Sonia berdiri di dekat tempat tidur dan jantungnya berdetak dengan kencang karena merasa sangat malu.
Namun, Vicky tidak menyalahkannya. Dia menarik tubuh Sonia ke belakangnya, seperti sedang melindungi Sonia dan berteriak pada Verdi.
'Bukankah Vicky yang menjebakku semalam?' tanya Sonia dalam hati.
"Verdi, kamu sangat keterlaluan! Apakah kamu tidak punya rasa malu? Bisa-bisanya kamu menindas calon menantu perempuanku? Apakah kamu meremehkanku?!"
Kemudian, dia menoleh ke arah Sonia yang wajahnya terlihat merah dan berkata dengan tegas, "Jangan khawatir, Sonia. Tante akan membantumu mencari keadilan."
Sonia tidak membalas, dia hanya memperhatikan wanita paruh baya itu dengan rasa bingung bercampur curiga.
Verdi duduk di kursi rodanya sambil tersenyum sinis. "Wah, kamu datang lebih awal dari perkiraanku! Apakah kamu mengundang Ayah untuk datang ke sini?"
Sonia mengerutkan kening saat Vicky bergegas membawanya keluar sambil mencoba menenangkan dirinya saat mereka pergi.
"Sonia, jangan pedulikan Verdi. Kamu tidak perlu takut. Tante akan membantumu!"
Sonia benar-benar bingung karena tidak yakin siapa yang menjebak dirinya. Jadi, dia hanya bisa menolak dengan sopan. "Tante Vicky, mungkin sebaiknya aku pulang ke rumah."
Namun, Vicky tidak mengizinkan Sonia pergi. Dia malah mempererat cengkeramannya di pergelangan tangan Sonia dan menyeretnya ke ruang tamu untuk menghadapi Sigit Malik, ayah Verdi.
"Ayah, semalam Verdi telah menodai calon menantuku! Sonia telah kehilangan kesuciannya. Kami membutuhkan penjelasan!"
Amarah Sigit langsung meledak ketika mendengar pernyataan Vicky dan dia berteriak, "Verdi, cepat turun ke sini!"
Tubuh Sonia seolah membeku di tempat dan kukunya menancap ke telapak tangannya. Entah kenapa, hatinya terasa seperti ditusuk belati.
Dia seharusnya menjadi istri cucu Sigit.
Setelah insiden semalam, dia bertanya-tanya dalam hati bagaimana dia harus menghadapi Tonny dan Sigit sekarang.
Sigit memegang dadanya dan memberi perintah pada kepala pelayan, "Ayo, cepat! Bawa Verdi ke sini sekarang juga!"
Kepala pelayan menurut dan segera kembali, mendorong kursi roda Verdi keluar dari lift.
Saat Verdi memasuki ruang tamu, Sigit yang marah memukulkan tongkatnya ke meja dan bertanya, "Jelaskan apa yang terjadi semalam!"
Sebelum Verdi sempat berbicara, Vicky menyela, "Ayah, aku dengar Verdi dibius ketika menghadiri acara makan malam bisnis semalam. Dia kembali ke rumah, melihat Sonia sendirian, dan mengincarnya. Dia meminta pelayan untuk membawa Sonia ke kamarnya!"
Setelah Vicky menyelesaikan kalimatnya, beberapa orang pengawal pribadi membawa seorang pelayan dengan wajah babak belur.
Pelayan itu segera berlutut dan memohon ampun. "Tuan Sigit, saya minta maaf! Saya terpaksa mengikuti perintah Tuan Verdi. Saya tidak bisa melawan perintahnya!"
Semua bukti yang ada memberatkan Verdi!
Akan tetapi, Sonia merasa ada yang tidak beres.
Kemudian, sebuah pemikiran melintas di benaknya.
'Tidak, pelakunya pasti bukan Verdi!'
Ketika Verdi kembali ke kamarnya semalam dan menemukan seorang wanita sedang tidur di atas tempat tidur, dia sangat marah dan sudah siap untuk mengusirnya.
Dia terdengar seperti tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Kemudian, dia tiba-tiba mengubah nada bicaranya dan tidur dengannya, mungkin karena pengaruh obat.
Sonia ingat dia merasa lemas dan mengantuk setelah minum susu pemberian Vicky!
Lalu, dia tersadar. Vicky yang merencanakan semua ini!
Ketika menyadari apa yang telah terjadi, Sonia dengan cepat berkata, "Tidak! Kakek Sigit ...."
Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Verdi memotong dengan sedikit sarkasme, "Perkataanku tidak akan membuat banyak perbedaan. Aku memang menyakiti Sonia. Aku akan menerima konsekuensinya."
Wajah Sonia tampak kaget ketika menatap Verdi.
Dia tidak percaya pria itu bersedia mengakui kesalahan yang tidak pernah dilakukannya!
Karena merasa kesal bercampur marah, Sigit memukul bahu Verdi menggunakan tongkatnya sambil berteriak, "Verdi! Dasar kurang ajar!"
Verdi meringis kesakitan, tetapi tidak mengeluh.
Jantung Sonia berdetak dengan kencang saat mendengar teriakan marah Sigit.
"Apa yang akan kamu lakukan untuk menyelesaikan masalah ini?"
"Aku akan menikahi Sonia. Aku akan bertanggung jawab atas kesalahanku," ucap Verdi tanpa berbelit-belit.
Sigit mendengus dan menatapnya dengan jijik. "Kamu ingin menikahi Sonia? Hanya itu solusimu? Kamu sangat arogan. Apakah kamu yakin Sonia bersedia menikah denganmu?"
Kemudian, Sigit melihat ke arah kepala pelayan. "Ambilkan cambuk keluarga."
Wajah kepala pelayan itu tampak ngeri dan dia berusaha membela Verdi. "Tuan Sigit, tubuh Tuan Verdi sangat lemah. Dia masih terluka akibat kecelakaan mobil beberapa saat yang lalu. Dia tidak mungkin sanggup menerima cambukan."
"Jangan banyak bicara! Cepat lakukan perintahku!" ucap Sigit sambil memelotot tajam, membungkam kepala pelayan hanya dengan satu tatapan.
Tidak lama kemudian, kepala pelayan kembali sambil membawa cambuk panjang di tangannya.
Sigit memandang Sonia sambil memegang cambuk kulit yang kasar dan bertanya, "Sonia, apakah kamu bersedia menikah dengan Verdi? Jika kamu tidak bersedia, aku akan menghajarnya. Anggap saja sebagai kompensasi untukmu! Kemudian, kamu bisa memutuskan sisa kompensasi yang kamu inginkan."
Sonia tampak gelisah saat bertemu dengan tatapan Verdi. Pria itu mendongak dan wajahnya terlihat pucat, tetapi berhasil tersenyum lemah padanya.
"Jika kamu memilihku, aku akan memberimu sebuah keluarga. Meski aku cacat, aku akan melakukan segalanya untuk membuatmu bahagia. Kalau kamu tidak mau, silakan pergi sekarang juga. Kamu tidak perlu melihatku dihukum."
Namun sebelum dia bisa berkata lebih banyak, Sigit meminta kepala pelayan untuk memaksa Verdi berlutut di lantai.
Dengan gerakan cepat, Sigit mencambuk punggung Verdi.
Tubuh Verdi menjadi kaku karena kesakitan dan kemejanya berubah menjadi merah karena darah.
Air mata membasahi wajah Sonia dan hatinya terasa sakit.
Dia melihat Verdi menerima hukuman dan teringat akan dirinya sendiri. Bertahun-tahun yang lalu, dia dituduh mencuri barang adiknya dan tidak ada yang percaya padanya.
Dia dan Verdi adalah korban dari jebakan orang lain.
Janji Verdi memberikan sebuah keluarga selaras dengan dirinya, menawarkan pelarian dari kehidupan yang tidak bahagia dengan keluarganya.
'Tapi, Tonny ....'
Pikiran Sonia berpacu saat memikirkan hubungan mereka yang telah terjalin selama tiga tahun.
'Mana mungkin aku mengakhiri hubungan ini begitu saja?'
Sonia memejamkan matanya dan mengingat kenangan ketika dia datang untuk meminta bantuan Tonny.
Dia menceritakan bahwa dia dijebak oleh keluarganya sendiri dan menyarankan agar mereka segera menikah agar terlepas dari rencana keluarganya.
Namun Tonny berkata, "Sonia, aku tidak percaya seorang ibu tega menyakiti putrinya seperti itu. Apakah kamu salah paham? Jangan khawatir, Sonia. Ibuku akan menjagamu dengan baik. Kamu aman jika bersamanya. Kamu bisa tinggal di rumahku untuk sementara waktu. Sonia, bukannya aku tidak ingin menikah denganmu. Aku hanya ingin merencanakan lamaran yang pantas, lalu kita akan menikah. Sonia, proyek arkeologi ini merupakan kesempatan sekali seumur hidup. Aku tidak bisa melewatkannya. Tolong tunggu aku, oke? Kita akan menikah begitu aku kembali!"
Suara Tonny di dalam benak Sonia terdengar menenangkan dan masih melekat di telinganya, sehingga membuat hatinya hancur.
Namun, suara cambuk menariknya dari lamunan dan mengembalikan dirinya ke kenyataan yang pahit.
Semuanya telah berubah setelah insiden yang terjadi tadi malam. Dia dan Tonny tidak akan bisa kembali ke keadaan semula.
Sonia membuka mata dan tatapannya dipenuhi dengan tekad yang kuat.
"Kakek Sigit, aku sudah mengambil keputusan. Aku akan menikah. Aku akan menikah dengan Om Verdi!"
Sigit menghela napas lega, meski ekspresinya masih sedikit tegang. "Jika kamu menikah dengan Verdi, kamu tidak bisa memanggilku kakek lagi. Panggil aku ayah."
Verdi, yang masih berlutut, tersenyum tipis. Kemudian lukanya tertarik karena sedikit bergerak, membuat wajahnya memucat.
Sang kepala pelayan menyadari hal ini, dan langsung menoleh ke Sonia. "Nyonya Sonia, bisakah Anda membantu saya mendudukkan Tuan Verdi di kursi roda?"
Sonia, yang belum terbiasa dengan peran barunya, merasa sedikit canggung tetapi bertekad membantu kepala pelayan itu mengangkat Verdi ke kursi roda.
Setelah duduk, Verdi menyapa Vicky dengan lemah. "Vicky, apa kamu puas dengan hasilnya?"
"Sangat puas. Verdi, jangan marah padaku. Sebagai seorang ibu, aku tahu betul bagaimana situasi antara Sonia dan Tonny. Sonia kehilangan kesuciannya karenamu. Sudah sewajarnya kamu bertanggung jawab atas dirinya."
Vicky menghampiri Sonia sambil meraih tangannya dengan lembut.
"Sonia, walaupun aku tidak akan menjadi ibu mertuamu, kita tetap keluarga. Datanglah padaku jika kamu membutuhkan sesuatu."
Setelah mengetahui keseluruhan ceritanya, Sonia merasa asing. Dia menarik tangannya perlahan. "Tante Vicky, kalau aku menikah dengan Tuan Verdi hari ini, aku akan menjadi adik iparmu."
Wajah Vicky sempat menegang, lalu dia memaksakan senyuman, dan berkata, "Tentu saja."
Dia tampak tenang, tidak merasa kesal sama sekali meski kehilangan menantunya.
Sonia teringat pada ucapan Tonny bahwa ibunya akan menjaganya, lalu mencibir dalam hati.
Mungkin pria itu tidak menyangka bahwa ibunya sendiri yang menyerahkannya ke pelukan omnya!
Melihat hal ini, Verdi tersenyum licik. "Kamu tampak bahagia, Vicky. Kamu sudah membuat kesepakatan dengan Keluarga Naswan, bukan? Tidak lama lagi kamu akan meminang putri kedua mereka untuk menjadi menantu di rumahmu. Selamat sebelumnya."
Senyum Vicky langsung lenyap begitu mendengar kata-katanya.
Sonia dan Sigit sama-sama menoleh padanya.
Ekspresi wajah Vicky tampak sedikit gelisah, tetapi dia langsung memberikan penjelasan yang masuk akal pada Sigit. "Ayah, Verdi benar. Keluarga Naswan, yang punya banyak lapangan golf, terus menghubungiku. Mereka sangat tertarik untuk menikahkan putri mereka ke keluarga kita. Mereka terus berbicara tentang betapa luar biasanya Tonny, dia sopan, setia, dan berambisi, yang jarang dimiliki oleh anak-anak muda kelas atas. Tapi aku selalu menolak mereka. Bagaimanapun, Tonny bertunangan dengan Sonia pada saat itu. Tapi sekarang Sonia akan menikah dengan Verdi, jadi aku berpikir akan memberi kesempatan pada Keluarga Naswan."
Sigit, yang cukup tajam, tahu apa yang disembunyikannya. Dia menunduk, dan tetap bungkam.
Tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Sigit, Vicky melanjutkan, "Keluarga Naswan mempunyai reputasi yang sangat baik. Bekerja sama dengan mereka akan membuka berbagai peluang bagi keluarga kita."
"Vicky ada benarnya." Verdi langsung sepakat dengannya, yang membuat Sonia menggeliat gelisah.
Vicky tampak makin bersemangat, dia menoleh pada Sigit, dan mendesak, "Ayah, apa Ayah dengar itu? Bahkan Verdi juga setuju. Ini ide yang bagus, bukan?"
Sigit berdiri, bersandar pada tongkatnya, tetapi tidak mengucapkan apa-apa.
Verdi tertawa, dan berkata, "Putri kedua Keluarga Naswan sedang mengandung anak kembar. Jika dia menikah dengan Tonny, ini seperti mendapatkan tiga dengan satu harga. Vicky pasti senang."
Vicky langsung tercengang. "Kamu ... kamu bilang apa barusan?"
Sigit membenturkan tongkatnya ke lantai dengan marah dan bergegas keluar.
"Aku mendengar kabar ini dari mitra bisnisku. Mereka bilang putri kedua Keluarga Naswan hamil karena sering keluar malam. Dia tidak bisa menggugurkan kandungan karena kondisi kesehatannya. Anak-anak itu membutuhkan seorang ayah. Tapi kamu harus memastikan sendiri apakah informasi itu benar."
Setelah menyampaikan hal ini, Verdi memberi isyarat pada Sonia untuk mendorong kursi rodanya ke garasi.
Selama berjalan Sonia tetap bungkam, perasaannya campur aduk antara pahit dan malu.
Dia menyadari apa yang sedang terjadi. Jelas sekali.
Vicky tidak pernah mempertimbangkan pernikahannya dengan Tonny.
Ketika Tonny pergi, wanita itu menyerahkannya pada Verdi yang lumpuh.
Bagi Vicky, ini adalah salah satu cara untuk mengatasi masalah.
Sungguh wanita yang kejam!
Vicky pasti merasa puas dengan keadaan saat ini. Verdi, yang lumpuh akibat kecelakaan, kini menikahi seorang wanita yang tidak dihargai oleh keluarganya sendiri. Peluangnya untuk menaikkan status tampak kecil.
Merasa kasihan, Sonia memperhatikan darah di punggung Verdi, dan menyarankan, "Ayo, kita ke rumah sakit dulu."
"Tidak perlu, kita harus pergi ke Kantor Catatan Sipil. Aku perlu meyakinkanmu," desak Verdi.
"Bagaimana dengan lukamu?"
"Jangan khawatir. Aku akan memakai jas hitam. Darahnya tidak akan kelihatan."
Kemudian Verdi menelepon asistennya, meminta dibawakan jas dan semua dokumen yang diperlukan. Dia tampak cemas ketika berkata, "Ayo, ambil akta nikah kita dulu!"
Segera setelah itu, asisten Verdi, Ramli Dahlan, tiba dengan membawakan semua yang diminta Verdi.
Tentu saja dia tidak lupa membawa sebuah kotak P3K.
Ramli merawat luka di punggung Verdi dengan cekatan sebelum membantunya berpakaian.
Efisiensinya menunjukkan bahwa dia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.
Kemudian, Ramli mengambil mobil, dan membantu Verdi naik.
Sonia, yang masih merasa seperti sedang bermimpi, juga ikut masuk ke dalam mobil.
Dia memperhatikan pemandangan yang mereka lewati, pikirannya dipenuhi berbagai hal tentang pergi ke Kantor Catatan Sipil untuk memperoleh akta nikah mereka.
Suasana di dalam mobil tersebut hening cukup lama hingga Verdi memecah kesunyian dengan suara datar tanpa emosi ketika dia berkata, "Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Sonia menarik napas dalam-dalam, dan menoleh dengan tenang. "Bisakah kita bicara?"
Wajah Verdi menjadi suram, dia tampak sedikit ragu-ragu dan khawatir. "Apa kamu berubah pikiran?"
Dia memalingkan wajah dan terbatuk pelan, penampilannya yang lemah membuatnya terlihat seperti dia akan pingsan kapan saja.
Ramli, yang duduk di depan, mau tidak mau berpikir bahwa bosnya adalah seorang aktor yang luar biasa hingga pantas memenangkan piala Oscar.
Sonia langsung menggelengkan kepala, dan berkata dengan suara rendah, "Tidak, hanya saja ... menikah adalah hal yang besar. Ada sesuatu yang harus kupahami lebih dulu."
Verdi terus terbatuk tetapi memberi isyarat dengan sopan agar Sonia melanjutkan.
Setelah berpikir sejenak, Sonia bertanya, "Verdi, apa kamu pernah membunuh seseorang?"
Secara naluriah, dia langsung menyentuh lehernya, merasa seolah-olah kepalanya bisa terlepas dari lehernya sewaktu-waktu.
"Belum pernah," jawab Verdi, tidak melewatkan ekspresi Sonia yang menggemaskan. Dia mendekat, dan menyentuh leher Sonia dengan lembut.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan pernah menyakiti istriku. Aku tidak akan menyakitimu."
Sonia merasa geli, seperti ada ulat yang menari lehernya, jadi dia menghindari sentuhannya dengan malu-malu. Sambil berdeham, dia bertanya lagi, "Bagaimana dengan barang-barang ilegal?"
"Tidak pernah!" Verdi menarik kembali tangannya, menikmati sensasi setelah menyentuh lehernya.
Kulit wanita ini terasa luar biasa, selembut sutra.
Dia mendorong kacamatanya ke atas, berupaya menjaga sikap, dan menjelaskan dengan tenang, "Ketika masih muda, aku sering melakukan hal-hal yang tidak berguna. Tapi aku tidak pernah melanggar hukum."
Ramli, yang sedang menyetir, tidak bisa memercayai telinganya.
Dia tidak pernah membayangkan bahwa bosnya menyebut insiden-insiden itu sebagai hal-hal yang tidak berguna.
Insiden-insiden tersebut lebih seperti Verdi yang menghajar orang lain!
"Klub malam yang kujalankan bersih, tidak terjadi aktivitas yang mencurigakan, dan tidak ada narkoba. Itu aturanku."
Sonia tampak lebih santai setelah mendengar hal ini. Tetap saja, dia tidak bisa tidak menasihati pria itu seperti seorang guru, "Mulai sekarang, kamu tidak boleh berkelahi lagi. Perkelahian tidak baik bagi kondisi tubuhmu."
"Aku akan mengingatnya." Verdi memegang tangan Sonia dengan lembut, berupaya menenangkannya.
Pipi Sonia langsung memerah.
Ramli merasa berada di tempat yang salah.
Mungkin seharusnya dia tidak menyetir, atau bahkan berada di dalam mobil ini.
Verdi membelai tangan Sonia dengan lembut, tidak membiarkannya menarik diri.
Menyadari keengganan wanita di sampingnya, dia bertanya, "Apa masih ada lagi yang ingin kamu tanyakan atau katakan?"
Sonia berkedip dua kali, lalu berkata dengan malu-malu, "Aku punya ... dua syarat."