Dewi menatap Reza, keraguan masih bersemayam di matanya yang lelah. "Pak... Reza," katanya, suaranya pelan. "Anda tidak tahu apa-apa tentang saya. Anda tidak tahu betapa hancurnya saya karena laki-laki."
Reza tersenyum, senyum yang tulus, bukan senyum angkuh seperti yang selalu Pratama tunjukkan. "Mungkin saya tidak tahu detailnya, Dewi. Tapi saya melihat luka di mata kamu. Luka yang sama yang pernah saya lihat di mata ibu saya."
Pengakuan itu mengejutkan Dewi. Ia menatap Reza dengan lebih seksama. "Ibu Anda?"
Reza mengangguk, sorot matanya melembut. "Ayah saya... Dia juga meninggalkan ibu saya demi cinta pertamanya. Ibu saya harus berjuang sendirian untuk membesarkan saya. Dia hancur, sama seperti kamu sekarang." Reza mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapannya lekat pada Dewi. "Saya melihat kamu dan saya melihat perjuangan ibu saya di masa lalu. Saya tidak ingin melihat wanita lain merasakan kepedihan yang sama. Terutama, wanita yang memiliki bakat seperti kamu."
Ada jeda yang hening. Dewi terdiam, kata-kata Reza menyentuh bagian terdalam hatinya. Ia tidak pernah berpikir bahwa seorang pria sekaya dan sekuat Reza akan memiliki cerita seperti itu. Rasanya, ia seperti menemukan satu-satunya orang di dunia yang benar-benar memahaminya, tanpa harus ia jelaskan.
"Saya tidak meminta kamu untuk mempercayai saya sekarang juga," lanjut Reza, "Tapi saya ingin kamu memberikan saya kesempatan. Kesempatan untuk membuktikan bahwa cinta tidak harus selalu menyakitkan. Kesempatan untuk menyembuhkan luka-luka itu bersama-sama."
Kalimat itu, "bersama-sama," menggema di benak Dewi. Ia tidak sendirian lagi. Hatinya yang dingin perlahan mulai mencair. "Apa... apa yang harus saya lakukan?" tanyanya, suaranya bergetar.
"Terima pekerjaan ini," jawab Reza, "dan izinkan saya mengenal kamu lebih jauh. Sebagai rekan kerja. Sebagai teman. Apa pun itu. Mulailah dengan pekerjaan ini, Dewi. Bangun kembali dirimu, bukan untuk membuktikan pada mereka, tapi untuk dirimu sendiri. Agar kamu tahu, kamu pantas mendapatkan yang lebih baik."
Dewi menatap portofolio desainnya yang tergeletak di meja. Selama ini, ia membuat semua itu untuk menyenangkan Pratama. Ia berusaha menjadi yang terbaik agar Pratama bangga padanya. Ia lupa, bahwa gairah pertamanya adalah seni. Ia lupa bahwa ia bekerja untuk dirinya sendiri.
"Baiklah," ucapnya, menarik napas dalam-dalam, "Saya terima."
Keputusan itu adalah titik balik dalam hidup Dewi. Setiap hari, ia datang ke kantor Abisena Group, sebuah tempat yang terasa sangat berbeda dari perusahaan sebelumnya. Di sini, tidak ada tatapan sinis, tidak ada gosip yang membicarakan masa lalunya. Semua orang ramah, profesional, dan menghargai karyanya. Reza, sebagai atasannya, tidak pernah memperlakukan Dewi seperti pegawai rendahan. Ia selalu bertanya pendapat, meminta saran, dan memberikan pujian yang tulus.
Suatu siang, saat Dewi sedang fokus mengerjakan desain, Reza datang menghampirinya. "Dewi, apakah kamu keberatan jika kita makan siang bersama? Ada yang ingin saya diskusikan."
Dewi merasa sedikit canggung, tetapi ia mengangguk. Mereka pergi ke sebuah restoran sederhana di dekat kantor. Di sana, suasana terasa lebih santai. Reza tidak membahas pekerjaan, melainkan menanyakan hal-hal personal. "Kamu suka apa, Dewi? Selain desain?"
Dewi terdiam sejenak. Ia sudah lama tidak memikirkan hal itu. "Dulu... saya suka melukis. Melukis pemandangan. Tapi, sudah lama saya tidak melakukannya."
"Kenapa?" tanya Reza lembut.
"Tidak ada waktu," jawab Dewi singkat. Padahal, alasan sebenarnya adalah karena Pratama selalu menganggap hobinya kekanak-kanakan. Pratama lebih suka Dewi menemaninya ke acara-acara sosial, bukan sibuk dengan kanvas dan cat.
Reza tersenyum. "Pemandangan itu indah. Kapan-kapan, ayo kita melukis bersama. Saya punya beberapa kanvas di rumah."
Mata Dewi melebar. "Anda juga melukis?"
Reza tertawa kecil. "Dulu. Ketika saya masih kecil. Tapi saya selalu suka seni. Makanya saya terkesan dengan portofoliomu. Kamu punya sentuhan yang unik."
Perbincangan itu membuat Dewi merasa nyaman. Ia mulai membuka diri, menceritakan sedikit demi sedikit tentang hobinya, tentang keluarganya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa ia sudah bercerita banyak, sampai Reza mengantar ia kembali ke kantor.
"Terima kasih untuk makan siangnya, Reza," ucap Dewi tulus.
Reza tersenyum. "Sama-sama, Dewi. Lain kali, kita harus melakukan ini lagi."
Hari-hari berlalu. Hubungan Reza dan Dewi semakin dekat. Mereka tidak hanya makan siang bersama, tetapi juga menghabiskan waktu di akhir pekan. Reza mengajak Dewi ke galeri seni, ke pameran-pameran, dan akhirnya, ke sebuah studio seni miliknya. Di sana, Reza memberikan Dewi sebuah kanvas kosong dan seperangkat cat.
"Ayo, lukis apa pun yang kamu suka," ajak Reza.
Dewi ragu-ragu. Ia sudah lama tidak menyentuh kuas. "Aku tidak tahu harus melukis apa."
"Lukis saja apa yang ada di hatimu," bisik Reza. "Keluarkan semua yang kamu rasakan."
Dewi menatap kanvas itu. Ia teringat akan Pratama. Ia teringat akan luka. Ia mulai menggoreskan kuas. Warna-warna gelap, hitam, abu-abu, dan biru tua, mulai memenuhi kanvas. Gambaran jentera usang yang hancur, terpecah belah, dan terbuang, mulai terbentuk.
Reza hanya diam di sampingnya, membiarkan Dewi tenggelam dalam perasaannya. Ia tidak bertanya, ia tidak menghakimi. Ia hanya ada di sana, menemani.
Setelah berjam-jam, lukisan itu selesai. Dewi menatapnya. Sebuah lukisan yang penuh dengan kepedihan, namun juga penuh dengan kejujuran. "Ini... ini adalah perasaanku," bisiknya.
Reza mendekat dan memeluk Dewi. Sebuah pelukan yang hangat, bukan pelukan yang terburu-buru seperti Pratama. "Tidak apa-apa, Dewi. Keluarkan semua. Biarkan luka itu mengering."
Saat itulah, air mata Dewi tumpah. Air mata yang selama ini ia tahan, air mata yang selama ini ia sembunyikan. Ia menangis sejadi-jadinya di pelukan Reza. Reza hanya diam, membiarkan ia menangis.
Setelah tangisnya mereda, Reza mengusap rambut Dewi. "Bagaimana perasaanmu?"
"Aku... aku merasa lebih baik," jawab Dewi, terisak.
"Itu karena kamu sudah mulai jujur pada dirimu sendiri," kata Reza. "Kamu sudah mulai menerima lukamu. Sekarang, kita akan menyembuhkannya."
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Suatu sore, saat Dewi sedang menunggu taksi di depan kantor, sebuah mobil mewah berhenti di depannya. Jendela mobil terbuka, menampakkan sosok yang sangat ia kenal: Clarissa, mantan kekasih Pratama.
"Oh, lihat siapa ini," ucap Clarissa dengan nada mengejek. "Aku dengar kau bekerja di sini? Di perusahaan baru milik anak kemarin sore?"
Dewi menatapnya dingin. Ia sudah tidak takut lagi. "Ya. Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa," jawab Clarissa, tersenyum sinis. "Hanya ingin mengingatkan. Jangan pernah berpikir bisa menggoda Pratama lagi. Dia sudah bahagia denganku. Dan keluarga Abisatya... mereka tidak akan pernah menerima wanita seperti kamu."
Hinaan itu tidak lagi menusuk. Hati Dewi sudah terlatih. Ia membalas tatapan Clarissa dengan tatapan yang tajam. "Aku tidak pernah mengganggu Pratama, Clarissa. Kami sudah selesai. Dan aku tidak peduli dengan keluarga Abisatya atau siapa pun."
Clarissa terkejut dengan jawaban Dewi. "Berani sekali kamu."
"Kenapa tidak?" jawab Dewi. "Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk ditakuti. Kamu sudah mengambil segalanya dariku."
Clarissa tertawa sinis. "Aku belum mengambil segalanya, Dewi. Masih ada satu lagi. Nama baikmu."
Dewi tidak mengerti maksud Clarissa. Namun, ia tidak peduli. Ia berjalan pergi, meninggalkan Clarissa yang masih menatapnya dengan penuh amarah.
Keesokan harinya, Dewi datang ke kantor dan menemukan tatapan-tatapan aneh dari rekan-rekan kerjanya. Ada yang berbisik-bisik saat ia lewat, ada yang menghindarinya. Hatinya mulai diliputi firasat buruk.
Saat ia duduk di mejanya, ia menemukan sebuah majalah gosip. Di halaman depannya, ada foto dirinya dengan Reza, sedang makan siang. Judulnya, "CEO Abisena Group, Reza Abisena, Tergoda Janda Kaya Pratama Abisatya?"
Dewi terkejut. "Janda? Kaya?" gumamnya. "Aku bukan janda dan aku tidak kaya."
Ia membaca artikel itu. Artikel itu menyebutkan bahwa ia adalah seorang wanita yang pernah memiliki hubungan terlarang dengan Pratama Abisatya, dan kini ia mencoba untuk menjerat Reza, yang juga dikenal sebagai saingan bisnis Pratama. Artikel itu juga menyebutkan bahwa ia adalah wanita yang serakah, yang hanya menginginkan uang dan kekuasaan.
Air mata Dewi jatuh. Ia kembali ke titik nol. Semua usahanya untuk bangkit, semua usahanya untuk melupakan masa lalu, hancur dalam sekejap. Ia merasa seperti seorang penjahat. Ia merasa seperti wanita simpanan.
Saat itulah, Reza datang menghampirinya. "Dewi, apakah kamu sudah membaca ini?" tanyanya, dengan nada tenang.
Dewi hanya bisa mengangguk, isaknya tertahan.
"Jangan dengarkan mereka," kata Reza, mengambil majalah itu dan merobeknya. "Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka hanya ingin menjatuhkan kita."
"Tapi... tapi semua orang di kantor sudah tahu," ucap Dewi. "Mereka akan menganggapku seperti wanita murahan."
Reza memegang kedua tangan Dewi. "Dewi, dengarkan saya baik-baik. Saya tidak peduli apa kata mereka. Saya tahu siapa kamu. Saya tahu kamu adalah wanita yang baik, wanita yang kuat, dan wanita yang berhak mendapatkan kebahagiaan."
"Tapi artikel ini... ini akan merusak reputasimu," ucap Dewi, merasa bersalah.
Reza tersenyum. "Reputasi saya tidak akan rusak hanya karena satu artikel murahan. Lagipula, mereka benar. Saya memang tertarik padamu."
Pengakuan itu membuat Dewi terdiam. Jantungnya berdebar kencang. "Anda... Anda serius?"
"Sangat serius," jawab Reza. "Dewi, saya sudah mencintai kamu sejak pertama kali saya melihatmu. Kamu mungkin tidak percaya, tapi ini benar. Saya ingin membuktikan, bahwa cinta yang tulus itu ada. Saya ingin mencintai kamu dengan cara yang berbeda."
Dewi menatap Reza, matanya penuh dengan air mata. Akankah ia percaya lagi? Akankah ia membuka hatinya untuk cinta yang baru, setelah luka yang begitu dalam?
Malam itu, Dewi pulang ke rumahnya. Ia duduk di kamarnya, merenungkan semua yang terjadi. Ia teringat akan Pratama, janji-janji palsunya, dan luka yang ia berikan. Ia juga teringat akan Reza, ketulusannya, kehangatannya, dan janjinya.
Ia tahu, pilihannya ada dua. Menyerah, dan kembali ke masa lalu. Atau bangkit, dan membuka diri untuk masa depan.
Ia mengambil kanvas yang diberikan Reza. Kanvas yang masih kosong. Ia mengambil kuasnya. Kali ini, ia tidak melukis jentera usang. Ia melukis matahari, yang perlahan terbit dari balik awan gelap. Matahari yang memberikan kehangatan, yang memberikan harapan.
Ia tahu, jalan di depannya tidak akan mudah. Masih ada Clarissa, masih ada keluarga Pratama, dan masih ada luka di hatinya. Tetapi, ia tidak sendirian lagi. Ada Reza, pria yang berjanji akan mencintainya dengan cara yang berbeda. Pria yang membantunya untuk bangkit kembali.
Dewi menatap lukisannya, dan sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Ia akan melukis kembali masa depannya. Dengan warna-warna yang cerah, dengan harapan yang baru, dan dengan cinta yang tulus. Ia tidak akan membiarkan masa lalunya mengendalikan masa depannya. Ia akan menjadi Dewi yang baru, Dewi yang kuat, dan Dewi yang berhak mendapatkan kebahagiaan.
Hujan yang mengguyur Jakarta malam itu seolah menjadi tirai yang menutupi kebingungan dan kegalauan hati Dewi. Ia memandangi lukisan matahari terbitnya, sebuah simbol harapan yang kini terasa begitu rapuh. Artikel di majalah gosip itu, meski Reza sudah merobeknya, meninggalkan jejak yang dalam. Bukan hanya rasa malu, tapi juga ketakutan. Ia takut, bahwa kebahagiaan yang baru saja ia rasakan akan kembali direnggut oleh masa lalu yang kejam.
Keesokan harinya, Dewi datang ke kantor dengan langkah yang berat. Ia melihat bisik-bisik dan tatapan-tatapan sinis. Beberapa rekan kerja yang biasanya ramah kini menghindarinya. Hatinya mencelos, luka lama yang hampir mengering kembali berdarah.
Saat ia duduk di mejanya, Reza datang menghampirinya, membawa dua cangkir kopi. "Jangan pedulikan mereka, Dewi," ucapnya, menyodorkan secangkir kopi hangat. "Kita punya pekerjaan yang lebih penting."
Dewi menatap Reza, matanya berkaca-kaca. "Bagaimana saya bisa mengabaikannya, Reza? Semua orang menatap saya seperti saya ini penjahat."
"Biar saja," jawab Reza, dengan suara mantap. "Apa yang lebih penting? Pendapat orang lain yang tidak tahu apa-apa, atau kebahagiaanmu sendiri?"
Kata-kata itu menyentuh hati Dewi. Reza selalu tahu cara menenangkan badai dalam dirinya. "Tapi... reputasi Anda..."
"Reputasi saya tidak dibangun dari gosip murahan, Dewi," potong Reza, "Tapi dari kerja keras dan integritas. Kalau mereka ingin menjatuhkan saya, mereka harus bekerja lebih keras dari ini. Dan saya tidak akan membiarkan mereka menjatuhkanmu."
Pada saat itu, Dewi menyadari bahwa ia tidak sendirian. Reza tidak hanya menawarkan pekerjaan, tapi juga perlindungan. Perlindungan dari dunia yang kejam, yang hanya melihatnya dari satu sisi. Perlindungan dari masa lalu yang terus menghantuinya.
Dewi mulai bekerja, mencoba mengalihkan pikirannya. Ia membenamkan diri dalam desain-desain yang ia buat, mencoba meluapkan emosinya ke dalam karya. Ia melukis dengan cahaya, dengan warna-warna cerah, mencoba melawan kegelapan yang mengancam.
Namun, badai itu belum usai. Sore harinya, sebuah email masuk ke kotak masuk Dewi. Sebuah email dari nomor yang tidak dikenal, dengan subjek "Peringatan Terakhir". Isi email itu adalah foto-foto lama dirinya bersama Pratama, foto-foto yang menunjukkan kedekatan mereka. Di bawahnya, ada tulisan: "Jauhi Reza Abisena, atau foto-foto ini akan tersebar luas dan mempermalukanmu."
Dewi gemetar. Tangannya bergetar saat membaca email itu. Ia tahu, ini adalah ulah Clarissa, yang tidak terima karena ia dan Reza semakin dekat. Clarissa ingin menghancurkannya.
Dewi langsung memberitahu Reza tentang email itu. Reza membaca email itu, rahangnya mengeras. "Clarissa memang keterlaluan," gumamnya. "Jangan khawatir, Dewi. Kita akan menyelesaikan ini."
Dewi menggeleng. "Jangan, Reza. Ini akan membuat masalah semakin rumit. Biar saya yang menyelesaikannya."
Reza menatapnya dengan tatapan penuh tanya. "Bagaimana caranya?"
"Saya akan menemui Clarissa," jawab Dewi, dengan suara yang tegas. "Saya akan membuat dia menghentikan semua ini."
Reza awalnya menolak, khawatir Dewi akan disakiti. Tapi Dewi meyakinkannya. "Saya sudah tidak takut lagi. Saya sudah lelah lari dari masa lalu. Sudah saatnya saya menghadapinya."
Keesokan harinya, Dewi menemui Clarissa di sebuah kafe mewah. Clarissa datang dengan senyum sinis. "Oh, jadi akhirnya kau menyerah?" ucapnya, "Sudah berapa banyak uang yang Reza berikan, sehingga kau berani menemuiku?"
Dewi menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak datang untuk menyerah, Clarissa. Aku datang untuk mengakhiri semua ini."
Clarissa tertawa. "Mengakhiri? Kau pikir kau siapa? Kau hanya seorang wanita simpanan yang dibuang. Kau tidak punya hak untuk mengakhiri apa pun."
"Aku memang bukan siapa-siapa di matamu," jawab Dewi, dengan suara mantap. "Tapi aku punya hak atas hidupku sendiri. Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkannya."
Clarissa mengangkat alisnya. "Oh ya? Bagaimana jika aku sebarkan foto-foto itu? Bagaimana jika semua orang tahu, kalau kau hanyalah wanita murahan yang merebut suami orang?"
"Lakukan saja," ucap Dewi, dengan suara yang bergetar namun tetap tegas. "Sebarkan saja. Karena aku tidak akan lari lagi."
Clarissa terdiam. Ia tidak menyangka Dewi akan berani melawan.
"Aku tahu, Pratama kembali padamu," lanjut Dewi, "Aku tidak akan mengganggu kalian. Tapi tolong, jangan ganggu aku lagi. Aku sudah memulai hidup baru, dan aku tidak akan membiarkan masa lalu mengganggu masa depanku."
Wajah Clarissa memerah. "Kau... kau berani-beraninya."
"Aku tidak berani," jawab Dewi, "Aku hanya lelah. Lelah dengan semua permainanmu, lelah dengan semua hinaanmu. Aku hanya ingin hidup damai."
Dewi berdiri, dan bersiap pergi. "Aku tidak akan menghapus foto-foto itu, Dewi," ancam Clarissa. "Kau akan menyesal."
Dewi hanya tersenyum. "Mungkin. Tapi setidaknya, aku sudah jujur pada diriku sendiri. Sekarang, giliranmu. Jujurlah pada dirimu sendiri, Clarissa."
Dewi keluar dari kafe itu, hatinya campur aduk. Ia tidak tahu apakah keputusannya benar atau salah. Ia hanya tahu, ia sudah melakukan yang terbaik.
Ia kembali ke kantor dan langsung menemui Reza. "Bagaimana?" tanya Reza, dengan nada khawatir.
Dewi menceritakan semuanya. Reza mendengarkan dengan seksama. Setelah Dewi selesai bercerita, Reza memegang tangannya. "Kamu luar biasa, Dewi. Kamu sangat berani."
"Saya hanya mencoba," jawab Dewi, "Saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."
"Apa pun yang terjadi, saya akan ada di sampingmu," ucap Reza. "Kita hadapi bersama."
Dua hari kemudian, foto-foto Dewi dan Pratama tersebar luas di media sosial. Hujatan dan cemoohan kembali datang, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Mereka menyebut Dewi sebagai "penggoda," "pelakor," dan "wanita simpanan."
Dewi kembali terpuruk. Ia mengurung diri di rumahnya, mematikan teleponnya. Ia merasa malu, merasa hina. Ia tidak ingin melihat siapa pun.
Saat itulah, Reza datang ke rumahnya. Ia mengetuk pintu, tetapi Dewi tidak membukanya. Reza tidak menyerah. Ia menunggu di depan pintu rumah Dewi, berjam-jam, di bawah hujan yang kembali turun.
Akhirnya, Dewi membukakan pintu. Matanya sembap, rambutnya acak-acakan. "Reza... kenapa Anda di sini?"
"Karena saya tidak akan membiarkan kamu sendirian," jawab Reza, "Saya akan ada di sampingmu, apa pun yang terjadi."
Reza masuk ke dalam rumah, memeluk Dewi dengan erat. "Jangan dengarkan mereka, Dewi. Mereka tidak tahu apa-apa. Saya tahu kamu bukan seperti yang mereka katakan. Saya tahu kamu adalah wanita yang baik, yang tulus."
Pelukan Reza terasa seperti pelabuhan terakhir. Dewi menangis, menumpahkan semua kesedihan dan rasa sakitnya.
Setelah tangisnya reda, Reza mengambil sebuah buku sketsa dan pensil. Ia mengajak Dewi duduk di ruang tamu. "Ayo, kita melukis. Kita ciptakan sesuatu yang indah, yang bisa menutupi semua kejelekan ini."
Dewi menatap Reza. Ia melihat ketulusan di mata pria itu. Ia melihat cinta. Cinta yang tidak menghakiminya, cinta yang tidak menghinanya, cinta yang menerima dirinya apa adanya.
Mereka mulai melukis bersama. Dewi melukis bunga-bunga yang mekar, melukis pemandangan-pemandangan indah, melukis mimpi-mimpi baru. Reza melukis wajah Dewi, wajah yang penuh dengan kesedihan, namun juga penuh dengan keteguhan.
Melalui lukisan-lukisan itu, Dewi perlahan menyembuhkan hatinya. Ia tidak lagi peduli dengan apa kata orang. Ia tidak lagi peduli dengan masa lalu. Ia hanya peduli dengan masa kini, dengan Reza, dan dengan kebahagiaan yang baru saja ia temukan.
Suatu hari, saat mereka sedang melukis, Reza menatap Dewi. "Dewi," ucapnya, "Saya tahu ini mungkin terlalu cepat, tapi... saya mencintai kamu. Saya ingin bersama kamu, selamanya."
Pengakuan itu membuat Dewi terdiam. Jantungnya berdebar kencang. Ia menatap mata Reza, dan ia melihat ketulusan yang sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Ia melihat masa depan yang cerah, masa depan yang tidak lagi gelap.
Dewi tersenyum. Sebuah senyum yang tulus, senyum yang sudah lama hilang dari wajahnya. "Saya juga... saya juga mencintai Anda, Reza."
Mereka berpelukan, di tengah-tengah lukisan-lukisan yang penuh dengan harapan. Hujan sudah berhenti. Matahari sudah terbit. Dan Dewi, akhirnya menemukan cinta yang berbeda, cinta yang tulus, cinta yang menyembuhkan.
Perjalanan mereka masih panjang. Masih ada tantangan, masih ada rintangan. Tapi kali ini, mereka akan menghadapinya bersama. Sebagai satu tim. Sebagai sepasang kekasih. Sebagai dua jiwa yang disatukan oleh takdir, untuk menyembuhkan luka-luka masa lalu, dan membangun masa depan yang indah.