Dua detik kemudian, Gabriella keluar dengan tampang tanpa dosa. Sudut bibirnya sampai berkedut karena menahan tawa. “Ada apa, Tuan?” tanyanya sambil menaikkan alis.
“Air! Berikan saya air!” pinta pria yang masih kewalahan dengan sensasi terbakar di dalam mulutnya.
“Air? Bukankah saya sudah menyediakan segelas air?” timpal gadis yang hendak berjalan mengambilkan gelas.
Belum sempat Gabriella melangkah, tangannya sudah lebih dulu dicengkeram oleh sang CEO. “Berhenti mempermainkan diriku! Sekarang juga, cepat berikan saya air murni! Bukan air garam!”
Tanpa terduga, gadis bertampang lugu itu mulai tertawa. Ketika ia berhenti, ketegangan langsung melapisi wajahnya.
“Maaf, Tuan, tapi hanya itu yang bisa saya sajikan untuk Anda. Kalau Tuan ingin meminum air segar, sebaiknya Anda cepat pergi dari rumah ini dan belilah air di warung terdekat. Ck, andai saja warung di ujung gang itu masih ada, Anda dapat membeli air minum di sana. Sayang sekali, warung itu sudah menjadi puing-puing sekarang.”
Max tidak dapat lagi menahan marah. Napasnya telah bergemuruh dan tangannya ingin sekali mencengkeram kerah baju gadis di hadapannya. Ia belum pernah direndahkan seperti itu.
“Jadi, Anda tidak mau memberikan saya air?” tanyanya dengan nada rendah dan tertekan. Mata tajamnya sesekali melirik ke arah bibir sang gadis yang melukiskan penghinaan.
Gabriella menggeleng tanpa keraguan.
“Apakah Anda menderita? Seperti itulah rasanya saya menyaksikan tempat ini diratakan dan malangnya, saya tidak bisa mencari air seperti Anda.”
Helaan napas kesal lolos dari mulut Max. “Jadi, Anda ini orang yang pendendam? Baiklah, saya mengerti sekarang. Kita harus membalas perlakuan orang lain terhadap kita,” angguk pria itu dengan mata membara.
“Syukurlah kalau Anda paham. Sekarang, tunggu apa lagi? Bukankah Anda harus segera mencari air?”
Max menggeleng cepat dan mendenguskan tawa. “Apakah Anda tidak sadar? Saya sudah menemukan sumber air terdekat di sini.”
Mata Gabriella membulat. “Di sini? Di mana?” Gadis itu celingak-celinguk memeriksa kondisi sekitar. Seingatnya, ia telah menyimpan semua persediaan air minum di dapur.
“Di sini.” Sang CEO mengangkat dagu Gabriella agar dirinya bisa mengisap saliva dari sang wanita.
Napas Gabriella seketika tertahan. Pelupuknya bergeming sementara bola matanya bergetar. Sekujur tubuhnya tidak mampu digerakkan. Selama beberapa detik, gadis itu membiarkan lidah sang pria menguasai mulutnya. Begitu kesadaran kembali, barulah tangannya mendesak dada Max menjauh dan tak segan menampar laki-laki itu.
“Kau gila!” umpat Gabriella sembari mengelap bibir yang terasa kotor. “Beraninya kau menciumku!”
“Kenapa? Bukankah Anda yang meminta saya mencari sumber air terdekat?” timpal Max sambil mengangkat pundak dan tangan. Mulutnya yang sedikit menganga masih berdenyut-denyut karena rasa pedas.
“Menjijikkan! Aku bilang air, bukan kesempatan.” Sang gadis meringis dan melangkah menuju dapur.
Setelah pintu terbuka oleh anak kunci dari saku celananya, Gabriella mengambil segelas air lalu menenggaknya. Akan tetapi, hingga tetes terakhir pun, rasa terbakar masih bersisa di lidahnya.
“Sekarang Anda bisa merasakan penderitaan dari kopi dan air garam yang Anda buat sendiri.”
Mata sang gadis langsung tergerak mengikuti sumber suara. “Kenapa kau masih di sini? Bukankah aku sudah menyuruhmu keluar?”
“Urusan kita masih belum selesai, Nona. Lagipula, Anda masih belum memberi saya air.” Max melirik ke arah gelas di tangan sang gadis lalu beralih ke galon air.
Mata Gabriella berkedip-kedip tak percaya. “Kau masih berani meminta dua hal itu kepadaku? Setelah apa yang kau lakukan padaku?”
“Bukankah saya sudah membayarnya?” ucap sang CEO dengan santai. Lawan bicaranya sampai tersentak oleh kebingungan.
“Saya sudah membayarnya dengan ini. Tamparan Anda sudah cukup kuat untuk membuat kita impas.” Telunjuknya mengarah ke cap lima jari di pipi.
“Tunggu dulu! Apakah Anda ini benar-benar karyawan di Quebracha Company? Orang yang tidak bermoral dan berotak dangkal seperti Anda mustahil bisa diterima bekerja di perusahaan sebesar itu.”
Desis di mulut sang CEO sontak berubah menjadi tawa hambar.
“Apa itu barusan? Anda mengatakan saya tidak bermoral dan berotak dangkal?”
“Ya! Kalau kau memiliki moral dan otak, tidak mungkin kau masuk ke rumah orang, menimbulkan keributan, lalu mencium gadis yang bahkan belum kau kenal.” Mata sang gadis mulai mengobarkan kemarahan.
“Maaf, Nona. Sepertinya Andalah yang berotak dangkal. Saya datang ke sini baik-baik, tapi Anda malah memancing keributan.”
Gabriella kini menggeleng-geleng tak habis pikir. “Susah sekali bicara dengan orang berotak udang seperti ini.”
“Benarkah? Bukankah Anda yang berotak udang? Mana ada orang cerdas memasukkan sebotol bubuk cabai ke dalam kopi?” Sorot mata Max tertuju pada wadah kecil yang sudah kosong dengan segel plastik masih berantakan di sampingnya.
Alih-alih merasa bersalah, Gabriella malah mendengus dan melipat tangan di depan dada. “Ck, seharusnya saya memasukkan dua botol ke dalam kopi tadi.”
Tiba-tiba, sang CEO melangkah cepat dan mendesak gadis itu hingga terpojok ke lemari dapur. Dengan mata yang membara, ia memangkas jarak pandang di antara mereka. Gabriella refleks menutup mulut dengan kedua tangan, takut jika pria itu kembali nekat menciumnya.
“Sepertinya, Anda ini wanita yang kurang berhati-hati, ya? Di rumah terpencil dan sepi ini, Anda berani menantang seorang laki-laki,” bisik Max dengan lengkung bibir misterius. Perubahan sikapnya itu sukses menundukkan kepala sang gadis. Namun, mata bulat Gabriella tetap mengintip.
“Apa yang mau kau lakukan? Jangan macam-macam!”
Max pun menyeringai dan memagari gadis itu dengan kedua tangannya. “Saya hanya meminta dua hal. Tanda tangan Anda di kontrak itu dan air. Anda tidak diam-diam berharap saya akan mencium Anda lagi, kan?” ucap pria itu mengintimidasi.
Belum sempat Gabriella memikirkan jalan keluar, tangan sang pria sudah lebih dulu menyentuh pinggangnya. Mata bulat gadis itu sontak memancarkan ketakutan. Dengan satu gerakan, ia mendesak gelas dalam jangkauannya ke dada sang CEO.
“Ini gelas favoritku. Jangan kau rusak!” ucapnya dengan suara tercekik.
Senyum Max perlahan kembali terbit. “Terima kasih.” Ia pun mengambil air dan minum sepuasnya.
Setelah Gabriella terbirit-birit keluar dari dapur, barulah pria itu leluasa mengamati dapur yang minimalis.
“Apakah dia memang tinggal sendiri?” batin Max ketika melihat hanya ada satu set peralatan makan di rak piring. Sedetik kemudian, ia memperhatikan gelas berbentuk beruang kutub di tangannya.
“Pantas saja ini gelas favorit,” cibirnya sembari meletakkan satu-satunya gelas yang terlihat itu di atas rak.
“Ini kontrak yang kau mau. Sekarang pergilah!” usir Gabriella setelah mendesak map ke dada sang pria.
Alih-alih mengangkat kaki, Max malah membuka map. Begitu melihat apa yang telah dilukis oleh si tuan rumah, senyum jengkel langsung tersungging di wajahnya.
“Anda benar-benar menganggap saya orang bodoh?” ujar sang CEO dengan penuh penekanan. Tidak ada lagi kesabaran yang tersisa dalam dirinya. “Anda pikir, saya percaya bahwa ini tanda tangan Anda?”
Dua bulatan kecil yang menyerupai mata dengan satu garis lengkung yang mirip senyuman kini dihadapkan ke depan wajah Gabriella.
“Ya, memang itulah tanda tanganku. Emotikon smiley.”
Darah Max seketika mendidih dan mengepul di kepalanya.
“Jadi, Anda bersungguh-sungguh tidak ingin menandatangani surat ini?” tanya Max sambil menahan gemuruh napasnya.
“Apa maksudmu? Aku sudah menandatangani surat itu,” sahut Gabriella dengan alis berkerut. Nada bicaranya tidak lagi sopan kepada pria itu.
“Oke! Jangan salahkan saya jika hal buruk terjadi pada rumah Anda.”
“Apa kau sedang menyumpahiku? Aku sudah menandatangani surat itu. Kalian tidak boleh mengusik rumah ini lagi.”
“Selamat siang!” Max pergi usai melampiaskan kekesalannya lewat kata-kata. Tidak biasanya pria itu gagal mengendalikan emosi.
“Perempuan itu tidak normal,” umpat sang CEO begitu masuk ke mobil. Laki-laki di balik kemudi langsung menoleh ke arahnya.
“Tidak normal bagaimana?”
“Bayangkan saja, dia memberiku kopi pedas dan air garam. Dia bahkan tidak memberiku air untuk mencuci mulut,” cerita Max dengan raut sebal.
“Benarkah? Lalu, dengan apa kau mencuci mulut?”
Kedipan mata sang CEO sontak tertahan. Lembutnya bibir yang tadi ia kecup masih terbayang-bayang dalam benaknya. Setelah mengerjap kuat, ia menyodorkan map kepada si sekretaris.
“Sudahlah, jangan membahas tentang itu lagi. Yang penting, kita berhasil mendapatkan tanda tangan gadis itu.”
“Apakah ini tanda tangan yang sah?” Sebastian mendekatkan goresan tinta hitam itu ke matanya.
“Sudah kubilang, dia itu perempuan aneh. Sekarang, ayo kita berangkat! Agendaku jadi tertunda karena gadis keras kepala itu.”
Sambil menahan senyum, sekretaris yang merangkap sebagai sopir pun menancap gas. Mereka pergi meninggalkan seorang gadis yang sedang mengintip dari balik jendela.
“Itulah akibatnya kalau berani macam-macam dengan Gabriella,” gumam si tuan rumah dengan bibir mengerucut.
Sedetik kemudian, jemarinya terangkat menyentuh jejak kecupan yang masih terasa hangat. Tanpa sadar, jantungnya kembali berdegup kencang.
“Tapi gara-gara pria itu, aku jadi kehilangan ciuman pertamaku,” gerutunya sambil tertunduk.
“Ah, sudahlah! Untuk apa aku menyesali hal yang telah lalu. Lebih baik aku kembali berlatih untuk kompetisi besok.”
Denting piano pun kembali mengalun. Fokus Gabriella hanya terpaku pada kertas yang penuh dengan barisan not.
“Aku harus mewujudkan impian Mama. Membawa pulang piala itu dan memajangnya di ruang tamu.”
Keesokan harinya, gadis itu pulang dengan wajah semringah. “Mama pasti senang karena aku berhasil lolos di ronde pertama,” gumam Gabriella di sepanjang jalan.
Dengan langkah ringan, ia masuk ke gang menuju rumahnya. Reruntuhan di kanan dan kiri tidak lagi mengusik pikiran. Hatinya telah didominasi oleh perasaan bahagia.
Hingga pada suatu titik, langkah Gabriella terhenti oleh keterkejutan. Senyum di wajahnya seketika berganti menjadi teriakan.
“Jangan!”
Gadis itu berlari tanpa memedulikan gaunnya tersibak angin. Sesekali, langkahnya terhalang oleh kain, tetapi ia tidak boleh berhenti.
“Kumohon, jangan!” teriak Gabriella ketika lengan ekskavator menghancurkan atap rumahnya. Air mata tidak lagi bisa dibendung.
“Hentikan! Jangan hancurkan rumahku!”
Sia-sia. Alat berat terus merobohkan dinding rumahnya. Setengah dari bangunan itu telah menjadi reruntuhan.
“Tidak ... tidak!” teriak gadis yang hampir tiba di pekarangan rumah. Namun malang, dua orang pekerja mencegat langkahnya.
“Jangan ke sana, Nona! Berbahaya!”
“Tapi itu rumahku! Kenapa kalian menghancurkannya?”
“Maaf, Nona. Kami diperintahkan untuk menghancurkan semua rumah di area ini.”
“Tidak dengan rumahku! Aku bahkan tidak sepakat untuk menjualnya! Lalu, apa yang kalian lakukan ini? Apa?”
“Maaf, Nona.” Dua orang pekerja itu menyeretnya menjauh.
“Tidak! Lepaskan aku! Berhentilah!”
Gabriella terus meronta, tetapi dirinya tetap dipaksa menjauh dari monster kuning yang tak kenal ampun.
“Kumohon ...” erangnya lirih.
Malangnya, si penggaruk tetap melanjutkan pekerjaan. Monster kuning itu tidak mengerti bahwa setiap ia merobohkan sebelah dinding, hati Gabriella ikut berserakan.
“Rumahku ....”
Suara Gabriella ikut menghilang bersama asa. Gadis itu tidak punya lagi kekuatan untuk berdiri. Sambil terduduk di pinggir jalan, ia menyaksikan rumahnya diratakan dengan tanah. Tak ada kata yang sanggup diucapkan. Gabriella hanya mampu menangis dan menangis.
***
“Permisi, Tuan.” Sebastian melangkah masuk ke ruangan Max.
“Ada apa, Bas? Kenapa kau terdengar serius sekali?” tanya sang CEO dengan tatapan melekat pada dokumen di meja.
“Saya baru mendapat laporan. Rumah gadis itu telah dirobohkan.”
Gerak pena di tangan Max spontan tertahan. Setelah menegakkan kepala, pria itu berkedip tegas. “Apa katamu?”
“Rumah Gabriella baru saja dirobohkan. Seseorang telah mengirimkan perintah yang salah menggunakan surel dari kantor kita.”
Max pun terpejam dan menekan pelipisnya dengan sebelah tangan. “Siapa itu? Siapa yang berani mengirimkan perintah itu?”
“Maaf, Tuan. Perintah itu dikirim melalui surel Anda.”
Sang CEO terbelalak. Dengan alis tertarik oleh kening, ia menatap sekretarisnya lekat-lekat. “Surel saya?”
“Ya, Tuan,” sahut Sebastian tak berani membalas pandangan sepupunya.
Max menyandarkan punggung ke kursi empuknya. Setelah mencerna informasi itu dengan saksama, tawa hambarnya terdengar putus asa.
“Ternyata dugaanku benar. Ada yang tidak beres dengan rumah itu. Lalu, bagaimana dengan perempuan itu? Apakah kau sudah menerima kabar tentangnya?”
“Sampai saat ini, belum ada kabar yang berarti. Gabriella terus menangis meratapi puing-puing rumahnya.”
Telunjuk sang CEO mulai mengetuk-ngetuk meja. “Apa yang akan perempuan aneh itu lakukan? Apakah dia akan mengamuk di depan media? Atau menuntut kita lewat jalur hukum?”
“Maaf, Tuan. Saya masih harus mengurus hal lain. Kita harus segera menemukan orang yang mengirimkan perintah palsu itu. Permisi.”
Sebastian membungkuk sedikit lalu melangkah pergi, meninggalkan Max dengan puluhan skenario dalam otaknya.
“Apa yang akan perempuan itu lakukan?” gumam sang CEO tak kunjung menemukan terkaan yang bagus. Segala sesuatu tentang Gabriella tampak rumit dan sulit diprediksi.
“Apa yang harus kulakukan?” gumam seorang gadis yang duduk di dekat reruntuhan rumahnya. Ia sudah berkeliling memeriksa puing-puing. Tidak ada satu pun benda yang terselamatkan.
Foto ayah dan ibunya, gelas yang ia dapat di ulang tahun ke-10, dan bahkan boneka beruang kutub yang selalu menemaninya tidur. Kenangan indah seakan ikut hancur bersama barang-barang itu.
“Apa yang harus kulakukan?” ulang Gabriella yang sesungguhnya hanya bicara. Otaknya terlalu lelah untuk mencari jawaban.
“Nona ....”
Gabriella menoleh ke samping. Sepasang sepatu lusuh masuk dalam bingkai pandangnya. Dengan tenaga yang tersisa, ia mendongak menatap laki-laki yang memegang helm proyek dengan kedua tangannya.
“Maaf, Nona. Sampai kapan Nona mau duduk di sini? Hari sudah hampir gelap. Kami harus pulang. Tidak baik jika seorang gadis sendirian di tempat seperti ini.”
Gabriella kembali tertunduk. Air mata perlahan mulai terbentuk di ujung pelupuknya. Setelah menelan ludah yang terasa tajam, ia menghela napas.
“Kalian masih memiliki rumah untuk pulang, sedangkan aku ... aku tidak punya tempat lagi untuk tinggal.”
Laki-laki yang berdiri di sebelah sang gadis pun meringis. Ia merasa telah salah memilih kata.
“Maaf, Nona. Saya tidak bermaksud menyinggung. Tapi, memangnya Nona tidak punya saudara? Atau keluarga jauh? Tinggallah di rumah mereka untuk sementara waktu.”
Gabriella tidak membalas. Ia terlalu sedih untuk menjelaskan bahwa ia tidak punya siapa-siapa untuk diandalkan.
“Hm, bagaimana kalau Nona meminta pertanggungjawaban kepada pimpinan perusahaan Quebracha? Saya dengar, beliau orang yang bijak dan ramah. Siapa tahu, Nona bisa mendapat kompensasi yang sesuai.”
Tangan Gabriella terkepal erat menggenggam gaunnya. Kemarahan yang teramat besar baru saja terbit dan mengisi tenaganya.
“Percuma saya meminta pertanggungjawaban. Rumah saya tidak akan kembali berdiri.”
“Tapi, setidaknya, Nona bisa mendapatkan uang dan mungkin ... tempat untuk menyambung hidup. Itu jauh lebih baik dibandingkan meratapi nasib seperti ini.”
Gabriella tertegun. Nasihat si pekerja telah meresap dalam otaknya. Apa yang diucapkan oleh pria itu memang benar. Bergerak jauh lebih baik daripada diam. Orang yang telah menghancurkan kenangan dan harapannya tidak boleh dibiarkan menang.
Perlahan-lahan, gadis itu bangkit berdiri.
“Apakah Bapak tahu di mana alamat pimpinan perusahaan yang tidak memiliki hati ini?”
Si pekerja mengangguk.