Adzan subuh sudah berkumandang. Ayam jantan sudah ramai-ramai berkokok menyambut terbitnya sang surya. Namun, hal itu tak membuat cowok jangkung itu bangun dari lelapnya. Padahal, sang ibu sudah berkali-kali membangunkannya. Berkali-kali sang ibu mengomel dengan keras. Namun, cowok itu tak kunjung membuka matanya. Terlalu asyik meraih mimpi.
BYUURRR
Dengan mengesampingkan rasa kemanusiaan sang ibu mengguyur anaknya dengan air seember. Jamal dengan gelagapan terbangun dari tidurnya. Kepalanya pening akibat dibangunkan dengan cara seperti ini.
Dengan samar, ia melihat ibunya yang sedang berkacak pinggang menahan emosi.
"Mama, kalau bangunin itu yang manusiawi dong! Masa wajah ganteng begini dibangunin kayak gini. Emangnya aku ayam apa? Yang dimandiin pake semprotan?"
Mendengar protesan anaknya, sang ibu menoyor kepala anak itu dengan sayang.
"Persetan dengan manusiawi. Emangnya kamu manusia? Kayaknya bukan deh. Kamu lebih cocok jadi anak ayam, makanya ibu mandiin pake semprotan."
"Yaampun Ma, gitu amat sama anak sendiri. Kayaknya aku emang anak pungut deh, yang kekurangan kasih sayang."
"Udah, jangan kebanyakan ngomong kamu. Kebiasaan sholat dhuha kok pake spion. Nggak malu sama adik-adik kamu? Lihat, adik-adik kamu udah rapi, tinggal nunggu abangnya yang pemalas ini turun."
"Iya-iya. Anakmu yang pemalas ini akan segera bersiap."
Dengan malas Jamal melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Telinganya sudah super engap mendengar omelan serta teriakan maut sang ibu. Lama-lama ia bisa mati muda kalau setiap hari mendengar omelan sang bunda ratu.
.....
Setelah menyelesaikan kewajibannya sebagai muslim ia merapikan peralatan sholatnya. Walaupun ia terkenal nakal dan biang onar, ia tak pernah lupa untuk melakukan kewajibannya kepada Sang Pencipta.
Kemudian ia melihat dirinya sendiri pada cermin besar kamarnya. Ia tersenyum lebar, lalu mendekatkan dirinya ke arah cermin.
"Anjir... Ganteng banget gue. Pantes gak ada yang berani nolak pesona gue. Gila. Seribu bidadari pun bisa takluk kalau melihat wajah seganteng gue."
Ia bergaya bak model di depan cermin. Mengagumi wajahnya sendiri bak orang gila.
PLETAK
"Aduhh... Sakit!!"
Jamal meringis kesakitan ketika sesuatu yang keras mengenai kepalanya. Ia menoleh ke belakang. Ahh.. Ternyata ayahnya.
"Papa, kenapa si suka banget mukulin kepala aku? Gak Mama gak Papa semuanya sama aja. Suka banget bikin anak menderita."
"Adek-adek kamu udah nunggu kamu daritadi di bawah. Kasian. Eh, yang ditunggu malah asik sendiri di depan cermin. Koyok bocah gemblung!"
"Ganteng gini dibilang gemblung."
" Emang bocah gemblung gak boleh ganteng apa? Buktinya orang di depan saya gendeng tuh."
Jamal mendengus malas mendengar perkataan sang ayah. Ia tak mau membantah terlalu banyak. Nanti di cap anak yang super durhaka, kan payah. Lalu ia berkata,
"Yaudah yuk ke bawah, ayahnya bocah gemblung. Kasian katanya adek-adek udah nunggu."
Sang Ayah hanya bergumam menanggapi ucapan sang anak. Anak sulungnya ini benar-benar membuatnya sakit kepala. Bukannya menjadi contoh yang baik, sang anak sulung malah sering menjerumuskan adiknya ke jalan yang sesat. Huft, lagi-lagi pria paruh baya ini menghela nafas lelah. Mengingat kelakuan anaknya yang satu itu benar-benar membuatnya meradang.
.....
Kondisi meja makan keluarga Jamal benar-benar ribut. Lihatlah anak kembar seiras yang sedang mendebatkan hal-hal yang tidak penting. Entah itu dari ayam bertelur sampai gosip bakso Mang Dadang yang katanya menggunakan boraks.
Setelah mendengar bunyi hentakan kaki dari tangga, mereka bungkam. Mereka memelototi sang kakak tidak suka. Akibat menunggu sang kakak terlalu lama, membuat cacing-cacing di perut mereka sudah konser sambil meloncat-loncat senang.
Jamal yang ditatap seperti itu, hanya menyengirkan mulutnya. Menampilkan gigi-gigi putihnya yang rapi. Tanpa merasa bersalah, ia langsung mengambil piring kemudian menambahkan nasi dan lauk ke atas piringnya.
"MasyaAllah, nikmat mana yang kau dustakan. Masakan mama emang yang terbaiklah." Ucap Jamal menikmati masakan sang ibu.
TAK!!
Devan membanting sendoknya kesal. Kenapa kakaknya tak merasa bersalah sama sekali? Karena sang kakak, ia harus repot-repot berdebat dengan adik kembarnya. Benar-benar mengesalkan. Ia menggeram marah, urat ototnya tampak mulai menghiasi pelipisnya.
"ABANG KOK GAK MERASA BERSALAH SAMA SEKALI? CAPEK-CAPEK AKU SAMA DEVIN NUNGGUIN ABANG! EH YANG DITUNGGUIN GAK TAHU MALU MALAH MAKAN DULUAN KAYAK MONYET!!"
Jamal mengangkat sebelah alisnya. Suara adiknya ini benar-benar memekakkan telinga. Bahkan suara sang ibu kalah telak dengan teriakan nyaring Devan.
"Aduh, adekku sayang. Jangan marah dong. Kan abang nggak menyuruh kalian buat nunggu abang. Salahin tuh, Mama sama Papa. Kan mereka yang nyuruh kalian buat nunggu abang." Ucap Jamal santai.
Devin yang mendengar perdebatan kedua kakaknya hanya merengut kesal. Kesal sekali dengan kakak sulungnya yang berbuat seenak hati tanpa memikirkan perasaan orang lain. Dasar egois.
"Abang sama kakak udah deh berantemnya. Pusing nih kepala Devin. Dan buat Abang, jangan terlalu sering deh bikin kita nunggu lama. Devin capek kalau harus nunggu abang tiap hari."
Jamal mendengar celotehan adik bungsunya tersenyum gemas. Devin berbeda dengan Devan yang mulutnya seperti mercon 5 kg yang diletuskan tiap lebaran. Ia mengusak rambut Devin gemas.
"Iya adek abang yang manis. Abang janji gak bakal ngulangin lagi."
Devan hanya merotasikan bola matanya malas. Melihat adegan romansa di depannya benar-benar membuatnya mual.
Kedua orang tua mereka yang sedari tadi diam mulai merasa jengah. Selalu seperti ini. Setiap pagi tidak ada yang namanya hari tenang. Yah, setidaknya dengan keadaan seperti ini. Suasananya tidak terlalu monoton.
"Udah debatnya. Sekarang kita makan. Kasihan Mama kalian. Susah-susah Mama masak, malah makanannya jadi penonton keributan kalian." Ucap sang kepala keluarga, Darto.
Mendengar sang raja telah bertitah, mau tak mau ketiganya bungkam. Mereka tak mau melihat sang raja murka karena keributan yang mereka perbuat.
....
"Jack berangkat dulu ya Pa,Ma." Ucap Jamal sembari menyium tangan kedua orang tuanya.
"Hati-hati. Jangan ngebut. Kalau ada polisi tidur pelan-pelan aja, nggak usah ngegas!" Nasihat sang Ibu.
"Mama, kalau motornya nggak di gas ya gak bisa jalan,dong." Sahut Jamal
"Udah-udah, sana berangkat. Kalau debat terus nanti terlambat lagi." Itu suara sang Ayah.
"Iya-iya."
Jamal langsung menunggangi motor merah bahenolnya. Motor yang jadi kesayangannya ini merupakan hadiah dari sang ayah ketika umurnya menginjak usia tujuh belas tahun. Motor sport merahnya benar-benar menemani sang pemilik kemanapun ia pergi.
BRMMM
Jamal mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Walaupun ia terkenal sebagai biang onar, ia selalu mengutamakan keselamatannya sendiri juga orang lain. Kenakalannya hanya sebatas membolos kelas, menggoda cewek-cewek,menjaili teman, dan tak lupa merecoki guru. Ia bukan remaja yang suka kebut-kebutan apalagi balapan liar.
...
Setelah memarkirkan motor semoknya, Jamal menyusuri aula dengan gaya tengilnya. Sesekali ia beesiul saat melihat gadis sexy yang ada di depan matanya. Ia juga menyempatkan menggoda beberapa gadis yang mencap diri mereka sendiri sebagai fans Jack (Jamal) nomor satu.
Ini merupakan hal rutin yang dilakukan oleh Jamal. Tak menggoda satupun seorang gadis tiap pagi, bisa mati muda. Katanya.
Jamal juga bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa banyak sekali gadis yang tertarik padanya? Yah, walaupun ia akui. Bahwa dirinya memanglah sangat tampan. Tapi selain mengandalkan wajahnya, ia tak memiliki kelebihan apapun. Pintar? Tidak juga. Sebagai pemalas ulung, ia tak pernah menduduki peringkat sepuluh besar di kelasnya. Namun, ia bersyukur setidaknya ia masih berada di tengah. Tidak pintar dan tidak bodoh. Alias sedang-sedang saja. Tapi, ia bisa dikatakan memiliki otak yang cukup encer, mengingat ia tak pernah menyentuh buku-bukunya sama sekali. Kaya? Yang kaya bukan dia. Tapi orang tuanya. Sejauh ini, ia hanya bisa meminta kepada orang tua kalau membutuhkan sesuatu. Orang tuanya juga cukup pelit, mereka tidak mau memberikan uang lebih layaknya orang kaya. Entahlah. Hanya pelajaran jasmani yang bisa dibilang paling menonjol dari segala hal.
Ia memfokuskan pandangannya ke arah seorang gadis yang terlihat bingung memikirkan sesuatu. Sepertinya, ini pertama kali ia melihat gadis itu. Apakah dia murid baru? Entahlah. Lebih baik ia hampiri, siapa tahu dia bisa menjadi mainan barunya.
Jamal sedikit mempercepat langkahnya menghampiri gadis itu,
"Woy!" Jamal berteriak cukup keras hingga gadis itu menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan sengit.
"Kenapa mata lo? Mau gue culek? Kayak mau gue perkosa aja." Ucap Jal tak suka.
Gadis itu hanya memalingkan wajahnya jengah. Hari pertama ia masuk ke sekolah baru harus mendapat kesialan. Sial.
Mendapat respon yang seperti itu, membuat Jamal geram setengah mati. Baru pertama kali pesonanya tertolak oleh seorang gadis. Sepertinya cukup sulit untuk menaklukkan gadis ini.
"Lo punya mulut gak si? Kalau punya mulut itu dipake. Gak usah sok jual mahal deh lo!" Jamal kembali berucap.
Gadis itu hanya merotasikan bola matanya malas. Merasa jengah dengan cowok pengganggu di hadapannya ini. Kemudian ia memfokuskan pada dada cowok itu. Kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
Jamal yang melihat itu mengernyit heran. Memangnya apa yang lucu? Sampai-sampai gadis di depannya ini tertawa keras-keras seperti kuntilanak. Karena tak tahan, ia mencekal gadis itu, kemudian bertanya
"Kenapa lo?"
Yang ditanya masih tertawa terbahak-bahak sampai matanya bercucuran dengan air mata.
"Hahahahahaa... Jam... Hahaha... Jamal....udiinnn... Hahahaha"
Gadis itu semakin mengeraskan suaranya. Sampai semua mata tertuju pada mereka berdua. Wajah Jamal memerah menahan amarah. Baru pertama kali ada seseorang yang berani mempermalukannya seperti ini. Ia akui, memang namanya benar-benar kuno dan ketinggalan jaman. Tapi, tak satupun yang berani mengejek namanya. Ingat, ia adalah anak dari donatur terbesar di sekolah ini.
"Udah ya Jamaluddin. Gue mau ke ruangan kepala sekolah dulu. Btw, nama gue Anggun, bukan Surtini."
Setelah mengatakan kalimat itu, gadis itu melenggang pergi begitu saja. Hal itu membuat wajah Jamal semakin merah menahan amarah.
"Nama lo Anggun, tapi kelakuan kayak dugong!! Tunggu pembalasan gue!! Macam-macam sama Jack!!"
Fyi, Jamaluddin sering menyebut dirinya sendiri dengan nama Jack. Ia benar-benar benci ketika orang lain memanggilnya dengan nama asli. Memalukan.
....
Jamal memasuki kelas dengan wajah tertekuk. Dika, sahabat Jamal, mengernyit heran. Tak biasanya sang sahabat memasuki kelas dengan wajah tertekuk seperti itu. Kemudian ia berceletuk,
"Jam eh Jack, kenapa lo? Muka jelek jangan ditekuk gitu. Tambah jelek kaya beruk!"
Jamal yang mendengarnya mendengus sebal. Ia semakin bad mood mendengar celetukan Dika.
"Tadi gue ketemu cewek super duper double triple nyebelin. Baru kali ini ada cewek yang berani nolak pesona gue."
Kevin terlihat antusias dengan topik obrolan Jamal dan Dika.
"Wah wah... Bener-bener itu cewek. Berarti dia cewek istimewa bro, kan kebanyakan cewek pasti takluk tuh sama lo. Siapa tau, itu cewek bakal jadi orang istimewa buat lo nanti." Ucap Kevin sembari menaik turunkan alisnya.
"Istimewa apaan. Cewek kayak dugong begitu mana ada keistimewaannya. Tingkahnya aja nggak menunjukkan kalau dia punya gunung kembar. Tepos si. Gue yakin si dia sebenarnya punya batang yang nyamar jadi cewek."
PLETAK!
Dika memukul kepala Jamal dengan keras. Otak temannya ini, sepertinya sudah tergeser dari tempatnya.
"Lo kebanyakan nonton film. Mana ada di dunia nyata orang nyamar begitu. Yang ada, noh banyak tetangga sebelah. Kelihatan jelas kalau mereka punya batang, tapi melambai melebihi cewek. Ewhh..." Dika jijik sendiri membayangkannya.
Jamal hanya menggedikkan bahunya acuh. Ucapan kedua sahabatnya ini benar-benar tak berguna. Lebih baik ia gunakan untuk meraih mimpi secara instan. Tidur. Baru saja ia menempatkan kepalanya di atas meja, tiba-tiba Kevin menggebrakkan meja dengan keras.
BRAK!!
Jamal berjengit kaget. Telinganya sakit mendengar bunyi gebrakan yang langsung masuk ke telinganya. Jamal menatap wajah Kevin seakan akan menerkam anak itu juga. Kevin yang ditatap hanya cengengesan tak merasa bersalah.
"Hehe, santai dong Jack. Gini-gini, sebenarnya gue baru kepikiran. Gimana kalau kita taruhan?" Ucap Kevin.
"Taruhan apaan? Nggak-nggak. Gue gak ada duit buat taruhan. Daripada buat taruhan. Mending buat jajan bakso tiap hari." Sahut Dika cepat.
"Siapa juga yang ngajak taruhan duit. Gini ya, kata si Jam eh Jack dia kayaknya nggak suka sama cewek yang ditemuinya tadi pagi, siapa namanya?" Tanya Kevin.
"Anggun." Jawab Jamal malas.
"Nah Anggun. Gue yakin kalau gak bakal lama kalau si Jack bakal suka sama cewek yang namanya Anggun itu."
"Ogah." Potong Jamal cepat.
"Jack, bisa diem gak si? Gue belum selesai ngomong. Gue bertaruh kalau suatu saat si Jack jadian sama si Anggun itu."
"Terus?" Tanya Dika
"Kalau misal mereka jadian maka si merah bahenol bakal jadi jaminannya. Kalau enggak gue sama Dika bakal jadi babu lo selama dua bulan, gimana?"
"Heh, kok lo nyebut-nyebut nama gue? Enak aja, ngomong seenak jidat!" Sahut Dika tak terima. Yang benar saja ngebabu selama dua bulan? No.
"Lo tenang aja, gue yakin kita bakal menang taruhannya." Ucap Kevin yakin.
Sementara Jamal memikirkan tawaran dari Kevin. Sepertinya cukup menarik. Menjadikan sahabatnya sendiri sebagai kacung sepertinya menyenangkan. Lagipula ia tak mungkin jatuh cinta apalagi jadian dengan gadis jadi-jadian itu. Lalu ia berkata,
"Deal?"
"Deal."
Kevin tersenyum puas melihat Jamal menyetujui tawarannya. Motor merah bahenol itu sudah di depan mata.
Cewek jadi-jadian. Itulah nama yang selalu disematkan pada gadis itu, Anggun. Namanya memang Anggun. Namun, namanya berbanding terbalik dengan segala tingkah absurdnya. Tingkahnya benar-benar tak mencerminkan bahwa ia adalah seorang gadis. Ia tak lembut sama sekali. Ia juga tak pandai berdandan atau berjalan lenggak lenggok layaknya model. Wajahnya bisa dibilang tak cukup terawat bagi seorang gadis. Lihatlah, tak ada polesan bedak sama sekali pada wajah gadis itu. Wajahnya juga cukup berminyak, menyebabkan satu dua jerawat tumbuh di wajah cantiknya. Ia juga tak memiliki gaun. Ia lebih memilih memakai kaos oblong/ kemeja dilengkapi dengan celana kolot/jeans. Benar-benar tak mencerminkan seorang gadis. Ia lebih terlihat seperti pria remaja.
....
Anggun memasuki ruang kepala sekolah dengan sopan. Saat masuk, ia merasakan hawa dingin menyambut kulit putihnya.
"Selamat pagi,pak."
Anggun menyapa seorang guru yang ada di depannya. Ia yakin bahwa sosok yang duduk di hadapannya adalah sang kepala sekolah.
"Selamat pagi, pasti Anggun ya?"
Anggun mengangguk malu.
"Sebentar. Anggun Dwi Bunga V. Kamu masuk ke kelas XII IPS-2. Mari saya antar."
"Terimakasih,pak."
Anggun mengikuti arah sang kepala sekolah berjalan. Sesekali ia menengok kanan dan kiri mengamati kondisi sekolah barunya. Sekolah ini lebih bagus dari sekolah sebelumnya yang ia tempuh. Bangunan ini terlihat elite ketika diamati dengan seksama. Kenapa ia baru sadar sekarang? Pantas saja, ia tak menemui satu orang pun yang terlihat miskin. Kecuali dirinya sendiri.
Huft, Anggun mendesah kecil. Memang kondisi ekonominya terbilang tidak cukup baik. Ia hanya tinggal dengan sang kakak. Sang kakak harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhannya serta kebutuhan dirinya sendiri. Mereka ditinggalkan oleh kedua orang tua mereka saat usia sang kakak 17 tahun dan dia 7 tahun. Saat itu kedua orang tuanya bertengkar hebat, tak tahu mengapa. Yang jelas, mereka tiba-tiba saja meninggalkan kami tanpa berkata-kata. Anggun saat itu masih belum paham apa yang terjadi. Yang jelas, saat melihat kakaknya mengeluarkan air mata, ia tahu, bahwa sang kakak tengah bersedih.
Flashback
Anggun terbangun dari tidurnya saat mendengar bunyi pecahan kaca dengan keras. Ia benar-benar terkejut dan ketakutan. Anggun berniat mencari sang bunda meminta pelukan. Namun, saat keluar kamar ia mendengar teriakan-teriakan keras dari lantai bawah, itu suara ayah dan bundanya.
"Bunda, Anggun takut..."
Anggun meremat kedua tangan mungilnya sendiri ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat saat suara pecahan kaca kembali terdengar. Sebuah tangan besar memeluk tubuh kecilnya. Itu tangan kakaknya. Menguatkan sang adik yang bergetar ketakutan. Sang kakak kemudian membawa adiknya menuju kamar. Berusaha mengalihkan perhatian Anggun dari suara teriakan-teriakan orang tuanya. Ia juga takut. Namun, ia harus terlihat tegar di depan adiknya. Reyhan, sang kakak, menceritakan sebuah dongeng seorang putri, agar adiknya bisa tertidur.
Setelah beberapa saat, Reyhan melihat adiknya terlelap. Air matanya tiba-tiba saja meluncur dengan derasnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tak ingin sang adik terbangun karena mendengar isakannya.
Tanpa Reyhan ketahui, bahwa adiknya memang sudah terlelap. Namun, belum terlelap sepenuhnya. Ia masih bisa mendengar isak tangis tertahan kakaknya. Anggun tahu, pasti kakaknya sedang sedih, entah karena apa. Besok Anggun akan mengadukannya ke Bunda, kalau kakak cengeng karena menangis, padahal laki-laki.
Flashback Off
Mengingat hal itu membuat hati Anggun terasa sesak. Sosok orang tua yang begitu kasihi, begitu tega menyakiti anaknya sendiri tanpa ampun. Hingga rasa kasih itu perlahan menjadi benci.
Anggun mengusap air matanya kasar. Ia tak boleh lemah. Ia masih punya kakak. Sang penopang hidupnya.
Tak terasa ia sudah sampai di depan kelas XII IPS-2. Suara berisik dari dalam kelas benar-benar memekakan telinga. Anggun yakin, kalau kelas ini kosong. Tak ada guru yang mengajar.
Melihat Kepala Sekolah masuk, murid-murid dengan panik menempati kursi masing-masing.
"Selamat pagi anak-anak. Kalian akan mendapatkan teman baru. Silahkan Anggun memperkenalkan diri."
Anggun mengangguk kemudian maju selangkah untuk memperkenalkan diri.
"Kenalin. Nama gue Anggun Dwi Bunga V. Bisa dipanggil Anggun. Terimakasih."
Krikk krikk
Perkenalan macam apa itu? Singkat sekali. Bahkan sampai beberapa murid melongo saking syoknya. Sang kepala sekolah hanya terkekeh kemudian menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ada yang mau ditanyakan?"
Belum sempat ada yang membuka suara, Anggun menyela terlebih dahulu.
"Gak usah tanya-tanya. Gue males jawab."
Lagi-lagi semua siswa syok. Mereka tak menyangka ada cewek yang judesnya melebihi peri peyot. Sang kepala sekolah hanya terkikik.
"Baiklah. Kalau begitu duduk dengan Jack."
"Jack?"
"Itu yang tidur di pojok belakang."
"Oh... Jamaluddin.. Hahahhahahaha"
Tidak tahu kenapa, saat menyebutkan nama itu, perut Anggun tergelitik geli. Sedangkan sang empunya nama langsung terbangun dari tidurnya mendengar nama aslinya disebut oleh orang selain kedua orang tuanya. Para siswa nampak terdiam ketakutan. Sedangkan sang penyebut nama masih tertawa terbahak-bahak sampai menggebrak meja dengan keras saking tak tahannya. Merasakan atmosfer yang makin mencekam. Membuat sang kepala sekolah memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu. Biarlah, selagi mereka tidak berbuat onar.
Jamal menggelutukkan giginya emosi. Gadis itu benar-benar. Belum cukup ia menghinanya tadi pagi. Belum sampai dua jam, ia kembali menghinanya. Jamal menendang meja dengan keras tak perduli dengan rasa nyeri akibat tulangnya terbentur benda yang keras. Nggak lucu kalau tiba-tiba ia berteriak kesakitan.
Jamal bersidekap mengamati gadis yang belum menghentikan tawanya. Benar-benar menyebalkan. Kalau dia pria, maka ia akan langsung melayangkan bogeman mentah yang bisa saja merontokkan deretan gigi-gigi itu. Karena tawa itu tak kunjung berhenti, Jamal bertambah kesal. Ia menarik rambut kuncir kuda itu dengan cukup keras membuat sang empu hampir terjungkal.
Melihat orang yang ada di depannya Anggun terdiam. Sial. Ia benar-benar tak bisa mengontrol tawanya. Mengingat namanya saja bisa membuatnya mati konyol karena terlalu lama tertawa.
"Halo Jamaluddin." Sapa Anggun masih menahan tawa.
Jamal mengepalkan tangannya emosi. Gadis jadi-jadian ini begitu menguji kesabarannya. Terlalu kuat mengepalkan tangan, membuat tangannya memutih.
"Panggil gue Jack."
"Huh? Jack? Nama lo kan Jamaluddin? Jack darimananya?"
"Tinggal panggil gue Jack,sialan!"
"Lho, kok lo malah ngatain gue. Kan gue nanya! Lagian nama lo kan emang Jamaluddin. Kenapa marah waktu gue panggil Jamaluddin?"
Perkataan Anggun ada benarnya juga. Tapi, Jamal benar-benar tak menyukai nama aslinya sendiri. Emosinya akan meledak-ledak hanya karena orang lain menyebut nama aslinya. Hal itu membuat semua orang memilih menuruti perkataan Jamal agar memanggilnya dengan sebutan nama Jack.
"Lo tuh jadi cewek gak usah nyebelin bisa? Tinggal panggil gue Jack doang, apa susahnya si?"
"Kalau gue gak mau gimana? Emangnya lo siapa ngatur-atur gue. Lagian kita baru ketemu dua kali. Udah minggir sono, gue mau duduk. Tidur enak kali ahh, pelajaran kosong begini."
Gadis itu dengan seenak jidat meninggalkan Jamal yang masih termangu. Lagi-lagi Jamal dibuat emosi oleh gadis yang berbuat seenaknya. Mungkin ini yang dirasakan oleh guru mereka saat Jamal tak menuruti segala ucapannya. Benar-benar menyebalkan.
.....
Beberapa saat berlalu. Jamal menyusul Anggun menduduki kursinya. Ia melihat Anggun sudah menempatkan kepalanya di atas meja. Sepertinya rencana gadis itu untuk tidur benar-benar dilaksanakan. Jamal mendengus, dengan terpaksa ia mendudukan bokongnya di samping gadis itu. Ia mengamati gadis aneh di sampingnya. Ia berdecih,
"Cih, lagian nih cewek gak ada kelebihan sama sekali. Cantik juga enggak. Pinter paling juga enggak udah keliatan dari muka gembelnya. Yang ada cuma punya mulut mercon yang bikin telinga sakit."
Anggun yang mendengar celotehan tak berguna Jamal merasa terusik. Apa-apaan anak itu. Lelaki aneh ini diam-diam menjelek-jelekkan dirinya. Sok sempurna sekali. Anggun membuka matanya kesal. Ia menatap Jamal sengit. Sedangkan yang ditatap hanya mengernyitkan alisnya heran. Seakan bertanya, "Apa?"
"Lo jadi cowok kok nyebelin banget si? Lemes. Bahkan cewek aja kalah sama mulut lo! Suka banget ya jelek-jelekin gue di belakang! Lo juga gak ada kelebihan. Lagian apa si yang bisa dibanggain dari diri lo?"
Jamal menghela nafas. Gadis ini yang mengibarkan bendera perang terlebih dahulu, tak merasa bersalah sama sekali. Jamal memilih diam, daripada harus mendengar ucapan yang memekakan telinga itu. Ia masih menjaga kesehatan jasmani dan rohani telinganya.
"Udahlah, males gue denger suara cempreng lo. Udah sono tidur lagi, lo melek aja bikin keributan dunia!"
Anggun berdecih. Memilih tak menanggapi ucapan Jamal. Toh, ia tak mendapat keuntungan sama sekali.
....
Semua murid mulai berhamburan keluar dari gerbang sekolah. Bersorak ria karena sudah terbebas dari tempat yang menurut mereka layaknya sebuah penjara. Mereka berdesak-desakan menginginkan keluar terlebih dahulu.
Sedangkan Anggun masih berdiri di depan kelasnya. Ia masih menyayangi tubuhnya sendiri. Ia tak mau tubuhnya remuk akibat berdesakan.
Jamal yang melihat Anggun masih berdiri di depan kelas berinisiatif untuk menghampirinya.
"Ngapain lo disini?" Tanya Jamal.
"Lo punya mata kan? Harusnya lo tahu apa yang gue lakuin tanpa bertanya."
"Cewek itu lemah lembut. Pinter dandan. Cantik. Lah elo? Gak mencerminkan cewek sama sekali. Bringas. Kayak preman pasar."
"Dih. Gue nggak butuh validasi dari lo, kalau gue cewek. Jadi lo nggak perlu repot-repot komentarin hidup gue."
"Lagian yang komentarin lo itu siapa? Gue cuma ngasih tau kalau cewek itu lemah lembut sama pinter dandan gitu doang."
"Yang ngatain gue kayak preman siapa? Lo kan? Gak usah pura-pura lupa deh."
"Yang gue ucapin itu benar adanya. Lo tuh jadi cewek kayak preman pasar. Bringas sekali. Gue yakin gak ada cowok yang mau deketin lo. Mereka insecure duluan. Mereka bisa aja kalah bringas sama lo sebagai cowoknya."
"Bodoh amat, gue nggak peduli. Ini hidup gue. Jadi suka-suka gue mau bertingkah kayak apa. Mau berpenampilan kayak apa, juga bukan urusan lo. Lagian gue masih bisa hidup bahagia tanpa harus ada cowok di samping gue. Cowok yang berguna itu jarang."
"Ohh.. Jadi ceritanya lo ngerendahin cowok nih? Pede banget si, cewek kayak lo nggak usah sok tau tentang cowok deh."
"Apa? Nggak terima? Lo punya kaca kan di rumah? Atau lo bisa ngaca noh di depan jendela kelas. Bercermin! Lo udah berguna belum?"
"Emangnya lo siapa seenak jidat nyuruh-nyuruh gue? Ogah."
Anggun hanya berdecih. Sebal sekali harus berhadapan dengan lelaki aneh di sebelahnya ini. Begitu menguras emosi. Ia harus segera mengecek rambut hitamnya. Barangkali ada yang memutih akibat terlalu sering menahan emosi.
Tanpa berkata-kata Anggun langsung meninggalkan Jamal dari tempatnya. Menanggapi celotehan Jamal hanya menguras tenaga saja. Ia melangkahkan kaki lebar-lebar. Ingin segera menjauh dari lelaki itu. Dengan bersungut-sungut Anggun memberhentikan angkutan umum yang terlihat di depannya.
Huft, hari pertama masuk sekolah baru tak berjalan mulus seperti yang ia kira. Hanya satu yang penyebabnya. Jamaluddin. Jika sebelumnya ia akan terbahak-bahak mengingat namanya sekarang ia hanya bisa mendengus geram. Jika HAM dan hukum tak berjalan. Ia ingin sekali mencabik-cabik tubuh Jamal sampai menjadi ratusan potong. Potongan mayat itu akan ia berikan kepada hewan buas. Atau, ia akan menjual organ tubuh Jamal. Lumayan, ia bisa mendapatkan uang dengan mudah. Ck.
Anggun menggelengkan kepalanya ribut. Pikiran macam apa itu? Sepertinya otaknya harus segera diperbaiki. Otaknya benar-benar sudah rusak. Bagaimana bisa m memikirkan hal absurd seperti itu? Mengerikan. Ia bergedik ngeri sendiri. Ia jadi bertanya-tanya. Jangan-jangan dia sebenarnya adalah seorang psychopath, atau bisa jadi Sociopath? Amit-amit, ia masih punya hati untuk menyakiti makhluk hidup lainnya. Ia juga masih merasa mual ketika melihat darah, bukan merasa bahagia dan puas.
"Bang berhenti bang!"
Anggun keluar, kemudian ia memberikan selembar uang dua ribu rupiah. Tarif angkutan umum bagi pelajar hanya setengahnya saja dari penumpang umum.
Ia berjalan menyusuri gang sempit menuju rumahnya. Kepalanya begitu pusing. Ia harus segera mendinginkan kepalanya. Ia rindu sekali dengan ranjangnya.
.....