Degh!
"Papa," panggil Rina.
"Ada apa, Rin?" tanya Marko.
"Nggak papa, Pa," sahut Rina.
"Yang bener kamu, Rin."
"Bener kok, Pa."
"Ish, kamu ini!" kesal Marko.
"Hehehe ...."
"Ngapain kamu turun?"
"Aku haus, Pa."
"Ya udah sana minum."
"Iya, Pa."
Kaluna yang bersembunyi di belakang lemari tidak menyangka, jika Rina adalah anak Marko.
'Sial, ternyata dia anak Marko.' Kaluna membatin.
Marko kemudian pergi ke ruang kerja pribadinya di rumah, lalu Kaluna sendiri mengikuti Marko.
'Aku tahu ini sudah malam, tapi aku sangat penasaran.' Kaluna membatin.
Ternyata Marko membuka salah satu pigura di dinding dan terbukalah pintu rahasia.
Mata Kaluna yang melihat langsung membelalak melihat sang mama dipasung.
'Mama,' batin Kaluna.
Monica yang dipasung menatap Marko dengan tajam.
"Aku suka tatapanmu, Monica," ucap Marko, "sekarang aku tanya, dimana kamu menyembunyikan anakmu?"
'Dia mencariku,' batin Kaluna.
Monica sama sekali tidak mau bicara, ia hanya diam dan Marko sangat murka.
"Cepat bicara Monica!" bentak Marko bahkan menjambak rambutnya.
Monica hanya bisa meringis kesakitan, tapi dirinya harus bertahan dari kejamnya Marko.
"Baik, kalo kamu nggak mau bicara." Marko langsung mengambil cambuk, "kamu tahu ini, Monica."
'Mama, apa si bangsat itu ingin mencambuknya.' Kaluna membatin, 'kalau sampai dia mencambuk Mama. Aku akan membunuhnya, tapi kalau aku keluar sekarang sudah pasti kalah.'
Suara cambuk menyentuh kulit menggema di ruang itu, air mata Kaluna berjatuhan melihat sang mama berteriak kesakitan.
Setelah Marko puas mencambuk Monica, ia pun pergi meninggalkannya.
"Cuhhh ...." Marko meludah ke arah Monica.
Kaluna yang melihat itu tidak terima sang mama diperlakukan seperti itu.
'Awas kamu Marko,' batin Kaluna.
"Dasar tidak berguna!" maki Marko lalu pergi dan menutup kembali ruang rahasia itu.
Sedangkan Kaluna, ia melihat kesana kemarin mencari cctv yang ada di ruang kerja Marko. Ternyata cctv-nya banyak sekali, Kaluna tidak bisa masuk ke ruangan itu.
'Aku harus meretas cctv milik Marko,' batin Kaluna.
Tiba-tiba Kaluna tersenyum puas melihat laptop milik Marko. Kaluna langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan membuka laptop Marko untuk menonaktifkan cctv sementar, tetapi dibuat seolah-olah aktif. Ini hanya bisa dilakukan oleh hacker tingkat tinggi, beruntungnya Kaluna pernah belajar dengan seseorang yang dulu mengasuhnya setelah Marko menculik sang mama.
"Mama," panggil Kaluna lalu mensejajarkan tubuhnya dengan sang mama.
Monica tercekat melihat Kaluna, air matanya jatuh dan tangannya berusaha membelai pipi sang anak.
'Kaluna,' batin Monica.
"Aku akan bebasin dari sini, tapi nggak malam ini. Kaluna akan kembali nanti," ucap Kaluna lalu mencium sang mama sambil menangis dan memeluknya.
'Pergi Nak, dia akan kembali.' Monica membatin.
Seakan tahu dengan ucapan sang mama, Kaluna bertanya, "Ma, apa selama ini Mama disini?"
Kaluna bertanya sambil menguraikan pelukannya tadi, ia tidak tahan melihat sang mama menderita seperti ini.
Mata Monica mengarah ke samping, Kaluna mengikutinya.
"Disitu ada lubang agar kamu bisa kabur, Nak,' batin Monica.
Kaluna mengerti dan tersenyum kepada Monica.
"Aku pergi dulu Ma," ucap Kaluna lalu memeluk sang mama kembali dan segera pergi.
Kaluna terkejut ada lubang dibalik kardus, apa ini perbuatan sang mama. Monica yang melihat itu mengangguk.
'Ma,' batin Kaluna lalu pergi dan saat keluar ternyata tembus ke samping rumah yang gelap. 'Ini ... aku mengerti sekarang, aku bakalan selamatin Mama besok.'
Kaluna sampai di kost jam 3 pagi, dirinya tidak bisa tidur memikirkan sang mama. Menjelang pagi, Kaluna masih belum bisa tidur.
"Aku harus ke warung internet," gumam Kaluna, "enggak, aku nggak punya waktu ke warung. Apa di sekolah aja yah. Paling 50 ribu satu jam, ya! Aku harus melakukannya."
Kaluna bersiap mandi dan makan untuk pergi ke sekolah.
Di rumah Citra, Fara melihat keponakannya tidak selera untuk makan.
"Kamu kenapa, Cit?" tanya Fara.
"Nggak papa," sahut Citra.
"Masih mikirin anak miskin itu?"
"Apa sih, Tan!" kesal Citra.
"Tante ingatkan sama kamu, Citra! Pacar yang miskin akan mengkhianati kita nanti," ucap Fara, "kamu tahu kan itu."
"Itu hanya terjadi di kisah cinta Tante," sahut Citra, "lagian ... Kaluna nggak gitu orangnya."
"Cukup!" bentak Fara menggebrak meja makan dengan keras sampai Citra terkejut, "Tante yang menghidupi kamu dari kecil, jadi harus patuh!"
Fara langsung mengambil tisu dan membersihkan mulutnya dan pergi ke kantor, sedangkan Citra hanya duduk mematung di meja makan.
Ternyata sudah ada Nindi di depan seperti biasa menjemput Fara.
"Kenapa lagi itu muka?" tanya Nindi.
"Sudahlah," sahut Fara langsung masuk.
"Ouh ...." Nindi pun masuk juga.
Di dalam mobil, Fara mengingat masa lalunya yang dikhianati sang istri.
Nindi yang melihat itu hanya menghela napas dengan berat, "Kamu beneran udah nggak cinta lagi sama dia?"
"Nin, kamu ngomong sekali lagi aku hajar!"
"Ya ampun, Far. Jangan gitulah, aku kan tanya sama kamu. Lagian, aku sebagai sahabat sedih tahu lihat kamu kayak gini. Coba deh kamu cerita, apa kita ke kafe aja dulu biar pikiran tenang."
"Boleh," ucap Fara.
Nindi pun menuju ke kafe miliknya yang tak jauh dari sini.
"Nona," ucap pelayan kafe terkejut melihat pemiliknya datang.
"Coklat panas 2," pinta Nindi.
"Baik, Nona."
"Ayo ke ruanganku," ajak Nindi.
"Hmmm ...."
Tak lama coklat panas datang, Nindi pun duduk bersama Fara.
"Far, sejak kamu menceraikan dia ... apa kamu nggak cari tahu dulu."
"Maksudnya?"
"Kamu kan tahu, kamu ceraikan dia saat hamil."
"Nin, dia hamil dengan laki-laki lain bukan sama aku."
"Kamu tahu dia hamil sama laki-laki lain darimana?" tanya Nindi, "hanya dengan foto yang waktu dulu kita lihat."
"Iya."
"Tapi kok, fotonya kayak nggak asli yah."
"Maksudnya," bingung Fara.
"Kamu masih punya foto dia sama laki-laki itu nggak?" tanya Nindi.
"Nggak, sudah aku buang. Ngapain aku simpan foto menjijikkan kayak gitu," sahut Fara.
"Bener juga yah," ucap Nindi tepuk jidat.
"Tapi dia menghilang," sahut Fara kemudian.
"Hah, menghilang? Maksudnya bagaimana?"
"Aku pernah cari dia tapi nggak ada satu pun informasi yang aku dapat. Bahkan, aku pernah ke desa dimana rumahnya dulu tapi tetap kosong."
"Aneh," ucap Nindi.
"Kalau kamu bagaimana?" tanya Fara.
"Aku," sahut Nindi.
"Iyalah, siapa lagi!"
"Kan sudah masuk penjara, Far."
"Pernah kamu jenguk dia."
"Aku nggak pernah jenguk dia, ngapain aku jenguk si pembunuh."
"Ouh, ternyata nasib kita sama yah."
"Mana mereka sahabatan lagi, kompak banget nyakitin kita berdua."
"Cih!" decih Fara, "aku nggak suka banget kalau ingat masa lalu."
"Aku juga," ucap Nindi.
Kaluna pagi ini sangat loyo sekali, ia ingin tidur tapi masih di jalan.
'Aku harus bisa, ayo Kaluna!' batin Kaluna memberi semangat.
Sesampainya di sekolah, Kaluna langsung ke kelas dan duduk. Kali ini matanya terasa berat, ia ingin tidur sebentar. Kemudian Felin masuk, melihat Kaluna tidur ia bingung.
'Tumben nih anak tidur,' batin Felin.
Citra dan Rina juga baru masuk, Felin menatap mereka berdua.
"Ngapain kamu lihat kami kayak gitu?" tanya Rina.
"Biasa aja kali," sahut Felin.
"Kamu!" tunjuk Rina.
"Apa!" tantang Felin.
"Felin, kamu!" marah Rina ingin maju.
"Rin, sudah." Citra menegur Rina agar tidak bertengkar dengan Felin.
Rina kemudian duduk dan meminta Citra untuk duduk juga.
"Nanti kamu mau makan apa?" tanya Rina.
"Aku nggak tahu," sahut Citra menatap Kaluna yang tertidur.
Rina yang melihat tatapan Citra ke arah Kaluna mengepalkan tangannya.
"Cit," panggil Rina.
"Iya," sahut Citra.
"Nanti pulang sekolah Tante Fara suruh aku buat ajak kamu jalan-jalan ke mall," ucap Rina sengaja meninggikan suaranya agar Kaluna mendengar.
"Apa sih, Rin! Jangan keras-keras gitu, ih!" kesal Citra.
"Tapi kamu mau kan," ucap Rina.
"Iya," sahut Citra.
"Makasih Cit."
"Hemm ...."
'Cih, dasar sengaja banget manasin Kaluna.' Felin membatin, 'tapi kok, Kaluna enggak ada respon yah.'
Sampai akhirnya kelas masuk dan belajar, sedangkan Kaluna masih tidur. Felin mendekat dan membangunkan Kaluna.
"Kal, bangun yuk."
Citra yang melihat itu merasa kesal dan marah sendiri, kenapa harus Felin yang membangunkan Kaluna.
"Enghh ...." lenguh Kaluna.
"Bangun juga kamu, ayo bangun bentar lagi guru datang."
"Enghh, makasih yah."
"Sama-sama."
Selama pelajaran Kaluna hanya diam, dirinya tidak berniat untuk lebih menonjol seperti biasa. Sampai pada saat jam istirahat, guru memanggil Kaluna ke kantor.
"Kaluna," panggil guru, "ikut saya ke kantor.
Felin, Citra, dan Rina melihat Kaluna keluar pun bertanya-tanya.
"Iya, Bu," sahut Kaluna kemudian jalan melewati Citra.
"Biasanya kamu selalu angkat tangan, tapi ini kenapa enggak?" tanya guru di dalam kantor.
"Biar yang lain aja, Bu," sahut Kaluna.
"Tapi Kaluna, kamu kan termasuk murid cerdas. Sayang loh, jadi harus semangat lagi dalam menjawab pertanyaan yang diberikan guru."
"Iya, Bu."
"Ya udah kalo gitu, kamu boleh keluar."
"Makasih, Bu."
"Sama-sama."
Kaluna pun pergi ke dalam kelas mengambil bekal di tasnya. Ia mulai sekarang harus hemat, membawa bekal dari rumah langsung. Kaluna pergi ke belakang sekolah, hanya tempat ini yang aman untuk makan bekal. Kalau makan bekal di kantin sudah pasti diejek dan dihina.
Felin yang dari kantin sudah membawa burger, ia melihat Kaluna pergi ke belakang sekolah. Felin pun mengikuti Kaluna, dirinya ingin tahu mau kemana si Kaluna.
"Kal," panggil Felin setelah melihat Kaluna duduk dekat gudang.
"Felin," ucap Kaluna.
"Kamu makan apa?" tanya Felin mendekat.
"Makan nasi aja sama telur," sahut Kaluna.
"Kenapa makan disini, disini kotor tahu."
"Cuma disini yang aman."
"Oh ya."
"Iya."
Felin pun duduk dan memberikan burgernya, "Nih, buat kamu."
"Nggak usah, aku sudah bawa bekal."
"Kamu rasa dulu siapa tahu suka."
"Tapi kamu ...."
"Aku bisa beli lagi kalau mau."
"Hemm ... iya deh." Kaluna mengambil burger dan memakannya.
"Gimana?" tanya Felin, "enak nggak?"
"Enak," sahut Kaluna, "aku suka rasanya."
"Ya udah abisin."
"Makasih yah."
"Sama-sama, oh ya, gimana hubungan kamu sama Citra?"
"Kamu bisa lihat sendiri."
"Aku lihat Rina kayaknya selalu pengaruhin Citra," ucap Felin.
"Dia sangat licik," sahut Kaluna mengakui itu.
"Iya," kata Felin lagi membenarkan, "tapi kok, dia tahu sih, kalau mama aku masuk penjara."
"Kita harus hati-hati, Fel," ujar Kaluna, "dia bukan orang sembarangan."
"Aku juga ngerasa gitu, dia kayak berkuasa banget di sekolah ini."
"Apa kamu juga berpikir kayak gitu?" tanya Kaluna. Felin dan Kaluna saling tatap.
"Ya," sahut Felin.
"Kayaknya aku harus pindah dari sekolah ini," ucap Kaluna, "ini bukan tempat yang baik."
"Kalau kamu pindah, aku juga akan pindah." Felin berucap sambil menatap ke arah depan.
"Kenapa jadi ngikutin aku," heran Kaluna.
Felin kemudian menoleh ke arah Kaluna, "Aku nggak punya teman disini."
"Ouh ...."
"Apalagi kalau Rina tahu kasus mamaku, aku yakin banget dia bakalan ancam aku terus buat patuh sama dia. Pindah lebih cepat kayaknya lebih baik deh," ucap Felin.
"Fel," sahut Kaluna.
"Ya," ucap Felin, "aku minta maaf banget kalau lancang ngomong gini sama kamu. Tapi, mama kamu kena kasus apa sih?"
Felin menunduk dan Kaluna merasa bersalah lalu ia meminta maaf.
"Maaf, Fel. Bukan maksud aku ...."
"Nggak papa, karena kamu teman pertamaku jadi harus tahu. Sebenarnya, mamaku difitnah membunuh orang."
"Apa! Siapa yang fitnah?"
"Dulu mamaku kerja di perusahaan Tante Fara, tiba-tiba ia difitnah sudah membunuh istri Om Marko. Mamaku bilang itu hanya fitnah, dia nggak pernah membunuh orang."
Degh!
'Marko lagi,' batin Kaluna.
"Saat itu umur aku masih 5 tahun, sebelum penangkapan mamaku. Aku udah dititipin ke panti asuhan sama mama, sejak itu hidup aku hancur karena orang panti nggak sebaik yang aku kira." Felin menangis tergugu dan Kaluna berusaha memberikan kenyamanan.
"Kamu harus kuat," ucap Kaluna.
"Iya, Kal, makanya aku bingung darimana Rina tahu."
"Dia tahu karena Rina anak Marko."
Degh!
"Apa maksud kamu, Kal?" tanya Felin.
"Rina anak Marko, Felin," sahut Kaluna, "aku juga punya banyak urusan dengan Marko."
"Maksudnya?" tanya Felin.
"Nggak aman cerita disini," sahut Kaluna.
"Aku paham, nanti aku akan ke toko."
"Ya."
"Kita ke kelas yuk," ajak Felin.
"Ya udah, bekal aku juga udah habis."
Di kantin, Citra dan Rina saling tertawa.
"Kamu ini Rin, bisa aja bikin cerita." Citra terkekeh.
"Iya dong, biar kamu seneng."
"Oh ya, kamu tahu nggak? Cerita tentang Tante Fara?" tanya Citra.
"Cerita Tante Fara," ulang Rina.
"Iya, Rin. Aku penasaran banget kenapa Tante Fara nggak suka berhubungan dengan orang miskin," ucap Citra.
"Mungkin Papa aku tahu," sahut Rina.
"Om Marko."
"Iya, kamu kan tahu. Papa aku dan Tante juga Tante Sindi bersahabat."
"Oh iya, kenapa aku nggak kepikiran yah."
"Nah, jadi ...."
"Nanti pulang sekolah aku mau ketemu sama Om Marko."
"Kalau gitu kita harus ke perusahaan Papa aku."
"Iya, Rin."
Di kejauhan, Kaluna dan Nindi saling lirik.
"Felin," ucap Kaluna.
"Iya," sahut Felin.
"Kamu tahu kan apa yang harus dilakukan?" tanya Kaluna.
"Aku tahu," sahut Felin.
"Ayo ke kelas."
"Iya."
Kring! Kring!
Rina dan Citra keluar kelas bersama, di belakang mereka ada Kaluna dan Felin.
"Citra," panggil Kaluna.
Citra berhenti dan Rina menoleh ke belakang, "Mau apalagi kamu, sialan!"
"Aku mau ngomong sama Citra bukan sama kamu," ucap Kaluna.
"Kamu tuli yah!" bentak Rina, "aku bakalan bilang Tante Fara!"
"Aku nggak peduli," ucap Kaluna lalu menarik Citra, "ikut aku sayang."
"Kaluna!" teriak Rina.
"Lepasin aku, Kal," berontak Citra.
"Citra, ikut aku sebentar." Kaluna terus menarik Citra sampai di belakang sekolah.
"Lepasin!"
"Cit," ucap Kaluna, "bisa nggak hubungan kita diperbaiki lagi."
"Nggak bisa!"
"Cit, aku mau ngejelasin kalau di foto itu bukan aku. Itu hanya fitnah, kamu harus percaya sama aku."
"Aku nggak peduli, di mataku kamu hanya perempuan matre. Nyesel aku pernah pacaran sama kamu, seharusnya aku sadar dari dulu kalau aku nggak boleh pacaran sama orang miskin!" teriak Citra.
Kaluna mematung mendengar semua hinaan dari Citra, sehingga itukah dirinya.
"Cit, aku nggak pernah minta uang sama kamu."
"Iya bener, tapi karena kamu miskin aku jadi kasih uang."
"Kamu nggak ikhlas yah?"
"Pusing, aku pusing tahu. Pokoknya kamu jangan deket-deket lagi sama aku!"
"Aku balikin semua uang yang kamu kasih ke aku, tenang aja." Kaluna langsung pergi meninggalkan Citra di belakang sekolah.
Tiba-tiba Rina datang dan menerjang Kaluna sampai jatuh.
Brughh!
"Brengsek!" maki Rina.
Kaluna melihat Rina dan menyentuh bibirnya ternyata berdarah, ini sudah keterlaluan.
"Kaluna!" teriak Felin, "astaga!"
Citra yang melihat Rina menerjang Kaluna tadi juga sangat terkejut.
"Kaluna," gumam Citra.
Felin langsung mendekat ke arah Kaluna, Citra yang melihat itu jadi enggan menolong Kalian.
"Kamu nggak papa?" tanya Felin.
"Aku nggak papa," sahut Kaluna.
"Mending kita pergi," ajak Felin.
Kaluna terus menatap tajam Rina, tangannya sudah mengepal begitu kuat.
"Apa!" tantang Rina dengan tatapan tajamnya.
'Rina, kamu akan menyesal!' batin Kaluna berlalu melewati Rina.
Felin menawarkan diri untuk mengantar Kaluna pulang, "Aku antar kamu yah."
Kaluna hanya diam, otaknya masih mencerna perbuatan Rina.
'Ini nggak bisa dibiarin,' batin Kaluna, 'aku harus kasih dia pelajaran.'
"Felin," ucap Kaluna tiba-tiba.
"Iya," sahut Kaluna.
"Akun boleh minta tolong sama kamu."
"Minta tolong apa?"
"Ikuti Rina dan Citra, tapi maaf aku nggak bisa bayar kamu. Nanti kalau aku sudah kaya akan aku bayar," ucap Kaluna.
"Ya ampun, santai aja kali. Kamu juga udah kasih informasi penting ke aku, kalau Rina itu anak Marko. Aku juga punya keperluan dengan Rina," sahut Felin, "oh ya, kalau boleh aku tahu kenapa kamu bisa tahu kalau Rina itu anak Marko."
"Karena Marko sumber penderitaan aku dan mama," ucap Kaluna.
"Jadi Marko juga bikin masalah sama kamu," sahut Felin.
"Iya."
Brakk!
Felin memukul setir mobilnya, ia sangat membenci Marko.
"Orang itu lagi!" kesal Felin, "kita harus kerja sama buat hancurin Marko, Kal."
"Aku tahu."
Sampai di kost, Kaluna menawarkan diri untuk Felin masuk.
"Kamu mau masuk ke kost sederhana aku?" tanya Kaluna.
"Emang boleh," sahut Felin sedikit takut.
"Boleh, kalau kamu nggak merasa jijik."
"Mana mungkin aku jijik, wehh ...."
"Kamu kan orang kaya."
"Heheh ...." Felin cengengesan dan melihat ke sekeliling kost.
"Maaf yah, kost aku nggak ada barangnya."
"Nggak papa."
Kaluna langsung memasak, karena ada Felin jadi sedikit spesial. Iya, dirinya memasak kuah asam.
"Wah, ternyata kamu bisa masak juga."
"Sedikit-sedikit."
"Tapi ini udah jago tahu, aku coba rasa yah."
"Iya, coba aja."
"Ya udah, sini aku cicipin." Felin mengambil sedikit kuah asam dan memakannya, "ummm, enak banget."
"Beneran enak?" tanya Kaluna.
"Iya, enak banget."
"Ya udah, aku bikin sambal dulu."
"Sambal, wah aku jadi penasaran cara buat sambal."
"Kamu nggak pernah ah buat sambal?" tanya Kaluna sedikit terkejut.
"Iya," sahut Felin.
"Bukannya kamu tinggal di panti asuhan, seharusnya sih, mandiri dikit."
"Hihihi ... saat umur 7 tahun aku kabur dari panti dan bertemu seseorang, aku tinggal sama orang itu cukup lama. Sampai pada akhirnya, dia meninggal dan aku harus berpikir mencari pekerjaan."
"Dan kamu memilih kerja sebagai sugar baby."
"Iya."
"Ummm ... apa kamu pernah ....?"
"Aku nggak pernah melakukan itu, Kal," ucap Felin, "dia cuma mau minta ditemenin sama aku."
"Hah, yang serius?"
"Iya, dia baik banget sama aku. Buktinya, aku dikasih uang jajan terus bahkan tempat tinggal juga mobil ini."
"Beruntung banget hidup kamu," ucap Kaluna.
"Iya, tapi ...."
"Tapi apa?"
"Aku kesel aja sama sugar mommy aku itu."
"Kesal kenapa? Kan sudah dikasih semuanya?"
"Masa aku disuruh jadi bayi," ucap Felin cemberut, "harus pakai popok sama dot lagi."
"Hahahaha ... kamu bener-bener jadi sugar baby beneran," sahut Kaluna sambil tertawa.
"Ikh, malah ketawa!" kesal Felin melipat kedua tangannya ke dada.
"Ayo makan," ajak Kaluna setelah sambalnya jadi.
"Oh iya," sahut Felin.
"Tapi akun harus mandi dulu yah," ucap Kaluna.
"Ok," sahut Felin.
Kaluna mandi agar tubuhnya segar saat bekerja, rasa kantuk pun hilang.
"Seger banget," ucap Kaluna setelah keluar dari kamar mandi.
"Wangi banget nih," sahut Felin.
"Iya dong," ucap Kaluna lalu mengambil pakaiannya dan kembali masuk ke kamar mandi untuk memasang baju.
Setelah makan siang berdua, Kaluna harus ke toko untuk bekerja.
"Aku kerja dulu, Fel," ucap Kaluna.
"Biar aku antar," sahut Felin.
"Kamu nggak repot?"
"Nggaklah."
"Ya udah."
Sampai di toko, Kaluna langsung membuka tokonya dan duduk di depan. Felin juga harus pulang untuk ganti baju.
"Aku pulang dulu tapi sebelum itu minta nomor kamu dong," ucap Felin.
"Ouh, ya udah catat 0813 ...."
"Ya udah aku pulang dulu," pamit Felin.
"Hati-hati."
Setelah Felin pergi, pembeli datang dan Kaluna melayaninya dengan baik.
"Astaga," ucap Kaluna, "aku lupa ke ruang elektronik di sekolah tadi."
Kaluna melupakan hal yang penting saat di sekolah tadi, bagaimana caranya dia menyelamatkan sang mama. Tunggu, mungkin Felin punya laptop. Apakah dirinya harus meminjam barang itu, apa Felin mau meminjamkannya.
Seperti kata Rina dan Citra di sekolah tadi, saat ini mereka ada di ruang kerja Marko.
"Hay, Citra. Lama nggak ketemu," sapa Marko.
"Om," ucap Citra.
"Ada apa? Tumben kesini?"
"Aku mau tanya sama Om."
"Tanya apa?"
"Soal masa lalu Tante Fara."
"Kenapa dengan masa lalu Tante Fara?" tanya Marko.
"Kenapa Tante Fara benci banget sama mantan istrinya?" tanya Citra langsung.
"Oh, jadi kamu mau tahu itu."
"Iya, Om."
"Karena mantan istrinya sudah berkhianat dari Fara," ucap Marko.
"Berkhianat," sahut Citra.
"Iya, istri Fara sudah melakukan hal yang tak pantas bersama laki-laki. Makanya Fara menceraikan istrinya dan mengusirnya dari rumah beserta anak dalam kandungan istrinya."
"Istri Tante Fara hamil."
"Iya, Cit. Fara mengusir istrinya dalam keadaan hamil," ucap Marko lagi.
"Aku nggak pernah tahu kalau Tante Fara digituin," sahut Citra.
"Itu karena mantan istrinya orang miskin," tambah Marko lagi, "orang miskin nggak akan cukup dengan apa yang diberikan."
"Gitu yah."
"Contohnya pacar kamu, si Kaluna!" tegas Marko.
"Iya, Om," sahut Citra.
Rina tersenyum melihat raut muka Citra dan hatinya berkata, 'Nama kamu sudah nggak ada lagi di hati Citra, Kaluna.'
Kaluna sudah bekerja dengan baik hari ini sampai malam, saatnya beraksi untuk menyelamatkan sang mama. Tidak lupa Kaluna memakai jaket dan masker sekaligus dilapisi topeng warna hitam pekat.
Rencana kali ini, Kaluna akan menghajar Rina lebih dulu. Ia yakin, Marko pasti sangat khawatir dengan anak semata wayangnya itu. Kebetulan, informasi dari Felin membuat Kaluna tahu dimana posisinya.
Rina baru saja pulang dari club malam bersama teman-teman nakalnya, ia tidak mungkin mengajak Citra yang sangat baik.
Tiba-tiba ...
Brak!
"Rina!" teriak sang teman.
Chiiit!
Rina menginjak rem agar tidak menabrak seseorang.
Para teman Rina keluar dan meneriaki Kaluna.
"Woy, kamu mau mati, hah!" bentak teman Rina.
Kaluna langsung menghabisi dua teman Rina sampai pingsan, lalu ia menuju mobil.
"Pergi!" teriak Rina ketakutan.
Prankk!
Kaca mobil milik Rina pecah dipukul oleh Kaluna.
"Aaa!" teriak Rina.
Bughh!
Kaluna menghajar Rina sampai pingsan, ia pun mengambil ponsel Rina dan menyadapnya. Rina ditinggalkan begitu saja oleh Kaluna, dirinya yakin semua bodyguard Marko akan dikerahkan untuk mencari Rina. Kalaupun tidak semuanya, yang pasti sebagian akan pergi dan itu memudahkan Kaluna menyelamatkan sang mama.
Dengan rasa pusing yang begitu menyakitkan, Rina berusaha meraih ponselnya untuk menelpon sang papa.
Drrrt! Drrrt!
Marko yang tengah meny1ksa Monica mengangkat telpon.
"Hallo Monica, ada apa?" tanya Marko.
"Papa," isak tangis Rina.
"Rina, kenapa kamu nangis sayang? Ada apa, Nak?"
"Rina diserang orang, Pa."
"Apa! Dimana kamu, Rina?"
Rina langsung membagi lokasinya dan Marko langsung berteriak.
"Selamatkan anak saya!" teriak Marko lalu pergi dan dirinya lupa menutup pintu rahasia itu.
Kaluna yang melihat semua bodyguard dikerahkan untuk menolong Rina, hanya ada beberapa bodyguard yang tersisa di rumah.
'Bagus,' batin Kaluna langsung masuk ke dalam yang aman dari cctv.
Kaluna tidak ingin membuang kesempatan, ia langsung melepaskan pasungan itu dari tubuh sang mama dan pergi membawanya untuk dirawat.
Sampai di kost, Kaluna membaringkan sang mama.
"Ma," ucap Kaluna dengan tangisnya, "kenapa kayak gini?"
Sungguh hancur hati Kaluna melihat sang mama yang tidak berdaya seperti ini, tubuhnya sangat kurus, wajah cantik sang mama tidak ada lagi.
"Kaluna akan rawat Mama," ucap Kaluna langsung memberikan perawatan terbaiknya.
'Aku harus menyembunyikan sang mama,' batin Kaluna, "tapi dimana?'
Paginya Citra dapat kabar dari Marko kalau Rina masuk rumah sakit.
"Tante, Rina masuk rumah sakit."
"Kok bisa."
"Aku juga nggak tahu."
"Kamu mau menjenguknya."
"Iya, Tante."
"Sekalian aja sama Tante."
"Baik, Tan."
Mereka berdua pun ke rumah sakit menjenguk Rina.
"Fara," ucap Marko tersenyum melihat Fara datang.
"Bagaimana keadaan Rina?" tanya Fara.
"Lukanya parah," sahut Marko sendu, "apalagi bekas kaca yang menusuk ke tangannya."
"Sebenarnya siapa yang nyerang?" tanya Fara.
"Aku juga enggak tahu," sahut Marko.
"Lapor aja ke polisi," ucap Fara memberi saran.
"Iya, Om," sahut Citra.
"Iya, nanti Om laporkan ke polisi. Kalian mau masuk," tawar Marko.
"Iya, Om. Kami mau masuk," ucap Citra.
"Hemm," sahut Fara.
"Ya sudah, ayo kalian masuk." Marko mempersilahkan keduanya masuk.
"Kalian," ucap Rina.
"Rin, kamu nggak papa?" tanya Fara.
"Aku nggak papa, Tante," sahut Rina.
"Syukurlah," ucap Fara.
"Kok, kamu bisa gini?" tanya Citra.
"Iya, Rin," sahut Fara, "biasanya kamu jago berantem."
Degh!
'Sial, gimana aku jawabnya.' Rina membatin.
"Rina dikeroyok," ucap Marko tiba-tiba.
"Dikeroyok," sahut Fara, "apa Rina punya musuh?"
"Nggak mungkin Rina punya musuh, kayaknya saingan bisnis aku."
"Masuk akal sih."
"Terus gimana kelanjutannya?" tanya Citra.
"Anak buah Papa masih mengejar pelaku," sahut Rina.
"Sekalian aja lapor polisi," tambah Fara.
Baik Marko atau Rina seperti sulit untuk melapor ke polisi.
"Kalian kenapa?" tanya Fara.
"Nggak papa kok," sahut Marko, "iya kan Rin."
"Iya, Pa. Cukup bodyguard Papa aja yang ngurus," ucap Rina.
"Kenapa?" tanya Citra, "kalau sama polisi kan lebih cepat."
"Sama polisi ribet," ucap Marko, "nanti disuruh lapor inilah itulah. Mending sama bodyguard biar cepet."
"Iya sih," sahut Fara."
Drrt!
"Bentar," ucap Fara langsung mengangkat telponnya dari Nindi, "hallo ...."
"Kapan kamu ke kantor, jangan lupa ada meeting penting nih."
"Oh iya, aku lupa."
"Ish, bisa-bisanya kamu lupa."
"Maaf-maaf, aku kesana kok."
"Umm ...."
Tut!
"Ada apa, Far?" tanya Marko.
"Aku harus ke kantor," sahut Fara.
"Oh, ya udah kalo kamu mau ke kantor."
"Tapi nanti Tante kesini lagi, kan?" tanya Rina.
"Iya, nanti kesini lagi. Ya udah, Cit. Kamu juga harus sekolah," ucap Fara.
"Iya Tante, Rin, aku sekolah dulu. Kamu cepat sembuh yah."
"Iya, Cit. Makasih udah jenguk aku," ucap Rina.
"Sama-sama," sahut Citra.
Setelah Citra dan Fara pergi, Marko baik Rina menghela napasnya.
"Huh ... untung mereka nggak banyak tanya," ucap Marko, "Rina, yang menghajar kamu itu sendirian kan?"
"Iya, Pa."
"Kok, bisa kamu kalah."
"Kan Rina lagi nggak stabil, Pa."
"Makanya jangan suka mabuk," ucap Marko memperingatkan.
"Kayak Papa nggak mabuk aja," sahut Rina.
"Rina!" tegas Marko.
"Iya, Pa," sahut Rina, "gimana sama temen-temen aku Pa?"
"Luka mereka nggak parah, pagi ini udah bisa pulang."
"Syukur deh."
"Lain kali jangan mabuk lagi," ucap Marko, "bahaya! Kamu ini cewek, dijaga sedikit feminimnya."
"Iya, Papa. Ah, sakit nih kuping."
"Dasar anak ini."
Drrt! Drrt!
"Tunggu bentar, Papa angkat telpon dulu."
"Iya, Pa."
"Hallo," ucap Marko, "iya ... apa! Kamu ini gimana sih, bisa jaga nggak?"
Rina terkejut melihat sang papa marah sampai seperti itu.
"Brengsek!" maki Marko langsung membanting ponselnya.
Prakkk!
Ponsel itu hancur berkeping-keping dan Rina sangat terkejut.
"Kamu tunggu disini, Papa pulang dulu!" tegas Marko lalu pergi.
"Papa kenapa sih?" ucap Rina bertanya-tanya.
Sesampainya di rumah, Marko melihat ruang rahasianya dan benar jika Monica sudah tidak ada.
"Monica!" teriak Marko, "siapa yang berani menolong Monica!"
Anak buah Marko sambat takut melihat tuan mereka seperti itu.
"Kalian," panggil Marko.
"Iya, Tuan."
"Cek cctv."
"Baik, Tuan."
Setelah cctv dicek, tidak ada rekaman jejak tentang Monica yang dibawa kabur atau seseorang masuk.
"Bagaimana bisa," ucap Marko, "apa disini ada pengkhianat."
Marko sangat murka dan menyuruh anak buahnya untuk mencari Monica sampai dapat.
"Cari Monica sampai dapat hidup atau mati!" perintah Marko.
"Baik, Tuan." Semua anak buah langsung bergegas. Sedangkan Marko, terlihat marah di wajahnya.
Kaluna menyembunyikan sang mama di dalam kamar, untuk berjaga-jaga. Apalagi si Marko pasti akan mencari mamanya, sudah pasti menggunakan anak buah.
"Kal," panggil Felin.
"Iya," sahut Kaluna.
"Kamu banyak pikiran yah?" tanya Felin.
"Nggak kok," sahut Kaluna.
"Yakin?" tanya Felin sekali lagi.
"Iya, aku beneran nggak papa."
"Ya udah kalo gitu, jangan nyimpan masalah sendiri. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan cerita sama aku."
"Iya."
"Oh ya, Citra ada di parkiran tuh lagi sendiri."
"Iya."
"Aku duluan ke kelas," ucap Felin.
"Makasih yah," sahut Kaluna.
Kaluna melihat Citra celingukan mencari gelangnya yang jatuh.
"Duhh, mana sih. Tadi kan jatuh disini," ucap Citra.
"Kamu cari ini," sahut Kaluna.
Citra menoleh dan melihat gelang kesayangannya ada di tangan Kaluna.
"Gelang aku," ucap Citra mau mengambilnya. Tetapi Kaluna menarik kembali ke belakang.
"Ett," sahut Kaluna.
"Apa yang kamu lakukan, Kaluna?" tanya Citra, "balikin gelang aku!"
"Aku bakalan balikin, tapi ada syaratnya."
"Ish, nggak ada syarat apapun. Cepat balikin gelang aku," ucap Citra lagi.
"Nggak mau!" tolak Kaluna.
"Kaluna!" ucap Citra dengan suara tingginya.
"Iya, sayang," sahut Kaluna.
"Apa sih, panggil aku sayang-sayang. Kita udah putus yah, kamu lupa!"
"Aku nggak lupa kok," ucap Kaluna.
"Terus kenapa masih panggil aku sayang," sahut Citra.
"Itu karena aku masih cinta sama kamu."
"Halah, kalau cinta mana mungkin kamu selingkuh!" sinis Citra.
"Aku enggak selingkuh sayang," ucap Kaluna, "kamu mau dengerin aku, nggak?"
"Nggak!" ketus Citra, "balikin gelangnya."
Citra merebut gelang itu tetapi tidak bisa karena Kaluna mengangkatnya tinggi-tinggi, kebetulan tubuh pendek Citra tidak sebanding dengan Kaluna.
"Ikh, balikin!" kesal Citra.
"Ayo ambil," ucap Kaluna sangat senang bisa mengerjai Citra.
"Kaluna, awas kamu!" kesal Citra langsung melompat tinggi dan Kaluna tiba-tiba menyambut lompatan itu dengan memeluk Citra.
"Naaah, kamu nggak akan jatuh lagi."
"Ikh, lepasin Kaluna!" teriak Citra.
"Nggak, sekarang kamu ikut aku yah sayang."
"Nggak mau!" tolak Citra mentah-mentah.
Sedangkan Kaluna tidak peduli, ia terus membawa Citra ke belakang sekolah.
Plak!
Citra langsung menampar Kaluna dan memakinya, "Gila kamu, jangan kurang ajar yah."
"Kenapa kamu nampar aku, sayang?" tanya Kaluna terkejut.
"Itu karena kamu pantas!" sahut Citra dengan tajam.
"Sayang, tolong dengerin aku. Kamu harus tahu, aku nggak selingkuh dan foto itu hanya editan. Aku difitnah, mana mungkin aku selingkuh. Kamu adalah cinta pertama aku, sumpah, aku nggak bohong?"
"Sini gelang aku," ucap Citra merebut gelangnya dari tangan Kaluna, "kamu masih nggak mau lepasin aku yah. Apa karena aku anak orang kaya, jadi kamu nggak mau diputusin. Atau kamu mau aku biayain hidup kamu lagi kayak dulu, ngaku?"
"Cit, pikiran kamu sempit banget sih. Aku nggak minta itu, aku cuma ngejelasin tentang foto itu. Felin dan aku nggak ada hubungan apapun, kamu jangan percaya semudah itu dong. Sekarang aku tanya, kamu dapat darimana foto itu? Pasti dari Rina kan? Kamu kan tahu, kalau Rina dari awal nggak suka sama aku. Terus kenapa kamu percaya banget sama dia, apa karena dia sahabat kamu gitu? Sayang, sumpah nggak pernah sedikit pun aku mau morotin kamu. Iya, aku akuin kalau aku miskin. Tapi aku juga punya harga diri, masa kamu nggak ngerti maksud aku sih. Lagian yah, kalau aku morotin kamu udah dari dulu minta dibeliin mobil. Tapi nyatanya apa? Sedikit pun aku nggak pernah minta duluan, kalau boleh diulang aku bakalan tolak semua pemberian kamu. Baik, kalau kamu masih merasa aku morotin. Semua pemberian kamu akan aku balikin, tapi aku mohon sayang, jangan putus yah ...." Kaluna memegang tangan Citra dan memelas agar tidak diputusin, Citra yang melihat Kaluna merasa kesal dan sedih. Ia pun menghempaskan tangan Kaluna lalu pergi begitu saja.
"Lepasin," ucap Citra langsung pergi.
"Sayang," panggil Kaluna tetapi Citra mengabaikannya, "sayang, dengerin aku please ...."
Citra berjalan di koridor, sedangkan Kaluna mengikutinya di belakang. Para siswa yang melihat itu langsung merekam dan menulis caption 'Anak Miskin Mengejar Mantan Pacar Yang Kaya Raya'
"Ahahaha ...."
"Dasar nggak tahu malu."
"Gila yah, matre banget si Kaluna."
"Mental miskin emang kayak gitu."
"Nggak nyangka aku."
"Aku pastiin Rina bakalan marah lihat Kaluna kaya gitu."
"Iya, aku yakin Citra pasti risih dan ilfeel kalau Kaluna kayak gitu."
"Dulu mereka romantis banget yah."
"Ternyata Kaluna ada maunya sama Citra."
"Aku sih, ogah punya pacar kayak Kaluna yang matre."
Itulah cibiran beberapa murid kepada Kaluna.
Felin yang mendengar cibiran orang untuk Kaluna merasa geram.
'Kasihan banget Kaluna,' batin Felin, 'ini pasti kelakuan Rina.'
Untuk di kantor, Fara dan Nindi baru saja selesai meeting.
"Nggak nyangka banget yah," ucap Nindi.
"Emang kenapa?" tanya Fara.
"Ternyata banyak yang suka sama kamu," sahut Nindi, "apalagi perempuan yang tadi, pertama datang udah curi-curi pandang sama kamu."
"Yah, gitulah. Susah juga sih, jadi orang sekaligus tampan." Fara menyombongkan diri.
"Sombong aja terus!" cibir Nindi.
"Hahaha ...." Fara tertawa.
"Eh, gimana keadaan anak Marko?" tanya Nindi.
"Di rumah sakit, katanya sih, dikeroyok. Nggak tahu apa permasalahannya," sahut Fara.
Fara dan Nindi masuk ke ruangan, lalu mereka duduk.
"Itu anak sahabatnya Citra kan?" tanya Nindi.
"Iya," sahut Fara mengangguk.
"Pasti Citra sedih sahabatnya sakit."
"Mungkin."
"Kenapa mungkin?"
"Aku lihat Citra biasa aja."
"Masa sih?"
"Iyalah."
Drrt!
Nindi mengangkat telponnya, "Bentar yah, aku angkat telpon dulu."
"Iya."
Nindi menjauh sebentar dari Fara, "Hallo ... iya, pokoknya saya nggak mau tahu!"
Fara hanya mendengarkan saja dengan ucapan Nindi yang terdengar kesal dan marah.
Tut!
"Cihh!" decih Nindi.
"Kamu masih mencari anak itu?" tanya Fara tiba-tiba.
"Iya," sahut Nindi, "Dinar terus mendesak aku buat cari anaknya."
"Anaknya?" tanya Fara, "bukannya itu juga anak kamu, Nin?"
"Far, sudah berkali-kali aku bilang. Kanin itu bukan anak aku," sahut Nindi, "itu anak mantannya Dinar."
"Kalau gitu kenapa kamu susah-susah cari Kanin, dia kan bukan anak kamu."
"Aku kasihan aja sama Dinar, dia nangis terus."
"Hahaha ..., itu artinya kamu masih cinta sama Dinar."
"Mana ada," elak Nindi, "aku nggak mungkin cinta sama pembunuh kayak Dinar."
"Iya juga yah, kalau diingat lagi korbannya Dinar itu istrinya Marko bukan?" tanya Fara.
"Kamu benar, Dinar membunuh Zara. Aku merasa bersalah sama Marko, karena Dinar membunuh istrinya dan membuat Rina nggak bisa merasakan kasih sayang mamanya sendri."
"Apa itu yang membuat kamu setiap tahun memberi hadiah sama Rina?" tanya Fara.
"Itu hanya rasa bersalah aku sama Zara," sahut Nindi.
"Oh ya, gimana sama sugar baby kamu itu?" tanya Fara.
"Kenapa? Mau juga?" goda Nindi.
"Apa sih, aku cuma tanya aja!" ketus Fara tidak suka.
"Jangan sewot gitu," ucap Nindi sambil tersenyum, "tapi sugar baby aku itu imut tahu. Makanya aku nggak tega buat perawanin dia, lagian masih sekolah SMA juga. Nanti kalau udah lulus, baru aku obrak-abrik."
"Ck, dasar otak mesum. Anak orang loh itu, jangan macam-macam Nin."
"Aku tahu, lagian selama 4 bulan ini aku hanya minta dia buat temenin aku kok."
"Temenin kamu," ulang Fara.
"Iya, aku butuh dia saat suasana hati nggak mood banget. Misal aku ada masalah atu gimana? Aku telpon dia buat temenin aku, yang pastinya nggak akan nyentuh dia kok."
"Oh, kamu dapat itu bocah dimana?" tanya Fara.
"Sama Mami Iren," sahut Nindi.
"Huh, Mami bordil itu."
"Iya, hihihi ... kenapa? Mau juga?" tanya Nindi.
"Nggak!" tegas Fara.
Pulang sekolah Kaluna masih berusaha mengejar Citra, ia ingin menjelaskan.
"Sayang, tungguin aku!" terima Kaluna.
"Jalan Pak," pinta Citra kepada sopir.
"Baik, Nona," sahut supir.
Brom!
Kaluna hanya bisa mengelus dada melihat mobil pacarnya pergi.
"Aku pastiin kamu harus tahu kebenarannya sayang," gumam Kaluna menatap sendu mobil sang pacar yang sudah menghilang dari pandangan.
Felin sendiri yang melihat kejadian itu merasa sedih.
"Kal," panggil Felin.
"Hemm," sahut Kaluna.
"Maaf," lirih Felin.
"Kenapa minta maaf?" tanya Kaluna yang masih membelakangi Felin.
"Gara-gara foto editan itu hubungan kamu sama Citra memburuk," sahut Felin menunduk.
Kaluna kemudian berbalik dan tersenyum manis, "Itu bukan salah kamu, Felin."
"Tapi tetap aja aku ngerasa salah, Citra salah paham terus sejak kita ngobrol di toilet dulu."
"Nggak papa, aku bisa atasin ini kok. Meskipun, Citra selalu ngomong buat putus aku nggak peduli. Selama bukan aku yang ngajak putus, hubunganku sama Citra masih berlanjut. Entah sampai kapan dia akan benci sama aku, tugasku cuma melindungi dia."
"Citra beruntung banget dicintai habis-habisan sama kamu," ucap Felin.
"Ya, cinta itu emang gila yah."
"Hehehe ... ya udah, aku pulang dulu."
"Iya, kamu hati-hati."
"Kamu juga, Kal."
"Pasti ...."
Felin dan Kaluna pun pergi ke rumah masing-masing.
"Ma, aku pulang." Kaluna langsung ke kamar menjenguk sang mama dan menciumnya, "ummuah ... Ma, gimana rasanya? Mau makan apa? Umm ... aku masakin ayam gorengnyah."
Monica hanya mengangguk sambil tersenyum.
'Mama makan apapun yang kamu masak, sayang,' batin Monica.
Kaluna mengambil makan siang untuk sang mama.
"Nah, Mama buka mulutnya. Aaa ... ini aku sendiri loh, yang masak."
'Enak, udah lama aku nggak makan ayam.' Monica membatin.
"Maaf ya, Ma. Aku nggak berani bawa Mama keluar, anak buah Marko masih mencari Mama."
Monica mengangguk paham, ia pun tak masalah. Asalkan selalu dekat sama Kaluna, sudah membuat hatinya senang.
"Mama minum dulu," ucap Kaluna.
Gluk! Gluk!
"Ma, pasti Marko nyiksa Mama banget yah. Sampai-sampai Mama nggak bisa ngomong lagi?" tanya Kaluna dengan sedih, "tapi Mama tenang aja. Marko pasti akan dapat balasannya! Kalau aku udah ada uang, Mama akan terapi nanti biar bisa jalan lagi. Oh ya, hari ini aku di sekolah seneng banget, Ma."
Kaluna terus bercerita sampai makanan Monica di piring habis.
"Ya udah, aku mandi dulu." Kaluna pun berdiri dan bersih-bersih, setelah itu makan siang dan sial untuk bekerja. "Ma, aku pergi dulu yah. Mama baik-baik disini, pintu aku kunci dan semua alat elektronik aku matiin biar aman kecuali kipas angin biar Mama adem di dalam kamar. Ya udah, aku berangkat dulu. Ummuah, dachhh Mamaku cantik."
Kaluna langsung berangkat ke toko, ia sengaja mematikan semua lampu kecuali lampu kamarnya. Tidak lupa juga, ia membawa tas entah apa isi didalamnya juga tidak tahu hanya Kaluna sendiri yang tahu.
"Mau berangkat, Kal?" tanya tetangga.
"Iya, Bu," sahut Kaluna.
"Ya udah hati-hati yah."
"Iya, Bu. Makasih yah."
"Iya."
Tidak ada yang tahu jika Kaluna membawa sang mama ke kost, itu dilakukan Kaluna agar sang mama tetap aman. Sesampainya di toko, Kaluna langsung melayani pembeli dan bekerja dengan keras siang ini sampai malam.
"Kaluna," panggil pemilik toko.
"Iya, Bu," sahut Kaluna.
"Ini ada makanan lebihan, kamu bawa pulang gih."
"Beneran ini buat saya, Bu?" tanya Kaluna dengan mata berbinar.
"Iya, itu ayamnya udah dimarinasi tinggal kamu goreng aja besok pagi."
"Makasih banyak, Bu."
"Sama-sama, saya pulang dulu."
"Iya, Bu."
"Kamu hati-hati di jalan."
"Ibu juga."
"Hemmm ...."
Kaluna kemudian pulang ke kost dan menjenguk sang mama di dalam kamar.
"Ma," ucap Kaluna.
Monica terbangun dan tersenyum, hatinya gembira melihat sang anak datang.
"Ayo makan," ucap Kaluna.
Monica baru bisa makan saat tengah malam, karena Kaluna baru saja pulang dari toko.
"Maaf yah, Ma. Mama makannya tinggi malam begini," ucap Kaluna penuh sesal.
Monica menggeleng dan membuka mulutnya saat Kaluna menyuapi dirinya.
'Mama nggak papa, Nak,' batin Monica, 'Mama yang minta maaf, kamu pasti capek habis pulang kerja tapi harus nyuapin Mama.'
Setelah selesai menyuapi Monica, Kaluna pun minta izin untuk bersih-bersih.
"Aku mau mandi dulu ya, Ma," ucap Kaluna, "Mama lanjut tidur aja."
Kaluna langsung masuk kamar mandi dan mengganti bajunya untuk bersiap menyerang Marko malam ini, ia ingin mencari bukti dan alasan apa Marko menyekap sang mama.
'Maafin aku, Ma,' batin Kaluna, 'aku mau tahu apa yang buat Mama disekap.'
Sedangkan Marko sangat murka mendengar jika anak buahnya masih belum bisa menemukan Monica.
"Sialan, kamu Monica! Lihat aja nanti kamu pasti aku tangkap kembali!" teriak Marko bahkan menghamburkan semua barang yang di dalam ruangannya.
Rina sendiri sudah pulang sore tadi ditemani oleh Citra, dirinya bersumpah mencari orang yang sudah menghajarnya.
"Sial!" kesal Rina.
Kembali pada Marko yang mengamuk di dalam ruangan, "Ini nggak boleh terjadi, Monica harus aku tangkap. Jangan sampai dia mengadu ke Fara, bisa gawat!"
Lalu Kaluna sendiri mengintip anak buah yang berjaga di depan. Dengan cepat tangannya sudah membekap orang yang berjaga di depan dan membawanya ke tempat sepi.
"Maukah kamu bekerja sama denganku atau kubunuh semua keluargamu," ucap Kaluna sambil membekap anak buah Marko yang ia tangkap tadi.
Mata anak buah Marko membelalak melihat seseorang yang menggunakan topeng sedang mengancamnya.
"Jangan berteriak atau ku habisi nyawamu yang tak berharga itu!" ancam Kaluna, "nyawa semua keluargamu ada di tanganmu! Tugasmu hanya 1, biarkan aku lewat dan pastikan semua temanmu tidak melihatku masuk. Makan kamu akan aman, ingat! Aku bisa melakukan apapun kepadamu dan juga keluargamu!"
Anak buah Marko mengangguk dan Kaluna melepaskan tangannya dari mulut anak buah Marko.
"Ini denah rumahnya yang garis merah itu tanpa tanpa cctv," ucap anak buah Marko, "tapi nanti tolong kembalikan."
"Hemm, kamu memang bisa diandalkan!" Kaluna mengambil denah itu lalu masuk ke dalam rumah Marko.
Kaluna menggunakan rantai besi sebagai senjata andalannya, kali ini ia tidak akan membunuh Marko tapi memberi pelajaran.
"Arrghh!" teriak Marko di dalam ruangan yang kedap suara.
Pintu ruang pribadi terbuka, lalu Kaluna masuk dengan santai menutup pintu.
'Kamu milikku, Marko.' Kaluna membatin.
Marko menoleh ke belakang, "Kamu!"
Bugh! Bugh!
Kaluna menghajar Marko tanpa ucapan atau salam perkenalan, ia ingin memberi Marko pukulan yang menyakitkan.
"Akkhh," ringis Marko, "brengsek!"
Rantai besi milik Kaluna selalu berhasil membuat Marko kesakitan, sehingga Marko harus berhati-hati melawan penyusup ini.
"Bagaimana kamu masuk?" tanya Marko tapi Kaluna tetap diam, "ia tidak ingin bicara sama sekali."
Kaluna berlari maju ke arah Marko dan melompat untuk memberikan sentuhan memikat dari rantai besinya.
°°°°