~~~***~~~
"Eh, kalian tahu gak sih? Irfan ninggalin Ayu buat nikah sama Desi. Kok bisa gitu ya? Padahal apa kurangnya Ayu daripada Desi?"
"Mereka kan tidak direstui orang tua masing-masing, jadi wajar saja berpisah."
"Tapi katanya, selama pacaran, Ayu itu manja, gak menghargai Irfan sebagai laki laki. Sering nyuruh sesuka dia. Ngelunjak ."
"Iya, betul. Katanya pacaran sama Ayu mah main-main. Irfan cintanya sama Desi dari dulu."
"Selama pacaran, Ayu sering morotin, makanya orangtua Irfan gak setuju. Dan bla … bla …"
Langkah kaki gadis cantik itu terpaku di depan gardu. Di dalam sana, teman-temannya sedang ramai menggosipkannya. Sepertinya mereka tak menyadari kehadirannya karena mereka masih asyik bergosip.
Gadis itu meringis dalam hati, bagaimana bisa mereka membicarakannya di belakangnya padahal mereka teman nongkrong bareng.
Suara bisikan yang menggosipkannya itu tiba-tiba berhenti, sepertinya kini mereka menyadari kehadiran dirinya. Wajah mereka berubah pucat meski senyum palsu terbit di bibir mereka.
"Eh Ayu, dari mana? Nongkrong sini yuk, biar rame," celetuk Tia, tetangga belakang rumahnya.
Ayu tersenyum, getir, " nanti aja. Mau makan baso dulu takut dingin. Duluan ya..!"
Ayu pamit pergi tapi tak ada yang menyahutinya. Ayu tertawa pilu. Apa yang dia harapkan? Mereka berbalik simpati padanya, padahal mereka baru saja membicarakannya? Bodoh. Seharusnya ia tak perlu menyapa mereka.
Langkah lebar gadis itu melambat saat melihat banyaknya para pedagang makanan yang sedang berkumpul di halaman rumah Desi yang sudah dihias seadanya. Jarak rumahnya dan rumah Desi yang terpisah lima rumah, meski rumah Desi berada di balik tikungan, namun ia tetap bisa melihat jelas apa pun yang terjadi di sana.
Kerumunan orang nyaris membanjiri jalanan, seakan sedang terjadi pembagian sembako saja disana. bahkan jumlah kendaraan yang parkir sampai ke rumah tetangganya, saking banyaknya kendaraan yang mengiringi acara lamaran. Karena tradisi masyrakat di sini, apabila ada yang melamar, maka dari pihak calon mempelai laki-laki akan diantar banyak orang. Apalagi bila sang calon mempelai pria berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Yang mengiringi nyaris sekampung itu sendiri. Seperti Irfan ini, salah satu orang terkaya dan terkenal sebagai juragan kambing di kampungnya.
Ayu menggigit bibirnya, pahit. Seharusnya ia mengingat hari ini, hari di mana Irfan akan melamar Desi untuk menjadi pendamping hidupnya kelak. Bodoh sekali ia pake acara keluar rumah tadi. Gara-gara ingin membeli baso super pedas. Lihatlah akibat perbuatannya sekarang. Ia harus menelan pil pahit menjadi obyek gossip semua orang dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Irfan akan melamar teman dekatnya sore ini.
Dadanya semakin sesak dan wajahnya berubah semakin pucat. Ia yakin sebentar lagi akan pingsan.
Tak tahan lagi dengan dengan tekanan perasaanya, dirinya berlari memasuki rumahnya. Bergegas menutup pintu, jendela dan gorden rapat- rapat. Ia harap tak akan mendengar suara apa pun di luar sana.
Kemudian ia memasuki dapur dan meletakkan basonya begitu saja. Membuka kotak besar di sampingnya untuk meminum air dingin guna menyegarkan isi otaknya yang ngebul. Pandangan matanya kosong menatap cicak-cicak di dinding.
Emaknya yang sedari tadi duduk manis sambil makan rengginang, menatap Ayu bingung.
"Loh, kok malah bengong? Bukannya dimakan tuh baso?"
"Buat Emak saja."
Gadis itu menyodorkan basonya yang sudah dibelinya susah payah ke hadapan Emaknya, yang langsung diterima Emak dengan senang hati. Dari tadi wanita itu menahan liurnya melihat bakso urat berwarna merah yang menggoda. Pasti pedas pisan. Buru-buru diambilnya mangkok di rak.
Ayu duduk memperhatikan emaknya menuang baso ke dalam mangkuk dengan wajah murung.
"Jangan mikirin si Irfan lagi, dia udah mau jadi milik orang. Kayak gak ada cowok lain aja." Asih, emak Ayu, memukul lengannya membuatnya tersentak dari lamunan panjangnya.
"Siapa yang mikirin A Irfan? Ayu biasa aja."
"Jangan bohong, Emak sudah hapal gelagat tubuhmu dari dulu. Kamu masih mikirin si Irfan itu, kan? Buktinya dari tadi bengong aja. Lupain-lah, pamali mikirin calon laki orang!"
Ayu hendak membantah tapi bapaknya tiba-tiba datang dari belakangnya, menyelanya.
"Bener banget. Neng tahu gak, si Irfan dinikahin sama si Desi soalnya si Dicky sewot dombanya kalah terus. Sengaja dia milih Desi biar kamu sakit hati trus gila. Balas dendamnya ke bapak lewat kamu. Karena kalau kamu stress, bapak juga bakal stress. Ngerti gak, Neng?"
"Lagian bapak kenapa sih berantem mulu sama uwa Dicky? Jadinya Neng gak bisa nikah sama a Irfan?"
"Kamu pikir Bapak seneng berantem sama dia, gitu? Bapak mah suka ngalah, tanya aja ke orang-orang. Itu sih Dicky-nya aja yang dendaman soalnya domba jalunya kalah terus. Udah tahu gak pernah menang ngelawan si Asep, tapi nantangin mulu."
"Tapi Bapak juga respon terus. Buktinya ditantang adu domba malah ngeiyain bukannya menghindar, giliran kalah, musuhan. Efeknya ke hubungan Ayu sama Irfan. Seolah-olah Ayu ditinggalin nikah karena pertikaian kalian."
"Biarin aja orang ngomong apa. Lagian siapa yang mau besanan sama keluarga seperti itu? Keluarganya itu panasan, gak bisa lihat Bapak sukses dikit langsung nantangin aja. Bapak mah sebenarnya suka menghindar. Dia-nya yang suka deketin karena pengen ngalahin bapak. Bapak merespon cuman bela diri, buat ngejaga harkat martabat kita. Bisa abis kita ditindas orang kalau ngalah terus, mah."
"Tapi ..." Ucapan Ayu diputus emaknya.
"Kayak gak ada cowok laen aja, belain si Irfan terus. Emang dia ngapain kamu sampe segitunya dibelain terus. Udah lupain, cari yang lebih ganteng, lebih kaya, trus sayang ke Emak Bapak. "
Ayu merengut, menahan airmatanya yang nyaris terjatuh." Siapa juga yang masih inget Irfan? Bodo amat. Dia udah mau jadi suami orang ini,"
"Tuh nyadar, kirain saking cintanya mau ngerusak rumahtangga orang. Awas aja kalau sampai kamu jadi pelakor. Emak gak terima anak Emak murahan kayak gitu."
"Ih, apaan, sih. Ayu mah cewek baik-baik, gak mungkin ngelakuin itu. Ayu cuman gak suka digosipin macem-macem. Ayu kan gak pernah berbuat kasar sama A Irfan. Udah ah, jangan bahas dia terus. Bikin nafsu makan Ayu ilang aja,"
Ayu berbalik menuju kamarnya, meninggalkan kedua orangtuanya yang sudah asyik sendiri memakan bakso.
Ayu menaiki kasurnya, dan memejamkan matanya dengan tenang. Sayang, bagaimana pun lisannya keras mengatakan sudah melupakannya, nyatanya hatinya meraung-raung mengatakan sebaliknya. Ia belum rela!
***
Sementara itu di rumah Desi, acara pertunangan Desi dan Irfan berlangsung lancar meski Irfan lebih banyak terlihat diam. Kedua orangtua kedua belah pihak tampak bahagia karena akhirnya mereka bisa saling besanan.
"Akhirnya kita bisa besanan. Bukan gitu?" Kata Emaknya Desi bahagia.
"Iya. Coba dari dulu dia begini. Gak bakal jadi bujang lapuk dia."
Terdengar suara tawa orang-orang mendengar lelucon ayah Irfan. Semua juga tahu Irfan masih muda, 25 tahun mah belum lapuk alias lagi panas-panasnya.
Sementara Irfan yang menjadi obyek pembicaraan memilih diam saja. Ia mengeluarkan ponselnya kala mendengar bunyi pesan masuk. Dalam sekejap, ia hanyut dengan ponselnya, melupakan fakta bahwa ia sedang berada dalam acara penting dalam hidupnya.
Desi yang duduk di sampingnya, menahan dongkol dalam hati karena Irfan lebih memilih bercumbu dengan benda mati itu daripada mengobrol dengannya. Sungguh, sikap yang tidak sopan!
Padahal ini kan acara lamarannya, hari special mereka di mana mereka selangkah lagi akan menjadi suami istri. Seharusnya Irfan memfokuskan perhatiannya hanya padanya, bukan pada kotak tipis tak bernyawa warna hitam itu.
Di luar awan cerah. Senja beranjak malam tapi suasana di halaman rumah Desi yang besar dan luas itu masih tampak ramai. Si empunya hajat dibantu sanak saudara mengeluarkan makan malam di luar ruangan supaya bisa makan bersama-sama dengan para tamu pengantar. Begitulah, bila acara lamaran, maka pihak keluarga perempuan akan menyuguhkan makanan berat dan ringan.
Desi mengambilkan Irfan makanan dan mengulurkanya depan Irfan yang masih saja memainkan ponselnya. Desi sungguh marah, tapi ia tak berkutik. Tak mungkin, kan, memarahi Irfan dihari penting ini? Bisa-bisa acara lamaran ini batal. Dia tak mau itu terjadi.
"Makan sama soto aja, gak papa, kan?" Tanya Desi sambil tersenyum manis. Ia harap senyumnya bisa mengalihkan focus Irfan.
Hari ini Desi mengenakan baju tunic berwarna merah dan celana hitam, ditunjang make up yang sesuai membuat penampilannya *manglingi. Ia memang sudah ke salon dari jauh-jauh hari supaya hari ini ia bisa tampil memukau banyak orang. Hasilnya tidak mengecewakan. Semua orang memujinya cantik. Sayang, disaat yang lain ramai memujinya, Irfan diam saja membuatnya dongkol.
*beda, mempesona
"Terserah,"
Irfan masih acuh padanya. Desi merapalkan kata sabar dalam hatinya berpuluh-puluh kali. Mungkin ia masih patah hati karena meninggalkan Ayu. Seiring waktu ia yakin bisa meraih hati Irfan. Toh dulu, setiap Ayu berhalangan menemani Irfan, ia yang menggantikan. Dan Irfan selalu senang saat bersamanya. Ini hanya masalah waktu.
"Simpan dulu ponselnya. Makan dulu, ya! Mau aku suapin?" Desi berkata lagi. Ia pegal dari tadi memegangi piring nasi untuk Irfan tapi Irfan tak jua mengambilnya.
"Diem aja, bisa, kan? Aku udah gak nafsu makan lagi denger suara kamu!" Irfan menjawab ketus tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel membuat kesabaran Desi hilang sudah. Ia meletakkan piring di tangannya di lantai di samping makanan lainnya.
"Ya udah kalau gak mau makan, gpp ko." Desi menyahutinya dengan senyum manis. Berbanding terbalik dengan hatinya yang berteriak marah tak terima Irfan memperlakukannya seperti itu.
Sikap kedua calon pengantin itu tak luput dari pengamatan orang-orang. Desi mulai gelisah saat beberapa orang tamu melihatnya dan Irfan dengan tatapan menyelidik.
Siapa yang tidak merasa penasaran. Di acara lamaran yang penting ini, dimana seharusnya kedua calon saling tersenyum bahagia. Ini malah sebaliknya. Yang lelaki sibuk memainkan ponselnya, yang perempuan duduk disampingnya, gelisah sendiri. Harusnya di acara sepenting ini, sang lelaki menunda dulu memainkan ponselnya dan focus dengan pasangannya. Memang sesibuk apa urusannya sampai di acara lamaran pun tidak bisa ditunda.
Sadar pandangan penasaran orang-orang pada mereka semakin bertambah, Desi pun menggenggam jemari Irfan yang satu lagi. Seolah-olah ingin mengatakan kalau ia dan Irfan baik-baik saja. Untungnya Irfan pun tak marah dengan kelakuannya.
"Lagi hubungin siapa sih, Ai? Sibuk pisan?" Desi senyum-senyum manja. Ia sengaja memepetkan badannya ke lengan Irfan, sehingga buah dadanya menempel di lengan Irfan. Untunglah Irfan tidak menepisnya, kalau tidak, Desi memilih pergi ke kamarnya saja. Ia malu!
Desi berusaha mengintip isi chat Irfan namun Irfan mematikan ponselnya, sehingga Desi tidak bisa melihat isi pesan itu.
"Bukan siapa-siapa. Cuman calon pembeli kambing !" Irfan menyahut ketus membuat Desi lagi-lagi menggeram dalam hati.
"Semoga pembelinya selalu banyak ya, Aa!" Desi menyahut tulus, berpura-pura percaya. Namun jauh dilubuk hatinya, pikirannya terpusat pada satu orang yang bisa saja mengganggu kebahagiaannya.
'Kalau sampai kamu masih menghubungi Irfan, awas kamu, Yu!'
~~~***~~~
~~~***~~~
Minggu pagi yang cerah dan menyegarkan. Udara pagi begitu sejuk dan segar menerbangkan anak-anak rambut di sekitar telinga seorang gadis cantik rupawan yang sedang berlari seorang diri itu.
Sejenak gadis itu berhenti berlari untuk merapikan rambut panjangnya yang berantakan, lalu mengikatnya menjadi kuncir kuda. Setelah selesai, ia melanjutkan kembali lari paginya.
Melihat penampilan Ayu yang ceria seperti biasanya, takkan ada yang menyangka kalau ia depresi kekasihnya bertunangan dengan orang lain. Ia terlihat santai dan cantik seperti biasanya membuat beberapa pria menoleh terpesona padanya. Sesekali ia menjawab sapa dari mereka yang mengenalnya, yang juga sedang jogging bersama kelompoknya.
Gadis itu merasa sedih dengan kesendiriannya. Dulu, ia biasa jogging bersama mantan temannya yang kini sudah mengkhianatinya. Takdir kehidupan memang tak ada yang tahu.
Semua ini salah lelaki posesif itu. Karena semenjak berpacaran dengan Irfan, ia tidak mempunyai teman dekat wanita selain Desi. Irfan selalu marah kalau ia menghabiskan waktu dengan teman-temannya daripada dengannya.
Ia urung meneruskan jogingnya karena enggan pergi sendiri, rasanya aneh saja berlari seorang diri. Ayu baru hendak membalikkan badannya ketika suara seseorang yang familiar di telinganya, memanggilnnya.
"Ayuuu...! Tungguin dong. Barengan atuh larinya, sendirian aja!"
Ayu menoleh. Ternyata Evi, tetangganya yang beda beberapa blok dari rumahnya itu yang memanggilnya.
"Yu, kamu tahu nggak? kamu sekarang lagi viral di kampung gara-gara Irfan nikahnya sama Desi. Katanya kamu kasar makanya Irfan ninggalin kamu. Bener gak, sih ?" Kata Evi, setibanya ia di hadapan Ayu. Nafasnya tersengal-sengal saking cepatnya ia mengejar Ayu.
Ayu melengos geram. Rasanya ia ingin mengacak-acak wajah si penyebar gosip. Dan sepertinya ia tahu siapa penyebar gosip itu. Awas kamu!
"Siapa yang bilang?"
"Gak tahu soalnya ngobrolnya rame gitu, pada gosipin kamu di gardu. Karena aku peduli, mangkanya aku kasih tahu kamu. Itu benar gak sih?"
"Biarin aja. Percuma juga kalau dibahas terus. Semua sudah berlalu," Ayu menjawab santai dan tenang padahal hatinya ketar-ketir tak karuan.
"Tapi Yu, nama baik kamu jadi jelek!"
"Ayu gak peduli dengan mereka berdua. Ayu sudah move on."
Ayu melanjutkan kembali larinya yang tertunda, meninggalkan Evi yang bengong. Kok bisa ya Ayu secepat itu move on? Kalau dia, bisa hancur berbulan-bulan baru bisa move on.
Meski mulut Ayu berkata begitu santai seolah tak mempermasalahkan gosip itu tapi hatinya bergejolak marah. Kenapa jadi dia yang diserang? Dia yang rebut pacar orang tapi dia yang menjelek-jelekkan? Awas kamu, Desi!
~~~****~~~
Suasana rumah Desi nampak ramai dengan pekerja yang hendak membuat tenda dan ibu-ibu yang membantu memasak. Sipat masyarakat di sini paguyuban sehingga setiap ada acara hajatan pasti ibu-ibunya membantu memasak atau mengiris bahan masakan.
Lain ibu-ibu yang tampak ceria, lain lagi dengan Desi yang tampak gelisah di peraduannya. Sejak tadi Irfan dihubungi tapi tak jua ada balasan.
"A Irfan teh kamana sih? Di tlp ga diangkat? Di chat ga dibales. Apa jangan-jangan dia mau batalin pernikahan ini ya? Mau taro di mana muka Desi kalau gagal nikah teh. Hikks.."
Gadis berambut panjang itu duduk di pinggiran kasur mengingat pertemuannya dengan Ayu tadi di alun-alun.
Flashback on.
"Halo pengkhianat, musang berbulu domba. Buru-buru amat. Mau ke mana?"Tiba-tiba ada suara berbisik di telinganya.
Desi menoleh, terkejut. Ia baru selesai membeli bubur ayam kesukaannya. Seketika ia menelan ludahnya pahit.
'Gimana ceritanya Ayu ngedalak dia depan umum begini. Bisa malu dia nanti pas acara. Desi melirik kiri kanannya, banyak orang-orang yang dikenalnya karena berasal dari blok yang sama dengannya, diam-diam memperhatikannya namun berpura-pura tak memperhatikan. Gawat.'
"Kenapa diam? Bener kan ucapanku? Ada gosip katanya aku suka kdrt? Kdrt kayak gimana? kalau iya kdrt, ga mungkin lama pacaran. Kamu, kan, yang nyebarin gosip itu? Ayo, ngaku?" tuntut Ayu berapi-api. Muka gadis itu bahkan memerah memperlihatkan kemarahanya yang mengakar di seluruh tubuhnya.
Melihat posisi Ayu yang berdiri sedekat itu dengan Desi, seakan menunjukan seberapa akrab mereka, seakan tak ada masalah seberat apa pun yang bisa memisahkan mereka, walaupun pacar sendiri menikah dengan sahabatnya. Hal itu membuat beberapa teman Ayu yang kebetulan berada di sana, memuji kebesaran hati Ayu.
Desi menelan ludahnya yang tertahan di kerongkongan saat melihat Evi dan yang lainnya bergerak menghampiri mereka.
"Kamu kenapa sih nyalahin aku terus? Padahal aku selalu mengalah selama ini. Kalau memang a Irfan cintanya sama aku dari dulu, harusnya kamu ikhlas dan nerima dengan lapang dada, bukan terus ngejelekin aku. Padahal aku kurang mengalah apa selama ini sama kamu? Aku bahkan ngijinin a Irfan buat pacaran sama kamu." Suara Desi terdengar sedih membuat beberapa orang di situ merubah pemikiran mereka tentang Ayu dalam sekejap. Ternyata Ayu tak sebaik itu!
Ayu terperangah!!
Desi memegang jemari Ayu dan meletakkanya di dadanya. Ayu merasa risih dan mencoba melepaskan diri.
"Apa apaan sih kamu, Des? Lepas ih ..."
Desi tersenyum tulus," kalau emang kamu segitu cintanya sama a Irfan, dan minta aku melepas dia untuk yang kedua kalinya buat kamu, aku ikhlas melepas dia kembali. Asal kamu bahagia! Tapi maaf, mungkin aku tak bisa menjadi temanmu lagi karena hatiku sakit kamu perlakukan seperti ini terus dari dulu. Dah Yu...!"
Setelah mengatakan itu, Desi pun melepaskan genggamannya dan berlalu pergi menuju motornya yang sedang diparkir temannya. Ayu mengejarnya namun telat karena Desi berhasil mencapai parkiran dan mengajak temannya mengebut untuk pergi sebelum Ayu mencapainya.
Flashback off
Desi tersenyum mengingat kehebatan aktingnya atas kejadian tadi. Paling tidak, ia puas karena bisa menjatuhkan Ayu kembali, depan umum pula. Hahaha...!!
Desi merebahkan tubuh langsinya di atas ranjang berukuran 140 itu. Benaknya mengenang kembali masa-masa awal perkenalannya dulu dengan lelaki tampan yang kini sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Flashback on
Desi, Evi dan Ayu yang kala itu masih mengenakan seragam abu abu karena mereka baru pulang sekolah, memutuskan mampir makan baso di kedai bakso langganan mereka di warung tenda pinggir jalan. ketika sekelompok anak muda masuk memesan baso beranak juga, dan duduk tak jauh dari mereka.
Awalnya mereka tak begitu mempedulikan kehadiran mereka yang baru datang itu sampai ketika salah satu dari mereka bersiul mengajak kenalan bahkan membayarkan baso mereka. Saat itu lah mereka mulai memperhatikan siapa saja para pemuda itu.
"Tak kenal maka tak pacaran. *Tepangken atuh Neng, nami abdi Jaka, anu pang kasepna di kampung Baribis."
*Kenalkan nama saya Jaka, yang paling ganteng di kampung Baribis.
Desi dan Ayu tertawa geli mendengar banyolan Jaka. Diam-diam sudut mata Desi melirik laki-laki pendiam tapi paling tampan diantara yang lain. Meski begitu ia selalu tersenyum setiap diajak ngobrol. Setelah berkenalan, ternyata namanya Irfan. Nama yang ganteng kayak orangnya.
"Des, itu si Irfan ngeliatin aku terus dari tadi. Kayaknya dia suka sama aku!" Bisik Ayu tiba-tiba di telinga Desi, membuatnya terkejut.
Desi menoleh ke arah Irfan. Ayu benar, Irfan terlihat memfokuskan perhatiannya hanya pada Ayu semata, seolah tak ada orang lain di sekitranya.
Desi menggeram dalam hati, bagaimana bisa Irfan lebih memperhatikan Ayu dibanding dirinya. Padahal, ia pun tak kalah cantik dari Ayu. Lihat saja siapa yang bakal dipilih Irfan nanti, dasar sok cantik!
Sejak itu ia tak hentinya mengejar cinta Irfan. Namun sayang, ia tak bisa menggoyahkan keinginan Irfan. Irfan lebih menyukai Ayu. Ia mencari cara lain. Desi pun bersedia menjadi mak comblang mereka. Hal itu dilakukannya agar ia semakin dekat dengan Irfan. Namun Irfan tak meresponnya seperti ia merespon Ayu. Sampai akhirnya Irfan menembak Ayu, dan Ayu menerimanya, saat itulah ia tahu, ia sudah kalah.
Flashback off
Beep.. beep
Bunyi chat masuk. Desi menepuk-nepuk kasur di sampingnya, mencari keberadaan ponselnya. Ponselnya terjepit bantal ungunya yang segera ia singkirkan. Kedua bola matanya melebar saat membaca isi pesan tersebut.
Aku lagi nemenin Emak balanja sayur ke pasar buat dikirim ke rumah Desi siang ini. Ada apa?
Aa, Desi takut sama Ayu, masa tadi ngancem katanya Desi gak boleh nikah sama Aa, kayak belum move on dari Aa padahal tadi dia jalan sama Jaka.
Kamu tenang aja. Tar saya yang bilangin Ayu biar ga ganggu kita lagi.'
'Iya Aa. Aku beruntung banget dapet kamu, Aa. Semoga rumahtangga kita langgeng ya nanti,'
Irfan tak menjawabnya lagi, tapi Desi tak peduli. Toh, ia sudah menang satu langkah. Gadis itu menyeringai puas. Satu persatu masalahnya selesai. Sebentar lagi semua keinginannya tercapai.
Ah, ia tak sabar membayangkan menjadi orang kaya dengan puluhan sertifikat tanah dan sawah yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.
~~~****~~~