Bab 2

"Hufh! Aku jadi bingung harus masak apa yah?" Tanya Ellina. Pada dirinya sendiri, lalu dia pun membuka kulkas dan disana tertata rapi bahan makanan mentah, sayuran, daging dan ikan juga telur, Ellina hanya melongo lalu dia mengambil beberapa butir telur dan juga ikan, dan dia pun mulai memotong ikan dan tentunya juga mengambil sayuran untuk dia masak. 

"Aku coba masak ini, ibu sudah pernah memberi tahu aku sedikit cara memasak," ucap Ellina. Dia jadi teringat dengan pesan ibunya untuk belajar memasak andai dia menuruti saran ibunya pasti tidak akan begini jadinya, Ellina pun kini bertarung didapur dengan pearalatan dapur milik Reno. 

Sementara itu dikediaman Aditama. Reno sedang berbincang dengan Ayah, kakenya juga kakak iparnya diruang keluarga, sedang para wanita memasak didapur untuk makan malam bersama. 

"Bagaimana kamu bisa sehebat itu, Ren?" Tanya Elvano pada adik iparnya. 

"Ah Kak Vano biasa saja kak, masih hebatan Ayah," jawab Reno sambil tersenyum pada Ayahnya 

"Siapa dulu dong Ayahnya. Pastinya jiwa bisnisku menurun pada putraku, lihat lah baru lulus kuliah saja sudah menjadi CEO diperusahaan yg dia bangun dan rintis sendiri, dia memang putra kebanggaanku, oh ya kapan rencana memindahkan perusahaanmu ke Jakarta Ren?" Tanya Dewa sang Ayah. 

“Mungkin bulan ini sudah bisa, Yah. soalnya sekertaris ku sudah mengurus semuanya, dan menjual perusahaan disana untuk membeli sebuah perusahaan dibidang properti disini, dan mungkin mulai besok aku akan melihat keadaan perusahaan itu," Ucap Reno. 

Baguslah, cucu Kakek memang sangat mandiri sekarang tidak hanya mengandalkan orang tua saja," Ucap Adrian. 

"Karena dia putra ku Pah, kebanggan ku," Sahut Dewa yg kini menatap putranya yang seakan bercermin pada dirinya sendiri saat muda dulu, saat melihat semangat Reno dia ingat masa remaja dulu namun dia berbeda karena masa remaja dia habiskan untuk bersenang-senang, dan nampak nya kemandirian putranya ia dapat dari Renata istrinya. 

"Tentu saja, lihat lah kalian Ayah dan Anak bagai pinang dibelah dua, iya kan Kek," Ucap Elvano sambil terkekeh, menantu pertama keluarga Aditama itu sudah sangat akrab dengan Ayah dan Kakek mertuanya. 

"Benar Kak aku juga mersa seperti itu, dan kalian tahu Kak, kek aku juga menemukan kembaran Bunda. Dia sangat mirip dengan Bunda, saat melihatnya aku sangat terkejut, aku kira dia itu Bunda, tapi masa ia Bunda memakai pakaian modern dan memakai celana jeans kan gak mungkin,"ujar Reno sambil tertawa kecil saat melihat penampilan Ellina saat itu sangat berbeda jauh dengan Bundanya.

"Benarkah? Terus dimana dia sekarang?" Tanya Dewa penasaran. 

"Di apartemenku, Yah. Dia berhutang padaku 10 juta jadi aku menjadikannya asisten kebetulan aku butuh asisten, untuk mengurus apartemen ku," Ucap Reno dengan santai. 

"Kok bisa Ren? Memang kenapa kok dia bisa berhutang, banyak seperti itu padamu?" Tanya Elvano yang kini ikut penasaran. 

"Dia kena dia kena tipu yah dan barangnya dirampok jadi barangnya hilang semua, terus dia dikejar petugas bandara karena merusak barang penumpang lain, kebetulan dia minta bantuanku kak, ya sudah aku manfaatkan saja dia haha," Jawab Reno lalu tertawa kecil mengingat kejadian dibandara. 

"Hahahaha Dewa, ternyata pikiran licik mu menurun pada putra mu," Ledek Adrian sambil tertawa terbahak-bahak membuat Dewa dan Reno saling melirik melihat Adrian yang kini tertawa dengan terbahak-bahak.

"Ayah dan Kakek kenapa?" Tanya Reno dengan wajah sok polosnya. 

"Sudahlah lupakan Ren, Kakek memang seperti itu tidak ingat umur kalau sudah kumat penyakit jahilnya," Ucap Dewa pada putranya, Reno pun hanya mengangguk mendengar ucapan Reno. 

"Hati-hati Nanti bukan dijadiin Asisten untuk membersihkan rumahmu, tapi malah jadiin asisten hidupmu kamu, yang benar-benar mengatur kehidupanmu lalu kamu akan tunduk padanya, seperti Ayah mu yg takut pada Bunda mu," Ucap Adrian. Yang kembali terkekeh. 

"Sudahlah Kek, jangan bercanda terus, Kakek tahu sendiri kan kalau aku tuh masih mengharapkan Alya, aku masih mencintainya kek, dan aku ingin Alya lah yang menjadi pendamping hidupku," Ucap Reno yang kini terlihat sedih. 

"Hey jagoan Ayah sudah jangan sedih, kamu harus bisa mendapatkan Alya nak, hanya kamu harus berjuang untuk mendapatkannya, seperti Ayah yang dulu berjuang demi mendapatkan Bunda mu," ucap Dewa yang memberikan semangat pada putranya itu.

"Tuhkan ngaku sendiri sekarang," Sahut Adrian sementara Elvano yang diam menyaksikan perdebatan antara Ayah dan Kakek mertuanya. 

"Sudah dong Pah!" ucap Dewa sambil mendengus karena kesal pada Ayahnya yang terus menggodanya, sedang Reno tersenyum melihat Ayahnya yang sedang kesal. 

"Kak Bara kapan pulang dari New York Yah?" Tanya Reno menanyakan Kakak Angkatnya. Mia

"Mungkin bulan depan, sekalian mengenalkan calon istrinya," jawab Dewa, Bara adalah putra yang Dewa dan Renata adopsi sebelum Reno lahir karena mereka kasihan pada bayi yang ditinggalkan sang ibu setelah melahirkannya ibu sang bayi meninggal dunia. 

"Wah mau dapat kakak ipar lagi nih aku sebentar lagi," Ucap Reno sambil tersenyum lebar, dan dijawab anggukan oleh sang Ayah. 

"Hayo pada ngomngin apa nih?" tanya Renata yg baru datang dan bergabung. 

"Nggak kok bun, cuma lagi ngomongin kak Bara yang mau bawa calon kakak ipar pulang dari New York," sahut Reno. 

"Oh gitu, oh ya makanan udah siap tuh ayo kita makan," ajak Renata, lalu Adrian, Elvano dan Reno pun kini menuju ruang makan, sementara Dewa masih terduduk disofa. 

"Kenapa?" Tanya Renata yang melihat suaminya masih terduduk disofa. 

"Tidak ada apa-apa, hanya aku tidak percaya kalau putra kita dan putri kita sudah besar yah sekarang, padahal aku merasa baru kemaren menggendong dan menimang Mereka juga mengajak main bola dihalaman," Ucap Dewa, membuat Renata tersenyum lalu duduk disamping Dewa, dan mengenggam tangan Dewa

"Aku juga merasa seperti itu mas, cepat sekali waktu berlalu, sekrng usia Reno sudah 25 tahun, tapi dia sudah mapan dan sukses cuma sayangnya dia blm membuka hati untuk gadis lain, dia masih saja berharap pada Alya, kita sebagai orang tua hanya bisa bersabar, menunggu Reno membawa seorang gadis untuk menjadikannya menantu kita, kita tidak boleh menjodoh-jodohkan kan dia karena aku takut dia tidak akan bahagia, sudahlah sekarang ayo kita makan, aku membuat makanan kesukaan mu," Ucap Renata, Dewa pun mengecup Tangan istrinya dengan lembut penuh kasih sayang. 

"Benarkah? Ayo mas juga sudah sangat lapar," Ucap Dewa lalu mengikuti Renata menuju ruang makan, kini mereka pun makan malam bersama-sama. 

"Bun, tolong bungkusin buat aku bawa pulang ya," Ucap Reno. 

"Emang kamu mau makan lagi Sayang?" tanya Renata pada putranya yang tumben-tumbenan meminta untuk dibungkuskan makanan. 

"Kakak gak nginep disini?" Tanya Inna yang memang masih merindukan sang kakak kesayangannya itu, maklum lah 5 tahun dan jarang bertemu karena itu lah dia sangat merindukan kakaknya itu. 

"Nggak Inna, kakak harus membereskan apartemen kakak," Jawab Reno

"Buat Calon mantu kakek Ren? Beres-beres atau nemenin asisten cantikmu Ren," goda sang Kakek yang senang menggoda Reno, tapi membuat Renata mengernyit kan keningnya. 

"Menantu?" tanya Renata menatap Dewa lalu Reno, Dewa hanya menggedikkan bahunya. 

"Enggak kok Bun, cuma asisten baru di apartemen Reno aja, Bunda jangan salah paham," Ucap Reno. 

"Awas ya kalau bikin malu keluarga," Ucap Renata dengan tatapan tajam, sedang Dewa hanya terkekeh melihat Renata yang kini menatap putranya dengan tatapan tajamnya. 

"Udah ah bun, Reno pulang dulu," Ucap Reno lalu pamit pada semua keluarganya, sedang Renata menyiapkan makanan untuk Reno bawa pulang. 

"Bawa ini, Nak. Berikan juga asistenmu itu," Ucap Renata dengan tersenyum. 

"Baik Bun, oh ya Inna kalau nanti tidak ada kuliah kamu mampir ke apartemen kakak yah, ini alamatnya," Ucap Reno dan Inna pun menerima kertas alamat apartemen kakaknya itu, kini Reno pun pergi meninggalkan rumah keluarganya untuk kembali ke Apartemennya.

*****

Kini Reno pun sampai di apartemennya, ia pun masuk ke apartemennya. Namun, tiba-tiba dia mendengar tangisan seseorang di dapur, Reno pun langsung menuju kedapurnya. 

"Ya ampun Ellin, apa yang kamu lakukan pada Dapurku? Ya Tuhan Dapurku jadi seperti kapal pecah dan makanan itu terbuang sia-sia!" Teriak Reno yg melihat dapurnya berantakan dan telur yang sudah gosong juga ikan yg dipotong tak berbentuk oleh Ellina. 

"Huaaaaaaa, aku kan sudah bilang aku tidak bisa masak tuan, tapi kau memaksa ku untuk tetap memasak hiks..hikss," Ucap Ellina sambil terus menangis. 

"Ya Tuhan, kenapa hidupku jadi seperti ini," Ucap Reno sambil mengusap kasar wajahnya. 

"Maaf tuan hiks...," Ucap Ellina sambil tetap menangis dan kali inj makin kencang.

"Sudah jangan menangis terus, sekarang rapikan dapurnya, dan istirahat lah,” perintah Reno yang gemas sekaligus kesal melihat Ellina yang persis seperti anak kecil saat menangis seperti itu.

"dasar gadis bodoh, pasti dia sangat manja sampai tidak bisa masak karena terlalu dimanjakan," Gumam Reno. 

"Tuan," Panggil Ellina

"Apalagi hah!" Bentak Reno. Terlihat sangat ketus. 

"Aku lapar tuan, seharian ini belum makan apa-apa,” Sahut Ellina dengan wajah memelas. 

"Hadeh gadis ini benar-benar membuat ku kesal! Ya sudah makanlah setelah kau membereskan semuanya, makanannya ada diruang tamu, dan kamarmu disebelah ruang TV, setelah semuanya beres istirahat lah, jangan lupa besok kau bangun pagi-pagi untuk merapikan Apartemenku, aku juga lelah ingin istirahat," Ucap Reno. 

"Baik Tuan," Sahut Ellina, lalu mengambil makanan di ruang tamu dan memakannya dengan lahap karena memang dia sangat lapar. 

"Makanannya sangat lezat seperti masakan rumahan, aku jadi rindu mamaku," Ucap Ellina. Lalu setelah dia makan, Ellina pun merapikan dapur yang dia berantakan dan setelah itu dia pergi ke kamar yang ditunjukkan oleh Reno untuk beristirahat.

Bersambung

Bab 3

Waktu sudah menunjukan pukul 8 pagi, Reno pun sudah bangun dari tidur lelapnya, dia kini keluar dari kamarnya. Namun dia melihat apartemennya masih sepi dan sepertinya belum ada yang membersihkan ruangan apartemennya itu. Reno terlihat kesal lalu dia menuju kamar tamu untuk membangunkan Ellina, karena dia yakin gadis itu pasti belum bangun.

Dok... Dok... Dok...

"Ellin, bangun kamu...!" Teriak Reno sambil menggedor-gedor pintu kamarnya dengan kesal.

Ellina pun akhirnya keluar dengan baju yang dia pakai kemarin, karena memang dia tidak memiliki baju, tidak ada satu pun bajunya yang tersisa akibat kopernya hilang dibandara.

"Ada apa sih? Ini masih pagi, sudah gedor pintu kayak penagih hutang aja," Ucap Ellina. Tanpa merasa bersalah sedikit pun, dan lebih parahnya dia menguap di depan Reno. Dan itu membuat Reno geram dan menarik tangan Ellina untuk keluar dari kamarnya.

"Kau bilang ini masih pagi, lihat jam berapa sekarang?! Kau disini untuk bekerja bukan untuk tidur," ketus Reno menyadarkan Ellina karena saat Reno menemuinya tadi nyawanya masih belum terkumpul antara sadar dan tidak.

"Ma-maaf tuan, aku lupa kalau aku sekarang tinggal dirumahmu. Soalnya kalau dirumah aku bangun tidur jam 10 pagi kalau tidak ada jadwal kuliah hehe, oh iya tuan aku tidak punya baju ganti, kalau boleh tolong belikan aku beberapa pakaian tuan," Ucap Ellina tanpa  rasa malu sedikit pun.

"Astaga gadis ini benar-benar membuatku tidak waras! Bunda apa salah ku? Kenapa aku bisa bertemu gadis konyol dan menyebalkan seperti dia," Ujar Reno sambil mengusap kasar wajahnya yang terlihat frustasi karena menghadapi gadis seperti Ellina.

"Please tuan boleh ya? Aku tidak punya baju ganti lagi soalnya, nanti kalau aku tidak pakai baju disini bahaya loh tuan," Ucap Ellina lagi kali ini dengan memohon dan sedikit memaksa dengan ucapan konyolnya.

Mana berani dia tidak memakai baju dihadapan seorang pria, dia mengatakan itu hanya untuk menggertak Reno saja, agar mau membelikan baju untuknya.

Ellina, Ellina memang si gadis konyol yang tidak tahu malu.

"Tuhan ampunilah dosaku jika aku mempunyai kesalahan, kenapa kau menghukumku dengan kesialan seperti ini," Gerutu Reno lagi-lagi sambil mengusap kasar wajahnya.

"Banyak beramal pada yang membutuhkan, pahalanya besar loh tuan. Nanti tuan bisa masuk surga," ucap Ellina lagi namun kali ini dengan wajah seriusnya sambil menatap wajah Reno.

"Baiklah-baiklah, sekarang kamu mandi lalu bersiap, setelah itu kita beli baju untukmu," Ucap Reno. Dengan pasrah dari pada harus mendengar perkataan Ellina yang bisa membuatnya pusing kepala nantinya, lalu dia pun kini pergi ke kamarnya  untuk bersiap mengantar Ellina ke toko baju.

Beberapa menit kemudian, Ellina pun sudah selesai bersiap, begitu pun dengan Reno yang kini sudah tampil gagah dan tampan, lalu Reno pun menatap Ellina yang kini sedang bengong sambil menatap Reno membuat Reno risih karena terus ditatap oleh Ellina.

"Wah, kalau seperti ini dia memang sangat tampan," Ucap Ellina dalam hatinnya, sambil terus menatap kearah Reno.

"Hey kau! Hey kenapa malah bengong hah?!" Ucap Reno sambil mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Ellina yang terlihat sedang melamun.

"Eh, iya tuan ada apa?" Sahut Ellina bertanya yang mulai tersadar dari lamunan nya.

"Nanti setelah aku belikan baju, kau buang baju menjijikkanmu itu, lihat bajumu sudah sangat kotor," Ucap Reno.

"What! Tidak mau tuan ini baju kesayanganku, aku akan mencuci dan menyimpannya. Aku tidak akan pernah  membuangnya sampai kapan pun," Tolak Ellina, kali ini tanpa rasa takut sedikit pun pada Reno.

"Astaga kau benar-benar membuatku gila nona Ellina! Ter-se-rah. Terserah kau saja," geram Reno sambil memijat pelipisnya yang sudah benar-benar pusing karena selalu dibuat kesal oleh Ellina, dan akhirnya Reno dan Ellina pun menuju kesebuah butik ternama di Jakarta. 

 *****

Setibanya disebuah butik Ellina langsung nyelonong masuk tanpa disuruh, Reno hanya bisa menggelengkan kepala dan mengelus dada dengan kekacauan apa yang akan terjadi didalam butik itu nanti, dia melangkahkan kakinya dan matanya terbelalak saat Ellina malah tengah asyik memilih baju-baju yang bermerk, tentu saja Reno tidak percaya karena gadis yang terlihat polos begitu lihai dalam memilih barang dan baju bermerk, tentu saja karena sebenarnya Ellina bukan anak dari kalangan biasa-biasa saja, dia seorang putri dari pengusaha yang sukses di London dan ibunya pun seorang dokter Psikolog ternama di London. Dan Ellina pergi ke Indonesia, dia hanya ingin bertemu kerabatnya dan menikmati hadiah liburan dari orang tuanya karena Ellina sudah lulus kuliah dan dia pun seorang dokter anak. Jika kemalangan tidak menimpanya mungkin saat ini dia sedang duduk manis disebuah villa di Bali karena itu tujuan Ellina. Tapi sayang kemalangan menimpanya, dan akhirnya mempertemukannya dengan pria yang kini menjadi majikannya itu.

"Hey kemari lah, apa ini cocok untukku?" Panggil Ellina bertanya pada seorang pelayan butik itu sambil menempelkan dress becorak bunga-bunga ditubuhnya.

"Cocok nyonya anda terlihat sangat cantik, dan suami anda sangat tampan sekali ya nona," Ucap pelayan butik itu, sementara Reno hanya duduk di sebuah sofa dan menatap malas pada Ellina, yang masih memilih beberapa baju, tiba-tiba tanpa diduga dari dalam sebuah ruangan, seorang gadis dan bersamaan dengan seorang pria baru keluar dari ruangan membuat mata Reno membulat seketika.

"Alya!" Ucap Reno. Lalu Reno berdiri mematung sambil menatap gadis yang bernama Alya itu.

"Ren, kamu disini?" Tanya Alya dengan senyuman manisnya, sementara Reno hanya mentap lirih dan hatinya seakan hancur berkeping-keping setelah melihat Alya dengan pria lain.

"Dia siapa?" Tanya Randi. Yang kini merengkuh pinggang Alya.

"Oh dia Reno, temanku. Kapan kamu datang? Dan kamu kesini dengan siapa apa dengan Inna ya Ren?" Tanya Alya. Reno berusaha menahan emosinya, hatinya mencelos melihat kemesraan Alya entah dengan siapa dia? Mungkin saja kekasihnya karena mereka terlihat begitu mesra.

"Hah, tidak aku kesini bersama kekasihku," jawab Reno spontan. Reno langsung mendekati ruang ganti.

"Sayang apa kau sudah selesai, cepat lah keluar, aku ingin mengenalkan mu dengan seseorang," Lanjut Reno dari luar ruang ganti.

"Issshhh..., siapa yang teriak sih? Terus ngapain manggil-manggil sayang segala," Umpat Ellina, lalu dia keluar dengan memakai dress warna biru dongker polos selutut, membuat aura kecantikannya semakin terpancar.

"Ada apa tu-"

belum Ellina menyudahi ucapannya Reno langsung membekap mulut Ellina, membuat Alya dan Randi jg beberapa pelayan bingung dengan kelakuannya.

"Dengar, Hari ini kau harus menolongku kau harus berpura-pura menjadi kekasihku, kalau tidak aku akan membuatmu masuk penjara karena kebohonganmu saat  dibandara aku akan bilang pada mereka kalau kau bukan istriku, setelah itu kau akan dipenjara," ancam Reno berbisik agar tidak kedengaran oleh yang lainnya dan itu  membuat Ellina ketakutan dan langsung mangungguk mengikuti kemauan Reno, kini Reno pun melepaskan bekapannya pada Ellin, dan menghampiri Alya dan Randi.

"Kenapa Ren, dia kenapa?" Tanya Alya sambil menatap Ellina.

"Maaf dia sedang marajuk padaku jadi tadi sedikit berteriak, dia kekasihku, kami berkenalan di London, dan dia kesini untuk bertemu dengan orang tua ku," Ucap Reno memulai kebohongannya, membuat Ellina menatapnya tajam.

"Oh, hay nona kenalkan namaku, Alya temannya Reno," Ucap Alya sambil mengulurkan tangannya dengan senyuman manisnya.

"Aku Ellina, panggil saja Ellin," sahut Ellina menjabat tangan Alya dan membalas dengan senyuman yang tak kalah manisnya.

"Ok kapan-kapan kita makan malam bersama yah, mau kan?!" ajak Alya, belum, belum sempat menjawab ucapan Alya, Ellina sudah ditarik oleh Reno kearah kasir untuk membayar baju-baju yg Ellina pilih tadi.

"Aku pergi dulu Alya, sedang buru-buru soalnya," Ucap Reno sambil menarik tangan Ellina keluar dari butik.

"Teman mu aneh sekali Alya," Ucap Randi yang melihat tingkah Reno yang membuatnya bingung.

"Sudah lupakan tentang Reno, kita kan ada acara harus bertemu beberapa desainer lain, nanti kita terlambat," sahut Alya, lalu mengmbil Tasnya diruangannya.

"Iiiihh...! Lepasin sakit tahu nggak, bisa gak sih nariknya pelan-pelan jangan kasar kayak gini, kamu tuh benar-benar yah, selalu membuatku kesal dan terpojok," protes Ellina sambil mengelus lengannya yang Reno tarik kasar tadi.

"Sudah jangan banyak bicara, masuk ke mobil! Aku akan membawamu pada seseorang yang akan mengajarimu memasak agar dapurku tidak berantakkan lagi," Ucap Reno. Yang kini sudah menuju ke pintu masuk mobil.

"Tapi kan ini baru jam 9 masih pagi tuan, tidakkah kau memberikan aku sarapan lebih dulu," Ucap Ellina dengan wajah memelas.

"Masuk, nanti kau akan mendapatkan makanan  disana, dasar gadis aneh, cantik-cantik tapi aneh dan selalu membuatku kesal," Ucap Reno sambil mulai melajukan mobilnya setelah Ellina duduk disampingnya.

"Aku memang cantik tuan, kau baru sadar kalau aku cantik, kau tahu saat aku masih kuliah dulu banyak yg tergila-gila padaku tapi tidak ada yang membuatku tertarik, aku ingin mencari suami yg berasal dari Indonesia, karena aku ingin menetap di Indonesia," Ucap Ellina sambil tersenyum.

"Bisa tidak kau diem saja!!, tutup mulutmu, kau tahu ocehan mu membuatku tidak bisa konsentrasi menyetir," Ucap Reno membuat Ellina seketika menghentikan ucapanya, Reno pun kembali fokus menyetir mobilnya.

*****

Kini Reno pun sampai di rumah orang tua Reno, dia pun memencet belnya beberapa kali sampai akhirnya Inna membuka pintunya, dan saat membuka pintu, dia sangat terkejut melihat seorang gadis yg mirip sekali dengan ibunya.

"Kakak jadi ini yang bernama kak Alya?" tanya Inna pasalnya Reno belum pernah membawa Alya kerumahnya, hanya namanya saja yang keluarganya kenal sedang orangnya belum pernah dipertemukan karena Reno tidak berani mengajak Alya untuk bertemu kaluarganya karena gadis itu hanya menganggapnya teman.

"Kok mirip banget sama Bunda sih kak? Kayak Duplikat Bunda aja," Sambung Inna, membuat Ellina mengerenyitkan keningnya, dia ingat nama Alya adalah pemilik butik tempat dia berbelanja baju tadi.

"Diem kau anak kecil, dia bukan Alya namanya Ellina dia asistenku yg akan membersihkan apartemen dan memasak untukku," Ucap Reno dengan exfresi datarnya.

"Hay kak Ellina, maaf ya aku kira nama kakak, kak Alya," Ucap Inna dengan senyuman manisnya.

"Iya gak apa-apa, panggil aja Ellin," sahut Ellina sambil tersenyum pada Inna yang adalah ddik Reno.

"Iya kak Ellin, kak Reno sayang banget loh dia cuma dijadiin asisten, terlalu cantik, pantasnya jadi kakak iparku saja," goda Inna sambil terkekeh saat melihat ekspresi wajah kakaknya itu.

"Diam kau bocah, Bunda ada gak?" Tanya Reno yang sudah kesal dengan ocehan adiknya itu.

"Ada dia hari ini tidak kerumah sakit kok," Ucap Inna sambil tersenyum.

"Kebetulan kalau gitu, ayo masuk kau harus belajar memasak pada Bunda ku, agar Dapurku tidak berantakan dan makananku tidak terbuang sia-sia, Inna tolong kau panggil Bunda," Ucap Reno lalu masuk diikuti oleh Ellina.

"Kini semua keluarga sudah berkumpul diruang keluarga, mereka menatap Ellina lalu menatap Renata, mereka tidak percaya ada yg sangat mirip dengan Renata, bisa dibilang Ellina benar-benar seperti duplikat Renata, dia seperti Renata saat masih remaja namun yang ini lebih modern dan pakaiannya lebih modis, Dewa yang memang belum pergi kekantor hanya bisa melongo karena ada yang bisa menandingi kecantikan Renata istri tercantumnya..

"Hey kalian kenapa segitunya melihat dia? Nanti dia nangis loh, aku kesini membawanya, agar Bunda mengajarkannya memasak, bukan untuk menatapnya seperti itu kalian tahu dapur ku berantakan karena dia untung saja tidak kebakaran, Bun tolong ajari dia memasak, aku harus melihat kantor baruku, nanti kalau sudah selesai aku akan menjemputnya kesini nanti," Ucap Reno lalu dia terkejut karena keluarganya masih menatap Ellina.

"Hey kalian denger gak sih apa yang aku bilang?!" Ucap Reno setengah berteriak, dan akhirnya menyadarkan mereka semua dari keterkejutannya.

"Iya Ren, Bunda pasti ngajarin dia masak, Siapa nama kamu, Nak?" Tanya Renata sambil menatap lembut kearah Ellina.

"Ellina Tante," Ucap Ellina sambil tersenyum.

"Uuuuh manis banget sih kamu sayang" Ucap Alena

"Iya manis banget, boleh gak kalau jadi calon menantu Aditama?" Tanya Ara

“Nenek, jangan mulai yah," Ucap Reno memprotes ucapan Ara nenek nya.

"Iya, kakak juga setuju dengan apa yg nenek mu katakan, habis dia imut dan gemesin banget sih," sahut Alena dengan tersenyum manis pada Ellina

"Kakak," Rajuk Reno. Pada sang kakak

"Sudahlah, aku pergi dulu kalau tetap disini aku bisa gila, tolong ajarkan dia memasak," Ucap Reno lalu pergi meninggalkan keluarganya, sementara keluarga nya tertawa melihat Reno yg kesal karena ulah mereka, sedang keluarganya bukan langsung mengajari Ellina memasak mereka malah mengajaknya sarapan sambil mengobrol untuk mengorek informasi lebih dalam tentang jati diri Ellina yang sebenarnya, setelah para pria pergi kekantor, dan akhirnya setelah tahu lebih dalam tentang diri Ellina, Renata, Alena dan Aina pun mengajari Ellina memasak, sedangkan Inna pergi ke kampusnya jadi tidak bisa ikut mengobrol bersama mereka.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED