Hari pertama magang. Vanilla terduduk lesu di atas ranjang. Ia terbangun tepat pada pukul enam pagi. Ketika teringat bahwa mulai hari ini dan seterusnya ia akan selalu bertemu muka dan menghirup udara yang sama dengan Altan, semangat paginya lenyap. Vanilla meregangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Mencoba membuang sisa-sisa kantuk dan mengucapkan selamat berpisah sementara pada bantal dan gulingnya.
Vanilla mematikan pendingin udara. Memulai ritual paginya dengan gerakan-gerakan senam sederhana di lantai kamarnya yang luas. Mencoba membuang sisa-sisa kantuknya dengan stretching sederhana. Bundanya mengatakan bahwa orang yang malas bangun pagi, biasanya itu dikarenakan mindset sendiri. Di pikiran kita telah terbentuk opini bahwa tidur lagi itu enak sekali. Makanya kita jadi malas bangun. Coba kita paksakan membuka mata dan melakukan beberapa gerakan sederhana. Entah itu senam atau hanya sekedar naik turun tangga. Pasti kantuk akan pergi jauh seketika. Lakukan kebiasaan itu selama dua minggu penuh. Yakinlah setelah itu kita tidak akan malas lagi untuk bangun pagi.
Setelah merasa bugar dan lumayan berkeringat, Vanilla meraih handuk dan menyeka peluh. Mengangin-anginkan tubuh lembabnya sebentar sambil memilih-milih pakaian. Nah ini adalah salah satu kebiasaan buruknya. Berdiri bengong di depan lemari yang terbuka dan mengeluh bahwa ia tidak punya pakaian untuk dikenakan. Padahal tumpukan pakaiannya menggunung, bahkan ada beberapa yang belum dikeluarkan dari paper bag. Lagi-lagi masalahnya di mindset. Setelah setengah jam mengubek-ubek lemari, pilihannya jatuh pada rok pensil hitam dan atasan blouse berbahan chiffon menerawang. Ia berencana untuk membuat Altan naik darah pagi-pagi. Kalau bisa biar terkena stroke saja sekalian.
Setelah memilih seragam tempurnya dengan seksama, Vanilla menyambar handuk dan membersihkan diri. Dua puluh menit kemudian ia telah selesai mandi dan melanjutkan ritual lain lagi, yaitu make up cetar membahana. Namanya juga wanita. Cantik adalah nama tengah mereka bukan? Vanilla melengkapi penampilan seksinya dengan menyandang tas herme* croco kesayangannya. Tas itu hadiah dari bundanya saat ia merayakan ulang tahun yang kedua puluh satu, tahun lalu. Setelah mengecek penampilannya sekali lagi, Vanilla bergegas turun ke dapur untuk sarapan pagi. Sebelum berseteru dengan Altan, tentu saja ia memerlukan asupan energi maksimal. Oleh karena itulah ia berniat sarapan dua kali lebih banyak dari biasanya, agar kuat saat saling debat kusir nantinya.
Baru saja meraih handle pintu, ponsel di tasnya bergetar. Vanilla mengerutkan dahi saat melihat nama Aliya di layar ponsel. Aliya adalah sahabatnya selain Pandan Wangi. Tumben si centil ini sudah meneleponnya pagi-pagi.
"Ha--"
"Huaaaa... hiks... hiks... hiks..."
Vanilla kaget saat sapaannya dibalas dengan tangisan histeris Aliya. Ada apa sih ini sebenarnya?
"Eh kue cucur. Lo kenapa pagi-pagi udah geugerungan? Lo dipaksa kawin atau tetiba baru tau kalo lo terkena penyakit mematikan?"
"Nah, itu lo tahu! Lo udah dapet bisikan ya kalo gue mau dikawinin sama babe gue ya, La? Lo jahara amat sih kagak bilang-bilang sama gue? Huaaa...
Vanilla menjauhkan ponsel dari telinga saat Aliya menggas tangisnya pada level tertinggi. Telinganya pengeng mendengar suara tangisan histeril si centil ini. Ia sama sekali tidak menyangka kalau candaan asal bunyinya tadi ternyata benar-benar terjadi.
"Eh roti buaya, itu gue cuma asal njeplak doang. Mana gue tahu kalo lo bakalan dikawinin sama babe lo. Lo pikir gue muridnya Ki Joko Bodo. Sumpah!" Vanilla mengangkat tangannya dan membuat kode peace. Ia lupa kalau Aliya tidak bisa melihat gerakannya.
"Gue kagak mau tahu. Pokoknya lo dan si Pandan harus membantu gue membatalkan pernikahan ini minggu depan. Terserah gimana caranya. Pokoknya harus batal aja. Gue masih pengen menikmati masa muda gue, La. Kalo pun gue nikah, ya harusnya sama kakak lo dong, si Abizar. Lo kudu bantuin gue minggu depan ya, La? Janji ya, La? Inget, lo masih punya satu utang budi sama gue."
Hutang budi karena kejadian sore itu!
"Iya... iya... ntar gue rembukan sama Pandan gimana caranya nolongin lo. Si Pandan kan biasanya panjang akal. Lo tenang aja." Vanilla berusaha menenangkan hati Aliya. Selain sebagai sahabat, Aliya adalah fans sejati Abizar, kakaknya. Sementara Abizar hanya mengganggap Aliya seperti adiknya sendiri. Tidak lebih. Vanilla terkadang kasihan melihat Aliya yang sepertinya tidak bisa menerima kenyataan.
Saat melanjutkan langkah ke meja makan, keluarga intinya sudah lengkap dan duduk manis di sana. Pada pagi hari seperti inilah biasanya mereka sekeluarga saling bercengkrama dan bercerita, sebelum memulai kegiatan masing-masing. Ada satu peraturan yang dibuat oleh kedua orang tuanya tentang adab di meja makan, yaitu tidak boleh memegang ponsel. Saat mereka sarapan pagi atau makan malam, ponsel harus dijauhkan. Dengan begitu mereka jadi berkonsentrasi bercengkrama tanpa terganggu oleh suara notifikasi ponsel.
"Selamat pagi keluargaku tercinta. Vanilla Putri Mahameru siap untuk memulai hari dengan penuh bersemangat." Sapa Vanilla heboh seraya mencium pipi ayah, kakak dan bundanya. Vanilla menarik kursi di samping bundanya sambil mengecek menu sarapan pagi. Menu pagi ini adalah nasi goreng, ayam goreng bumbu, telor ceplok serta irisan tomat dan timun. Lumayan berkalori. Tapi bagus juga untuk menambah tenaga. Bertengkar itukan memerlukan kalori yang tidak sedikit? Hehehe.
"Kamu memakai pakaian setipis ini ke kantor, Dek?" Celetuk kakaknya.
Satu, dua, tiga. Vanilla mulai berhitung dalam hati.
"Ganti pakaianmu, Nak. Ayah tidak suka kalau tubuh indahmu ini kamu umbar ke mana-mana. Jangan suka mendzolimi tubuh sendiri, Nak."
Kan... kan... kan... benar saja dugaannya. Ayahnya pasti akan menimpali kata-kata kakaknya.
"Ayah, Bang Izar. Blouse Illa ini lengan panjang lho. Bukan lengan kutung yang you can see my ketiak. Masa begini aja harus diganti sih?" Perhatian Vanilla kini beralih pada sang bunda. Meminta pembelaan. Pendapat sang bunda biasanya selalu objektif.
"Nda, Ayah dan Bang Izar kayaknya tidak mengerti soal fashion kekinian deh. Coba berikan sedikit pencerahan, Nda." Vanilla memperlihatkan wajah memelas pada bundanya. Dari sudut mata Vanilla melihat bundanya telah menyilangkan sendok dan garpu di atas piring. Ini adalah pertanda kalau bundanya akan menjadi sekutunya. Sekarang dua lawan dua. Lebih fair rasanya.
"Mas, Mas tahu nggak apa yang disebut dengan yang namanya fashion dalam industri garmen? Jika pada zaman dahulu orang hanya mengenakan kain sebagai fungsi untuk menutupi aurat, kini kain itu telah dimodifikasi oleh para pebisnis fashion menjadi lebih cantik, lebih indah dan lebih sedap di pandang mata. Mereka belajar dan berusaha keras untuk mewujudkan itu semua. Ada sekolahnya lho, Mas. Namanya fashion designer. Jadi jangan membuat para pelaku industri fashion menjadi seorang pendosa dengan kata-kata kalian berdua ini," terang bundanya lagi. Lihatlah cara bundanya menjelaskan sesuatu. Selalu objektif.
"Lily berkata seperti ini, bukan berarti Lily anti dengan pakaian tertutup ya, Mas? Tidak sama sekali. Mau terbuka ataupun tertutup, itu adalah hak azasi dan pilihan tiap-tiap individu. Lily juga suka kok melihat orang tampil rapi dan tertutup. Sopan dan indah dipandang mata... karena itulah pilihan cara berpakaian mereka. Mereka nyaman dengan style yang mereka pilih sendiri." Lanjut bundanya lagi. Ayah dan kakaknya saling berpandangan. Mereka tau kalau ulasan bundanya pasti akan panjang kali lebar.
"Begitu juga dengan yang berpakaian sedikit terbuka. Itu hak mereka. Kita hidup dalam dunia yang majemuk kan, Mas? Kalau tidak berlebihan dan melanggar norma kesusilan, biar sajalah, Mas. Lily muda juga begitu kok, Mas. Lily nyaman mengenakannya. Tapi lihat penampilan Lily sekarang? Lily sudah tampil sopan kan Mas? Karena apa? Karena Lily sudah nggak nyaman lagi untuk tampil buka-bukaan dan lebih nyaman tertutup begini. Lily memilih dengan penuh kesadaran untuk merubah penampilan Lily. Bagi Lily pakaian Illa itu masih sopan. Kecuali kalau dia memakai pakaian yang lebih banyak memperlihatkan dagingnya dari pada bahan pakaiannya. Nah kalau sudah begitu, baru akan Lily jadikan kurban pada saat lebaran haji tahun berikutnya." Pungkas Lily kalem.
"Jadi kalau cuma seperti ini, masih wajarlah, Mas. Biarkan ia menikmati masa remaja dan dewasa mudanya dengan wajar namun bertanggung jawab selama itu semua masih bisa ditolerir. Jangan memasung hak orang hanya karena kacamata kita berbeda, Mas. Percayalah suatu saat Illa juga akan berubah sesuai dengan usia dan pemikirannya. Biarkanlah ia berproses dan mendewasa sesuai dengan fase-fasenya. Semakin kita mengekang mereka dengan berlebihan, mereka justru akan melawan dengan cara yang berlebihan juga, Mas. Itu sih kalau menurut pendapat Lily."
Beginilah sistem mengeluarkan pendapat dalam keluarga mereka. Masing-masing orang boleh berbicara dan menyuarakan pendapatnya. Tetapi harus ada alasannya dan juga cara yang sopan dalam mengutarakannya.
"Begitu ya, Sayang? Kalau pendapat kamu bagaimana, Zar?" Heru melayangkan pandangannya pada putra sulungnya.
"Yang dikatakan bunda itu ada benarnya, Yah. Izar juga mengapresiasi semua pelaku industri fashion yang banyak menciptakan terobosan dan inovasi-inovasi dalam bidang garmen. Izar pribadi pun suka melihat wanita yang cantik dan seksi. Manusiawikan? Namanya juga laki-laki. Disuguhi pemandangan indah dan gratis pasti tidak akan Izar lewatkan. Hanya saja, Izar tidak suka jikalau Illa yang dipandangi oleh para laki-laki di luar sana, sama seperti Izar memandang semua wanita-wanita itu. Bukan masalah benar dan salah dalam berpakaian yang Izar ingin tekankan di sini. Tapi masalahnya Illa itu adik Izar." Tukas Abizar logis. Ia memang selalu berbicara berdasarkan fakta yang ada.
"Oke. Ayah menerima pendapat dari bunda dan dari kakakmu. Mereka berdua ada benarnya. Sekarang Ayah akan mengambil jalan tengahnya saja. Kamu boleh tetap memakai blouse chiffon lengan panjang itu."
Asyik! Vanilla ingin menyanyikan lagu sorak-sorak bergembira saking senangnya. Ia menang juga akhirnya!
"TETAPI... kamu harus menambahkan blazer di luarnya. Keputusan Ayah sudah final, dan tidak bisa diganggu gugat lagi."
Elahhhh, memang belum nasib ia membuat kekacuan di kantor Altan pagi ini. Tapi tidak apa-apa. Ada 1001 satu jalan menuju Roma. Jadi pasti ada 1002 jalan lain lagi untuk membuat Altan naik darah yang berujung pada pemecatannya. Tidak masalah. Semua hanya masalah waktu. Just wait and see.
=================================
Vanilla tiba di kantor pada pukul delapan lewat lima menit. Sebenarnya tadi ia sudah mengebut dari rumah. Masalahnya macet kan memang sudah sepaket dengan yang namanya kota Jakarta. Ia sudah berusaha sedaya upaya untuk datang tepat waktu. Tetapi apa mau dikata, ia terlambat lima menit juga. Vanilla masuk ke kantor dengan mulut komat kamit berdoa, semoga saja Altan belum datang karena ikut terjebak macet.
"Anda terlambat lima menit, Vanilla Putri Mahameru. Bagaimana kelak Anda bisa menjadi orang sukses kalau kelakuan Anda saja masih seperti ini!" Hadeh, doanya tidak dijabah Allah rupanya.
"Selamat pagi, Om--Pak Boss. Saya terjebak macet. Lagi pula saya hanya terlambat sekitar lima menit. Besok-besok saya akan berusaha untuk tidak datang terlambat lagi. Saya minta maaf, Pak Boss. Dan mengenai orang sukses, tentu saja suatu saat saya ingin sekali menjadi orang yang sukses." Vanilla meminta maaf pada Altan sambil tersenyum lebar. Altan mengerutkan keningnya. Si gila ini katanya saja minta maaf. Tapi lihatlah ekspresi wajahnya. Tidak terlihat rasa penyesalan sedikitpun di sana. Kalimat dan air mukanya tidak sinkron sama sekali.
"Suatu saat kamu juga ingin menjadi orang sukses katamu? Eh bocah, dengar ya? Untuk menggapai kesuksesan itu diperlukan kerja keras. Sementara kerja keras itu amat sangat melelahkan. Coba kamu simpulkan sendiri kata-kata saya." Bentak Altan.
"Sukses itu butuh kerja keras, dan kerja keras itu melelahkan. Kesimpulan ; lebih baik tidak usah sukses. Begitu ya, Pak?" Sahut Vanilla pura-pura polos. Kesel, kesel lo sana. Satu kosong. Hehehe.
"Oke. Saya akan menganggap kalau saya tidak mendengar apa-apa. Karena saya memaklumi isi otak kamu yang memang cuma seperempatnya rata-rata isi otak manusia. Sekarang kamu temui Bu Surti di pantry. Katakan pada beliau kalau kamu adalah OG baru di sini. Minta seragam baru padanya dan letakkan tas herme* kamu di loker OG. Karena seorang OG itu tidak perlu tas mewah seharga ratusan juta. Tapi cukup dengan troley kit untuk membersihkan ruangan dan baki untuk menyajikan minuman. Oh ya, jangan lupa buatkan kopi untuk saya. Gulanya satu sendok kecil dan antar segera ke ruangan saya. Kalau rasa kopi saya aneh. Kamu ulangi sampai saya bilang kalau kopi buatan kamu sudah layak dikonsumsi manusia. Ada pertanyaan OG?" Altan menahan tawa saat melihat Vanilla megap-megap menahan emosi. Pasti gadis manja ini tidak mengira kalau ia menerimanya magang di sini sebagai seorang office girl. Satu sama sekarang!
"Apa? Bapak menerima saya magang di sini sebagai OG?" Vanilla nyaris tidak mempercayai pendengarannya sendiri.
"Saya diinterview oleh tiga petinggi perusahaan yang konon katanya mencari karyawan yang pemberani, kreatif dan inovatif hanya untuk ditempatkan pada posisi OG?" Semburnya emosi. Vanilla merasa darahnya sudah terkumpul di ubun-ubun sekarang. Berbanding terbalik dengan dirinya yang rasanya sudah ingin makan orang, si boss setan ini hanya menaikkan satu alisnya. Ekspresi wajahnya lempeng saja. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja kaca dengan ekspresi tidak sabar. Membuat Vanilla jadi kepengen mengunyahnya saja.
"Jadi kamu berharap ditempatkan di mana? Jadi admin, sekretaris atau asisten pribadi saya? Ekspektasi kamu ketinggian, La." Sahut Altan datar.
"Begini saja, supaya adil, saya akan mengetest kamu selama sebulan ini sebagai OG. Kalau prestasi kamu bagus dan semua orang yang kamu layani puas, kamu akan mendapatkan reward sebagai staff adminstrasi. Tapi kalau tidak, kamu akan tetap menjadi OG di sini selama tiga bulan penuh. Bagaimana La, berani menerima tantangan saya?" Tukas Altan dengan ekspresi mengejek.
In hale ex hale, sabar. Vanilla berusaha menenangkan kepalanya terlebih dulu sebelum menjawab. Sebenarnya ia tidak keberatan jika ia harus menjadi seorang OG atau pekerjaan yang dinilai orang rendah sekali pun, asalkan halal. Masalah cuci mencuci, bersih-bersih dan membuatkan minuman itu bukanlah hal yang baru lagi baginya. Toh di rumah ia juga sering dibabuin oleh bundanya. Menurut bundanya, segala jenis pekerjaan di dunia ini selama itu halal adalah sah-sah saja. Bundanya saja pada suatu masa pernah bekerja dua shift menjadi seorang ART. Hal itu dilakoni bundanya demi menyambung hidup anak-anak panti Kasih Bunda dan sejengkal perutnya.
Hidup ini keras dan penuh dengan tantangan, Nak. Kelak kamu harus bisa menaklukkan semua situasi dan kondisi di dalam hidupmu. Kehidupan yang happily ever after, itu cuma ada di novel dan film saja. Hanya saja ingatlah, apa pun yang terjadi jangan sampai kamu melepaskan dua tambang utama kehidupan. Yaitu harapan dan keyakinan.
Nasehat bundanya kembali terngiang-ngiang di kepalanya. Baiklah, ia akan membuktikan kalau ia tidak seperti apa yang ada dipikiran om setan ini. Ia kan all out kalau sudah memutuskan sesuatu. Kalau ia harus menjadi seorang OG, ia akan berusaha menjadi OG terbaik. Minimal sekota inilah. Masa ia kalah dengan poni anti badainya?
"Baik, Pak Altan. Saya terima jabatan maha penting ini. Saya akan menunjukkan kemampuan terbaik saya sebagai seorang OG. Puas? Saya permisi dulu. Di pantry pasti banyak pekerjaan maha penting yang memerlukan kehadiran saya." Sahut Vanilla takzim. Ia menundukkan sedikit kepalanya dan berlalu begitu saja. Ia menerapkan peribahasa berakit-rakit ke hulu berenang-berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, baru balas dendam kemudian. Hehehe.
Di pantry Vanilla menjumpai seorang wanita paruh baya yang biasa dipanggil dengan nama Bu Surti. Vanilla dengan sopan menjelaskan tentang tujuannya mencari si ibu. Sesuai dengan apa yang diinstruksikan oleh Altan, Vanilla memperkenalkan dirinya sebagai OG baru. Si ibu sempat tidak percaya bahwa ia adalah seorang OG. Menurut Bu Surti ia lebih cocok mengikuti casting sebagai bintang iklan dari pada seorang OG. Vanilla pun beralasan kalau ia tidak mengenyam pendidikan yang memadai. Makanya ia hanya bisa menjadi OG. Lihatlah betapa all out actingnya.
Setelah berganti seragam, Vanilla mendengarkan instruksi-intruksi dari Bu Surti mengenai tugas-tugas utamanya di pantry. Sejurus kemudian masuk dua orang OG perempuan dan satu orang OB laki-laki. Di bagian OG, Vanilla mempunyai dua rekan kerja perempuan yaitu Yati dan Mirna. Sedangkan OB laki-laki yang usianya sepertinya masih remaja itu dipanggil dengan Darma. Inilah rekan-rekan seperjuangannya dalam sebulan ke depan kalau ia lulus menjalankan tugas sebagai OG. Kalau Altan tidak puas akan hasil kerjanya, berarti ia akan tiga bulan lamanya terbenam di pantry ini.
"Tugas pertama lo hari ini adalah buatin kopi untuk Pak Boss, tamu Pak Boss yang baru aja dateng dan satu teh rendah kalori untuk Bu Winda gesrek," terang Yati.
"Bu Winda gesrek? Kok namanya begitu sih, Yat?" Vanilla menjungkitkan alisnya. Nama depan sih oke. Winda. Lah ujungnya gesrek. Kagak padu amat."
"Hehehe. Gesrek itu adalah gelar kesayangan dari kami semua, para OG dan OB. Soalnya Bu Winda ini setiap ngomong, kita jadi pengen nabok saking nyelekitnya. Makanya kami beri julukan khusus gesrek. Padahal ini orang cuma mahasiswa magang. Tapi belagunya, beugh ngalah-ngalahin yang punya perusahaan. Lo sabar-sabar aja ntar ngadepinnya ya, La?" Imbuh Yati lagi.
"Siap. Gue akan pakai jurus pura-pura tuli aja setiap Bu Winda komplain." Sahut Vanilla enteng.
"Cakep," Yati menunjukkan jempolnya dan berlalu dari pantry. Vanilla mulai meracik kopi untuk Altan dan tamunya. Dua sendok kopi dan satu sendok gula. Khusus untuk Bu Winda, Yati tadi berpesan agar gulanya diganti dengan gula diet rendah kalori dengan gambar jagung di kemasannya. Setelah semua beres, Vanilla mengantar kopi Altan terlebih dahulu ke ruangannya, baru ia akan mengantarkan kopi Bu Winda.
Vanilla mengetuk pintu ruangan Altan tiga kali. Saat terdengar sahutan masuk, Vanilla mendorong pintu dengan bantuan siku kanannya. Vanilla terpaku ketika pandangannya bersirobok dengan tamu Altan. Bumi Persada Prasetya. Vanilla terpesona. Ia sampai melupakan tugasnya. Ia hanya berdiri mematung. Memandangi pada sosok idolanya dengan tangan masih memegang baki. Demi apa coba pagi-pagi seperti ini ia telah diberi anugerah pemandangan makhluk Tuhan paling macho ini? Deheman Bumi yang mungkin risih karena terus ia pelototi menyadarkannya.
"Selamat pagi, Om eh Pak Bumi. Apa kabar, Pak?" Sapa Vanilla ramah. Dengan sigap ia meletakkan dua cangkir kopi di atas meja. Terbiasa memanggil Bumi dengan sebutan om, membuatnya nyaris terpeleset lidah. Tidak pas rasanya memanggil om pada Bumi saat sedang berada di kantor.
"Pagi. Baik."
Ai mak, dijawab sapaannya!
Vanilla mendadak pengen joget india seraya mengintip-ngintip di antara satu kursi dengan kursi lainnya.
Pak, bisa ngeliat ke sini sebentar nggak, Pak? Dedek lemes ini, Pak.
Bumi, ya begini ini orangnya. Bicaranya irit. Kalimat-kalimat yang keluar dari bibir seksinya itu mahal. Seperti memakai kuota setiap kata perkatanya.
"Kamu ngapain masih berdiri di sini? Tugas kamu kan masih banyak!" Salakan pertama. Vanilla mengerucutkan bibirnya. Dasar boss lucknut. Tidak bisa melihat orang senang.
"Tugas saya membuatkan minuman memang sudah selesai, Pak. Cuma--"
"Kalau begitu kamu cari kesibukan yang lain dong. Entah itu menyikat kamar mandi dengan sikat gigi, mengepel lantai dengan sapu tangan, atau apa kek. Yang penting tidak makan gaji buta. Ini malah jadi patung. Sana balik kanan!" Salakan jilid kedua. Ini manusia sebiji emang bener-bener ngeselin ya? Kagak bisa liat orang senang dikit, elah.
"Masih belum mau bergerak juga? Sana balik ke pantry lagi!" Altan menggerakkan kepalanya ke arah pintu sambil berkacak pinggang. Subhanallah ini orang akhlaknya ketinggalan di pesantren kali, ya? Galaknya natural.
"Saya ini kan OG profesional, Pak. Tugas saya adalah membuat tamu merasa nyaman hingga seolah-olah sedang berada di rumah tangga eh rumah sendiri. Ya siapa tahu Pak Bumi memerlukan bantuan saya untuk meniup-niup kopi supaya lebih cepat dingin barangkali?" Jawab Vanilla pura-pura polos.
"Kamu jangan berharap kalo Bumi akan baper karena rayuan gombal tidak bermutu kamu itu ya? Asal kamu tahu, Bumi ini sebentar lagi akan menikah. Kamu tidak mau jadi seorang pelakor kan?" Pungkas Altan dengan raut wajah mengejek.
Vanilla terpaku. Yang tadinya ia seperti melayang-layang di udara dengan baling-baling bambu dora emon, sekarang mendadak baling-baling bambunya seperti menyangkut di pohon jambu. Ia sesak napas saat menyadari bahwa sebentar lagi idolanya ini akan dimiliki oleh wanita lain.
"Be--bener begitu, Pak. Bapak udah mau nikah ya? Dengan siapa sih, Pak?" Tanya Vanilla lesu. Ia sedih dan kecewa. Niat utamanya yang ingin membuat Altan ilfeel dan akhirnya menendangnya keluar dari perusahaan ini, pupus sudah. Goalsnya akan segera digoalskan wanita lain. Apalagi saat ia melihat Bumi menganggukkan kepalanya. Pupuslah sudah harapannya. Tanpa mengatakan apapun lagi Vanilla segera berlalu dari ruangan Altan. Hatinya bergetar pilu menyenandungkan lagu gugur bunga.
Kesialannya berlanjut saat Bu Winda yang dijuluki gesrek oleh Yati ternyata adalah Winda Santosa, musuh besarnya. Untung saja pagi tadi menu sarapannya tadi adalah nasi goreng yang lumayan berat karbohidratnya. Coba kalau ia tadi hanya minum segelas susu. Pasti ia sudah KO diterjang berbagai masalah.
"Hellow, tuan putri sekelas Vanilla Putri Mahameru ternyata jadi OG di kantor gue? Dunia memang selucu ini ya, La? Lo jadi kacung gue sekarang?"
In hale, ex hale. Sabar. Inget lo tadi bilang mau pura-pura tuli kan? Yo wes. Abaikan saja dia, La.
"Lo yang biasanya pake dress Chanel sekarang make seragam OG murahan," dengus Winda jijik. "Coba liat diri lo di kaca sekarang? Udah nggak ada cantik-cantiknya lagi. Lo dan seragam OG memang bener-bener pas. Pas kayak orang susah." Berondongan ejekan Winda membuat sisa kesabarannya benar-benar habis!
"Gue udah nggak ada cantik-cantiknya lagi lo bilang? Eh garukan sampah. Gue dipandang dari Zimbabwe pake sedotan kopi sekalipun, tetap jelita mempesona luar biasa walau cuma make seragam OG doang. Kagak kayak lo, muka aja lo boek-boek, tapi mulut lo busuk kayak jamban dan hati lo item kayak pantat penggorengan. Sampah lo!" Sembur Vanilla geram. Sifat toxic Winda ini tidak berubah dari sejak mereka berseragam putih biru. Winda selalu menebarkan virus kebencian di mana-mana. Ia tidak pernah bahagia setiap melihat orang lain bahagia.
"Nih gue buatin teh rendah kalori buat lo. Semoga setelah lo minum manisnya bisa mengurangi sedikit kepahitan dalam hidup lo." Vanilla meletakkan teh di atas meja dan meninggalkan Winda dengan dada berombak-ombak. Kalau tidak ingat ini adalah kantor, sudah ia bejek-bejek itu si nenek lampir. Saking suntuknya ia sampai menelepon Pandan Wangi. Ia membutuhkan sedikit wejangan agar ia kuat melalui sisa hari ini. Bumi akan menikah, dan ia satu kantor dengan Winda. Demi apa ia coba, pagi-pagi ia mendapat dua cobaan hidup maha berat.
"Ya, La. Ada apa? Tumben-tumbenan lo nelpon gue pagi-pagi begini?"
Mendengar suara santai Pandan Wangi membuat hati Vanilla yang sebelumnya mendung, menjadi sedikit tenang. Pandan ini orangnya panjang akal. Curhat dengan Pandan itu worth it karena biasanya ia selalu punya solusi.
"Ndan, gimana caranya supaya kita terlihat kuat di depan orang lain? Apa gue harus pake cosplay wonder women dulu?"
"Nggak perlu sampai segitunya, La. Lo cukup makan biskua* aja kayak iklan di tipi. Semua bisa jadi macam. Aummm!
Sialan!