Bab 2

Aulia menatap Arman dengan tatapan kosong, seakan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut suaminya tidak cukup untuk menjelaskan semuanya. "Maaf?" Aulia tertawa pahit. "Setelah semua yang kamu lakukan, hanya itu yang bisa kamu katakan? Aku telah mencoba bertahan, Arman. Aku mencoba memberikan kesempatan demi kesempatan, berharap kamu akan berubah. Tapi nyatanya, kamu malah menusukku dari belakang."

Arman menghela napas berat, lalu duduk di sofa, meremas rambutnya dengan frustrasi. "Aulia, aku... aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tahu aku salah, tapi semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan. Hubunganku dengan Maya... itu tidak serius."

"Jadi kamu pikir itu membuat semuanya lebih baik?" suara Aulia meninggi, amarahnya akhirnya meluap. "Apakah karena tidak serius maka aku harus memaafkanmu begitu saja? Kamu sudah mengkhianati kepercayaan yang aku berikan, Arman. Aku merasa begitu bodoh selama ini, berpura-pura semuanya baik-baik saja ketika kenyataannya kamu sudah melangkah jauh dari pernikahan kita."

Arman mengangkat wajahnya, memandang Aulia dengan mata yang memohon. "Aku tahu aku membuat kesalahan besar, tapi aku benar-benar ingin memperbaikinya. Aku akan memutuskan hubungan dengan Maya, aku janji. Aku hanya butuh kamu memberikan kesempatan lagi."

Aulia memalingkan wajahnya, berusaha menahan air mata yang kembali menggenang. Ia ingin mempercayai Arman, ingin sekali menganggap semua ini hanyalah kesalahan sesaat yang bisa diperbaiki. Tapi perasaan sakit itu terlalu nyata, dan luka di hatinya sudah terlanjur dalam.

"Kamu pikir semudah itu, Arman? Semudah mengucapkan janji dan aku akan kembali percaya?" Aulia berkata dengan suara lirih. "Aku sudah kehilangan diriku dalam pernikahan ini, dan aku tidak tahu apakah aku masih bisa memberikan kesempatan lagi."

Arman bangkit dari sofa, mendekati Aulia yang berdiri di ambang pintu. "Tolong, Aulia. Aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku akan melakukan apa saja untuk memperbaiki ini. Aku akan berubah, aku akan berusaha menjadi suami yang lebih baik. Beri aku waktu, kumohon."

Aulia menatap Arman dengan mata yang berkaca-kaca. "Kamu tidak mengerti, Arman. Ini bukan hanya soal kamu berubah atau tidak. Ini tentang perasaan dan kepercayaanku yang sudah hancur. Apa kamu pernah berpikir bagaimana aku merasa setiap kali kamu pulang terlambat? Setiap kali aku mendengar kabar tentang kamu dan Maya?"

Arman terdiam, tak bisa menjawab. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat kedalaman luka yang telah ia goreskan pada hati istrinya.

---

Beberapa hari berlalu dengan suasana rumah yang kian dingin. Aulia merasa terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan: tetap bertahan dengan pernikahan yang penuh kepura-puraan, atau mengakhiri semuanya dan menghadapi kenyataan bahwa pernikahannya dengan Arman telah gagal. Setiap malam ia tidur sendirian, memeluk selimutnya erat-erat seakan itu bisa menghangatkan hatinya yang beku.

Arman, di sisi lain, mencoba untuk menunjukkan perubahan. Ia mulai pulang lebih awal, mengurangi frekuensi pertemuannya dengan teman-teman, dan berusaha lebih banyak menghabiskan waktu bersama Aulia. Namun, setiap usahanya terasa hambar, seolah semua hanya dilakukan demi kewajiban, bukan karena cinta.

Suatu malam, ketika Aulia sedang menyiapkan makan malam, Arman menghampirinya di dapur. "Aku memesan tiket liburan untuk kita berdua ke Bali," katanya dengan senyum tipis di wajahnya, mencoba menawarkan sedikit kebahagiaan di tengah ketegangan yang terus menyelimuti rumah mereka.

Aulia hanya mengangguk singkat. "Liburan tidak akan memperbaiki semuanya, Arman," jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari panci yang sedang ia aduk.

Arman mendesah pelan. "Aku tahu. Tapi mungkin kita bisa menggunakan waktu itu untuk bicara dan mencoba memperbaiki keadaan. Kita bisa mulai dari awal lagi."

"Aku tidak yakin ada 'awal lagi' untuk kita," jawab Aulia dengan nada datar. "Mungkin apa yang kita butuhkan bukan liburan, tapi waktu untuk sendiri-sendiri, untuk memikirkan apa yang sebenarnya kita inginkan dari hubungan ini."

Arman terdiam, merasa kata-kata Aulia bagaikan palu yang menghantam jantungnya. Ia telah membuat kesalahan yang besar, dan ia tahu bahwa memulihkan kepercayaan bukanlah perkara mudah. Tapi mendengar istrinya berbicara seolah-olah pernikahan mereka sudah tidak ada harapan lagi, itu adalah kenyataan yang begitu pahit untuk diterima.

"Aku akan terus berusaha, Aulia," katanya akhirnya, suaranya serak. "Aku tidak akan menyerah begitu saja."

Aulia hanya mengangguk pelan, namun hatinya belum bisa sepenuhnya menerima kata-kata itu. Di dalam hatinya, masih ada perasaan bimbang yang terus menghantui. Apakah benar ia harus terus mencoba mempertahankan pernikahan ini, ataukah ia harus melepaskan semuanya dan memulai hidup baru?

Malam itu, Aulia tidak bisa tidur. Ia berjalan-jalan di sekitar rumah, mencoba mencari ketenangan. Ketika ia sampai di ruang tamu, ia melihat foto pernikahan mereka yang tergantung di dinding. Tatapan bahagia yang pernah ia miliki terasa begitu asing kini. Foto itu seolah-olah berasal dari kehidupan yang berbeda, kehidupan yang sudah lama ia tinggalkan.

Ketika pagi menjelang, Aulia membuat keputusan besar. Ia memutuskan untuk memberikan waktu kepada dirinya sendiri. "Aku ingin kita berpisah sementara, Arman," ucapnya saat sarapan. "Bukan berarti aku ingin bercerai, tapi aku butuh waktu untuk sendiri. Aku butuh waktu untuk menyembuhkan diriku."

Wajah Arman berubah pucat. "Berpisah sementara?" ulangnya, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Ya," jawab Aulia tegas. "Aku akan pindah ke rumah kakakku untuk sementara waktu. Kita bisa tetap berkomunikasi, tapi aku tidak bisa tinggal di sini saat hatiku masih dipenuhi luka. Aku harap kamu bisa memahami itu."

Arman terdiam lama. Ia tahu bahwa ini mungkin adalah satu-satunya cara agar Aulia bisa menemukan kedamaian, namun hatinya tidak bisa menerima kenyataan bahwa istrinya akan meninggalkannya. "Kalau itu yang kamu inginkan, aku akan menghormatinya. Tapi kumohon, Aulia, jangan pergi terlalu lama. Aku benar-benar ingin kita bisa memperbaiki semuanya," katanya dengan suara bergetar.

Aulia hanya mengangguk. "Aku juga berharap begitu, Arman," jawabnya lirih, sebelum beranjak pergi untuk mulai mengemas barang-barangnya.

---

Hari itu, Aulia meninggalkan rumah dengan perasaan campur aduk. Ada bagian dari dirinya yang merasa lega karena akhirnya ia bisa mendapatkan ruang untuk bernapas, namun ada juga rasa takut akan masa depan yang belum pasti. Ia tidak tahu apakah perpisahan ini akan membawa mereka kembali bersama atau malah semakin menjauhkan. Yang ia tahu, ia membutuhkan waktu untuk menemukan dirinya sendiri kembali.

Saat mobilnya melaju meninggalkan rumah yang pernah ia huni bersama Arman, Aulia hanya bisa berdoa agar keputusannya ini adalah langkah yang tepat untuk menyembuhkan luka di hatinya.

Bab 3

Aulia menjalani hari-harinya di rumah kakaknya, Nadya, dengan perasaan yang masih bergulat antara lega dan sedih. Nadya, yang sudah mengetahui tentang permasalahan rumah tangga adiknya, berusaha memberikan dukungan tanpa banyak bertanya. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, berbicara tentang hal-hal ringan yang tak berhubungan dengan pernikahan Aulia. Nadya tahu, Aulia butuh waktu untuk merenung tanpa terus-menerus diingatkan tentang masalah yang ia tinggalkan.

"Aulia, apa kamu sudah memikirkan apa langkahmu selanjutnya?" tanya Nadya suatu malam ketika mereka sedang duduk di ruang keluarga. "Maksudku, apakah kamu sudah tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan?"

Aulia terdiam sejenak, menatap cangkir teh di tangannya. "Sejujurnya, aku belum tahu, Kak. Bagian dari diriku masih ingin memperjuangkan pernikahan ini, tapi ada juga bagian lain yang merasa sudah lelah dan ingin menyerah."

Nadya mengangguk mengerti. "Itu wajar, Lia. Kamu sudah menjalani hubungan ini cukup lama, tentu tidak mudah untuk memutuskan semuanya begitu saja. Yang terpenting, kamu harus mendengarkan hatimu dan tidak terburu-buru membuat keputusan."

"Aku hanya merasa bodoh, Kak," Aulia menghela napas. "Bertahun-tahun aku mencoba menjadi istri yang baik, berharap semuanya akan berjalan sesuai harapan. Tapi kenyataannya, aku tetap merasa sendirian."

Nadya memegang tangan adiknya dengan lembut. "Kamu tidak bodoh, Lia. Kamu hanya manusia yang punya harapan dan keinginan untuk bahagia. Kesalahan Arman bukanlah cerminan dari kegagalanmu sebagai istri."

Ucapan Nadya memberi Aulia sedikit ketenangan, meski jauh di dalam hatinya, ia masih merasakan kekosongan yang tidak mudah diisi. Hari-hari berlalu, dan meskipun Aulia mulai menemukan sedikit kedamaian dengan rutinitas barunya, ia tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa hatinya masih tertinggal di rumah yang telah ia tinggalkan.

---

Sementara itu, Arman merasa rumahnya semakin sepi tanpa kehadiran Aulia. Kesunyian di setiap sudut ruangan membuatnya merasa terasing di rumahnya sendiri. Meski ia mencoba mengalihkan pikiran dengan bekerja lebih keras dan bersosialisasi dengan teman-teman, tidak ada yang mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh istrinya.

Suatu malam, Arman memutuskan untuk menelepon Aulia. Ia merindukan suara lembut istrinya, meski ia tahu Aulia mungkin belum siap untuk berbicara dengannya. Saat telepon tersambung dan suara Aulia terdengar di ujung sana, jantungnya berdetak lebih cepat.

"Halo, Lia?" suara Arman terdengar penuh harap.

"Ya, Arman. Ada apa?" jawab Aulia dengan nada datar.

"Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu. Apakah kamu baik-baik saja di sana?" tanya Arman, mencoba mencari topik yang bisa membuat percakapan mereka berlanjut.

"Aku baik," jawab Aulia singkat. "Kamu bagaimana?"

"Aku... tidak terlalu baik," Arman mengakui. "Rumah ini sangat sepi tanpa kamu."

Aulia terdiam sejenak, tidak tahu harus berkata apa. "Kamu harus belajar untuk terbiasa, Arman. Kita sudah sepakat untuk memberikan jarak di antara kita. Ini adalah kesempatan bagi kita berdua untuk merenung."

"Aku tahu," kata Arman, suaranya melembut. "Tapi aku sungguh merindukanmu, Lia. Aku merindukan kita. Aku merasa kehilangan arah tanpa kamu di sini."

"Aku juga merindukan banyak hal, Arman," Aulia menjawab dengan suara berat. "Tapi merindukan sesuatu bukan berarti aku bisa melupakan semua yang terjadi begitu saja."

"Bisakah kita mencoba lagi?" tanya Arman dengan nada memohon. "Aku tidak ingin menyerah pada pernikahan ini, Lia. Aku ingin memperbaiki semuanya."

Aulia menarik napas dalam-dalam. "Aku belum siap, Arman. Aku masih butuh waktu."

"Berapa lama lagi, Lia?" tanya Arman, rasa frustasi mulai menyelimuti suaranya. "Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku butuh kepastian."

"Aku juga tidak tahu," jawab Aulia jujur. "Aku sedang mencoba mencari jawabannya, tapi ini bukan sesuatu yang bisa dipaksakan."

Percakapan itu berakhir dengan perasaan hampa di kedua belah pihak. Arman merasa usahanya untuk mendekati Aulia kembali selalu berakhir di jalan buntu, sementara Aulia semakin ragu apakah pernikahan mereka memang masih layak untuk diperjuangkan.

---

Beberapa minggu kemudian, ketika Aulia sedang menikmati sarapan bersama Nadya, teleponnya berdering. Melihat nama Arman tertera di layar, Aulia merasa hatinya berdegup kencang.

"Arman lagi?" tanya Nadya sambil melirik adiknya.

Aulia mengangguk pelan, lalu menerima panggilan itu. "Ada apa, Arman?"

"Aku... aku ingin bertemu," kata Arman, suaranya terdengar ragu. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."

Aulia terdiam sejenak, merasa bimbang. Setelah beberapa saat, ia akhirnya menjawab, "Baiklah. Kita bisa bertemu, tapi jangan berharap terlalu banyak, Arman. Aku hanya ingin mendengarkan apa yang ingin kamu katakan."

Mereka sepakat untuk bertemu di sebuah kafe kecil di tengah kota, tempat yang sering mereka kunjungi ketika masih pacaran dulu. Saat Aulia tiba, ia melihat Arman sudah menunggu di sana, duduk dengan wajah yang terlihat letih dan penuh harap.

"Aku senang kamu mau bertemu denganku," kata Arman saat Aulia duduk di hadapannya.

"Ada apa, Arman? Apa yang ingin kamu katakan?" Aulia bertanya tanpa basa-basi, ingin segera mengetahui alasan di balik ajakan pertemuan ini.

Arman terdiam sejenak, seolah mencari kata-kata yang tepat. "Lia, aku ingin kita mengikuti terapi pernikahan. Aku tahu ini mungkin tidak akan menyelesaikan semuanya, tapi aku pikir kita setidaknya harus mencoba. Jika ada harapan sekecil apa pun, aku ingin kita berusaha menyelamatkan pernikahan ini."

Aulia terkejut dengan usulan itu. "Terapi pernikahan?" ulangnya. "Aku tidak pernah berpikir kita akan sampai pada titik ini."

"Tapi kita memang sudah sampai di sini, Lia," Arman menatapnya dengan serius. "Dan aku tidak ingin kehilangan kamu tanpa berjuang. Aku siap melakukan apa pun yang diperlukan untuk memperbaiki semuanya."

Aulia menatap mata Arman yang penuh harap, hatinya kembali dipenuhi rasa ragu. Terapi pernikahan mungkin bisa menjadi jalan terakhir bagi mereka, tapi ia juga sadar bahwa kepercayaan yang telah rusak tidak mudah untuk dipulihkan. Namun, melihat kesungguhan di mata suaminya, Aulia merasa ada sedikit harapan yang mulai tumbuh di dalam dirinya.

"Baiklah, Arman," jawabnya akhirnya. "Kita bisa mencoba. Tapi aku tidak menjamin apa pun. Aku hanya akan melakukan ini karena aku ingin memberikan kesempatan terakhir untuk kita berdua."

Arman mengangguk, rasa lega terlukis di wajahnya. "Itu sudah lebih dari cukup, Lia. Terima kasih."

Dan begitu keputusan itu diambil, mereka berdua tahu bahwa perjalanan menuju pemulihan tidak akan mudah. Namun, setidaknya untuk saat ini, mereka masih berpegang pada harapan, walaupun hanya seutas benang tipis yang mungkin bisa menjadi awal dari segalanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED