Bab 2

Hari-hari berlalu, semusimpun hampir saja dia lewati. Kota tua itu masih diguyur hujan.

Sudah hampir 5 bulan bunga bersekolah di SMA BANGSA dan semua berjalan baik-baik saja, Dia mengenal Rina dan yang paling membuatnya selalu bersemangat pergi sekolah adalah Reza, sesosok cowok pintar dan tampan pujaan para cewek remaja di kelasnya. Apakah dia juga merasakan hal yang sama? Seperti gadis lain ada perasaan aneh dihatinya setiap memadang Reza. 

Perasaan ini baru dia rasakan ketika mengenal Reza, diapun tak mengerti yang dia tahu indah bila melihat cowok itu. Reza seperti hantu dipikirannya. Bunga berbaring disprimbad empuknya sambil tersenyum melihat smartphonenya.

"Sayaaaang." tiba-tiba Mama memanggilnya lirih.

"Iya Ma."

"Ada Reza, lagi nunggu di ruang tamu tu." Mamanya memang sudah mengenal Reza beberapa bulan yang lalu.

"Apa ma!" Pura-pura bunga tak mendengar, padahal sebenarnya dia sedang bingung. Enggak seperti biasa Reza menyambanginya diluar jadwal sekolah.

"Ada Reza." Mama mengulanginya.

'Ngapain coba dia kesini, perasaanku kok jadi enggak enak banget ya?' Gumannya dalam hati.

"Sayangg."

"Eh iya ma!"

"Cepetan sudah temuin dia."

"Oke oke ma." Dia langsung beranjak dari sprimbad empuknya dan berdiri membuka pintu. Sambil berjalan menuju ruang tengah. Sesampainya.

"Eh Za ada apa ya?" tanyanya pelan, dia berusaha menyembunyikan guncangan hebat didalam dadanya. Cowok itu kemudian menoleh sembari tersenyum manis. Dan senyum itu loh seakan membuat cewek-cewek tak berdaya melihatnya. Reza memang sesosok makhluk tampan, berkulit putih terang, hidungnya mancung dan tubuhnya atletis. Dia itu seorang olahragawan, kariernya cermelang dia selalu menjuarai pertandingan Futsal di berbagai sekolah dikota itu.

"Sibuk ngak?" tanyanya datar.

"Enggak sih emang ada apa ya?"

"Pengen ngajak ngerjain tugas."

"Tugas?" Kening Bunga mengkerut

"Iya kitakan tadi ada tugas dari guru, kamu lupa?"

"Eh iyaya lupa, terus kita mau ngerjain tugas dimana?" Bunga tersenyum kecil dan bertanya.

"Kita keperpustakaan aja."

"Oke, tunggu ya aku mau ganti baju dulu."

Reza mengangguk, Bunga segera berbalik arah dan meninggalkan Reza.

Tiga menit kemudian

Setelah berpamitan dengan Mama bunga merekapun pergi. Sesampainya di perpustakaan Mereka mengerjakan tugas sambil bercanda, tertawa. 

"Bung," ujarnya lirih. Dia nampak serius, Bunga langsung menatapnya dan menjawab: "Ya."

"Tau enggak arti kebersamaan dengan seseorang itu apa? Ada perasaan aneh dan terkadang memenuhi seluruh pikiran, ketika dia jauh ada rindu." 

Bunga tiba-tiba tertawa. "Kenapa? Kamu lagi jatuh cinta?"

"Eem apa perasaan kayak itu bisa di bilang perasaan cinta?" Reza balas menatapnya.

Bunga tersenyum lagi dan bergumam dalam hati. 'Siapa gadis beruntung itu Za.' Lirihnya.

Reza memalingkan pandangannya.

"Sejak kecil orangtuaku udah cerai dan sepertinya aku kecewa sama semua perempuan, ya Aku kecewa sama Mama yang pergi ninggalin papa."

Bunga sedikit terkejut dia tak menyangka seorang Reza yang semangat itu ternyata menyimpan sebuah kekecewaan yang mendalam.

"Za, enggak semua perempuan sama, Mamaku juga seorang perempuan setelah Ayahku meninggal Mama enggak pernah berpikir untuk menikah lagi, Mamaku adalah sosok wanita yang setia dan penyayang, Aku sayang mereka berdua, jadi enggak ada alasan buat kamu harus kecewa sama yang namanya perempuan, Aku juga perempuan."

Reza langsung menatapnya dalam, "Benarkah? Kamu beruntung ya punya kedua orangtua yang saling menyayangi."

"Ya Aku dan Mama sudah sangat bahagia walaupun terkadang aku masih sering menangis kalau inget sama Papa, enggak ada yang bisa gantiin ketulusan hati papa buat Mama, Kamu hanya perlu memiliki sikap memaafkan dan melupakan kekecewaan itu pada Mamamu." Bunga tersenyum.

"Mungkin apa yang kamu bilang itu betul sepertinya sekarang Aku sudah menemukan cewek yang spesial itu!"

Bunga terdiam, dan Reza melanjutkan pembicaraannya. "Tapi aku belum yakin kalau dia bakalan terima cintaku!" Reza hanya tersenyum.

"Siapa sih yang bakalan nolak cowok seganteng dan sepintar kamu Za."

Reza masih menatapnya tak percaya. 

"Ya bisa sajakan? Kali aja Aku bukan tipe dia, Cinta itukan enggak bisa dipaksa!" Reza tak lagi menatapnya, "Siapa saja boleh mencintai tapi enggak mesti memilikikan? Reza tersenyum lagi. 

Tiba-tiba. 

"Heiii kalian." Rina berlari menghampiri mereka berdua yang sedang duduk. Keduanya menoleh. 

"Rina dari mana aja?" Tanya Bunga.

"Dari rumah, kalian ngapain ada disini?" Rina menatap keduanya.

"Eeemm kita lagi ngerjaiin tugas kan Bung." Reza yang jawab.

"Iyakan ini diperpustakaan, gudangnya buku mau cari materi apa sajakan ada."

"Ah masa iya sih tapi kenapa kalian cuma berduaan, ekhemm Aku jadi curiga nih."

"Ih, apaan sih Rin, beneran kita lagi ngerjaiin tugas kok!" Bunga seakan malu. Sementara Rina tertawa renyah.

"Masalahnya gini sob temen-temen di kelas pada gosipin kalian, bilangnya kalian pacaran jadi.... " Rina tak melanjutkan perkataannya. 

"Enggak kok!" Reza dan Bunga spontan ngejawab bersamaan.

"Wah wah kayaknya beneran jodoh nih," Ledeknya lagi. Mereka pun tertawa bersama. Setelah itu mulai mengerjakan tugas dengan serius.

Tak terasa waktu terus bergulir.

Matahari seakan mulai enggan untuk muncul lagi, mega-mega orange mulai menebar keindahannya, sore yang indahpun berlalu, akhirnya mereka pulang.

***

Jam sekolah menunjukan pukul 10.00 Wib

Dan siswa- siswi sedang istirahat. Tampak dari kejauhan Bunga sedang kebingungan di depan loker nya, sambil memegang sebuah kotak berwarna pink. Ada surat juga di situ, yang menyatakan pengirim itu berinisial R.

'Terkadang kamu hanya butuh waktu untuk terus melangkah tapi cinta akan merubah segalanya.' Dia membaca dalam hati dan tersenyum manis.

"Kira-kira dari siapa ya? Uh masa iya dari Reza." Dia menggeleng tak percaya. Tak lama kemudian Bel masuk pun berbunyi. Bunga bergegas menyimpan kotak berwarna pink itu lagi kedalam lokernya dan segera ke kelas. Di kelas dia duduk tertegun sambil terus memikirkan kotak kado berwarna pink itu.

"Bung, Bunga!!" Suara Rina setengah berteriak memanggilnya. Bunga terperanjat. 

"Eh iya ada apa sih Rin?"

"Kamu kenapa?"

"Aku ngak kenapa-kenapa kok."

"Jujur ajalah pasti kamu lagi mikirin Reza kan?" Ucap Rina lagi sambil berbisik di telinga bunga.

"Ah ngak kok."

"Ngak percaya aku tuh liat kelakuan Veli, Kamu ngak cemburu gitu ngeliat Veli deket banget sama Reza."

"Ngak lah Reza itu bukan siapa-siapanya aku, 

ngak ada hakkan buat aku cemburu lagian mereka dari SMP memang udah deket banget!"

"Jujurlah plizz Kamu tau ngak cewek-cewek di kelas ini itu berharap banget bisa jadi pacarnya Reza."

"Lalu, Aku di suruh apa gitu."

"Heheee pacaran sama si Reza."

"Ih, lucu banget sih kamu jangan Ge_er lah ngak mungkin jugakan dia naksir aku." Bunga menyerengitkan keningnya.

"Eh tapi Aku punya firasat kalau Reza itu naksir kamu soalnya, Dia ketahuan curi-curi pandang ke kamu gitu!"

"Mimpi!" Bunga mengertaknya. Rina cuma cengengesan. 

Pukul 04.00 wib

Bunga sudah ada di rumah, Bungapun segera mengambil kotak berwarna pink itu dari dalam tas nya, sejenak dia pandangi setelah itu dia buka perlahan. Dan alangkah senangnya dia sebuah liontin berbentuk hati melingkar dan berkilau. Dia tersenyum. 

"Benarkah pengirim itu adalah Reza? tapi, keliatannya Reza biasa-biasa aja. Uuh lalu siapa dong?" Dia masih bingung dan menebak-nebak. 'Atau jangan-jangan pengirim itu salah alamat kali ya? Ah masa iya sih.' Bunga masih terus bertanya-tanya dalam hatinya. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Mama memanggil. Buru-buru dia angkat.

"Halo sayang." Terdengar suara mama dari sebrang.

"Iya ma."

"Sayang Mama cuma mau bilang kalau mama pulang terlambat soalnya ada pasien yang perlu mama tangani."

"Iya ngak apa-apa bunga ngerti kok ma." Jawabnya lirih, sebenarnya dia merasa kesepian.

"Oke Mama sayang bunga."

"Bunga juga sayang mama." Telpon pun terputus.

Dia hanya sendiri dia terlahir sebagai anak tunggal, tak memiliki seorang kakak ataupun adik.

Di letakannya ponsel kemudian Bunga berjalan menghampiri jendela kamarnya. Pandangannya menerawang jauh. Dia teringat masa-masa kecilnya bermain, berlari-lari dan papa selalu menjadi teman baik. Tapi sekarang semuanya seolah memudar dia tak akan kembali pada masa itu. Hari itupun berlalu dengan sebuah kenangan.

KEESOKAN HARINYA. .

Bunga sudah siap dengan seragam sekolahnya.

Seperti biasa Mama akan mengantarkannya.

"Sayangg gimana sama tidur kamu semalam? Apa kamu bermimpi indah?" Mama bertanya, sambil tersenyum.

"Selama ada mama di hari aku, mama akan selalu menjadi mimpi indah di tidur bunga."

"Duuuh kayaknya anak mama udah pinter gombal ya."

Sesampainya di kelas.

Bunga duduk di kursi tampaknya hari dia datang lebih awal dari teman-temannya, hanya ada beberapa orang di dalam kelas itu. Tak lama setelah itu Reza datang kali ini diapun sendirian. Bunga yang kebetulan menatapnya langsung tersenyum, Reza membalas serta menyapanya.

"Hai Bunga."

"Hai Za, kok tumben banget datang sendirian?"

"Iya nih soalnya Aku buru-buru banget!" Reza mendekati bunga. "Ooh iya hari ini Aku mau tanding futsal, nanti nonton ya."

"Oke deh." Bunga mengiyakan. Sebenarnya kedua Remaja itu merasakan hal aneh. Tapi mungkin mereka belum siap mengatakannya.

PUKUL 13.00 WIB

Bunga sudah duluan duduk di kursi penonton. Dia bersama Rina teman dekatnya. 

"Hai Bung." Sapa veli pelan. "Oouh ternyata kamu ada di sini juga ya boleh tau ngak siapa yang undang kamu kesini?"

"Maaf, ada apa ya?"

"Eeh denger ya Bung Aku peringatiin kamu, awas jangan sekali-sekali kamu deketiin Reza. Reza itu punya Aku!" Celetuk Beli tiba-tiba. 

"Eeeh cewek gila emang apa hak kamu ngancam bunga kayak gitu!" Reza itu bukan pacar kamu kan!"

"Udah Rin ngak usah ngurusin. pliss Vel ngejauh dari Aku, Aku ngak mau berurusan sama kamu!"

"Ohhh Oke tapi satu hal yang perlu kamu tau Reza itu udah di jodohiin sama Aku jadi wajarkan Aku usil sama cewek yang mulai sok akrab sama calonku."

Bunga seakan terbungkam. Veli seakan menghancurkan perasaannya, Velipun pergi dari hadapannya. Tak lama kemudian terdengar tepuk tangan riuh dari para penonton. Hari ini sekolah mereka mengadakan pertandingan persahabatan dengan SMAN 01.

"REZA.....REZA....REZA 

Mereka meneriaki nama Reza. Reza adalah sesosok pria tampan yang gemilang.

SATRIA....REZA....SATRIA

Ada juga yang meneriaki nama Satria cowok terpintar, tertampan, dan ter the best di sekolah itu. hampir semua cewek mengidolakannya termasuk Rina.

"Duh my honey dia tambah cakep aja sih."Rina terkagum-kagum sambil terus memandangi cowok bernama Satria itu.

"Aduh Rin cowok begituaan yang kamu fans nin?Bunga memperhatikannya.

"Iya Satria itu cakep banget tau!"

"Ooohhh jadi itu ya cakep sih tapi bagi Aku sih biasa ajalah!"

"Mata kamu tu normal ngak sih Bung,cowok bening gitu di bilangin biasa!"

"Iyakan dia juga manusia sama kayak kitakan?"

"Huff."

Keduanya sekarang tak lagi berbicara perasaan Bunga seakan tak menentu karena pembicaraan Veli tadi. Dia masih memikirkan tentang hal itu, pandangannya seakan sirna. Sudah hampir 1 jam perasaannya galau. Hingga dia tak sadar kalau pertandingan futsalnya sudah selesai.

Bab 3

Hari itu adalah hari dimana Bunga merasakan kegalauan yang sedikit mengganggu. Ada perasaan tak percaya, ada kegundahan di setiap ujung sesak dadanya.

Tok Tok Tok

Terdengar suara ketukan di kamarnya yang mungil.

"Sayaaang boleh mama masuk?" Tanya Mamanya dari luar kamar. 

"Ya Ma." Wanita baya itupun masuk, terlihat puteri kesayangannya itu sedang terbaring, raut wajahnya sendu, naluri seorang ibu mungkin tahu kalau puteri semata wayangnya itu sedang sedih.

"Sayang." Mama duduk, sambil mengelus lembut rambut bunga. "Akhir-akhir ini ada yang berubah sama kamu ada apa? Cerita kalau ada masalah sayang."

"Ngak ma Bunga baik-baik aja kok, ngak ada apa-apa." Jawabnya pelan.

"Mama tau Kamu bohong, sayang didunia ini begitu banyak pilihan semua itu adalah sebuah pengalaman yang semakin membuat kita dewasa." Bunga langsung menatap mamanya.

Kedua mata indahnya berkaca- kaca.

"Ma apakah cinta itu ngak harus memiliki?"

Mamanya tersenyum. "Kenapa sayang? Kamu jatuh cinta?"

"Jawab dulu ma!"

"Ya bisa dibilang begitu!"

"Itu ngak adil Ma!"

"Looh."

"Iya kan ngak adil buat seseorang yang baru pertama kali jatuh cinta!"

"Itu namanya egois sayang."

Bunga pun langsung tersedu, bulu mata lentiknya basah oleh airmata. Dia bangun dan memeluk mamanya erat.

"Ma salah ngak kalau Bunga ada perasaan cinta sama Reza."

"Kamu suka sama Reza?" Mamanya setengah terkejut.

"Iya Ma Bunga jatuh cinta pada pandangan pertama."

"Terus masalahnya apa?"

"Ternyata Reza udah di jodohin sama Veli sobat dia sejak kecil!"

Mamanya tersenyum lagii . .

"Bunga ngak perlu sedih, baru di jodohin itu ngak musti positif menikah, kita cuma manusia sayang Tuhan yang menentukan. Hari ini kita bisa berencana eeh besoknya Tuhan nakdirin lain."

"Terus."

"Ya kalau emang Reza itu udah di jodohin sama cewek lain, kamu harus lapang dada. Dan kalau memang Tuhan membalikkan keadaan Reza bisa saja jadi jodoh kamu." Mama masih mengelus rambutnya.

"Makasih Ma perasaan bunga udah dikit lega."

"Udah sekarang kamu mandi gih Mama mau ngajakin kamu pergi undangan kerumah temennya mama." Bunga langsung melepas pelukannya sembari mengangguk yakin.

30 menit kemudian Bunga sudah mandi. 

Dia memakai baju berwarna hijau muda dan rok hijau terang selutut serasi dengan kulit putihnya.

Rambutnya lurus panjang di hiasi dengan pita kuning. Riasannya sederhana feminim. Mama sudah menunggunya di ruang tamu.

"Sayang udah siap belum?" Teriaknya.

"Udah kok ma." Dia muncul

"Oke yuk kita berangkat." Mereka berduapun berjalan menuju garasi dan masuk kedalam BMW berwarna pink terang.

SESAMPAINYA Di SEBUAH BANGUNAN MEGAH.

Mamanya memparkirkan mobilnya dengan rapi, keduanya turun. Tampaklah halaman rumah itu luas dan indah ada taman dengan berbagai macam desain yang unik. Tamu-tamu undangan sepertinya sudah banyak yang datang. Mereka masuk, di situ mereka sudah di sambut hangat oleh pemilik rumah megah itu. Ada sesosok wanita berumur kurang lebih 38 tahun dan di sampingnya ada suami tercintanya.

"Selamat yabMbak semoga tambah langgeng deh sama suami dan diberi kesehatan." Mama Tia langsung memeluk wanita itu.

"Makasih Tia, ini Bunga?"

"Iya mbak!"

"Ya ampun dia sekarang semakin cantik." Wanita yang di panggil dengan nama mbak itu tersenyum kagum, melihat kecantikan anak semata wayang milik mama Tia.

"Kira-kira sudah berapa lama ya Aku ngak ngeliat dia?"

"Sejak Bunga berumur 10 tahun kayaknya mbak."

"Wah anak gadis kamu sudah benar-benar beranjak remaja sekarang!" Sambung Suami mbak Yuni. Bunga dan mamanya tampak tersenyum malu.

"Iya Mas sekarangkan umur Bunga udah 16 tahun." Jawab mama. Mereka sama-sama tertawa.

"Lalu anak bujang mbak mana?"

"Eeh iya kemana ya dia tadi!" Mbak Tia seakan kebingungan, dia memandangi seluruh isi ruangan.

"Mi cari Aku ya?" Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah belakang. Keempatnya menoleh.

"Sayang kemana saja sih Mimi cariin kamu."

"Maaf Mi tadi kebelet mau pipis." Jawabnya.

"Sudah sini nih kenalin Tante Tia temen Mimi."

Cowok itu segera menyalami mama tia. Sementara itu Bunga terpaku menatapnya.

Dia tahu siapa cowok itu dan dia pernah melihat sebelumnya.

"Aku Satria tante."

"Tante Tia." Mereka berjabat tangan. "Kenalin ini Bunga anak tante." Mama memperkenalkan Bunga dengan cowok itu. Mereka saling menatap dan berjabat tangan.

"Satria sudah kelas berapa sekarang?" Tanya mama kemudian.

"kelas dua belas tante."

"Oh berarti bentar lagi lulus dong."

Dia hanya mengangguk dan tersenyum, sebuah senyuman yang hangat. Bunga tau kalau dia adalah teman satu sekolahnya yang baru saja di lihatnya waktu pertandingan futsal tempo lalu.

Tapi seolah-olah dia baru melihat dengan jelas.

Kemudian mereka jalan beriringan menuju sebuah meja yang sudah di letakan berbagai macam menu hidangan. Mereka berbincang- bincang asyik. Tak terasa waktu hampir saja berlalu. Ketika jam dinding menunjukkan pukul 18.00 Wib.

Mama dan bunga sudah pulang. Pertemuan dengan temen mamanya sudah sedikit membuat hati bunga terhibur.

Setelah menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim Bunga berbaring di sprimbed dalam ruang kamarnya. Dia meraih handphone nya. 

Ada Whatsapp masuk dari Rina

"Hai Bung lagi ngapain?"

"Lagi tiduran Rin."

"Kenapa sih akhir-akhir ini kamu keliatan sedih? Kamu baik-baik ajakan?"

"Iya Rin Aku baik-baik aja."

"Bener ya Bung Aku cuma khawatir."

"Iya makasih perhatiannya."

"Aku masih ngak percaya sejak kejadian tempo lalu pas Veli ngancam Kamu, Kamu jadi sedikit murung, jujur bung Kamu suka Reza?"

"Kamu kok bilang gitu sih?"

"Aku curiga kamu suka dia."

Bunga tak membalas.

"Bung kok diem sih?"

"Ayo jujur."

"Pliss deh."

"Kenapa sih Bung?"

"Salah ya aku tanya."

"Bung balas."

"Nanti aku pasti cerita." Bunga baru membalas.

"Oke."

Chat pun terhenti.

Bunga menghela nafas pendek tiba-tiba handphone nya bergetar lagi.

Chat dari Reza.

"Good night inces, bagaimana hari ini apakah menyenangkan?"

Bunga hanya membacanya dan kemudian meletakkan handphonenya di atas meja lampu.

Keadaan sunyi sejenak. Reza akan selalu ada di setiap hembusan nafasnya. Tapi dia tidak tahu sampai kapan, didalam hati dia berharap pada cowok tampan itu bahwa dia kan selalu mencintai mesti sejujurnya itu tak pantas. Biarlah dia akan menyimpan nama Reza rapat-rapat di sisi hatinya yang paling dalam. Hanya itu yang bisa dia lakukan. 

Masih pagi, Bunga sudah sampai di sekolahnya seperti biasa sebelum masuk kelas dia selalu menyimpan beberapa barangnya di loker.

Dan lagi lagi dia menemukan sebuah kado istimewa, mungkin di bilang hampir setiap hari berbagai macam kado selalu ada di lokernya.

Kali ini si pengirim yang selalu menandai dirinya dengan inisial R, mengirimkan sesuatu yang tak pernah terduga olehnya. Responnya cuma tersenyum terus nutup lagi lokernya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED