"Saka, aku pulang duluan yah"
"Masih sore ini, kita ngopi lah dulu"
"Maaf yah Saka, kamu tahu kan istriku menunggu dirumah jadi aku harus pulang tepat waktu" ujar Irwan yang membuatku termenung.
Kehidupan rumah tangganya memang selalu membuatku iri, bagaimana tidak? Dia selalu berangkat dan pulang bekerja dengan raut wajah bahagia, karena memiliki istri yang selalu menunggunya dan mengabarinya. Sedangkan aku, isi handphoneku hanyalah prihal pekerjaan , sekalinya Anita menghubungi hanya untuk menjemputnya.
Dihadapan teman-temannya dia selalu berperan sebagai istri idaman dan sempurna, nyatanya tidak pernah ada sedikitpun sikapnya, yang membuatku kagum. Terlebih dia memang tidak pernah tau bagaimana cara menghargai dan memperlakukan suaminya.
Akhirnya, aku memutuskan pulang kerumah walau aku tahu, Anita pasti masih sibuk dengan teman-temannya.
"Selamat sore, tuan Saka" sambut Asisten Rumah tangga dirumahku.
Setiap harinya hanya dia yang selalu menyambutku dengan baik, ketimbang istriku Anita.
"Sore juga bi, istriku sudah pulang?"
"Belum Tuan , nyonya Anita pesan bahwa bibi harus masak makan malam untuk tuan saja"
Aku hanya menarik nafas panjang, mencoba untuk tetap sabar namun, kesabaranku sudah habis, belajar untuk tidak peduli, tetapi Anita masih istriku, mau bagaimanapun dia masih menjadi tanggung jawabku.
Sejak kecil, kedua orang tuaku selalu mengajarkan aku untuk menghargai perempuan terutama seorang istri. Walau aku bukanlah lahir dari keluarga taat beragama, tetapi melihat ayahku yang selalu sabar menghadapi ibu, membuatku mencoba untuk terus belajar menjadi suami yang baik demi istriku. Walau memang istriku Anita tidak pernah melihat itu.
Dirumah ini, hanya tinggal aku, Anita dan satu asisten rumah tangga yang sudah bekerja lama denganku dari mulai kamu menikah. Bahkan mungkin dia yang sudah sangat paham dengan sikap istriku.
"Tuan, makanan sudah siap, bibi permisi kedapur dulu yah"
"Tunggu bi, temani saya makan" pintaku pada wanita berusia 50 tahun tersebut, yang sudah aku anggap seperti ibu keduaku.
"Tuan Saka, serius?"
"Serius Bi, aku tidak punya teman bicara"
Rasanya sekalipun tidak pernah aku menikmati makan malam dengan istriku, sejak menikah kerjaan Anita hanya fokus pada teman-temannya dan pekerjaannya, apalagi papa mertuaku memberikannya sebuah butik untuk dikelola, bagi keluarganya seorang wanita fokus dengan karir setelah menikah adalah halnyang wajar. Namun, tidak dengan keluargaku, bagiku seorang istri bertugas melayani suami, dan selalu mendengar perkataannya, jika hal tersebut masih baik.
"Tuan, kenapa melamun? Nanti makannya keburu dingin" sahut Bi Imas.
"Maaf bi, sepertinya aku tidak lapar"
"Tuan Saka pasti sedang memikirkan nyonya Anita yah?"
"Iya Bi, kapan yah aku bisa menikmati makan malam dengan istriku seperti pasangan lainnya, padahal aku dan Anita menikah sudah hampir lima tahun" jawabku pada bi Imas.
"Tuan yang sabar yah, bibi yakin kelak nyonya Anita bisa berubah" ucap bi Imas sedikit membuatku tenang.
Dan ditengah obrolanku dengan bi Imas , tiba-tiba saja Anita pulang tanpa mengucapkan salam, atau menghampiriku dimeja makan.
"Anita tunggu!" Seketika langkah Anita terhenti.
"Apalagi sih, mas saka?" Anita menatapku tanpa rasa bersalah.
"Kamu baru pulang jam segini?"
"Kenapa sih?, aku tadi sibuk maaf"
"Cukup Anita! Hentikan kegilaanmu ini, aku minta kamu fokus pada pernikahan kita!" Jawabku tegas.
Anita menatapku tajam, seolah dia tidak terima dengan permintaan sederhanaku. Mungkin hal tersebut sangat mudah untuk wanita lain yang memang siap untuk menikah, apalagi ketika suami menyanggupi untuk membiayai segala kebutuhannya. Namun, tidak dengan istriku Anita.
"Kamu pikir, kamu siapa mas?"
"Aku, mau menikah denganmu karena terpaksa dan papa yang memintaku" jawab Anita membuatku semakin kesal.
Aku menikahi Anita memang karena perjodohan, orang tua Anita membuatku terjebak dalam pernikahan yang salah. Karena Anita yang ditinggal calon suaminya disaat segala persiapan pernikahan sudah dibuat. Demi nama baik keluarga, aku harus berkorban menikahi Gadis angkuh, dan keras kepala seperti Anita.
Aku yang tidak pernah berpacaran, atau memiliki kekasih, awalnya sangat bahagia karena menikah tanpa pacaran, namun ternyata aku tersiksa seumur hidup.
"Cukup Anita!! Sekarang apa maumu?" Tanyaku menatapnya.
"Aku mau kamu menikah lagi mas, agar kamu tidak lagi ikut campur urusanku, biarlah pernikahan kita tetap berlanjut, toh kita menikah karena hanya ingin statusnya kan" jawab Anita.
"Oke, kalau memang dengan aku berpoligami membuatmu bahagia, aku turuti!"
"Tapi ingat, jangan sampai kamu menyesal!".
Aku langsung pergi keluar, mencoba mencari ketenangan yang membuatku semakin gila berada disamping istriku. Anita tidak menghiraukan aku lagi-lagi dia tidak peduli pada luka yang aku miliki.
"aaaaaaaaaaaa, aku benci pernikahan ini!!" Teriakku di taman belakang rumah.
Aku merasa menjadi lelaki yang lemah dihadapan istriku, bukan karena tidak mampu melawannya , tetapi lepas darinya memang tidak semudah itu. Karena aku tidak mau lagi-lagi kedua orang tuaku yang harus merasakan akibat diriku yang tidak mampu mengendalikan amarah.
Kembali dengan aktivitasku seperti biasa, berangkat pergi ke kantor seolah semua tidak terjadi hal apapun pada Rumah tanggaku dengan Anita.
"Kamu mau ke mana?"tadi aku pada Anita yang sudah rapi di pagi hari.
"Aku hari ini ada meeting dengan teman-temanku" jawab Anita yang seketika membuat selera makanku hilang.
"Kenapa sarapannya tidak dilanjutkan Mas? "
"Aku sarapan di kantor saja"
"Tunggu mas saka!"
"Ada apa lagi sih Anita?, Pembicaraan kita semalam sudah jelaskan Aku akan menikah dengan wanita yang kamu pilihkan untuk menjadi istriku "jawabku tegas pada Anita.
Aku memang selalu berharap kau tidak ada wanita yang mau dijadikan istri kedua kan aku tetap mengharapkan pernikahanku dengan Anita dan berharap juga wanita yang ada di depanku ini akan berubah namun aku tidak tahu entah sampai kapan, karena melihat sikap Anita yang memang tidak ada perubahan sedikitpun.
Aku yang hanya menginginkan menikah sekali dalam seumur hidup harus dipertemukan dengan wanita gila yang menginginkan suaminya menikah lagi hanya karena dia merasa bahwa dia tidak sanggup untuk menjalani perannya sebagai seorang istri dia hanya menginginkan status pernikahannya, tetapi tidak dengan orangnya. Dan aku berharap, akan ada penyesalan dan karma yang mengintai istriku wanita atas apa yang sudah dia perbuat hari ini.
"Aku akan tetap memperkenalkanmu pada wanita yang akan menjadikan istri kedua aku yakin akan ada yang mau yang menjadi istrimu Mas kamu itu tampan, Kamu juga mapan mana ada wanita yang akan menolakmu "ujar Anita dengan sikap angkuhnya.
"Ya sudah kalau memang itu maumu dan membuatmu bahagia aku ikuti semua keinginanmu!"jawabku yang langsung pergi meninggalkan Anita menuju kantor.
***
"Akhirnya, aku bisa bebas tinggal duniaku lagi pula siapa yang menginginkan pernikahan ini aku menikah karena dipaksa oleh papa "ucap Anita.
Anita langsung pergi membawa kendaraan pribadi, dia ingin bertemu dengan teman-temannya salah satunya adalah teman dia yang seorang CEO muda yang baru saja pulang dari luar negeri.
Hal yang selalu membuat Anita adalah kumpul bersama dengan teman-teman sosialitanya, karena bagi dia kebebasan adalah nomor satu dia tidak mau dikekang ataupun dibuat pusing oleh suaminya sendiri. Sehingga dia memutuskan untuk memberikan istri kedua untuk suaminya walaupun memang ide ini sedikit gila namun bagi Anita ini adalah cara agar dia tetap bisa menjalani kehidupannya tanpa harus dipusingkan dengan sebuah pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.
Sesampai di tempat perkumpulan dia dan teman-temannya, Anita pun langsung masuk ke sebuah restoran dia menunggu teman-temannya yang lain karena hari ini dia akan melakukan meeting kerjasama, Anita memang selalu melakukan hal itu setiap hari dia sangat bahagia dengan kehidupannya. Tanpa harus memikirkan Bagaimana perasaan suaminya Saka.
"Hai Anita, bagaimana kabarmu? "Ucap seorang wanita yang sangat anggun dan cantik.
"Aliyah akhirnya kamu pulang juga ke Indonesia kamu sendiri apa kabar? "Tanya kembali Anita dengan raut wajah bahagia.
"Aku baik-baik saja kau lihat sendiri kan bisnisku semakin sukses dan aku akan membuka perusahaan baru di Jakarta Aku juga sedang mencari seorang CEO untuk mengurus perusahaanku "jawab wanita tersebut.
Dia adalah Aliyah, salah satu sahabat terbaik Anita mereka sudah bersahabat sejak masa kuliah namun mentari memutuskan untuk melanjutkan kuliah S2 nya di luar negeri Dia adalah seorang CEO muda yang memiliki banyak perusahaan di mana-mana. tetapi, dia adalah anak yatim piatu yang baru saja ditinggal ibunya, dia juga selalu mementingkan karir hingga membuat Aliyah tidak memiliki seorang pasangan dalam hidupnya.
"Kamu makin cantik saja Aliyah aku yakin banyak sekali lelaki yang mengantri untuk menjadi calon suamimu "puji Anita pada sahabatnya itu.
"Aku belum menemukan laki-laki yang pas Anita, karena aku merasa mencari pasangan hidup itu ternyata sulit ketimbang kita memilih perusahaan untuk kita kembangkan "jawab Aliyah dengan senyuman.
"Kamu sendiri bagaimana, bukankah kamu sudah memiliki seorang suami? "
"Aku menikah hanya butuh status pernikahannya saja, karena aku tidak mau harus selalu dipusingkan dengan mengurus seorang suami walaupun memang suamiku adalah laki-laki yang baik dan juga mapan tetapi tetap saja dia tidak bisa menyaingiku "jawab Anita.
"Lalu Untuk apa kamu menikah Anita?"
"Aku hanya menginginkan statusnya saja, lagi pula aku tidak mencintai laki-laki itu walaupun pernikahan kami sudah jalan 5 tahun "jawab Anita membuat mata Aliyah terbuka dengan lebar.
"Kamu serius?"
"Aku serius, bahkan aku sedang mencari seorang istri kedua untuk suamiku setidaknya tugasku akan terasa ringan "
"Kamu sedang tidak waras si Anita, mana ada seorang istri yang menginginkan suaminya berpoligami "jawab Aliyah yang seolah tidak percaya dengan sikap sahabatnya itu.
"Aku serius mentari"
"Tapi nggak detik ini, aku memang masih belum menemukan wanita Yang mau dijadikan istri kedua suamiku "ucap Anita yang terus memikirkan calon istri kedua untuk suaminya Saka.
"Boleh aku bertemu dengan suamimu Anita? "Tanya Aliyah mengejutkan Anita.
"Kamu mau mendaftar jadi istri kedua Suamiku Aku Dengan senang hati Aliyah,tapi apa kamu tidak memikirkan Bagaimana karirmu kedepannya kalau kamu menikah? "Tanya kembali Anita seolah memastikan bahwa sahabatnya tidak akan menyesal jika dia menikah dengan suaminya.
"Anita, sejak dulu Aku menginginkan untuk menikah dengan laki-laki yang tepat bahkan aku rela meninggalkan semua karirku hanya demi mengabdi sebagai seorang istri atau jika memang Tuhan berkehendak aku akan menjadi seorang ibu itulah keinginan dan cita-cita terbesarku sejak dulu tetapi aku memang belum dipertemukan dengan jodoh dan takdirku "papar Aliyah membuat Anita langsung terdiam.
"Oke Aliyah sepulang kita selesai meeting aku akan memperkenalkan kamu dengan suamiku Saka sepertinya kalian berdua cocok aku yakin Saka akan mau menerimamu menjadi istri kedua tapi ingat, aku harap tidak ada satupun orang yang tahu tentang hal ini hanya aku kamu dan suamiku "ujar Anita menjelaskan perjanjian mereka bertiga.
Kesepakatan Anita dan Aliyahberjalan dengan baik ternyata memang mentari tertarik untuk menjadi istri kedua dari suami sahabatnya walaupun memang dia sendiri masih tidak menyangka bahwa aliyah akan menerima tawarannya itu.