Terlihat seorang pria sedang terduduk di sudut belakang bangku kelas, sedang mendengarkan pelajaran yang di terangkan oleh gurunya yang tengah berdiri di hadapan para murid.
"Oke, sekarang tuliskan tujuan universitas yang ingin kalian daftar setelah lulus nanti, di kertas selembar. Dan semuanya wajib menulis!" tegas guru itu.
Semua murid disana pun lalu menuruti apa yang di perintahkan gurunya itu, dan mengumpulkannya di atas meja gurunya.
Guru itu pun membaca satu per satu kertas selembar yang di kumpulkan semua muridnya, namun tiba-tiba tatapan nya terhenti pada kertas selembar yang tertulis nama Rio Rosswel, seharusnya kertas itu di isi dengan tujuan Universitas, ia malah menuliskan,
"SETELAH LULUS NANTI, AKU INGIN MEMBASMI SEMUA PARA EATERS."
Setelah membaca itu gurunya pun lalu memanggil orang yang menulis ini yang tak lain bernama Rio Rosswel.
"Rio!" tegas guru itu
Tiba-tiba murid yang duduk di sudut belakang tadi berdiri.
"Iya bu?"
"Ibu bilang tuliskan tujuan universitas bukan menulis, apalah ini, ingin membunuh para Eaters?" ujar guru itu dengan dahi yang dikernyitkannya menatap kertas yang ia pegang.
Seketika yang awalnya hening tiba-tiba terdengar tawa para murid di kelas itu serta tidak sedikit murid yang mencemooh Rio.
"Diam!" teriak guru dengan tangan yang memukul meja,
"Kalian sangat ribut sehingga bel sekolah hampir tidak terdengar, sekarang saya sudahi pelajaran hari ini, dan kalian pulanglah."
...****************...
Rio Rosswel adalah seorang pria remaja berumur 17 tahun dengan rambut hitam lurus, yang panjangnya sampai menutupi alisnya, ditambah kedua bola mata hitamnya yang terkesan cuek, memiliki perawakan tegap yang tingginya sampai 172cm,sehingga tak heran banyak sekali wanita seumurannya yang jatuh cinta kepadanya.
Rio terlahir dari Ibu yang bernama Eva Rosswel dan tidak pernah tahu siapa Ayahnya, karena pada saat ia kecil ibunya mengatakan bahwa Ayahnya sudah meninggal sebelum Rio dilahirkan. Kebutuhan sehari-harinya ditanggung semuanya oleh bibinya yang sedang berada di luar negeri. Ia tinggal di sebuah apartemen kecil yang berada jauh di pinggiran kota Antares, sehingga jika ia ingin pergi ke pusat kota ia harus melewati jalanan sepi.
Seperti yang kita tahu, Ibunya meninggal tepat pada saat ulang tahun Rio yang baru menginjak 7 tahun, saat itu, Ibunya menjadi santapan kedua Eaters yang datang ke rumahnya secara mendadak.
Oleh karena itu Rio teramat sangat membenci makhluk yang bernama Eater, sehingga ia berjanji kepada dirinya sendiri selama seumur hidupnya ia akan membasmi para Eaters.
...****************...
Malam pun tiba, waktu menunjukan pukul : 10:30.
Rio menutup kedua matanya dengan niat ingin tertidur, namun beberapa menit kemudian ia tak kunjung tidur, karena ia agak sedikit ketakutan, ia takut mimpinya akan kejadian 10 tahun yang lalu, pada saat ibunya meninggal, yang membekas terus di pikirannya. Ia pun memutuskan ingin mencari udara segar dan ingin meminum sedikit coklat panas di cafe yang berada di pusat kota.
Ia berjalan keluar apartemen miliknya, dan menuju motor yang sedang ter parkir, di lanjutkan pergi meninggalkan apartemen itu.
Singkat cerita Rio pun sampai di tempat cafe lalu duduk di meja yang menghadap ke arah luar jendela.
Walaupun sudah malam hari, suasana di luar cafe itu banyak sekali orang yang melakukan aktivitasnya, sehingga jalan disana terlihat agak sedikit macet.
Saat asik memperhatikan jalanan sembari menikmati coklat hangat, tiba-tiba terdengar suara pembawa acara berita, dari televisi yang sedang tergantung, mengatakan,
"Saya peringatkan kepada masyarakat untuk berhati-hati di tempat sepi, karena kebanyakan kasus Eater, mereka memakan orang-orang pada saat mereka sendirian, jadi janganlah berpergian ke tempat yang sepi." ujar pembawa acara tv itu.
Rio pun menghiraukannya, karena ia sudah bosan banyak sekali orang yang mengatakan peringatan itu.
Tepat sesaat setelah itu, tiba-tiba seorang pria dengan nada yang berat mengatakan sesuatu kepadanya,
"Sudah berapa banyak yang sudah kau bunuh?" tanya pria misterius itu.
Mendengar itu, Rio hanya mengernyitkan dahinya lalu mendelikan matanya ke arah samping dan mengatakan,
"Hah?, apa yang kau maksud?" balik tanya Rio.
"Bukannya tujuanmu selama ini ingin membasmi para Eater?" jawab pria itu, sembari berjalan menghampiri Rio sampai tepat berdiri di sampingnya.
Rio pun menoleh ke arahnya, terlihat seorang pria berkisar 60 tahunan dengan rambut putih sebahu dan kumis serta janggut yang sedikit panjang, dengan perawakan yang tegap ia memakai jubah berbulu hitam yang panjangnya sampai menjuntai ke lantai. Terlihat disela-sela jubahnya tersisip sebuah pedang dengan gagangnya yang terpahat rapih berbentuk bunga mawar berwarna gelap, yang kokoh mendekap di pinggulnya. Rio pun bertanya,
"Siapa kamu?"
"Bukan siapa-siapa, aku hanya pria tua biasa yang sedang mencari cucuknya."
"Terus dimana cucuk kakek?" tanya Rio
"Pertanyaan bodoh, kalau aku tahu ia dimana, aku tidak mungkin mencarinya lagi." tegas kakek itu."
"Kalau begitu kuganti pertanyaanku, mengapa kau peduli berapa banyak Eaters yang sudah kubunuh?"
"Karena pada saat kamu melihat pembawa acara televisi itu kulihat wajahmu sangat tenang, dan tidak peduli," "jadi kusimpulkan kamu tidak takut akan keberadaan Eaters." jawab pria tua itu
"Benar sekali, aku tidak takut kepada makhluk menjijikan seperti mereka." tegas Rio.
Dengan sedikit tawa pria tua itu lalu mengatakan,
"Bicara begitu sangat mudah bagi orang yang belum pernah bertemu dengan mereka langsung."
"Aku pernah bertemu mereka langsung!" jawab Rio dengan nada yang ditinggikan
"Oh yah?" kata pria tua dengan dahi yang dinaikan
"Aku berani bersumpah kepada tuh...," sebelum Rio menyelesaikan kalimatnya pria itu berkata,
"iya,iya, aku percaya, lalu pada saat setelah kamu melihat mereka, apa yang kamu lakukan? apakah kamu membunuhnya? atau malah lari ketakutan?" pria tua dengan menampakan mata yang tajam kepada Rio.
Mendengar itu membuat Rio menunduk tidak bisa berkata apa-apa karena ia tahu pada saat terakhir bertemu Eaters ia tidak bisa melakukan apapun selain gemetar ketakutan walaupun terdengar jelas jeritan kesakitan keluar dari mulut Ibunya.
Saat itu juga Rio meninggalkan pria tua itu dan keluar dari cafe, Ia pun berjalan menghampiri motor nya lalu memutuskan pulang ke apartemennya.
Setelah setengah perjalanan menuju apartemennya, ia membelokan motornya menuju warung kecil yang berada di pinggir jalan.
Terlihat suasana disana tidak ada seorang pun yang melewati jalan itu, ya, karena orang-orang tidak berani keluar rumah apalagi pergi pada malam hari menuju pusat kota.
Di kota Antares tempat yang paling aman dari para Eaters adalah di pusat kota, karena kota ini tidak pernah sepi pengunjung tiap harinya, yang membuat pusat kota tidak pernah sepi.
Warung itu berada tepat di pinggir jalan yang menuju pusat kota dari arah pinggiran kota.
Sepanjang jalan itu pemandangan kanan kirinya terdapat banyak sekali pohon-pohon besar yang menambah seramnya jalan itu. Memang daerah itu tidak ada seorang pun yang berani membangun rumahnya disana, ya, karena sepi.
Rio pun memarkirkan motornya dan berjalan menuju warung kecil itu, karena ia lupa di pusat kota tadi ia tidak membeli cemilan.
"Pak beli ini 3." ucap Rio sembari mengambil cemilan yang berada di depannya.
"Oiya silahkan dek." jawab pemilik toko itu
"Malam-malam gini kok sendirian aja dek?" lanjut ucap pemilik toko itu.
"Iya nih, habis dari cafe di pusat kota."
"Ga takut sama Eaters?"
"Nggak, bapak aja jualan sendiri disini tidak apa-apakan, lagian saya pake motor, jadi kalo mereka muncul, mana mungkin bisa mengejarnya."
"Hehehe, Bener juga."
"Tapi adek pernah bertemu langsung sama Eater belum?"
"Pernah, itu pun sudah bertahun-tahun yang lalu"
"Oh yah, tenang saja hari ini kamu akan melihatnya lagi" ujar penjaga warung itu dengan sedikit senyum yang lama-lama senyumnya melebar hingga ia tertawa.
Rio pun menatap penjaga warung itu dengan ekspresi keheranan, namun dengan sekejap tiba-tiba Rio membulatkan matanya, ia kaget dengan apa yang dilihatnya.
Dengan satu kedipan, mata penjaga warung itu tiba-tiba berubah warna menjadi merah terang, sambil terus tersenyum dengan dengan taring gigi yang sedikit demi sedikit memanjang.
Melihat itu lantas membuat Rio dengan cepat berlari menuju motornya.
Namun setelah beberapa langkah, ia menyadari ada dua orang pria dengan mata merah menyala sedang menyeringai tepat di sebelah motornya.
Rio berlari sekuat tenaga menjauhi mereka, dalam hatinya ia mengatakan,
"Eaters sialan, jika hanya ada satu, aku mungkin bisa membunuhnya, tapi sial nya dia memanggil kedua temannya, saat ini aku hanya bisa berlari, jangan sampai aku mati di tempat seperti ini."
Sembari menyeringai, tiba-tiba penjaga warung tadi menepukan kedua telapak tangannya sebagai isyarat, menyuruh kedua Eaters itu untuk mengejar Rio.
Kedua Eaters itu berlari dengan kecepatan yang melebihi Rio, sehingga semakin lama berlari semakin dekat mereka mendekati Rio.
Salah satu Eaters itu melompat dengan sangat tinggi menuju punggungnya Rio, lalu menarik tudung jaket yang sedang di kenakan Rio.
Rio dengan refleks membuka jaketnya, sehingga bisa terlepas dari tarikannya, yang sontak membuat Eaters itu pun terjatuh.
"Sialan." Dengan ekspresi yang terlihat kesal, Eaters itu kembali berdiri dan langsung melempar jaket yang di tariknya tadi, lalu mengejar Rio kembali.
Rio pun menoleh ke belakangnnya namun sesaat setelah pandangannya lurus ke depan,
"Brak." pukulan telak mengenai lehernya Rio oleh salah satu Eaters lain.
Itu pun sontak membuat bagian belakang kepalanya Rio membentur aspal dengan sangat keras, sehingga merasakan teramat-amat pusing, yang membuat penglihatannya sangat buram.
Eaters yang memukulnya tadi pun mendekati Rio lalu menjambak rambutnya dengan keras,
"Mau lari kemana hah?" sembari terus membenturkan kepala Rio ke aspal berulang kali.
Rio pun hanya pasrah, karena sudah tidak mungkin lagi dia berdiri.
"Inikah waktu kematianku? betapa menyedihkannya diriku, bisa-bisanya aku terbunuh oleh makhluk menjijikan seperti mereka."
"Pengecut seperti diriku hanya bisa membual, ingin membunuh semua Eaters?,hah, kenyataannya ketika aku berhadapan langsung dengan mereka, aku malah lari ketakutan seperti orang bodoh."
"Maafkan aku bu, aku ga bisa membalaskan dendammu." ujar Rio dalam hati.
Tak lama kemudian, sembari mencemooh, salah satu Eaters menodongkan kuku tangannya yang tajam menuju lehernya Rio.
Melihat itu, Rio pun hanya pasrah dengan mata yang hampir tertutup.
Tiba-tiba Eaters itu mengangkat tangannya, lalu dengan cepat mengarahkan kukunya menuju leher Rio,
"SRRRTT." terdengar suara tebasan dengan cipratan darah yang begitu banyak menghiasi wajah Rio.
Ternyata darah itu bukan milik Rio melainkan seorang Eaters yang hendak menebas lehernya tadi.
Namun aksinya itu gagal, karena tiba-tiba seseorang terlebih dahulu menebas tangannya sesaat sebelum menebas lehernya Rio.
Dengan samar ia melihat potongan tangan melayang di depan matanya serta seseorang dengan rambut pirang sedang bertarung menggunakan pedangnya melawan kedua Eaters.
Dengan perlahan sedikit demi sedikit mata Rio tertutup dan kesadarannya pun mulai hilang.
..........................
"Akhirnya sadar juga." ucap seorang pria berambut pirang.
Rio terbaring di sebuah ruangan, yang pencahayaannya sangat minim.
"Dimana aku?, kenapa disini sangat gelap?" tanya Rio.
"Setelah tubuhmu pulih, aku akan memperkenalkan mu kepada kakek Henry, sekarang istirahatlah " ujar pria berambut pirang yang pada saat itu sedang menulis sesuatu.
"Tidak, tubuhku sudah baik-baik saja, sekarang jawab! dimana aku, dan siapa kamu?" ucap Rio sembari beranjak dari kasur.
Pria pirang itu menatapnya,
"Baiklah, ikut denganku." sembari menutup buku.
Mereka berdua pun berjalan keluar ruangan itu lalu menuruni tangga, terlihat bawah ada satu pria tua sedang terduduk menghadap tungku perapian dan seorang wanita muda sedang mengelap-elap pedang,
"Ini dia seorang yang kuselamat kan tadi." ujar berambut pirang sembari menuruni tangga.
"Kau seenaknya saja, membawa orang tidak dikenal masuk ke rumah ini." tegas wanita itu dengan tatapan sinis.
"Tenang saja, ia bukanlah Eaters ia hanya manusia biasa, apa salahnya membantu dan merawat lukanya untuk sementara." jawab pria pirang itu.
"Siapa namamu nak?" tiba-tiba tanya seorang kakek yang terus menatap perapian.
"Namaku Rio Rosswell, dan ternyata kalian lah yang menyelamatkanku dari Eaters, aku harus berterima kasih kepada kalian." dengan kepala yang menunduk.
Rio melihat ke arah luar jendela, hanya pohon-pohon yang mengelilingi rumah itu dan tidak melihat satu pun bangunan apapun di dekat rumah ini,
"Siapa kalian? dan kenapa tinggal disini?."
Dengan nada yang berat kakek itu menjawab,
"Kami adalah keluarga, kami tinggal disini untuk menjauhkan diri kami dari bahaya."
"Bukankah tinggal di tempat terpencil seperti ini berbahaya?, bagaimana jika sekelompok Eaters datang menghampiri kalian?" ucap Rio.
"Kau tidak tahu kebenaran apa yang terjadi di kota Antares ini, tidak ada tempat yang aman selain disini, semakin kamu menjauh dari masyarakat semakin kamu aman." jawab kakek Henry.
"Bukankah jika tinggal di tempat ramai Eaters tidak akan muncul?, kalaupun muncul kita bisa memanggil polisi."
Dengan tatapan yang sinis wanita itu berkata,
"Kau ini bodoh sekali, bagaimana kau tahu jika polisi yang kau panggil bukanlah Eaters?"
"Maksudmu, bisa saja Polisi yang kita panggil itu merupakan seorang Eaters?" tanya Rio
"Sudah kubilang kau itu tidak tahu apa-apa yang sebenarnya terjadi di kota Antares ini, Semua orang yang kita jumpai belum tentu mereka manusia biasa, siapapun itu. dan iya benar sekali polisi bisa saja seorang Eaters" kakek Henry menjawab,
"Kita tidak bisa meminta bantuan siapa pun selain diri kita yang mampu bertahan hidup."
"Bukankah pemerintah mengupayakan tentang teror Eaters ini?" Rio bertanya kembali.
Dengan ekspresi serius kakek itu menatap Rio lalu berkata,
"Bagaimana kau tahu bahwa para petinggi kota Antares bukanlah seorang Eaters?"
"Apakah kamu percaya pemerintah kota sedang mengupayakan pembasmian Eaters? dan bagaimana jika pemerintahlah itu yang merupakan seorang Eaters?"
Rio menjawab,
"Kalau begitu mana buktinya jika para pemerintah itu Eaters, dan jika iya, kenapa mereka tidak langsung memakan para umat manusia?"
Seketika pria pirang menjawab,
"Bukankah buktinya sudah jelas?, menurutmu kenapa pemerintah tahun-tahun ini membiarkan para pengungsi datang dan tinggal di kota ini? lalu bagaimana pemerintah tahu bahwa yang mengungsi bukanlah seorang Eaters?" dengan sedikit senyuman pria pirang itu melanjutkan kalimatnya,
"Kau ingat tidak sebuah video beredar beberapa tahun lalu saat terbunuhnya pria terkaya di kota ini dibunuh oleh Eaters? lalu apa pesan yang disampaikan di akhir video?"
Rio menjawab,
"Kalau tidak salah di akhir video Eaters itu mengatakan, mereka akan mengambil alih dunia ini, namun tidak akan memusnahkan umat manusia, melainkan akan memperlakukan kami layaknya hewan ternak."
Setelah mengucapkan hal itu, tiba-tiba wajah Rio menampakkan ekspresi terkejut seakan-akan ia baru menyadari hal yang begitu besar lalu berkata,
"Iya, aku mengerti sekarang kenapa pemerintah membiarkan orang asing masuk ke kota ini,"
"Semakin banyak manusia yang datang, semakin banyak makanan yang datang kepada mereka dan membiarkan mereka menikah dan mempunyai anak, sehingga secara tidak sadar para manusia telah di ternak layaknya hewan." ucap Rio dengan ekspresi terkejut yang masih ditampakkanya.
Rio terdiam membisu karena telah menyadari hal yang begitu besar tentang kenyataan kota Antares, ia begitu kesal dengan dirinya sendiri karena tidak menyadari hal ini dari awal.
"Bagaimana kamu seorang diri membunuh ketiga Eaters yang mengejarku tadi?" tanya Rio dengan menatap pria pirang, ia tersadar ia ingin menanyakan hal ini dari awal namun sempat terlupakan.
Pria pirang itu menatap kakek Henry seakan ada sesuatu yang di sembunyikan, namun sang kakek berkata,
"Kami adalah keluarga Gladius, Keluarga kami selama ratusan tahun..." sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya seorang wanita yang dari tadi mengusap pedangnya berkata,
"Tunggu dulu kakek, jangan bicara seenaknya tentang keluarga kita ataupun apa yang kita lakukan disini kepada orang asing ini."
"Tidak apa-apa Lisa, kelihatannya orang ini bisa dipercaya." ujar kakek
"Tapi kek?" ucap wanita muda dengan ekspresi kesal.
"Tenang saja, apakah kamu akan berjanji tidak mengatakan hal ini kepada siapapun?" tanya kakek dengan ekspresi serius kepada Rio.
"Iya, demi hidupku aku berjanji." sumpah Rio dengan telapak tangan kanan berada di dadanya.
Kakek itu pun melanjutkan kalimatnya yang tadi sempat terpotong,
"Keluarga kami selama ratusan tahun terkenal akan kehebatan pedangnya, selama ratusan tahun banyak orang yang ingin berlatih pedang kepada kami, namun seiringnya berjalan waktu kami tolak, karena latihan yang kami lakukan sangat berat yang mana membuat banyak sekali korban jiwa berjatuhan."
"Lalu kemana sisa keluarga Gladius yang tersisa? mengapa hanya kalian saja?"
Seketika semua orang selain Rio terdiam dan menundukan kepala, yang seakan-akan telah terjadi hal mengerikan kepada keluarga Gladius.
"Maaf, aku tidak bisa menceritakan hal ini kepadamu." ucap kakek
"Sekarang aku mengerti kenapa pria dengan rambut emas di sebelahku ini mampu membunuh ke tiga Eaters yang tengah ingin memakanku."
Seketika pria pirang itu menampakan ekspresi kesal dengan apa yang di ucapkan Rio,
"Hey, Siapa yang kau panggil rambut emas? namaku Dany, jangan sampai keluar dari mulut mu lagi."
"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi," "Jadi dengan kalian bisa membunuh Eaters?, kenapa kalian tidak membasminya dari sekarang?" tanya Rio
"Tidak semudah itu melakukannya, akan kuberitahukan hal mengerikan lainnya tentang kota ini,"
"Kota ini dibagi menjadi empat bagian, Antares timur, barat, selatan dan utara, di masing masing daerah yang kusebutkan tadi ,masing-masingnya dibagi menjadi empat distrik, dan di tiap distrik mempunyai pemimipnnya sendiri."
"Saat ini kita sedang menempati wilayah Antares timur yang lebih tepatnya berada di distrik 2." jelas kakek Henry
"mereka punya pemimpin?" ekspesi heran Rio
"Iya betul, Pemimpin itu berbeda ras dengan Eaters biasa, mereka disebut ras Domifirt, mereka mempunyai kekuatan lebih besar dari Eaters biasa, percayalah kamu belum pernah melihat atau mendengar kekuatan mereka,"
"Tugas para Domifirt itu adalah memberi perintah kepada Eaters yang berada di daerah tempat dia memimpin,"
"Kekuatannya masih menjadi misteri bagi kita hingga saat ini, yang membuat kami tidak terlalu gegabah."
Rio menyadari bahwa mahkluk mengerikan seperti mereka ternyata mempunyai ras dan kekuatan yang lebih kuat dari Eaters, ia berpikir bagaimana dia melawan para Domifirt jika Eaters saja mempunyai kecepatan dan kekuatan 10 kali lipat dari dia.
Setelah merenungkan hal itu, Rio dengan tiba-tiba bersujud dengan satu lutut, di hadapan mereka bertiga lalu mengatakan,
"Kumohon, jadikan aku menjadi murid keluarga Gladius dan masukan ku ke kelompok kalian."