Bab 2

"Jangan berani menyentuhku, Warren Cook!!"

Katharine menyurut dari pelukan pria.

Mengacungkan tangan kosong kepada pria saat ini posisi berdiri didepannya.

"Katharine! Aku Warren, sahabat dekat Alex Wolff." Pria itu mengulangi ucapannya

Matanya tidak lepas dari wajah Warren sebenarnya tampan dengan tubuh tegap dan bahu kekar. Sekilas dia terlihat sangat mirip dengan Alex Wolff, suaminya. Hanya saja penutup mata sebelah kanan membuatnya terlihat seram lebih mirip bajak laut.

Katharine tertawa dalam hati, dia merasa pria ini hanya ingin menghibur hatinya. "Bagaimana tidak, dia cacat di matanya mengaku sahabat suaminya. Jadi dia juga anggota Intai Batalyon amfibi (Yon Taifib)? Tidak mungkin!"

"Aku dan Al---"

"Alex...!!" Katharine tiba-tiba tersentak. "Aku... harus melihatnya sebelum mereka memakamkannya!"

Berlari ke halaman rumah dimana beberapa saat lalu dia masih menangisi jenazah Alex Wolff di dalam peti jenazah.

Katharine menghentikan langkahnya di pintu rumah dengan kepala tertunduk. Setelah menyapu seluruh halaman tidak menemukan sesiapa disana dengan netranya.

"Dimana Alex, suamiku?" tanyanya melemah.

" Aku akan membawamu ke pemakamannya, Katharine," sahut Warren menyentuh hangat kedua bahunya tepat berdiri di belakang punggungnya.

"Akhh!? Jadi maksudmu dia sudah dimakamkan tanpa keberadaan ku!?" berangnya menggertakkan gerahamnya.

Mengabaikan ocehan Warren Cook yang membuatnya hampir hilang waras.

"Iya, aku akan membawamu kesana." Warren Cook menyentuh hangat kedua tangan Katharine. Satu pelukan hangat merengkuh tubuh tidak berdaya dihadapannya.

"Apa kamu mengingat apa yang terjadi dalam dua hari ini?" tanya Warren menatap wajah wanita muda itu sedang kebingungan.

Katharine menggeleng lemah.

"Apa yang terjadi? Kenapa mereka tega melakukan pemakaman tanpa keberadaan ku?"

Butiran bening hangat berdesakan hendak menumpah dari sudut matanya.

Pasrah kepalanya terjatuh di dada bidang Warren. Tangannya berada di genggaman hangat tangan pria itu.

"Jelang pemakaman Alex kamu pingsan, Katharine," ucapnya tanpa melepas tatapannya di kedua bola mata janda muda dari sahabatnya.

Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari bibirnya. Mencoba mengulang kembali kejadian dua hari lalu.

"Shitt...! Aku tidak mengingatnya," gumamnya dengan gigi mengerat. "Bagaimana bisa aku pingsan berhari-hari?"

"Antar aku sekarang!"

Katharine menarik tangannya dari genggaman Warren. Tergesa menuju salah satu mobil miliknya di halaman rumah.

"Katharine...!"

Setengah berlari menghampiri menenteng jaket di tangan kanannya yang sengaja dia lepas dari punggungnya.

"Apa?" tanyanya ketus, urung masuk ke mobil.

"Baiknya kamu bersihkan diri dulu," katanya menutupi bagian belakang Katharine.

"Ap... apa!?" pekiknya menyentuh ujung gaunnya mengeras dengan bercak darah nifas.

Seketika wajahnya memerah dan berlari masuk ke rumah. Disusul Warren mengikutinya masuk.

"Kamu pergilah!" katanya menutupi tubuhnya dengan selimut yang dia lihat ada di sofa ruang tamu.

Tangannya bergetar hebat mencengkram ujung selimut di dadanya. Nafasnya memburu dengan langkah menyurut menjauh dari Warren. Malu.

"Apa yang kamu inginkan dariku, Warren Cook?!" tanyanya menyorot tajam wajah pria, tengah duduk santai di sofa dengan tawa kecilnya.

Menyadari hanya mereka berdua tinggal di rumah dinas suaminya yang terletak jauh dari pinggiran jalan besar dan sedikit sepi.

"Kenapa baru bertanya sekarang, Katharine?" Warren balik bertanya kali ini terlihat santai.

Mengangkat sebelah alisnya menatap wajah panik yang berdiri jarak satu setengah meter darinya.

"Siapa sebenarnya kamu!?" jerit Katharine semakin menyurut ke belakang menjauhi pria bernama Warren.

Katharine terpojok di sudut lemari kaca. Tangannya mencengkeram sisi lemari.

"Aku sudah mengatakannya berulang-ulang padamu, Katharine. Kamu mandilah, aku tunggu dalam mobil."

Seiring punggung pria itu menghilang di balik pintu

"Gilaa, kemana semua orang itu? Apa ini mimpi?"

Katharine menepuk kencang wajahnya.

"Auchh."

"Ini nyata," bisiknya terduduk dengan wajah bertumpu di kedua lututnya.

Nanar memandang ke depan dimana pria dengan bahu bidang sedang memunggunginya.

"Apa dia psikopat?" bathinnya menelan salivanya terasa berempedu.

"Dua hari bersamanya disini dan aku masih hidup?"

Lagi-lagi menelan salivanya semakin terasa pahit. Membawanya tubuhnya ke dalam kamar mandi.

Tangannya meraih shower untuk membersihkan tubuhnya.

"Katharine...!"

Suara berat yang telah akrab di telinganya beberapa saat ini, dari depan pintu kamar mandi.

Tidak ada sahutan dari dalam, cipratan air juga tidak terdengar di lantai kamar mandi.

"Katharine...!!" Suara pria itu kembali terdengar dengan nada cemas seiring ketukan keras di pintu kamar mandi.

Katharine mematung di belakang pintu dengan balutan kimono mandi.

"Kathar---"

Gantian Warren menelan salivanya berpapasan dengan wanita cantik, baru saja membuka pintu kamar mandi.

Membawa langkahnya ke kamar dimana Warren Cook memeluknya tadi.

Katharine menghela nafas panjang sebelum kembali menemui Warren di ruang tamu.

"Katharine..." bisiknya tidak bisa menahan rasa kagumnya dengan kecantikan wanita yang baru saja menyandang status janda muda.

"Antar aku ke makam Alex," katanya mendahului Warren yang terus memelototinya.

Sepanjang perjalanan menuju makam Alex Wolff, yang dimakamkan di makam pahlawan negara. Katharine larut dalam pikirannya.

Butiran bening hangat tidak berhenti menetes ketika dia berada di rumah peristirahatan terakhir Alex Wolff, suaminya.

"Kamu tidak mengenal Keanu Wolf, kan?" bisiknya memeluk gundukan tanah merah penuh taburan kelopak bunga yang telah layu bahkan sebagian sudah menghitam.

Warren turut merungguh disamping Katharine.

"Mari kita pulang, biarkan dia tenang disana," bisiknya seperti pada umumnya orang-orang mengatakan itu untuk menghibur seseorang yang kehilangan.

Katharine melepas pelukannya dari batu nisan bertuliskan nama 'Alex Wolff, gugur sebagai pahlawan negara'.

"Aku akan menemuimu kembali," bisiknya meninggalkan tempat itu.

***

"Apa sebenarnya mau mu, Warren Cook?"

Katharine membuang muka lewat kaca mobil sedikit buram.

"Kita ke rumah sakit, ya!" ajak Warren mengabaikan pertanyaan Katharine.

"Hmm..."

Katharine memejamkan matanya tanpa membantah. Dadanya semakin menyesak tatkala ingin bertemu buah cintanya dengan Alex Wolff.

"Aku ingin bertemu dengan pimpinan suamiku. Apa kamu bisa membantu ku?"

Tanpa menunggu jawaban Warren, dia meninggalkan pria itu disana. Kakinya menyeret ke ruangan dimana putranya berada.

"Apa Nyonya Katharine yakin bisa merawat Keanu Wolff?"

Perawat yang menjaga putranya sedikit mengkhawatirkan keadaan ibu dari Keanu saat ini.

"Ehmm..."

Sekilas perawat wanita itu menoleh kepada pria baru saja berdiri di belakang Katharine.

Ingin memastikan bahwa Katharine tidak dalam keadaan depresi.

"Kami akan membawanya pulang. Urus surat kepulangannya," kata Warren tegas seraya meletakkan tangannya mesra di bahu Katharine.

"Maaf, bapak siapanya Nyonya Katharine?"

Perawat wanita itu ingin memastikan bahwa dia tidak salah menyerahkan Keanu Wolff

"Saya dari pihak kemiliteran yang bertugas menjaga Nyonya Katharine selama beberapa bulan ke depan," jawabnya menunjukkan identitas dan surat tugas resmi dari perwira tinggi TNI AD.

Sekilas Katharine melirik lembaran kertas di atas meja sebelum berpindah ke wajah Warren Cook.

"Dia benar salah satu anggota Intai Batalyon amfibi Yon Taifib?" gumamnya tidak percaya, kedua bola matanya melotot hampir keluar dari kelopaknya.

"Nama yang gagah."

Warren Cook meletakkan tangannya di puncak kepala Keanu Wolff dengan raut wajah bahagia.

"Aku akan menggantikan ayahmu!"

"What??"

***

Bab 3

"Jaga bicaramu, Warren!!" bentak Katharine tidak menyukai ucapan lancang pria yang diperintahkan atasan suaminya untuk menjaganya dengan Keanu.

Katharine menghempas kuat pintu kamarnya sebagai isyarat hatinya kesal setelah mendengar itu.

"Maafin aku Katharine, aku cuma bercanda." Terdengar suara Warren dengan nada memelas dari depan pintu kamar.

Lama tidak mendengar sahutan dari dalam, pria itu membuka pintu kamar.

"Astaganaga...!!"

Matanya melotot tajam seraya meneguk salivanya yang berteluk seketika di pangkal lidahnya. Melihat pemandangan seumur-umur belum pernah dia lihat.

"Aakhh!?" pekik Katharine menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya dari ganasnya tatapan netra violet milik Warren.

Jemarinya cekatan menarik baju dari lipatan kain sedikit berantakan dalam lemari klasik.

"Keluar...!!" jeritnya menunjuk kasar ke arah Warren yang tidak berkutik dari tempatnya.

"Menikahlah denganku! Aku berjanji akan membahagiakan mu," ucapnya tidak berperasaan.Entah setan apa yang merasuki pikirannya.

Warren mendekati Katharine, berdiri begitu dekat dengan janda sahabatnya itu.

"Dasar psikopat!! Pergii.. !" jeritnya mendorong Warren keluar kamarnya.

Namun tenaganya hanya sepersekian dari tenaga pria bertubuh tegap. Dia pasrah harus terjatuh di dada bidang Warren.

"Aku sudah lama jatuh hati padamu, Katharine," bisiknya begitu dekat di telinga Katharine. Desahan nafasnya terasa hangat menerobos gendang telinganya.

"Rasanya aku merindukan ini," bathinnya mencengkram kuat lengan Warren.

"Alex kerap melakukan ini." bisiknya semakin hanyut dengan kehangatan Warren Cook.

Memejamkan mata menikmati setiap desahan nafas pria itu. Tangan yang mencengkram kuat pinggang rampingnya mampu menggetarkan seluruh saraf tubuhnya.

"Apa kamu tidak ingin bertanya, Katharine?" tanya Warren menyadarkan wanita yang terlena dalam pelukannya.

Membantunya menarik selimut yang melorot di ujung kakinya, menutupi kembali tubuh polos wanita itu.

"Lepasin!!" ucapnya terengah-engah.

Sekilas netranya melirik Keanu Wolff yang tidak terusik dengan adegan hangat kayaknya di film-film Hollywood dalam ruangan itu.

"Apa penting aku menanyakan itu?" tanya Katharine mengenakan pakaiannya dengan berani di depan Warren.

Bagaimanapun pria itu sudah melihat tubuhnya beberapa hari ini. Bahkan mengganti pembalutnya di masa nifas, ketika katanya dia pingsan selama dua hari.

"Ambilkan pembalut itu, Warren!" katanya menunjuk bungkusan berwarna biru tua didalam keranjang baju di sudut kamar.

Tanpa bertanya karena kebingungan dengan nama barang pribadi kaum hawa, tangannya gesit memberikan dua helai ke tangan Katharine.

"Pakai double aja," ujarnya segera keluar kamar.

Katharine ngedumel dalam hati. "Shitt... tahu pula dia!!"

Merapikan pakaiannya sebelum dia menyusul keluar dari kamar.

Katharine sedikit terhibur dengan keberadaan pria asing bin aneh dalam rumahnya.

Tiga hari setelah kematian Alex Wolff, bibirnya mampu tersenyum manis dan merasakan kehangatan dari Warren. Dia juga tidak merasakan sunyi nya kesendirian seperti beberapa bulan terakhir ketika Alex Wolff harus bertugas di negara lain.

"Jika kamu benar salah satu anggota Intai Batalyon amfibi (Yon Taifib) dan sahabat dari suamiku. Bawa aku menghadap perwira tinggi."

Katharine ingin mengorek informasi pria asing dihadapannya.

"Maaf, untuk hal ini aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Kamu telah melanggar undang-undang kemiliteran, Katharine."

Warren mencoba bersikap tenang, terlebih mempersiapkan diri kalau-kalau wanita cantik itu melakukan penyerangan. Sama seperti yang dia lakukan di acara pemakaman Alex Wolff, suaminya.

Katharine terpaksa dilumpuhkan dengan suntikan untuk memperlancar prosesi pemakaman Alex.

"Kenapa tidak bisa? Atau hanya alasan kamu saja mengatakan aku melanggar undang-undang kemiliteran?"

Katharine memaksakan tawanya, terdengar mengejek pria malah menuduhnya bersalah.

"Perwira tinggi saat ini berada di rumah sakit military diperbatasan Ukraina."

Warren terpaksa membuat alasan. Percuma juga berdebat dengan Katharine yang mengalami depresi berat.

"Apa yang ingin kamu katakan kepada bapak Perwira tinggi? Nanti aku sampaikan."

Warren mengangkat wajahnya angkuh.

"Kamu tidak perlu tahu. Ini urusan ku dengannya!"

Katharine merasa Warren membuat alasan menghalanginya bertemu dengan pimpinan suaminya. Padahal semasa hidup Alex Wolff, dia sangat dekat dengan keluarga Perwira tinggi.

"Atau kamu memang benar psikopat yang mengaku sahabat suamiku!!" katanya dengan nada meninggi.

Warren menelan salivanya. Untuk pertama kalinya dia tidak berkutik didepan Katharine. Jauh sebelumnya, Warren adalah pria pembangkang dan keras kepala bahkan selama dua tahun kedepan dia ditugaskan untuk mengawasi keluarga Alex Wolff karena dia lalai menjalankan tugas untuk melindungi Alex di medan tempur.

"Kathari--"

Ucapannya terputus.

"Kalau kamu tidak bisa membawanya kemari, aku sendiri yang menemuinya!" ucapnya mengancam Warren.

Katharine ingin menemui Perwira tinggi, terkait pemakaman suami nya itu tidak memiliki video shooting sebagai dokumentasi kenangan buat Keanu Wolff; putra Alex Wolff.

"Katharine, dengarkan aku!" kata Warren mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Katharine.

Sejenak menghela nafas panjang sebelum kembali melanjutkan ucapannya.

"Aku tidak tahu memulainya darimana, tapi untuk saat ini Perwira tinggi tidak menerima tamu."

Warren masih ragu untuk mengatakan kondisi Perwira tinggi saat ini.

"Hakkhh!! Lucu sekali, Warren! Jadi kamu ditugaskan dirumah ini memintaku untuk tidak menuntut Perwira tinggi itu?"

Katharine memanas, dia merasa kematian suaminya seperti tidak dihargai.

"Aku hanya menginginkan dokumentasi video. Ck... ck..!! Sekarang juga kamu keluar dari rumah ini, Warren!? Aku tidak perduli kamu disuruh siapa?"

"Katharine!? Jaga bicaramu!!" hardik Warren menarik tangan Katharine sengaja menjatuhkannya dalam pelukannya.

"Kamu yang membuat bapak Perwira melakukan itu!" ucap Warren menurunkan nada suaranya, terdengar gertakan keras dari giginya.

Katharine tertegun mendengar ucapan Warren, segera menarik tubuhnya dari pelukan Warren.

"Apa yang aku lakukan?" tanyanya penasaran. Netra nya lekat di wajah Warren.

"Kamu memukul kepala bapak Perwira dengan martil. Dan sekarang beliau masih menjalani perawatan di rumah sakit. Dia menyuruh membuang hasil video shooting untuk membersihkan namamu di depan publik."

Warren meremas kedua telapak tangannya, menatap kosong ke depan.

"Bodohnya lagi, aku mau mengorbankan diri untuk melindungimu."

Warren menundukkan wajahnya.

Katharine membungkam dan memaksa memori otaknya mengingat kejadian itu. Nihil. Tak satupun yang dia ingat.

"Kamu bercanda 'kan?" tanyanya tertawa kecil. "Aku seorang akuntan terkenal, tak satu angka dan huruf pun bisa lepas dari ingatanku, Warren!"

Katharine tidak mudah percaya dengan ocehan Warren. Yang kehadirannya masih misteri buatnya.

"Akan lebih baik jika kamu tidak mengingatnya, Katharine."

Warren tersenyum kecut memandang wajah cantik milik janda muda di sampingnya.

Dia mengerti kondisi kejiwaan Katharine saat ini. Masih depresi.

"Kamu pikir aku sudah gila, melakukan itu pada Perwira tinggi?" Katharine tertawa kecil. " Aku hanya kehilangan suamiku bukan hilang waras, Warren."

Katharine membuat jarak duduk dengan Warren.

"Apa yang kamu korbankan? Dan kenapa kamu mau melakukan itu, Warren Cook?"

Warren lagi-lagi menelan salivanya, jiwa pemberontaknya meronta-ronta namun dia berusaha menguasai emosinya.

"Aku ingin melindungi istri dan putra sahabatku. Mungkin kondisinya saat ini membutuhkan kehangatan dan kasih sayang ..."

"Maka itu mengajak ku menikah?" potong Katharine lantang, serasa pria di hadapannya tidak lebih dari seorang pelayan.

Wajah Warren seketika memerah, emosinya mencapai ubun-ubun. Ingin rasanya menampar wanita yang tidak menghargainya.

"Katharine, kamu ..."

Untuk pertama kalinya Warren meneteskan airmata. Mencengkram erat pinggang rampingnya dan membawanya ke pelukannya.

"Aku mencintaimu! Tidak perduli kamu lagi masa nifas, jika aku ingin memperk*s* mu saat ini sah-sah saja. Turunkan nada suaramu saat berbicara denganku dan mulai menghormati ku, sayang," katanya menautkan bibirnya lembut di kulit wajah Katharine.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED