***
Masalah adalah sesuatu yang membebani. Semua orang akan merasa pusing jika mendapat masalah. Takdir selalu senang menciptakan masalah. Takdir tidak selalu berpihak pada keinginan manusia.
Yessie Montghomory menyandarkan kepalanya di pintu kamar. Ia memegangi perutnya yang masih rata. Mengingat kembali hari saat dirinya diterima menjadi guru sebulan yang lalu. Saat itu pukul delapan malam, di kafe St. Smith. Yessie merasa gugup karena keesokan harinya akan menjadi hari pertama kali dia mengajar anak sekolahan.
"Butuh teman bicara?"
Seseorang menyapa Yessie. Berpakaian rapi dengan balutan jas berwarna abu. Yessie mendongaki pria itu. "Austin McDowell." ujar lelaki itu memperkenalkan diri. Austin tersenyum. Sebuah senyuman yang membuat Yessie tak berdaya. Senyuman yang sekarang menjadi senyuman mengerikan. Senyum terkutuk.
"Yessie Montghomory."
Yessie mengatakannya tanpa melihat pria itu. Dia berusaha untuk tidak peduli tapi, Austin selalu menanyai tentang dirinya. Bahkan meminta persetujuan untuk duduk. "Duduk saja." Yessie tidak pernah membayangkan bila sikap ramahnya ini justru membawanya pada petaka besar dalam hidupnya.
"Aku adalah CEO muda McDowell Enterprise. Aku baru saja pulang menemui klien. Jadi ya, di sinilah aku. Bagaimana denganmu?" Yessie kagum mendengar perkataan pria itu. Dia benar-benar tertarik untuk tetap mengobrol bersama pria ini.
"Ya. Tentangku, Besok adalah hari pertamaku mengajar di sekolah. Dan aku merasa gugup. Aku tidak tahu seperti apa cara mendidik yang baik." Austin sedikit terkejut mendengarnya namun tetap tak menampakkannya.
"Berapa usiamu?"
Yessie tidak bisa menebak umur Austin. Pria itu terlihat dewasa dengan balutan jas. "30 tahun?" Austin mengangkat alisnya saat bertutur. Yessie tergelak pelan. Dia tidak percaya pria itu.
"Kau tampak tidak yakin dengan usiamu. Apa kau seorang pelupa? Kupikir kau lebih muda dari itu?" Austin berdeham. Menuangkan koktail ke dalam gelasnya dan gelas milik Yessie. "Kau bisa menebak usiaku."
"27 tahun. Kau terlihat dua tahun lebih tua dariku," tebak Yessie.
Ini benar-benar menggelitiki telinga Austin. Tapi pria itu mengiakan tebakan Yessie walau tebakan itu seratus persen salah. Austin mengajak Yessie bersulang. Mereka semakin lama merasa semakin bebas. Dan menemukan kecocokan satu sama lain.
"Jika aku jadi muridmu maka aku akan bercita-cita tidur bersamamu."
Austin bercanda. Yessie sama sekali tak berpikir jika Austin sedang membicarakan kenyataan. "Dan aku hanya akan tidur bersama CEO McDowell Enterprise," tutur Yessie. Austin terkekeh pelan. Memegang pipi Yessie lalu perlahan menciumnya. Hanya butuh beberapa menit mereka bisa sampai di hotel. Dan dari situlah masalah dimulai. Masalah yang membawa Yesdie pada pangeran muda yang sedikit kekanakan.
"Buka pintunya, Yess! What the hell you doing, heh?"
Teriakan Austin membuyarkan lamunan Yessie. Wanita itu menutup layar laptop yang ada di depannya. Dia membuka pintu kamar mereka dan kembali melihat tatapan sinis Austin.
"Kau menangis?"
Austin mengerutkan dahinya. Dia membuka pakaiannya sampai coretan-coretan di tubuhnya bisa terlihat. Di punggungnya ada gambar sayap elang, di bagian atas dadanya membentang tulisan "Welcome to my life" , dan di bagian lengan atasnya adalah gambar kepala singa. Sekilas dia tidak seperti anak sekolahan. Melainkan preman jalanan yang kebetulan dipungut keluarga McDowell Enterprise.
"Sejak kapan kau begitu perhatian dengan istrimu, Aussie? Bukankah pernikahan kita adalah pernikahan yang tidak kaukehendaki?"
Austin mendengus. Dia tersenyum miring. Memandangi Yessie dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. "Kau terlalu berlebihan, Yess. Lihatlah dirimu. Kau sungguh tidak menarik terlahir sebagai perempuan, Yess! Kau sama sekali tidak menggoda bagiku."
Austin menyeringai. "Aku mengerti ketidaktertarikanmu padaku. Karena aku tahu kau adalah seorang homo. Aku juga tidak tertarik dengan pria kecil sepertimu. Kau hanya bocah ingusan." Yessie membalas sambil tertawa sinis. Harus dia akui bahwa tidak mudah untuk akur satu sama lain. Bukan hanya dari segi usia saja, juga karena dari awal hubungan mereka hanyalah sebuah tragedi.
"Aku bukan homo dan aku bukan anak kecil!"
Austin berapi-api. Dia menatap Yessie penuh amarah. Wajah putihnya tiba-tiba memerah. Yessie ketakutan tetapi berusaha mempertahankan dirinya. "Itu katamu." Yessie menantang tak peduli ucapannya malah membuat Austin semakin murka.
"Kau meragukan aku ternyata."
Austin melempar kaosnya ke lantai dengan kasar. Mendekati Yessie yang sudah gemetaran. Austin bisa melihatnya. "Apa yang akan kaulakukan?"
Austin tertawa. Dia mencengkram kedua tangan Yessie yang bergetar tak karuan, "Kau tidak perlu menampakkan rasa cemasmu, Istriku," ejek Austin. Yessie melototi pria itu, bertingkah kalau dia sama sekali tidak takut. Tidak ada alasan baginya untuk merasa takut pada anak sekolahan.
"Aku tidak takut pada homo sepertimu," ujar Yessie sekali lagi. Austin tidak terima dengan pernyataan menghakimi dari Yessie. Pria itu mendorong tubuh Yessie menuju tempat tidur. "Sekarang kita lihat, apa aku homo atau tidak." Austin melahap bibir perempuan itu dan membuatnya tidak berdaya. Yessie tidak bisa menapik kalau dia juga menginginkan pria itu. Faktanya adalah mereka pernah melakukannya di hotel. Dan hal itu masih segar di pikiran mereka.
***
Terlelap sebentar, dan kehabisan tenaga. Austin tidak tahu seperti apa perasaannya. Haruskah dia bersyukur pada perempuan yang menyenangkannya ini atau justru mengutuk dirinya yang begitu berengsek memperlakukan perempuan. Austin merasa harga dirinya terhina ketika Yessie mendorongnya jauh dari perempuan itu.
"Kau yang memaksaku melakukan ini! Berhenti bertingkah seolah aku memerkosamu!"
Austin bangkit dari tempat tidur. Mengambil sebatang rokok lalu mengisapnya di kamar itu. Sementara Yessie masih membeku dengan menutupi tubuh tanpa busananya dengan selimut. Tidak ada yang salah seorang suami menyetubuhi istrinya. Tidak ada yang salah. Hanya saja, cara Austin melakukannya tidaklah benar.
Austin membuka jendela kamarnya. Mengambil kaos biru lalu satu jaket kemudian keluar dari kamar itu. "Kemana kau akan pergi?" Austin mematung ketika Yessie bertanya padanya. "Aku hanya membuat suasana lebih nyaman. Aku mau ke pesta Erica."
Yessie tidak membalas, "Kupikir aku tidak pulang. Jadi, jangan biarkan bodyguard itu masuk ke apartemen." jelas Austin santai. Rasanya sangat aneh berbicara seramah ini. Nyatanya mereka selalu bertengkar setiap kali bertemu. Ini semua karena Austin terlalu terpancing oleh perkataan istrinya, membuat suasana semakin canggung.
"Pulanglah sebelum fajar. Dad-mu selalu memastikan kau selalu di apartemen ini. Jadi--"
Austin mendengus kasar. "Berhenti, Yess! Aku tidak suka obrolan semacam ini! Kenapa kau tiba-tiba terlihat baik? Aku tidak mengerti reaksimu yang berubah-ubah. Aku akan pulang tetapi aku tidak akan menuruti kemauanmu. Aku masih muda. Aku punya kehidupan di luar. Kau paham!"
Austin membanting jendela. Menyeberangi balkon demi balkon hanya untuk meninggalkan apartemennya. Dia sama sekali tidak peduli terhadap Yessie. Bagaimana pun dia lebih percaya bahwa dirinya dan Yessie tak memiliki hubungan apapun. Itu faktanya. Setelah punggung suaminya menghilang, Yessie kembali mengetik di laptopnya.
***
Pesta merupakan hal paling menyenangkan untuk kalangan remaja muda. Berpesta berarti mengenalkan diri sendiri terhadap dunia hedonis. Dengan pesta Austin bisa menemukan cewek cantik, mengencaninya, dan mengajaknya bersenang-senang dalam satu malam.
Namun, ada yang berbeda dengan Austin kali ini. Dia tidak bisa melakukan apapun di tengah keramaian pesta. Banyak teman gadis yang mendekati, menggodanya seolah menyerahkan dirinya untuk diperkosa. Tetapi Austin menolak. Bahkan tanpa ia sadari dia mendorong Maria karena kesal dirayu.
"What the fuck, Aussie!"
"Kau menggangguku, Mary."
Pernyataan itu membuat semua orang mengalihkan perhatian kepada Austin. Erica yang merupakan pacar Austin ikut bergabung. Erica menyalahkan Maria walau sebenarnya semua orang tahu jika Austin adalah pria paling berengsek satu sekolah. Austin tidak pernah absen mengencani gadis cantik di sekolah. Tak peduli ia berpacaran dengan Erica.
"Wow, aku tidak menyangka kau menjadi seaneh ini, Aussie! Sekarang kau tobat dan memilih setia pada Erica? Oh God, You kidding me?"
"Go away, Slut! Kau hanya mempermalukan dirimu, Mary. Aussie punya selera yang bagus. He'snt a player again!"
"Aku bukan jalang, Erica bitch."
Maria meninggalkan Austin dan Erica. Perempuan itu tampak tidak terima dengan penolakan Austin. Padahal dulunya mereka sering bermain di belakang Erica. "Dia sudah pergi, Aussie. Pelacur itu tidak akan mengganggumu lagi. Hanya bersenang-senang denganku malam ini." Erica berbisik sambil memegangi wajah menawan Austin.
Austin meremas rambutnya kuat-kuat. "Aku rasa aku tidak bisa melakukannnya kali ini. Suasana hatiku sangat buruk, Erica." Erica menatap bingung ke arah lelaki itu. "Ada apa Aussie? Kau terganggu karena Dad-mu menyuruhmu mempelajari dunia perkantoran? Katakan padaku kalau itu bukanlah alasanmu. Ini terdengar konyol, Aussie."
Austin menggeleng. Dia bangkit berdiri meninggalkan sofa di mana Erica dan dirinya duduk. Dia sangat gelisah. Dan kecemasan itu membuatnya berkeringat cukup banyak. "Aku tidak akan menjelaskannya sebab kau tak bisa mengerti."
Mengambil sebotol bir, Austin berjalan keluar rumah. Berusaha mencari tempat yang baik agar udara mampu memasuki paru-parunya dengan baik. Austin masih memejamkan mata ketika bahunya disentuh oleh tangan pria. Austin membuka matanya sampai si pemilik pesta muncul di hadapannya.
"Kau terlihat berubah, Kawan! Ada apa? Kau tidak suka pestanya?" Nicholas Hugo mencoba mencari tahu. "Kau membuat Mary kesal kemudian meninggalkan Erica tanpa jawaban. Katakana padaku apa yang salah?”
Austin menghela napas. "Ini adalah masalah yang tidak bisa kaumengerti, kawan. Aku tidak berniat membagikan masalah ini, Nick. Aku hanya berharap alkohol mampu merubah situasi yang kuhadapi tapi kira tidak akan bisa." Seiring Austin menjelaskan. Nicholas memicingkan matanya. Menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi pada Austin.
"Apa ada gadis yang hamil karenamu?"
Pertanyaan itu cukup membuat Austin terkejut. Dia sampai melongo layaknya orang dungu yang dipergoki berbuat salah. "Oh, C'mon Aussie! What the fuck with bitch girls! Apa susahnya masalah itu? Setiap bulan ibuku mendapat pengakuan dari gadis-gadis sekolah bahwa mereka hamil anakku. Namun masalah selesai dengan aborsi."
Nicholas merangkul Austin. Menenangkannya meski Austin tak bisa tenang sekarang. Selama ini Austin melakukan hubungan intim atas dasar suka sama suka. Akan tetapi malam ini justru dia melakukan kesalahan. Dia melecehkan perempuan yang kini menjadi istrinya. Bagaimana pun menyenangkannya bercinta, diperkosa adalah tindakan yang salah. Tidak ada hukum yang membenarkannya. Itu sama saja melecehkan harga diri seorang wanita.
"Kau tidak akan pernah mengerti, Kawan! Bagiamanapun kau memosisikan dirimu sebagai aku. Kau tidak akan pernah menjadi aku, karena kau adalah dirimu sendiri. Bersenang-senanglah dengan gadis-gadismu kawan. Aku butuh tempat untuk sendiri." Austin melangkah menjauhi Nicholas.
"Aussie! Ada apa?”
Austin tetap melangkah pergi. Memasuki limusinnya kemudian melajukannya mengelilingi kota New York. Austin mengutuk dirinya sendiri. Mengutuk perasaan bersalah yang mendadak menggelayuti pikirannya. Austin mencoba memutar lagu namun tidak ada lagu sendu yang tersimpan di pemutar musik mobilnya. Hanya ada lagu metal yang beraliran gelap, penuh kebisingan dan menyeramkan. Austin ingin mendengarkan lagu Adele saat ini atau setidaknya lagu yang mewakili kesedihan seseorang.
Dia merubahmu begitu cepat, Austin! Kenapa kau begitu lemah karena dirinya? Ingat dirimu yang dulu! Bengis, Berengsek, dan kau tidak peduli apapun! What the hell with you!
"Aku seperti ini karena Ini pertama kalinya aku melecehkan perempuan. Memerkosa dia tepatnya." Austin berteriak. Menjawab pertanyaan iblis yang mengganggunya. Nicholas, Erica menghubungi nomornya namun Austin mengabaikan panggilan dari mereka. Tadinya Austin berpikir jikalau pesta mampu membuatnya melupakan Yessie. Faktanya pesta malah mengingatkan betapa bejadnya dia selama ini.
"Ya, Mom!"
Austin bisa mengabaikan telepon semua orang tapi tidak bisa mengabaikan telepon Melanie Ibunya. Austin tahu pertanyaan apa yang akan ditanyakan ibunya. Tidak lain dan tidak bukan mengenai hubungan dia dan Yessie. Heran sekali bahwasanya ibunya begitu menyukai pribadi Yessie. "Apa kabar dengan istrimu? Apa sudah ada perkembangan?" Austin diam. Bukan perkembangan yang baik yang terjadi melainkan perkembangan buruk.
"Oh, Tanyakan saja pada dia. Aku sedang sibuk, Mom."
"Dia istrimu dan kau harus memastikan di baik-baik saja. Ketahuilah bahwa kau tidak selamanya menjadi remaja. Lucky B Smith menjadi ayah muda dan dia baik-baik saja. Kenapa tidak denganmu?" Austin bergeming sebentar.
"Aku Austin bukan Lucky! Dan kupikir aku tidak akan bisa menjadi suami yang baik untuk Yessie. Tidak akan pernah bisa karena aku belum mampu menyaingi kedewasaannya," jelas Austin sampai akhirnya ia harus mendapat nasihat panjang dari ibunya. Austin menutup teleponnya ketika ibunya selesai bicara. Austin Menepikan limusinya di gang sempit Brooklyn Ave dan mencoba tidur di dalam limusin mahalnya.
"Masalah tidak pernah mendewasakan hanya membuat pribadi menjadi cengeng." Austin berbisik pada dirinya seiring matanya mulai tertutup. Malam ini adalah malam mengerikan baginya. Malam yang tak seharusnya ia kenang sebagai malam indah. Atau justru tidak ada malam menyenangkan? Siapa yang tahu. Austin selama ini hanya merasakan kesenangan sementara. Kesenangan yang hingga kini sudah dilupakannya. Bahkan mungkin kata itu memang tak pernah ada dalam kamus hidupnya.