak tahu malu, sudah minta, marah lagi," gumamku sambil mengusap kasar dadaku berkali-kali.
Tanpa mau ambil pusing lagi, aku langsung masuk ke dalam rumah. Dan klek, aku menutup pintu dengan rapat, ingin cepat-cepat menenangkan pikiran.
Baru saja aku melangkah beberapa langkah saja, terdengar pintu diketuk keras dari luar. Sejenak aku berpikir siapa orangnya yang bertamu padaku lagi?
"Arini, buka pintunya!" Deg, hatiku mulai panas dan dongkol lagi, karena aku tahu siapa pemilik suara itu.