Pagi yang cerah menyelimuti kota Jakarta, namun suasana hati Alya Nabila dan pikiran nya masih dipenuhi kecemasan. Semalam, setelah berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Nathan Albar, ia berharap bisa sedikit bernapas lega. Namun, telepon dari kantor pusat pagi ini membuat perutnya kembali terasa mual.
"Kau diharapkan hadir di ruang rapat lantai 25 pukul 09.00," suara dari seberang telepon terdengar datar, tanpa basa-basi. Alya tidak tahu apakah itu kabar baik atau buruk, tapi dia sadar satu hal-Nathan Albar belum selesai menguji dirinya.
Alya tiba di gedung Albar Group dengan waktu yang cukup untuk menenangkan diri. Ia berdiri di depan cermin toilet wanita, merapikan blus putihnya yang sudah mulai pudar warnanya. Ia menghirup napas dalam-dalam, berusaha memompa semangat dalam dirinya.
"Kau bisa melakukannya, Alya," bisiknya pada bayangannya sendiri.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul 09.00, Alya sudah berdiri di depan ruang rapat yang besar dengan pintu kaca yang memantulkan bayangan tubuhnya yang tampak kecil dan rapuh. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka pintu dan melangkah masuk.
Di dalam ruangan itu, sudah ada beberapa eksekutif senior yang duduk mengelilingi meja besar, serta Nathan Albar yang duduk di ujung meja dengan ekspresi dingin seperti biasa. Pandangan tajam pria itu segera menyambut kedatangan Alya, membuatnya merasa seperti rusa kecil yang dikepung oleh kawanan serigala.
"Selamat datang, Nona Alya," sapa Nathan dengan nada yang sulit ditebak. "Silakan duduk."
Alya menelan ludah, berusaha mengusir rasa gugup yang kembali menjalar. Ia mengambil tempat duduk di ujung meja, jauh dari Nathan. Suasana ruangan begitu tegang dan sunyi, hanya terdengar bunyi jarum jam yang berdetak perlahan.
"Jadi," Nathan mulai berbicara sambil menyilangkan tangan di depan dada. "Kau berhasil menyelesaikan tugas pertamamu. Namun, seperti yang kau tahu, perusahaan ini tidak membutuhkan orang yang hanya bisa bekerja di bawah tekanan. Kami butuh seseorang yang bisa berpikir cepat dan efektif, tanpa mengorbankan kualitas."
Alya hanya mengangguk, tidak tahu harus menjawab apa. Dia merasa setiap kata yang diucapkannya bisa menjadi bumerang.
Nathan tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Oleh karena itu, kami akan memberikanmu satu ujian lagi. Dan kali ini, lebih menantang."
Alya tertegun. "Ujian lagi?"
"Benar," jawab Nathan sambil melemparkan sebuah map ke arah Alya. Map itu meluncur di atas meja dan berhenti tepat di depannya. Alya membukanya dengan tangan gemetar, dan alisnya langsung berkerut saat membaca isinya.
"Kami punya proyek besar yang sudah berjalan setengah jalan, tapi ada masalah di bagian pengadaan barang," jelas Nathan. "Vendor utama kami tiba-tiba membatalkan kontrak, dan sekarang kami dihadapkan pada tenggat waktu yang ketat."
Alya menatap Nathan dengan bingung. "Apa yang Anda harapkan dari saya?"
"Kami ingin kau mencari pengganti vendor tersebut dalam waktu kurang dari 48 jam," kata Nathan dengan nada yang jelas-jelas menantangnya. "Dan bukan sembarang pengganti. Kami butuh kualitas yang setara dengan harga yang kompetitif. Kau bisa melakukan itu, bukan?"
Alya hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Mencari vendor pengganti dalam waktu 48 jam adalah tugas yang sangat mustahil, terutama untuk proyek sebesar itu. Namun, di bawah tatapan tajam Nathan dan para eksekutif lainnya, ia merasa tak punya pilihan selain menerima tantangan tersebut.
"Saya akan berusaha sebaik mungkin," jawab Alya dengan suara mantap, meskipun dalam hatinya, dia merasa sangat cemas.
Betapa menyebalkan bos baru nya itu!
Nathan mengangguk, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa dia tidak sepenuhnya percaya pada kemampuan Alya. "Baiklah, kami akan melihat hasilnya lusa. Jika kau gagal, maka anggap saja ini adalah akhir dari kesempatanmu di Albar Group. Kau mengerti?"
Alya mengangguk cepat keluar dari ruang rapat dengan kepala penuh kecemasan. Baru saja ia merasa berhasil menaklukkan satu tantangan, kini ia dihadapkan dengan rintangan yang lebih besar lagi. Namun, ia tahu ia tidak bisa menyerah begitu saja. Dia sudah terlalu jauh untuk mundur.
***
Waktu terus berjalan, dan Alya menghabiskan siang harinya dengan menghubungi berbagai vendor yang ada di kontak lamanya. Namun, setiap telepon yang diangkat selalu berakhir dengan jawaban yang sama: "Mohon maaf, kami tidak bisa memenuhi kebutuhan tersebut dalam waktu sesingkat itu."
Frustrasi mulai menyelimuti Alya, tetapi dia tidak membiarkan dirinya larut dalam keputusasaan. Pikirannya terus berputar mencari solusi, hingga akhirnya dia teringat akan seorang teman lama yang pernah bekerja sebagai pemasok barang proyek. Dengan segera, Alya menghubunginya.
"Halo, Rio? Ini Alya. Aku butuh bantuan besar darimu," ujarnya dengan nada memohon.
Di seberang telepon, suara Rio terdengar kaget tapi juga penuh rasa ingin tahu. "Alya? Sudah lama sekali tidak bertemu . Hmm, baiklah bantuan apa yang kau butuhkan?"
Alya menjelaskan situasi yang dihadapinya dengan cepat, berharap Rio bisa memberikan solusi. Setelah beberapa detik hening, Rio akhirnya menjawab, "Aku punya kontak dengan pemasok besar yang mungkin bisa memenuhi kebutuhanmu. Tapi mereka sangat selektif dan tidak mudah didekati jadi kau harus berjuang keras untuk hal ini."
"Aku bersedia mencoba," kata Alya dengan penuh semangat. "Tolong, Rio. Ini sangat penting bagiku."
Rio setuju untuk memperkenalkan Alya kepada pemasok tersebut, tapi ada satu masalah: mereka hanya bisa bertemu malam ini di sebuah bar di daerah SCBD, tempat di mana para pengusaha dan eksekutif sering berkumpul.
Alya tidak punya pilihan selain menyetujui pertemuan itu, meski ia merasa canggung harus memasuki lingkungan yang begitu asing baginya.
***
Malam harinya, Alya tiba di bar yang dimaksud. Tempat itu penuh dengan suara musik jazz dan tawa para tamu yang menikmati malam mereka. Alya merasa tidak nyaman, namun dia menepis rasa itu demi kesempatan ini.
Dia melihat Rio melambaikan tangan dari sudut ruangan, duduk bersama seorang pria paruh baya dengan wajah tegas dan karismatik. "Alya, ini Pak Gunawan, pemasok yang kuceritakan tadi," Rio memperkenalkan mereka.
Alya segera mengulurkan tangan, berusaha tampak percaya diri meski jantungnya berdebar kencang. "Senang bertemu dengan Anda, Pak Gunawan. Saya berharap kita bisa mendiskusikan peluang kerja sama."
Namun, belum sempat mereka memulai pembicaraan lebih lanjut, sebuah suara dingin yang sangat dikenal Alya terdengar dari belakangnya. "Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini, Nona Alya."
Alya membalikkan badan dan melihat Nathan berdiri di sana dengan senyum sinis di wajahnya. Ia mengenakan setelan jas hitam yang sama elegannya seperti pagi tadi, namun kini tatapannya lebih tajam, seolah menuduh Alya melakukan sesuatu yang salah.
"Pak Nathan," Alya berusaha tersenyum meski jelas dia merasa terpojok. "Saya sedang mencoba mencari solusi untuk masalah yang kita hadapi."
"Dengan cara ini?" Nathan memandang Alya dan Pak Gunawan bergantian, lalu melirik Rio dengan pandangan curiga. "Kau yakin tidak sedang bernegosiasi di belakangku?"
Alya tercekat. Tuduhan itu membuat darahnya mendidih. "Tidak, Pak Nathan. Saya hanya berusaha memenuhi tugas yang Anda berikan."
Namun, Nathan tidak langsung percaya. Dia melangkah lebih dekat, membuat jarak mereka begitu dekat hingga Alya bisa merasakan aroma maskulin cologne yang dipakainya. "Kita lihat saja hasilnya," katanya dingin, sebelum berbalik dan meninggalkan tempat itu.
Pak Gunawan, yang sejak tadi hanya menjadi penonton, tertawa kecil. "Bosmu cukup keras, ya? Kau bisa pindah bekerja di tempat ku, kalau kau mau."
Alya tersenyum pahit. "Dia hanya memastikan saya melakukan pekerjaan saya."
Pak Gunawan mengangguk dan menghela napas. "Baiklah, aku suka orang yang bekerja keras. Kirimkan proposal lengkapmu besok pagi, dan aku akan lihat apa yang bisa kulakukan."
Alya merasa lega, setidaknya ada secercah harapan. Namun, kejadian malam ini membuatnya semakin sadar bahwa bekerja di bawah Nathan Albar bukanlah hal yang mudah. Pria itu tidak hanya cerdas, tapi juga sangat curiga dan tidak mudah percaya pada siapa pun.
***
Ketika Alya kembali ke apartemennya malam itu, tubuhnya terasa begitu lelah. Namun, sebelum ia bisa benar-benar beristirahat, teleponnya berbunyi. Nama yang tertera di layar membuat hatinya mencelos-Nathan Albar.
"Apa kau pikir aku tidak tahu permainanmu, Nona Alya?" suara Nathan terdengar dingin di seberang telepon. "Kau mungkin berhasil kali ini, tapi aku akan terus mengawasi setiap langkahmu."
Klik. Telepon diputus sebelum Alya sempat membalas.
Alya membanting ponsel nya, tak peduli dengan kondisi ponsel nya dia sangat emosi.
Pagi itu, alarm berbunyi nyaring, membangunkan Alya dari tidur yang tak nyenyak. Ia mendesah lelah, meraih ponsel di samping tempat tidur dan melihat waktu.
Alya menatap cermin di kamar mandi kecil apartemennya. Wajahnya tampak pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata, bukti dari malam-malam tanpa tidur yang terus-menerus menghantuinya sejak bekerja di bawah tekanan Nathan. "Kau bisa melakukannya, Alya, semangat!" bisiknya pada diri sendiri, mencoba menyemangati hati yang mulai lelah. Setelah mencuci muka dengan air dingin, ia segera bersiap-siap, mengenakan blus putih dan rok pensil hitam-seragam yang mulai terasa seperti perisai yang rapuh untuk melawan serangan Nathan.
Tepat pukul 07.30, Alya sudah tiba di gedung Albar Group. Kali ini, dia memutuskan untuk datang lebih awal agar bisa mempersiapkan proposal yang dijanjikannya kepada Pak Gunawan semalam. Namun, sesampainya di kantor, dia langsung dikejutkan oleh pemandangan tak terduga. Ruang kerjanya yang biasanya sepi kini dipenuhi dengan beberapa rekan kerja yang berbisik-bisik.
"Ada apa?" bisik Alya pada Rina, teman sekantornya yang kebetulan lewat.
"Kamu tahu nggak Al?" Rina menatap Alya dengan tatapan kasihan. "Pak Nathan lagi ngamuk tau. Katanya ada masalah di divisi marketing, dan sekarang dia nyari-nyari orang buat disalahin. Ngeri banget sih tuh orang sumpah."
Jantung Alya seketika berdegup kencang. Ia tahu betul bagaimana Nathan bisa begitu kejam jika ada yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Tanpa menunggu lebih lama, Alya bergegas menuju ruangannya, berharap bisa menyelesaikan tugas sebelum Nathan memanggilnya.
"Tenang Al, tidak perlu cemas, kau akan baik-baik saja." Batin nya.
Namun, harapannya pupus seketika ketika suara berat dan dingin memanggilnya dari arah belakang.
"Nona Alya!" suara Nathan menggema di lorong kantor. Para karyawan yang lain segera menyingkir, seperti semut yang menghindari air. "Ikut saya sekarang juga!"
Alya menelan ludah dan mengikuti langkah cepat Nathan menuju ruang rapat di ujung koridor. Pintu ditutup dengan keras di belakang mereka, dan Nathan langsung melemparkan setumpuk kertas ke meja di depannya. Dokumen-dokumen itu berserakan, beberapa bahkan jatuh ke lantai.
"Apa-apaan ini?" bentak Nathan dengan wajah memerah. "Ini hasil laporan yang kau buat semalam? Data yang kau berikan salah semua! Kau ingin membuat perusahaan ini rugi miliaran rupiah? Hah! Rupanya kau tidak bisa diandalkan."
Alya terkejut, tapi dia mencoba tetap tenang. "Saya sudah memeriksa datanya dengan teliti, Pak. Mungkin ada kesalahan teknis..."
"Saya akan memperbaiki nya lagi." Alya belum siap untuk dipecat sekarang.
"Kesalahan teknis?" Nathan menyela dengan nada mengejek. "Kesalahan teknis hanya alasan bagi mereka yang tidak kompeten! Aku tidak peduli bagaimana caranya, kau harus memperbaiki semua ini sebelum rapat dengan direksi pukul 10.00. Jika tidak, anggap saja kau tidak perlu kembali bekerja di sini."
Alya merasakan darahnya mendidih. Betapa mudahnya bagi Nathan untuk mengancamnya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan. Namun, dia menahan diri, tahu bahwa melawan hanya akan memperburuk keadaan. "Baik, Pak. Saya akan memperbaikinya secepat mungkin," jawab Alya mencoba berusaha untuk tetap profesional meski tangannya gemetar.
Nathan tidak menjawab, hanya memberikan tatapan tajam yang seolah bisa membakar lubang di tubuh Alya. "Aku ingin hasilnya sempurna. Dan kau jangan sampai mengecewakanku lagi, bekerja lah yang baik!" katanya sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan dengan langkah yang cepat.
Alya menghela napas panjang, menahan air mata yang hampir jatuh. Ia tahu Nathan sengaja membuat segalanya menjadi sulit baginya. Mengingat kejadian di bar semalam, Alya merasa Nathan sengaja mencari-cari kesalahan hanya untuk menekannya.
Tanpa membuang waktu, Alya segera duduk di meja kerjanya dan mulai memeriksa data yang dituduhkan salah oleh Nathan. Ia membuka laptopnya dan memeriksa ulang semua angka dan laporan. Ternyata, data yang Nathan sebutkan salah, sebenarnya adalah laporan lama yang belum di-update oleh tim lain. Namun, dia tahu jika mencoba menjelaskan ini, Nathan hanya akan menyalahkannya lagi.
"Ini tidak adil," gumam Alya kesal sambil mengetik cepat. Jam menunjukkan pukul 09.00, hanya tersisa satu jam sebelum rapat dimulai. Ia harus berpacu dengan waktu.
***
Pukul 09.50, Alya akhirnya menyelesaikan laporan revisi dan berlari menuju ruang rapat. Ia tiba tepat pada waktunya, dengan napas terengah-engah dan wajah memerah. Semua eksekutif sudah duduk di tempatnya masing-masing, dan Nathan menatapnya dengan senyum sinis.
"Bagus, kau datang juga," katanya dengan nada menyindir. "Kita akan lihat apakah kali ini kau bisa melakukan sesuatu yang benar."
Rapat pun dimulai, dan Alya harus mempresentasikan laporannya di depan seluruh jajaran direksi. Ia mencoba menenangkan dirinya, menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. "Selamat pagi, Bapak dan Ibu. Berikut adalah revisi laporan pengadaan yang saya susun."
Selama 30 menit berikutnya, Alya mempresentasikan data dengan hati-hati. Ia menunjukkan analisis pasar, rekomendasi vendor baru, dan strategi penghematan biaya. Meski merasa tertekan dengan tatapan tajam Nathan, ia berusaha untuk tetap fokus.
Ketika presentasi selesai, ada keheningan singkat di ruangan itu sebelum salah satu direksi mulai berbicara. "Ini adalah perbaikan yang sangat baik, Nona Alya. Dan saya sangat terkesan dengan analisis Anda."
Alya merasa lega, tapi kebahagiaannya hanya berlangsung singkat. "Tunggu dulu," Nathan menyela, membuat seluruh ruangan kembali tegang. "Meskipun laporan ini cukup baik, aku masih melihat ada beberapa data yang tidak sepenuhnya akurat. Bagaimana kita bisa mempercayai rekomendasi ini jika kau bahkan tidak bisa memastikan semua angkanya benar?"
Alya terperangah. Dia yakin data yang dia berikan sudah benar, tetapi Nathan seolah-olah sengaja mencari-cari kesalahan. "Pak Nathan, saya sudah memeriksa data ini berulang kali. Jika ada kesalahan, mungkin kita perlu memeriksa sumber datanya lagi..."
"Jangan beralasan!" potong Nathan. "Ini tanggung jawabmu. Aku tidak peduli bagaimana caranya, pastikan ini diperbaiki dalam dua jam."
Semua orang di ruangan itu tampak terkejut dengan permintaan Nathan yang sangat tidak masuk akal. Salah satu direksi lain mencoba menyela. "Pak Nathan, mungkin kita bisa memberi sedikit waktu lebih..."
"Tidak!" Nathan menegaskan dengan nada tegas. "Aku ingin melihat hasil yang sempurna tanpa alasan apa pun."
Alya merasa seolah-olah semua udara di paru-parunya dihisap habis. Namun, dia tidak punya pilihan lain selain menyetujui permintaan tersebut. "Baik, saya akan segera memperbaikinya."
Setelah rapat selesai, Alya kembali ke meja kerjanya dengan hati yang berat. Dia tahu Nathan tidak benar-benar peduli dengan data yang salah atau benar. Ini semua adalah bagian dari permainannya untuk menekan Alya, dan dia menikmatinya. Namun, dia tidak akan membiarkan Nathan menang.
Ia segera memanggil timnya untuk melakukan verifikasi ulang data. Semua orang bekerja keras, tapi tekanan waktu membuat semuanya terasa semakin sulit. "Kita harus menyelesaikan ini dengan cepat, tolong cek ulang semua angka dan pastikan tidak ada yang terlewat!" kata Alya dengan suara tegas.
"Ini gila, Alya," kata Rina sambil menggigit bibirnya. "Kau tahu dia hanya sengaja menjebakmu, kan?"
"Ya, aku tahu," jawab Alya dengan senyum pahit. "Tapi aku tidak bisa menyerah sekarang."
Hari ini Alya sudah mulai prustassi tapi gimana dengan hari esok lain nya?
Tepat pukul 12.00, Alya membawa hasil revisi baru ke kantor Nathan. Ia mengetuk pintu, berharap pria itu tidak akan menghabisinya lagi.
"Masuk!" suara Nathan terdengar dingin dari balik pintu. Alya masuk dengan langkah hati-hati, lalu meletakkan laporan di mejanya.
Nathan membaca sekilas, lalu menatap Alya tanpa ekspresi. "Kau pikir ini sudah cukup?"
Alya mengangguk dengan tegas. "Saya yakin ini adalah data yang akurat."
"Baiklah," Nathan bersandar di kursinya. "Tapi ingat, Nona Alya, satu kesalahan lagi, dan kau akan kehilangan pekerjaan ini. Jangan pernah berpikir kau aman di sini hanya karena berhasil satu kali. Aku akan selalu mencari celah untuk menjatuhkanmu."