Bab 2

2020

AUTHOR POV

"Aluna, kau disini? Sudah lama?" Sebuah suara berat terdengar menyenangkan telinga.

Gadis yang dipangil Aluna hanya mendongak dan tersenyum mendapati wajah tampan yang sangat familiar di matanya. Wajah yang selama ini menemani hari-hari sepinya.

"Ngga ko, baru aja. Mungkin baru 10 menit," ucapnya sembari menggeser pinggulnya agar lawan bicaranya bisa duduk di sampingnya, "Kelasmu sudah selesai?" Tanyanya.

"Sudah, kamu sudah makan?"

"Belumm ..." seru Aluna dengan suara sedikit manja.

"Perlukah aku menafkahimu terlebih dulu agar kamu mau makan?"

Aluna tertawa sembari memukul pelan bahu yang selama ini menjadi tempat gadis itu bersandar dari segala masalah. Yang dipukul hanya merentangkan kedua tangannya. Tanda tak paham apa yang salah dengan ucapannya, "Sepertinya itu ide bagus," jawab Aluna

suaranya dibuat semakin manja, "Kapan kau akan melakukannya?" Tantang gadis itu.

"Bagaimana jika sekarang?" Jawab si pria menerima tantangan gadis di depannya itu.

"Mark! Jangan bercanda!"

"Kau yang menantangku, sayang," Seru Mark sambil menjawil dagu Aluna.

Gadis itu tersenyum dengan responnya. Kali ini ia menghadapkan tubuh kearah lawan bicaranya, mendekatkan wajah kearah wajah Mark sembari mengelus lembut pipi kirinya.

"Aku menunggu kamu mengajakku makan bersama menikmati masakanmu yang super lezat itu," ujar Aluna.

Wajah yang dielus itu tersenyum cerah, "Yukk,"

Kurang dari setengah jam mereka sudah sampai di tempat yang mereka tuju. Sebuah rumah mungil namun sungguh nyaman. Di pekarangannya terdapat beberapa bunga anggrek, Aluna yang menanamnya. Ya, gadis itu sangat menyukai bunga anggrek. Di rumahnya sendiri juga ada bunga anggrek dan ada dua yang paling ia sayangi.

Sejurus mereka berdua sudah masuk dan menuju dapur, cepat-cepat Aluna membuka kulkas mencari tahu masakan apa yang bisa dibuat dengan bahan yang tersedia disana.

"Ada apa saja sayang?"

"Mmhh, ada dada ayam fillet, daun basil, tomat cherry, bawang Bombay, jamur kancing... sudah itu saja," tangan Aluna mengais masih berusaha mencari bahan yang ada, "Apa yang bisa kita masak dengan bahan yang sedikit itu?"

"Aku belum sempat ke supermarket karena sibuk dengan seminar proposal," ujar Mark sembari mendekat ke lemari pendingin dan mengulurkan tangan untuk memilah bahan apa saja yang bisa diolah. Sejenak dahi Mark nampak sedikit berkerut, sesaat kemudian dia tersenyum penuh arti, "Sayang, kau mau pasta?"

"Mark, kau bercanda? Tentu saja aku adalah penggemarnya!" Seru gadis berambut panjang itu.

Garis senyum Mark semakin melebar mendengar pekikan kekasihnya itu, "Kalau begitu tunggu dan duduklah dengan manis.

Sebagai kekasih yang manis tentu saja Aluna menuruti perintah Mark. Aluna bisa melihat bagaimana jemari Mark begitu telaten mengiris bawang bombay dan jamur kancing. Ia percaya pada kemampuan memasak Mark yang tidak pernah mengecewakan lidah dan perutnya.

Bahwa bukan hanya hatinya yang mampu membuat gadis itu nyaman, urusan perutpun akan aman jika ada Mark disampingnya.

Mark adalah pria yang Aluna pacari sejak dua tahun terakhir. Pada awalnya ia hanya mencoba untuk menjalin hubungan karena tidak tahan dengan desakan Krystal yang terus berusaha menjodohkanku dengan teman-teman prianya.

Aluna tahu, sebagai sahabat Krystal hanya ingin membantunya. Dari sekian banyak teman pria yang Krystal kenalkan, pilihannya jatuh pada Mark. Untuk pertama kalinya Aluna bersedia membuka hatinya setelah sekian lama tertutup karena dia.

Tak lama Mark mulai menumis bawang Bombay. Aroma wangi menguar memenuhi ruangan dapur – membuat Aluna tak tahan dan beranjak dari tempat duduknya, melingkarkan tangan di pinggang kokoh milik Mark dan meletakkan dagunya di bahu kekar kekasihnya.

"Aromanya enak, apa yang kau buat?"

"Vegan Pasta, kau pasti akan menyukainya," ujar Mark.

Aluna hanya tersenyum sembari lebih mengeratkan lagi pelukannya tanda ia percaya sepenuhnya pada hasil masakan Mark.

"Adakah yang bisa kulakukan? Apa saja ..."

"Kau bisa memotong tomat cherry untukku?"

"Tentu saja," sesaat Aluna selesai memotong tomat cherrynya, "Apalagi?"

"Sudah, cukup. Kau tunggu saja di meja makan. Atau kau mau membantuku menyiapkan piring dan gelas?"

"Itu keahlianku." Segera Aluna beranjak menuju meja makan dan mulai mengambil piring dan cangkir untuk ditata diatas meja. Ia juga membuat minuman special, kesukaan mereka berdua, hot dark chocolate.

Sebenarnya dulu Mark kurang suka dengan dark chocolate. Namun semenjak mereka berpacaran, keduanya mulai membiasakan diri untuk saling mengenal dan mencoba untuk menerima kesukaan masing-masing.

Hasilnya Aluna yang dulu sama sekali tidak suka makanan pedas, semenjak berpacaran dengan Mark, mulai bisa memakan masakan yang pedas, meski tidak begitu menyukainya.

Begitu pula dengan Mark yang bisa menerima masakan Korea sebagai salah satu masakan yang kekasihnya sukai, meski masakan Korea didominasi rasa asam, setidaknya dalam masakan tersebut ada rasa pedas yang sangat digilai Mark. Apalagi masakan Korea yang berkuah, mengingat Mark sangat menyukai sup.

Selesai dengan pekerjaan ringannya, Aluna mencari-cari buah yang biasanya selalu ada di lemari pendingin. Sesuai dugaannya buah kesukaannya – stroberi selalu tersedia disana. Kali ini tidak sendiri ada anggur merah dan shine muscat juga yang terlihat sangat segar.

Ia mulai memotong buah-buahan tersebut sembari sesekali mencomot stroberi yang kali ini terasa sangat manis, dengan siraman yoghurt plain dan sedikit es krim stroberi sebagai topping untuk pencuci mulut nantinya Aluna menyelesaikan kegiatannya.

Selesai!

Gadis itu memang ahli dalam menata segala sesuatu, kecuali perasaannya.

"Bisakah kau memberikan aku dua buah piring besar, Sayang?"

"Besar?? Apa kita akan makan porsi besar?"

Mark hanya tertawa mendengar pertanyaaan kekasihnya. Gadis itu memberikan dua buah piring besar dan membiarkan Mark yang menyiapkannya. Sekali lagi Aluna percaya pada hasil masakan Mark.

Tak lama, sendok mulai beradu dengan piring mereka, suara dentingan garpu tak kalah dari suara berisik dari mulut Aluna setiap kali ia menyuap Vegan Pasta buatan Mark.

"Ini sangat enak, sungguh."

"Bagaimana dengan pastanya?"

"al dente......" mulut gadis manis itu penuh saat berucap, "Bagaimana kau membuatnya?"

Mark yang akan menyuap pasta seketika berhenti menatapku. "Kau tak tau bagaimana cara membuat pasta agar al dente? Kupikir kau penggila pasta."

Aluna tak menjawab hanya tersenyum karena mulutnya sendiri penuh dengan pasta.

"Bukan itu, cara membuat pasta agar al dente aku sangat paham bagaimana caranya, hanya saja rasa pasta ini gurih dan sangat lezat, bumbu apa yang kaugunakan?"

"Hanya bawang bombay, bawang putih, bawang merah gula dan garam. Kau kan tau masakan akan lezat jika ada bawang bombay didalamnya."

"Ketika kau merebus pasta, apa yang kau tambahkan?"

"Tidak ada."

"Kau tidak mau membagi rahasianya, Sayang?"

Mark lagi-lagi tertawa, "Baiklah baiklah... sebenarnya tidak ada yang rahasia, aku hanya mengganti minyak dan garam dengan mentega sewaktu merebus pastanya."

Mata bulat Aluna mengerjap, tanda paham apa yang membuat pasta ini menjadi enak.

"Dan satu lagi..." Mark menggantung kalimatnya.

"Apa???" Aluna membungkukkan badan kearahnya. Menatap dengan rasa ingin tau.

Tangan Mark terulur menggenggam tangan Aluna, "Aku membuatnya dengan cinta .."

Sesaat Aluna tertegun dengan kalimatnya.

"Aku mencintaimu, Aluna,"

Aluna tersenyum mendengarnya. Ia mengetahuinya. Begitupun dia.

Bab 3

Pernahkah kamu kehilangan? Pernah! Aku telah kehilangan, bahkan sebelum aku sempat memilikinya. Kau salah. Aku salah? Maksudmu? Bukan karena dia pergi sebelum kau miliki, kau rasa kehilangan, tapi karena kau merasa memiliki, memiliki memori dan kenangan yang tak pernah terulang lagi.

Aluna POV

Handphone ku berdering keras bebarengan dengan keluarnya aku dari kamar mandi.

Klik! "Hallo?"

"Apa hari ini kau mau diantar?"

"Tidak perlu Sayang, Krystal akan memberiku tumpangan."

"Baiklah, aku akan menjemputmu untuk makan siang."

"Ngg .. aku berencana untuk makan di kantin kampus bersama Krystal karena hari ini jadwal kuliahku cukup padat."

Yang diseberang telpon terdengar mendesah, kecewa.

"Tapi besok kan libur, kupikir kita bisa menghabiskan waktu bersama."

Cepat-cepat aku menambahkan untuk meredakan kekecewaan Mark.

"Tentu saja, besok kamu adalah milikku sepenuhnya." Jawab Mark antusias.

Setelah sedikit percakapan kecil, aku menutup telpon dan mulai bersiap-siap sembari menunggu Krystal.

Kulepas roll-ku dan mulai menyemprotkan cukup banyak perfume karena aku akan seharian di kampus. Entahlah, aku sangat menyukai aroma parfumku ini dan setiap kali aku bisa menghirup aromanya sendiri dari tubuhku, seketika aku merasa aku adalah wanita yang cantik.

Aku tidak pandai merias wajah dan aku juga tidak berniat untuk mengerahkan usaha yang ekstra agar tampak cantik. Jadi aku cukup menggunakan cushion, bedak, mascara dan lip gloss. Aku suka riasan yang sederhana.

'Kau cantik Luna dan akan lebih cantik jika kau tersenyum, jadi jika kau bertemu denganku, kau harus selalu tersenyum.'

Deg! Kugelengkan kepala mencoba untuk menghalau pikiranku. Tidak! Itu semua sudah berlalu.

Suara klakson mobil Krystal menyadarkanku, segera kusambar tas dan laptopku untuk turun menemui Krystal

"Apa kau melamun?"

"Tidak!"

"Kau tidak pandai berbohong, Luna."

Aku tertegun dengan ucapan Krystal. Ya! Aku memang tidak pandai berbohong.

"Ngomong-ngomong, apa kau sudah tau?" Krystal merubah arah pembicaraan.

"Tentang?"

"Ahh sepertinya kau belum tau, kurasa lebih baik jika kau mengetahuinya sendiri."

Aku menatap Krystal dengan heran, tapi aku tak berminat untuk mengorek lebih dalam apa yang dia maksudkan. Toh dia bilang bahwa aku akan mengetahuinya. Tapi apa?

Setengah jam kemudian mobil Krystal sudah mencapai parkiran kampus.

Dan di samping mobil Krystal sudah ada mobil yang terparkir rapi, seakan memang menunggu kedatangan kami. Benar saja si empunya keluar dan bersandar pada pintu mobil sembari melipat tangan. Lengkap dengan senyum yang tertuju pada pintu mobil Krystal.

Krystal segera keluar, berbeda dengan aku yang masih berkutat dengan beberapa paper yang sedang kukeluarkan dari tasku. Hari ini ada tugas yang perlu kukumpulkan pada Mr. Andrew.

Sedang asik memilah, aku bisa mendengar suara seksi yang dengan lembut memanggil nama Krystal.

"Kau sudah lama menunggu?" Terdengar suara manja milik Krystal yang sepertinya memang sengaja dibuat lebih pelan.

Aku menggeleng atas tingkah laku Krystal. Seperti yang kubilang, Krystal adalah sahabatku yang paling cantik, sangat cantik. Sayangnya terkadang ekspresi Krystal kelewat dingin, namun kupikir disitulah pesonanya. Dan satu-satunya makhluk yang bisa meruntuhkan tatapan dingin Krystal adalah Nathan. Kekasihnya.

"Tak ada kata lama ketika menunggumu." Aku hampir membenturkan kepala ke dasbor.

Dari dalam kaca mobil aku bisa melihat sikap tersipu Krystal. Astaga! Kemana perginya raut dingin ratu es ku? Namun, atensiku teralihkan dengan sosok yang ada didalam mobil Kai. Postur itu .... Aku seperti mengenalnya .....

"Yaaa Aluna Sunartio, kau tak mau keluar?" Suara Krystal sudah kembali normal jika ia

berbicara denganku. Benar-benar ....

Baru aku akan membuka pintu, suara Nathan terdengar

"Apa dia sudah tau?"

Apa yang sudah kutau?

"Tau tentang apa?" Aku membuka pintu dengan nada tidak sabar untuk bertanya.

Nathan dan Krystal bebarengan menatapku, dan selanjutnya Krystal menatap Nathan seolah meminta persetujuan namun Nathan hanya mengatakan, "Biarkan Aluna mengetahui sendiri, ayo pergi .. aku sudah membawa pancake untuk kita nikmati, Aluna kami duluan."

Sebelum sempat aku menjawab, dua sejoli itu sudah melangkah dan dengan jelas kulihat kali ini Krystal juga memang berniat untuk membiarkan aku sendiri. Ini tak biasanya! Nathan adalah orang yang hangat dan lembut, mungkin itu yang membuat Krystal luluh. Bukan perangai Nathan untuk mengabaikanku. Aku adalah sahabat Krystal dan karena Nathan adalah kekasihnya itu berarti Nathan juga adalah sahabatku. Satu-satunya alasan mengapa Nathan ingin segera beranjak adalah pasti ada sesuatu yang harus kuhadapi sendiri.

Baru saja kuputar badanku dan ingin beranjak, sebuah suara menahanku.

"Luna ..."

Hanya satu kata! Namun itu cukup untuk membuatku membeku. Mataku membulat dan badanku gemetar hebat. Aku jelas hapal dengan suara bariton itu. Suara itu berat, sama beratnya dengan langkahku yang memilih diam ditempat.

"Aluna...."

Sekali lagi suara itu memanggilku, aku tak yakin kakiku masih cukup kuat untuk menopang tubuhku. Samar ku dengar suara langkah mendekatiku.

Tidak! Tolong! Kumohon jangan mendekat! Jari-jariku meremas papper yang akan kukumpulkan, aku sudah tak peduli dengan bentuknya, entah apa yang akan dikatakan Mr. Andrew nantinya.

"Luna...." kali ini aku sudah tak kuat. Aku tak peduli dan mulai beranjak pergi, namun kurasakan tangan kekar mengamit lenganku berusaha mencegah langkahku

"Kau mau kemana?"

Aku membeku! Jangankan menjawab, untuk melihat kearahnya saja aku tak sanggup. Namun kucoba menguatkan hatiku. Perlahan, kuarahkan mata lamat-lamat untuk menatap tangan yang terulur menahan lenganku, tangan itu ... tangan yang sama yang dulu terulur untuk mengajakku berdansa dibawah hujan, naik keatas aku melihat lengan itu, lengan yang sama ketika kupaksa untuk ikut melangkah kemanapun kusuka. Beralih ke leher kokoh dimana aku sering melingkarkan lengan saat aku ingin bermanja dan menggodanya, sedikit ke atas kearah bibir tipis yang tidak pernah bisa mengatakan tidak padaku. Hidung tinggi yang seringkali dia gesekkan kehidung mungilku, satu kebiasaan jika aku mulai mengeluh apabila ia tak menuruti inginku. Dan ... lebih naik lagi, aku sampai pada mata itu. Mata tajam dengan bola hitam. Warna mata itu gelap, tapi seolah mampu menerangi seluruh hidupku, sehingga saat mata itu tak mampu kutemui lagi, seluruh jalan hidupku seolah yang kehilangan Cahaya kehidupan.

Aku menghela napas dengan perlahan. Kini aku sepenuhnya menatap wajah itu.

"Aluna ... ap-apakabar?" Kudengar kalimat itu susah payah ia keluarkan.

Ingin rasanya aku tertawa, apakabar? Apa maksudnya menanyakan 'apakabar'? Sungguh dia ingin tau kabarku? Kurasa bahkan dia tak pantas untuk menanyakan hal itu.

Pelan kutarik lenganku dan sedikit menjauh darinya. Kupaksakan senyum yang hamper-hampir hilang setelah kepergiannya.

"Baik." Singkat namun padat! Penuh dengan tekanan dan arti yang bahkan aku tak mampu untuk menjabarkannya.

Sejenak keheningan ada diantara kami. Aku jengah dan mulai melangkah, namun tangan itu kembali menahanku.

"Kau mau kemana?"

"Kelas."

"Bisakah kita bicara?"

"Apa ada yang perlu dibicarakan?" Balasku cepat.

Sejenak lawan bicaraku terpaku dan seakan tidak tau harus merespon apa.

"Kurasa tak ada." Aku yang menjawab sendiri pertanyaanku sebelum meminta dengan tidak sabar, "Jadi bisakah kau melepas tanganku?"

Bisa kurasakan tangan itu enggan melepasku. Ohh! Bahkan dia lupa kalau tangan itu pernah dengan mudah melepasku sebelumnya. Apa bedanya dengan sekarang?

Pelan, pegangan itu mulai melemah. Kesabaranku habis! Ku tarik kasar tanganku sendiri.

"Terimakasih, Albert!" Kukebaskan langkahku dan pergi meninggalkannya

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED