"Alesio, Adela. Kalian adalah murid berprestasi di sekolah ini. Tapi kenapa kalian malah seperti ini sekarang? Hari ini, kalian terpaksa bapak hukum. Berdiri hormat menghadap ke arah tiang bendera di lapangan sekolah!" Perintah Pak Azzam, tak habis pikir. Mengapa dua murid yang dikenal berprestasi, kini berakhir di ruang bk. Alesio yang mendengar keputusan Pak Azzam, tidak terima. Bagaimana mungkin, ia sudah dipukul Adela tapi masih tetap dihukum juga?
"Adela yang salah Pak. Dia udah pukul saya. Ini kan termasuk kekerasan Pak. Masa saya juga ikut-ikutan dihukum." Protes Alesio. Beberapa detik menjeda kata-katanya, lalu kembali melanjutkannya. "Harusnya, cuma Adela yang dihukum."
"Tapi Alesio juga salah kan, Pak. Dia udah nyakitin sahabat saya. Sampai Ceysa sakit karena kesehatannya menurun hari ini." Adela yang semula diam, ikut bicara.
"Enggak Pak. Adela yang salah."
"Alesio Pak, dia salah."
"Adela."
"Alesio."
"Adela."
"Alesio."
"Alesio, Adela. Diam!" Bentak Pak Azzam, kehilangan kesabaran. Kemudian cepat-cepat tersadar bahwa ia sudah tersulut emosi dan segera beristighfar. "Eh, tapi nama kalian. Punya kemiripan ya. Alesio Quinno dan Adela Queeta."
"Bagaimana?"
"Bapak. Diam!" Seru Alesio dan Adela tanpa aba-aba bersamaan.
"Kalian, berani bentak bapak?"
"Eh, enggak Pak. Bukan begitu." Kata Adela
"Iya tuh. Jangan marah-marah Pak, nanti gantengnya kalah sama saya." Kelakar Alesio,
"Ya. Tapi kalau nak Alesionya bonyok gini mah. Masih gantengan bapak ke mana-mana." Balas Pak Azzam, percaya diri tingkat tinggi. Setelahnya, Pak Azzam kembali memasang wajah seriusnya. "Yasudah. Sekarang, kalian berdiri hormat menghadap ke arah tiang bendera di lapangan. Lain kali, jangan bertengkar sampai seperti ini. Apalagi sesama umat muslim dan beragama, kalian itu harus silih asih. Atau bahasa indonesianya, saling mencintai." Alesio dan Adela mengangguk-anggukan kepala, agar semua cepat selesai. Meski pada akhirnya, mereka berdua tetap harus mendengarkan ceramah yang Pak Azzam lontarkan. Dan berakhir satu jam kemudian. Tidak berhenti di situ, keduanya juga masih harus menjalankan hukuman sesuai yang Pak Azzam perintahkan.
○●○
Bel pulang sekolah sudah berbunyi 30 menit yang lalu. Mengakhiri penderitaan Adela yang sampai saat ini masih merasa terpaksa karena sebelumnya harus berlama-lama dengan Alesio di lapangan sekolah, menuntaskan hukuman yang diberikan Pak Azzam untuk keduanya.
Kini tetesan keringat mengalir deras di dahinya. Sepulang sekolah, Adela dan semua anggota Muay Thai kembali mengadakan perkumpulan. Baginya, ekstrakulikuler beladiri adalah media belajar untuk para perempuan agar bisa melindungi dirinya sendiri. Apalagi perempuan seringkali menjadi incaran kejahatan, karena kerap dianggap sebagai makhluk yang memiliki kemampuan fisik lebih lemah dibanding laki-laki. Padahala tidak juga, justru menurut Adela, perempuan adalah makhluk yang luar biasa kuatnya. Ketika sudah tiba pada waktunya, semua perempuan akan menjadi seorang Ibu yang dengan begitu hebatnya rela mengorbakan nyawanya untuk melahirkan seorang manusia.
Adela punya alasan, kenapa dia menyukai seni beladiri. Bukan karena hanya ingin melindungi diri tapi juga agar ia dipandang kuat oleh banyak cowok, sekaligus caranya sendiri. Mengobati luka yang jika orang-orang melihatnya dari luar, tampak baik-baik saja.
Seorang guru pembimbing berdiri di hadapan Adela. Sembari masing-masing telapak tangannya memakai sarung tangan yang memiliki bantalan busa. Benda itu akan menjadi sasaran untuk Adela pukul dan tendang. Sedangkan Adela memakai sarung tinju berwarna biru dikedua tangannya.
Sekelebat, bayangan wajah Alesio terbayang. Membuat semua amarah di hati Adela bergejolak. Tentang Alesio yang dengan teganya menyakiti perasaan Ceysa, sahabat yang sangat Adela sayangi layaknya seperti seorang saudara. Apalagi, sesama perempuan, Adela tidak terima jika Ceysa diperlakukan semena-mena oleh laki-laki. Terutama Alesio.
Pelan-pelan, Adela tak mampu menahan emosinya. Ia memukul sarung tangan dengan bantalan busa itu sekuat tenaga. Untungnya, sarung tangan yang dipakai Pak Edy bisa menyerap pukulan yang Adela lancarkan, membuatnya tidak mengalami cedera. Namun Pak Edy justru menepuk kedua bahunya. Sembari bilang. "Nice and cool. Adela! Sebelumnya kemampuan kamu sudah sangat baik dan kali ini semakin baik lagi." Pak Edy menepuk-nepuk bahu Adela. Ia merasa bangga memiliki Adela sebagai ketua ekstrakulikuler yang ia bina. Terlebih, karena Adela selalu mengharumkan nama eskul Muay Thai dengan prestasinya memenangkan setiap lomba beladiri mewakili Sma Cendaka Karya ini. "Baik, sudah pukul lima sore. Latihan kita tutup." Adela mengangguk menanggapi ucapannya. Suara bariton Pak Edy mengumpulkan semua anggota.
"Tetap semangat semuanya, dan jangan lupa jaga kesehatan," ucap Pak Edy. Sebelum pertemuan eskul ini diakhiri. Mereka semua berdoa terlebih dahulu. Lalu merapat membentuk sebuah lingkaran untuk saling menumpukkan telapak tangan ke punggung tangan satu sama lain dan mengangkatnya secara bersamaan.
Seragam olahraga yang Adela kenakan bermandikan keringat, wajahnya kusam dan ikatan rambutnya semakin dibuat asal-asalan. Sangat tidak menggambarkan cewek idaman kebanyakan cowok. Meski begitu, Adela tidak seburuk itu. Ia memiliki tinggi badan sedang dengan tubuh ideal berkulit kuning langsat. Juga wajah yang cukup menarik. Hanya saja, Adela lebih suka menjadi apa adanya daripada menuruti standar kecantikan.
Adela berjalan keluar dari ruangan eskul Muay Thai. Dengan santai melewati lapangan yang biasanya jika sore begini dijadikan tempat bermain basket. Mengingat kejadian sebelumnya, membuat Adela rasanya ingin kembali memukuli Alesio.
○●○