Denting bel berbunyi lirih saat pintu utama butik terkuak. Perempuan berusia—sekitar dua puluh empat tahun, perkiraanku, tersenyum dan mengangguk sopan. Pukul tujuh lewat sepuluh menit. Aku yakin pasti perempuan ini yang memiliki janji dengan Bu Rahma.
“Mbak Sita?” sapaku dengan nada bertanya.
“Iya, Mbak, saya Sita.” Perempuan itu mengulurkan tangannya untuk jabat tangan dan kusambut dengan senyum hangat. Sepertinya, perempuan ini cukup menyenangkan diajak kerja sama. Bukan tipikal perempuan kelas atas yang berlagak menginginkan kesempurnaan, padahal sebenarnya tak mengerti soal busana.
“Silakan duduk, Mbak.” Aku membuat gestur sopan dengan tangan yang terulur menunjuk satu sofa. “Mau minum apa? Saya buatkan.”
“Air putih saja, Mbak. Jangan repot. Saya kan, ke sini untuk pesan baju, bukan minum.” Dia terkekeh lirih dengan gestur anggun dan malu-malu.
Aku mengangguk sambil tersenyum santai, lalu mengambil satu botol air mineral kemasan yang selalu tersedia di showcase butik ini. “Silakan, Mbak,” ucapku saat kembali menuju sofa tamu dan meletakkan botol air mineral itu di atas meja. “Sebelumnya, saya mewakili Bu Rahma memohon maaf karena beliau tidak bisa menyambut Mbak malam ini. Ada urusan mendadak yang harus beliau datangi. Jadi, saya diminta Bu Rahma untuk mewakili beliau malam ini, menampung konsep busana yang Mbak Sita inginkan.”
Sita menunduk sekilas seraya tersenyum samar. “Dua minggu lagi akan ada pertemuan di rumah orang tua saya. Hanya acara sederhana yang dihadiri orang terdekat saja. Saya ingin memesan busana yang sederhana tetapi mampu membuat saya terlihat cantik. Acaranya malam dan hanya makan malam dan bincang saja.” Perempuan ini mengambil botol air mineral yang kusuguhkan, lalu meneguk pelan seakan ia butuh hal yang bisa membuatnya memiliki tenaga untuk membicarakan konsep busana sederhana yang ia pinta. “Sebenarnya ... acara nanti itu, sedikit formal sih. Memang hanya makan malam dan bincang ringan, tetapi orangtua saya meminta agar saya tampil sedikit lebih menarik dari biasanya.”
Aku memperhatikan gesturnya yang menutup botol air mineral dan meletakkan kembali ke atas meja. Tampak jelas padaku, jika perempuan ini sedikit tidak nyaman dengan apa yang ia bicarakan. Entah mengapa. Perempuan ini memandang ke arah pintu utama butik dan sesaat melamun memindai jalan raya yang padat. Jam tujuh di Jakarta memang masih menjadi waktu-waktu padat lalu lintas.
Napas perempuan ini terhela lirih dan panjang. Aku tak berani mengganggu apapun yang sedang perempuan ini lakukan dengan pikirannya. Tugasku hanya mencatat dan menggambar sketsa kasar konsep busana yang ingin ia pesan. Mencari tahu apa isi hati dan pikiran perempuan ini bukanlah tugasku dan aku pun tak berminat melakukan itu. Jadi, aku hanya tetap duduk diam, menunggunya memindai mobil-mobil yang merambat pelan di jalan, dan ...
“Nanti itu acara perjodohan, Mbak. Orangtua saya ingin menjodohkan saya dengan seorang duda. Menurut Mbak, saya harus mengenakan busana seperti apa agar keengganan saya menjalani perjodohan ini bisa tertutupi dengan rapi. Mereka bilang saya harus tampil lebih cantik. Padahal, saya menyukai style saya yang seperti ini. Jadi, apa Mbak ada saran model busana yang bisa dibuatkan untuk acara perjodohan saya dua minggu lagi?”
Perempuan itu tersenyum sendu kepadaku. Aku hanya merespons dengan senyum samar. Entahlah, aku memang tak bisa merasakan apa yang perempuan ini pendam. Aku belum pernah mengalami fase perjodohan dan tak tahu apa harus prihatin atau bersyukur atas nasib perempuan ini.
“Boleh saya buatkan sketsa gambar busananya sebentar?” tawarku seraya membuka buku sketsaku. “Mbak Sita suka busana tanpa lengan atau berlengan hingga siku?”
“Berlengan saja,” jawabnya seraya ikut memperhatikan buku yang mulai kugores dengan pena gambarku.
Aku memindai postur tubuhnya sesaat. Wajahnya ayu dengan kulit langsat yang kuyakin bagus mengenakan warna apapun sekalipun warna-warna pucat. Rambutnya lurus dan panjang. Aku yakin orangtuanya memberikan banyak modal untuk perawatan rambut, wajah, dan tubuh.
Tanganku mulai menggambar rancangan busana sederhana yang pastinya akan nyaman ia kenakan. Dari apa yang perempuan ini kenakan sekarang, aku bisa menyimpulkan jika ia tipikal perempuan bebas dan ceria. Saat ini saja, ia hanya mengenakan jins dan kaus model feminim. Pembawaannya anggun dan penuh tata krama, tetapi aku yakin jika di luar sana, ia pasti enerjik dan penuh tawa.
“Kalau begini, gimana? Mbak suka? Atau ada ide lain?” tanyaku seraya menyodorkan sketsa rancangan busana untuk acara perjodohan.
“Ini maksudnya apa, Mbak?” tanya perempuan itu sambil menunjuk satu coretan di bagian atas dada.
“Oh, itu nanti rencana saya adalah bordiran bunga yang akan terlihat timbul. Saya merekomendasikan warna putih gading dan bordir di beberapa tempat seperti ini.”
Sesaat, perempuan ini tampak berpikir hingga akhirnya mengangguk. “Bagus. Bisa terlihat formal tapi juga santai,” nilainya dengan mata yang belum juga beranjak dari hasil gambarku.
Setelahnya, aku memberikan katalog contoh bahan yang perempuan itu pilih, lalu mengukur postur tubuhnya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam dan perempuan ini pamit.
“Semoga bisa selesai sebelum acara perjodohanku ya, Mbak.”
Aku tersenyum menanggapi ucapannya. Membuka pintu utama butik, aku mempersilakan perempuan ini pamit pergi. “Kami pasti lakukan yang terbaik untuk kebutuhan busana Mbak Sita.”
Perempuan itu tersenyum sekali lagi, lalu berjalan menuju mobilnya yang berwarna kuning lemon.
Seperti biasa. Aku sampai di kontrakanku saat waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Aku menyukai rutinitasku yang seperti ini. Pergi ke butik pada jam delapan pagi dan kembali ke kontrakan pada saat waktu hampir mendekati tengah malam. Dengan begitu, aku tak memiliki waktu untuk meratapi hidupku yang terasa menyedihkan. Lelah membuat tubuhku segara masuk kamar mandi lalu terlelap hingga esok hari.
Hanya saja, sepertinya hari ini berbeda dari biasanya. Sebelah rumahku memang sudah lama kosong. Bahkan ada yang berkata bahwa bangunan itu berhantu saking lamanya tak berpenghuni. Malam ini, rumah sebelah sudah terang benderang dengan keramaian beberapa suara.
Bagiku tak masalah jika rumah sebelah terisi manusia. Bagus, bukan? Hanya saja, bisakah mereka memahami bahwa meski barisan rumah kami berada di lokasi paling pojok komplek ini, hanya berdempetan dua rumah dan sisanya masih tanah lapang, tentunya ada norma bertetangga yang mewajibkan manusia untuk tahu waktu berpesta.
Baiklah. Tetangga terdekatnya hanya aku, dan aku memang jarang berada di rumah. Aku bahkan tak tahu kapan keluarga baru yang suka tertawa kencang itu mulai memasukkan perabotan mereka ke rumah hantu itu.
Mencoba tak peduli dengan ingar bingar yang tercipta dari rumah sebelah, aku memasukkan motor matikku ke dalam rumah dan memutuskan untuk segera mandi dan istirahat. Sebenarnya, mataku belum terasa berat dan ingin melanjutkan warna sketsan rancangan gaun anak yang ingin kubuat saat libur nanti. Aku tak pernah libur di akhir minggu. Hari liburku adalah dua hari di hari kerja dan bergantian dengan jadwal Mona. Satu hal yang membuatku bersyukur bekerja di butik yang selalu ramai pada akhir minggu adalah, aku tak perlu repot berkunjung ke rumah orangtuaku dan membuat mereka menangisi kerumitan hidupku. Bagiku, mereka cukup tahu aku baik-baik saja dan berjalan melanjutkan hidupku setelah enam tahun lalu.
Sialan! Ini sudah tengah malam dan mereka masih bersuara lantang dengan tawa yang menggelegar. Aku pusing. Aku terbiasa dengan sepi dan hening saat bekerja atau istirahat. Hanya suara mesin jahit dan radio dari ponsel saja yang biasa menemani. Tetangga satu ini sudah di luar batas. Esok aku ingin lapor ke RT dan mengadukan kelakuan mereka yang tak tahu adat.
Saat ini, baiknya aku memperkenalkan diriku sebagai manusia yang tinggal di sebelah rumah mereka dan membutuhkan ketenangan untuk istirahat. Mereka boleh saja berteman dengan makhluk astral yang memang kebanyakan hidup pada waktu-waktu saat ini, tetapi mereka juga wajib menghargai jika manusia normal sepertiku memiliki waktu istirahat di malam hari.
Langkahku mengayun tegas dan mengetuk pagar rumah itu. Entah ada berapa orang di dalamnya. Yang jelas, mereka saling bincang dengan tawa yang menggelegar. Tak berselang lama, seorang wanita berambut panjang datang menghampiriku dengan langkah ragu. Mungkin, ia mengira aku makhluk jadi-jadian. Tubuh wanita itu bahkan enggan mendekati pagar dan hanya berdiri di teras rumahnya.
“Maaf, saya penghuni rumah sebelah. Saya hanya ingin minta tolong agar jangan berisik pada tengah malam seperti ini. Saya terganggu.” Aku terpaksa berteriak karena sebal diperlakukan seperti ini.
Kesalku semakin menjadi saat wanita itu justru kembali masuk ke dalam rumah tanpa membalas teguranku. Jangankan sapa, minta maaf pun tidak. Dasar setan kurang ajar! Sebelum emosiku makin menjadi, aku mengembuskan napas dan berbalik pulang. Aku akan mencari penyumpal kuping agar bisa terlelap atau setidaknya tidak merasa bising oleh ulah mereka.
Ketika langkahku sudah terhitung dua atau tiga untuk kembali menuju rumah, aku mendengar suara grendel pagar terbuka dan seseorang menyapa.
“Maaf. Apa Anda tetangga sebelah rumah? Saya baru datang pagi tadi dan belum sempat bertemu Anda.”
Aku mendengkus cepat dan berbalik hendak memberikan semprotan kuliah akhlak dan adab pada pria yang menegurku saat ini. Namun, semua materi tentang tata krama bertetangga seketika membeku di kepalaku karena mataku seperti melihat hantu masa lalu. Momok yang membuatku merasa terbelenggu dan takut untuk keluar menjadi diri yang baru.
“Ratih?” Suara itu jelas terdengar kaget. Apalagi aku yang berharap tak pernah lagi bertemu dengannya.
“Tolong suruh istrimu kecilkan suara musik dan minta pada anggota keluargamu untuk tidak tertawa berlebihan. Aku butuh ketenangan untuk beristirahat.” Hanya itu kalimat yang mampu kuutarakan, sebelum berlari menuju rumah dan mengunci pagar agar siapapun dari rumah sebelah tak bisa menggangguku malam ini juga seterusnya.
Ini gila. Aku berlari jauh ke ibu kota demi menghindari semua dan dia tiba-tiba ada tepat di sebelah tembok tempatku berlindung.
“Ratih!” Pria itu berdiri di depan pagar rumahku yang hanya setinggi dada orang dewasa. “Aku ingin minta maaf. Bisa kita bicara sebentar?”
Aku menggeleng tegas dari ambang pintu rumahku. “Aku maafkan jika musik itu berhenti dan suruh istrimu untuk mengakhiri apapun keributan dari rumah kalian.” Tanpa menunggu, aku membanting pintu dan menguncinya hingga dua kali putaran. Sebaiknya aku membuka ponsel dan mengakses laman pencarian rumah kontrakan di Jakarta. Aku harus segera pindah sebelum hidupku kembali runyam dan membuatku semakin gila.
******
Aku kesal dan frustrasi. Mengapa harga rumah kontrakan di sekitar butik tempatku kerja tidak ada yang manusiawi untuk kumiliki? Aku bahkan sudah terjaga hingga dini hari demi menemukan rumah baru yang bisa kusewa dengan harga yang setidaknya sama dengan harga sewa rumahku saat ini. Pagiku terasa tak semenyenangkan biasanya. Mendapati kenyataan harus bersisian dengan pria itu, membuat semangatku jadi ambruk.
“Pagi, Ratih.” Pria itu entah sejak kapan sudah berada di depan pagar rumahku. Memakai kaus kerah dengan celana jins yang membuatnya tampak kasual—dan sialnya semakin tampan.
Aku mencoba abai pada sapaannya dan tetap membuka grendel dan pagarku agar motorku bisa keluar rumah. Aku harus bekerja keras demi masa depan. Masa depan cerah dan menyenangkan yang tak ada pria itu juga masa lalu kelam kami di dalamnya.
“Mau apa kamu masuk ke dalam?” Aku berteriak tak suka saat ternyata pria itu ikut masuk ke dalam pagar rumahku. “Aku mau pergi! Pergi kamu!” Aku mengunci pintu rumahku, mengunci kaitan helmku dan menutup wajahku dengan kaca helm gelap agar pria itu gak perlu melihat wajahku pagi ini.
Ia tampak menghela napas panjang dan lirih. “Ratih kamu ke mana saja?” Suaranya lembut dan tertangkap telingaku penuh penyesalan. “Aku cari kamu dan kupikir kamu—“ matanya memindai hunian sederhana yang kukontrak lima tahun ini. “—sudah berkeluarga.”
Entahlah. Memindai wajahnya yang tengah menatapku, membuat satu sudut hatiku terasa nyeri. Ini tidak benar. Ia adalah sosok yang harus segera kuenyahkan dari pikiranku, hatiku, juga hidupku.
“Aku tinggal di rumah sebelah. Keberuntunganku yang akhirnya bisa bertemu lagi sama kamu.”
Aku bergeming. Tak menjawab apapun yang katakan saat ini. Seharusnya, alih-alih menggangguku, kenapa ia tidak membantu istrinya saja di rumah. Samar aku menghela napas lirih dari balik helmku. Istri. Segitu mudahnya ia melanjutkan hidup, sedang aku sebegini berjuangnya hanya untuk terus melangkah maju menembus waktu. Aku menaiki motorku, membawanya keluar pagar dan kembali turun untuk menutup pagar rumah.
“Keluar,” ucapku ketus dan dingin pada pria itu yang masih berdiri di balik pagar rumahku. Ia melangkah gontai keluar pagar dan menungguku mengunci pagar rumah. Aku membuka kaca helm, lalu menatapnya sesaat sebelum bicara, “Kalaupun aku sudah menikah lagi, itu bukan urusanmu. Yang perlu kamu lakukan hanya menjauh dariku dan pergi dari hidupku.” Aku menurunkan kaca helmku lagi lalu melangkah menuju motorku dan meninggalkannya.
Tanpa ia tahu, bahwa mataku basah dan kaca helmku berembun. Terpaksa aku membuka kaca itu dan membiarkan angin bebas menyaksikan betapa rasa itu masih mendera hati dan hidupku.
*
“Mona apaan, sih!” Aku bergerak gusar dengan wajah jengah pada gadis ini. Sejak tadi, bukannya mengerjakan tugas dari Bu Rahma, ia malah terus memperhatikanku dengan wajahnya yang membuatku tak nyaman.
“Rumor soal rumah sebelah Mbak yang berhantu itu benar, ya, Mbak? Aku tadi gak sengaja dengar Mbak tanya-tanya ke orang produksi tentang rumah kontrakan dan—mata Mbak sembab kaya habis nangis atau gak tidur sampai subuh. Menurutku, kita adakan pengajian saja, Mbak. Barangkali penghuni nakalnya bisa terusir.”
Aku mendengkus lirih dan cepat. “Andai pengajian bisa mengusir penghuni sebelah, aku rela adakan pengajian tujuh hari tujuh malam.” Mataku menerawang pada logo butik yang bertuliskan Rahmantika Label, tempatku melanjutkan hidup setelah pergi dari rumah itu. “Aku nyaman berada di sini, tetapi aku bimbang apa harus pergi lagi.”
“Mbak kenapa?” Mona meletakkan pena gambarnya dan beranjak dari meja kerja gadis itu. Kini, ia sudah berada di hadapanku, duduk di kursi yang biasa Bu Rahma tempati saat berdiskusi tentang rancangan busana yang kubuat.
Mona adalah salah satu perancang junior sepertiku yang bekerja membantu Bu Rahma di butik ini. Bedanya, Mona menjalani hidupnya dengan ringan dan memiliki segudang rencana untuk mempersiapkan masa depannya. Ia hanya lulusan SMA sepertiku yang memiliki sertifikat keahlian menjahit dan menggambar pola busana. Ia datang ke tempat ini dan berkembang dengan kemampuan merancang busana atas arahan Bu Rahma. Sepertiku, ia mengawali karirnya di butik ini dari nol. Dari hanya sekadar pemayet dan penjahit, lalu belajar menggambar rancangan busana sederhana hingga setelah lima tahun karirnya di sini, ia duduk di meja sebelahku sebagai asisten Bu Rahma untuk merancang busana harian.
Aku menatap Mona yang selalu memiliki wajah ceria. Seakan hidupnya selalu baik-baik saja dan memang tampak seperti itu di mataku. Sudah dua tahun ia melanjutkan pendidikan management di fakultas ekonomi dan bermimpi memiliki garmen sendiri suatu hari nanti. Aku angkat topi dan bertepuk tangan dengan cita-cita gadis ini.
“Kamu tahu kan, Mon, kalau hidupku gak seperti orang-orang kebanyakan?”
Wajah Mona yang semula tanpak ringan, kini serius menatapku.
“Aku harus mencari tempat tinggal yang baru. Entah di kota lain atau kawasan lain, pokoknya bukan lagi di rumah itu.”
“Beneran ada hantu?” tanya Mona ragu-ragu.
Aku menggeleng pelan dengan gestur seakan tak memiliki tenaga dan harapan. “Ada masa laluku yang datang dan mengancam menghantui hidupku, Mon. Aku harus segera pergi dan menjauh lagi dari pria itu.”
Mata Mona membola. Aku tahu ia jelas terperanjat dengan apa yang kukatakan. “Si—itu?”
Aku mengangguk. “Dia penghuni sebelah rumah kontrakanku. Sejak kemarin pagi, katanya. Dia—sudah punya istri dan kehidupan yang jauh lebih baik dariku. Aku gak masalah, sih, dengan apa yang dia miliki saat ini. Aku tak akan mengungkit apa yang terjadi di masa silam. Hanya saja ....”
“Mbak masih ada rasa sama dia,” tebak Mona telak.
Aku menghela napas dan beranjak dari kursi kerjaku. “Aku mau bertemu Bu Rahma dulu. Mau laporan soal rancangan busana yang tamunya pesan semalam. Setelah itu, kalau kamu luang, bisa bantu aku cari rumah kontrakan yang harganya kurang lebih sama, gak, Mon?”
“Aku bantu, Mbak. Nanti pas jam makan siang kita cari sama-sama di beberapa laman.”
Senyumku terukir tulus untuk Mona. Ia memang lebih muda dua tahun dariku tetapi sikapnya tak pernah terlihat kekanakan. Meski pembawaannya ceria dan santai, ia tak pernah menghakimi seseorang atau merendahkan orang lain.
Waktu makan siang dan istirahat kami sudah habis, tetapi belum ada satupun hasil pencarian rumah kontrak. Jakarta memang kejam untuk urusan properti. Harga yang mereka tawarkan rata-rata di atas kemampuanku membayar. Aku tidak bisa tinggal di rumah kos karena saat libur, aku akan bising dengan suara mesin jahit yang membuat busana pesta anak. Aku harus tinggal di rumah, karena butuh setidaknya dua kamar untuk menyimpan stok kain yang akan kubuat menjadi baju.
“Rumah Mbak yang sekarang itu memang yang paling murah,” ucap Mona terdengar penuh sesal. “Aku yakin pemiliknya kasih harga murah karena lokasi yang ujung komplek banget dan kanan kirinya tanah kosong.”
“Sebentar lagi juga paling dibangun unit baru,” timpalku asal.
“Gak yakin, sih,” jawab Mona dengan wajah terlihat berpikir. “Rumah Mbak tuh, lokasinya agak aneh. Satu area, hanya berdiri dua rumah dan belakangnya sudah sungai besar. Aku gak yakin pengembang komplek itu akan bangun unit tepat di pinggir sungai. Riskan banget.”
“Terus intinya, aku harus gimana, Mon?” Jujur aku tak peduli dengan apapun yang akan pengembang perumahan tempat tinggalku rencanakan pada area aneh tempat rumah kontrakanku berdiri. Yang saat ini mengganggu pikiranku hanyalah bagaimana aku bisa mendapatkan kontrakan baru dengan harga yang cukup murah seperti yang kumiliki saat ini.
Mona menghela napas panjang dan lirih seraya meletakkan gawainya di laci meja kerja gadis itu. “Jujur aku belum tahu, Mbak. Cari rumah itu seperti jodoh. Susah-susah gampang. Kalau sekarang belum ada, ya berarti harus coba lagi besok dan besoknya lagi. Sementara ini, mau tidak mau ya Mbak Ratih harus bertahan di rumah itu bersama—“
“Berat, Mona,” tolakku frustrasi. “Tinggal bertetangga dengan mantan suami yang sudah beristri itu sama dengan bunuh diri.”
“Bukan bunuh diri, sih, kalau rasa di hati Mbak memang sudah mati. Masalahnya kan—“
“Aku akan bicara dengan Bu Rahma dan meminta ijin beliau untuk tinggal di butik ini.”
“Gila,” tukas Mona dengan decakan. “Dua puluh empat jam di gedung ini? Gila.”
“Lebih baik dari pada aku harus jadi sungguhan gila karena dipaksa hidup berdampingan dengan pria gila itu.”
Aku mengambil kertas-kertas skesaku lagi dan memutus obrolan kami. Saat ini sudah pukul satu lewat dan aku harus kembali bekerja. Bagiku mengelola waktu harus bisa seefisien mungkin. Ada banyak hal yang ingin kucapai dan membuang waktu tak akan membantuku mewujudkan itu.