Seperti dugaannya, tidak banyak yang ia lakukan setelah kembali ke kantor. Tapi paling tidak, ada hal yang bisa Daren lakukan daripada mengurung diri di rumah. Yaitu menemui rekan setimnya dulu yang kini tengah sibuk dengan tim kerjanya yang baru.
Mereka tampak tidak bersemangat karena deadline di depan mata.
Daren bersiul memanggil Grey, yang tampak sibuk dengan kacamata yang bertengger di hidungnya itu.
Grey memutar bola matanya jengah melihat kedatangan Daren tersebut.
"Jangan ganggu aku. Kau tidak lihat apa yang sedang kukerjakan?" sungutnya.
Daren tampak tak peduli.
"Entahlah. Apa itu target bulanan? Oh ayolah. Aku tunggu di atas," tukas Daren sambil memainkan kedua jarinya, memberi isyarat bahwa ia mengajak Grey untuk merokok.
Grey mendengus. Dengan langkah berat ia mulai bangkit dari kursinya lalu mengikuti Daren dari belakang.
Sesampainya di rooftop gedung, mereka berdua masing-masing mengeluarkan pemancis dan sebatang rokok. Saling bergantian mengepulkan asap ke udara sambil menikmati setiap nikotin yang terhisap ke dalam rongga mulut masing-masing.
Daren menatap kosong pemandangan di hadapannya. Ia bisa lihat jalanan kota yang tengah semrawut itu dari atas gedung kantornya. Ah lebih tepatnya adalah gedung yang diwariskan papanya sebelum beliau wafat. Di depan ada kecelakaan yang menyebabkan antrian panjang sampai lampu merah. Daren mengamati lalu lintas yang padat merayap itu lalu teringat akan mimpi buruknya.
"Grey, kau sudah bersamaku selama berapa tahun?"
Grey mengernyitkan keningnya. Terdengar asing dengan pertanyaan dari seorang Daren Smith itu.
"Ehm … baru empat tahun. Tepat saat kau menikah dengan Carolina."
Grey menghisap kuat rokoknya lalu segera menginjaknya karena sudah tak bernafsu lagi untuk merokok. Grey memperhatikan Daren yang terlihat murung.
"Apa pendapatmu tentang seseorang yang terus menerus memimpikan hal yang sama?"
Grey memikirkan jawaban atas pertanyaan Daren itu,"Kata ibuku, itu berarti sebuah petunjuk."
Daren mendengarkan dengan serius. "Petunjuk?"
"Iya. Petunjuk kalau kau pernah mengalaminya atau akan mengalaminya. Semacam Dejavu nantinya saat itu akan terjadi."
Daren mengangguk paham. Ia juga merasa bahwa itu akan terjadi atau sebelumnya bahkan pernah terjadi. Tapi Daren tak mengingatnya. Padahal kejadian itu terasa begitu nyata.
"Ada apa? Kau bermimpi buruk?"
Daren mengangguk dua kali. "Yah, itu terjadi beberapa kali. Kata dokter itu cuma bunga tidur saja. Tapi—"
"Kedengarannya terlihat begitu buruk. Istirahatlah. Itu mungkin karena kau pernah mengalaminya empat tahun yang lalu," potong Grey.
Mengenai kecelakaan yang dia alami, orang-orang di sekitarnya mengatakan bahwa Daren mengalami kecelakaan tunggal yang hebat. Daren sempat koma beberapa minggu kemudian pulih hingga sekarang.
Tidak pernah ada masalah setelah kecelakaan tersebut. Tapi sekarang dia mulai mengingat kembali kejadian itu beberapa bulan belakangan ini. Dan karena itulah Daren merasa was-was. Karena di mimpinya lalu kecelakaan yang dia alami amatlah berbeda.
Kecelakaan empat tahun yang lalu hanya dirinya yang terluka. Sedangkan di dalam mimpi, ia bersama dengan orang lain.
"Hei, aku tidak bisa lama-lama menemani kebosananmu. Aku harus kembali ke kubikelku," tukas Grey terlihat kesal.
Daren mengangguk sambil melambaikan tangannya. Mengusir Grey pergi dari hadapannya.
"Ya..ya..ya. Pergilah sampai kau naik jabatan," ledek Daren yang langsung dijawab dengan umpatan oleh Grey itu.
***
Daren pulang lebih awal. Kepalanya sudah cenut-cenutan tanpa sebab.
Ia lupa membawa obatnya. Begitu sampai di rumah, Daren langsung mencari obatnya yang biasa ia letakkan di pantry.
Rumah terlihat sepi. Tapi dia tahu jika putri kecilnya sedang bermain di kamarnya. Itu karena Daren bisa mendengar suara tawa Belle dari lantai atas.
Daren meminum obatnya kemudian beristirahat di sofa terdekat. Melepaskan kancing dan dasi teratas kemejanya kemudian bersandar di punggung sofa.
Angin semilir dari jendela yang terbuka membuatnya terbuai. Daren memejamkan matanya sambil merasakan aliran angin menerpanya. Tak lama sebuah aroma lewat saat ia menikmati kesendiriannya itu. Daren terbuai dengan aroma parfum bercampur wanginya almond dan cokelat yang datangnya dari arah dapur.
Daren membuka matanya sedikit karena efek obat yang ia minum. Saat Daren menoleh ke arah dapur yang terhubung langsung dengan ruang keluarga yang tengah ia tempati, tampak seseorang berdiri di sana tengah mengotak-atik dapurnya.
Sepertinya mengeluarkan sesuatu dari oven hingga wangi khas roti panggang itu menyapa indera penciuman Daren.
Aroma yang tidak asing. Tapi Daren lupa, roti seperti apa itu. Saat Daren mencoba membuka matanya untuk mencari tahu, seseorang yang berada di dapurnya tadi telah pun menghilang.
Daren kembali mengucek matanya. Berharap ia sedang tak berhalusinasi. Mendengar suara ketukan sepatu pantofel di rumahnya yang berlantai marmer, Daren pun mengarahkan pandangannya ke arah suara langkah kaki itu. Datangnya dari lantai atas. Daren melihat dengan jelas siluet seorang wanita yang tengah berjalan ke kamar anaknya.
Daren waspada. Ia lantas segera menyusul wanita misterius tersebut yang sama sekali tak mengendahkan panggilannya itu.
"Hei! Siapa kau?"
Daren sedikit terpeleset karena lantai yang licin. Ia segera melepaskan kaos kakinya kemudian berlari cepat mengejar wanita itu.
Kali ini mana mungkin Daren berhalusinasi. Ia bisa merasakan sikutnya sakit karena tergelincir tadi.
"Hei!"
Daren mengejar seorang wanita yang tengah menuju kamar Belle itu. Akan tetapi sesampainya ia di sana, Daren malah sama sekali tidak melihat siapa pun selain Belle yang tengah bermain sendiri.
"Belle? Kamu main sama siapa sayang?"
Belle menunjuk seseorang di belakang punggungnya. Dengan cepat Daren menoleh tapi ia justru tersentak bangun dari tidurnya.
Daren terengah-engah. Ternyata ia masih berada di sofa yang ada di ruang keluarga tadi. Cuma yang berbeda adalah ada Carolina yang sejak tadi mencoba membangunkannya.
Dengan lembut Carolina menepuk pundak suaminya itu agar kembali tenang setelah lagi-lagi mengalami mimpi buruk.
"Are you okay?"
"Hum, okey. Apa dari tadi kau membangunkanku?"
"Ya. Beberapa kali saja. Apa itu mimpi yang sama?"
"Ti-tidak. Ini berbeda. Aku melihat siluet wanita masuk ke kamar Belle."
Carolina menghela napas panjang. Ia menunjukkan keberadaan Belle yang ada di sampingnya.
"Dari tadi Belle bersamaku, Sayang. Kau pasti bermimpi buruk lagi."
Daren memijat keningnya. Ia mulai merasakan firasat buruk tentang ini. Bagaimana bisa ia bermimpi yang aneh-aneh seperti ini yang bahkan sebelumnya tak pernah ia alami.
Carolina mengisi gelas kosong yang Daren gunakan tadi. Kemudian menyerahkannya pada Daren yang masih kebingungan.
"Sayang, apa sebaiknya kita periksa lagi saja?"
Daren mengangguk setuju. Ia juga merasa seperti itu.
Tak lama suara pantofel yang Daren dengar di dalam mimpinya itu kembali terdengar. Tapi kali ini datangnya bukan dari dalam melainkan dari pintu depan.
Siluet seorang wanita yang tengah menarik kopernya datang mendekati keduanya. Carolina lantas bangkit untuk menyambut kedatangan pangsuh baru Belle itu.
Setelah wanita itu mendekat, barulah Daren bisa melihat dengan jelas wanita berpita merah yang ia tautkan di kepala bagian kanan atasnya itu. Membuat Daren terlihat terperangah di tempat karena merasakan sesuatu yang tak asing dengan gaya rambut seperti itu.
"Daren, ini Eliana. Pengasuh baru untuk anak kita."
Daren mengamati Eliana dari ujung rambut hingga ujung kakinya, sedangkan Eliana menarik sudut bibir tipisnya sambil menatap Daren dengan tatapan tajam nan misteriusnya.
"Eliana," ucap wanita berkemeja merah dengan pita merah kecil di puncak kepalanya. Wanita itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Daren yang terlihat ragu untuk berjabat tangan.
Daren terlihat serius mengamati Eliana. Seolah wanita itu pernah ia lihat sebelumnya. Namun yang mengejutkan adalah, Daren mengenali sepatu pantofel itu. Sepatu yang sama seperti di dalam mimpinya tadi.
Daren mendekati istrinya setelah ia berjabat tangan sungkan dengan wanita di hadapannya itu.
"Sayang, bukankah kau bilang dia sudah sedikit tua? Kenapa yang ini terlihat seumuran denganmu?" bisiknya dengan raut wajah serius.
Carol membalas dengan memblocking pembicaraan mereka dari pandangan Eliana.
Eliana tetap mempertahankan senyumannya yang menurut Daren justru hanyalah senyuman palsu.
"Apa kau tidak suka? Belakangan ini yang berusia lanjut sudah banyak yang pensiun. Ini yang terbaik dari yang ada di penyaluran."
Daren mengangguk mahfum. Ia tentu tak bisa berbuat apa-apa karena istrinya lah yang bertanggung jawab akan semua asisten di rumahnya.
"Baiklah. Eliana —"
"Anda bisa memanggil El saja nyonya," potong Eliana.
Carol berdeham lalu mulai menunjukkan apa-apa saja yang harus Eliana lakukan dan tidak lakukan di rumah tersebut.
Carol membawa Eliana berkeliling. Sedangkan Daren memilih untuk mengasuh anak mereka. Hilang sudah lelah yang Daren rasakan, karena mimpi buruk yang sebenarnya masih mengganggu pikirannya sejak tadi. Setelah puas menemani Belle bermain di kamarnya, Daren pun pamit pada putri mereka untuk pergi ke kamarnya.
"Papa istirahat ya sayang. Pergilah bermain di belakang bersama suster lainnya."
"Papa."
"Iya sayang?"
"Apa sus baru itu untuk Belle?" tanya bocah Lima tahun itu.
Daren tersenyum sambil menundukkan sedikit tubuhnya agar bisa sejajar dengan putri kesayangannya itu.
"Iya sayang. Sus baru akan menemani Belle mulai saat ini."
Belle tak menunjukkan raut wajah apa pun. Gadis muda belia itu akhirnya dijemput oleh asisten Daren yang lainnya. Daren lantas masuk ke kamarnya dan bermaksud untuk istirahat sebentar.
Tapi siapa sangka, karena obat itu Daren malah baru terbangun ketika malam menjelang. Dengan tubuh penuh peluh, Daren bangun sambil memperhatikan sekitar yang sudah gelap.
Ia seperti menyesalkan diri sendiri ketika ia bangun di jam seperti ini. Daren segera beranjak ke kamar mandi dan bermaksud untuk makan malam. Tapi begitu ia turun, hal aneh pertama yang Daren sadari adalah tidak ada Carol di mana pun ia mencarinya.
Daren kembali teringat akan mimpinya sore tadi. Apa mungkin dia lagi-lagi masuk ke dalam mimpi?
"Carol?" panggil Daren yang tentu saja tak mendapatkan sahutan dari istrinya tersebut.
Daren menuju taman belakang yang tentu saja sudah gelap gulita. Ia lantas mencoba menghubungi wanitanya tapi tak mendapat jawaban apa pun. Daren baru saja akan beranjak dari jendela kaca sampai ia melihat Eliana yang tengah membersihkan jendela kaca yang tidak tembus pandang itu. Maksudnya, dari dalam Daren bisa melihat Eliana yang ada di luar, tapi sebaliknya Eliana tidak bisa melihat apa pun ke dalam.
Awalnya Daren mengawasinya dengan pandangan biasa. Tapi menjadi tidak biasa saat Daren tanpa sengaja memperhatikan pita merah tersebut lalu beralih ke leher jenjang Eliana yang terbuka.
Eliana sedang membersihkan kaca di hadapannya. Ia terlihat cekatan melakukan pekerjaannya yang padahal sudah hampir selesai jam bekerja di rumah ini. Entah Eliana sadar atau tidak, dua kancing kemejanya terbuka. Menampakkan bra renda miliknya oleh Daren yang berdiri tepat di hadapannya.
Eliana tetap meneruskan pekerjaannya lalu kini dai pindah membersihkan kaca di bagian atas dengan bantuan kursi taman. Dengan rok span pendek miliknya, lagi-lagi Daren harus melihat bentuk tubuh dari asisten barunya itu.
Paha mulus Eliana terpampang. Tubuhnya yang jenjang dengan kulit putihnya itu, mampu membuat Daren meneguk salivanya sendiri. Padahal Eliana membersihkan kaca dengan gaya yang biasa, tapi di otak Daren, wanita itu seperti menggodanya dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Dari dekat, Daren bahkan bisa melihat cetakan bra renda hitam milik Eliana yang sudah basah karena cipratan air sabun yang ia gunakan untuk membersihkan kaca.
Tak ingin melanjutkan, Daren akhirnya menutup aksi Eliana itu dengan balik badan sambil menghela napas panjang.
Daren masih bengong di tempatnya. Ia mencoba menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan sambil menyebut nama Carol di dalam hati. Saat Daren sedang melakukan semua itu, tiba-tiba sebuah suara terdengar di belakangnya.
Daren langsung menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang menyapanya.
"Tuan sudah bangun?"
Eliana segera datang menghampiri dengan seragam yang sudah basah. Daren mengalihkan pandangannya agar tidak terlihat seperti tadi.
"Kamu sedang apa? Kenapa basah seperti itu?"
Eliana baru menyadarinya saat tuannya bertanya seperti itu. Ia segera mundur untuk membuat tuannya nyaman.
"Ma-af. Saya permisi untuk ganti pakaian dulu," tunduk Eliana yang tanpa menunggu jawaban Daren, ia segera pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
Beberapa saat kemudian, Eliana sudah menggantinya dengan yang baru.
Hal pertama yang Daren perhatikan dari asistennya itu adalah sepatu pantofel yang wanita itu kenakan. Sepatu yang membuat Daren akan selalu teringat dengan mimpi buruknya sore tadi.
'Apa dia yang kulihat di dalam mimpi?' monolognya. Daren menggelengkan kepalanya berusaha untuk mengenyahkan mimpi-mimpi itu.
"Apa Tuan butuh sesuatu? Nyonya sedang pergi menghadiri pesta ulang tahun temannya."
Daren menepuk keningnya. Ia baru ingat tentang itu. Carol sebelumnya sudah memberitahukannya tapi sayangnya ia baru mengingatnya sekarang.
"Oh begitu. Belle sudah tidur?"
"Iya Tuan. Baru saja tidur."
Daren manggut-manggut lalu hening sejenak. Ia mulai merasa lapar karena sorea tadi belum makan apa pun.
"Apa ada makanan? Aku ingin makan malam yang sedikit terlambat ini."
"Baik. Saya akan siapkan," tukas Eliana yang segera menjalankan tugasnya.
Tapi kemudian Daren teringat akan sesuatu. Bukakah itu tugas asistennya yang lain?
"Tidak usah El. Harusnya ini dikerjakan oleh Anna. Panggil dia untuk siapkan."
Eliana yang sudah melangkah menjauhi Daren itupun terpaksa putar balik untuk menjelaskan kepada tuannya itu.
"Oh, sus Anna juga sedang keluar. Dia bilang ada urusan. Jadi hanya tinggal kita berdua di rumah ini, Tuan."
Daren tentu saja terkejut. Ia lantas pergi mencari asisten lainnya tapi tak menemukannya. Di luar pun tengah hujan. Ia terlalu malas untuk beli makanan di luar.
"Oke. Apa yang bisa kau masak?"
Eliana segera pergi menuju dapur lalu memeriksa isi di dalam kulkas. Ia menemukan jamur dan beef steak yang masih segar. Eliana menyampaikan pada Daren apa yang ia temukan.
"Ada jamur dan beef steak. Saya bisa mengolahnya untuk Tuan."
"Oke. Nanti bawa saja ke atas," pesan Daren yang memilih kembali ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.
Tiga puluh menit kemudian, Eliana datang mengetuk kamarnya. Daren yang sedang berada di meja kerjanya meminta Eliana untuk masuk. Eliana terkesan dengan kamar yang luasnya tiga kali lipat dari kamarnya itu.
Eliana membawa semua makanan yang berhasil ia olah ke atas meja Daren.
Daren sendiri tampak puas dengan sup jamur dan steak setengah matang yang Eliana siapkan untuknya.
"Wow ... ini terlihat enak. Boleh aku makan sekarang?"
"Sure."
Daren tak sabar menyantapnya. Setelah masakan itu masuk ke tenggorokannya, Daren merasa puas dengan hasilnya.
"Ini enak.Terima kasih El."
Eliana diam saja. Ia membalas ucapan Daren itu dengan satu usapan lembut di sudut bibir Daren yang sedikit kotor karena saus.
Daren terperangah dengan apa yang asisten rumahnya itu lakukan.
"Your welcome, Sir."