Amora mengurungkan niatnya untuk memesan makanan, tetapi ia kini menelpon suaminya untuk mengucapkan terima kasih.
Kring kring kring kring
Panggilan telepon tersambung ke nomor ponsel Aries.
📱"Iya sayang, ada apa ya?"
Aries bertanya terlebih dahulu dari balik telepon.
📱"Mas, terima kasih ya kamu sudah pesan makanan. Kamu perhatian banget sih."
Amora kembali lagi tersenyum sendiri dibalik telepon.
📱"Nggak apa-apa sayang, aku yakin kamu pasti belum makan. Kalau dikasih tahu pasti cuma iya-iya jawabnya. Makanya aku inisiatif buat pesan dari sini."
📱"Iya sih mas, Habis sampai kantor langsung meeting. Barusan habis meeting mau pesan go food, ehh sudah di kirimin dulu sama suami tercinta."
Kembali lagi Amora memuji Aries.
📱"Ya sudah sekarang dimakan dulu gih, ingat loh kamu punya penyakit maag!"
📱"Iya sayangku ini juga mau ..
"Masssss....ini bagaimana ya?"
Sejenak Amora menghentikan perkataan, ia menajamkan pendengarannya. Matanya menyipit pada saat mendengar suara perempuan di balik ponselnya.
📱"Mas, kok ada suara perempuan?"
📱" Ya ampun, sayang. Aku kan sudah ada di toko, jelas saja ada suara perempuan. Apa kamu lupa kalau toko pakaianku yang beli nggak cuma lelaki, bahkan banyak pelangganku yang perempuan." Aries berkilah dari balik telepon, seraya ia memberikan kode pada wanita selingkuhannya dengan menempelkan jari telunjuk dibibir.
📱"Ohh, aku kira suara siapa? ya sudah kalau begitu aku makan dulu ya mas. Kamu hati-hati kerjanya. Sampai ketemu di rumah nanti ya."
Keduanya mematikan panggilan telepon, tetapi dalam hati Amora merasa tidak enak hati setelah mendengar suara perempuan.
"Ya Allah, kenapa aku jadi berburuk sangka dengan suamiku sendiri ya? memang apa yang dikatakan oleh Mas Aries benar juga sih. Usaha dia kan buka toko pakaian yang pastinya para pelanggannya itu kebanyakan ya perempuan. Astaghfirullahaladzim, kok jadi suudzon sama suami sendiri."
Amora menghela napas panjang, ia mencoba untuk menepis rasa curiganya pada Aries. Ia pun membuka bingkisan makanan tersebut dan segera memakannya.
Aries memiliki toko pakaian yang cukup besar, dengan enam pelayan, yakni tiga perempuan dan tiga lelaki. Ia bisa buka toko pakaian juga berkat Amora yang memberikan modal usaha padanya.
Segala kebutuhan besar di dalam rumah tangga semua yang membayar Amora. Dari angsuran mobil , angsuran bank , Amora yang menanganinya.
Sejenak Amora melirik jam tangannya," baru jam sebelas siang. Biasanya Mas Aries buka tokonya juga siangan sekitar jam setengah dua belas. Ini kok sudah buka saja ya?"
Memang toko pakaian milik Aries untuk grosiran, dan ia lebih suka buka toko menjelang siang hingga pukul lima sore baru tutup. Hanya hari Minggu saja, toko pakaiannya tutup. Jika tanggal merah atau selain Minggu, toko pakaiannya tetap buka.
Amora terus saja mencoba untuk tidak berburuk sangka pada Aries. Walaupun entah kenapa hatinya terus saja tidak tenang memikirkan Aries
"Astagfirullahaladzim, ya Allah. Kenapa kok hatiku terus saja memikirkan Mas Aries dan suara manja wanita yang tadi aku dengar di dalam panggilan telepon ya?"
"Ya Allah, tolong tepiskan rasa curiga ini. Karena aku yakin suamiku setia dan tidak bertingkah. Aku nggak ingin terus berburuk sangka seperti ini ya Allah."
Berkali-kali Amora berusaha untuk tidak curiga pada suaminya, tetap saja hatinya tidak tenang.
Tetapi ia terhenyak kaget pada saat pulang ke rumah untuk mengambil berkas kantor yang tertinggal. Dia tidak sengaja melintas di depan kamar utama dan mendengar suara lelaki dan wanita sedang asik melakukan hubungan suami istri.
Dengan tangan gemetar, Amora membuka perlahan pintu kamar tersebut, sejenak matanya membola melihat pemandangan syur dimana suaminya sedang asik menindih seorang wanita. Dan wanita itu tak asing lagi bagi Amora.
Amora mengepalkan tinjunya, tapi ia tidak lantas menegur Aries. Ia meraih ponsel dan merekam adegan panas yang ada di hadapannya dengan tangan gemetar. Setelah itu ia melangkah pergi secara perlahan dari ambang pintu tanpa menutup lagi pintu tersebut.
Darahnya bergemuruh, jantungnya berdetak dengan kencang. Kakinya terasa lemas dan hampir saja ia tidak kuat untuk berjalan. Ia begitu tidak percaya dengan apa yang ia lihat sendiri.
Berkali-kali ia bergumam dalam hati," ya Allah, apakah aku sedang bermimpi?"
Amora mencubit pipi sendiri, nyatanya ia kesakitan.
"Auhhh... ternyata semua nyata. Tetapi kenapa harus Arin, walaupun ia adik tiri tapi sudah aku anggap adik kandungku sendiri. Bahkan segala kebutuhannya aku yang selalu mencukupi. Mas Aries, kenapa kamu juga tega padaku? kurang apa aku padamu, hingga kamu berselingkuh?"
Air matanya menetes begitu saja.
Tetapi ia segera menghapus air matanya," aku tidak ingin lemah. Aku akan membalas perbuatan mereka dengan caraku sendiri."
Amora mempercepat langkahnya untuk segera sampai di pelataran rumah, dimana mobilnya terparkir.
Amora bisa keluar masuk rumah tanpa harus meminta tolong security untuk membuka pintu gerbang, karena ia selalu membawa kunci cadangan. Apalagi saat ini security dan bibi sedang pulang kampung. Hingga suasana rumah sepi dan membuat Aries gampang melakukan perselingkuhan di rumah dengan Arin.
Beberapa menit kemudian...
Amora masih saja teringat bagaimana suaminya main gila dengan adik tirinya.
"Astaghfirullahaladzim, kenapa aku teringat selalu dengan peristiwa tadi ya? sama sekali aku tidak bisa melupakannya. Tetapi aku harus bisa tegar, dan aku harus mempunyai cukup bukti untuk mempermalukan mereka berdua."
"Aku nggak boleh lemah. Aku bukan wanita bodoh yang akan menerima perlakuan orang yang sudah berlaku curang terhadapku. Baiklah aku akan ikuti permainan kalian, sejauh mana kalian bisa bertahan dengan semua kebusukan ini." batin Amora menabuh genderang perang dengan suami dan adik tirinya.
"Aku tidak akan lagi menangisi lelaki seperti Aries. Sayang sekali air mata ini tertumpah untuk lelaki bejat seperti dirinya. Aku tidak akan tinggal diam kok, pasti kalian akan merasakan juga apa yang saat ini aku rasakan!" sumpah Amora sembari mengepalkan tinjunya.
Sementara saat ini kedua sejoli yang baru saja selesai bercinta sedang bercengkrama. Arin berbaring di dada bidang Aries.
"Arin, kamu makin pintar saja sih? aku bagai terbang diatas awan, sangat menikmatinya sayang," Aries memuji permainan ranjang Arin.
Pasangan selingkuh tersebut telah selesai menyalurkan hasrat mereka. Keduanya masih terbaring di ranjang tanpa sehelai benang. Tubuh menyatu mendekap di dalam selimut.
"Apaan sih mas, kan biar mas Aries puas loh," ucap Arin sok malu-malu kucing.
Kembali lagi Aries memuji permainan ranjang Arin dan bahkan ia membandingkan dengan permainan ranjang Amora," kamu memang beda dengan Amora, dia itu tidak bisa bergaya hanya diam saja seperti patung yang membuatku jadi bosan padanya. Tidak ada gaya yang mengasyikkan sama sekali."
Arin rela melakukan apapun karena ia cinta pada Aries. Begitu pula dengan Aries, ia juga mengatakan pada Arin bahwa dirinya sangat cinta padanya.
"Hmmm...katanya sayang dan sangat cinta padaku. Tetapi kok tidak juga menikahiku sih, mas? aku sudah merasa lelah harus sembunyi-sembunyi seperti ini," keluh kesah Arin meminta pertanggung jawaban atas apa yang telah mereka lakukan selama ini di belakang Amora.
Tetapi seperti biasa Aries berkilah membujuk Arin dengan segala kata-kata manisnya.
"Sayangku cintaku, kamu yang sabar dulu dong. Karena segala sesuatu itu butuh proses dan tidak instan. Aku nggak bisa menceraikan Amora tanpa bukti dan alasan yang kuat, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Yang terpenting kan kita bisa bersama, dan setiap saat bisa melakukan hal ini tanpa sepengetahuan Amora."