Tahun 2022...
Seorang pria tampan mengenakan hoodie tebal untuk menutupi tubuhnya yang kekar itu berjalan mengikuti pekerja bangunan dari belakang. Gerak geriknya tampak santai, namun mata elangnya terus mengamati pekerja bangunan yang menggunakan rompi kuning lusuh itu.
Ia sudah lapar. Bukan perutnya yang keroncongan, tetapi jantungnya yang melambat sehingga membuatnya lemas. Pekerja bangunan itu adalah asupannya untuk malam hari ini. Saat ia hendak melangkah, tiba-tiba teleponnya berbunyi dan memunculkan nama ia berdecik lirih.
“Julian? Kamu dimana? Aku butuh diriku ke kantor,” tutur Pak Yoga dengan nada bicaranya yang berisik. Pria misterius bernama Julian itu berbohong jika ia sedang di supermarket untuk keperluan Temmy Curse. Kesenangannya terusik sebentar ketika atasannya itu menelepon dan membeberkan pekerjaan melelahkan itu. Ia ingin senang-senang, sudah hampir 4 bulan ia hanya mengonsumsi darah hewan seperti kelinci hingga kucing. Kapasitas jantungnya kurang penuh jika hanya menghisap darah-darah hewan.
Pasca telepon dari Pak Yoga, Julian berjalan hanya sepersekian detik untuk mendekati pekerja bangunan yang jaraknya 10 meter darinya. Saat pekerja bangunan yang sendirian itu terkejut menyadari kehadiran Julian seperti kilat, pria bertangan dingin itu membungkam mulut mangsanya dengan tangan kiri.
Sementara tangan kanannya memegangi tengkuk leher pekerja bangunan itu dengan sigap. Hampir 3 menit Julian menghisap darah segar itu tanpa ampun. Setiap tetesan yang ia sedot membuat jantungnya terus berdetak kencang hingga menimbulkan satu perasaan paling disukai Julian, yaitu hidup. Mana sudi seorang vampir seperti Julian ingin hidup seperti manusia yang usianya pendek? Hidup itu menyenangkan. Melihat perkembangan zaman yang semakin aneh hingga kembali ke masa orang-orang bodoh tumbuh merupakan kesenangan tersendiri bagi Julian. Julian suka tetap hidup hingga usianya melebihi 200 tahun lagi.
Pria pekerja bangunan itu pun tergeletak lemas dan Julian kembali ke pekerjaannya hendak berniat menemui Pak Yoga di kantornya. Tubuhnya benar-benar bugar sekarang, ia bahkan bisa tersenyum lebar kepada penjual roti di pinggir jalan tanpa perlu sok wibawa.
Setelah pekerja bangunan itu sadar dari pingsannya, ia tidak menyadari jika ia baru saja dimangsa vampir. Namun, tubuhnya tampak aneh karena perlahan dirinya seperti memiliki kekuatan lebih untuk mengangkat benda berat yang biasanya digotong empat orang.
“Hei, sini kubantu.”
“Tidak perlu. Aku mengangkat ini seperti membawa meja makan," ujar pekerja bangunan itu yang kemudian membuat rekan kerjanya terheran-heran.
**
Hiruk pikuk kota Surakasa di hari Senin memang terasa nyata. Tidak seperti di kampung asal Elena yang temtram dan sejuk. Kota metropolitan seperti ini selalu mengandalkan pendingin ruangan di setiap ruangan. Maka tidak heran kalau kota ini menjadi tempat yang paling bergengsi.
Pusat mode, kotanya para artis himgga pusat perbelanjaan semuanya menjadi satu. Semua alat pembayaran didominasi dengan elektronik money.
Dengan langkah panjang, Elena Karenina menapaki jalan trotoar menuju halte bus. Hanya cara itu Elena bisa pergi ke kantor dengan hemat. Memiliki gaji yang tinggi di kota besar juga memengaruhi gaya hidup Elena. Bukannya sok glamor, gaji Elena memang cukup untuk tinggal seorang diri di kota rantau ini.
Saat selesai menempelkan ponsel ke alat pendeteksi tiket bus, Elena duduk di tempat yang kosong. Baru saja mendaratkan bokongnya di atas kursi empuk itu, ponselnya berbunyi.
“Halo, iya Bel? Aa, surat-surat ijin peminjaman properti sudah kusiapkan di mejaku. Coba buka laci kanan mejaku, aku menyimpannya di sana. Apa Pak Yoga sudah menanyainya? Ckck... memang orang itu suka mendahuluiku. Padahal ini masih jam setengah 7 kurang,” tutur Elena mengeluhkan sikap atasannya yang selalu ingin bekerja dengan cepat.
Pasca menerima telepon dari Abel, rekan satu kantornya, Elena pun menikmati perjalanannya seperti biasa. Ia kemudian turun di halte dekat kantor dan berjalan cepat seperti biasa ia lakukan.
“Saya memang suka mendahului.” Elena hampir lompat terkejut ketika seorang pria berbisik dari belakang.
“Pak Yoga! Se..se..selamat pagi, Pak!”
Pria usia 40-an itu nyengir dan terlihat melirik Elena sinis. “Jangan lupa hari ini kamu harus menyelesaikan administrasi yang diminta klien. Temmy Curse adalah andalan kita. Jangan sampai dia lelah bekerja dengan kita yang super lemot,” sindirnya sambil mendahului jalan Elena menuju lift-nya.
Elena mendadak merasa tersindir karena ejekan “lemot”, karena memang benar adanya. Sikap itu melekat pada diri Elena dan rekan-rekannya memahami itu. Namun, dirinya memiliki privilege yang tidak semua orang punya, Elena adalah tipe wanita cantik dan menyenangkan yang bisa membuat siapa saja tersenyum. Bahkan Elena sering menjadi karyawan yang bisa merawat artis dari Lucky Nut Entertainment dengan baik karena sikapnya yang cerewet dan berani menggertak.
“Pagi, Abel!” sapa Elena sambil meletakkan tasnya di atas meja. Pria yang usianya lebih muda dari Elena itu tak menjawab namun menyambutnya dengan wajah cemberut.
“Kita keduluan orang lain, Len.”
Elena membelalakkan matanya. “What? Apalagi ini?” Elena menghampiri meja telepon dan menghubungi perusahaan penyewa properti langganannya untuk pengadaan syuting.
“Halo? Mas, kenapa kita nggak dapat alat-alat untuk syuting lagi seperti minggu lalu? Kemarin siang kan, sudah saya bilang bakal ambil barangnya. Kenapa sudah diambil orang?”
“Mbak Elena, ya? Tadi pagi sudah saya kirimi via Skype. Tapi sepertinya anda tidak membacanya,” tutur pria yang kerap dihubungi Elena.
“Astaga. Bisa begini, ya? Saya kayaknya nggak bakal pinjam barang di sini lagi, deh. Selalu ingkar janji! Selalu mendahulukan Small Hits. Padahal saya sudah booking duluan,” gerutu Elena kesal. Sungguh pagi yang buruk.
“Silakan saja. Salah siapa tidak segera mengirimi berkasnya? Bergerak cepat seperti Small Hits, dong. Memangnya agensi seperti kalian mampu menyewa peralatan syuting semahal ini? Agensi kalian bergabung ke sini karena memang ingin maju,” ejeknya balik. Elena semakin geram dan naik pitam.
“Heh, mas-mas rental barang! Agensi kami boleh kecil sekarang, tetapi lihat tahun depan! Kami akan menjadi top di Indonesia!” Elena mengejek perusahaan yang tidak tahu diri itu. Karena jengkel, Elena membanting gagang teleponnya.
“Pagi-pagi, sudah berisik aja,” tutur seorang pria yang berjalan melewatinya.
“Jangan ikut campur deh manusia kulkas!” lontarnya asal nyeletuk tanpa menoleh pada orang itu. Elena sudah tahu siapa dia, si manusia kulkas Julian Donyoung. Bagaimana tidak, selama dua tahun bekerja bersama pria itu benar-benar irit bicara dan sok cool. Namun, hanya dengan Elena pria tampan tinggi semampai itu berani nyeletuk macam-macam.
“Elena, gimana dong? Besok sudah mulai syuting, nih. Masa kita pakai properti seperti kemarin?” Abel mulai gelisah. Elena juga begitu, tetapi ia berputar keras mencari jalan keluar. Ketika Elena teringat salah seorang kolega yang memberinya informasi bisa menyewakan alat syuting, ia pun bergegas meneleponnya.
Tanpa basa-basi, Elena membawa berkas-berkas administrasi untuk dibawa menuju tempatnya. Namun, ia tak kunjung mendapatkan taksi menuju ke kantor tersebut.
Elena menengok seorang pria jangkung keluar dari kantornya seorang diri. Ada Julian yang terlihat hendak pergi. Kaki jenjang Elena yang kurus seperti kaki bangau itu berjalan menghampiri mobil Julian.
“Julian! Jul, kamu lagi nggak sama Temmy Curse, ‘kan?”
Julian mengerutkan alisnya curiga. “Aku mau antarkan baju untuk dia. Ada apa?”
“Aku nebeng. Ayo! Buruan!” Elena dengan lancangnya masuk ke dalam mobil Julian tanpa mendapat persetujuan si pengemudi. Julian menggigit ujung bibirnya.
“Kamu tahu? Kamu itu orang paling kurang ajar,” kata Julian dingin. Elena nyengir dan meneruskan, “Aku juga orang yang paling mengerti maunya Temmy.” Mulut Julian sibuk sepanjang perjalanan, ia menerima dan menelpon rekan-rekannya untuk mencari dan mencocokkan jadwal syuting Temmy Curse tanpa memedulikan Elena yang juga punya kesibukan tersendiri. Bekerja di dunia entertainment memanglah menyibukkan, dan Elena menyukai itu.
**
Pasca perang klan Oyster dan Donyoung menimbulkan pertumpahan darah, Julian kehilangan ibunya di depan mata kepalanya sendiri. Hingga saat ini, tujuan Julian hidup adalah membalaskan dendam pada Fred dan semua keluarganya. Julian mendengar jika keturunan Fred sampai saat ini masih ada dan tersebar di seluruh dunia.
Usianya sudah 100 tahun, tetapi belum pernah ia bertemu klan Oyster. Livia juga ikut menghilang seiring berjalannya waktu. Louis ada di Kanada bersama Vincent dan nenek Julian, Rexi berdamai dengan kehidupannya di India. Gery menjadi pemburu di Perth, sedangkan Kinnea bersama suami serta keponakannya hidup tenteram di Belanda.
Hanya Julian yang tinggal di negara Asia Tenggara, tepatnya di Indonesia. Dengan wajah khas orang Eropa campuran Asia, tidak sedikit dari orang-orang baru yang menganggap Julian sama seperti ras mereka. Padahal, Julian adalah vampir. Dia anti manusia. Dia terpaksa berbaur karena ingin menyamar mencari Fred dan terutama, Roger, putra sulung pemimpin Oyster yang menjadi dalang pertumpahan darah kaum vampir.
Berdasarkan informasi dari Louis, Roger berhasil menjadi pemimpin kelompok vampir yang bekerja sama dengan manusia. Vampir keturunannya merupakan orang-orang berhasil, ada yang menjadi ilmuwan, ketua komite PBB, hingga menjadi presiden. Namun, presiden itu sudah meninggal 50 tahun yang lalu.
Kini, Julian hanya menikmati aktivitas membosankan layaknya seorang manusia. Bekerja menjadi manajer artis tidak terlalu terkenal membuat hidupnya nyaman sekaligus tetap waspada. Terakhir kali Julian hampir ketahuan menghisap darah manusia yang melakukan kejahatan terhadap seorang wanita tua. Namun, setelahnya ia kembali memakan darah beku hewan-hewan yang bisa ia dapat di pasar tradisional.
“Jul, apa jadwalku minggu depan?” tanya Temmy yang sedang membaca skrip naskah untuk proyek aktingnya. Meski hanya mengambil peran sebagai aktor pendukung, Temmy Curse akhir-akhir ini mendapat perhatian karena perannya.
“Minggu depan kamu hanya menjadi bintang tamu di acara realitas. Setelahnya jadwalmu kosong.”
Temmy berdecik kesal. “Aku sangat sering menganggur, ya. Andaikan aktor terkenal bisa merasakan jadwal kosong sepertiku,” ungkap Temmy.
Julian terkekeh, ia tahu maksud Temmy adalah menyindirnya. Padahal, menurutnya usaha yang selama ini dikerjakan sudah keras. Julian bahkan menelpon beberapa kru TV untuk menanyai pekerjaan apa yang bisa diambil Temmy.
Tak lama setelah mempersiapkan kebutuhan Temmy, Julian mengawasi artisnya itu dengan baik. Saat asyik melihat, tiba-tiba saja Elena masuk bersama rekan sejolinya pria lembut bernama Abel yqng selalu berada di belakang Elena. Keduanya mondar-mandir di belakang Julian, tampak sibuk dengan pekerjaan mereka. Memang seharusnya begitu tim kreatif di sebuah agensi dituntut untuk terus bergerak memberikan inovasi terbaru para artisnya. Apalagi Temmy Curse satu-satunya aktor yang paling diandalkan dari perusahaan ini.
Jika itu membicarakan tentang Elena, Julian tidak banyak bicara. Wajah wanita cerewet itu sangat mirip dengan Corry. Namun, sifatnya berbeda 180 derajat. Saat Julian menunjukkan wajah Elena kepada Louis dan Vincent, mereka semuanya setuju. Karena itu, mereka beranggapan jika Elena adalah reinkarnasi Corry. Akan tetapi, usaha Julian membuat Elena mengakui jika dirinya reinkarnasi dari ibunya gagal.
Elena sama sekali orang yang berbeda dan tidak mengingat apa pun. Wajahnya juga menua seiring bertambahnya usia. Julian yang lelah atas pemikirannya sendiri memutuskan untuk mengabaikan Elena. Dia sama seperti manusia yang serakah dan ceroboh.
Ekor mata Julian yang mengawasi langkah Elena langsung terkejut ketika ia mendapatkan telepon tiba-tiba. Dari percakapannya, nada bicaranya terddngar ceria dan ramah seperti sedang membawa kabar baik.
“Elena, nanti tim kalian rapat dengan Julian, ya. Ada proyek baru, Julian juga belum tahu ini,” ungkap Pak Yoga memberitahu Elena ketika wanita usaia 30-an itu lewat di depan ruangannya yang terbuka. Elena mengangguk sigap dan segera berlalu. Tidak sadar jika langkahnya sedang diperhatikan oleh sepasang mata tajam.
**
Banyak yang bilang Julian adalah kandidat kuat untuk menjadi seorang selebriti. Wajahnya yang tampan dan segar jika di depan kamera menjadi modal utama orang-orang di sekitarnya mengatakan hal tersebut. Akan tetapi, Julian menolak mentah-mentah. Pria berkulit pucat itu mengakui jika ia tidak bisa berbicara di depan kamera. Lagipula, hanya dengan satu kali penjelasan saja orang-orang bisa memahaminya.
“Sore semuanya, kali ini kita ada proyek baru. TV DKT sedang membuat acara variety show baru. Temmy ditawari untuk bergabung. Namun, syaratnya jika bergabung kita harus mempersiapkan tanggapan untuk naskah mereka. Aku minta tim kreatif bisa membedah dan memilah mana yang harus diganti atau tidak seperti biasanya,” ungkap Julian menjelaskan. Nada bicaranya selalu tegas sekaligus menenangkan. Apalagi tatapan matanya, sangat tajam hingga membuat lawan bicaranya bisa tunduk dan memilih untuk tidak bertatapan dengannya. Tim kreatif mereka langsung mengerti arahan bicara Julian.
“Besok, setidaknya kalian sudah memberikan naskah aslinya untuk saya supaya DKT bisa mengeceknya juga,”lanjut Julian. Elena mengacungkan tangan dan menanyakan sesuatu.
“Tolong jelaskan target penontonnya siapa? Lalu ditayangkan jam berapa? Oh, iya. Apa nanti Temmy harus memakai kostum tertentu?”
“Target penontonnya tentu saja semua kalangan karena ini acara variety show bertema keluarga, jadi harus sesuai dengan itu. Tidak perlu pakai kostum, hanya timbulkan kesan Temmy yang kalem.” Elena mengangguk paham meski raut wajahnya terlihat kurang puas.
“Ada yang perlu ditanyakan lagi, Elena?”
“Oh, tidak. Aku sudah cukup jelas,”kata Elena mencoba menyembunyikan kekhawatirannya. Padahal, jika dilihat isi naskahnya, waktu penayangan Temmy tidak terlalu banyak. Elena pun mmencoba mengobrol berdua dengan Julian pasca rapat mereka berlangsung sekitar setengah jam berikutnya.
“Maaf aku lancang. Setelah kubaca, screen time Temmy hanya sedikit. Apa kamu yakin mengambil pekerjaan ini?”
“Tenang saja. Itu baru naskah satu episode. Aku akan memastikan seberapa banyak Temmy bisa muncul,”
“Baiklah. Aku mengandalkanmu,”Elena mengedipkan satu mata pada Julian dan meninggalkan pria itu. Julian mengernyitkan dahi, bagaimana bisa Elena melakukannya segampang itu? Sepengetahuannya, wanita itu bahkan tidak pernah melakukan kerlingan mata kepada Abel. Tunggu, apa dia sedang menggodaku?
“Ehm... Elena. Apa kamu yakin tidak pernah mendengar nama Corry dalam kehidupanmu?"
"Corry lagi, ya? Aku sepertinya mengenal dia."
Julian menunjukkan minatnya yang tampak antusias usai Elena mengatakan hal tersebut. "Apa kamu... mengingatku?"
“Aku mengenal Corry ketika kami berpapasan di jalan. Dia seorang anjing, sebenarnya,” kata Elena asal. Julian mengumpat pelan, wanita satu ini tidak berubah sama sekali.
“Sialan. Memangnya kamu pikir Corry itu anjing,”gumam Julian lirih.
“Aku tidak tahu hubunganmu dengan mantan pacarmu seperti apa, tetapi yang jelas kamu harus menerima kenyataan jika dia memang sudah meninggalkanmu,”
“Ibu. Dia bukan mantan pacarku, dia ibuku.”Julian tidak ingin berbicara terlalu banyak pada wanita tersebut sehingga ia meninggalkan Elena berdiri terdiam seperti tidak tahu harus berbuat apa.
“Apa, wanita itu adalah ibunya? Jadi Julian terobsesi dengan ibunya sendiri? Ckckck... Kasihan,”kata Elena pada diri sendiri dan kembali pada kesibukannya.
**
Rutinitas kehidupan Elena Karenina tidak ada bedanya dengan pegawai kantoran biasa. Tinggal di sebuah kamar di apartemen kecil merupakan impian Elena sejak muda. Elena saat muda memiliki pencapaian untuk diri sendiri jika di usianya yang ke-24 tahun sudah harus keluar dari rumah. Terbukti sudah, di usianya yang sekarang membuktikan jika ia bisa mewujudkannya. Meski orangtuanya tidak pernah memberi target tertentu tentang hidup mandiri anak-anaknya, tetapi Elena sangat menyukai gaya hidup pegawai kantoran yang ia tahu.
Namun, ternyata semua itu cukup berat jika dijalani sendiri. Pekerjaan Elena bukan seperti pegawai kantoran biasa. Ia harus selalu standby 24 jam dan tidak dapat diperkirakan kapan selesainya. Mengingat ia bekerja di perusahaan agensi artis, maka mau tak mau ia mengikuti jadwal tersebut.
Belum lagi merawat diri sendiri selepas kerja. Menyiapkan makan malam, merawat diri agar tetap cantik, membersihkan apartemennya setiap hari, semuanya terasa berat jika seorang diri. Hal ini dirasakan karena sejak kecil Elena selalu menjadi putri di rumahnya yang selalu disediakan dan dilayani, bahkan sampai sekarang. Berdasarkan cerita ibunya, Elena dulu pernah sekarat ketika lahir karena ada kelainan yang entah apa penyebabnya.
Elena memiliki jantung lemah saat itu, namun ketika dirawat oleh orang pintar yang merupakan teman neneknya bayi mungil itu kembali sehat dan bertumbuh menjadi gadis cantik. Mungkin karena itu, orangtua Elena sangat menjaganya karena takut kehilangan. Saking sayangnya, kedua orangtuanya juga turut ikut campur soal hubungan asmaranya.
Dengan memiliki pekerjaan sebagai tim kreatif di agensi hiburan, tentunya menyita waktu Elena untuk memikirkan asmara. Sudah di usia 29 tahun Elena belum juga mendapat pasangan. Padahal, gadis ini merupakan salah satu idaman ketika di sekolah SMA-nya dulu. Wajah tirusnya yang bak model, mata bulatnya yang sempurna serta tulang air matanya yang menonjol membuat Elena memiliki wajah khas orang Eropa berat keturunan gen dari keluarganya walau ia orang Indonesia asli.
Maka tidak heran jika orangtuanya mulai mengusahakan anak gadisnya mendapat pasangan yang setara dari segi bibit, bebet dan bobot dengan cara mencari calon-calon menantu idaman. Bukannya Elena tidak menyukai orangtuanya menjodoh-jodohkannya, tetapi terkadang mereka memilih pria yang membosankan di mata Elena.
Intinya, Elena tidak suka pria yang lembek dan sombong. Elena suka dengan pria yang blak-blakan serta berwibawa. Saat orangtuanya mengetahui kriteria pria idaman putrinya, mereka bergerak cepat dan menemukan seorang lelaki bernama Jordan yang merupakan rekan kerja ayahnya di bank.
Sepulang kerja, Elena menyempatkan diri untuk mampir ke supermarket membeli beberapa persediaan di rumah yang sudah habis. Ia memilih-milih produk pasta gigi yang tidak biasa ia gunakan karena barang yang dicarinya sedang kosong.
“Apa bedanya pasta gigi ini dengan siwak? Ah, aku butuh yang mana untuk gigi sensitifku?” dengan menggumam pada diri sendiri, Elena membandingkannya sesuai dengan fungsi pasta gigi yang mirip dengan produk biasa ia pakai. Ketika ia sedang asyik membanding-bandingkan dan bertanya pada diri sendiri, seorang pria menunjuk salah satu produk yang dipegang Elena.
“Lebih alami menggunakan siwak. Pasta gigi ini bisa menjaga rongga mulutmu,” tuturnya mengakhiri percakapan dengan tersenyum manis. Elena yang tampak tidak nyaman dengan tangannya yang tiba-tiba menunjuk produk di tangannya mulai memahami maksudnya. Tampaknya rekomendasi pria itu benar.
“Terima kasih sarannya, Mas...” Elena merunduk sedikit dan memasukkan produk siwak yang belum pernah ia gunakan. Pria itu juga memberi salamnya lalu kembali sibuk memilih barang-barang lainnya. Ketika melihat pria tersebut, Elena seperti pernah melihatnya. Ia menduga jika pria tersebut tetangganya di apartemen. Akan tetapi, ia masih meragukannya.
Sesampainya di kediamannya, Elena langsung mendapat telepon rutin dari ibunya. Memutuskan untuk keluar dari rumah di usia muda tentu membuat siapa saja orangtua khawatir dengan anaknya, apalagi anak gadis. Oleh karena itu, wajar bagi seorang orangtua yang mengkhawatirkan anak gadis secantik Elena meski perilakunya tidak sekalem wajahnya.
Sambil menata hasil belanjaannya di kulkas, Elena sekali lagi mendengar ocehan ibunya tentang pria itu lagi. Namanya Jordan, pria yang dijodoh-jodohkan orangtuanya dengan Elena meski sudah berkali-kali ia menolak.
“Kemarin ayahmu cerita kalau Jordan memimpin rapat di kantornya. Ini ayahmu lho, yang bilang. Ibu cuma menyampaikan. Katanya Ayah, dia sangat bijaksana dan orangnya pintar. Buat Ibu, itu setara dengan kamu,” ujar ibunya bercerita tentang pria kantoran dengan panggilan Jordan.
“Elena ini cuma pegawai yang biasa-biasa aja, nggak yang wah begitu seperti dia. Jadi, sepertinya perkiraan Ibu salah, dia nggak bakal mau sama aku,” Elena mengeluarkan bungkusan buah jeruk kesukaannya dan membukanya untuk ditata di dalam baskom asal-asalan.
“Eh, jangan begitu. Walau kamu Cuma pegawai biasa, tetapi kamu bekerja untuk Temmy Curse. Kamu itu hebat Elena,” puji ibunya dengan sangat manis. Elena mau tak mau menyunggingkan senyumnya meski sang ibu tidak bisa melihatnya.
“Terus Ibu menelepon Elena untuk tujuan apa? Biasanya habis ngobrolin Jordan langsung minta-minta sesuatu nih.”
Di telepon tersebut, Elena mendengar suara ibunya sedang nyengir. “Begini, Ayah mengundang Jordan makan malam sama kamu lusa besok. Ibu minta kamu datang ya, Elena. Ini hari jadi pernikahan Ibu sama Ayah. Masa kamu nggak mau datang?”
Elena sudah menduga. Melihat tanggal yang bertengger di bufet dekat meja makan mininya itu membuat dirinya sudah berpikir bahwa ibunya pasti merencanakan sesuatu. “Kenapa harus aku yang datang? Kenapa bukan Carlo saja yang datang?”
“Elena, kamu tahu sendiri bagaimana kakak laki-lakimu itu. Ibu aja enggak tahu dia sekarang sedang di mana. Tiba-tiba saja muncul di rumah.”
Elena paham betul karakter kakak satu-satunya itu yang tidak pernah terbuka masalah pribadinya. Padahal, di usianya yang sudah menginjak 34 tahun seharusnya memikirkan memiliki keluarga. Namun, kakak laki-lakinya itu justru memilih hidup sebagai seorang petualang yang tidak pernah pulang.
“Lalu kenapa harus ada Jordan? Biasanya kita hanya merayakannya bertiga. Aku merasa aneh kalau ada dia, aku bahkan belum pernah bertemu dengannya secara langsung, Bu.”
“Justru itu, kamu harus datang supaya bisa bertemu. Baiklah kalau begitu, Ibu harus pergi sekarang. Intinya kamu wajib datang. Bye, Elena,” ibunya langsung menutup telepon dan tidak memberi kesempatan kepada Elena berbicara. Elena hanya menghela nafas panjang, ia memutuskan untuk menuruti kemauan ibunya untuk menyenangkan hati mereka karena sudah berusaha mencarikan jodoh untuknya.
**
Hari pertemuan itu tiba. Elena mengenakan baju terusan berwarna putih dengan menyeka rambutnya menggunakan jepit di sisi kiri. Penampilannya tidak terlalu mewah, tetapi Elena menganggapnya itu adalah yang terbaik dan berjaga-jaga jika ia tidak menyukai pria yang dijodohkan padanya.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, Elena pernah bertemu dengan seorang pria yang kurang ia sukai. Akan tetapi, kesalahannya adalah ia berdandan terlalu cantik sehingga pria yang ditolaknya itu masih mengejar-ngejar Elena dalam beberapa waktu. Walau tidak semuanya begitu, tetapi wanita berperawakan ramping ini berjaga-jaga.
Elena bertemu dengan orangtuanya di sebuah restoran daerah pusat Kota Surabaya. Pipinya diciumi oleh ayah dan ibunya ketika ia sampai. Kedua orangtuanya mengatakan jika Elena semakin kurus. Padahal, Elena akhir-akhir ini makan cukup banyak karena pekerjaannya yang melelahkan.
“Jordan masih dalam perjalanan ke sini. Kamu makan kentang ini dulu gih,” tawar ibunya kepada putrinya yang cantik itu. Elena nyengir dan segera melahap kentang goreng yang disajikan lebih dahulu. Dengan gayanya yang santai, mulut Elena penuh dengan kentang goreng. Saat itu pula Jordan datang dengan aura wibawanya. Bahkan Elena hampir terkesima karena pria tersebut pernah ditemuinya di supermarket tempo hari.
“Elena, ini Jordan yang sering Ayah ceritakan ke kamu. Jordan, ini Elena putri saya,” ayah Elena memperkenalkan anaknya kepada rekan kerjanya yang masih sebaya dengan Elena. Dengan ramah, pria itu tersenyum sangat manis kepada Elena dan menjabat tangannya. “Hai, Elena. Aku Jordan,” katanya.
Elena sedikit membeku. Ia mengangguk dan menyalami tangan besar Jordan itu dengan mulut yang penuh kentang goreng. “El..Ena,” jawab wanita itu membuat ibunya sedikit malu. Bukankah dia pernah bertemu dengan pria ini tempo hari?
**