Bab 2

Di sebuah perusahaan terbesar di kota D, seorang Direktur muda mengetuk-ngetuk jari ke meja kerjanya. Roy sebagai kaki tangannya tidak berani bertanya.

Karena dia sangat hapal, saat ini Bosnya sedang memikirkan masalah yang sangat serius dan tidak boleh ada suara sebelum Boss memberi perintah.

"Roy, kau cari tau gadis bernama Rachel Willona." Ia tau nama lengkap Rachel pada saat membantu membereskan barang-barang Rachel tadi, dia dengan sengaja membaca nama gadis itu pada kartu pengenalnya.

"Baik, Boss. Dalam lima belas menit anda akan menerima semua detail informasinya." sahut sekretaris si boss besar.

"Sebaiknya kau lakukan lebih cepat, karena untuk hal ini aku tak ingin menunggu terlalu lama."

"Baik, Boss. Aku permisi." lalu Roy pun keluar ruangan.

"Bagaimana mungkin aku merasa seperti sangat mengenal gadis itu? Aku merasa tidak asing dengan tatapannya. Dan lagi pula, gadis kecil dalam foto itu terlihat sangat mirip denganku. Apakah mereka ada hubungannya dengan masa laluku? Kenapa aku tidak bisa mengingat satu pun tentang masa laluku?" Boss besar berbicara sendiri dan mulai berpikir keras. Lalu tiba-tiba kepalanya sakit.

"Aaakhh... Kenapa kepala ini selalu saja sakit setiap kali aku berusaha mengingat masa laluku?" Dia berkata sambil mengeluarkan botol obat dari saku jasnya, mengambil satu butir lalu meminumnya. Dia bersandar pada kursi lalu mulai memejamkan mata untuk beristirahat sejenak sambil menunggu Roy datang membawa informasi yang dia minta.

Beberapa menit kemudian Roy datang dengan setumpuk kertas ditangannya.

"Boss, ini informasi yang anda minta. Dari sekian puluh gadis bernama Rachel Willona di kota D, ada satu yang sepertinya anda cari. Tapi Boss..." Roy berhenti bicara membuat Nathan tau pasti ada yang tidak beres.

Dia segera mengambil kertas-kertas itu. Membaca satu persatu informasi di dalamnya. Tak lama berselang, dia meremas kertas ditangannya itu. Tiba -tiba saja kepalanya kembali terasa sakit dan ia pingsan. Roy panik langsung menghubungi dokter pribadinya.

"Bagaimana keadaan Nathan?" Tanya Celline.

"Ini di luar dugaan. Seharusnya setelah tiga tahun pengobatan, Nathan akan pulih. Tapi ini sudah tujuh tahun, kenapa keadaannya malah semakin buruk ?" Kata dokter Arnold yang tak lain adalah teman dan sahabat Nathan dari remaja.

"Mungkin Nathan terlalu sering berusaha mengingat masa-masa sebelum kecelakaan itu terjadi." sahut Celline cepat sebelum Arnold berkata lebih banyak.

"Ya, aku rasa juga begitu. Bagaimana pun pasti dia sangat penasaran bagaimana kehidupannya dulu. Siapa saja orang yang ada di sisinya dulu, sebelum terjadi kecelakaan malam itu." gumam Arnold.

"Sudah kukatakan. Aku lah yang selalu bersamanya. Aku lah satu-satunya orang yang ada untuknya. Dari dulu hingga sekarang." Celline mulai emosi dan berbicara dengan nada tinggi.

"Celline, aku hanya tau ada satu wanita yang dia cintai. Tapi itu bukan kau! Kau hanya mengambil keuntungan atas kejadian yang di alami Nathan. Kau terlalu berambisi memilikinya. Padahal, bahkan saat dia hilang ingatan pun dia tak sebegitu tertariknya padamu." cemooh Arnold yang mulai kesal juga.

"Arnold, jaga ucapanmu! Jika sampai Nathan dengar, kupastikan kau tidak akan pernah bisa bertugas dimana pun lagi." ancam Celline.

Arnold paham, dia bisa menjadi Dokter ahli seperti saat ini karena campur tangan Ayah Celline. Itu juga karna Arnold terpaksa meminta bantuannya. Karena sangat ingin merawat sendiri sahabatnya ini. Dan tentu saja semua itu tidak gratis.

Sebagai imbalannya, Arnold tidak boleh mengungkap semua cerita masa lalu Nathan pada siapa pun di kota D ini. Bahkan pada Nathan sendiri. Saat Nathan bertanya semua dijawab sesuai arahan yang diberikan oleh Celline.

"Baik lah, aku memang tidak bisa berbuat banyak. Demi dia, sahabatku Nathan. Selama ini aku berusaha menutupi semua kebenaran. Tapi kita tunggu saja sampai kapan kau bisa bermain api dengannya. Saat suatu hari dia sadar dan mengetahui segalanya, bersiap lah kau untuk kematianmu." ucap Arnold sungguh-sungguh sehingga itu membuat Celline merasa gugup.

Lalu dia pun keluar dari kamar Nathan meninggalkan Celline yg masih berusaha tetap tenang sambil menggigit bibir bawahnya.

Dan tanpa mereka sadari, Nathan sudah sadar sejak mereka memulai pembicaraan serius tadi, tapi dia berusaha tetap tenang dan pura-pura masih pingsan agar lebih banyak mengetahui apa saja yang selama ini mereka rahasiakan.

"Sudah berapa lama aku tertidur?" tiba-tiba Nathan bersuara, membuat Celline sedikit terkejut. Tapi dengan cepat menyembunyikan wajah kalutnya, lalu berjalan mendekat sambil membawakan sebuah nampan berisi air putih dan dua butir obat.

"Sayang, kau sudah sadar. Syukur lah, aku tadi sangat takut saat Roy menleponku. Ini, minum dulu obat dan vitaminmu." Celline tersenyum sambil menyodorkan nampan itu.

"Benarkah seperti itu? Apakah aku terlihat seperti akan mati sehingga kau sebegitu khawatirnya?" Tanya Nathan tajam.

"Sayang, kenapa kau berkata seperti itu? Kau tau aku sangat mencintaimu, karena itu aku masih menunggumu meski sudah bersamamu selama delapan tahun ini. Lagi pula kita sudah bertunangan tiga tahun, aku masih setia menunggumu. Karena aku sangat mencintaimu, kau tentu tau itu. Tentu saja aku akan khawatir bahkan pada hal-hal kecil yang terjadi padamu." Ungkap Celline sambil memasang wajah polos tak berdayanya.

"Baik lah, itu saja sudah cukup. Pergi lah, aku butuh istirahat lebih lama." Nathan berkata sambil membaringkan badannya kembali ke kasur.

"Tapi kau harus minum obat ini dulu sayang." Celline enggan pergi sebelum melihat Nathan meminum obatnya.

"Baik lah, akan kuminum. Lalu silahkan pergi dan jangan menggangguku lagi! Aku muak dengan semua tingkahmu itu." Nathan merasa malas untuk berlama-lama berbincang dengan Celline.

Nathan meminum obatnya. Celline keluar kamar dengan rasa puas. Tanpa dia tahu, di dalam kamar Nathan mengeluarkan lagi obatnya dan membungkusnya dalam sebuah tisu. Memasukkan ke dalam saku jas yang tergantung di sisi ranjangnya.

"Aku semakin penasaran, permainan apa yang kalian mainkan selama ini kepadaku. Aku tau ada yang tidak beres dengan obat yang kau berikan Celline. Kita lihat saja nanti." ujar Nathan perlahan sambil memejamkan matanya kembali.

Mungkin karna kelelahan, Nathan tertidur sangat lama. Ia terbangun jam delapan saat perutnya mulai terasa lapar. Tapi dia teringat sesuatu. Lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Roy.

"Roy, jemput aku sekarang!" perintahnya, yang langsung di iyakan oleh Roy.

Sekitar lima belas menit kemudian, Roy telah sampai di rumah mewah bak istana milik Nathan. Nathan berjalan masuk ke mobilnya setelah Roy membukakam pintu.

"Kita ke Rumah Sakit Harapan Cinta" titah sang boss besar.

"Baik, Boss." sahut Roy. Selain kepatuhannya, Roy juga sangat bisa diandalkan. Makanya sampai saat ini Nathan masih mempertahankan Roy di sisinya.

Sesampainya di rumah sakit, Nathan turun dan langsung menuju ke ruang Direktur rumah sakit tersebut.

"Dok, aku ingin mengetahui obat apa ini sebenarnya." Nathan berkata sambil mengeluarkan dua butir obat yang sebelumnya ia bungkus dengan tisu.

" Baik, Tuan Nathan. Mohon menunggu lima menit." jawab Dokter Bram. Beliau adalah Dokter yang di rekomendasikan oleh seorang koleganya baru-baru ini. Kabarnya beliau adalah Dokter terbaik di kota ini.

Setelah lima menit. Dokter Bram kembali dengan raut wajah heran, juga khawatir.

" Dari mana obat ini Tuan dapatkan? Dan untuk siapa? " Tanya Dokter itu sebelum memberikan hasil penelitiannya.

"Katakan saja obat apa itu!" Nathan mengucapkan kata kata dengan intonasi yang dalam dan berat.

"Ini terbuat dari delapan jenis obat yang dapat menyebabkan gangguan pada ingatan. Jika dikonsumsi terus-menerus dalam jangka waktu yang panjang, pasien akan mengalami kelumpuhan pada otak." jelas Dokter lagi.

"Sialan! Berani sekali kalian bermain denganku. Kalian tunggu balasan dariku." Nathan berkata dengan sangat geram lalu meninggalkan ruangan itu.

Di dalam mobil, Nathan masih terus memikirkan perkataan Dokter tadi. Dia mengaitkan dengan perbincangan Celline bersama Arnold siang tadi. Tiba-tiba Nathan merasa bahwa, Arnold tidak tau apa-apa tentang obat yang di tukar ini.

"Celline. Berani sekali kau mempermainkan hidupku!" Nathan menggertakkan giginya pertanda mernahan amarah yang cukup besar saat ini.

"Roy, kau harus mulai menyelidiki semua aktifitas Celline. Jangan sampai ada yang terlewat. Aku yakin, dia menyimpan banyak rahasia dariku. Dia pasti merencanakan sesuatu yang sangat besar." Perintah Nathan tidak bisa di bantahm

"Baik, Boss. Aku akan melakukannya." Jawab sang ajudan kepercayaan.

"Laporkan setiap hal yang mencurigakan padaku, aku akan menyimpannya. Dan aku akan mengeluarkan semuanya di saat yang tepat nanti. Aku yakin, pasti tidak akan lama lagi waktu itu akan datang." Tatapan Nathan tajam memandang ke luar jendela mobil.

Entah mengapa, ia merasa ada suatu hal besar yang akan segera dia ketahui tidak lama lagi. Ada rahasia besar yang akan muncul di permukaan. Karena benar kata pepatah, sedalam apa pun menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga.

Bab 3

"Racheeell, aku sangat rindu padamu." tiba-tiba Bella meloncat kepelukan Rachel.

"Ya ampun, apa-apaan ini? Lihat lah betapa lebaynya dirimu itu, Key saja bertemu denganku tidak separah ini ekspresinya." ledek Rachel sambil tetap memeluk sahabatnya itu.

Bella adalah satu-satunya sahabat yang Rachel punya dari dulu. bahkan dia pindah ke kota D ini karena Bella lah yang memaksa. Bella tau semua yang dialami sahabatnya itu.

"Itu mungkin karena dia lebih dekat pada Jihan dari padamu." Bella menyindir sambil berjalan ke kulkas mengambil sebotol minuman soda.

"Yah terus, aku harus gimana beb? Pekerjaanku sekarang mengharuskanku bolak-balik kota D dan S. Aku belum siap jika harus membawa Key pulang kesana. Aku tidak tau reaksi apa yang orang-orang disana akan berikan untuk kami nanti." ucap Rachel dalam.

"Raa... Itu sudah lama sekali. Sudah tujuh tahun berlalu dan tidak akan ada yang bertanya tujuh tahun lalu kau kemana, kenapa pindah dan bla-bla." cerocos Bella kesal setiap kali sahabatnya enggan membawa Key pulang ke kota kelahirannya hanya karna alasan yang tidak pasti.

"Tapi Bell, aku tetap saja merasa sangat takut. Kalau tiba-tiba dia datang gimana? Terus dia tau tentang Key gimana? Lalu dia mau ambil Key gimana juga? Aku belum siap untuk semua hal itu! Membayangkannya saja membuatku hampir gila. Kau tau kan sehebat apa keluarganya? Sangat mudah bagi mereka untuk mengetahui informasi tentang siapa pun yang mereka inginkan." Rachel frustasi memikirkan hal yang bahkan belum tentu terjadi.

"Kalau memang seperti itu, pasti mudah juga bagi dia untuk tau dimana kau berada selama tujuh tahun terakhir ini. Tapi buktinya apa? Kau dan Key hidup dengan aman dan bahagia tanpa dia disini. Sadar lah, dari awal dia memang tidak pernah mencarimu. Bahkan aku tak yakin dia tau siapa Key." Bella mengomel sambil menyesap sedikit demi sedikit minumannya.

"Ya, kau mungkin benar untuk satu hal ini, Bell. Mungkin memang sejak saat dia memutuskan untuk meninggalkanku dulu, dia tak pernah lagi berusaha mencari kabar tentangku. Mungkin selama ini hanya aku yang ke ge-eran." seru Rachel sendu.

"Bukan ke ge-eran Ra, tapi kau masih berharap padanya." sambung Bella.

"Aku bukan berharap ingin bersamanya atau lebih dari itu, aku hanya ingin tau apa alasan dia dulu menghilang dariku, padahal malam itu dia sudah berjanji akan datang menemuiku. Aku ingin memberitahunya tentang kehamilanku pada malam itu. Aku pikir dia akan bahagia lalu kami akan segera menikah seperti yang telah kami rencanakan dulu, Bell." Rachel berkata pelan sambil terus memutar - mutar gelas kaca ditangannya.

"Yah, semoga saja suatu hari nanti kesempatan itu datang." Bella mulai berdiri dari kursinya, menepuk pundak sahabatnya itu.

Bella tau sudah banyak hal buruk dan hal sulit yang Rachel lalui demi kehidupan yang layak untuk Key. Meski pun kerja sudah menjadi candu baginya, tapi saat ia tau Key terluka sedikit saja, sudah bisa dipastikan Rachel akan bertindak sangat posesif seakan akan ia tak akan pernah melihat anaknya lagi.

Pernah suatu hari Jihan menelpon saat Rachel sedang di luar kota, Key jatuh dari sepeda. Lututnya terluka dan badannya tiba-tiba panas. Rachel langsung memesan taxi online. Menyuruh supir mengemudi dengan cepat unutk mengantarnya pulang kembali ke kota D.

Perjalanan yang harusnya tiga jam, menjadi dua jam karena sopir memang lihai melajukan mobilnya, sesuai permintaan Rachel. Melihat Putrinya lemas tak berdaya, hatinya hancur.

Ia sangat takut jika Tuhan mengambil Key darinya. Karena sampai saat ini hanya Key lah yang membuatnya tetap hidup. Key lah alasan ia bertahan sejauh ini.

"Aku juga ingin memberikan kebahagiaan yang mungkin selama ini sangat di impikan Key. Aku tau Key sangat ingin mempunyai sosok ayah. Yang akan menggendongnya di pundak, mengajaknya liburan dan melakukan hal- hal menyenangkan lainnya." seru Rachel.

"Semoga kelak Tuhan mengirimkam sosok ayah yang sangat mencintai Key sepenuhnya, seperti ia mencintai anaknya sendiri. Aku akan menerimanya meski mungkin aku tak bisa mencintainya. Asal Key bahagia, apapun akan aku lakukan, Bell." nada Rachel berbicara sangat berat dan jelas sekali ada kesedihan yang dalam disetiap kata katanya.

"Amin. Biasanya, doa single Mom itu sangat cepat di kabulkan Tuhan." canda Bella lalu tertawa keras.

" Tapi Bell, sepertinya dia ada di kota ini sekarang." Rachel berkata lirih.

"Dia? Dia siapa maksudmu?" Tanya Bella cuek.

"Nathan." Hanya itu yang Rachel katakan, tapi mampu membuat Bella berdiri saking kagetnya.

"What? Apa maksudmu? Jangan mengada-ngada. Itu akibatnya jika kau masih terus memikirkannya." Bella tidak menganggap serius hal itu. Dia hanya berfikir mungkin Rachel berhalusinasi.

"Aku serius Bell. Kemarin aku berpapasan dengannya di caffe, setelah bertemu dengan Mr. Erick." Jawab Rachel meyakinkan Bella.

"Lalu, apa yang dia katakan ? Apa dia menjelaskan sesuatu tentang dia yang menghilang tujuh tahun lalu ?" Tanya Bella mulai serius.

"Tidak satu pun. Dia bahkan tidak mengenaliku." Terlihat raut wajah sedih disana.

"Nah kan, apa kubilang, kau terlalu memikirkan si brengsek itu. Jadi kau berhalusinasi, merasa dia di sekitarmu." Bella akhirnya kembali duduk.

"Entah lah Bell, tapi aku merasa itu benar dia. Tapi aku juga tidak tau, kenapa dia tidak mengenaliku. Apa dia berpura-pura tidak mengenaliku?" Rahcel jelas masih memikirkan kejadian kemarin.

"Sudah lah, jangan terlalu sering memikirkan dia. Mungkin saja saat ini dia sudah menikah dan memiliki tiga orang anak. Dan kau hanya membuang-buang waktumu untuk memikirkan dia ?" Jelas sekali Bella merasa kecewa pada sahabatnya ini. Tapi dia juga sangat kasihan pada Rachel.

" Ya, mungkin akan ada hari dimana kita bertemu lagi dengannya. Aku yakin kejadian kemarin bukan lah sebuah kebetulan." Ucap Rachel lirih.

"Ayo lah, jadi curhat gini. Katanya mau mengajak Key main ke Mall. Key nya juga mana lagi, kenapa tidak kelihatan dari aku datang tadi?" sambung Bella setelah puas tertawa.

"Oh iya. Tunggu sebentar, aku panggil Key dulu." Rachel bergegas mencari Key kekamarnya.

"Baby, come on. Aunty Bella udah nungguin tuh." sapa Rachel pada Key yang lagi asyik berdandan merapikan bandana di kepalanya.

"Oke Mom. Key udah siap kok, kita pergi sekarang?" Jawabnya sambil tersenyum riang.

"Tentu my princess." sahut Rachel sambil menggandeng tangan putri kesayangan nya.

"Waah.. Lihat lah siapa yang menjadi bintangnya hari ini!" ucap Bella takjub melihat Key datang. Key sangat cantik menggunakan gaun ala-ala princess warna biru muda, mengenakan bandana bunga dan juga sepatu putih yang mirip sepatu cinderella.

"Aunty lebay deh. Apa tak pernah melihat anak perempuan cantik?" jawab Key sekenanya sehingga membuat dua sahabat itu tertawa.

"Yuk, kita berangkat sekarang Tuan Putri." ajak Bella sambil menunduk kan badan mempersilahkan Key berjalan duluan ke luar rumah dimana mobilnya terparkir.

"Wow.. Aunty ganti mobil lagi ya ? Enak ya jadi orang kaya, banyak uang. Key juga pengen nanti jadi kaya seperti Aunty Bella." katanya sambil tersenyum.

Tapi kata-kata itu justru membuat Rachel takut. Dengan cepat Rachel berusaha menyembunyikan ketakutannya itu didepan Key.

"Nah, makanya Key harus rajin belajar dong. Biar jadi anak pintar. Sekolah yang tinggi kalo perlu keluar negeri. Nanti Key bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang gajinya besar. Key pasti bisa sukses dan banyak uang. Kalo Aunty sih cuma menikmati kekayaan Papi Aunty, hahaha." seru Bella panjang lebar sambil tertawa.

"Enak ya Aunty, punya Papi kaya. Anaknya jadi ikutan kaya. Tapi sayang sekali alAunty jadi malas bekerja." seru Key cuek.

Kata-kata yang singkat tapi penuh makna sekali bagi Rachel. Dan Bella juga salah tingkah karna sepertinya dia salah bicara lagi kali ini.

Selama perjalanan mereka tertawa bahagia karna ada saja katakata lucu atau nyanyian Key yang membuat dua sahabat itu tak bisa berhenti tertawa.

Key merasa seperti punya 2 Ibu. Aunty Bella-nya juga sangat teramat menyayangi dan memanjakan nya. Bahkan jika Rachel marah kepada Key, Bella akan lebih dulu membela lalu balik memarahi Rachel.

Tapi satu hal yang Rachel tau, diam-diam Key sangat merindukan figur seorang ayah. Terkadang saat Rachel membereskan kertas-kertas warna yang digambar Key, dia menemukan gambar berbentuk keluarga harmonis. Ada sosok Ayah, Ibu dan Anak Perempuan.

Tapi Rachel tidak ingin merusak hari ini dengan pikiran-pikirannya yang absurd. Hari ini dia ingin fokus menemani putrinya bermain. Sekaligus melepas penat setelah satu minggu ini bekerja diluar kota.

Jadi mereka menikmati perjalanan dengan atap mobil yang dibuka. Lalu Key berdiri. Bernyanyi-nyanyi sambil merentangkan tangannya. Rambutnya yang di buat keriting itu terbang tertiup angin. Key terlihat sangat bahagia.

"Tuhan, tolong beri aku umur yang panjang. Agar aku bisa terus menemani Key. Agar aku bisa selalu melihat senyum dan tawanya yang seperti ini." ujar Rachel dalam hati.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED