Keesokan harinya seperti yang sudah dijanjikan Lucyana, Ia datang lagi dijam yang sama ke rumah janda kaya itu. Lucy mengetuk pintu pagar besar itu.
“Iya, cari siapa?” Tanya satpam membuka pintu kecil dengan panjang 50cm itu.
“Apa nyonya rumah ini ada? Dia kemarin memesan bunga padaku.”
“Nyonya sedang pergi. Nanti saja.” Satpam itu berniat menutup pintu lagi.
“Tunggu, tunggu sebentar pak!”
“Apa lagi?”
“Kemarin, nyonya itu bilang, jika dia tidak ada, aku harus menemui tuan Javier. Apa dia ada?’ Tanya Lucy harap harap cemas. Bunganya baru laku sedikit. Padahal Lucy sanagt yakin akan laku keras hari ini. Bahkan Lucy membawa dua keranjang bunga.
Satpam itu nampak memperhatikan Lucyana. Memandanginya dari atas hingga bawah.
“Darimana kau mengenal semua orang disini? Apa kau yakin kemarin kemari dan nyonya memesan bunga padamu?” tanyanya lagi.
Lucy sedikit dongkol. Rasa panas, pegal dan haus membuat suasana hatinya sedikit buruk.
“Tentu saja pak. Mana mungkin aku berbohong padamu. Makanya tolong panggil saja Pak Javier, tanyakan padanya. Namaku Lucy. Lucyana.”
Satpam itu hanya mendengkus kesal. Beberapa penjual sudah datang sejak pagi. Selalu seperti itu. Terkadang Ia merasa terganggu. Para penjual itu selalu datang jika kemarin nyonya rumahnya memanggil mereka untuk memborong dagangannya.
Tidak berapa lama, Javier sudah berada didepan Lucyana.
“Ah tuan Javier. Untung kau datang. Aku mengantarkan bunga pesanan nyonya itu kemarin. Apa dia tidak ada?’ Tanya Lucyana menyerahkan rangkaian bunga pada Javier. Kali ini Lucyana merangkainya khusus.
“Maaf ya Lucy. Nyonya berhalangan kali ini. Beliau sedang berada diluar kota. Mungkin lusa akan kembali.” Terang Javier membuat raut wajah Lucy sedikit kecewa.
“Tapi jangan khawatir. Nyonya menitipkan uangnya padaku. Dia bahkan meminta kau untuk datang lagi besok.” Javier menyerahkan satu lembar uang berwarna biru dan potongan uang merah yang kemarin Lucyana robek.
“Apakah itu benar?’ Tanya Javier.
“Iya tentu saja. Terima kasih tuan.”
“Jangan panggil aku tuan. Aku bukan tuanmu. Panggil aku Javier saja.”
“Tapi kau tetap lebih tua dariku Pak Javier.” Lucyana tersenyum lagi.
“Lucy apa kegiatanmu selain menjual bunga? Apa kau sekolah? Kuliah? Bekerja yang lain?” Tanya Javier lagi.
“Tidak tuan, aku sudah 21 tahun. Tidak kuliah juga tidak bekerja. Aku hanya dirumah saja.”
“Oh begitu rupanya. Apa kau masih punya ayah dan ibu? Saudara barang kali?” Javier bertanya lagi. Kali ini sambil mengajak Lucyana duduk di dekat pos satpam. Dibawah pohon rindang. Lucy terpana sesaat melihat halaman depan rumah yang nampak sangat mewah dan belum pernah dilihatnya sebelumnya.
“Ibuku sudah meninggal, baru beberapa pekan yang lalu. Ayahku ada. Dia juga tidak bekerja. Dan satu lagi, iya aku punya saudara. Kakakku Pablo. Apa kau punya pekerjaan untuk kakakku?” Lucyana menatap Javier lekat. Berharap pria dihadapannya itu menjawab iya.
“Aku tidak punya Lucy. Tapi mungkin aku punya pekerjaan untukmu nantinya.” Javier tersenyum menganggukkan kepalanya.
“Untukku? Benarkah? Apa itu? Bisa aku bekerja besok?” Tanya Lucy penuh semangat dan kegembiraan.
“Kau semangat sekali nak. Tapi bukan aku yang memutuskan. Tunggulah beberapa hari lagi sampai nyonya kembali. Sampai saat itu tiba, datanglah terus tiap hari mengantarkan bunga kemari.” Javier tersenyum.
“Tentu saja. Aku akan datang lagi besok. Aku juga akan setia menunggu. Semoga rejeki untukku. Terimakasih sekali Pak Javier.” Lucyana berpamitan. Javier tersenyum dan mengantar Lucyana sampai depan gerbang.
“Tuan Javier, biar ku bisikkan sesuatu.” Lucyana mendekati Javier dan berbisik.
“Satpammu cukup galak. Aku tak suka jika dia sedikit cerewet begitu.” Keluhannya di telinga Javier.
“hehe, baiklah Lucy. Terimaksih untuk masukkannya.” Javier mengangguk dan tertawa kecil. Satpam mereka memang cukup bawel, tapi nyonya menyukai cara kerjanya yang bawel itu.
Lucypun kembali kerumah. Satu keranjangnya habis. Sedangkan satu keranjang lainnya masih bersisa. Ia menaruhnya dalam vas berisi air dan menaruhnya diruang tamu.
“Kau sudah kembali?” Tanya Pablo.
Lucy hanya menoleh dan tidak menjawab, Ia lalu berpindah ke dapur. Lucy menyiapkan makan siang. Ia sengaja mampir ke pasar kecil didekat rumah dan membeli beberapa lauk serta sayuran.
“Mana uangmu Lucy? Berilah aku sebagian?’ Tanya Pablo mendekati Lucy.
“Untuk apa uang? Bukankah rokokmu masih ada?”
“Bukan membeli rokok. Aku mau main game. Kemarin aku juga meminjam uang pada temanku untuk main game. Aku janji hari ini membayarnya. Hanya sedikit Lucy, hanya Rp 150.000,-saja,” terang Pablo.
“Kenapa meminjam uang pada orang jika kakak tidak tahu cara membayarnya. Berhentilah bermain game itu kak. Itu sudah termasuk judi. Apa kakak tak tahu?”
“Jangan banyak bicara. Mana uangnya!” desak Pablo.
“Tidak ada lagi. Apa kakak tidak lihat, aku sudah menghabiskannnya untuk membeli ini semua,” ucap Lucy sambil mencuci beberapa potong ikan.
“Untuk apa kau beli ikan dan sayuran? Aku tidak memintamu. Ayah juga tidak menyuruhmu bukan? Kenapa menghabiskan uang untuk membeli makanan Lucy?”
“Habis main game, apa kakak tidak lapar? Apa cukup dengan hanya main game slot itu?”
“Akh sudahlah jangan cerewet. Mana uangmu?” paksa Pablo mendorong adiknya. Merogok saku belakang celana Lucy dan mengambil paksa uangnya. Lalu pergi. Lucy berusaha mengejarnya, tapi Lucy didorong Pablo hingga jatuh ke semak semak depan rumah.
Bukannya membantu sang adik, Pablo malah tertawa, lalu meninggalkan Lucy dan pergi menegndarai motor bersama temannya yang sudah menunggu dari tadi. Lucy sangat kesal. Ia berencana untuk menabung. Bayaran listrik bulanan mereka harus segera dibayarkan. Beberapa hari lagi tagihan listrik pasti akan datang.
Lucy kembali masuk dan mendapati ayahnya sudah bangun dan duduk diatas meja. Ayah nampak memegangi kepalanya.
“Ayah sudah bangun? Mau kopi?’ Tanya Lucy.
“Iya buatkan ayah kopi Lucy. Apa gula masih ada? Jika tidak ada, buat kopi hitam saja.”
“Ada ayah. Lucy baru saja membelinya.”
“Darimana kau uang Lucy?”
“Lucy menjual beberapa tangkai bunga di kebun ibu. Beberapa orang membelinya. Dari kemarin Lucy melakukannya. Hasilnya lumayan. Hari ini Lucy bisa membeli beberapa potong ikan dan sayuran,” ucap Lucy sambil menyodorkan secangkir kopi pada ayahnya.
“Kau pintar sayang, tak seperti ibumu.” Keluhnya pelan.
“Ibumu hanya bisa menadahkan tangan pada ayah saja.” Umpatnya lagi.
“Sudahlah ayah.” Lucy mengusap pelan punggung tangan ayahnya.
“Iya. Maafkan ayah. Ibumu tetaplah ibu yang baik. Dia juga istri luar biasa untukku, hiks hiks. Maaf Lucy kau malah ikut mencari uang. Ayah belum bisa bekerja, pikiran ayah kemana mana.” Jorge menangis, Lucy menepuk pundaknya pelan.
“Apa yang mengganggu ayah? Jangan terlalu bersedih dengan kepergian ibu. Dia sudah tenang sekarang.”
“Ada sesuatu yang tak bisa ayah katakan padamu. Kepala ayah masih pusing. Ayah mau mandi dulu.” Jorge pindah ke kamar mandi.
Sudah berhari hari kelakuannya begitu. Bangun di siang hari bolong dengan kepala sakit. Selepas magrib pergi. Pulangnya pagi hari dan mulut Jorge bau minuman keras. Berkali kali boros kerja, dan tertidur di kantor membuat Jorge dipecat dari pekerjaannya.
Lucy hanya bisa bersabar menghadapi kelakuan ayah dan kakaknya. Sejak dulu kakak dan ayahnya sudah begitu. Tapi jika ada ibunya, Mariana, maka keduamya masih bisa mengerem. Ayah walau suka mabuk, tidak pulang pagi hari. Pablo juga, walau suka berjudi online, tidak pernah sampai separah sekarang dan merampas uang Lucy.
Keesokan harinya, Lucy kembali ke rumah besar itu, mengantarkan bunga. Kali ini Ia menemui satpam yang berbeda dari yang kemarin. Belumlah bertanya keberadaan Javier, ternyata orang kepercayaan Silviana itu sudah menunggunya. Kali ini Javier mengambil semua sisa bunga Lucy dan membayar sama persis yang seperti Lucy minta.
“Apa kau akan membuat pesta? Kenapa sampai memesan bunga sampai lima keranjang? Apa nyonya itu yang menyuruhmu, karena melihat aku dan kasihan kepadaku? Tolong jangan kasihani aku. Bukankah sudah aku katakan.”
“Jangan tersinggung Lucy. Nyonya mungkin akan kembali sore nanti. Besok pagi akan ada peresmian gedung baru. Kami akan menghias semuanya dengan bunga yang kau bawakan. Bisakah kau datang nanti sore sambil membawa bunganya? Kau bisa memesan taksi dan akan aku bayarkan ongkos taksimu nanti.” Tawar Javier.
“Tidak perlu repot repot memesan taksi. Aku punya sepeda dirumah. Aku akan membawanya dengan sepedaku. Itu akan cukup. Tenang saja.”
Javier senang dengan janji Lucy dan menunggunya tepat pukul tiga seperti yang mereka janjikan. Benar saja, Lucy membawa bunganya dengan sepeda. Beberapa satpam dan pegawan Bu Silviana datang membantu menurunkan bunga bunga.
“Sudah biarkan saja mereka yang menurunkannya untukmu. Nyonya Silviana sudah menunggumu. Kau bisa mengambil bayarannya sekalian.”
Lucy tersenyum dan mengiyakan. Lucy mengikuti langkah kaki Javier memasuki halaman rumah mewah yang membuat Lucy terkagum kagum. Mata Lucy terus memandangi keindahan rumah yang belum pernah Ia lihat sebelumnya. Hingga kakinya tersantung Javier.
“Maafkan aku Pak. Aku tak memperhatikan jalan.” Lucy meminta maaf sambil membungkuk. Ia baru sadar ternyata Silviana sudah berada didepannya.
“Oh Nyonya. Maaf saya tidak melihat anda. Rumah anda benar-benar membuat saya kagum.” Puji Lucy.
“Kau suka?” Tanya Silviana membimbing Lucy ke ruangan lain.
“Tentu saja. Tapi pasti sangat membingungkan sekali. Aku bisa salah masuk kamar kalau masuk kemari nyonya, hehe.” Lucy nyengir. Silviana hanya tertawa mendengarnya.
“Lucy, apa kau mau tinggal disini bersamaku? Menjadi anak dan pewarisku?’ Tanya Silviana langsung membuat Lucy kaget sekaligus geli. Akibatnya Lucy tertawa.
“Hahahah, anda sangat lucu sekali nyonya. Hahaha.” Lucy tertawa beberapa menit. Sementara Silviana hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
“Anda serius nyonya?” Tanya Lucy menghentikan tawanya.
“Tentu saja. Aku menyukaimu Lucy, kau cantik, periang, sangat bekerja keras, jujur, aku suka semangatmu. Lalu yang paling penting, kau mengingatkan aku pada Josefina.” Silviana menunjukkan sebuah foto pada Lucy.
“Wah kami sangat mirip. Tapi tentu saja anakmu lebih cantik nyonya.”
“Dia cantik, sepertimu. Sayangnya Ia sudah meninggal Lucy.” Silviana jadi sedih. Lucy menoleh dan memeluknya erat.
“Maafkan aku nyonya. Kau pasti sangat sedih. Aku juga sangat sedih, saat ibuku tiba tiba meninggal dunia beberapa pekan lalu.”
“Aku turut sedih Lucy.” Silviana menghapus titik air matanya.
“Tapi maaf nyonya, aku tidak bisa menerima tawaran darimu walau itu sangat menggiurkan untuk orang miskin sepertiku.”
“Kenapa Lucy? Bukankah barusan kau bilang menggiurkan? Kenapa tidak?” Silviana kecewa berat.
“Aku.. Aku hanya tak bisa nyonya.”
“Kenapa?” Silviana sudah hampir menangis. Padahal Ia sudah sangat yakin, jika Lucyana akan mau menjadi anaknya.
“Ayahku, dia menjadi sangat labil sekarang. Ia baru saja kehilangan pekerjaannya. Sementara saudaraku tak bisa aku andalkan nyonya. Aku benar benar minta maaf karena membuatmu kecewa.”
“Baiklah, aku paham. Tapi kau masih akan membawakan aku bunga bukan? Aku suka bungamu Lucy. Indah, wangi, dan cantik. Sepertimu Lucyana.” Puji sang nyonya tulus.
“Terima kasih nyonya. Aku pasti akan membawakanmu bunga, setiap hari seperti sebelumnya.”
“Baguslah kalau begitu, jangan panggil aku nyonya. Apa kau belum tahu namaku? Aku Silviana.”
“Oh, baiklah bu Silviana.”
Silviana hanya tertawa dan mengajak Lucyana berkeliling lagi. Silviana mengajak Lucy saling membuka diri, Silviana juga menceritakan mengenai dirinya, kematian suami dan anaknya yang berakhir tragis. Lucyana sampai menangis dan menitikkan air mata saja mendengar kesedihan Silviana, Ia tahu betul rasanya kehilangan.
“Bisakah kau datang lagi besok pagi ke kantorku?” pinta Silviana. “Biarkan Javier menjemput ke rumahmu.”
“Aduh nyonya, untuk apa anda mengundangku ke sana? Akan sangat memalukan bagiku ikut serta. Aku juga tak faham pekerjaan kantoran. Oh ya, apakah pekerjaan yang Javier sebutkan itu nyonya, bisakah aku mendapatkan itu saja?” tanya Lucy berharap.
“Aku tadi sudah mengatakannya Lucy, aku ingin kau menjadi anakku, penerusku, itu pekerjaannya,” ucap Silviana tersenyum.
“Oh yang itu. Maaf nyonya. Jawaban dariku sama saja. Maafkan aku. Aku pikir mungkin menjadi asisten rumah tanggamu, merawat kebun, atau apapun,” kata Lucy nyengir.
Silviana hanya tersenyum, Ia masih yakin, Lucy akan merubah keputusannya nanti. Datanglah kemari jika kau berubah pikiran Lucy. Seperti biasa, jka aku tidak ada, maka cari saja Javier, bisakah kau melakukannya?” pinta Silviana.
“Tentu saja nyonya. Terima kasih sudah baik padaku.” Lucy melempar senyum. Ia lalu berpamitan setelah menerima bayaran atas bunga-bunga yang baru saja diantarnya.
Lucy mengayuh sepedanya dengan perlahan. Jalanan cukup sepi. Lagipula, ini kawasan perumahan, yang lalu lalang hanyalah beberapa kendaraan pribadi saja.
“Apa yang nyonya itu pikirkan sampai mau menyuruhku jadi anaknya? Ah aku sangat tidak memahaminya. Pikiran orang kaya itu memang suka aneh.” Lucy hanya geleng geleng pelan.
Kali ini Lucy tidak mampir ke pasar. Bahan makanannya masih cukup. Lucy akan segera membayar tagihan listrik dengan uang itu. Sudah dua bulan mereka tidak membayar tagihan listrik. Bisa-bisa listrik mereka akan diputus, jika bulan ini tidak segera membayar.
Sampai dihalaman rumah, Lucy Nampak kaget melihat beberpa sepeda motor terparkir sembarangan didepan, membuat Lucy kesulitan memasukkan sepedanya, terhalang sepeda motor.
“Ini sepeda motor punya teman kak Pablo? Dasar mereka ini. Parkir motor saja tidak bisa. Huh. Ada berapa banyak orang yang datang? Gaduh sekali sepertinya?” Tanya Lucy bicara sendiri.
“Aku tidak mau dengar alasan lagi Pablo! Mana?” teriak seseorang mengagetkan Lucy yang memarkir sepeda di samping rumah.
“Siapa itu? Kenapa berteriak? Apa yang Pablo lakukan?” batin Lucy segera berlari masuk.
“Tunggulah beberapa hari lagi bang. Aku akan membayarnya.” Pablo menjawab pelan.
“Hei Jorge, bagaimana, kenapa kau diam saja?” bentak pria itu pada ayah Lucy.
“Kenapa membentak ayahku? Ada apa ini?’ Tanya Lucyana langsung. Ia mendekati kursi ayahnya dan memandang satu persatu tamu yang semuanya lelaki bertubuh kekar.
“Hah kau rupanya. Kakakmu ini punya hutang padaku. Dia janji akan membayarnya. Dia bahkan bilang adiknya sudah punya uang, jadi mana uangku?’ terang pria yang duduk disamping Pablo yang sedari tadi hanya diam menunduk saja.
“Uang apa? Berapa banyak yang Pablo minjam sampai kalian harus datang beramai ramai seperti ini? Bukankah hanya Rp 150.000,- saja?” Tanya Lucy mengeluarkan dua lembar uang. Satu berwarna merah dan satunya berwarna biru, dari sakunya dan menyerahkannya.
“apa? Rp 150.000,-?” Pria itu tertawa lebar memegang uang yang disodorkan Lucy. Mulutnya terbuka sangat besar. Membuat Lucy jijik padanya. Semua laki-laki bertubuh besar ikut tertawa bersama pria itu, yang seperti bos mereka.
“Kenapa kau tertawa, memang benar bukan?” Tanya Lucy.
“Mana cukup Lucy,” bisik sang ayah pelan.
“Memang berapa banyak ayah?” Tanya Lucy ikut berbisik.
“Banyak Lucy, banyak sekali. Sekarang diamlah. Biar Pablo yang bicara.”
Lucy hanya diam, menuruti ayahnya. Ia heran sekali kenapa pria pria itu membuat kakaknya sangat ketakutan, sudah berapa banyak hutang kakaknya itu, sampai Pablo harus ketakutan begitu dikerubungi pria pria bertubuh besar.