Rintik tiba-tiba mengguyur Kota Bandung. Padahal, jika diingat ini belum waktunya masuk musim penghujan. Seorang gadis lima belas tahun dengan balutan pakaian serba hitam masih setia memandangi pusara dengan tanah yang masih basah dan bebungaan aneka warna bertaburan di atasnya. Sebuah nisan dengan tulisan nama seorang pria yang selalu menjadi tamengnya ia elus begitu lembut. Seakan mengelus lembut wajah yang selalu ditumbuhi thin beard itu. Sudah tak ada lagi air yang bisa mengalir dari sepasang mata bulat dengan iris madu miliknya. Kini hanya tersisa rasa kehilangan yang benar-benar menyakitkan. Rasa yang tak pernah ia bayangkan akan hadir dalam waktu yang begitu cepat. Saat ia masih belum memiliki kuasa untuk bersikap kuat menerima apa saja keputusan takdir dan semesta.
Rintik yang semakin lebat ia biarkan membasahi tubuhnya. Tak peduli jika setelah ini ia akan mengalami demam yang begitu hebat. Sehebat rasa sakit atas kehilangan yang baru saja Tuhan titipkan padanya. Bolehkah ia berharap bahwa ini hanyalah sebuah mimpi buruk? Dan ketika ia terbangun nanti, yang pertama kali ia lihat duduk di pinggir tempat tidurnya adalah sosok pemilik nama yang tertulis pada nisan kayu di hadapannya. Lalu, ia nikmati senyum lebar dan sapaan manis yang selalu ia dapatkan setiap pagi. Semanis buah mangga favoritnya. Sapaan yang selalu berhasil menjadi penghidup suasana hatinya.
“Kenapa harus Papa?” Kalimat itu kembali meluncur dengan bebas dari bibir tipis dan lebar milik gadis itu. Kali ini, kalimat itu tak dibarengi dengan air mata yang runtuh dan terjun dengan bebas pula membasahi wajah putih mulusnya seperti semalam saat ia dapati tubuh ayahnya kembali dengan kondisi terbujur kaku dan kelopak mata yang terpejam begitu erat. Tertutup kain dan digotong banyak orang.
Ada rasa ngilu di dalam ulu hati gadis itu saat kepalanya kembali menyajikan kepingan adegan semalam saat ia membuka kain yang menutupi tubuh ayahnya. Wajah penuh luka yang masih basah dan darah segar masih keluar dari hidung. Entah apa yang terjadi dengan ayahnya. Entah dari mana luka-luka itu datang dan menghiasi wajah tampan dengan senyum lebar itu. Kepala gadis itu buntu untuk mencerna semuanya dengan baik. Ia hanya bisa menatap wajah ayahnya dengan rasa sesak yang menghantam dadanya. Ayahnya sudah tak setampan pagi tadi saat mencium keningnya sebelum berangkat bekerja. Senyum ayahnya sudah berganti menjadi garis lurus. Bibir merah muda yang selalu berceloteh ria kini sudah pucat sepucat dinding ruang tamunya. Namun, tidak apa-apa jika itu tak ada lagi dari ayahnya. Ia hanya ingin ayahnya kembali membuka kelopak mata dan menatapnya penuh hangat. Lalu, merengkuhnya hingga tertidur.
“Kau tidak bisa meratapi terus menerus kepergian ayahmu, Ilona.”
Suara itu terdengar bersamaan dengan rintik yang tak lagi menyapa kulit bumi yang kehausan dalam sekejap. Gadis yang disapa Ilona itu mengangkat kepala. Ternyata bukan hujan yang reda. Namun, hanya dihalangi oleh payung hitam yang dibawa oleh seorang remaja lelaki yang berdiri di belakangnya. Ia melihat senyum tulus terpancar menghias wajah penuh kehangatan itu. Jika biasanya Ilona akan membalas dengan senyum yang tak kalah manis dan membuat lelaki itu gemas. Kali ini ia gagal. Ia tak bisa menarik kedua ujung bibirnya. Otot wajahnya terasa kaku. Dan ia hanya bisa menatap sendu lelaki itu.
Sepasang mata dengan irisnya yang jernih tenggelam pada tatapan sendu milik Ilona. “Kau harus tahu, Lo. Kepulangan itu adalah kepastian yang kita sendiri tidak pernah tahu kapan datangnya. Sekarang giliran ayahmu. Besok entah giliran siapa lagi. Bisa jadi aku. Bisa jadi juga kau. Kita hanya tinggal menunggu giliran saja,” terang lelaki itu panjang lebar seraya menatap lurus ke depan dengan sebelah tangan terlipat di belakang punggung. Sedang tangan sebelahnya lagi masih setia memegang payung hitam untuk menghalau rintik menyentuk puncak kepala Ilona. “Aku tahu kehilangan adalah hal paling menyakitkan. Tetapi, kehilangan juga akan menyadarkan bahwa yang datang tak akan selamanya tinggal. Kehilangan mengajarkan kita tentang bagaimana menjadi ikhlas.”
Ilona tertegun mendengar penuturan lelaki itu. Sedetik pun ia tak membuang pandang memandangi tubuh yang berdiri di belakangnya. Bagaimana bisa lelaki tujuh belas tahun itu begitu dewasa menyikapi keadaan? Memang Ilona tahu remaja lelaki yang ia panggil Garry itu sudah lebih dulu mengalami kehilangan daripada dirinya. Bahkan, mungkin kehilangan yang lebih hebat. Bagaimana tidak? Ia menyaksikan sendiri bagaimana Garry pada usia yang sama dengannya harus kehilangan dua orang sekaligus yang begitu berarti dalam hidupnya. Namun, kala itu ia tak mendapati tangisan dari lelaki itu. Ilona hanya melihat senyum tipis Garry mengiringi kepergian orang tuanya.
“Cobalah mengikhlaskan ayahmu, Ilona. Dengan begitu, ayahmu akan tenang. Lagipula, ayahmu tidak benar-benar pergi.” Garry menurunkan pandangan. Menatap Ilona yang masih mendongak memandangnya dengan alis terangkat sebelah. Ia mengulum lagi senyumnya untuk mengirimkan energi positif yang setidaknya ia harap bisa sedikit mengenyahkan kesedihan Ilona. “Ayahmu akan selalu di hatimu. Percayalah!”
Seperti harapan Garry. Kedua ujung bibir Ilona terangkat ke atas membentuk lengkungan yang begitu manis, meskipun tipis. Dan seperti biasa juga, Garry akan merasa gemas dengan hal itu. Ekspresi Ilona saat tersenyum selalu membuatnya ingin mencubit pipi gadis itu. Namun, kali ini ia tidak akan melakukan hal itu. Melihat senyum itu terbit saja sudah berhasil membuat hatinya menghangat. Itu saja cukup untuk saat ini.
“Tetapi, aku masih tidak bisa mencerna dengan baik kepergian Papa yang begitu tiba-tiba dan tragis ini, Gar.” Akhirnya, kalimat itu bisa melebur dan ke luar. Sejak semalam ia tak bisa mengutarakan kalimat itu pada siapa pun. Ia hanya bisa memendamnya sendiri. Sebab, ia melihat sekelilingnya hanya manusia-manusia yang sarat akan kepedihan dan linangan air mata. Apalagi Nyonya Stella—sang Ibu—yang bahkan tak bisa lagi berkata-kata. Begitu juga Kenny—kakak satu-satunya Ilona—yang juga hanya menatap nanar tubuh ayahnya.
“Mungkin sekarang kau tidak akan paham dengan mudah tentang apa yang terjadi. Tetapi, suatu hari nanti kau pasti akan memahami semuanya.”
Sepuluh tahun berlalu setelah kejadian itu nyatanya tak membuat perempuan dua puluh lima tahun yang duduk di pinggir tempat tidur itu melupa. Setiap ia mengingat kepingan kisah masa lalu itu selalu berhasil membuat air matanya mengalir deras tanpa mampu ia bendung. Seperti saat ini. Sampai sekarang ia masih berharap jika itu hanyalah sebuah mimpi buruk. Namun, lagi-lagi kenyataan menamparnya dengan kasar bahwa kejadian itu memang sebuah fakta yang harus ia telan meskipun pahit.
Tangis Ilona semakin menjadi-jadi. Ia teringat akan perbincangannya dengan Kenny beberapa hari lalu. Sesuai janji Kenny sebelum Ilona dulu berangkat ke Paris. Lelaki itu akan memberitahukan sebuah rahasia besar jika Ilona akan kembali ke Indonesia. Sebuah rahasia tentang kematian Tuan Leonard Belvara—sang ayah—yang tak biasa dan tidak masuk akal.
“Papa pergi bukan karena kecelakaan seperti yang kau lihat di berita-berita yang ditayangkan televisi. Tetapi, karena perbuatan pimpinan perusahaan di mana Papa bekerja.”
Begitulah keterangan yang Ilona dengar dari kakaknya. Rahang perempuan itu mengeras. Tatapannya nyalang menahan amarah. Tangannya terkepal dengan erat hingga buku-buku jemarinya memutih. “Altaresh Group,” ucap Ilona setengah berbisik mengucap nama sebuah perusahaan di mana almarhum Tuan Belvara bekerja. Sebuah perusahaan di mana pimpinannya yang melayangkan nyawa pria itu dalam hitungan jam.
“Apa kau sudah siap, Ilona?”
Suara itu terdengar sesaat setelah pintu kamar Ilona terbuka. Ia menyeka dengan kasar air mata yang masih membasahi pipinya sebelum tertangkap basah oleh pemilik suara yang tidak tahu sopan santun masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Ilona mengembuskan napas kesal dan menatap tak suka seorang perempuan yang usianya tak jauh berbeda dengannya itu. “Harus berapa kali aku memberitahumu untuk mengetuk pintu sebelum masuk kamarku, Rossie?” tanya Ilona penuh kekesalan. Ya, hanya sepupu perempuannya itu yang dengan lancang memasuki kamar yang menjadi tempat paling privasi untuk Ilona. Bahkan, Rossie tak segan untuk menggunakan pakaian atau apa yang ia inginkan milik Ilona.
“Hm, maafkan aku, Ilona. Aku lupa,” jawab Rossie tanpa dosa dan berjalan mendekati tempat tidur Ilona.
“Itu kebiasaan burukmu. Lain kali, kau harus mengetuk pintu dulu. Bagaimana jika kau masuk dan aku sedang tidak mengenakan apa pun?”
“Lain kali kau sudah tak di sini lagi, Ilona,” jawab perempuan berambut piran itu dengan enteng.
Ilona terdiam. Benar juga apa yang dikatakan Rossie. Sebentar lagi ia akan meninggalkan rumah yang menjadi saksi perjuangannya menempuh pendidikan. Meninggalkan negara kelahiran sang ayah. Meninggalkan cerita-cerita indah bersama Felix. “Aku pasti akan merindukan tempat ini,” ucap Ilona dengan suara pelan.
Rossie menyadari perubahan suasana di kamar Ilona. Ia meraih tubuh sepupunya itu dan merangkulnya seperti teman. Perbedaan umur hanya satu tahun membuat dirinya dan Ilona lebih cocok menjadi sepasang teman saja. “Aku tahu kau berat meninggalkan Paris. Tetapi, biar bagaimana pun kau harus melanjutkan hidup dan mimpi-mimpimu di Indonesia. Ada Kenny yang juga tengah menunggu kepulangan adik satu-satunya.” Rossie memiringkan kepalanya dan menatap Ilona. “Apa kau tak merindukan tanah kelahiranmu, Ilona?”
Bohong jika Ilona tak merindukan belahan bumi di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Berat juga bagi Ilona jika ia kembali menginjakkan kaki di sana sebab kenangan-kenangan tentang masa lalunya dengan Tuan Belvara dan Nyonya Stella pasti akan berseliweran di dalam kepala. Namun, mengingat ucapan Kenny saat ia berbicara lewat telepon beberapa waktu lalu berhasil membuat Ilona meyakinkan diri untuk tetap pulang.
“Kau bisa kembali ke sini kapan pun kau mau. Sebab, rumah ini adalah rumahmu juga.”
Ilona mengangguk seraya mengulum senyumnya. Begitu asyik berbincang dengan sosok Rossie. Perempuan riang dan bisa menjelma menjadi siapa saja bagi Ilona. Selama di Paris, Rossie-lah yang selalu menemani ke mana pun ia pergi—jika Felix tidak bisa menemaninya. Tidak heran jika nanti ia pasti akan merindukan perempuan itu. “Hm, aku pasti akan merindukanmu, Ross.”
Perempuan berambut pirang itu tersenyum lebar. “Aku juga.”
Keduanya lantas saling mengutarakan perasaan dengan saling merengkuh.
“Ayo berangkat!” uacp Rossie seraya mengurai pelukannya. “Nanti kau bisa ketinggalan pesawat. Aku tidak mau rugi dengan membelikanmu tiket dua kali,” lanjutnya dengan melempar candaan yang berhasil membuat Ilona tertawa.
“Apakah Felix sudah datang?”
Rossie menganggukkan kepala. Memang sepupunya itu tidak bisa jauh dari lelaki bernama Felix itu. Sayang, mereka tak bisa menyatu sebab tak ada rasa yang tumbuh di hati masing-masing. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu bersama menjadi sepasang teman. Harapan Rossie, setelah keduanya hidup di negara berbeda, semoga mereka tidak menyesali pilihan untuk tak menjalani hubungan sepasang kekasih. Perihal merasa ada yang berbeda, itu sudah pasti adanya.
Ilona bangkit dengan senyum semringah dan menyeret kopernya. Ia membiarkan Rossie melangkah ke luar terlebih dulu. Di ambang pintu kamar ia berhenti dan membalik tubuhnya. Kepala Ilona terangkat menatap langit-langit kamar. Lalu dengan pandangannya ia beralih menyapu setiap jengkal ruangan yang selalu menjadi tempat pulangnya selama beberapa tahun terakhir ini. Kedua sudut bibirnya berkedut. “Aku pergi, ya. Terima kasih sudah menjadi tempat paling nyamanku selama di sini. See you soon,” ucap Ilona seolah tengah berbicara dengan orang lain. Ia lalu membalik badan dan menutup pintu kamarnya.
“Pa, tunggu aku di sana. Aku akan membalas semua perlakuan jahat orang-orang itu terhadap Papa,” tukas Ilona dengan wajah merah padam. Pertanda ia tengah diliputi amarah yang benar-benar membuncah hingga mencapai ubun-ubun. Terbukti juga dengan genggamannya yang begitu erat pada pegangan koper yang ia seret. Hingga buku-buku jemarinya ikut memutih.
"Seperti rindu yang harus kubayar dengan tuntas. Dendam pun demikian. Nyawa harus dibalas dengan nyawa," tegas perempuan itu dengan tatapan yang benar-benar mengerikan.
Sepasang kaki dalam balutan sepatu high heels bergerak dengan sangat anggun di tengah keramaian dan hilir mudik bandara. Hak sepatu yang runcing itu saling beradu dengan lantai hingga menimbulkan bunyi yang seakan terdengar seperti music pengiring langkah kakinya. Bunyi dengan irama konstan itu tak ia pedulikan kalau-kalau bunyinya nanti akan menyita perhatian banyak orang. Lalu, puluhan atau bahkan ratusan pasang mata akan menyorotnya dengan tatapan aneh. Terserah! Biarkan saja mereka memandangnya aneh. Sebab, menghentikan bunyi dari gesekan hak sepatu dan lantai itu juga ia tak punya kuasa untuk melakukannya. Lagi pula, ini tempat umum. Tidak akan ada orang yang akan merasa terganggu, bukan?
Tatkala sepasang kaki yang menopang tubuh proporsional itu tiba di pintu keluar bandara. Tuannya justru menghentikan langkah anggun bak model professional yang berjalan di atas catwalk itu. Ia membuka kacamata hitam yang menutupi sepasang puppy eyes miliknya dan sejak tadi bertengger pada hidung bangir bak patung Yunani tersebut. Memandang lurus ke depan dengan senyum yang teramat tipis dan nyaris tak terlihat. Ia mencoba mengirup udara dalam-dalam seraya mengatup kelopak matanya dengan rapat. Kini, ia sudah bisa menikmtai udara kota di mana ia dilahirkan dua puluh empat tahun lalu dan sempat ia tinggalkan hampir satu windu lamanya. Rentang wajtu yang cukup lama bagi perempuan pemilik nama Ilona Roselani Belvania itu.
Puppy eyes milik perempuan dengan rambut sebahu yang dibiarkan tergerai dan tersapu angin sore ini kembali terbuka pelan. Ia lantas mendongakkan kepala tinggi-tinggi, menatap langit sore yang menyambut kedatangannya dengan warna indah—biru kemerah-merahan. Langit yang mulai detik ini akan ia junjung sampai nanti tubuhnya melebur bersama tanah Kota Bandung.
Lalu. Bagaimana dengan Paris? Sebuah tempat yang menjadikannya tumbuh menjadi perempuan dewasa seperti sekarang ini. Apakah ia tidak akan kembali lagi menginjakkan kaki di tempat yang banyak menciptakan kenangan indah itu? Tidak! Ia pasti akan kembali, tetapi untuk pulang lagi. Dan entah kapan ia akan kembali memijakkan sepasang tungkainya di kota yang terkenal dengan sebutan The City of Love tersebut.
Ah, Paris. Belum juga dua puluh empat jam Ilona meninggalkan kota itu. Sekarang, ia sidah merindukan suasana dan orang-orangnya, khususnya seorang lelaki bermata sipit yang biasa disapa dengan Felix itu. Lelaki itu sekarang pasti tengah menanti kabar darinya. Namun, Ilona masih belum sempai mengirimkan pesan singkat untuk lelaki yang selalu membersamainya dalam segala keadaan selama di Paris. Lelaki itu juga yang banyak memberikan pandangan positif tentang bagaimana menyikapi perjalanan hidup dan melawan ketakutan agar tak melulu kalah. Ah, Felix. Lelaki itu memang hebat dan sempurna di mata Ilona.
“Lix, aku sudah tiba di tanah yang selalu aku banggakan di hadapanmu. Padahal, tanah kelahiranmu jauh lebih indah dan ramah,” monolog Ilona, lalu diiringi tawa kecilnya. “Nanti akan kuperlihatkan rumah dan potret masa kecilku sesuai inginmu,” sambung Ilona dengan senyum yang terpatri begitu cantik. Ia tiba-tiba membayangkan bagaimana Felix akan dengan sangat serius mendengar celotehannya seperti biasa. Seperti seorang kakak yang dengan sangat suka dan sabar mendengar cerita adik kecilnya.
Enough, Ilona! Hentikan otakmu bekerja untuk memikirkan tentang Felix, sebab memikirkan lelaki itu tentu tak aka nada titik temunya. Selalu saja ada hal yang akan ada kaitan dengannya.
Embusan napas Ilona beradu dengan deru angin sore Kota Bandung. Ia kembali menyeret kopernya untuk melanjutkan langkah yang sempat terjeda. Jika ia berlama-lama termenung sendiri di pintu keluar bandara. Itu artinya ia sudah menyia-nyiakan waktu dan memperlambat dirinya tiba di rumah. Dan itu juga artinya ia akan membuat seseorang yang berjanji untuk menjemputnya sudah menunggu lebih lama. Kasihan. Sudah cukup satu windu lamanya menabung rindu. Jangan lagi ia menambah waktu dan memperlama sebuah temu yang menjadi obat paling mujarab penyakit bernama rindu itu. Entah selebar apa sekarang sepasang lengan milik seseorang yang akan menjemputnya nanti.
Belum sampai kakinya melangkah jauh dari arah pintu keluar. Sebuah benda keras menubruk tubuhnya dari belakang. Ilona yang belum siap dengan keadaan pun akhirnya terjungkal ke depan dan lututnya berhasil menyentuh lantai pertama kali. Kacamata yang juga di dalam genggamannya terjatuh begitu saja. Ia mengaduh tertahan. Beruntung tak banyak pasang mata yang menoleh ke arahnya. Jika tidak, tentu ia akan sangat malu sebab menjadi tontonan gratis di tempat itu.
Tak hanya Ilona yang terjatuh menyentuh lantai. Orang yang menabrak Ilona itupun tak ayal tubuhnya menyentuh lantai bandara dengan sempurna. Namun, anehnya tak ada di antara keduanya yang angkat suara. Mereka justru saling mempertemukan tatapan satu sama lain dalam diam dan mengadunya dalam beberapa saat.
Sepasang iris hitam bersih begitu cantik dan teduh, tetapi tampak basah. Bahkan, kelopak mata itu tampak terlihat memerah. Menatap Ilona tanpa berkedip. Tidak ada aura ketertarikan dari tatapan itu. Hanya tatapan nanar tanpa ekspresi.
Ilona. Perempuan itu pun ikut tertegun. Baru kali ini ia melihat sepasang bola mata yang begitu meneduhkan tatapannya. Bahkan, mengalahkan tatapan Felix yang selalu berhasil membuatnya tenang. Namun, seperti ada luka yang terpancar dari sana. Dibuktikan dengan lebih kuat oleh kelopaknya yang sembap, tetapi tak juga menghilangkan keindahan di sana. Diam-diam Ilona memuji keindahan sepasang bola mata itu di dalam hatinya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Ilona lebih dulu. Padahal jika diingat-ingat, ialah yang menjadi korban dalam insiden ini. Beruntungnya, ia tak sampai tertindih tubuh atletis milik seseorang yang menabraknya.
Kening Ilona mengkerut dalam. Laki-laki yang masih sama-sama belum beranjak dari lantai itu masih bergeming. Sekali lagi, meski tatapannya berhasil menembus tatapan Ilona, tetapi tak ada percikan ketertarikan di sana. Hanya yang jelas terlihat adalah duka. Lantas, Ilona menjentikkan jarinya di depan wajah laki-laki itu untuk membangunkan kesadarannya. Tidak mungkin, bukan, jika ia dan laki-laki itu akan terus menerus dalam posisi seperti ini?
Berhasil! Jentikkan jemari lentik Ilona berhasil membangunkan laki-laki itu dari lamunannya. “Oh, maaf sudah menabrakmu. Apa kau tidak apa-apa?”
Ilona tertegun mendengar suara lembut, tetapi terdengar serak—persis seperti suara orang yang sebelumnya menangis tersedu. Namun, detik berikutnya ia tersadar bahwa ia tidak boleh menjebak diri dalam lamunan juga. “Tidak. Aku tidak apa-apa. Bagaimana denganmu? Apakah ada yang terluka?”
Laki-laki itu menggelengkan kepala hingga rambutnya yang menjuntai di depan kening ikut bergerak mengikuti arah gravitasi. “I’m okay,” balasnya. “Aku pergi dulu,” sambung laki-laki itu dan berlalu setelah mendapatkan anggukan Ilona dengan langkah yang tergesa-gesa.
Sepertinya, laki-laki itu memang sedang dikejar waktu, pikir Ilona. Namun, ia masih belum bisa melupakan sepasang bola mata basah itu. Teduh, tetapi sarat luka.
Ilona yang bersiap-siap untuk merubah posisinya menghentikan pergerakan ketika sepasang netranya menangkap sebuah benda yang jelas sekali asing baginya. Ia memicingkan mata, lalu meraih benda tersebut. Sejenak ia termenung memandangi benda itu. Ia lantas mengangkat kepala dan segera bangkit secepat kilat. Ini pasti barang laki-laki itu yang tak disadari tuannya terjatuh. Namun, Ilona sudah terlanjur terlambat untuk mengejar pemiliknya dan mengembalikan benda kecil berwarna biru itu. Ia sudah tidak bisa lagi menangkap sosok laki-laki itu dengan indra penglihatannya.
“Bagaimana caraku untuk mengembalikan benda ini?” tanya Ilona pada dirinya sendiri. Ia yakin bend aitu pasti sangat penting untuk si laki-laki asing pemilik bola mata basah itu. Akan tetapi, Ilona pun tak punya daya dan cara mengembalikan kepada pemiliknya. Ia tidak tahu sama sekali lelaki yang menubruk tubuhnya hingga tersungkur ke lantai dan mungkin akan menyisakan memar di sepasang lututnya.
Ilona yang tidak bisa berpikir pun akhirnya memutuskan untuk menyimpan saja benda tersebut. Siapa tahu suatu saat ia akan bertemu lagi dengan lelaki itu. Oh, apakah Ilona mengharapkan pertemuan lain setelah ini? Bukan! Bukan itu maksud Ilona. Ia berharap bertemu hanya untuk mengembalikan barang milik laki-laki itu. Hanya itu. Tidak lebih.
Ketika Ilona membereskan beberapa barangnya yang berserakan di lantai. Ia menemukan ada satu barangnya yang hilang. Adalah kacamata hitam yang ia gunakan tadi untuk menghalau cahaya matahari langsung menerpa sepasang mata bulatnya. Ah, laki-laki itu pasti salah mengambil barang karena tergesa-gesa, pikir Ilona. Tiba-tiba ia merasa sedih, karena harus kehilangan kacamata itu. Bagaimana tidak? Kacamata itu adalah barang pemberian terakhir dari Felix. Dan apa pun bentuk barang dari laki-laki bermata sipit selalu ia simpan dan ia gunakan. Sayang, kali ini ada orang tak dikenal yang salah menjamah barangnya. Lalu, Ilona harus mencoba untuk mengikhlaskannya.
“Kenapa barang-barangmu bisa berserakan seperti ini?”
Suara berat itu berhasil menghipnotis Ilona untuk mengangkat kepala dengan posisinya yang berjongkok memungut satu per satu barangnya. Ia sejenak memicingkan mata untuk memperhatikan siapa laki-laki yang berdiri di hadapannya itu. Namun, detik berikutnya ia langsung memekik girang dan sukses mencuri perhatian orang. Ia tanpa malu memeluk tubuh laki-laki di hadapannya dengan erat seraya menggoyangkan tubuhnya.
Garry. Laki-laki itu adalah Garry. Sahabat masa kecil Ilona yang selalu setia menunggu kepulangan perempuan itu di tanah kelahiran mereka. Tanah yang menjadi saksi masa kecil yang indah sebelum duka sama-sama merenggut kebahagiaan mereka dengan kisah yang sama. Adalah kehilangan orang-orang tersayang yang begitu tiba-tiba.
“Lepaskan, Ilona. Kau tidak malu menjadi pusat perhatian orang, hm?” ujar Garry seraya melepaskan tangan Ilona yang melingkar di lehernya.
Ilona masih belum terbiasa dengan pijakannya sekarang. Jelas Garry akan mengatakan hal itu. Indonesia jelas berbeda dengan Paris. Akan ada banyak pasang mata yang memusatkan perhatian dengan tindakan-tindakan seperti itu. Baiklah. Kali ini Ilona mengaku salah, karena tidak sadar tempat.
“Barangmu?”
“Hm, tadi aku ditabrak seseorang, tapi orangnya sudah pergi,” tutur Ilona dan melanjutkan membereskan barangnya.
Garry tentu saja tidak tinggal diam. Laki-laki itu ikut berjongkok dan membantu Ilona. “Dia tidak pergi begitu saja? Kenapa kau biarkan dia lolos?”
“Tidak apa-apa. Aku juga baik-baik saja,” balas Ilona dengan santai.
Garry lantas menoleh ke arah Ilona. Ia tersenyum tipis. “Kau belum berubah. Masih sama seperti dulu,” puji Garry dan refleks mengelus puncak perempuan itu. Satu hal yang sering Garry lakukan dulu pada Ilona kecil.
“Bagaimana aku akan berubah? Aku bukan power rangers, Gar,” sahut Ilona. Lalu, ia tertawa kecil. Padahal, di dalam hatinya ada desiran saat tangan besar Garry menyentuh puncak kepalanya. Perlakuan laki-laki itu mengingatkannya pada Felix. Ya, lagi-lagi Felix.
Garry tidak bisa untuk tidak ikut tertawa. Ia kemudian membantu Ilona membawa barang-barangnya menuju mobil. Setelah ini, akan ia tepati janjinya pada perempuan itu.