****
Aku terbangun, tubuh ini tergeletak di atas kasur berlapis alas putih yang bersih. Mata memandang ke segala arah. Jendela yang tidak sepenuhnya tertutup gorden menampakkan rona langit kebiruan. Mataku mengerjap mencari jam yang tergantung di dinding.
"Astaghfirullah," ucapku lirih.
Sudah subuh, aku belum melaksanakan salat. Niat hati ingin beranjak, beringsut dari kasur. Namun rasa perih dan ngilu di persendian lutut membuatku menyerah.
"Maaf, apakah ada orang?"
"Siapa saja, bisakah bantu saya?"
Tak ada sahutan yang membuatku lega. Ingatanku kembali pada kejadian kemarin malam. Sepeda motor seseorang yang melaju ke arahku, lalu menabrak, padahal aku sudah berjalan di pinggir.
"Mbak sudah bangun? Syukurlah."
Laki-laki memakai baju kemeja panjang masuk tersenyum padaku.
"Kamu ... kamu siapa?"
"Aku, Rian, Mbak. Kema ....”
"Kamu kah yang menabrakku? Kenapa? Kenapa kamu menabrakku?"
Dadaku terasa sesak menahan sakit dan juga menanggung cobaan ini.
"Tenanglah, Mbak. Saya ... saya tak sengaja, Mbak."
"Apa?! Enak sekali kamu mengatakan tak sengaja. Kamu sudah membuat kakiku seperti ini, kamu tidak tau saya punya anak di kontrakan sana. Sekarang entah gimana nasib anak saya."
Tanpa diminta bibir ini menuturkan segala keluh kesah. Tak tau lagi gimana nasib anakku. Kaki ibunya sudah tak bisa berjalan lagi.
"Mbak, maaf. Tolong, Mbak tenang dulu. Sa ... saya yang salah, tapi itu bukan saya sengaja. Saya janji akan tanggung jawab, Mbak."
Aku tak ingin berkata lagi, mencoba untuk menerima ujian hidup ini dengan lapang dada. Mungkin laki-laki itu memang tak salah, ujian ini datangnya dari Robb.
"Gini saja, Mbak. Bisa saya minta nomor telepon suami, Mbak?"
Kutatap laki-laki yang ada di depan tersebut. Pertanyaannya membuat sakitku semakin parah. Bukan sakit di lutut, melainkan di hati yang paling dalam.
"Suami saya sudah tidak ada," ucapku berusaha menahan diri.
"Maaf, Mbak. Kalau begitu bisa saya minta nomor orang di rumah?"
"Nggak ada."
"Duh, gimana ya. Saya juga kepikiran dengan keadaan anak, Mbak. Gini saja, boleh saya minta alamat tempat Mbak ngontrak? Saya akan melihat keadaan anak Mbak."
"Tidak usah!"
Siapa dia? Tak akan segampang itu aku percaya pada lelaki yang tak dikenal.
"Lalu bagaimana, Mbak?"
Laki-laki berhidung mancung itu kelihatan mulai panik dan bingung.
"Saya ingin pulang, saja."
"Jangan, Mbak. Kaki Mbak belum pulih," ucapnya penuh kecemasan.
Aku capek bicara dengan laki-laki ini. Aku juga belum salat. Kucoba sekali lagi, menggerakkan kaki kiri ku. Sangat sulit rasanya, perih yang menjalar ke ulu hati membuatku menyerah.
"Mbak mau kemana? Biar saja bantu," ucap laki-laki bernama Rian itu berdiri dan mendekat ke bibir tempat tidur.
"Jangan sentuh, saya."
"Maaf, Mbak. Sebentar saya panggilkan perawat dulu," ucapnya berlalu dari kamar aku dirawat.
Entah berapa biaya pengobatan di rumah sakit ini. Sangat parahkah kakiku yang dibalut ini? Pikiranku jadi bercabang kemana-mana.
Bagaimana kalau aku sakit lama? Sulit beraktifitas? Bagaimana aku bekerja untuk kebutuhan sehari-hari? Uang, tiba-tiba aku teringat uang tiga puluh ribu yang kemarin aku dapatkan. Dimana uang itu?
Uang itu pasti sudah hilang. Jika tak malu, tentu aku sudah menangis sekarang ini. Uang yang susah payah aku dapatkan kini juga hilang. Laila, anakku di rumah entah gimana nasibnya. Mungkin dia sudah menangis tidak menemukan ibunya di rumah.
"Ibu, mau ke kamar mandi?" tanya perawat yang datang bersama laki-laki tadi.
"Iya, Bu. Saya mau salat," ucapku pelan.
"Baiklah, sebentar saya ambilkan kursi roda dulu."
Ya Robb, bahkan aku sekarang harus dibantu kursi roda untuk bergerak. Tak bisa aku bayangkan, gimana jadinya nanti.
"Sekali lagi maafkan saya, Mbak."
****
Sudah setahun aku berjuang sendiri. Mas Judid menceraikan aku ketika Laila berumur lima tahun. Alasan yang sangat tak di duga, hanya karena sudah membuat dia mengeluarkan banyak uang untuk biaya operasi caesar.
Tak ada BPJS, karena memang kala itu Mas Judid dan mertuaku melarang membuat kartu itu.
Mereka yakin aku bisa melahirkan secara normal. Namun takdir membawaku ke meja operasi, ruang dingin yang sangat menyeramkan.
"Jangan operasi, Dok. Saya mohon, saya ingin melahirkan normal," lulungku kala itu. Aku tak segan lagi menangis di hadapan dokter perawat dan staff lainnya.
"Kehamilan Ibu sudah komplikasi, ketuban pecah dini,Bu. Pembukaan masih mentok di satu."
Mas Judid menanda tangani surat pernyataan setuju dengan amarah yang ia tahan. Penderitaanku berlanjut setelah pulang dari rumah sakit.
Mertua, atau pun iparku tak ada yang mau membantu. Mereka hanya menonton saja ketika aku bersusah payah memandikan bayi mungilku di tengah-tengah rumah.
Belum lagi omongan yang membuatku drop dan sering bersedih. Lima tahun lamanya aku menjadi bulan-bulanan mereka. Pada akhirnya Mas Judid menjatuhkan talak karena setiap hari dirong-rong ibunya.
Hari itu juga aku angkat kaki dari rumah mertuaku. Uang yang sering aku tabung ternyata sangat berguna.
Aku putuskan mengontrak di tempat yang sederhana, yang penting aman dan nyaman untuk aku dan Laila tempati. Memulai hidup baru tanpa bayangan hantu-hantu yang berwujud manusia tersebut.
Alhamdulillah, Mas Judid tak pernah memberikan nafkah. Walaupun aku mengontrak masih dalam satu kecamatan yang sama dengan tempat tinggal mertuaku.
"Mbak," panggil Rian pelan.
Lamunanku seketika itu langsung buyar. Menoleh ke arahnya, menatap wajahnya sekilas.
Sepertinya dia laki-laki yang baik. Buktinya dia masih betah menungguiku di rumah sakit ini. Bahkan baju yang ia kenakan masih yang tadi pagi.
"Mbak, saya cemas dengan keadaan anak, Mbak. Bagaimana kalau saya lihat ke sana. Saya jadi tidak tenang loh, Mbak. Berikan saja alamatnya."
Aku diam membisu. Masih menimbang-nimbang. Berikan atau tidak? Anakku masih sangat kecil.
Berita yang sering aku dengar membuat was-was. Ada penculikan anak, ada pelecehan seksual pada anak, ada lagi penganiayaan pada anak.
Wajah Rian mengisyaratkan bahwa aku harus percaya padanya. Namun, hatiku masih berat untuk percaya pada orang yang belum dikenal sama sekali.
Apakah aku harus memberikan alamat kontrakanku? Aku jadi dilema.
Bersambung....
****
"Ini, KTP saya, Mbak. Sebagai jaminan, jika saya macam-macam ke anak Mbak, laporkan saja ke polisi," ucap Rian terus terang, tangannya yang putih itu mengulurkan kartu Identitas dirinya.
Mata ini, tak bisa ditahan untuk melihat data-data laki-laki itu. Ternyata dia masih muda, empat tahun di bawah umurku.
Sebentar, aku menajamkan mata melihat kepercayaan yang dia anut. Ternyata Rian tak seiman denganku. Untuk apa aku pikirkan itu?
"Baiklah, saya akan memberikan alamat, tapi bukan alamat kontrakan saya," ucapku mengembalikan kartu identitasnya.
"Terserah, Mbak saja. Yang penting saya bisa memberi kabar kepada anak, Mbak atau tetangga."
Aku mengangguk. Mencari sesuatu, kertas atau pulpen untuk menulis alamat rumah ibu kontrakan. Sepertinya Rian paham tanpa aku beri tahu.
"Ketik di HP saya saja, Mbak."
Tanganku gemetar ketika menyambut benda pipih yang disodorkan Rian. Aku yakin benda ini sangat mahal.
Dulu, mantan suamiku bahkan menghantamku dengan sumpah serapahnya hanya karena aku tak sengaja menjatuhkan benda pipih miliknya. Tak bisa aku lupakan setiap luka yang dia goreskan.
Aku hati-hatu menerima benda itu. Jempol ini mencoba menekan tombol on of pada samping kiri. Di layar dapat aku lihat foto Rian yang sedang tersenyum. Fotonya terlihat sangat tampan. Apa-apaan pikiran ini?
"Maaf, bagaimana cara bukanya? Sepertinya dikunci."
"Maaf, Mbak. Sebentar," ucap Rian mengambil gawainya dari tanganku.
Tentu saja tangannya yang lembut itu tak sengaja menyentuh jemari tanganku. Hanya sedikit dan sekilas.
"Ini," ucap Rian mengembalikan benda itu padaku.
Walaupun tidak punya gawai sekarang ini. Aku masih ingat bagaimana memainkan benda mahal ini. Dulu aku pernah memilikinya, walaupun hanya yang murah. Namun, terpaksa dijual karena menambah biaya melahirkan.
"Sudah," ucapku pada Rian. Laki-laki itu tersenyum. Aku tidak berani menatap wajahnya lama-lama.
"Baiklah, Mbak. Nanti saya pulang dulu. Sekalian saya akan menemui anak, Mbak."
"Itu alamat ibu kontrakan. Nanti kamu titip pesan saja pada ibu kontrakan, sementara Laila saya titip di rumah beliau dulu."
"Laila, nama yang sangat indah. Pasti memiliki arti 'kan, Mbak?"
Aku mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Rian. Maksudnya apa bicara seperti itu. Tidak nyambung dengan pembicaraan kami saat ini.
"Ya, tentu saja."
"Lail, malam, bukankah begitu, Mbak?"
Aku agak terkejut mendengar ucapan Rian. Dia bisa tahu sejauh itu. Lail artinya memang malam.
"Saya permisi dulu ya, Mbak. Kalau ada apa-apa Mbak bisa minta tolong kepada perawat."
Aku mengangguk. Laki-laki bertubuh tinggi itu pergi, tak lupa ia membawa tas punggungnya. Kutatap punggungnya sampai hilang. Namun aku tergugup ketika tiba-tiba Rian kembali lagi untuk menutup pintu.
****
Suasana di ruangan ini terasa sangat sepi. Sesepi hati ini semenjak menyandang status janda. Dulu, aku pernah mendengar kalimat sumbang orang, bahwa menjadi janda itu sulit.
Memang sulit. Salah-salah bicara pasti langsung dituding. Salah-salah langkah pasti langsung mencerca status janda itu.
Godaannya juga lebih besar, belum lagi pandangan orang yang sudah terlanjur negatif. Katanya ada janda yang rela menjual dirinya, baik itu lewat selingkuh dengan suami orang atau menjadi PSK. Padahal tidak semua janda seperti itu bukan?
Aku sendiri lebih memilih berjuang memeras keringat, dari pada harus menjual diri. Agama mana saja tentu melarang perbuatan itu.
Aku masih ingat cacian mbak Andin—kakak iparku. Ketika aku diusir oleh ibu mertua, dia menyumpahi bakal menjual kehormatan ini untuk menafkahi Laila. Rasanya sangat sakit, seperti jantung ini dihujam dengan belati tajam.
Aku hanya berdoa agar selalu diberi kekuatan dan kemudahan dalam mencari nafkah untuk anakku.
Tanpa terasa bulir bening menggenang di dalam mata ini. Aku tak boleh rapuh, walaupun kadang aku tak kuat. Namun, tetap terus berjuang demi Laila, tak ada lagi penyemangat hidupku selain gadis kecil yang imut itu.
Bagaimana keadaannya sekarang? Hatiku menjadi gundah, kepikiran terus pada Laila. Sudah seharian aku di rumah sakit, tanpa memberi kabar dan tau kabarnya. Semoga laki-laki itu tepat janji.
****
Kicauan burung petang ini sangat jelas terdengar. Dapat aku saksikan beberapa dari burung itu bergelayut di tiang listrik. Mungkin para burung itu tengah menyambut datangnya malam.
Aku mendesah resah melihat keadaan diri ini. Biasanya jam segini aku tengah sibuk menyetrikan baju-baju tetangga yang menitip cucian atau setrikaan. Selama setahun aku menggeluti pekerjaan itu, karena dengan begitu aku bisa tetap bersama anakku.
Jika mencari pekerjaan lain, mungkin bisa saja. Namun, tentu saja tidak akan dibolehkan membawa anak. Itulah yang membuatku memilih mengumpulkan uang empat ribu atau lima ribu per kilo dari pakaian yang aku kerjakan.
"Selamat petang, Bu. Minum obat dulu, ya."
Perawat muda masuk ke dalam ruangan ini. Dia tak lepas dari senyum yang manis itu.
"Maaf, Bu. Kalau boleh tau berapa lama saya dirawat di sini?"
"Sebenarnya kalau dipaksakan bisa saja pulang besok, Bu. Namun itu tadi, suami Ibu menginginkan Ibu tetap dirawat dulu sampai kaki Ibu bisa digerakkan. Suami Ibu penyayang sekali ya, bahkan dia meminta obat yang lebih bagus agar cepat sembuh."
Kata-kata perawat itu membuat jantungku berdetak kencang. Bukan karena ada siraman cinta, melainkan gugup memikirkan berapa biaya perawatanku.
"Cepat sembuh ya, Bu. Latihan untuk menggerakkan kaki Ibu. Tapi jangan dipaksa ya," ucap perawat itu berlalu.
Suami? Dia bukan suamiku. Ingin rasanya membantah perkataan perawat itu. Laki-laki itu hanyalah orang yang sudah menabrakku. Bicara tanpa bertanya sebelumya. Atau? Apakah Rian itu yang mengaku sebagai suamiku? Berani sekali dia.
Bersambung....