Bab 2

Aldi segera menyusul Anisa, dia merebut uang yang Anisa ambil dari tangannya. Lastri juga tidak mau kalah dia membantu Aldi untuk mengambil uang itu.

    "Nisa, balikin uangku," bentak Aldi. "Itu uang mau aku berikan Ibu. Ibu lebih membutuhkan. Kalau kamu ambil, aku tidak akan memberikan kamu uang belanja lagi," ucap Aldi sambil berusaha merebut amplop berisi uang itu.

    "Jadi menantu jangan pelit, Aldi bisa sebesar ini siapa yang berjasa. Aku bukan kamu istrinya," ucap Lastri marah sambil memegang tangan Anisa.

    Tentu saja Anisa kalah satu lawan dua. Uang itu sudah berada di tangan Aldi kembali. Belum sempat Aldi memberikannya pada Lastri, kali ini direbut Luna. Dengan sigap Luna segera masuk ke dalam kamar dan menguncinya.

    Sedari tadi ternyata Luna mendengarkan percakapan mereka. Luna merasa kasihan pada Anisa sehingga membantu merebut amplop itu.

    "Luna, kembalikan uang itu!" teriak Aldi sembari menggedor-gedor pintu kamar Luna. "Kalau kamu tidak kembalikan uang itu, Bapak akan menghukum kamu," teriak Aldi marah.

    "Nisa, itu kah yang kamu ajarkan pada Luna. Berani membangkang pada Bapaknya." Lastri ikut memarahi Anisa.

    Anisa diam saja, dia melanjutkan pekerjaannya. Lendra tampak bingung melihat bapak dan neneknya marah. Anisa lalu mengajak Lendra masuk ke dalam kamar.

    "Bu, Ibu pulang saja dulu!" perintah Aldi. Hari sudah petang adzan magrib sudah berkumandang. "Nanti jika sudah dikembalikan Luna, akan aku kasihkan Ibu," kata Aldi.

    Tanpa pamit Lastri pulang, dia kecewa pada Aldi yang tidak jadi memberi dia uang. Padahal dia sudah ditagih oleh tukang kredit mesin cuci dan sofa.

     Lastri tidak mau jika Aldi berhenti memberi dia uang. Dia tidak mau hidup susah, bapak Aldi hanya buruh pabrik. Sedangkan adiknya masih kuliah. Gaji suami Lastri hanya cukup untuk makan dan biaya kuliah Salman adik Aldi.

    "Bu, magrib begini dari mana?" tanya Handoko Bapak Aldi. Dia penasaran karena istrinya keluar tanpa pamit dan pulang dengan wajah ditekuk.

    "Biasa dari rumah Aldi, minta uang jatah Ibu. Eh malah diambil Anisa," adu Lastri pada Handoko. "Dasar mantu gila!" umpat Lastri.

     "Astagfirullah, Bu. Jangan dibiasakan minta uang Aldi. Dia itu punya keluarga yang harus dicukupi kebutuhannya." Handoko tidak setuju dengan sikap Lastri.

    Bagi Lastri memberi uang pada dia itu wajib, karena Aldi anaknya. Apalagi Aldi anak perempuan, begitu juga dengan Salman nantinya.

**

    Aldi berharap Luna segera membuka pintu kamarnya. Namun, Luna tidak kunjung keluar dari kamarnya.

    "Nisa, suruh Luna makan!" perintah Aldi. "Bujuk dia agar mengembalikan uangku. Aku tidak suka dengan sikap dia yang membangkang," kata Aldi.

     Anisa menuju kamar Luna, dia mengerti pintu kamar Luna. "Luna, keluar sayang. Kita makan malam!" ajak Anisa.

    Tidak berapa lama Luna keluar kamar. Saat Luna sudah duduk dan makan, Aldi masuk ke kamar Luna. Dia mencari amplop yang Luna ambil, dia menemukan amplop itu di laci meja belajar Luna.

    "Nis, aku ke rumah Ibu," kata Aldi keluar rumah tanpa makan malam terlebih dahulu.

    Luna hanya tersenyum melihat Aldi pergi, "Bu, ini uang yang Luna ambil dari amplop tadi," kata Luna menyodorkan beberapa lembar uang dari saku celananya.

   "Luna, lain kali jangan ikut campur urusan Ibu sama bapak ya. Ibu tidak mau kamu dimarahi bapak," kata Anisa. "Bapak pasti marah kalau tahu uangnya kamu ambil," tambahnya.

   "Bu, bapak lebih mementingkan nenek dari pada kita. Bukannya itu uang untuk keperluan. kita, jadi jika Luna ambil tidak salah dong," bantah Luna.

    Anisa memberi Luna pengertian, bahwa tidak baik ikut campur urusan orang tua. Anisa tahu Luna melakukannya karena kasihan pada Anisa, namun sikap Luna itu tidak baik.

   "Bu, Luna minta maaf. Luna sudah ikut campur urusan Ibu sama bapak," kata Luna memeluk Anisa.

   Mereka melanjutkan makan, menunya tidak berubah hanya tempe goreng dan sayur kunci. Menu yang selalu membuat Luna bosan dan malas makan.

**

   Aldi telah sampai di rumah Lastri. Dia segera menemui Lastri, "Bu, ini uangnya," kata Aldi menyerahkan amplop uang itu pada Lastri.

   Lastri menerimanya, saat amplop itu dibuka Lastri terkejut. Uangnya hanya ada dua ratus ribu. Padahal seharusnya satu juta.

     "Kok cuma dua ratus ribu?" tanya Lastri menyodorkan uang dua lembar itu dihadapan Aldi. "Pasti diambil Luna, dasar cucu kurang ajar!" umpat Lastri.

    "Nanti akan aku marahi dia, Bu. Dia pasti disuruh Nisa, aku tidak suka dengan cara Nisa yang seperti ini," ucap Aldi langsung putar balik ke rumah.

    Saat Aldi sampai di rumah, Luna sedang belajar. Dia langsung masuk ke kamar Luna, dia menjewer telinga Luna.

    "Anak nakal!" bentak Aldi.

     "Aw...! Sakit!" teriak Luna. Telinganya memerah karena bekas dijewer Aldi.

    "Balikin uang Bapak, kalau tidak akan Bapak hukum kamu," bentak Aldi. Anisa yang mendengar langsung masuk ke kamar Luna dengan menggendong Lendra.

     Aldi menatap sinis Anisa, dia tidak suka melihat Anisa datang. Aldi masih menggoyang-goyangkan tubuh Luna yang belum bergeming dari tempat duduknya.

   "Luna, kamu t*li ya. Bapak minta uang, Bapak," teriak Aldi.

   "Uangnya sudah di aku, Mas. Jadi tolong jangan ganggu Luna belajar!" pinta Anisa. Aldi dan Anisa keluar dari kamar Luna.

   "Mana uangku!" Aldi menyodorkan tanganmu kepada Anisa. Namun, Anisa malah masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.

   Aldi geram, dia hendak ikut masuk ke dalam kamar tetapi pintunya di kunci dari dalam.

   "Anisa, buka pintunya!" teriak Aldi. Pintu masih saja terkunci, Anisa juga tidak kunjung keluar. Aldi menggedor-gedor pintu kamarnya.

   Terdengar suara tangis Lendra dari dalam, sepertinya Lendra sudah mau terlelap tetapi terganggu oleh suara Aldi. Anisa keluar, dia melempar dua lembar uang ratusan ke wajah Aldi.

    "Tuh! Jangan minta lagi! Jangan berisik, Lendra mau tidur!" bentak Anisa sembari menutup pintu kamarnya lagi.

   "Sial! Ibu akan marah kalau kayak gini caranya," umpat Aldi mengambil uang dua ratus ribu yang dilempar Anisa.

   Sebenarnya Anisa tidak mau melawan Aldi, karena dia juga tidak tega melihat Aldi sedih. Tetapi, sikap Aldi sungguh keterlaluan sehingga Anisa harus tegas pada Aldi. Jika dengan kejadian ini Aldi masih belum taubat, maka Anisa harus mengambil tindakan lebih.

   Sebagai seorang istri Anisa tidak mau jika suaminya berlaku tidak adil pada anak dan istrinya. Bagi Anisa memberi uang pada Lastri tidak masalah, asal tidak dengan cara mengambil hak Anisa dan anak-anaknya.

    Aldi kembali ke rumah Ibunya, dia memberikan uang dua ratus ribu tadi di tambah dengan uang pegangannya untuk transport miliknya.

**

    Paginya saat Aldi akan berangkat kerja, dia meminta uang pada Anisa. 

   "Nis, beri uangku semalam. Bensin aku sudah mau habis," kata Aldi saat mereka selesai makan.

    "Uang pegangan kamu, kemana, Mas?" tanya Anisa. Anisa tahu biasanya Aldi menyimpan uang untuk pegangan dan transport.

   "Aku kasihkan ibu. Salah siapa kamu ambil uang yang kemarin," jawab Aldi sinis. Anisa terpaksa mengambilkan uang lima puluh ribu untuk Aldi.

    "Ini Mas, jangan boros!" perintah Anisa ikut sinis.

    Aldi menerima uang dari Anisa lalu berangkat bekerja. Anisa tidak tahu jalan pikiran Aldi yang selalu mementingkan ibunya lebih dari apapun. Memang benar, Lastri yang membesarkan Aldi, tetapi kini Aldi sudah berkeluarga harusnya memberi Lastri semampu Aldi.

    "Aldi...," teriak seseorang. Anisa segera keluar dari dalam rumah. Ternyata yang datang Bu Cici, Bu Cici adalah tukang kredit barang.

   "Ada apa Bu, cari mas Aldi? Dia sudah berangkat?" tanya Anisa penasaran.

   "Bilang suruh bayar cicilan leptop," jawab Bu Cici.

   Anisa merasa Aldi tidak pernah membawa leptop ke rumah. Lalu dia kredit leptop untuk siapa? Pikir Anisa semakin pening.

Bab 3

Anisa tidak tahu perihal leptop, jadi dia meminta Bu Cici kembali nanti sore. Dimana saat Aldi sudah pulang kerja.

   "Bu Cici kembali saja nanti sore," kata Anisa. "Urusan leptop saya tidak tahu menahu," kata Anisa. Bu Cici pergi, Anisa menutup pintu. Dia akan memandikan Lendra, jadi dia tidak mau diganggu.

   Lendra sedang bermain, Anisa menyiapkan peralatan mandi Lendra. Setelah itu melepas baju yang di pakai Lendra dan memandikannya. Lendra sepertinya lebih penurut dari pada Luna. Luna anak yang keras kepala seperti Aldi.

    Selesai mandi Anisa memakaikan baju pada Lendra. Lalu memberi bedak di wajah Lendra, belum selesai Lendra rapi terdengar suara tukang sayur. 

    "Sayur...sayur...," teriak tukang sayur langganan Nisa. Anisa segera keluar, uang belanjanya sudah ada disaku dasternya.

    "Mbak, ada daging ayam?" tanya Anisa sambil menggendong Lendra. Lendra diturunkan lalu Anisa memilih sayur dan yang lain.

    "Mau berapa Mbak, ayamnya?" tanya tukang sayur yang bernama Mbak Ningsih.

    "Setengah aja, Mbak. Sama ini ya," kata Anisa memberikan bumbu dapur, kecap dan sayuran. Tidak lupa Anisa membeli tempe dan ikan asin.

    Bu Jumik datang, dia merupakan tetangga sebelah rumah Anisa. Bu Jumik terkenal sangat sinis dan cerewet.

    "Eh Nisa, tumben beli ayam. Suaminya lagi banyak uang ya? Biasanya cuma beli tahu tempe," kata Bu Jumik dengan entengnya tanpa mengerti perasaan Anisa yang sakit.

   Anisa mengajak Lendra masuk ke dalam rumah setelah membayar belanjaan. Dia tidak mau berlama-lama dengan Bu Jumik. Yang ada hati Anisa sakit dan ingin marah.

   "Diajak ngomong malah pergi." Terdengar omelan Bu Jumik karena dicuekin Anisa. "Suaminya kan pelit, punya uang buat beli ayam uang dari mana," kata Bu Jumik.

    "Sudah jangan ngomel Bu, cepat belanja kamu," tegur Mbak Ningsih. Dengan bibir manyun Bu Jumik segera memilih belanjaan.

    Anisa bukan tidak mau berbicara dengan para tetangga. Tetapi jika Anisa nimbrung mereka pasti ngajakin Anisa makan-makan terus. Padahal uang Anisa pas-pasan untuk kebutuhan dapur. Tidak ada uang lebih untuk makan-makan bersama ibu-ibu yang lain.

   Sering kali Anisa dibully karena dia dibilang terlalu ngirit tetapi nggak kaya. Makan nggak enak tetapi emas pun tidak punya. Dari pada hati Anisa sakit, mendingan dia menghindari perkumpulan ibu-ibu.

   "Bu, Lendra mau jajan." Lendra menarik daster Anisa. "Ayo, Bu! Jajan ke warung Mbak Umi!" ajak Lendra merengek.

    Anisa menaruh belanjaannya di dapur, lalu mengajak Lendra jajan ke warung Mbak Umi. Sesampai disana, warung sedikit ramai. Banyak anak-anak seusia Lendra jajan.

   "Eh Mbak Nisa, mau beli apa, Mbak?" tanya Mbak Umi saat melihat Anisa berdiri mengantri. Anisa membiarkan Lendra memilih jajan yang dia mau.

    "Nis, tumben jajan. Biasanya anak-anak kamu dikurung di dalam rumah," celetuk Fitri yang sedang antri jajan bersama anaknya.

   "Mbak Umi, ini totalnya berapa?" tanya Anisa pada Umi yang sedang membuat pop ice.

    "Lima ribu Mba," jawab Mbak Umi. Anisa memberikan uang pas pada Mbak Umi lalu mengajak Lendra pulang.

    Entah mengapa, setiap bertemu para tetangga mereka selalu julid pada Anisa. Dimata mereka Anisa istri yang nggak pernah ngasih uang jajan pada anaknya. 

   Saat perjalanan pulang dari warung mbak Umi, Anisa bertemu Sofi. Sofi merupakan teman Salman saat SMA. Sofi tidak melanjutkan kuliah, dia memilih kerja di pabrik untuk membantu ekonomi keluarganya.

   "Mbak Nisa sibuk nggak?" tanya Sofi saat Nisa berhenti didekatnya karena Sofi sempat menyapa Lendra yang jalan sendiri.

   "Nggak Dek, paling hanya mau masak buat makan siang," jawab Anisa. Sofi ikut ke rumah Anisa, dia mencari teman mengobrol.

   Sofi dan Anisa merupakan orang yang sama dikucilkan dari lingkungan karena dianggap tidak mampu mengikuti gaya mereka. Sofi memang bukan dari keluarga berada, bahkan pernah beredar kabar bahwa Sofi dan Salman pernah dekat.

    Lastri langsung angkat bicara saat itu, "Salman sama Sofi tidak ada hubungan, mereka hanya berteman. Lagi pula aku sudah menyuruh Salman untuk dekat dengan orang berada saja," kata Lastri. Seketika Sofi menjauhkan diri dari Salman sampai sekarang.

   "Eh Sofi sama Nisa, kalian kompak banget. Mau ngerumpi berdua di rumah Nisa, ya?" tanya Bu Jumik saat Nisa dan sofi sampai di depan rumah Nisa.

    "Iya Bu, kita kan nggak bisa setara sama gaya hidup yang lain. Jadi kita ya mending ngerumpi berdua," jawab Sofi sinis.

   Anisa mengajak Sofi masuk, Anisa segera masak sedangkan Sofi bermain dengan Lendra. Anisa memasak sambil mengobrol dengan Sofi.

   "Sof, kamu sudah lama nggak pergi sama Salman?" tanya Anisa. Sembari mencuci daging ayam dan menyiapkan bumbu.

   "Iya Mbak, adik ipar Mbak Nisa kan malu pergi sama aku. Apalagi sekarang dia sudah kuliah," jawab Sofi. "Maklum Mbak, orang nggak punya selalu di jauhi," tambah Sofi.

   "Yang sabar Sof, tidak semua orang sama," kata Anisa membuat bumbu ayam.

    Terdengar suara Lastri, dia masuk ke dalam rumah Nisa. Melihat ada Sofi, dia langsung mau pergi.

  "Ada apa, Bu?" tanya Anisa yang melihat Lastri datang. Mendengar pertanyaan Anisa, Lastri mendekat.

   "Jangan dekat dengan Sofi, nanti tertular miskin," ucap Lastri setengah berbisik di dekat Nisa.

    Sofi mendengar ucapan Lastri, dia langsung pamit pulang. Anisa merasa tidak enak hati pada Sofi. Karena mendengar ucapan Lastri tadi jadi Sofi buru-buru pulang.

   "Kamu masak ayam dari uang rampas milik Aldi kemarin ya," kata Lastri. "Jangan terlalu sering makan ikan,nanti boros." Lastri mendekati Lendra.

   "Saya masak ayam cuma kalau ada uang Bu, bukan tiap hari. Lagian saya kasihan sama Luna dan Lendra makan sama telur dan tahu tempe terus," bantah Anisa.

   "Kamu itu kurang bersyukur, makan tahu tempe masih untung. Dari pada kalian hanya makan nasi sama garam," kata Lastri. "Kalau sudah matang, jangan lupa aku dikasih ayamnya, aku mau pulang dulu," ucap Lastri lalu pergi keluar rumah.

   Anisa hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah mertuanya itu. Selesai memasak, Anisa mencuci baju. Nisa tidak punya mesin cuci jadi dia masih manual untuk mencuci.

     Terdengar suara orang membuka tudung saji, ternyata setelah Anisa lihat adalah Lastri. Lastri mengambil mangkok, lalu mengambil beberapa potong ayam yang sudah Nisa masak.

    "Tadi aku sudah bilang, kasih aku ayam ini, kamu kenapa nggak ngantar. Jadi sekarang aku ambil sendiri," protes Lastri. Lastri hampir memenuhi mangkoknya padahal ayam yang dimasak Nisa hanya sedikit.

     "Bu, jangan banyak-banyak ambilnya. Itu untuk makan nanti malam juga," ucap Anisa.

    "Pelit amat kamu, tuh masih ada," kata Lastri menunjuk mangkuk besar yang Anisa gunakan untuk menaruh ayam tadi.

    Anisa tidak mau membantah lagi, dia lebih baik diam saja dan melanjutkan mencuci. Tidak berapa lama Luna pulang. Anisa yang selesai menjemur baju langsung menyuruh Luna makan. Dia tidak lupa menyuapi Lendra, karena Lendra pagi tadi tidak mau makan.

    "Nisa..., ayamnya kurang. Minta lagi, ya!" Lastri mendekati meja makan dan langsung mengambil lagi beberapa potong ayam. Semula potonga ayam masih lima kini tinggal dua potong. Padahal tadi Lastri sudah mengambil banyak.

   "Nenek, itu milik Luna," teriak Luna marah. Lastri melotot kearah Luna dia langsung pergi setelah mengambil tiga potong ayam.

    "Sudah, biar sisanya nanti untuk makan Luna sama Lendra nanti malam. Ibu sama bapak biar makan sama tempe," kata Nisa agar Luna tidak merajuk.

    Setelah mereka makan, Anisa menyimpan ayam tadi di dalam almari makanan. Supaya tidak ada yang mengambil lagi dan menguncinya.

    Baru saja Anisa hendak menidurkan Lendra, terdengar suara pintu di ketuk. Anisa segera bangkit dan menuju ruang tamu. 

   "Salman, ada apa?" tanya Anisa saat pintu telah dia buka dan melihat Salman berdiri di depan rumah.

  "Mbak, minta lauk," jawab Salman.

    Nisa heran tadi Lastri sudah minta.lauk dua kali tetapi sekarang Salman datang meminta lauk.' Apa mungkin ayam tadi dimakan Lastri sendiri?' pikir Nisa.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED