Bab 2

"Urus anak suamimu. Dia hanya menyusahkan saja, setiap hari menghabiskan uangku dan tak menghasilkan lagi semenjak Andres dipenjara," ujar wanita itu dengan angkuh.

Orang yang datang menemui Nanda adalah selingkuhan suaminya, seorang wanita yang tak tahu diri. Sudah menjadi duri dalam pernikahannya, masih saja menitipkan anak hasil dari hubungan yang semestinya tak terjalin.

"Ini putramu, seharusnya kau urus sendiri. Itu konsekuensimu karena sudah bermain api dengan suami orang," tolak Nanda mencoba tak membalas dengan nada tinggi seperti wanita di hadapannya.

"Eh! Dengar, ya! Aku tak menginginkan anak darinya, suamimu saja yang kurang ajar sampai membenamkan cairannya di dalam rahimku!" jelas wanita itu sambil mendorong dada Nanda.

Nanda mencoba meredam amarahnya. Ia melihat anak kecil yang masih belum tahu kerasnya dunia. Tak ingin mencemari otak anak itu dengan pertengkaran dan selingkuhan suaminya.

"Memangnya kau mau ke mana, bekerja?" tanya Nanda.

"Aku ada kencan buta, dan dia hanya akan menghambatku untuk mendapatkan pria muda kaya raya yang akan menjadi calon suamiku nanti." Wanita itu berbicara sangat enteng seolah putranya bukanlah sesuatu yang berharga dalam hidupnya.

"Kau seharusnya membawa putramu, calon suamimu harus tahu jika kau sudah memiliki anak," nasihat Nanda agar wanita di hadapannya itu tak membuang buah hati seperti rongsokan yang tak bernilai.

"Untukmu saja, aku tak mau calon suamiku tahu tentang masa laluku." Wanita itu menyodorkan koper besar pada Nanda. "Ini semua barang-barangnya. Mulai detik ini, dia adalah anakmu!" serunya. Dan langsung menyelonong pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan putranya.

"Mom... mommy ... ikut." Bocah kecil itu merengek dan berlari menghampiri orang tuanya. Ia langsung memeluk kaki wanita angkuh yang sudah melahirkannya.

"Lepas!" sentak wanita tersebut, melepas paksa tangan anaknya dari tubuhnya. Hingga bocah mungil itu tersungkur di lantai dan menangis kencang.

Nanda segera berjalan menghampiri anak selingkuhan suaminya. Naluri keibuannya muncul begitu saja, tak memandang jika itu adalah buah kesalahan pasangannya yang kini sedang berada di penjara.

"Dita Andini!" seru Nanda hingga otot lehernya terlihat karena begitu kesal dengan wanita tadi.

"Ibu macam apa kau itu! Sungguh tak berperasaan!" tegurnya. Ia pun menggendong bocah tersebut dan menepuk pundak mungil itu untuk menyalurkan kenyamanan.

"Ibu? Sekarang aku sudah tak menjadi ibu, mulai hari ini dia adalah anakmu!" balas Dita lantang seolah tak memiliki beban.

Nanda ingin memarahi Dita, tapi dia tak ingin mencemari pikiran anak yang berada di gendongannya. "Baiklah, jika kau memberikan anak ini padaku, maka segera kita urus dokumen hak asuhnya. Dan kau jangan pernah mengambilnya dariku!"

"Oke." Dita berlalu pergi begitu saja dengan senyum yang mengembang. Akhirnya, hilang sudah satu beban untuk berkencan dengan anak teman mamanya hari ini.

"Raka, jangan menangis. Ayo kita jalan-jalan mencari kakakmu." Nanda berusaha menenangkan bocah kecil itu. Tanpa menurunkan Raka, dia memasukkan koper perlengkapan anak tirinya dan pergi mencari Cherry.

Begitulah nasib seorang Denanda Kusuma. Wanita berusia tiga puluh enam tahun yang malang, harus banting tulang demi keluarganya, menghidupi mertuanya yang masih belum bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan seadanya, dan sekarang harus merawat anak dari selingkuhan suaminya.

Sementara itu, Rio sudah berada di dalam mobil hendak menuju tempat kencan butanya. Ia menyetir sendiri setelah pulang kantor. Layar canggih berukuran tujuh belas inci pada interior mobil Mercedes milik Rio menunjukkan ada panggilan masuk dari mommynya. Pria itu menghembuskan napasnya lelah. Tapi tetap saja mengangkat. "Ya, Mom?"

"Jangan lupa, hari ini ada kencan buta, namanya Dita Andini. Dia anak dari temanku saat disekolah dulu." Mommy Anggi tak berhenti mengingatkan putranya.

"Aku tahu, Mom. Kau sudah mengingatkanku hampir lima kali dalam satu hari," balas Rio masih dalam kondisi menyetir.

"Aku tak akan lelah mencarikanmu jodoh sampai kau menikah, memangnya bagaimana kriteria yang kau inginkan? Semua anak teman mommy cantik, tetap saja kau campakkan mereka," keluh Mommy Anggi.

"Yang pasti harus berkelakuan baik dan pantas menjadi pendampingku." Jawab Rio.

"Memangnya semua yang mommy kenalkan tak ada yang baik?"

"Ada."

"Lalu, kenapa tak ada satu pun yang mau kau jadikan istri?"

"Karena tak ada satu pun yang pantas menjadi pendampingku."

Mommy Anggi terdengar menghela napasnya kasar. Sulit sekali mencari pengganti Anita di hati putranya, padahal mantan kekasih Rio juga tak sesempurna bidadari.

"Buka pesanku, itu foto Dita Andini. Jangan lupa ke Restaurant A," ujar Mommy Anggi setelah mengirimkan chat pada putranya.

"Kenapa harus Restaurant A? Aku tak mau di sana, pindah saja lokasinya," protes Rio.

"Lalu, kau mau bertemu di mana?"

" Restaurant B."

"Oke, ku kirimkan nomor Dita. Kau bertukar pesan saja dengannya secara langsung."

"Tidak, Mommy saja. Yang ingin menemukanku dengannya kan Mommy, bukan atas keinginanku sendiri."

"Oke, aku akan mengabarkannya. Sudah dulu, dan jangan sampai kau membuat wanita kali ini menangis seperti biasanya," pinta Mommy Anggi.

"Aku tak janji." Rio hendak memencet tombol merah di layar untuk mematikan panggilan telepon itu.

Lama-lama panas telinganya mendengarkan mommynya yang sudah sangat menginginkannya memiliki pendamping.

Cit...

Bunyi decitan antara ban yang direm mendadak dengan aspal jalanan pun terdengar sangat nyaring.

"Apakah tadi aku menabrak orang?" gumam Rio sangat lirih.

Matanya yang kurang fokus ke jalan membuatnya tak sadar jika ada lampu rambu lalu lintas yang tengah menunjukkan warna merah. Dan ia reflek mengerem ketika terkejut ada seorang anak kecil hendak menyebrang.

Rio turun dari mobilnya untuk mengecek apakah sungguh ada orang yang dia tabrak atau tidak. Ternyata bocah yang tadi ditangkap oleh indera penglihatannya kini tengah berjongkok seraya memegang telinga.

"Hi, aku minta maaf karena berkendara tak fokus. Apakah kau ada yang terluka?" Rio mendekati bocah itu untuk memastikan kondisinya.

Ia melihat jarak mobil depannya dengan lokasi anak tersebut, ternyata tak terlalu dekat dan dia bisa bernapas lega karena tak menabrak orang. Bocah itu mendongakkan kepalanya saat mendengar suara.

"A-aku tak apa, Tuan," jelasnya dengan terbata-bata karena jujur saja dia sempat takut jika ditabrak mobil. Rio bisa bernapas lega.

"Ayo, aku antar kau ke rumah sakit untuk mengecek kondisimu," ajaknya seraya menuntun bocah itu untuk berdiri.

"Tidak perlu, Tuan. Aku harus menjual cokelat ini untuk membantu mamaku membayar sewa apartemen," tolak bocah tersebut seraya menunjuk sebuah keranjang berisi banyak makanan manis.

"Berapa harga semua cokelatnya?"

"Seratus ribu rupiah."

"Aku beli semuanya, tapi kau harus ke rumah sakit." Rio mengeluarkan dompetnya dan memberikan selembar uang seharga cokelat yang dijual oleh bocah itu. Ia mengambil alih keranjang dari tangan yang masih mungil.

"Masuklah ke mobilku, sebentar lagi lampu akan hijau. Sebelum pengendara lain protes jika kita membuat kemacetan di jalan," ajaknya seraya membukakan pintu di samping kemudi.

Dan Rio pun masuk juga ke dalam kendaraan roda empat itu.

"Siapa namamu?" tanyanya agar nanti ketika di rumah sakit dia bisa memberitahukan identitas bocah tersebut.

"Cherry Kusuma."

"Berapa umurmu?"

“Sepuluh tahun.”

Bab 3

Dulu, Rio pernah bertemu dengan Cherry saat pesta di kapal pesiar milik mantan kekasihnya. Saat itu, dia menemani Cherry yang terpisah dari sang mama. Namun, waktu telah berlalu begitu cepat, dan dia sendiri tidak terlalu memperhatikan wajah atau panggilan yang pernah dia dengar saat itu. Sehingga, Rio tidak mengingat bocah yang saat ini dia bawa ke rumah sakit. Toh, pada saat itu, dia hanya membantu saja, jadi tidak ada keinginannya untuk mengingat orang tersebut.

"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Rio setelah wanita berjas putih itu selesai memeriksa Cherry.

“Kondisinya baik, tak ada yang perlu dikhawatirkan," jelas dokter tersebut.

Rio bisa bernapas lega karena orang yang hampir dia tabrak masih baik-baik saja. Dia mengucapkan terima kasih kepada dokter itu dan mengurus segala biayanya. Lalu kembali menemui Cherry yang dia tinggalkan di ruang tunggu.

"Rumahmu di mana? Biar aku antar pulang," tanya Rio. Sebagai orang yang hampir mencelakai Cherry, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk memastikan bocah itu selamat sampai tempat tinggalnya. Dia tak ingin jika terjadi hal buruk dan dirinya yang disalahkan suatu saat nanti.

"Tidak perlu, Tuan. Aku bisa sendiri," tolak Cherry. Ia ingat pesan mamanya agar tak mudah percaya jika diajak oleh orang asing untuk menghindari penculikan anak kecil atau menunjukkan tempat tinggalnya agar tak ada orang jahat yang hendak berniat buruk ke apartemennya.

Rio terkekeh gemas dengan bocah setinggi perutnya itu. Wajah Cherry terlihat memancarkan rasa sedikit takut. "Aku bukan penculik, tenang saja." Tangannya mengambil dompet dan mengeluarkan sebuah kartu nama. “Ini identitasku, kau bisa mencari segala informasi tentangku di internet," tuturnya agar Cherry percaya dengannya.

Cherry mengambil kertas berisi informasi Rio. Dia sendiri juga sudah lupa dengan sosok pria baik hati yang pernah menolongnya tersebut. Namanya juga anak kecil, jika bertemu sekali belum tentu teringat terus. Apa lagi pertemuan mereka hanya sebentar pada saat itu. Ditambah tak ada kesan mendalam ketika kejadian yang terjadi hampir dua tahun silam.

"Tuan Rio Darmawan?" tanya Cherry setelah membaca kartu nama itu.

"Ya, apakah kau sudah percaya jika aku bukan orang jahat?" Rio balik bertanya. Dia memperlihatkan layar ponselnya berisi artikel tentangnya. “Baca ini jika kau masih kurang percaya denganku."

Cherry menganggukkan kepala yakin. Tapi belum mengucapkan persetujuannya untuk diantarkan pulang.

"Langit sudah mulai gelap, bagaimana jika di luar sana kau justru bertemu orang jahat sungguhan? Aku yang bertanggung jawab di sini karena yang membawamu kemari adalah aku," jelas Rio. Urusannya bisa semakin runyam jika membiarkan Cherry pulang sendirian.

"Apartemen Kencana Loka." Akhirnya, Cherry pun menyebutkan tempat tinggalnya. Dia percaya dengan Rio, sehingga dengan suka rela mengikuti CEO DR Group itu ke parkiran dan masuk ke dalam mobil mewah setelah dipersilahkan oleh pria itu.

Kendaraan roda empat itu mulai melaju menyusuri jalanan Kota Jakarta, dan Rio bahkan melupakan kencan butanya dengan Dita Andini.

"Tuan," panggil Cherry.

"Jangan panggil aku seperti itu terus. Aku bukan majikanmu. Kau bisa memanggil namaku saja, Rio, atau uncle juga boleh," tegur Rio yang merasa kurang nyaman dengan panggilan yang diberikan oleh Cherry.

"Uncle, ada telepon dari orang tuamu," ujar Cherry yang melihat layar pada interior mobil canggih itu menunjukkan nama "mommy".

"Kau di mana?! Dita sudah menunggumu di restoran sejak satu jam yang lalu, jangan mempermalukan mommy, Rio!" ujar Mommy Anggi dengan kesal.

Baru saja diangkat, Rio langsung mendapatkan omelan dari Mommy Anggi. "Iya, Mom. Ini sedang di jalan, tadi ada keperluan mendesak," jelasnya.

"Bagus, jangan meninggalkan dia seperti wanita yang lainnya," pinta Mommy Anggi.

"Hm...." Rio malas menanggapi permintaan mommynya. Sikapnya nanti tergantung bagaimana orang yang akan dia temui. Panggilan pun diputus oleh Mommy Anggi. Rio langsung melirik ke arah Cherry yang ternyata sedari tadi memperhatikan percakapannya.

"Jangan ditiru, ya. Berbicara dengan berteriak itu tak bagus. Selain membuang banyak tenaga, itu juga tak sopan. Jika bisa lembut, untuk apa menggunakan emosi."

Rio berusaha menasehati Cherry. Walaupun bukan anaknya, tapi ia akan merasa bersalah jika perbuatan mommynya yang berteriak padanya akan ditiru anak kecil yang saat ini berada di dalam mobilnya. Anak seumuran Cherry masih butuh pengarahan dari orang yang lebih tua agar tak terjerumus pada suatu hal yang salah. Rio memberikan usapan lembut pada puncak kepala Cherry layaknya seorang ayah.

"Kita ke restoran sebentar, ya? Uncle ada janji bertemu orang, sekaligus kau bisa makan juga di sana."

"Tidak perlu, nanti mama mencariku jika pulang terlalu larut," tolak Cherry. "Turunkan aku saja di sini, uncle," pintanya kemudian.

Rio melihat GPS yang ditunjukkan pada layar mobilnya. Jarak restoran yang akan dia tuju lebih dekat dengan lokasinya saat ini dibandingkan apartemen tempat tinggal Cherry.

"Kau hapal nomor telepon mamamu?" tanya Rio.

"Tidak," balas Cherry dengan menggelengkan kepalanya.

Rio menghela napasnya. "Lain kali, kau harus hapal nomor orang terdekatmu agar bisa menghubungi mereka disaat genting ataupun membutuhkan bantuan," nasihatnya lagi.

Pria itu tak memiliki hubungan darah dengan Cherry, tapi sudah menasehati berkali-kali seperti orang tua bocah itu saja.

"Ya, uncle."

"Oke, sekarang kita ke tempat yang akan aku tuju terlebih dahulu, ya? Nanti kalau sampai apartemenmu, aku akan bantu menjelaskan pada mamamu." Rio berusaha membujuk Cherry agar mau ikut bersamanya. Ia begitu lembut dalam bertutur kata.

"Baik, uncle."

Kendaraan roda empat itu pun melaju dengan kecepatan sedang. Sepuluh menit saja Rio sudah sampai di gedung yang mewah tempat Dita sudah menunggu kedatangan Rio.

"Ayo, turun. Tinggalkan saja tasmu di sini," ajak Rio. Ia hendak membukakan pintu untuk Cherry, tapi bocah itu sudah keluar sendiri. Tangan Rio menggandeng Cherry layaknya pasangan ayah dan anak. Keduanya masuk ke dalam restoran.

Rio menyapu seluruh ruangan, mencari seorang wanita bernama Dita Andini. Ia memandangi ponselnya yang memperlihatkan foto wanita itu untuk memastikan orang yang akan dia hampiri benar atau tidak. Dan kaki itu mengayun ke arah meja yang berada di dekat dinding kaca.

"Maaf, terlambat. Aku harus mengurus sesuatu," ujar Rio, membuat Dita mendongak dengan wajah yang berbinar. Sedangkan Rio justru terkejut melihat wajah wanita yang menjadi teman kencannya. Kenapa wajahnya seperti baru saja ditonjok orang, gumamnya dalam hati.

Dita menggunakan blush on yang begitu merona ditambah lipstik merah menyala. Tapi Rio mencoba diam tak menghina wanita tersebut karena tak ingin melukai hati orang lain.

"Tak apa, aku juga baru menunggu sebentar." Dita mencoba untuk tak menunjukkan rasa kesal. Dia harus terlihat baik di hadapan Rio yang langsung membuatnya terpesona pada pandangan pertama.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED