Bab 2

Edgar semakin deg-degan saat mendengar suara langkah kaki, ia masih bingung cara mengutarakan isi hatinya, pasalnya Edgar belum pernah pacaran, apalagi nembak perempuan, malah sebaliknya dia yang selalu di tembak cewek lain. Namun Edgar memang lebih ingin fokus ke belajar.

Terbukti dirinya yang selalu mendapat peringkat pertama. Edgar kembali memasukan beludru ke saku celananya, sebelum Zalfa melihatnya.Mata elangnya menatap Zalfa dengan tajam, saat Zalfa sudah kembali duduk di depannya dengan berbatasan meja di tengahnya. Edgar merasa kesulitan bernapas saat melihat Zalfa dari dekat. Jantungnya semakin berdebar tak karuhan. 

"Nih minum teh nya," suruh Zalfa, Edgar yang sedang melamun tak menjawab, ia masih memperhatikan Ibu Gurunya yang memang mungkin ia adalah cinta pertamannya. Edgar sendiri tak tahu, kapan ia mulai jatuh cinta dengan bu gurunya. 

"Hai, Edgar... Katanya haus, ayo silakan di minum," tegur Zalfa sekali lagi, sambil tangannya melambai-lambai di depan Edgar yang sedang fokus menatap dirinya.

Ia pun terkejut saat Zalfa meneyentil hidung mancungnya. 

"Ih ibu kenapa Edgar di sentil?" protesnya, mirip anak kecil. Sambil tangannya mengelus hidungnya, meskipun sebenarnya tak begitu sakit.

"Melamun." sindir Zalfa. "Habis ibu cantik, siapa yang tak terpana melihat pesona bu guru," jawabnya. Keceplosan.

Ia segera menutup mulutnya. lalu nyengir kuda. Membuat dirinya jadi salah tingkah. Zalfa yang mendengarnya penuturan muridnya membuat dirinya seakan ingin melayang, murid yang satu ini, memang selalu bisa saja ambil hati gurunya.

"Ayo minum." suruh Zalfa sekali lagi,"Iyah, ibu guruku Sayaaang," jawab Edgar, dengan mesra "Kamu ngomong apa?" tanya Zalfa. 

"Ibu guru kesayanganku." jawabnya, tanpa menatap Zalfa, tangannya meraih cangkir lalu ia menyesap teh hangat buatan Zalfa. "Manis. Tapi lebih manis ibu. Ibu manisnya bikin candu," ucapnya."Dasar bocah kecil suka gombal." elak Zalfa, walau hatinya sedikit berbunga mendengar gombalan Edgar.

Edgar nyengir, lalu ia membuka mulutnya, tapi bingung mau mulai darimana.

"Bu, jalan keluar yuk?" ajaknya, sifatnya yang masih ke kanak-kanakan terkadang membuat Zalfa gemas, Edgar selain pandai dalam bidang akademik, dirinya juga memiliki tubuh yang cukup atletis. 

"Hhmm... Boleh, Ibu juga mau belanja bulanan. Kebetulan kebutuhan bulanan habis, hitung-hitung dapat supir gratis." jawab bu Zalfa, mencandai.

Edgar malah merasa bahagia, sebab ajakannya di terima, meskipun ia harus mengantar belanja.

"Rengga sama Rangga di ajak ya, Bun." suruh si Edgar, Zalfa diam sejenak, sepertinya tidak bisa, sebab belanjaan yang akan di beli cukup banyak, dan jika dua bocil itu ikut, otomatis harus mengajak baby sitternya. 

"Nggak usah, Ibu belanjanya banyak, kalau mereka ikut, malah bakal riweh, kamu nggak bisa bawain belanjaan Ibu malah ntar ribut sama bocil," terangnya, bukan itu juga alasannya, sebab belanjaan yang di beli cukup banyak, bisa saja adzan isya' belum pulang, dan anak kembarnya masih belum terbiasa dengan angin malam.

"Ya baiklah." jawab Edgar, sedikit kecewa."Kamu bawa mobil?" tanya Zalfa, Edgar menggeleng, ia ke sini tadi menggunakan motor gedhenya. "Ya udah, motornya masukin dulu, ntar bawa mobil Ibu, Ibu mau ambil dompet bentar," pamitnya. 

Edgar tak menjawab, ia hanya mengulum senyumnya, lalu berjalan ke sepeda motornya, dan menuntunya masuk ke depan rumah Zalfa, Zalfa sendiri sedang membuka pintu garasi, rumah sederhana dengan garasi mobil, nampak sederhana.

Mobil honda jazz abu tua yang Zalfa miliki, ia beli dengan menukar mobil almarhum suaminya pasca kecelakaan, lalu ia mengganti dengan mobil kecil. Sebab Zalfa tak ingin mengingat atau membayangkan mobil tersebut, saat almarhum suaminya meninggal dengan selingkuhannya.

"Nih, kunci mobil. Bisa nyetir 'kan?" Zalfa menyodorkan kunci mobil ke arah Edgar, Edgar tersenyum manis, ia menyukai saat Zalfa sang gurunya menyuruh dirinya.

Zalfa membuka pintu mobil samping kemudi, lalu Edgar pun mengikuti dengan masuk ke kabin kemudi, tanpa bicara keduanya sibuk memasangkan sabuk pengaman ke dirinya.Mobil yang Zalfa miliki, jarang ia pakai. Sebab dirinya lebih suka mengendarai kendaraan roda dua di banding mobilnya, Saat berangkat mengajar.

"Berapa bulan mobil nggak di pakai?" tanya Edgar, iseng.Zalfa tahu, apa maksud muridnya tersebut, sebab kesibukannya ia mengajar, mobil jarang di buka, jadi memang sedikit pengap, dan mobilnya nampak berdebu, apalagi Ayahnya juga belum mahir mengendarai mobilnya, jadi jarang ia pakai. 

"Lebih dari dua minggu," jawab Zalfa, nampak santai."Yang bener?" tanya Edgar menggoda, Zalfa pun mencubit lengan muridnya tersebut, dengan mata sedikit melotot "Aauh.. Sakitlah Bu," protes Edgar,"Dah ayo jalan." suruh Zalfa,"Panasin dulu mesinya, biar nggak rewel di tengah perjalanan," jawab Edgar, santai. Lalu ia mengegas mobil tersebut, membuat suara berisik. 

Si kembar yang mendengar deruan mobil yang membisingkan telingannya, berhambur keluar, ia tahu Mamanya akan pergi.

"Mama... Angga ikut!" ucapnya, langkah kaki kecilnya berlari menuju mobil, Zalfa menarik napas pelan, ia sudah menduga anaknya bakal tahu, jika Edgar memanasi mobilnya seperti ini. Ia melirik ke arah Edgar, pasrah.

Zalfa pun kembali turun dari mobilnya

Zalfa menarik napas lalu berjongkok mensejajarkan tingginya dengan putra kecilnya. 

"Sayang, ini sudah sore, bentar lagi mau maghrib, mama mau belanja sebentar sama Kakak itu, nanti pulangnya Mama beliin es cream ya," ucap Zalfa dengan penuh kelembutan, "Tapi Mama..." Rangga menunduk, ia nampak kecewa,"Angga Sayang, Angga sama Uti ya, katanya mau jalan-jalan ke taman." Bunda Zalfa, keluar dengan menuntun tangan Rengga. 

"Nah itu. Mau di ajak Uti ke taman." sahut Mamanya."Iya deh, tapi Mama tidak boleh lama-lama," ucapnya , khas anak kecil.

Edgar yang baru memanasi mesin mobil turun, ia berjongkok menyentuh lembut pipi Rangga. 

"Kakak pergi sebentar nganterin mama belanja ya, dik Rangga sama dik Rengga di rumah saja, besok kalau nggak ke sorean, kakak ajak ke pantai, mau?" tanya Edgar, kemudian.

"Pantai itu yang ada putri duyung itu ya?" tanya Rengga. Ia berjalan menghampiri Edgar. Edgar merasa geli dengan pertanyaan Rengga.

"Angga mau, ental Angga mau tangkap itu putli duyung, bial nanti bisa nemani Angga lenang di kolam," celoteh Rangga

"Iya nanti kita tangkap putri duyung sama-sama ,Ya?" jawab Edgar, ia sangat senang dengan dua bocah kecil yang begitu tampan dengan tatapan mata tajam, alis tebal, kulit putih, hidung mancung mirip mamanya, Edgar yakin kelak jika keduanya dewasa, ketampanannya akan melebihi dirinya. 

"Baiklah, Angga mau jalan-jalan saja sama Uti," jawab Rangga, matanya nampak berbinar, namun membuat Zalfa merasa tak enak hati. Ia takut Edgar hanya membohonginya jika mereka akan di ajak ke pantai. 

"Eh, peluk kakak dulu doonk." pinta Edgar, dengan senyuman yang mengembang. Rengga dan Rangga memeluk Edgar secara bersamaan.

Lalu keduanya berdiri secara bersamaan."Bunda, Zalfa nitip si kembar bentar, ya?" pamit Zalfa, Ibunya hanya mengangguk. Sambil melempar senyum,

Menit berikutnya, Edgar dan Zalfa sudah duduk di dalam mobilnya, siap berangkat ke pusat perbelanjaan. 

Di tengah perjalanan, Zalfa memulai obrolan, sedangkan Edgar fokus nyetir.

"Kamu tuh jangan suka janji begitu, nanti mereka kecewa kalau kamu cuma berdusta," protes Zalfa, 

"Hhmmm... Bu guru yang cantik, siapa sih yang berdusta?" tanya Edgar, tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.

"Ya kamu, pakai janji mau ngajakin si kembar ke pantai segala, " jawab Zalfa , sedikit kesal.

"Nggak ya, Edgar serius. Edgar memang ingin ke pantai ngajak mereka, akhir pekan ini, " terangnya.

"Mereka masih kecil, belum pernah perjalanan jauh." jawab Zalfa, manyun, Edgar melihat ekspresi manyun Zalfa nampak menggemaskan. 

"Ibu, kalau manyun begitu, bikin gemes deh," Goda Edgar,"Ibu serius loh," Zalfa, nampak kesal."Bu guru itu cantik, lagi marah juga cantik, Edgar ingin terus lihat bu huru tertawa." rayunya.

"Aish, kamu tuh nyebelin!" kesalnya. Lalu pandangan matanya, menyapu luar jendela. 

"Bu. Maaf.. Kenapa ibu belum mau menikah? 'kan ibu cantik masih muda juga?" tanya Edgar, sedikit sangsi."Apapun boleh kau tanyakan pada Ibu, tapi Ibu punya hak untuk tidak menjawabnya," balas Zalfa, acuh. 

Edgar pun diam, ia merasa tak selayaknya bertanya masalah ini, Namun Edgar penasaran, bagaimana tipe laki-laki idaman ibu guru yang sangat ia sayangi. "Maaf, guruku Sayang." jawab Edgar, "Apa kamu bilang?" tanya Zalfa,"Bu guruku Sayang." jawab Edgar, tanpa merasa bersalah, matanya tetap fokus melihat jalan, sedangkan tanganya memainkan setir. 

Zalfa diam tidak menjawab, Zalfa merasa Edgar semakin kesini semakin berani pada dirinya. 

Setengah jam perjalanan, keduanya sampai di pusat perbelanjaan, Edgar membawa mobil Zalfa menuju parkiran bawah tanah. 

Lalu mereka mengambil troli, setelah sampai di dalam pusat perbelanjaan. 

Edgar mendorong troli, dan Zalfa berjalan di depan memilih barang yang akan ia beli.

Jika saat ini Edgar yang tidak mengenakan seragam sekolah, keduanya nampak sepasang kekasih yang sangat serasi, Meskipun usia Zalfa lebih tua dari Edgar, namun muka baby face nya, membuat Zalfa seperti masih single. 

"Bu Zalfa." panggil Edgar lembut,"Iya." jawab Zalfa singkat, lalu ia menoleh, ke arah Edgar. 

"Beliin ini ya," Edgar mengambil buah pisang ambon. Melihat Edgar yang memang menyukai buah-buahan, Zalfa hanya mengangguk, "Ini juga. ini, ini terus ini juga ya." katanya sambil, memasukan beberapa macam buah segar ke dalam troli. "Dah terserah, borong semua yang kau mau," jawab Zalfa, mendengar jawaban Zalfa, Edgar tanpa malu, mengambil buah lagi, Zalfa hanya bisa memandang sambil geleng-geleng, 'ia tidak bisa di ajak bercandakah? kenapa di anggap serius?' batinya. "Ini bocah, ususnya panjang banget yak, makanya banyak," Batin Zalfa, lagi.

"Nggak usah ngebatin Bu, 'ntar Edgar ganti uangnya," ucap Edgar, seakan bisa membaca pikiran Zalfa." Buat calon istri mah, apapun yang di mau akan Edgar kabulin." katanya. Matanya melirik-lirik tak jelas, Zalfa melotot mendengar ungkapan Edgar, Namun Edgar pura-pura cuek.

"Zalfa..!!" Terdengar suara bariton laki-laki, yang memanggil nama Zalfa, Zalfa dan Edgar menoleh bersamaan ke sumber suara, Melihat siapa yang memanggil.

Zalfa nampak bahagia saat teman kuliahnya dulu yang memanggilnya. Lalu ia menghampiri ke laki-laki yang sedang berdiri, di area mainan anak. 

"Althaf.. Bagaimana kabarmu. lama tak berjumpa?" tanya Zalfa, Edgar mengikuti Zalfa di belakang, ia merasa tak suka ada laki-laki yang memanggil Zalfa. "Bunda.. Itu siapa?" tanya Edgar, saat ia sudah berdiri di sebelah Zalfa. 

"Oh kenalin ini temen Ibu saat kuliah dulu." Zalfa memperkenalkan."Hmm... Hai, aku Althaf, "ucap Althaf memperkenalkan, diri.

"Oh, aku Edgar, calon suami Zalfa," ucap Edgar, tanpa malu, Althaf, yang memang menaruh hati Ke Zalfa, melirik ke arah Zalfa, Ia yang tadinya bahagia melihat Zalfa, seakan merasa kecewa. 

"Kamu tuh bicara sembarangan," protes Zalfa."Eh, Maaf ya, kami masih banyak yang harus di beli, ayo!" ajak Edgar, ia menarik tangan Zalfa, secara paksa, menjuhi laki-laki yang bernama Althaf tersebut, membuat Zalfa merasa kesal. 

"Apaan sih kamu tuh!" Zalfa, menarik tangan yang di genggam Edgar, ia merasa kesal dengan murid yang satu ini. 

"Edgar nggak suka ibu dekat-dekat sama cowok lain." jawabnya. posesive, seakan Zalfa miliknya.

Zalfa melotot ke arah Edgar, yang memang postur tubuhnya lebih tinggi darinya. 

"Kamu nggak sopan sama gurunya sendiri." makinya,"Terserah, Edgar hanya melihat laki-laki tadi kurang baik buat Ibu." jawabnya tanpa ekspresi. "Tahu darimana?" sentaknya.

"Tatapan matanya," jawab Edgar, "Bunda.. coba tatap mata Edgar," Edgar memegang bahu Zalfa, Entah sihir apa, Zalfa menatap mata Edgar, membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Edgar nampak begitu mempesona saat di lihat dari arah dekat.

Bab 3

Terkadang cinta memang tidak tahu kapan datangnya. Zalfa menatap mata hitam Edgar, tatapan tajamnya begitu menyihir dirinya, ia merasa seperti tak bisa bernapas. Edgar berdiri menunduk menatap Zalfa, tanpa ekspresi.

"Bu.. Edgar menyukai bu guru." ucapnya kemudian, Zalfa merasa terkejut, di tempat umum Edgar tanpa malu menyatakan perasaannya.

Membuat dirinya salah tingkah, lalu ia menoleh ke sekelilingnya, banyak mata yang menatap mereka berdua, membuat Zalfa seakan malu di buatnya. 

"Sudah, ayo lanjutin belanjanya." Zalfa, berusaha mengalihkan perhatian, ia berbalik, ingin mengambil troli isi belanjaannya tadi, namun tiba-tiba Edgar memeluknya dari belakang, Membuat tubuh kecil Zalfa menegang saking terkejutnya. Zalfa akui, ia memang merindukan sentuhan seorang laki-laki, sebab sepeninggalan suaminya, Zalfa masih tetap ingin menjalani hidup sendiri, ia tak ingin memulai hubungan jika tidak bisa menerima kehadiran si kembar yang sangat ia cintai.

"Lepaskan!" Zalfa sedikit meronta,"Nggak mau, sebelum ibu jawab pernyataan tadi," jawabnya, suaranya di tekan, matanya terpejam. Ia menikmati aroma tubuh Zalfa yang begitu wangi di indera penciumannya. 

"Lepaskan!" tegasnya sekali lagi, "kamu tak malu, di lihatin banyak orang!" kesal Zalfa. Bahkan tanpa di sadari mereka berdua, ada yang merekam adegan keduanya dan di siarkan langsung lewat instagramnya.

"I don't care. I love you so much, and i hope you too, are you marry me, Please." mohonnya. Pelukannya semakin erat, seakan ia tak rela Zalfa menjauh walau sejarak detik jarum jam saja. 

Zalfa memejamkan mata, ia menarik napas dalam. Lalu berujar.

"Baiklah, tapi ada syarat." jawabnya, ragu."Apa?" tanya Edgar, "Nanti aku kasih tahu, tapi lepas dulu pelukanmu." pintanya. Dengan ragu Edgar pun melepas pelukannya, meskipun tak rela.

"Bayar dulu belanjaannya," suruh Zalfa, Edgar pun mendorong troli nya, sedikit tepaksa, ia merasa belum puas dengan jawaban Zalfa, Zalfa sendiri berjalan mendahului dengan menunduk, sebab malu karena menjadi pusat perhatian. 

"Kamu bayar, aku tunggu di mobil," suruh Zalfa, ia memberikan dompetnya ke Edgar. 

"Edgar saja yang bayar," jawab Edgar, Zalfa tak peduli, ia segera pergi dari depan kasir, ia sudah merasa malu."Berjilbab sih, tapi pelukan di tempat umum," ejek salah satu pengunjung,

"Zaman sekarang tuh jeng, jilbab tidak bisa jadi jaminan. Banyak kok yang berjilbab tapi hamil di luar nikah." sahut Ibu pengunjung lain.

"Eh ternyata mereka guru dan muridnya." sahut salah satu, pengunjung. Yang merekam live kejadian tadi. 

"Beneran 'kah?" dengan kepo nya, beberapa ibu-ibu menghampiri pengunjung yang merekam mereka.

Mereka membaca komentar-komentar netizen, dan beberapa orang ikut berkomentar tidak baik. 

"Guru seperti ini harus di laporkan, jangan mentang-mentang muridnya ganteng. Terus di pacarin," gerutunya."Aku tak mau anakku sekolah di mana dia mengajar, nanti anakku di pacarin juga lagi." sahut yang lainnya,

Begitulah komentar-komentar mereka, Edgar cuma geleng-geleng kepala, mereka shok tahu sekali, gumannya.

"Kalian nggak punya kerjaan ya?" sindir Edgar, saat setelah dirinya selesai membayar belanjaan yang belum semua sempat mereka beli "Mau gue pacaran sama bu guru gue, itu bukan urusan kalian, kalian nggak bisa melarang!" sahutnya lagi. 

Lalu ia menghubungi nomor seseorang kenalannya, untuk menghack akun sosmed seseorang yang telah menayangkan kejadian yang mereka lakukan tadi.

Edgar pun berlalu dengan santai, setelah menutup teleponnya. Ia menyunggingkan senyum miring, "Awas mulut kalian, bisa jadi boomerang!" Katanya sambil tersenyum, licik. Lalu ia berlalu pergi. 

"Duuh.. muridnya ganteng banget sih!!" gumam, seseorang di sebelah ibu-ibu kepo tadi. Namun Edgar, cuek tak peduli.

Dengan langkah pasti, Edgar keluar. Ia melangkah dengan pasti, menjauh dari kerumunan Ibu-ibu kurang kerjaan. 

Beberapa langkah kemudian ia sudah sampai tempat parkiran, Zalfa berdiri di sebelah mobil. Tanpa merasa bersalah Edgar, menyunggingkan senyum yang begitu manis. 

Lalu ia membuka pintu mobil, dan memasukan belanjaan yang baru buah-buahan saja yang mereka beli. Zalfa masuk ke mobilnya, saat Edgar akan masuk ke mobilnya, sebuah notif masuk lewat gawainya.

Pesannya akun sosmed yang menyebarkan video, sudah di hapus dan di banned. Edgar pun tersenyum, lalu ia masuk ke mobilnya, 

"Maaf, lama ya?" ucap Edgar, cengengesan."Hhmmm." Zalfa, hanya berdehem.

"Ibu kalau ngambek cantik, ngambek aja terus ya, Bu," ledek Edgar, membuat Zalfa tak bisa menahan tawanya."Kamu tuh ya, nyebelin! nyebelin banget jadi orang!" kesalnya.

"Nggak papa, nyebelin gini ibu juga suka," jawabnya, matanya melirik meledek."Aaiih... PD banget jadi orang!!" Zalfa mencubit kesal lengan Edgar, Edgar meringis. 

"Ih Sayang, jangan di cubitin, ntar habis kalau di cubitin mulu. Huahahaha." Tawa Edgar, pecah, Lalu ia menangkap tangan Zalfa yang ingin mencubitnya lagi.

"Eeith.. tak bisa bergerak." tangan Edgar yang berotot menggenggam tangan kecil dengan jari yang lentik zalfa. 

"Kamu tuh nyebelin banget!" "Udah tahu, dari tadi bilangnya nyebelin mulu, tapi.. Edgar akan buat ibu jatuh cinta kepadaku," katanya, dengan PD. Lalu ia mencium lembut tangan Zalfa, Zalfa terpaku. Ia tak bisa mengelak saat bibir Edgar mendarat di punggung tangannya yang halus. Sedangkan tatapan matanya tertuju ke mata indah Zalfa.

Membuat Zalfa seakan tak mampu bergerak. Zalfa mengetahui satu fakta dari muridnya yang satu ini, Edgar begitu cerewet saat bersamanya. Beda saat di kelas, ia irit bicara. Cuek dan terkesan kaku, sehingga tidak ada yang betah berteman denganya, sebab sikapnya yang cuek. 

"Bu, habis maghrib. Ikut Edgar ke suatu tempat ya?" pinta Edgar."Ke mana?" tanya Zalfa, "Ikut saja, sekarang nyari tempat shalat dulu." ungkap Edgar. 

Lalu ia menyalakan mesin mobilnya, Dan dengan pelan mobil melaju keluar parkiran. Tidak ada obrolan yang keluar dari mereka, Zalfa masih menelan apa kata Edgar tadi, Sedangkan Edgar sendiri ia menyetir dengan menyunggingkan senyum sumringah. Ia merasa bu gurunya memberi lampu hijau kepadanya. 

***

Selepas shalat maghrib, keduanya kembali ke mobil. Dan melanjutkan perjalanan. Entah kemana Edgar akan mengajaknya pergi, Zalfa hanya bisa menyimpan rasa penasarannya. Ia yakin muridnya tidak akan berani macam-macam kepadanya. 

Lampu jalan raya bercahaya dengan indahnya, jalan padat merayap, membuat sedikit macet. Padahal bukan di Jakarta. 

Setelah menempuh perjalanan setengah jam, Mereka sampai di sebuah coffee. Keduanya masuk ke tempat tersebut. Kafe dengan nuansa islami, waiters nya memakai seragam dan berjilbab pink nyala dan gamis hitam motif pink nampak elegant. 

"Pemesanan private room atas Nama Edgar Emmanuel Raditya," ucap Edgar, di kasir.

"Oh Tuan Edgar, biar di antar pelayan kami, tunggu sebentar," jawab sang penjaga kasir, dengan begitu ramah. 

Dengan sekali lambaian tangan, seorang waiters cantik menghampirinya.

"Antar tuan Edgar ke ruang atas, VIP, di sana sudah ada pelayan lain yang menunggu," pintanya. 

"Baik Ibu." jawab waitres tersebut. "Mari Mas dan Mbak, saya antar," ucap waitres tersebut. Dengan lembut.

Edgar dan Zalfa mengikutinya. Mereka menuju lift, ruang yang di pesan Edgar ada di lantai paling atas.

Tidak lama kemudian, Mereka sampai di ruang private namun terbuka. Di sana ada live music, sebuah lagu berjudul 'my heart' melantun dengan merdunya. 

Di meja sudah tersaji makan malam yang cukup romantis, Edgar dengan terus tersenyum, menatap Zalfa yang nampak terpukau dengan view  Kafe tersebut, lampu malam yang indah berkelip, live musik dengan penyanyi yang berjilbab modis juga ikhwan yang juga nampak seperti orang timur tengah.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED