"Tiara!"
Leo, Farel, dan Siska mereka berlari ke arah Tiara yang terduduk di tengah-tengah ballroom. Keadaan yang berantakan, membuat mereka cemas pada Tiara sekarang. Hancur sudah hati Tiara setelah pernikahannya batal, lamarannya pun di tolak.
Ya, pria yang baru saja diajaknya menikah malah menolaknya, padahal Tiara hanya ingin meminjam pria itu untuk menyelamatkan pernikahannya yang akan memberikan kompensasi, tetapi tidak ada waktu bagi Tiara mengatakannya apalagi sampai mendatangi surat kontrak disaat seperti itu. Dan semuanya gagal, pernikahan memang harus batal.
Kini Tiara menjadi bahan gunjingan semua orang, dan pernikahannya menjadi berita terhangat di seluruh dunia.
Leo dan Siska membawa Tiara ke dalam kamar hotel, gadis itu pasti masih syok, dan Farel mencoba untuk menahan reporter yang kekeh ingin mewawancarai Tiara. Kejadian itu sangat heboh karena Tiara orang yang paling digemari, suaranya yang bagus dan aktingnya yang memukau membuat masyarakat menyukainya. Namun, tidak sedikit para artis lain yang iri dan sekarang tertawa melihat kejadian itu. Apalagi Damian, merupakan produser besar yang disukai banyak aktris.
Pernikahan batal, tidak ada dalam kamus hidupnya. Selama berpacaran Tiara dan Damian baik-baik saja bahkan mereka membina hubungan selama 5 tahun, tapi tiba-tiba Damian pergi di hari pernikahannya.
"Bagaimana keadaan Tiara?" tanya Farel, wajahnya begitu mencemaskan Tiara.
"Sepertinya dia syok," jawab Leo yang meratapi nasib majikannya. Mereka semua tidak pernah ada yang menduga jika pernikahan itu bisa batal, dan mereka belum mengetahui alasan apa Damian harus pergi.
"Biarkan Tiara tenang dulu. Jangan ganggu dia, dan jangan biarkan dia membuka handphone atau menonton TV karena pernikahannya yang batal masih menjadi topik terhangat saat ini."
"Ya, ini pasti berat baginya."
"Seharusnya aku menemukan bajingan itu."
Farel, sebagai manajer sangat kesal dan akan berusaha untuk menutup kasus itu dan membatalkan semua scejule Tiara. Mereka semua sedih, melihat Tiara seolah kehilangan jati dirinya. Tiara tidak melakukan apa pun selain berdiam diri dan melamun.
Di hotel yang sama, riuhnya tepuk tangan dari para tamu, klien, investor, dan owner semua para petinggi konglomerat, pengusaha ternama berada dalam satu ruangan, mereka bertepuk tangan untuk seorang pria yang baru saja mendapat penghargaan sebagai CEO terbaik.
"Nataniel Gionino Atmaja!"
Ketika nama itu di panggil seorang pria berparas tampan, dengan tukxedo berwarna navy dan celana yang senada membuatnya begitu menawan. Melangkah ke atas podium untuk mengambil penghargaan yang kadang membuat para CEO lain cemburu. Karena setiap tahunnya Gio tidak pernah melepaskan piala perak itu kepada orang lain.
"Terima kasih."
Hanya itu yang Gio katakan, pria itu tidak suka bicara panjang lebar apalagi harus berpidato yang hanya membuang waktu. Gio turun dari atas podium yang langsung pergi meninggalkan ruangan. Diikuti Nico sang asisten yang tidak kalah mempesona. Mereka berdua bagaikan malaikat yang turun dari langit.
Tingkahnya memang menyebalkan, mereka pergi sebelum acara selesai, tapi memang seperti itulah Gio, bukan sombong tetapi pria itu tidak suka acara pesta dan keramaian, yang disukainya hanyalah menyendiri, bersantai di tepi danau, menghirup udara segar seraya menikmati keindahan alam di atas puncak.
Gio, pria yang introvert, tidak terlalu terbuka walau itu dengan keluarganya.
"Ah, akhirnya selesai juga. 15 menit bagiku waktu yang sangat lama." Gio berkata seraya menyandarkan tubuhnya pada dinding kursi. Pria itu merasa lelah harus berpura-pura tersenyum seraya berdiri di atas podium, itu hal yang paling tidak dia sukai.
"Tapi dirimu sangat keren tadi. Semua orang terpana melihatmu apalagi Tuan Lucas," ujar Nico setelah duduk di bagian kemudi.
"Kau benar Nico. Aku suka melihat ekspresi wajahnya itu." Gio tersenyum, seperti sedang membayangkan wajah Lucas yang entah seperti apa ekspresi wajahnya saat itu.
"Tapi aku masih kesal. Kamu ingat gadis itu? Beraninya dia melamarku di tempat seperti itu, dia pikir aku tidak bisa mencari wanita. Aku idola semua wanita, wanita macam apa pun akan aku dapatkan. Tapi gadis itu sudah menghinaku, dan itu semua karena kamu Nico!"
"Maaf Tuan muda. Aku salah masuk ruangan."
Ya, semua yang telah terjadi itu kesalahpahaman. Gio ingin menghadiri perayaan penghargaan malah salah memasuki ruangan dan membuatnya bertemu dengan gadis gila. Gio menganggap Tiara gila karena sudah mengajaknya menikah begitu saja. Tentu saja pria itu akan menolak, Gio tidak pernah suka berhubungan dengan orang yang tidak jelas sudut pandangnya, wanita ... baginya sangat mudah mencari wanita hanya dengan satu panggilan saja wanita mana pun dan seperti apa pun akan datang menghampirinya.
"Aku maafkan kali ini."
Senyum Nico mengembang setelah mendengar perintah bosnya. Nico melajukan mobilnya meninggalkan hotel yang menuju mansion mewah. Gio segera turun ketika tiba di depan teras, yang disambut beberapa pelayan. Pria itu langsung berlari ke dalam sudah tidak sabar untuk menemui neneknya.
"Nenek!" teriaknya begitu menggema. Ruangan yang sangat luas, terdapat beberapa lorong dan tangga untuk menemui wanita terkasihnya itu. Sukma, wanita itu asyik menonton siaran televisi di dalam kamarnya tanpa menghiraukan Gio yang sudah membuka pintunya.
Gio hanya tersenyum melihat kebiasaan neneknya itu.
"Nenek," panggilnya yang berjalan ke arah Sukma.
"Gio cucuku! Ayo kemarilah, temani Nenek nonton. Nenek sangat kesal sekali, Fatiah gadis itu sangat licik."
"Fatiah?" Gio terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengerti, jika itu nama salah satu yang ada dalam drama kesukaannya.
"Nenek berhentilah memikirkan Fatiah yang licik. Jangan ditonton lagi jika kesal."
"Ah, kau ini. Jika tidak menonton Nenek pasti ketinggalan update terbarunya, Nenek tidak suka itu."
"Kalau Nenek menyukainya kenapa mengumpat?"
"Nenek bilang kesal. Sudahlah kau tidak akan mengerti, makanya cepatlah menikah supaya Nenek mempunyai teman saat menonton."
"Apa hubungannya dengan menikah?"
"Tentu ada hubungannya, karena hanya dengan wanitalah yang tahu cerita drama, mereka akan sangat mengkhayati dan penuh perasaan, itu sebabnya kau tidak cocok menemani Nenek menonton. Kau terus saja mengomel." Sukma merajuk.
"Baiklah Nenek, sekarang lupakanlah Fatiah, Gio punya sesuatu untuk Nenek."
"Apa? Piala lagi?"
"Ya, Nenek kenapa tahu?"
"Karena Nenek yakin tidak ada yang bisa mengalahkanmu."
"Wah! Nenekku yang terbaik."
Gio memeluk Sukma yang tersenyum hangat padanya, mereka saling memeluk satu sama lain. Hanya kepada Sukmalah Gio terbuka, dan hanya Sukmalah yang mengerti keinginan Gio. Kasih sayang Sukma kadang membuat iri putranya yang lain.
Dulu, saat Sukma mengangkat Gio sebagi CEO Atmaja grup, keputusannya mengundang pro-kontra antara putranya dan cucunya. Anjaya Putra Atmaja dan putrinya Sarah Atmaja. Sukma lebih memilih Gio dibanding putranya sendiri Anjaya sangat keberatan karena Gio hanyalah cucu dari Radian Atmaja adiknya yang sudah meninggal, Anjaya pikir setelah kepergian Radian dia yang akan memiliki kekuasaan terhadap Atmaja Grup, Sukma pasti memberikan kekuasaannya pada Jaya tetapi, Gio menjadi penghalang. Ibunya lebih menyayangi cucunya di banding putranya.
"Kau kalah lagi?"
Anjaya menyandarkan tubuhnya pada kursi mengabaikan pertanyaan dari istrinya. Melihat ekspresi wajah Anjaya Viona sudah menduga suaminya pasti kalah lagi dari keponakannya.
"Anak itu memang sangat hebat, dia selalu mengalahkanmu."
"Apa kau tidak mempercayaiku?" Tatap Anjaya tajam. Viona baru saja meremehkannya.
Wanita itu hanya tersenyum. "Jika seperti ini kamu tidak akan bisa menjadi komisaris Atmaja Grup," sambung Viona yang memeluk Anjaya dari belakang.
"Lihat saja nanti, aku yang akan menjadi komisaris saat pemilihan nanti. Aku tidak akan kalah lagi dengan bocah ingusan seperti dia," janji Anjaya mengepalkan tangannya kuat.
Kembali lagi pada Gio, pria itu tercengang saat melihat sebuah iklan di TV. Saking terkejutnya Gio sampai tidak berkata yang melepas pelukan pada neneknya. Melihat perlakuan cucunya yang aneh Sukma mengikuti ke mana arah tatapan Gio, ternyata pria itu sedang melihat wanita dalam iklan body wosh pantai saja matanya tidak berkedip.
"Matamu tidak berkedip, apa kau tertarik?"
"Tidak, tapi Sepertinya aku pernah melihat wajahnya." Gio kembali mengingat gadis gila yang melamarnya hari ini. Gadis itu sangat mirip dengan yang ada di TV.
"Tentu saja semua orang mengenalnya. Dia artis terkenal tidak ada yang tidak mengenalnya di sini. Nenek pun sangat menyukainya."
"Tentu saja karena Nenek penggemar drama, " sanggah Gio menatap Sukma.
"Kalau kamu menyukainya Nenek akan hubungi manajernya. Kamu mau Nenek atur jadwal kencannya?"
"Nenek mulai lagi." Entah kenapa Gio malas membicarakan tentang kencan. Tapi tidak dengan Sukma yang selalu saja membahas pernikahan, berkali-kali Sukma mengatur jadwal kencan untuk Gio tapi Gio selalu tidak hadir, pria itu hampir menolak semua wanita.
Gio tidaK tahu Tiara seorang publik figure, dan gadis yang dianggapnya gila adalah Tiara. Tiara menjadi gila karena pria b*jingan itu. Tiara gadis pertama yang ia benci, yang menghinanya di tempat umum. Dan Tiara wanita pertama yang menghantui pikirannya. Bayangan Tiara terus saja muncul dibenaknya.
"Kenapa aku terus memikirkannya," ungkapnya setelah bangun dari rendaman air hangatnya. Gio menyudahi mandi malamnya berjalan ke luar kamar mandi.
"Kenapa aku terus saja memikirkan gadis gila itu," gumamnya lagi.
Deringan ponsel membuyarkan lamunannya, Gio berjalan ke arah ranjang di mana benda pipih itu tersimpan. Dijawabnya panggilan dari Nico, sang asisten itu selalu menganggunya.
"Ada apa?" tanya Gio demikian.
"Bos, kau harus lihat video yang baru aku kirimkan. Gadis itu ternyata ...,"ucap Nico tertahan karena Gio menutup panggilan itu. Yang segera membuka video yang Nico kirimkan.
Kejadian tadi pagi di hotel, menjadi perbincangan hangat dan sudah tersebar di internet. Pernikahan yang batal sang mempelai pria pergi dengan wanita lain, foto pernikahan Damian dan Karina juga sudah tersebar. Kini semua menyudutkan Tiara ada yang bersedih, ada pula yang berkomentar kejam mereka bilang Tiara terlalu percaya diri. Dan tingkahnya yang melamar Gio merendahkan reputasi Tiara.
"Dia terlalu percaya diri, sungguh tindakan yang merendahkan."
"Apa seputus asanya dia sampai harus melamar seorang tamu dan lebih parahnya tamu itu menolaknya. Jika itu pernikahanku akan ku biarkan saja."
"Mungkin Tiara tidak mau rugi. Pesta yang digelarkan sangat mewah."
"Mungkin saja pria itu seorang produser juga, jadi bisa membayar kerugian pestanya. Sungguh memalukan."
Gio melempar ponselnya ke atas ranjang, pria itu tidak sanggup membaca komentar-komentar pedas itu. Gio merasa bersalah saat ini. Pria itu pun mulai mencari informasi tentang Tiara di internet, ternyata Tiara gadis yang hebat dan berbakat.
"Jadi yang di TV itu ... ah sial! kenapa aku harus terlibat dengannya."
Tiara pun tidak pernah ingin terlibat. Gadis itu terpaksa melakukannya. Kini tidak ada lagi orang yang dipercayainya selain dirinya sendiri. Tiara pergi meninggalkan hotel mencemaskan Farel, Leo, dan Siska. Tiara pergi tanpa memberitahu mereka semua kini mereka panik dan mencarinya.
"Ponselnya tidak aktif."
"Cepat cari dia! Hubungi teman dan keluarganya."
"Iya baik. Aku hubungi Alena."
Kehilangan Tiara membuat ibu tiri dan adiknya bahagia. Alena sangat senang jika kakaknya itu pergi bila perlu mati, supaya tidak ada yang menyainginya dalam karier. "Mama aku punya kabar bahagia!" teriaknya pada Arini.
"Apa?" Arini sangat tidak sabar mendengar kabar bahagia itu dari putrinya.
"Tiara hilang!" teriak Alena dengan riang tetapi Arini malah cemberut seolah tidak senang. "Mama kenapa tidak senang?"
"Mama pikir dia bunuh diri, itu lebih bagus."
"Wah! Mama kau sangat kejam."
"Jika hanya hilang nanti juga ketemu lagi, kalau mati ... dia tidak akan kembali."
"Mungkin setelah ini Mama, Tiara menghilang dia depresi lalu ..." Alena dan Arini saling menatap, senyumnya mengembang seketika. "Bunuh diri," sambung keduanya.
Ibu dan anak itu sepertinya senang melihat penderitan Tiara dan sangat mengharapkan kematiannya, sungguh sangat kejam. Bi Nun yang mendengarnya sangat kesal, tetapi iman Tiara tidak selemah itu yang akan bunuh diri setelah dikhianati seakan roda hidupnya berhenti berputar.
Saat ini Tiara hanya butuh waktu sendiri, di sisi pantai yang sepi gadis itu duduk sendirian tanpa selimut atau baju hangat angin laut tidak terasa dingin baginya, padahal bibirnya sudah menggigil. Entah, apa yang gadis itu cari tatapannya begitu kosong menatap ombak yang semakin naik di malam hari. Air matanya terus saja berlinang sedetik kemudian tangisannya semakin terdengar, punggungnya gemetar hebat hingga menggetarkan seluruh tubuhnya.
"Berhentilah menangis!"
Tiara menoleh pada seorang pria yang baru saja bicara. Gio berdiri tepat di belakangnya, Tiara cukup terkejut melihat pria yang diajaknya menikah ada di sana. Berulangkali Tiara mengucek matanya ingin memastikan apa itu pria yang sama dan ternyata benar. Namun, kenapa Gio ada di sana.
"Jangan bilang aku mengikutimu," ujar Gio seolah tahu apa yang dipikirkan Tiara. "Aku tidak sengaja melintas, dan melihatmu di sini. Apa kau sedepresi itu karena sudah aku tolak?"
Tiara membelalakkan matanya, mulutnya menganga lebar tidak percaya dengan semua perkataan Gio. Bisa-bisanya mengatakan dia depresi karenanya.
"Apa kau bilang? Depresi ... jika pun aku depresi itu bukan karenamu mengerti!" Tunjuk Tiara dengan kesal.
"Syukurlah, aku pikir kamu depresi karena aku tolak. Kamu tidak berniat untuk bunuh diri, kan? Menenggelamkan diri ke lautan jika itu terjadi ... aku tidak akan bisa memaafkan diriku."
"Kau pikir hanya satu-satunya kau di dunia ini?" tanya Tiara dengan nada tinggi.
"Kalau bukan, kenapa kau melamarku?"
"Aish! Menyebalkan sekali," gumam Tiara lalu pergi meninggalkan Gio.
Tiara benar-benar tidak bisa menjelaskan. Tadi itu terpaksa entah mendesak, dan kenapa dirinya harus memilih pria itu di antara banyaknya tamu undangan. Tiara bisa saja memilih Farel manajernya untuk menggantikan Damian, tapi gadis itu malah memilih Gio yang tidak dikenalnya sama sekali.
"Hei tunggu! Kau tidak akan bunuh diri, kan?"
"Ah sial! Kenapa pria itu terus megikutiku." Tiara terus menggerutu sepanjang langkahnya dan kenapa Gio terus saja mengejarnya. Tiara lelah hingga ia berhenti dan berbalik pada Gio.
"Maaf, tadi itu salah paham aku terpaksa melakukannya," ucap Tiara demikian.
"Apa karena kekasihmu itu?" tanya Gio. "Siapa namanya ... Damian! Ya, aku masih ingat pria itu kabur dari pernikahanmu dan menikah dengan wanita lain. "
"Karina," sanggah Tiara.
"Apa?" Gio bingung kenapa Tiara menyebutkan nama Karina.
"Nama wanita itu Karina, sahabatku."
Mulut Gio menganga lebar, pria itu tidak habis pikir ada seorang sahabat yang merebut kekasih sahabatnya dan membatalkan pernikahannya. Tiara, gadis itu sangat menyedihkan. Dia dikhianati kedua orang tercintanya. Gio merasa kasihan ia merasa bersalah karena sudah menolak ajakan wanita itu.
"Aku tidak pernah berpikir, pernikahan yang sudah kami siapkan batal begitu saja. Aku bingung, yang ada dalam pikiranku saat itu hanyalah melanjutkan pernikahan aku tidak peduli siapa pria itu dan aku melihatmu saat itu aku tiba-tiba saja memilihmu, aku tahu kamu pasti terkejut, ada wanita gila yang mengajakmu menikah, aku sungguh sudah gila, tapi semuanya percuma ... semua orang sudah tahu pernikahanku batal dan Damian memilih wanita lain."
"Apa kamu mau mengulanginya?"
"Apa?"
"Pernikahan, kau bisa melamarku lagi aku akan menerimanya sekarang."
Mata Tiara membulat sempurna dia tidak habis pikir dengan pria yang dia temui, pertama menolak sekarang menawarkan diri.
"Jika ku pikirkan kau yang gila. Kau menolakku dan sekarang kau menawarkan diri."
Gio memejamkan matanya sesaat lalu mengembuskan nafasnya dan berkata, "Begini ... anggap saja ini contract love."
"Conract love?"
"Kita saling membutuhkan aku mebutuhkanmu dan kau membutuhkanku. Kita buat kesepakatan,"
"Kesepakatan?"
"Pernikahan kontrak."
Entah, apa tujuan Gio mengajaknya menikah kontrak. Apa pria itu merencanakan sesuatu?"
Karina-- WhatsApp
[Foto]
[Tiara, aku turut prihatin atas kejadian kemarin, aku tahu ini semua karena aku dan aku sungguh minta maaf. Aku yakin kamu pasti mendapatkan lelaki yang lebih baik. Itu hasil foto USG calon bayiku, aku tidak bermaksud pamer hanya saja ... aku ingin berbagi kebahagiaan denganmu.]
"Berbagi kebahagiaan? Setelah menggagalkan pernikahanku." Tiara langsung menutup pesan WhatsApp dari Karina, wanita yang baru saja merebut kekasihnya dan menggagalkan pernikahannya.
"Wanita tidak tahu malu. Pamer foto USG ... dia sudah gila."
"Siapa yang gila?" tanya Siska yang tiba-tiba muncul.
Tiara hanya diam saja tidak menghiraukan wanita itu yang membawakannya segelas susu dan salad buah yang disimpannya di atas meja. Tiara melirik hidangan itu dengan sinis.
"Apa ini?" tanyanya demikian.
"Susu dan salad buah," jawab Siska dengan senyum ramahnya.
"Aku tahu ini susu, maksudku kenapa kau memberikan ini? Apa aku anak SD yang harus meminum susu sebelum tidur?" Nada bicara Tiara sangat tinggi terlihat kesal yang sedang menahan amarah.
"Bukan begitu. Kau pergi lama hari ini, kau membuat aku cemas. Aku, Leo, dan Farel kami semua mencarimu. Aku tahu kamu melewati masa sulit aku takut kamu depresi hatimu sangat terguncang. Jadi ku berikan kau susu sebagai nutrisi kalsiummu dan salad buah biar pikiranmu tenang. Fisik dan pikiranmu harus tetap kuat," ujar Siska panjang lebar. "Makanlah!" titahnya membujuk Tiara agar segera memakannya.
"Sebenarnya aku tidak lapar, tapi apa yang kau katakan benar aku harus kuat," ungkap Tiara yang langsung menyantap salad buahnya.
Siska tersenyum, lalu melirik ponsel Tiara dan mengambilnya karena penasaran siapa yang Tiara bilang gila. Matanya terbelalak seketika, mulutnya menganga dengan lebar pesan whatsapp yang Karina kirimkan membuatnya syok.
"Kembalikan! ini privasiku," ucap Tiara saat mengambil paksa ponselnya.
"Apa wanita itu sudah gila? Untuk apa dia mengirimkan hasil USG-Nya. Dia sengaja ingin membuatmu cemburu, kan? Tiara kenapa kau hanya diam saja kau tidak membalasnya."
"Kenapa kau yang emosi?" tanya Tiara santai.
"A-Aku ... tapi itu sangat menyebalkan."
"Pergilah!" usir Tiara. "Pergilah! Aku ingin sendiri!" tegas Tiara.
Siska keluar dari kamar dengan tatapan sedih, Tiara sangat menyedihkan dan mencemaskannya. Namun, Tiara tidak butuh seseorang untuk cerita, Tiara terlihat baik-baik saja tapi tidak jika sedang sendiri. Gadis itu akan menumpahkan air matanya sebanyak mungkin, mulutnya berkata baik-baik saja tapi tidak dengan hatinya. Belum lagi saat ini tidak ada seorang pun yang berada di sampingnya, Tiara butuh seseorang yang mendukungnya, menyemangatinya, memeluknya, dan mendengar cerita sedihnya.
"Mama ... Tiara rindu Mama."
Ya, yang Tiara butuhkan saat ini adalah seorang wanita hebat, yang menyayanginya dengan tulus, yang selalu ada untuknya saat senang atau sedih. Mama, Tiara butuh Mama tapi wanita hebat itu sudah pergi jauh meninggalkannya ke surga.
"Sirsak," panggil Leo pada Siska yang turun dari kamar Tiara dengan wajah sedih. Kali ini gadis itu tidak marah dengan panggiln Leo, Siska terduduk sedih di atas sofa membuat si Ubi lembu penasaran ada apa dengan teman satu jabatannya itu.
"Hei Sirsak kenapa kau bersedih? Apa Tiara menangis? Dia tidak ingin makan?"
"Tidak, justru dia makan dengan lahap."
"Lalu?"
"Si rubah betina itu dia membuatnya cemburu. Pikirkan saja, apa ada waktu untuk mengirimkan foto USG setelah menghancurkan pernikahannya? Bukankah dia wanita yang tidak punya malu," ujar Siska dengan emosi. "Ingin rasanya aku menghajarnya," sambungnya dengan geram.
"Kenapa tidak, kita hajar dia sekarang," balas Leo dengan suara jantannya. Sepertinya pria itu ingin menghajarnya juga.
Siska meliriknya sesaat lalu berkata, " kau seperti lelaki jika marah."
"Ya, kejantananku akan muncul jika sedang emosi, dan aku tidak bisa mengendalikan diri kejantananku juga ikut terbangun," liriknya pada Siska.
Awalnya Siska biasa saja gadis itu terus menatap Leo, sebelum akhirnya matanya membulat seketika saat benda panjang menonjol dibalik celana Leo bagian bawah. Sontak Siska berlari terbirit-birit.
***
Tiara duduk melamun seraya memandang foto ibunya, seandainya ibunya tidak pergi jauh mungkin akan berada di sampingnya saat ini.
"Mama, jika kau melihatnya tadi apa yang akan Mama lakukan pada Damian? Mama juga tahu, kan Karina ... dia temanku semasa SMP. Mama selalu menyiapkan bekal untuk kami berdua Mama begitu baik, tapi apa yang Karina lakukan sekarang ... sungguh sulit ku percaya. Seharusnya dia katakan dari awal jika menyukai Damian, kenapa harus pada hari pernikahanku dan lagi ... dia mengatakan sedang hamil. Apa yang harus Tiara lakukan Mah? Apa yang harus Tiara lakukan ...."
Isakan tangisnya kembali terdengar, dan tiba-tiba berhenti. Tiara kembali teringat pertemuannya dengan Gio, pria itu yang menolaknya tapi tiba-tiba mengajaknya menikah. Contract love Tiara kembali teringat pernikahan kontrak yang Gio tawarkan.
"Pria itu ... kenapa aku lupa menanyakan namanya."
Ya, mereka sudah bertemu dua kali tapi tidak saling mengenal satu sama lain.
Gio juga sedang bersedih sekarang, pria itu terduduk di samping ranjang pasien yang mampu membuat roda hidupnya berhenti. Malam itu ... Gio tidak pernah menyangka Sukma nenek yang dia cinta harus dilarikan ke rumah sakit. Sebelumnya Sukma baik-baik saja tiba-tiba saja jantungnya kambuh dan harus dirawat di rumah sakit.
"Gio, nenek tidak ingin mati sebelum melihatmu bahagia. Nenek ingin melihatmu menikah, dan menjadi saksi pernikahan mu. Nenek tidak ingin kamu sendiri."
Perkataan itu yang selalu Gio ingat. Neneknya memang benar, Gio tidak sanggup sendiri dan belum siap kehilangan neneknya. Pria itu terus saja melamun sampai tidak sadar sudah berjalan sangat jauh dan berada di sebuah pantai. Pantai Ancol yang indah, dan tenang pada malam hari. Begitupun seorang gadis yang duduk tenang di pesisir pantai. Gio melihat gadis itu melamun sampai tidak sadar ombak menyapu kedua kakinya.
Entah, kenapa Gio tertarik pada gadis itu yang dianggapnya sedang bersedih. Kedua kakinya mulai melangkah mendekati gadis itu, semakin dekat dan semakin jelas wajah cantik itu terlihat. Bukannya tersenyum Gio malah terkejut gadis itu adalah gadis gila yang melamarnya di hotel.
Namun, Gio sudah tahu siapa namanya dan apa alasannya karena hampir di semua media membicarakan gadis itu. Kabar pernikahan yang batal sudah tersebar. Begitulah pertemuan mereka, terjadi tanpa di sengaja.
Lalu, bagaimana selanjutnya?
Apa mereka akan bertemu lagi?
Gio sepertinya ingin mewujudkan keinginan sang nenek untuk menikah sebelum Sukma tiada.
"Bagaimana keadaan Ibu?" tanya Anjaya mengejutkan lamunannya.
Gio bangkit berdiri yang menatap paman dan bibinya yang baru saja datang menjenguk Sukma. Tidak terlihat sedikit pun kecemasan atau kesedihan pada raut wajah mereka, Anjaya terlihat biasa saja melihat ibunya yang terbaring di atas ranjang.
"Kau bilang akan menjaga nenekmu, kenapa tiba-tiba ibuku ada di rumah sakit?"
"So peduli," gumam Gio sinis. "Apa kau tidak ingat ibumu punya penyakit jantung? Seharusnya kau yang lebih memperhatikan. Nenek tidak akan ada di sini jika tidak karenamu." Tatap Gio tajam, Gio masih ingat sebelum melarikan neneknya ke rumah sakit Gio sempat melihat lembaran berkas dana keuangan perusahaan induk yang menurun, mungkin karena itu neneknya serangan jantung.
"Jika kau tidak becus memimpin perusahaan, aku yang akan memimpinnya."
"Apa maksudmu? Kau baru saja merendahkan pamanmu? Apa kau tidak tahu kau siapa di sini." Viona tersulut emosi, tidak terima dengan perkataan Gio yang merasa merendahkan suaminya.
"Aku ... tentu saja aku tahu. Aku cucu satu-satunya dari keluarga Atmaja."
Viona tersungging remeh. "Cucu satu-satunya kau bilang? Sarah putriku juga cucu dari keluarga Atmaja jadi kau bukan satu-satunya."
"Tapi aku satu-satunya cucu yang dianggap," ujar Gio menimpali. Viona terlihat kesal, tapi Anjaya mencoba menahan emosinya agar tidak keluar batas.
Anjaya maju selangkah mendekati Gio, pria itu pun berkata, "Kau lupa aku anak satu-satunya dari Sukma Atmaja, posisimu lebih rendah dariku, kau hanya cucunya jadi yang berhak berkuasa adalah aku. Jangan terlalu bangga hanya karena kamu mendapat penghargaan CEO terbaik, karena pewaris satu-satunya adalah aku!" tegas Anjaya.
"Uruslah nenekmu dengan baik," ucap Anjaya sebelum pergi meninggalkan rumah sakit.
Gio menatap sendu neneknya, ia merasa sedih karena Anjaya putra satu-satunya Sukma saat ini tidak pernah menyayanginya. "Nenek, apa kau lihat tadi ... putra mu tidak menyayangimu, aku ragu apa itu putra kandungmu atau bukan. Tapi nenek tenang saja selama ada aku tidak akan ada yang bisa menyakiti nenek." Gio berkata seraya menutupi tubuh Sukma dengan selimut.
"Kalau begitu menikahlah." Perkataan itu sungguh mengejutkan Gio.
"Nenek!"
Sukma bangun dari tidurnya, wajah datarnya menatap polos cucunya. "Kamu bilang menyayangi nenek, kan? Jadi menikahlah."
"Nenek, kenapa tidak bilang jika sudah sadar?"
"Jika aku bilang, aku tidak akan tahu sifat buruk putraku dan menantuku."
"Apa Nenek tidak tahu aku begitu khawatir?" tanya Gio dengan emosi. "Jika Nenek seperti ini lagi aku tidak akan pernah lagi datang."
"Kau merajuk atau mengumpat? Sudahlah, yang jelas nenek sangat menyayangimu itu sebabnya Nenek ingin kau cepat menikah."
"Nenek menikah itu bukan hal yang mudah."
"Kenapa? Apa begitu sulit? Kau tidak perlu mencari wanita Nenek sudah menyiapkannya untukmu."
"Tidak-tidak! Memangnya kenapa Nenek ingin aku cepat menikah?"
"Apa kamu belum sadar juga?" tanya Sukma dengan tatapan tajamnya. Sukma terdiam sejenak lalu berkata, "Aku tidak mempercayai putraku sendiri, aku ingin kau yang menjadi komisaris Atmaja grup, dan salah satu syarat agar kau bisa memilikinya kau harus menikah. Dengan begitu Nenek bisa pergi dengan tenang."
"Memangnya apa salahnya jika belum menikah?"
"Dasar cucu tidak berguna. Kau tidak sayang pada Nenekmu hah!"
"Nenek!" Mereka terus saja berdebat tapi pada akhirnya Gio akan mengalah pada neneknya.
Karina-- WhatsApp
[Foto]
[Tiara, aku turut prihatin atas kejadian kemarin, aku tahu ini semua karena aku dan aku sungguh minta maaf. Aku yakin kamu pasti mendapatkan lelaki yang lebih baik. Itu hasil foto USG calon bayiku, aku tidak bermaksud pamer hanya saja ... aku ingin berbagi kebahagiaan denganmu.]
"Berbagi kebahagiaan? Setelah menggagalkan pernikahanku." Tiara langsung menutup pesan WhatsApp dari Karina, wanita yang baru saja merebut kekasihnya dan menggagalkan pernikahannya.
"Wanita tidak tahu malu. Pamer foto USG ... dia sudah gila."
"Siapa yang gila?" tanya Siska yang tiba-tiba muncul.
Tiara hanya diam saja tidak menghiraukan wanita itu yang membawakannya segelas susu dan salad buah yang disimpannya di atas meja. Tiara melirik hidangan itu dengan sinis.
"Apa ini?" tanyanya demikian.
"Susu dan salad buah," jawab Siska dengan senyum ramahnya.
"Aku tahu ini susu, maksudku kenapa kau memberikan ini? Apa aku anak SD yang harus meminum susu sebelum tidur?" Nada bicara Tiara sangat tinggi terlihat kesal yang sedang menahan amarah.
"Bukan begitu. Kau pergi lama hari ini, kau membuat aku cemas. Aku, Leo, dan Farel kami semua mencarimu. Aku tahu kamu melewati masa sulit aku takut kamu depresi hatimu sangat terguncang. Jadi ku berikan kau susu sebagai nutrisi kalsiummu dan salad buah biar pikiranmu tenang. Fisik dan pikiranmu harus tetap kuat," ujar Siska panjang lebar. "Makanlah!" titahnya membujuk Tiara agar segera memakannya.
"Sebenarnya aku tidak lapar, tapi apa yang kau katakan benar aku harus kuat," ungkap Tiara yang langsung menyantap salad buahnya.
Siska tersenyum, lalu melirik ponsel Tiara dan mengambilnya karena penasaran siapa yang Tiara bilang gila. Matanya terbelalak seketika, mulutnya menganga dengan lebar pesan whatsapp yang Karina kirimkan membuatnya syok.
"Kembalikan! ini privasiku," ucap Tiara saat mengambil paksa ponselnya.
"Apa wanita itu sudah gila? Untuk apa dia mengirimkan hasil USG-Nya. Dia sengaja ingin membuatmu cemburu, kan? Tiara kenapa kau hanya diam saja kau tidak membalasnya."
"Kenapa kau yang emosi?" tanya Tiara santai.
"A-Aku ... tapi itu sangat menyebalkan."
"Pergilah!" usir Tiara. "Pergilah! Aku ingin sendiri!" tegas Tiara.
Siska keluar dari kamar dengan tatapan sedih, Tiara sangat menyedihkan dan mencemaskannya. Namun, Tiara tidak butuh seseorang untuk cerita, Tiara terlihat baik-baik saja tapi tidak jika sedang sendiri. Gadis itu akan menumpahkan air matanya sebanyak mungkin, mulutnya berkata baik-baik saja tapi tidak dengan hatinya. Belum lagi saat ini tidak ada seorang pun yang berada di sampingnya, Tiara butuh seseorang yang mendukungnya, menyemangatinya, memeluknya, dan mendengar cerita sedihnya.
"Mama ... Tiara rindu Mama."
Ya, yang Tiara butuhkan saat ini adalah seorang wanita hebat, yang menyayanginya dengan tulus, yang selalu ada untuknya saat senang atau sedih. Mama, Tiara butuh Mama tapi wanita hebat itu sudah pergi jauh meninggalkannya ke surga.
"Sirsak," panggil Leo pada Siska yang turun dari kamar Tiara dengan wajah sedih. Kali ini gadis itu tidak marah dengan panggiln Leo, Siska terduduk sedih di atas sofa membuat si Ubi lembu penasaran ada apa dengan teman satu jabatannya itu.
"Hei Sirsak kenapa kau bersedih? Apa Tiara menangis? Dia tidak ingin makan?"
"Tidak, justru dia makan dengan lahap."
"Lalu?"
"Si rubah betina itu dia membuatnya cemburu. Pikirkan saja, apa ada waktu untuk mengirimkan foto USG setelah menghancurkan pernikahannya? Bukankah dia wanita yang tidak punya malu," ujar Siska dengan emosi. "Ingin rasanya aku menghajarnya," sambungnya dengan geram.
"Kenapa tidak, kita hajar dia sekarang," balas Leo dengan suara jantannya. Sepertinya pria itu ingin menghajarnya juga.
Siska meliriknya sesaat lalu berkata, " kau seperti lelaki jika marah."
"Ya, kejantananku akan muncul jika sedang emosi, dan aku tidak bisa mengendalikan diri kejantananku juga ikut terbangun," liriknya pada Siska.
Awalnya Siska biasa saja gadis itu terus menatap Leo, sebelum akhirnya matanya membulat seketika saat benda panjang menonjol dibalik celana Leo bagian bawah. Sontak Siska berlari terbirit-birit.
***
Tiara duduk melamun seraya memandang foto ibunya, seandainya ibunya tidak pergi jauh mungkin akan berada di sampingnya saat ini.
"Mama, jika kau melihatnya tadi apa yang akan Mama lakukan pada Damian? Mama juga tahu, kan Karina ... dia temanku semasa SMP. Mama selalu menyiapkan bekal untuk kami berdua Mama begitu baik, tapi apa yang Karina lakukan sekarang ... sungguh sulit ku percaya. Seharusnya dia katakan dari awal jika menyukai Damian, kenapa harus pada hari pernikahanku dan lagi ... dia mengatakan sedang hamil. Apa yang harus Tiara lakukan Mah? Apa yang harus Tiara lakukan ...."
Isakan tangisnya kembali terdengar, dan tiba-tiba berhenti. Tiara kembali teringat pertemuannya dengan Gio, pria itu yang menolaknya tapi tiba-tiba mengajaknya menikah. Contract love Tiara kembali teringat pernikahan kontrak yang Gio tawarkan.
"Pria itu ... kenapa aku lupa menanyakan namanya."
Ya, mereka sudah bertemu dua kali tapi tidak saling mengenal satu sama lain.
Gio juga sedang bersedih sekarang, pria itu terduduk di samping ranjang pasien yang mampu membuat roda hidupnya berhenti. Malam itu ... Gio tidak pernah menyangka Sukma nenek yang dia cinta harus dilarikan ke rumah sakit. Sebelumnya Sukma baik-baik saja tiba-tiba saja jantungnya kambuh dan harus dirawat di rumah sakit.
"Gio, nenek tidak ingin mati sebelum melihatmu bahagia. Nenek ingin melihatmu menikah, dan menjadi saksi pernikahan mu. Nenek tidak ingin kamu sendiri."
Perkataan itu yang selalu Gio ingat. Neneknya memang benar, Gio tidak sanggup sendiri dan belum siap kehilangan neneknya. Pria itu terus saja melamun sampai tidak sadar sudah berjalan sangat jauh dan berada di sebuah pantai. Pantai Ancol yang indah, dan tenang pada malam hari. Begitupun seorang gadis yang duduk tenang di pesisir pantai. Gio melihat gadis itu melamun sampai tidak sadar ombak menyapu kedua kakinya.
Entah, kenapa Gio tertarik pada gadis itu yang dianggapnya sedang bersedih. Kedua kakinya mulai melangkah mendekati gadis itu, semakin dekat dan semakin jelas wajah cantik itu terlihat. Bukannya tersenyum Gio malah terkejut gadis itu adalah gadis gila yang melamarnya di hotel.
Namun, Gio sudah tahu siapa namanya dan apa alasannya karena hampir di semua media membicarakan gadis itu. Kabar pernikahan yang batal sudah tersebar. Begitulah pertemuan mereka, terjadi tanpa di sengaja.
Lalu, bagaimana selanjutnya?
Apa mereka akan bertemu lagi?
Gio sepertinya ingin mewujudkan keinginan sang nenek untuk menikah sebelum Sukma tiada.
"Bagaimana keadaan Ibu?" tanya Anjaya mengejutkan lamunannya.
Gio bangkit berdiri yang menatap paman dan bibinya yang baru saja datang menjenguk Sukma. Tidak terlihat sedikit pun kecemasan atau kesedihan pada raut wajah mereka, Anjaya terlihat biasa saja melihat ibunya yang terbaring di atas ranjang.
"Kau bilang akan menjaga nenekmu, kenapa tiba-tiba ibuku ada di rumah sakit?"
"So peduli," gumam Gio sinis. "Apa kau tidak ingat ibumu punya penyakit jantung? Seharusnya kau yang lebih memperhatikan. Nenek tidak akan ada di sini jika tidak karenamu." Tatap Gio tajam, Gio masih ingat sebelum melarikan neneknya ke rumah sakit Gio sempat melihat lembaran berkas dana keuangan perusahaan induk yang menurun, mungkin karena itu neneknya serangan jantung.
"Jika kau tidak becus memimpin perusahaan, aku yang akan memimpinnya."
"Apa maksudmu? Kau baru saja merendahkan pamanmu? Apa kau tidak tahu kau siapa di sini." Viona tersulut emosi, tidak terima dengan perkataan Gio yang merasa merendahkan suaminya.
"Aku ... tentu saja aku tahu. Aku cucu satu-satunya dari keluarga Atmaja."
Viona tersungging remeh. "Cucu satu-satunya kau bilang? Sarah putriku juga cucu dari keluarga Atmaja jadi kau bukan satu-satunya."
"Tapi aku satu-satunya cucu yang dianggap," ujar Gio menimpali. Viona terlihat kesal, tapi Anjaya mencoba menahan emosinya agar tidak keluar batas.
Anjaya maju selangkah mendekati Gio, pria itu pun berkata, "Kau lupa aku anak satu-satunya dari Sukma Atmaja, posisimu lebih rendah dariku, kau hanya cucunya jadi yang berhak berkuasa adalah aku. Jangan terlalu bangga hanya karena kamu mendapat penghargaan CEO terbaik, karena pewaris satu-satunya adalah aku!" tegas Anjaya.
"Uruslah nenekmu dengan baik," ucap Anjaya sebelum pergi meninggalkan rumah sakit.
Gio menatap sendu neneknya, ia merasa sedih karena Anjaya putra satu-satunya Sukma saat ini tidak pernah menyayanginya. "Nenek, apa kau lihat tadi ... putra mu tidak menyayangimu, aku ragu apa itu putra kandungmu atau bukan. Tapi nenek tenang saja selama ada aku tidak akan ada yang bisa menyakiti nenek." Gio berkata seraya menutupi tubuh Sukma dengan selimut.
"Kalau begitu menikahlah." Perkataan itu sungguh mengejutkan Gio.
"Nenek!"
Sukma bangun dari tidurnya, wajah datarnya menatap polos cucunya. "Kamu bilang menyayangi nenek, kan? Jadi menikahlah."
"Nenek, kenapa tidak bilang jika sudah sadar?"
"Jika aku bilang, aku tidak akan tahu sifat buruk putraku dan menantuku."
"Apa Nenek tidak tahu aku begitu khawatir?" tanya Gio dengan emosi. "Jika Nenek seperti ini lagi aku tidak akan pernah lagi datang."
"Kau merajuk atau mengumpat? Sudahlah, yang jelas nenek sangat menyayangimu itu sebabnya Nenek ingin kau cepat menikah."
"Nenek menikah itu bukan hal yang mudah."
"Kenapa? Apa begitu sulit? Kau tidak perlu mencari wanita Nenek sudah menyiapkannya untukmu."
"Tidak-tidak! Memangnya kenapa Nenek ingin aku cepat menikah?"
"Apa kamu belum sadar juga?" tanya Sukma dengan tatapan tajamnya. Sukma terdiam sejenak lalu berkata, "Aku tidak mempercayai putraku sendiri, aku ingin kau yang menjadi komisaris Atmaja grup, dan salah satu syarat agar kau bisa memilikinya kau harus menikah. Dengan begitu Nenek bisa pergi dengan tenang."
"Memangnya apa salahnya jika belum menikah?"
"Dasar cucu tidak berguna. Kau tidak sayang pada Nenekmu hah!"
"Nenek!" Mereka terus saja berdebat tapi pada akhirnya Gio akan mengalah pada neneknya.