Wanita itu sudah tergeletak dijalan dengan darah yang keluar dari pergelangan kakinya, dirinya tak sadarkan diri karena tergigit oleh anjing itu.
Ada segelintir rasa panik yang menyerang Nizam, apalagi itu semuanya terjadi tepat di depan matanya.
"Tolongin bro!" Teriak Raksa yang kini berlari dari belakangnya menuju tempat Yumna yang terbaring lemas.
"Kamu gak papa kan??" Tanya Raksa sambil menggendong Yumna yang kini matanya sudah tertutup, Raksa membawanya menuju rumah Nizam, Nizam hanya terdiam menyaksikan dirinya yang tidak bisa berbuat banyak.
Rumah yang bernuansa cokelat itu sudah dipenuhi kembali oleh sekelompok laki-laki, siapa lagi kalau bukan Nizam, Dhefan, Raksa, Rafi, Reza, Fadil, dan Galang.
Mereka semuanya duduk memperhatikan wajah seorang gadis yang kini sedang diberi obat oleh ibu Nizam.
"Untung ngegel na teu jero (beruntung gigitnya tidak terlalu dalam)" Ucap Ibu Nizam membuyarkan pandangan ke tujuh anak lelaki itu.
"Bener yah kalau jodoh gak akan kemana" Ujar Reza sambil menggeleng gelengkan kepalanya dengan tatapan yang terus tertuju pada wajah gadis cantik yang sedang terbaring di depan nya.
"Baru aja mau ke rumah nya, eh dia yang datang kesini sendiri". Dhefan ikut menimpali ucapan Reza.
"Diem lu curut, rumahnya aja lo kagak tau, dia calon istri gue gak boleh ada yang kerumah dia selain gue" Rafi pun ikut berbicara geram karena ucapan Reza.
"Idih bang Reza, posesif amat, padahal bukan siapa siapa nya".
"Yumna aja gak kenal lo ya za, belum tentu juga dia mau sama lo" Ucap Galang.
"Sudah -sudah kalian jangan ribut entar nyai geulisna (Nona cantik nya) kebangun, biarin dia istirahat dulu sambil nunggu obatnya ber reaksi" Ucap Ibu Nizam dengan penuh kasih sayang.
Ruangan tengah ini menjadi tempat bersantai Nizam dan teman temannnya, waktu sudah beranjak sore bahkan matahari sudah perlahan tenggelam, warna Jingga sudah terlihat indah menghiasi langit pertanda bahwa kini malam akan segera tiba. Keadaan yumna sudah membaik bahkan dirinya kini sudah tersadar.
"Maaf merepotkan kalian" Ucap Yumna dengan suara yang pertama kali Nizam dan teman nya dengar.
Baru kali ini mereka tau suara Yumna yang ternyata cukup membuat candu siapa saja yang mendengar suara lembutnya.
"Kenalin saya Yumna,12 Mipa 1" Ucapnya sambil mengulurkan tangan tanda perkenalan kepada ke tujuh laki laki itu.
"Gue Reza" jawab reza sembari mengulurkan tangan nya cepat menyambut uluran tangan Yumna.
Melihat Reza yang gerak cepat, Raksa pun tidak ingin diam dirinya memutuskan jabatan tangan antara Reza dengan Yumna.
"Kenalin gue Raksa, calon menantunya Ibumu".
"Gombalan lo receh!" seru Dhefan menimpali ucapan Raksa dengan tatapan yang merendahkan.
"Gue Galang, ini Rafi, ini Fadil ini Nizam si batu es".
"Senang berteman dengan kalian" tutur Yumna mengakhiri perkenalan mereka sambil tersenyum manis.
~~
Hari ini dengan balutan seragam putih abu, dengan tas yang melekat sempurna di punggungnya sukses menelan buku tebal yang ia bawa. Luka dikakinya sudah membaik untung saja dirinya tidak mengalami rabies, semenjak perkenalan dengan Nizam dan teman nya, Yumna semakin banyak di kenali orang apalagi tim voli yang sangat terkenal itu sering kali menghampiri Yumna meski hanya sekedar mengobrol.
Udara dikota bandung sangat dingin, pagi ini Yumna berangkat pergi dengan menaiki taksi, satu hal yang Yumna tak mengerti mengapa dari ke tujuh tim bola voli itu ada satu pria yang bahkan tidak pernah ia dengar suaranya siapa lagi kalau bukan Nizam.
Diperjalanan Yumna hanya memainkan telpon genggam miliknya mendengarkan lagu favoritnya apalagi cuaca kini hujan semakin mendukung kegiatan nya. Beberapa menit kemudian taksi yang ia tumpangi sudah berada tepat di depan gerbang sekolahan, dengan berbekal payung yang ia bawa di dalam tas. Yumna menginjakan kakinya diaspal yang basah, menelusuri berbagai ruangan menuju kelas nya.
"Eh itu Yumna, samperin kuy" Ucap Galang sambil membenarkan rambutnya.
Saat semua berjalan pergi menuju Yumna yang sudah masuk ke kelasnya, Nizam kali ini tidak seperi biasanya yang menurut mengikuti keinginan teman nya, dirinya menolak "Kalian aja, gue lagi gak mood".
"Lo kenapa zam?" Tanya Rafi yang sudah tau sipat Nizam dari kecil.
"Gue gak enak badan, gue ke kelas duluan aja".
"Yaudah bro, kita otw dulu liat bidadari ".
1 minggu berlalu, dan saat itu pula tim bola voli yang sangat terkenal itu semakin terlihat akrab dengan seorang wanita, siapa lagi kalau bukan Yumna.
Hari demi hari mereka lalui, perasaan senang sering muncul disaat para lelaki itu menemani Yumna apalagi dirinya kini hanya hidup sebatangkara dikota perantauan. Yumna adalah gadis berkelahiran Jakarta hanya saja almarhum ayah dan ibunya asli kota Bandung, semenjak keduanya meninggal Yumna kembali ke kota ini dengan berbekal kenangan.
Sore itu sedang hujan deras , beberapa kali suara yang menggelegar terdengar ditelinga. Sebuah pena berwarna abu sudah melekat dalam genggaman jari jari tangan nya, buku sudah berada di depan nya di atas sebuah meja belajar dengan penerangan lampu yang berwarna kuning ke orange-an, Yumna adalah wanita yang gemar menulis apalagi disaat rindu akan kehadiran orang tuanya buku catatan nya akan penuh oleh huruf yang terangkai indah. Dengan ditemani secangkir kopi dirinya menyelesaikan naskah novel yang ia buat, meski hanya sebuah naskah yang ia tulis dalam buku ia rasa apa salah nya mencoba dengan apa yang ada.
Yumna merentangkan tangan nya ke atas sembari menguap menandakan dirinya sudah lelah terdiam cukup lama di kursi."Huaaaaa".
Yumna optimis buku manual nya kelak akan menjadi sebuah buku yang terkenal.
"Jika tidak sekarang mungkin suatu saat nanti" Ucapnya sambil menutup buku harian miliknya lalu bergegas pergi menuju dapur untuk memasak sesuatu yang bisa ia makan.
Hujan sudah reda ,dia meninggalkan bekas basah di jalanan, tak diragukan juga bahwa hujan meninggalkan rindu yang jelas terasa sesak di dada. Tujuh tahun lamanya orang tua nya sudah pergi, sedih rasanya saat melihat orang tua orang lain masih lengkap. Apalagi saat kenaikan kelas ketika pembagian raport, rasanya Yumna ingin menghilang saja, bagaimana ia bisa tegar saat semua teman nya membawa orang tua masing-masing dirinya hanya bisa mendatangi kuburan orang tua nya sambil memberikan raport miliknya.
"Bu, pak ini punya Uma, ini semua karena kalian, untuk kalian".
Langit yang berwarna jingga kini sudah berubah warna menjadi sedikit lebih gelap , itu tandanya malam akan segera tiba, Yumna juga bersyukur perutnya sudah kenyang. Semua lampu Yumna nyalakan, Yumna paham hidup sendiri membuatnya harus ekstra hati-hati apalagi dirinya seorang perempuan. Yumna menyalakan handphone yang semenjak siang tadi tak pernah ia sentuh, berbagai notifikasi hingga beberapa panggilan menghiasi log panggilan aplikasi hijau miliknya.
"Ada apa yaa Dhefan spam chat sampai nelpon 18×?" Ujarnya sambil melihat spam chat yang berasal dari nama kontak Dhefan.
"Ehh tumben Rafi Nelpon" Ucapnya saat melihat nama Rafi terlihat jelas di layar handphone nya tanda panggilan masuk.
"Hallo Yumna" Ucap seseorang yang kini sedang menelpon Yumna.
"Lo bisa kesini bentar gak?" Ucap Rafi dengan suara yang cemas.
"Ada apa?" Jawab Yumna saat mendengar suara Rafi yang cemas membuatnya ikut khawatir.
"Itu si Nizam dia...".
"Itu si Nizam dia..".
"Nizam kenapa, Dhef?" Potong Yumna saat mendengar nama Nizam.
"Gu-e , gak bisa jelasin, lo kesini aja cepetan ya"
Yumna menjawab dengan singkat "Oke" sambil mencari kunci rumah nya yang terkadang hilang saat dibutuhkan.
7 menit sudah ditempuh, waktu yang sebenarnya singkat kini dirasa lama saat sedang dalam keadaan hati yang gusar, Yumna tidak tau apa yang terjadi , tapi yang jelas dirinya menyadari hatinya terasa sesak saat nama Nizam disebutkan tadi.
"Ini bang ongkosnya" Ucap Yumna kepada tukang ojeg itu, sebenarnya jarak dari rumah menuju nizam tidaklah jauh hanya saja dirinya terlalu cemas hingga memutuskan untuk naik ojeg.
Sandal yang Yumna pakai semakin kotor oleh debu yang semakin jauh terbang tersapu angin. Yumna sedikit berlari untuk segera tiba di kediaman Nizam.
Dari kejauhan terlihat rumah Nizam yang terang benderang, dengan bendera kuning kecil yang berkibar di sebuah pohon tidak seperti biasanya, angin malam pun berhembus semakin kencang membuat hawa dingin semakin menusuk bahkan jaket yang Yumna pakai tidak mampu menutupi tubuhnya dari hawa dingin itu.
"Yumnaaaaa sini" ajak Rafi dari kejauhan dengan melambaikan tangan tanda agar Yumna mendekat.
Yumna melangkahkan kaki memberanikan diri mendekati rumah itu , saat kaki nya melangkah semakin dekat saat itu juga jantungnya semakin berdebar kencang.
"Ini ada apa, Rafi?" Tanya Yumna saat sudah berhasil sampai di depan rumah milik Nizam.
"Ada berita duka , gue juga gak nyangka ini bakalan terjadi".
"Kenapa? ada apa !? " tanya Yumna semakin greget mendengar jawaban Rafi.
"Gue gak sanggup jelasin, biar si Reza aja yang jelasin ya " Ucap Rafi sambil menarik Reza yang baru saja datang menghampiri dirinya yang sedang bersama Yumna.
"Kenapa za? kenapa dirumah Nizam banyak lampu kaya gini, dan apa ini? bendera kuning?".
"Malam ini ada kabar duka".
"kabar apa?" Yumna memberanikan diri bertanya kembali sedangkan tangan nya semakin erat memegang tali tas yang ia pakai
"Ibu nya Nizam meninggal" tutur Reza sambil mencoba menahan air mata yang bahkan tak mampu ia bendung.
"Gak mungkin Zaaa, jangan bercanda kaya gini, ini gak selucu yang lo kira"
Yumna berbicara sambil menahan air matanya mencoba memahami.
"Mungkin ini hanya prank" Ucap Yumna dalam Hati.
"Nizam dimana?" Yumna memberanikan diri kembali menanyakan Nizam.
"Dia lagi di dalam. Sumpah gue bener-bener gak nyangka Yumna, padahal tadi siang ibunya Nizam masih menyambut kami dengan hangat, gue gak nyangka ternyata penyakit jantung bisa membuat mati mendadak".
Yumna berlari menuju bagian dalam rumah milik Nizam. Langkahan kakinya terhenti sesaat setelah melihat beberapa orang sedang duduk di hadapan jenazah yang terbungkus sempurna oleh kain berwarna putih.
"Nizam" Panggil Yumna mencoba menyapa lelaki yang terlihat sedang memeluk jasad ibunya.
"lo yang sabar ya, ini udah takdirnya kaya gini" Ucap Yumna sambil mencoba mengelus punggung Nizam yang bergetar menahan tangis .
~~
Malam sudah berganti, tapi duka masih menyelimuti, berkali-kali air mata turun membasahi, mewakili rasa kehilangan yang sangat besar bagi sosok Nizam. Saat ini Nizam tinggal seorang diri setelah dulu ayah nya meninggal kini ibunya secara tiba-tiba juga meninggalkannya.
Nizam akui dirinya cengeng, mungkin bagi orang lain seorang pria yang menangis itu lebay, tapi percayalah anak mana yang akan kuat saat sosok ibunya yang meninggalkan nya harus terbaring lemah terbungkus kain kapan.
Satu minggu lagi turnamen voli akan dimulai, sulit rasanya bangkit kembali setelah diguncang kehilangan sosok yang sangat berpengaruh bagi Nizam.
Nizam semakin menjadi pendiam, dulu meski pendiam dirinya masih bisa tertawa tidak seperti yang sekarang tawa nya hilang meski ibunya telah beberapa hari pergi.
"Zam, malam ini kita nginep dirumah lo ya" Ucap Galang mencoba mengusir rasa kesepian Nizam.
"Kalian pindah aja dari kost , bareng gue aja , rumah seindah ini akan hampa tanpa kehangatan" Jawab Nizam setelah membersihkan Kamar milik ibunya.
Teman nya yang mendengar pun tanpa lama lama menyetujui saran Nizam, selain bisa membantu Nizam mungkin mereka juga menghemat uang.
~~
Hari turnamen tingkat provinsi itu tiba, senin 30 mei 2022 semua sekolah seluruh indonesia mengirimkan perwakilan yang terbaik dari sekolah masing-masing begitu pun dengan sekolahan nizam dan yang lain nya.
Pertandingan pertama hampir selesai itu artinya pertandingan berikutnya adalah milik sekolah Nizam.
Dhefan, Rafi, Galang, Raksa, Reza sudah siap ditempat, mereka semua sudah ganti baju tinggal pemanasan lalu bertanding , kepala mereka menengok ke kanan dan kiri mencari dimana keberadaan Nizam, hanya saja hasilnya nihil, wajah mereka mulai panik melihat disini Nizam lah yang berkontribusi besar dalam startegi pertandingan.
"Bro ! Nizam kok belum sampai" tanya Reza kepada teman nya.
"Gue juga gak tau, tadi si Nizam cuma nyuruh gue duluan, gue kira dia bakalan kesini nyusul kita" Ucap Dhefan.
"Kita harus cari dia" Raksa berbicara dengan tegas karena disinilah dia menjadi kapten dari tim nya.
"Tapi Sa, gue rasa gak cukup waktu buat nunggu atau nyari Nizam, bentar lagi kita tanding" timpal Rafi tak kalah panik.
Mereka terlarut dalam pikiran masing-masing mencari jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi.
Yumna gadis itu sekarang berada di wilayah penonton. Melihat wajah teman - teman nya terlihat cemas dia mulai sadar sosok laki laki itu tidak terlihat di area ini. Yumna berlari menuruni tangga berniat keluar dari tempat pertandingan ini berlangsung, dia mengendarai motor teman nya yang bernama Ayu, kendaraan itu melesat cepat melewati setiap jalanan yang sedikit berlubang.
Nizam, saat ini sedang termenung di makam ibu yang masih basah , berbagai jenis bunga sudah terlihat di atas gundukan tanah itu, Sosok laki laki itu menunduk sambil memegang sebuah Kitab suci al quran, Yumna yang dari tadi sudah tau keberadaan Nizam segera bergegas turun dari motor.
"Zamm.." Ucap nya sambil berlari menuju arah makam.
"Gu-e turut berduka cita ya, Lo yang sabar".
"Lo harus kuat, lo harus banggain ibu lo, kejar cita cita lo !! " Ucap yumna menyadari Nizam tidak berkata sepatah pun kepadanya.
"Cita-cita? gue gak punya cita cita ! semua yang udah lakuin itu demi ibu dan sekarang gue ngelakuin ini semua buat apa?" Ucap Nizam sambil meremas sebuah foto dirinya yang sedang memegang medali emas.
"Lo gak boleh gitu, ini semua takdir, lo harus percaya Skenario Allah itu yang terbaik zam" Ucap Yumna sambil ikut berjongkok di pinggir Nizam.
"Lo harus ikut turnamen hari ini, please sekarang demi diri lo sendiri, demi teman lo, orang yang percaya sama lo, dan buat Gue ! " Ucap Yumna lagi sambil memegang tangan Nizam.
"lo harus kuat, lo harus bangkit, disaat lo sukses, alm ibu juga akan tersenyum bahagia di surga sana".