Bab 2

"Ma!" Nayara berdiri sambil menggenggam tangan Clarissa. "Aku sungguh nggak ngerti, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Diam!" Clarissa menepis kasar tangan Nayara. "Beraninya kamu memanggilku mama? Pasti wanita itu sengaja menipuku agar kamu bisa hidup enak di sini, sementara anak kandungku dia siksa selama ini. Tidak kusangka kamu adalah anak pelacur itu."

"Pa!" Nayara menghampiri Dimas. "Papa, bilang sama Nara ini nggak benar! Nara pasti anak Papa, iya kan?" Mata Nayara sudah berkaca-kaca.

"Nara, maafkan Papa. Semua bukti sudah jelas, kamu memang bukan anak kami." Dimas memalingkan wajahnya dari Nayara.

"Aku sudah memberitahu Alvano, kamu harus segera bercerai dengan Alvano. Kembalikan semua milik Vanya, termasuk Alvano." Clarissa kembali berbicara. "Sekarang berlutut dan minta maaf pada Vanya! Dasar anak wanita malam!"

"Aku nggak tahu dia siapa, Ma," lirih Nayara dibalas tawa sinis oleh Clarissa.

Clarissa benar-benar sudah membenci Nayara hanya karena bukti yang dibawa Vanya.

Nayara menatap tangga ketika mendengar suara langkah kaki dari sana, tangis Nayara langsung pecah melihat sosok tampan dengan setelan kantor yang rapi mendekat ke arahnya.

"Alvano." Nayara memeluk lengan Alvano sambil menangis.

"JANGAN SENTUH AKU!"

Bruk!

"Ugh!"

Nayara kembali didorong hingga terjatuh ke lantai, kali ini pelakunya adalah suaminya sendiri.

"Jangan berani pegang-pegang aku lagi! Asal kamu tahu, aku jijik disentuh oleh seorang pembohong." Alvano terang-terangan menatap tajam Nayara.

Nayara tidak tahu harus mengatakan apa, mata yang selalu menatapnya dengan lembut kini telah berubah seperti ingin membunuhnya.

Vanya berjalan mendekati Alvano. "Kak Al." Vanya memanggil Alvano dengan suara yang begitu lembut dan terkesan seperti dibuat-buat.

Alvano tersenyum. "Kamu cantik sekali hari ini, Vanya." Alvano menegang bahu Vanya dan mereka terlihat begitu romantis.

"Kalian ada hubungan apa?" Nayara sangat sakit hati melihat suaminya memperlakukan wanita lain dengan begitu baik di depan matanya.

"Jangan sok tersakiti, Nara. Yang ingin aku nikahi sebenarnya adalah Vanya, putri asli keluarga Widjaya. Kamu hanya seorang putri palsu yang mengelabui keluarga Widjaya selama bertahun-tahun, kamu juga menipu ibuku agar setuju dengan perjodohan kita."

Sakit, benar-benar sakit. Nayara merasa telah ditusuk pisau sebanyak ribuan kali dalam satu jam terakhir ini.

"Harusnya sejak awal yang aku nikahi itu Vanya, bukan kamu, Nara." Awalnya Alvano membungkuk sambil mengusap lembut rambut Nara. "Kamu sangat tak tahu malu, Nara. TIDAK TAHU MALU." Akhirnya Alvano menarik kasar rambut Nayara lalu mendorong kepala Nayara dengan kasar.

"Al! Aku nggak tahu apa-apa tentang ini." Nayara berusaha berdiri sambil menggapai Alvano.

Namun Nayara harus terduduk di lantai lagi karena Alvano lagi-lagi mendorongnya.

"Awws!" Tiba-tiba saja Vanya meringis sambil memegangi sikunya.

"Kenapa?" Alvano langsung memeriksa keadaan Vanya.

"Kak Al, tanganku sakit," adu Vanya.

"Apa luka lama itu sakitnya kambuh lagi?" tanya Alvano yang terlihat khawatir.

"Iya, Kak," jawab Vanya dengan wajah yang terlihat kesakitan.

"Ayo ikut aku!" Alvano dengan sadar merangkul pinggang wanita lain di depan istri sah-nya.

"Alvano! Jangan pergi, hiks." Nayara benar-benar menangis hebat sambil memegang kaki Alvano yang sudah hendak pergi.

"LEPAS, SIALAN!"

Bruk!

Alvano begitu tega menepis tangan Nayara di kakinya dengan begitu kasar sampai Nayara terjatuh.

"Al jangan pergi! Aku mohon, Al!" Meskipun Nayara terus memanggil dirinya, namun Alvano tetap tidak peduli.

Alvano tetap pergi sambil merangkul mesra Vanya dan membiarkan Nayara menangis di sana.

Nayara terdiam dengan pandangan kosong, air matanya mengalir tanpa henti. Nayara menunduk dan bersimpuh di lantai.

"Tandatangan surat cerai ini!"

Deg!

Jantung Nayara kembali berdetak kencang mendengar perintah Clarissa. Nayara menatap map di tangan Clarissa sambil menelan ludah dengan susah payah.

"Tandatangan sebelum besok pagi!" Clarissa melempar surat cerai itu ke wajah Nayara. "Dan kembalikan semua milik Vanya!" bentak Clarissa untuk kesekian kalinya.

Nayara pergi sejenak dari rumah keluarga Widjaya, Nayara butuh waktu untuk dirinya sendiri dan memikirkan ke depannya akan seperti apa.

"Sebelum besok kamu harus tandatangan surat cerai ini!"

"Kembalikan semua milik Vanya!"

"Jangan sentuh aku lagi! Aku jijik."

Semua yang diucapkan oleh Clarissa dan Alvano terus terngiang di benak Nayara.

Saat ini Nayara kembali ke rumah Alvano, tempat dirinya tinggal selama dua tahun ini.

Nayara mengelus perut ratanya sambil tersenyum getir. "Awalnya aku pikir kamu akan menjadi bayi yang paling beruntung di dunia, tapi sepertinya hanya mama yang akan kamu miliki."

Nayara menghela napas berat sambil membuka surat cerai di tangannya. Nayara membubuhkan tandatangan di sana, di samping tandatangan Alvano yang masih kosong.

Nayara berdiri sambil menyeret koper besar.

"Nyonya Muda! Anda jangan gegabah!" Keenan berlari lalu menghalangi jalan langkah Nayara. "Setelah Tuan Muda pulang Anda berdua masih bisa berdiskusi lagi." Keenan terlihat tak rela kalau istri tuannya itu harus pergi.

"Keenan, ini adalah yang terbaik." Nayara tetap tersenyum lembut.

Suara langkah kaki terdengar mendekat, itu adalah Alvano yang baru saja memasuki rumah.

"Akhirnya Anda pulang juga, Tuan Muda. Cepat bujuk Nyonya, jangan biarkan dia pergi," celoteh Keenan.

"Pergi dari rumah." Alvano melangkah menghampiri Nayara dengan satu tangan tersimpan di saku celana sehingga Keenan minggir secara spontan.

"Nara, apa kamu sengaja menarik perhatian saya?" desis Alvano.

Nayara meremas tangannya sendiri, dia tidak berani menatap mata tajam Alvano.

"Mohon jangan seperti ini, Tuan Muda. Semua masalah akan selesai kalau dibicarakan baik-baik, jangan marah-marah dulu, Tuan." Entah dari mana asalnya Keenan punya keberanian sebanyak itu bicara pada Alvano.

"Sejak kapan kau punya hak mengajari ku melakukan sesuatu, Keenan!" bentak Alvano sambil melirik Keenan dengan sudut matanya.

"Maaf, Tuan Muda." Keenan menunduk lalu pergi dari sana.

Alvano merampas map di tangan Nayara. Setelah membaca isi map tersebut, Alvano langsung melemparnya dengan kemarahan luar biasa membuat Nayara terlonjak kaget.

"Nara." Alvano maju beberapa langkah. "Apa-apaan surat cerai itu?"

"Karena kalian semua tidak menginginkan aku lagi, sebaiknya kita pisah, Al. Itu salah satu pilihan yang paling bagus," balas Nayara dengan mengumpulkan semua keberaniannya.

"Kamu membohongi aku begitu lama, sekarang semuanya sudah jelas. Jadi kamu ingin kabur dari masalah?" bentak Alvano.

"Al, harus berapa kali lagi aku katakan. Aku tidak tahu apa-apa tentang semua ini---"

"Arghh!"

Nayara tersentak saat Alvano mencekik lehernya dengan begitu kuat.

"Di saat semuanya sudah terbukti, kamu masih mau berbohong lagi? Kamu pikir aku ini orang bodoh yang semudah itu kamu tipu?" Tangan Alvano masih berada di leher Nayara.

"Al, tolong lepas! Sakit." Nayara yang kesusahan bernapas berusaha melepaskan tangan Alvano dari lehernya.

"Rasa sakit kamu sekarang tidak sebanding dengan rasa sakit aku yang telah kamu bohongi selama dua tahun ini," sarkas Alvano.

Bruk!

Alvano mendorong Nayara sampai terjatuh ke atas sofa, Alvano menindih tubuh Naraya dari atas sambil memegangi kedua tangan Nayara yang terus memberontak.

"Alvano, kamu mau apa?" Nayara panik saat tangan Alvano membuka kancing rok mininya.

Bab 3

"Al, apa yang akan kamu lakukan, Al?" Nayara panik karena Alvano yang sulit ditebak.

"Kamu sudah membohongiku begitu lama, Nara. Sekarang kembalikan semua barang-barang milikku!" Alvano mengecup batang leher Nayara dengan paksa.

"Alvano, jangan begini, Al! Aku mohon jangan lakukan ini, Al." Nayara berusaha lepas dari Alvano.

Alvano mengangkat wajah demi bisa menatap Nayara. "Kamu tidak punya hak menolakku, Nara. Anggap saja ini sebagai cara kamu menebus dosa padaku."

"Al." Nayara kembali panik saat Alvano mendekatkan wajahnya lagi.

"Hmmpp ...." Naraya hanya bisa memberontak kecil ketika Alvano mencium bibirnya dengan paksa.

"Alvano Dirgantara, lepas!" Nayara mendorong dada Alvano sekuat tenaga sampai pria itu menjauh darinya.

Nayara langsung duduk, kali ini Nayara berani menatap Alvano dengan tegas. "Alvano, aku hamil."

"Hah?" Alvano tampak terkejut.

Tapi wajah terkejut itu hanya bertahan sesaat. "Hamil? Aku tahu itu cuma trik baru kamu buat nipu aku. Kamu pasti takut dengan datangnya Vanya maka kamu akan kehilangan semuanya, termasuk gelar Nyonya Muda Dirgantara. Pasti ini cuma karangan kamu saja agar aku kembali melindungi kamu, iya kan?" Alvano menunduk dan menatap Nayara dengan remeh.

Nayara tersenyum getir. "Apa menurut kamu aku orang yang seperti itu, Al?" Nayara menatap kedua mata Alvano.

Alvano memalingkan wajah sambil berdiri dengan benar. "Kita cuma lakuin itu sekali dan itu pun aku dalam keadaan mabuk. Mana mungkin kamu bisa langsung hamil?"

Nayara mengepalkan tangannya mendengar itu.

"Aku akan minta dokter datang sekarang supaya jelas kamu benar-benar hamil atau bukan, aku sih yakin kamu cuma pura-pura hamil," sinis Alvano.

"Bagaimana kalau aku benar-benar hamil?" tantang Nayara.

"Sudahlah, Nara. Jangan pura-pura hamil lagi, kalau pun kamu benar-benar hamil aku pun tidak akan membiarkan wanita licik seperti kamu melahirkan darah dagingku." Alvano tersenyum miring.

Tangan Nayara tiba-tiba bergetar sambil memegangi perutnya. 'Iya, benar juga. Dari awal dia tidak pernah mencintai aku, lalu untuk apa aku berkhayal kalau dia juga menginginkan anak ini.'

Lagi-lagi hanya senyum getir yang bisa terlihat di wajah cantik Nayara. Wanita itu kembali mengusap perutnya.

'Tebanglah, Sayang. Mama akan menjadi ibu sekaligus ayah untuk kamu,' batin Nayara.

Alvano sudah mengambil ponsel untuk menghubungi dokter kepercayaannya, namun sebelum panggilan tersambung, Nayara langsung berdiri dan mencegah Alvano.

"Jangan, Al! Iya, aku benar-benar bohong." Nayara mendongak. "Aku tidak hamil."

"KAMU-" Alvano mendorong Nayara sampai wanita itu terjatuh ke sofa.

"Ayo kita cerai!" Nayara berusaha tegas dengan dirinya.

"Tidak semudah itu, Nara!"

"Ugh!" Nayara meringis saat lagi-lagi Alvano mencekik lehernya.

"Mudah sekali kamu membicarakan cerai di depanku, kamu pikir kamu itu siapa?" Alvano masih mencekik leher Nayara sesuka hati. "Oke, aku beritahu kamu. Kamu belum bisa bebas sebelum membayar semua hutang-hutangmu padaku. Meskipun perceraian itu harus terjadi, maka aku yang harus memutuskannya, bukan kamu."

Setelah perdebatan panjang dengan Alvano yang tidak kunjung mendapatkan kepastian tentang hubungan mereka selanjutnya akan seperti apa, Nayara memantapkan hati untuk datang lagi ke rumah keluarga Widjaya.

"Gimana, Sayang. Kamu suka?"

Nayara bisa mendengar suara bahagia Clarissa bersama Vanya di dalam sana.

"Aku suka, makasih, Ma." Nayara juga bisa melihat bagaimana Clarissa dan Vanya tertawa bersama.

Nayara melangkah dengan tatapan kosongnya, bagaimanapun juga ia harus menghadapi semua ini dan menyelesaikan semuanya secepat mungkin.

"Pa, Ma!" panggil Nayara, "meskipun aku bukan anak kandung kalian, tapi kalian sudah membesarkan aku selama dua puluh tahun ini. Aku akan tetap menganggap kalian orang tua kandungku selamanya, terima kasih atas kebaikan kalian selama ini." Nayara menatap map di tangannya.

"Surat cerainya sudah aku tandatangani, aku minta tolong berikan surat cerai ini pada Alvano." Nayara meletakkan map itu di atas meja.

Semua orang hanya diam memperhatikan Nayara dengan wajah sulit dijelaskan.

"Aku pamit!" Nayara tersenyum sambil melangkah pergi.

"Tunggu!"

Nayara berbalik dan menatap Clarissa yang menghentikan dirinya.

"Buka koper itu!" titah Clarissa dengan kedua tangan terlipat di dada.

Nayara bingung dengan permintaan Clarissa.

"Kami cuma ingin memastikan, apakah kamu mencuri barang-barang dari sini atau tidak."

Deg!

Serendah itukah dirinya di mata ibunya? pikir Nayara.

"Clarissa!" tegur Dimas.

"Diam kamu! Jangan kasihan lagi pada anak ini!" Clarissa menentang Dimas. "Buka koper itu, sekarang!" Clarissa kembali menatap Nayara.

Kemudian ada seorang pelayan yang membuka koper Nayara.

Nayara hanya diam, wanita itu menatap nanar barang-barangnya dari dalam koper itu dikeluarkan semua tanpa terkecuali.

'Berikan aku kesabaran, Tuhan.' Clarissa menghela napas sambil memejamkan mata.

Clarissa berinisiatif untuk memeriksa sendiri isi koper Nayara, Vanya ikut melakukan hal yang sama.

Dengan kesadaran sendiri, Nayara melepas anting, gelang, dan semua perhiasan yang ia beli dengan uang dari keluarga ini.

Lebih parahnya lagi, Nayara juga harus melepas sepatu dan blazer mahal yang seharusnya bisa menghalangi tubuhnya dari rasa dingin saat berada di luar sana nantinya.

Vanya ternganga melihat Nayara yang begitu tegar melepas semua barang-barang mahal yang melekat di tubuhnya hingga Nayara berakhir tanpa alas kaki.

"Apa aku sudah boleh pergi?" tanya Nayara dengan wajah berubah datar.

Paham kah apa artinya wajah datar Nayara? Itu tandanya, Nayara sudah merasa terlalu sakit.

Clarissa hanya diam sambil menatap tajam Nayara.

"Ma!" Vanya melingkarkan tangannya pada tangan Clarissa. "Kalung itu." Vanya menatap kalung berlian yang masih tersisa di leher Nayara.

"Semuanya akan aku berikan, tapi tidak dengan kalung ini." Nayara melindungi kalung itu. "Ini adalah hadiah pernikahan dari mama Alvano, ini bukan milik keluarga Widjaya."

"Dasar bodoh!" bentak Clarissa, "jika kamu tidak memakai identitas Vanya dan menikah dengan Alvano, keluarga Dirgantara tidak akan memberikan kamu apa pun. Lepas kalung itu!"

"Tapi, Ma." Nayara keberatan kali ini.

"LEPASKAN!"

Karena tidak ingin semuanya bertambah runyam, akhirnya Nayara melepaskan kalung pemberian ibu mertuanya yang sudah pergi untuk selamanya.

"Maafin Nara, Mama mertua," gumam Nayara saat melihat Vanya yang begitu bahagia menerima kalung itu.

"Sudah puas?" tanya Nayara dengan wajah tanpa ekspresi.

"Kak, kamu nggak marah kan?" tanya Vanya.

Naraya menatap Vanya dan Clarissa secara bergantian. "Tidak sama sekali." Nayara membuang muka.

Vanya pun tersenyum senang. "Baguslah kalau begitu, Kak Nara. Setelah keluar dari rumah ini, kamu harus tahu diri. Jangan pernah menginginkan apa pun yang bukan milik kamu lagi."

Nayara mengangguk lalu pergi dari rumah yang selama ini menjadi tempat pulang untuknya.

Sepanjang kakinya melangkah, Nayara bertanya-tanya. Apakah benar dia bukan anak kandung Clarissa dan Dimas?

Sementara Clarissa dan Vanya begitu bahagia melihat kepergian Naraya dengan sehelai kemeja putih tipis, rok mini, dan lebih mirisnya lagi Nayara pergi tanpa alas kaki.

Setelah berada di luar rumah, Nayara mengusap perut ratanya.

'Sayang, setelah ini kita hanya akan tinggal berdua. Jangan takut, Mama akan selalu melindungimu.' Nayara masih bisa tersenyum dalam keadaan tidak punya apa-apa dan tidak tahu harus ke mana.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED