"Kau harus menerimanya. Menolak bukan pilihan," ucap Pak Yan. Meski begitu, dari nada suaranya, ia terdengar tenang. Aku menatapnya dan pria paruh baya yang tadi duduk di sampingku bergantian.
"Aku tidak mengerti. Sejak kapan kita berubah tempat menjadi lembaga perlindungan?" tanyaku dengan nada sedikit emosi. Pak Yan menatapku tajam, tetapi aku tidak peduli. Kualihkan pandangan pada sang klien yang hanya diam sedari tadi.
"Tuan, aku tidak mengerti mengapa atasan saya setuju dengan permintaan Anda, tapi yang jelas saya tidak bisa menerima. Jika Anda ingin menghabisi seseorang, maka di sini adalah tempat yang tepat, tetapi jika Anda memiliki tujuan lain dari itu, maka Anda berada di tempat yang salah. Silakan pergi dari sini!"
"Nila!" tegur Pak Yan keras. Aku kembali melihat ke arah beliau dengan tanpa peduli. Beliau menghela napas panjang sambil menggeleng.
"Kau tidak tahu masalah yang kautimbulkan," gumamnya setengah berbisik.
Lelaki yang duduk di depannya tiba-tiba tersenyum dan menatapku.
"Ternyata Snow Queen memang seperti yang dibicarakan banyak orang," ujarnya.
Aku menatap curiga.
"Apa maksudmu? Sebenarnya apa tujuanmu datang kemari?"
Pertanyaan tersebut wajar karena sebelumnya begitu banyak orang yang bermaksud menghancurkan kelompok kami. Sekalipun dalam dunia hitam, persaingan tidak bisa dihindari. Bahkan bisa terjadi dengan lebih keji. Kami yang berada di dalamnya bisa saja bertemu untuk saling membunuh.
"Aku datang kemari karena memang membutuhkan bantuan kalian. Sebelumnya perkenalkan, Nona, namaku Pak Harsono. Aku tidak datang kemari karena keinginanku. Sebenarnya ini memalukan untuk seorang polisi sepertiku membutuhkan bantuan dari orang seperti kalian, tapi ini benar-benar mendesak," tuturnya.
Kutatap dia dari atas ke bawah dengan penuh keraguan kemudian mendengkus keras.
"Kau seorang polisi, tapi membutuhkan bantuan kami? Apa aku tidak salah dengar? Sebaiknya kau katakan saja dengan jujur apa tujuanmu datang kemari."
"Bukankah pimpinanmu telah mengatakan bahwa aku butuh bantuan untuk melindungi orang?"
Aku menggeleng.
"Aku tetap tidak percaya. Jika kau memang seorang polisi, kau bisa mengerahkan anak buahmu untuk melindungi orang, untuk apa butuh bantuan kami?"
"Karena yang dihadapi orang tersebut bukan orang biasa. Para pembunuh profesional mengincar nyawanya. Aku tidak yakin anak buahku sanggup melindungi dia. Karena itu, aku meminta bantuan kemari."
Aku menggeleng dan bergegas melangkah untuk keluar dari ruangan.
"Aku tidak mau melakukannya. Keahlianku adalah membunuh orang, bukan melindungi orang, meski dia adalah orang penting."
"Nona Snow Queen," panggil Pak Harsono dengan suara cukup keras.
"Kau tidak akan bisa menolak. Karena pilihan lain adalah penjara untukmu dan semua orang di tempat ini."
"Apa maksudmu? Kau berani mengancam kami? Apa kau tahu aku bahkan bisa melenyapkanmu saat ini juga?" tanyaku sambil berbalik dan menghampiri beliau dengan langkah cepat.
"Aku tahu, tapi kurasa kau tidak akan melakukannya, kecuali ingin memperbesar masalah. Aku sudah merekam percakapan kita dan orang kepercayaanku sedang mendengar semua. Jika kau berbuat macam-macam, maka dia akan mengerahkan polisi kemari."
"Apa kaupikir aku takut dengan ancamanmu itu? Aku tidak akan menjadi pembunuh profesional jika tidak bisa membunuhmu dan menutupi jejaknya. Jika tidak, pasti sudah lama aku mendekam di penjara. Kau tidak akan bisa bersikap tenang seperti sekarang!"
Pak Harsono tersenyum tenang sambil mengangguk. Sepertinya beliau tidak sungguh-sungguh menganggap ucapanku.
Awas saja dia, geramku kesal.
"Hentikan, Nila!" tegur Pak Yan.
"Masalah akan semakin besar jika kau membunuh dia. Pikirkan juga orang-orang yang berada di sini. Apa kau ingin membawa masalah pada mereka?"
"Aku? Sejak kapan aku peduli dengan mereka yang berada di sini? Mereka bukan siapa-siapa bagiku."
Mendengar jawabanku itu, Pak Yan sekali lagi menghela napas panjang dan menggeleng. Dia tahu persis bagaimana sifatku, tetapi tidak pernah mencoba untuk memahaminya.
Bibirku sekali lagi membentuk senyum tipis meremehkan.
"Baiklah, aku berubah pikiran," ucapku.
Raut wajah Pak Yan berubah lega saat mendengar kata-kataku. Aku lebih sering keras kepala dan nyaris tidak pernah mengubah keputusan yang kuambil. Akan tetapi, kali ini aku berubah pikiran, dia tentu saja lega, meski dari tatapannya terlihat menaruh curiga padaku. Pak Yan memang sungguh mengenalku dengan baik. Aku memang memiliki rencana sendiri untuk misi kali ini.
Aku lalu kembali menatap Pak Harsono dan duduk di sampingnya.
"Aku akan setuju dengan misi kali ini, tapi ada syarat yang harus Anda penuhi."
Dia diam menunggu. Aku juga hanya duduk dengan tenang.
"Kau belum memberitahuku syaratnya," ucap Pak Harsono akhirnya.
Aku tertawa sambil menggeleng.
"Apa Anda pikir aku orang bodoh? Anda harus menyetujui dulu syarat ini, baru aku akan memberitahu syarat tersebut. Dengan begitu, Anda tidak akan bisa mangkir lagi."
Pak Harsono kembali diam sejenak, tetapi akhirnya beliau mengangguk.
"Baiklah, aku setuju."
"Bagus," ucapku sambil tersenyum tipis.
Pak Yan segera menyodorkan selembar kertas berisi surat perjanjian yang telah dia siapkan.
"Tanda tangani itu. Setelah itu, baru aku akan memberitahu syarat yang kuajukan!" ucapku enteng.
Pak Harsono diam sesaat setelah membaca isi surat tersebut. Perjanjian yang tertulis di dalamnya terbilang berat. Jika pihak klien mengingkari janji, maka hanya kematian yang menjadi solusi permasalahan. Aku dan yang lain tidak akan segan mengejar mereka yang mencoba ingkar atau berkhianat. Mereka bahkan bisa tiba-tiba lenyap tanpa jejak tanpa ada seorangpun bisa menemukan keberadaan mereka.
"Bagaimana? Jika Anda takut, masih belum terlambat untuk membatalkan semua," ucapku dengan nada merendahkan.
"Aku tidak akan berubah pikiran," ucapnya sambil meraih pena yang kusodorkan dan segera menandatangani kertas tersebut.
Seulas senyum tipis muncul di wajahku. Orang yang duduk di sampingku tersebut adalah seorang polisi. Kelihatannya dia juga menduduki posisi yang cukup tinggi. Tentu ia tidak mau ada seorangpun yang meremehkan dirinya. Mungkin dia cukup percaya diri berpikir bahwa dia aman karena dirinya adalah seorang polisi. Padahal mengatasi dia adalah hal mudah bagiku.
"Baiklah," ucapku.
"sekarang semua sudah beres. Aku akan memberitahu syaratnya, yaitu aku ingin bebas dari segala kasus hukum. Baik itu yang pernah kulakukan atau yang akan kulakukan nanti." Pak Harsono terlihat keberatan, tetapi akhirnya ia mengangguk setuju.
Aku kembali tersenyum.
Sekarang bisa beritahu aku siapa orang penting yang harus kulindungi?"
Pak Harsono kemudian menunjukkan foto seorang pemuda. Paras wajahnya manis. Ada lesung pipi yang samar pada gambar dirinya yang tengah tersenyum tipis ke arah kamera. Mata hitamnya terlihat dalam dan menenangkan seolah menawarkan sejuta kesejukan dan kedamaian pada orang yang melihatnya. Dagunya yang sedikit lancip serta tulang pipi tinggi dan hidung bangir mampu membius wanita mana pun yang melihat dia. Kulitnya yang kecoklatan memberi kesan seksi dan maskulin.
Pria yang berbahaya, ucapku dalam hati. Entah mengapa perasaanku berubah tidak enak. Seolah aku akan mengambil resiko besar jika terlibat urusan dengannya. Akan tetapi, semua telah terlambat. Kesepakatan sudah dibuat. Tidak ada jalan untuk berpikir kembali dan mundur dari misi ini.
"Nama dia Stefan Anjano," ucap Pak Harsono setelah membiarkan aku beberapa saat menatap foto itu dengan seksama. Aku berdehem sebentar dan mengembalikan foto tersebut.
"Apa dia orang yang harus aku lindungi?" tanyaku.
Pak Harsono mengangguk.
"Meski dia terlihat seperti orang biasa, tetapi dia adalah seorang profesor muda yang berbakat. Baru-baru ini, dia menciptakan sebuah obat untuk menangani penyakit kanker. Masalahnya obat tersebut berubah menjadi virus berbahaya saat terpapar oleh tubuh orang yang sehat. Kini obat itu tengah diperebutkan. Para penjahat dan teroris menghalalkan segala cara untuk mendapatkan obat tersebut," tuturnya panjang-lebar.
Aku menggeleng. Semula aku mengira pria muda bernama Stefan itu seorang artis atau model yang sedang dikejar penggemar gila hingga meminta bantuan polisi. Atau anak manja kaya yang gemar terlibat narkoba. Ternyata dia memang terlibat masalah. Masalah yang sangat besar dan tidak kubayangkan akan terjadi pada orang sepertinya.
"Dia pasti meminta perlindungan polisi, bukan? Jadi apa kalian tidak bisa menangani masalah yang dia timbulkan?"
Wajah Pak Harsono berubah muram. Dia kemudian mengangguk.
"Stefan sendiri bukanlah orang yang mudah ditangani. Ia keras kepala dan merasa tidak butuh dilindungi. Meski begitu, aku sudah mengutus dua orang untuk melindungi dia, tetapi justru mereka berdua ...."
Pak Harsono menggeleng. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang teramat sangat. Aku menduga dua orang itu mungkin orang terbaiknya dan dekat dengan beliau. Kemudian, tragedi menimpa mereka.
"Baiklah, aku tahu apa yang harus aku lakukan," jawabku. Aku kemudian pamit undur diri untuk bersiap-siap.
***
Aku sedang mengemas pakaian dan beberapa senjata ketika Vano datang. Ia semakin berani saja, bahkan masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuk lebih dulu.
"Aku sudah mendengar semua dari Pak Yan. Aku tidak suka kau pergi menemui pria lain. Batalkan misi kali ini atau biar aku yang menggantikannya," ucapnya pelan.
"Aku sudah setuju untuk menjalankan misi ini, jadi aku tidak akan mundur. Satu hal lagi, aku tidak akan pernah melempar misi pada orang lain," sahutku sambil menutup koper yang berisi pakaian.
"Tetap saja, aku tidak ingin melihatmu dengan pria lain."
"Dia tidak berbeda denganmu atau orang lain. Aku bukan gadis bodoh yang akan jatuh cinta padanya. Aku tidak akan tertarik padanya sama seperti aku tidak tertarik padamu. Saat ini hanya misi yang terpenting bagiku. Baik kau maupun dia, kalian sama sekali tidak penting!"
Vano diam mengangguk. Perlahan tangan kanannya terulur dan mengacak rambutku.
"Baiklah, aku mengerti, tapi jaga dirimu. Aku tidak ingin kau berada dalam bahaya."
"Vano," panggil Risa. Sama sepertiku, Risa juga adalah gadis pembunuh yang tinggal di sini, hanya saja tingkat dan kemampuannya lebih rendah dariku. Ia lebih sering mengejar-ngejar Vano daripada berlatih dengan serius.
Aku tersenyum saat melihat Vano yang dengan risih berusaha melepaskan tangan Risa yang menggelayut mesra padanya. Cinta benar-benar membuat seseorang menjadi bodoh. Orang bahkan dengan mudah mengalahkan Risa dengan kemampuannya yang amatiran itu.
"Nila, tunggu!" panggil Vano saat aku bergegas melangkah.
"Kau hanya salah-paham. Aku tidak ada apa-apa dengan Risa!"
Aku berbalik dan melepas kaca mata hitam yang kukenakan.
"Apa aku terlihat peduli?" sahutku sambil mengangkat bahu. Aku lalu kembali melangkah menuju mobil yang telah menunggu.
***
Pohon-pohon tinggi dengan daun-daun lebat menaungi perjalanan kami menuju ke kediaman Stefan. Di ufuk, terlihat awan mulai berubah jingga. Kunikmati semua itu bersama semilir embus angin yang bertiup melalui jendela yang terbuka. Bagiku keindahan mereka dan kesejukan yang kurasakan jauh lebih menyenangkan dari apa pun, karena mereka tidak menipu. Tidak seperti manusia yang pandai bersiasat.
Bahkan aku juga seperti itu, ucapku dalam hati sambil tersenyum miris.
Bangunan rumah Stefan tampak anggun dan klasik. Tembok-tembok marmer berwarna gading menghias dinding. Lantai keramik putih berkilat. Tidak nampak setitik debupun di sana. Berbagai lukisan serta pajangan antik menghias bagian dalam rumah. Di antaranya, terdapat juga foto-foto Stefan sedang menerima penghargaan. Bahkan ada potongan artikel terpajang pula di sana.
Rumah ini seperti istana dan kehidupan Stefan tampak seperti seorang pangeran yang bersembunyi, tetapi tetap bergelimang kemewahan, pikirku.
Netraku terhenti saat menatap sosok pria itu berjalan menuruni tangga. Berbeda dari penampilannya di foto yang terlihat ceria, sosok Stefan tampak muram. Matanya juga terlihat sayu. Janggut tipisnya yang tumbuh menunjukkan bahwa dia mungkin sudah tidak bercukur selama beberapa hari. Rambut hitamnya yang agak ikal juga terlihat kusut masai.
Aku meneguk ludah tanpa sadar. Meski kata cinta adalah sesuatu yang haram bagiku, tetap saja, aku tidak bisa menyangkal bahwa penampilan cowok bertubuh atletis itu begitu memikat. Entah mengapa, mendadak aku merasa gugup. Jantungku bahkan berdetak lebih cepat dari biasa hanya karena dia juga membalas tatapanku.
"Stefan, maaf sudah mengganggumu, tapi orang yang kujanjikan untuk melindungimu sudah ada di sini," ujar Pak Harsono.
Stefan hanya mengangguk. Mata hitamnya masih tetap menatapku lekat. Aku jadi merasa semakin salah tingkah.
Pak Harsono berdehem sesaat. Stefan seolah tersadar dan mengalihkan tatapan padanya sambil tersenyum. Lesung pipi muncul di wajahnya, membuatku mati-matian berusaha untuk tetap tenang.
Berpikirlah sehat, Nila. Dia orang yang harus kaujaga, bukan calon kekasihmu. Lagipula, apa yang salah dengan dirimu? Kau adalah Snow Queen yang tidak terjamah oleh cinta. Jangan sampai seorang pria yang baru kaukenal membuat pertahananmu runtuh! tegurku pada diri sendiri. Sekuat tenaga aku berusaha menenangkan diri.
Lelaki muda di hadapanku tersebut mengalihkan tatapan pada pria yang berdiri di samping Pak Harsono. Mungkin dia menduga lelaki bertubuh gempal itulah yang akan melindungi dia.
"Apa dia bisa diandalkan? Aku tidak mau peristiwa yang sama terjadi lagi. Itu sangat mengerikan," ucapnya sambil mengendikkan kepala ke arah pria tersebut.
Pak Harsono tersenyum mendengar itu.
"Kalau dia, aku tidak yakin dia akan bisa menjagamu karena dia hanya sopirku."
Tatapan mata Stefan terlihat bingung. Perlahan ia mengalihkan pandangan padaku.
"Dia ...?" ucapnya sambil menunjuk ke arahku.
Pak Harsono mengangguk.
"Benar. Dia Nila Fariska. Dialah yang akan menjaga dan memastikan keamananmu."
Ucapan beliau membuat suasana berubah hening. Stefan kemudian melihatku dari atas ke bawah dan sebaliknya. Ia tampak tidak percaya. Tidak lama kemudian justru tawanya meledak.
"Apa Anda sedang bercanda, Pak Harsono?" ucapnya sambil mengusap air mata yang mengalir keluar.
"Mana bisa gadis sekecil dia melindungiku? Ia bahkan tidak akan bisa menang melawanku."
Perasaanku berubah geram. Hilang sudah semua rasa kagum yang kutujukan padanya. Aku paling tidak suka ada orang yang meremehkanku hanya karena aku seorang gadis bertubuh mungil dengan penampilan menurut orang-orang terbilang cantik.
"Apa kau menantangku?" desisku.
"Jika aku bisa mengalahkanmu, apa kau akan menerimaku menjadi pengawal pribadimu?"