Bab 2

Alarm ponsel Liana berbunyi tepat pukul lima pagi. Dia tidak pernah memencet tombol snooze. Bangun pagi adalah bagian dari disiplin ketat yang ia terapkan pada diri sendiri-disiplin untuk tidak pernah bergantung pada siapa pun, termasuk pada waktu tidur yang malas.

Malam sebelumnya dihabiskan Liana di depan laptop, bukan untuk e-commerce atau drama Korea, melainkan untuk menggali data. Dia sudah mendapat balasan singkat dari kenalan lamanya di dunia intelijen, seorang hacker kelas kakap yang kini pensiun jadi tukang servis komputer. Si kenalan itu, sebut saja Dino, mengirimkan ringkasan data awal tentang Kinar Adelia.

Kinar Adelia. Calon pengantin Prabu.

Liana membaca ulang ringkasan itu sambil menyeruput kopi hitam pekatnya. Kinar adalah putri tunggal seorang diplomat, lulusan luar negeri, dan aktif di kegiatan sosial. Di permukaan, Kinar adalah definisi kesempurnaan: cantik, berpendidikan, dan nggak ada cela.

"Sialan. Terlalu sempurna itu mencurigakan," gumam Liana. Dia tahu betul bagaimana orang-orang kelas atas ini membangun citra. Pasti ada celah. Semua orang punya kotoran di bawah karpetnya, dan Liana bertekad menemukan di mana karpet itu disembunyikan.

Dia fokus pada satu baris data: Kinar memiliki riwayat utang kartu kredit cukup besar dua tahun lalu, yang tiba-tiba lunas dalam waktu singkat.

Menarik. Utang kartu kredit bagi sosialita kelas atas itu seperti selai kacang di saku baju. Memalukan. Dan pelunasan mendadak itu pasti ada hubungannya dengan Prabu atau keluarganya yang kaya raya.

Liana menutup laptopnya. Rencana balas dendamnya kini punya dua jalur. Jalur A: Menghancurkan Tuan Mahesa lewat jalur bisnis, mencari bukti korupsi. Jalur B: Menghancurkan Prabu lewat personal life-nya, menghancurkan pernikahan itu.

Dia memutuskan untuk menggabungkan keduanya. Dia harus mendekati Prabu. Dan kantor adalah tempat terbaik.

Pukul delapan tepat, Liana sudah berada di kursinya di Mahesa Group. Hari ini, dia mengenakan setelan blazer abu-abu yang menutupi bentuk tubuhnya, tetapi memberikan kesan otoritas. Ini adalah baju perang. Dia bukan lagi Liana si akuntan sinis, tapi Liana si pemain yang siap menusuk.

Liana mulai bergerak. Secara teknis, dia adalah akuntan senior, dan itu memberinya akses ke lantai-lantai eksekutif, asalkan dia punya alasan yang kuat. Prabu adalah Vice President, dan kantornya berada di lantai paling atas, terpisah dari Ayahnya, Tuan Mahesa, yang menempati suite CEO.

Dia membuat alasan palsu. Sebuah laporan keuangan darurat yang membutuhkan tanda tangan Prabu segera. Tentu saja, laporan itu hanyalah omong kosong, tapi formatnya dibuat sangat meyakinkan.

Dengan langkah mantap, Liana berjalan menuju lift khusus eksekutif. Jantungnya mulai berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena adrenalin. Sudah lama dia tidak merasa hidup seperti ini. Rasa sakit dan dendam memberinya energi yang tak tertandingi.

Di lantai Prabu, semuanya terasa sunyi dan mewah. Karpet tebal meredam suara langkah. Meja kerja Prabu dijaga oleh seorang sekretaris yang tampak sangat loyal, wanita paruh baya bernama Bu Sari.

"Selamat pagi, Bu Sari," sapa Liana dengan senyum yang dipaksakan ramah. "Saya Liana dari Akunting. Saya bawa laporan urgency yang diminta Tuan Mahesa pagi ini, tapi beliau bilang Prabu yang harus tanda tangan. Ini soal dana darurat proyek Giga-City."

Bu Sari, yang sedang sibuk menyusun jadwal, mengangkat alis. "Tuan Prabu sedang rapat dengan klien dari Dubai. Tapi laporan apa? Setahu saya, proyek Giga-City sudah di tangan Tuan Mahesa sepenuhnya."

Sialan. Hampir ketahuan.

"Oh, ini laporan yang sangat teknis, Bu. Hanya konfirmasi transfer dana internal. Tuan Mahesa hanya memastikan bahwa Tuan Prabu tahu, karena ini berkaitan dengan pembiayaan ke depan," kilah Liana dengan sangat tenang. Dia memasukkan kata-kata kunci Tuan Mahesa dan teknis untuk membuat Bu Sari bingung dan patuh.

Bu Sari tampak ragu, tapi kata "Tuan Mahesa" selalu ampuh. "Baiklah. Taruh saja di meja beliau, ya. Tapi jangan sentuh yang lain."

Liana merasa kemenangan kecil. "Tentu, Bu. Saya cuma butuh dua menit."

Dia melangkah masuk ke kantor Prabu. Ruangan itu besar, minimalis, dengan pemandangan kota yang menakjubkan. Di balik meja besar kayu gelap, ada beberapa folder yang menarik perhatian Liana. Salah satunya berlabel 'Kinar'.

Ini dia. Momen yang Liana tunggu.

Dia bergerak cepat, matanya mencari-cari. Laptop Prabu terkunci, tentu saja. Tapi laci meja... ah, itu dia. Liana melihat kunci kecil terselip di balik tumpukan buku hukum yang tebal. Prabu pasti ceroboh.

Tangannya terulur. Dia merasakan ujung kunci itu. Jantungnya berdebar kencang sekali. Jika dia bisa membuka laci itu, dia mungkin menemukan detail keuangan Prabu, atau yang lebih baik, dokumen pribadi tentang hubungannya dengan Kinar.

Tiba-tiba, suara derit pintu di belakangnya terdengar, diikuti langkah kaki yang berat dan terukur.

Liana membeku. Ini bukan Bu Sari. Langkahnya terlalu powerful.

"Apa yang kamu lakukan di ruangan putraku, Liana?"

Suara itu. Dingin, berwibawa, penuh ancaman. Tuan Mahesa. Ayah Prabu.

Liana menoleh perlahan. Tuan Mahesa berdiri di ambang pintu, matanya yang tajam seperti elang menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. Pria tua itu tidak pernah datang ke lantai Prabu. Kenapa sekarang?

"Tuan Mahesa. Selamat pagi," Liana membalikkan tubuh, wajahnya menampilkan ekspresi terkejut yang sempurna, seolah dia baru saja menyelesaikan tugas mulia dan terkejut melihat bos besar. Dia menjauhkan tangannya dari meja, tetapi dia tahu, Tuan Mahesa pasti sudah melihat tangannya tadi hampir menyentuh laci.

"Aku bertanya, apa yang kamu lakukan di sini? Kamu dari Akunting, kan? Bukankah seharusnya kamu ada di lantai dua belas?" Tuan Mahesa melangkah masuk, memaksanya untuk merasa kecil.

Liana mengambil napas. Ini adalah konflik Bab 2 yang ia harapkan, tapi ia tidak menyangka Tuan Mahesa sendiri yang akan jadi lawannya.

"Saya... saya sedang menunggu Bu Sari, Tuan," kata Liana, suaranya dikontrol agar terdengar profesional, tidak gugup. "Prabu meminta saya mengirimkan laporan keuangan. Laporan yang sangat sensitif, Tuan, terkait dengan dana proyek pembangunan residensial yang baru."

Liana menyebutkan proyek yang disukai Tuan Mahesa dan Tuan Mahesa memercayai detail-detail itu.

"Oh, laporan yang mana? Aku tidak ingat meminta Prabu menyetujui laporan apapun dari Akunting hari ini. Terutama yang sensitif," Tuan Mahesa tidak termakan. Matanya menyipit, menguji kebohongan Liana. Dia tahu sesuatu tidak beres.

Liana tahu, jika dia panik, semuanya hancur. Dia harus menjadi lebih berani.

"Laporan ini... maaf, Tuan Mahesa. Saya tidak bisa menjelaskan detailnya karena ini rahasia internal departemen kami. Hanya Prabu yang punya wewenang untuk melihatnya. Tapi ini terkait dengan audit yang akan datang," Liana menekan kata 'audit'. Di perusahaan besar, kata itu seperti mantra yang membuat semua orang tegang.

Reaksi Tuan Mahesa langsung berubah. Audit. Kata itu berhasil. Rasa takut dan paranoia selalu menjadi kelemahan terbesar Tuan Mahesa.

"Audit?" Tuan Mahesa kini melunak sedikit, tapi pandangannya tetap curiga. "Audit internal atau eksternal?"

"Saya hanya diperintahkan untuk mengantar laporan ke Prabu. Sepertinya ini dari internal. Laporan awal untuk... ya, Tuan pasti tahu," Liana tersenyum samar, seolah dia tahu rahasia yang Tuan Mahesa sembunyikan. Sikapnya itu membuat Tuan Mahesa berpikir, Liana adalah pion kecil yang tahu lebih banyak dari yang seharusnya.

Tuan Mahesa terdiam sejenak. Dia memproses informasi itu. Dia tidak ingin ada masalah di saat putranya akan menikah.

"Baiklah. Kamu boleh pergi. Jangan pernah masuk ke ruangan ini tanpa izin dari Bu Sari. Apalagi kalau Prabu tidak ada," perintah Tuan Mahesa. Wajahnya kembali kaku, tapi Liana tahu dia menang satu langkah. Tuan Mahesa mundur karena takut pada kata 'audit', bukan karena percaya pada Liana.

"Tentu, Tuan Mahesa. Saya mohon maaf atas kesalahpahaman ini. Saya hanya menjalankan tugas," Liana membungkuk sedikit, senyumnya kini terasa lebih nyata-senyum kemenangan.

Dia berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah yang sama mantapnya saat dia masuk. Saat dia melewati Bu Sari, Liana hanya tersenyum dan berkata, "Sudah selesai, Bu. Tuan Mahesa yang menanganinya sekarang."

Bu Sari mengangguk bingung.

Liana masuk ke lift. Saat pintu lift tertutup, ia menyandarkan punggung ke dinding besi yang dingin. Napasnya terengah-engah.

Sialan. Gila. Itu hampir saja.

Dia tahu, dia terlalu ceroboh. Tuan Mahesa adalah ular tua. Instingnya sangat tajam. Mencoba masuk ke laci Prabu adalah tindakan nekat yang bisa membuatnya dipecat atau, lebih buruk, dicurigai.

Rencana A, mencoba menyerang Prabu secara langsung di kantor, terlalu berisiko. Liana sadar, Tuan Mahesa selalu mengawasi putranya. Ruangan itu pasti punya kamera pengawas tersembunyi, atau setidaknya, Tuan Mahesa punya kebiasaan datang tanpa diundang.

"Aku harus mundur dulu," gumam Liana. "Aku nggak bisa menghadapi dia secara langsung, belum waktunya."

Liana turun ke lantai bawah, kembali ke mejanya, dan segera membuka file data Kinar yang tadi pagi ia baca. Dia harus mencari kelemahan eksternal. Kelemahan yang tidak ada hubungannya dengan kantor Mahesa Group.

Utang kartu kredit. Riwayat itu.

Liana mengirim pesan lagi pada Dino, hacker kenalannya.

Li, cari tahu detail pelunasan utang Kinar Adelia dua tahun lalu. Siapa yang bayar? Bagaimana caranya? Cari semua rekaman komunikasi tentang pembayaran itu. Aku butuh detail, jangan cuma ringkasan.

Dia harus bergerak di luar jangkauan Tuan Mahesa. Dia harus menghancurkan hubungan Prabu dan Kinar dengan menggali masa lalu Kinar yang mungkin tidak diketahui Prabu. Jika Prabu adalah lelaki yang sama dengan tunangan lamanya, Bima, dia pasti akan meninggalkan Kinar begitu Kinar tampak "tidak sempurna" atau "bermasalah".

Liana merenung. Dia tidak ingin menjadi perusak yang sekadar menyebar gosip. Dia ingin menjadi perusak yang elegan, yang membuat Prabu sendiri yang memutuskan hubungan itu. Itu akan menjadi pembalasan yang jauh lebih manis. Membuat anak dari musuhnya menderita karena kepercayaannya sendiri yang rapuh pada cinta, sama seperti yang Liana rasakan sepuluh tahun lalu.

Dia akan menggunakan sinisme pribadinya sebagai senjata.

Aku akan tunjukkan ke Prabu, kalau cintanya juga palsu, sama seperti cinta Bima dulu.

Liana mulai bekerja, mengalihkan fokusnya ke layar komputer, pura-pura menyelesaikan laporan yang dia buat. Tapi di balik wajah tenangnya, mesin perhitungan balas dendamnya sudah menyala, mengubah target, dan meningkatkan risiko. Dia tahu, dia sudah membuat Tuan Mahesa curiga. Sekarang, dia harus bermain lebih cerdas. Babak pertama pertarungan ini telah berakhir, dan Liana nyaris kalah. Dia tidak boleh mengulangi kesalahan itu.

Dia harus bersiap untuk pesta pertunangan.

Bab 3

Rasa kopi pagi ini terasa pahit, sama seperti rencana Liana. Setelah nyaris tertangkap basah sama Tuan Mahesa kemarin, dia tahu harus memutar otak seratus delapan puluh derajat. Keberaniannya kemarin itu bodoh. Tuan Mahesa itu predator tua, nggak akan membiarkan mangsanya lolos dua kali.

Liana menarik napas, melihat layar ponselnya. Ada balasan dari Dino soal utang Kinar Adelia. Ternyata, utang itu dilunasi bukan oleh Prabu, tapi oleh sebuah perusahaan cangkang. Perusahaan yang sering dipakai Tuan Mahesa buat "membersihkan" masalah keluarganya tanpa meninggalkan jejak.

Utang sebesar itu cuma masalah kecil buat mereka. Kalau aku bongkar, Prabu mungkin cuma sedikit malu, tapi pernikahan nggak akan batal.

Liana sadar, menyerang Kinar hanya akan jadi gangguan kecil, bukan kehancuran total. Dia perlu sesuatu yang lebih besar, yang bisa merobohkan fondasi Mahesa Group. Dan untuk itu, dia butuh orang dalam. Bukan orang dalam di kantor, tapi orang yang tahu kotoran di balik sejarah keluarga itu.

Sambil memikirkan siapa yang paling membenci Tuan Mahesa, ingatan Liana melayang ke acara gala dinner perusahaan setahun lalu. Dia ingat melihat seorang pria di sudut, matanya penuh kebencian setiap kali Tuan Mahesa pidato. Pria itu adalah Reno, keponakan Tuan Mahesa. Semua orang tahu Reno seharusnya mewarisi sebagian saham Mahesa, tapi entah bagaimana, Tuan Mahesa berhasil menyingkirkannya, dan kini Reno cuma jadi konsultan kelas dua yang kerjanya serabutan.

Reno adalah korban. Korban dari Tuan Mahesa. Itu artinya, Reno punya dendam, dan dendam adalah mata uang paling berharga buat Liana.

Liana menghubungi kenalan lamanya. Dia harus memastikan pertemuan itu aman, tanpa jejak, dan yang paling penting, tanpa sepengetahuan Tuan Mahesa. Setelah beberapa kali telepon dan janji yang dirahasiakan, pertemuan itu diatur: hari ini, pukul tiga sore, di sebuah kafe terpencil di pinggiran kota yang terkenal sepi dan minim kamera CCTV.

Liana sampai duluan. Kafe itu terasa remang-remang dan senyap, cocok untuk konspirasi. Dia duduk di sudut, membelakangi dinding, dengan posisi yang memungkinkan dia melihat pintu masuk. Dia memesan teh hijau, bukan kopi. Dia butuh ketenangan, bukan kafein yang bikin dia makin paranoid.

Tepat pukul tiga lebih lima menit, Reno masuk. Pria itu tampak kusut dan jauh dari kesan elegan yang dulu ia tunjukkan saat masih jadi bagian dari keluarga Mahesa. Matanya cekung, dipenuhi kelelahan dan mungkin alkohol. Tapi di balik semua itu, tatapan bencinya pada pamannya sendiri, Tuan Mahesa, masih jelas terlihat.

"Liana, ya?" sapa Reno, suaranya parau, menjabat tangan Liana dengan erat. Jabat tangan itu terasa agresif, bukan sopan. Liana langsung menilai: Lelaki ini putus asa.

"Iya. Aku Liana. Terima kasih sudah mau datang, Reno," jawab Liana datar, menarik tangannya cepat.

Reno duduk di depannya, menghela napas panjang. "Nggak perlu basa-basi. Aku tahu kamu ini karyawannya Paman Mahesa. Dan aku tahu kamu nggak mungkin buang waktu untuk sekadar kencan sama aku. Jadi, langsung saja. Kamu mau apa?"

Liana menghargai kejujuran sinis itu. Itu menghemat waktu.

"Aku nggak mau apa-apa dari kamu, Reno. Aku mau kita punya musuh yang sama," Liana berucap pelan, nadanya seperti membujuk. "Musuh itu Tuan Mahesa. Dan sekarang, musuhku akan menikah."

Reno menyeringai pahit. "Prabu. Si anak emas. Aku tahu. Itu membuat perutku mual. Dia dapat segalanya. Perusahaan, kekayaan, bahkan calon istri sempurna. Padahal dia itu sampah, sama kayak Ayahnya."

"Sampah seperti apa?" tanya Liana, tatapannya menantang.

Reno mencondongkan tubuhnya ke depan, memastikan suara mereka tidak didengar. "Paman Mahesa itu mencuri segalanya dari almarhum Ayahku. Dan Prabu... Prabu tahu semua itu. Dia bukan korban, Liana. Dia menikmati hasil curian Ayahnya. Diapura-pura bersih, padahal dia terlibat dalam beberapa transaksi kotor Paman Mahesa. Khususnya, proyek pembangunan perumahan yang dulu mengorbankan-"

Liana menahan napasnya. Proyek perumahan. Itu proyek yang dulu menghancurkan Ayahnya. Ini dia.

"Proyek mana?" desak Liana, ia harus pura-pura tidak tahu, harus memastikan Reno percaya Liana hanya ingin membongkar kebobrokan Tuan Mahesa saat ini.

Reno menjelaskan detail proyek lama itu, menyebutkan bagaimana Tuan Mahesa menggunakan dokumen palsu dan menjebak pesaingnya-persis seperti yang Liana alami, tanpa Reno tahu. Reno juga menjelaskan bahwa Prabu, meskipun saat itu masih kuliah, pernah dipaksa Ayahnya untuk memalsukan beberapa tanda tangan penting.

Informasi ini adalah emas. Jika Liana bisa mengaitkan Prabu dengan skandal masa lalu yang melibatkan ayahnya, itu akan jauh lebih mematikan daripada hanya membongkar utang Kinar. Itu bukan hanya urusan pribadi; itu urusan hukum dan reputasi.

"Jadi, kamu mau aku lakukan apa?" tanya Reno, matanya mulai menunjukkan binar harapan dan keserakahan.

Liana bersandar. Ini adalah bagian yang paling sulit.

"Aku butuh bukti. Bukti nyata yang mengikat Prabu dengan skandal masa lalu Tuan Mahesa. Kamu punya akses ke sana, kan?"

Reno tertawa kecil, suara kering yang penuh sinisme. "Aku nggak bodoh, Liana. Tentu saja aku punya backup data-data kotor itu. Aku cuma nunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan mereka. Tapi aku nggak bisa bergerak sendirian. Kalau aku yang maju, Paman Mahesa akan menuduhku iri dan cuma mencari warisan."

Dia menatap Liana dengan tatapan mata yang licik. "Tapi kamu berbeda. Kamu orang dalam. Kamu bisa mencari celah di sistem mereka. Aku akan kasih kamu semua dokumen yang kamu butuhkan, asalkan kamu janji, setelah Prabu dan Mahesa Group hancur, kamu bantu aku merebut kembali sahamku. Kita bagi dua, Liana. Lima puluh lima puluh."

Jantung Liana mencelos.

Bagi dua?

Bukan, dia bukan marah karena Reno meminta bagian. Liana marah karena ia sekali lagi menyaksikan keserakahan manusia yang tidak bermoral. Reno membenci Mahesa Group karena perlakuan Ayahnya, tapi dia tidak peduli pada keadilan. Dia hanya peduli pada uang. Dia ingin menjadi Mahesa yang baru, menggunakan dendam Liana sebagai alatnya.

Liana tahu saat itu juga: Lelaki ini nggak bisa dipercaya. Dia hanya akan menjadi rekan sementara, dan begitu dia mendapatkan sahamnya, Reno tidak akan ragu-ragu untuk menusuk Liana dari belakang agar semua data itu hilang dan dialah satu-satunya pewaris kegelapan itu.

Konflik internal Liana berteriak. Haruskah dia bekerja sama dengan ular ini, yang sama gilanya dengan Tuan Mahesa? Atau haruskah dia tetap berjalan sendirian, meskipun jalannya lebih sulit?

Keputusan Liana cepat, didorong oleh prinsip sinisnya yang kuat: Jangan pernah percaya siapa pun, gunakan mereka.

"Aku setuju," kata Liana, senyumnya yang dingin kini kembali. "Tapi persentase itu urusan nanti. Prioritas kita sekarang: hancurkan pernikahan Prabu, hancurkan reputasi mereka, dan jatuhkan Tuan Mahesa ke penjara. Kita bergerak bersama, Reno. Kamu kasih aku dokumen luar, aku kasih kamu informasi dalam. Aku akan jadi orang yang menusuk dari depan, kamu yang memberi pisau."

Reno mengangguk, matanya bersinar karena nafsu kekuasaan. "Baik. Tapi kita harus cepat. Pernikahan itu minggu depan. Kita nggak punya banyak waktu."

Liana meneguk sisa tehnya. Dia merasa jijik pada Reno, pada Tuan Mahesa, dan sedikit pada dirinya sendiri karena harus bekerja sama dengan orang busuk seperti ini.

"Aku akan siapkan rencana paling cepat. Kamu siapkan dokumennya," kata Liana sambil bangkit.

"Mau ke mana? Kita harus bahas taktiknya," protes Reno.

"Nggak perlu taktik. Taktik cuma bikin semuanya rumit. Kita cuma perlu satu hal: bukti nyata. Begitu bukti itu ada di tanganku, aku tahu apa yang harus aku lakukan," ujar Liana. Dia tahu dia harus menjauh dari Reno secepat mungkin sebelum Reno bisa membaca semua gerak-geriknya.

Liana membayar minumannya dan berjalan keluar kafe, meninggalkan Reno sendirian dengan tumpukan rencana keserakahannya.

Luar biasa. Dalam dua hari, dia hampir dipecat oleh musuh utamanya, dan sekarang dia bersekutu dengan keponakan musuhnya yang sama-sama beracun. Dia benar-benar sendirian di permainan ini. Reno hanyalah alat sekali pakai, dan Liana tidak akan ragu membuangnya begitu dia mendapatkan apa yang dia butuhkan.

Di jalan yang ramai, Liana menyalakan mobilnya. Kepalanya sakit, tapi semangatnya kembali menyala.

Aku nggak akan pernah bagi hasil dengan siapa pun. Semua yang hilang dari Ayahku harus kembali utuh ke tanganku. Dan semua orang yang ada di sekitarku, entah itu Prabu, Kinar, atau bahkan Reno, semuanya cuma pion. Semuanya.

Dia menginjak pedal gas, meninggalkan kafe itu, meninggalkan Reno, dan meninggalkan semua ilusi tentang aliansi yang bersih.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED