Bab 2

Masih berada di gedung bertingkat ini, kini aku memilih sebuah coffe break yang biasa ku datangi setelah selesai berbelanja buku. Segera menuju kasir untuk memesan sekaligus membayar. Karena beginilah sistem di tempat ini.

"Baik, silakan ditunggu pesanannya, Kak. Aduh, maaf mejanya masih penuh. Sebentar kami siapa meja dulu, ya, kak." Wanita dengan topi hitam khas cafe tersenyum ramah padaku lalu mengisyaratkan temannya untuk bergerak.

"Ros! Rosi!" jerit sebuah suara yang sangat familiar di telinga. Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari sosok yang sepertinya mengenalku, dan sebuah lambaian tangan membuatku segera mengenali nya. "Indi?" Dia tersenyum lebar dengan tangan terus bergerak, menyuruhku mendekat.

"Kak, saya duduk di sana saja."

Indi tidak sendirian, ada Nita juga. Tapi rupanya aku salah memutuskan untuk bergabung dengan mereka. Karena di meja mereka cukup banyak orang. Namun aku tetap mendekat, sekedar basa basi sejenak sambil mencari meja yang bisa kutempati.

"Belanja?" tanya Indi begitu aku mendekat. Kami segera melakukan salam pertemuan khas wanita. Saling menempelkan pipi kanan kiri bergantian. Indi segera menebak karena melihat kantung plastik di tanganku.

"Iya, biasa, asupan seorang penulis." aku mengangkat novel buruanku sejajar dengan bahu kami.

"Beli apa lu?" tanyanya segera mengambil alih kantung plastik tersebut.

"Duduk dulu, Mak," Nita menyapa sambil menarik sebuah kursi di sampingnya.

"Eh iya, nanti aja. Biar gue cari meja lain aja. Kalian lagi 'ini', kan?" tanyaku dengan pertanyaan yang patut dipertanyakan kejelasannya.

"Santai kita kok, sini ah! Meja nya penuh semua tuh. Sini aja udah!" paksa Nita. Alhasil tubuhku pasrah dibawa duduk berada di sampingnya. Sementara Indi masih sibuk memeriksa novel yang kubeli tadi, Nita dengan lancar memperkenalkan empat orang di hadapan kami, yang baru kutau kalau mereka adalah teman kampus Nita dan Indi dulu.

"Itu Nanda, Najwa pacarnya Nanda, terus Rangga, tanpa cinta. Hahaha. Sama Fahri. Kebetulan kita ketemu tadi di depan, jadi sekalian reuni kecil-kecilan deh," jelas Nita.

"Hai." hanya kata itu yang terucap dari bibirku. Tentu dengan segaris senyum tipis yang berusaha kulakukan dengan tulus.

"Guys, ini temen gue, Rosi. Dia ini penulis novel terkenal loh," bisik Nita seolah hal ini adalah rahasia. Seperti memperkenalkan spiderman tanpa kostum ke sekumpulan kenalannya. Terkesan aneh bagiku. Aku segera menyikut Nita dan mengelak halus. "Amatir, Nit."

"Amatir apa? Tenang aja, sebentar lagi novel lu bakal best seller, Ros. Novel lu bagus tau. Suka merendah deh!" tambah Nita.

"Ros, ini gue udah baca nih. Bagus nih, malah mau keluar lagi seri keduanya," tukas Indi menunjukkan novel fantasi dengan membeberkan warna mata yang memiliki kemampuan supranatural.

"Oh ya? Gue baru lihat tadi, minggu lalu nggak ada padahal."

"Rosi? Oh penulis novel yang kemarin elu pinjemin ke gue, Nit?" tanya seorang pria berkaca mata yang duduk di depan kami.

"Nah iya, itu novel dia. Gimana? Elu udah beres baca, Ngga?"

"Belum. Wahaha. Lagi suka baca cerita dewasa sih gue sekarang. Horor, ya? Novel situ?" tanyanya lagi, menunjukku.

"Iya horor."

"Ada buka-bukaannya nggak?"

"Ada. Pas kuntinya pakai gaun seksi," sahutku asal.

"Yee, itu sih nggak seksi. Serem iya!"

"Lagian Rangga selera nya mah yang gitu-gitu. Dasar laki mesum!" kelakar Indi dengan melempar onion ring di depannya.

"Mungkin kalau udah ada 'cinta' berubah, ya?" gurauku dengan menekankan kata cinta tadi.

"Yah, Mba, dia itu trauma pacaran. Sekarang kan homo tuh," ejek Fahri.

Rupanya mereka tidak seburuk itu, semua mengalir dengan ringan seolah kami sudah lama saling mengenal.

Ponselku bergetar, nama yang tertera pada layar membuatku tidak segera menerimanya. Entah mengapa aku langsung teringat pada Lili.

"Ros, nggak diangkat? Siapa sih?" tanya Nita sambil ikut melihat layar ponselku. "Mey? Kenapa nggak diangkat? Kalian berantem?"

"Hm, enggak kok. Cuma ... Takut."

"Takut apa?"

"Kabar yang bakal dia kasih ke gue."

"Maksud elo?"

"Gue ... Gue tadi lihat 'itu' lagi."

"Itu? Maksud elo, setan?" tanya Nita makin serius. Otomatis kelima orang di sekitar kami ikut fokus pada obrolan kami berdua.

"Hah? Setan di mana?" Indi ikut penasaran dan menanyakan pertanyaan beruntun layaknya wartawan.

Aku menekan kepala, bertumpu pada meja dengan kopi milikku tepat di bawah wajahku. Aroma kopi ini cukup menenangkan untuk ku menceritakan kejadian tadi.

"Hah! Serius lu? Lili?! Lili yang bokap nya anggota dewan itu, kan?" tanya Indi heboh.

"Yang cowoknya juga anak anggota dewan juga?"

Aku hanya menanggapi pertanyaan mereka dengan anggukan. Namun, sekelebat bayangan membuat perhatianku teralih sejenak. Koridor di luar cafe ini, menampilkan sosok yang sedang kami bicarakan. Berjalan dengan kondisi sama seperti yang kulihat tadi, basah, pucat dan mengerikan. Melewati koridor sambil terus menatap meja kami tanpa mengedipkan mata. Aku ikut terbawa suasana, terus menatapnya tanpa peduli panggilan mereka di sekitar ku.

"Astaga, Ros! Iya! Itu, kan? Dia lewat?" tanya Indi berusaha tidak terlihat takut. Indi memang sedikit peka sama sepertiku. Salah satu alasan aku berteman dengannya karena kesamaan ini. Setidaknya jika bersamanya aku tidak gila sendirian saat melihat sosok seperti tadi.

Kugeser layar ponsel tanpa menatapnya. Dering panggilan Mey sangat mengganggu, dan dia tidak akan berhenti sampai aku mengangkat telepon darinya.

"Ya Mey? Kenapa?"

"Ros ... Lili, Ros!"

"Aku tau."

Bab 3

Peti mati sudah siap di tengah rumah duka. Jenazah Lili sudah didandani dengan apik, hingga ia tidak terlihat seperti orang yang sudah meninggal. Lili juga mengenakan gaun putih yang hampir mirip seperti pakaian terakhir yang ia kenakan, saat mayatnya ditemukan. Mataku sembab, sekaligus menahan kantuk yang teramat sangat. Semalam bukan malam terbaik bagiku, setidaknya bukan malam terburuk juga, karena aku sering mengalaminya. Hanya saja sudah agak lama sejak kejadian terakhir kali aku diganggu oleh 'mereka'.

Hanya duduk di barisan kursi panjang bagian belakang, memperhatikan lalu lalang keluarga dan kenalan Lili datang melayat. Aku mulai muak melihat tingkah Ramon. Dia menangis dengan hebat, seperti orang yang sangat berduka. Bagi semua orang pastilah wajar melihat sikap Ramon sekarang. Dua minggu lagi mereka akan menikah, namun mempelai wanita justru berada di peti mati sekarang. Tapi itu tidak berlaku bagiku.

"Yang tabah, ya. Tuhan lebih sayang Lili." Begitulah kalimat yang kudengar saat orang terakhir dari keluarga Lili menyalami Ramon. Menyampaikan perasaan berduka akibat kepergian wanita mungil tersebut. Sementara itu, di sisi peti mati, ruh Lili berdiri di sana. Masih memakai gaun pernikahan robek, basah, serta wajah yang tidak secerah mayat di depannya. Lili terus menatap tajam Ramon, penuh kebencian dan dendam.

"Yah, aku tau perasaanmu, Li. Entah apa aku harus bahagia atau sedih dengan keadaanmu sekarang. Yang jelas, Tuhan memang lebih sayang kamu," gumamku sambil menunduk, memperhatikan flat shoes hitam senada dengan warna pakaian yang kukenakan.

Gerakan kaki yang kubuat sama, memutar searah jarum jam, mendadak kuhentikan. Ketika sepasang kaki berdiri di depanku. Sepasang kaki yang sama bentuknya, seperti yang kulihat di toko buku kemarin. Sudah jelas siapa pemiliknya. Hanya saja kali ini, tubuhku tidak membeku. Dengan perlahan aku mendongak, agar dapat melihat wajah Lili dari dekat. Lili menatapku nanar, bibirnya bergetar menahan tangis.

Kamu harus beritahu orang tuaku, Ros, seperti apa kelakuan Ramon sebenarnya.

Aku tengak tengok saat kalimat itu terdengar nyaring. Padahal bibir Lili, yang kupikir adalah pemilik suara ini, terus menutup. Aku menatap Lili sambil sesekali memperhatikan sekitar. Berusaha meyakinkan diriku sendiri kalau suara yang kudengar memang berasal dari sosok di depanku sekarang.

Ros, bantu aku. Kamu nggak boleh diam saja!

Aku menarik nafas panjang. Bergumam untuk menanggapi perkataannya. "Li, ini bukan urusanku. Lagi pula, kalian nggak akan menikah, jadi Ramon nggak akan mendapatkan apa yang dia mau!" bisikan suaraku, sengaja ku tekankan tiap kata. Agar sosok Lili mendengar dengan jelas.

Semalaman dia terus muncul. Baik saat aku memejamkan mata, maupun membuka mata. Semua gambaran kejadian sebelum Lili terbunuh ditunjukan padaku. Ramon memang brengsek. Dia tidak mencintai Lili dengan setulus hati. Semua hanya karena kekuasaan, harta, dan tentu jabatan. Tentu ini bukan urusanku. Aku tidak ingin ikut campur masalah orang lain, lagi.

Jadi kamu mau aku terus datang? Kamu sahabatku, kan, Ros? Kamu tau bagaimana perasaanku. Aku nggak akan tenang, Ros, kalau Ramon tidak dihentikan.

"Dihentikan? Memangnya apa yang bakal dia lakuin sih? Dia udah nggak bisa sakitin kamu dan keluarga kamu lagi, kan?"

"Rosi!" bahuku ditepuk hingga aku menjerit.

"Astaga! Mey! Ngagetin aja!" pekikku. Wanita itu segera mendaratkan bokong nya di samping ku, sementara Lili langsung pergi. Aku tengak tengok mencari keberadaannya, karena sangat yakin kalau Lili tidak akan pergi jauh dari tempat ini.

"Heh! Cari siapa sih? Malah bengong!" Mey kembali membuat perhatianku buyar.

"Ssst! Diam dulu!"

"Apaan?!"

"Lili!"

"Hah? Lili di sini?" tanyanya ikut heboh dan bertingkah sama sepertiku. Tengak tengok mencari hal yang tidak bisa ia lihat.

"Gaya lu! Kayak bisa lihat aja!" ujarku memukul kepalanya pelan.

"Lah iya, ya? Kan gue nggak bisa lihat. Ngapa ikut heboh gue! Eh tapi, Lili ada pesan terakhir gitu, Ros? Atau dia ada bilang apa ke elu? Pasti dia gentayangin elu, ya?"

Aku menghentikan pencarianku, dan menatap Mey serius. "Bingung gue, Mey. Gue harus gimana?" Akhirnya aku menceritakan semua yang kulihat dan alami kemarin. Mey hanya geleng-geleng kepala sambil mengepalkan tangan, menatap benci ke Ramon.

"Dasar laki bajingan! Licik! Gila sih, nggak nyangka gue kalau Ramon brengsek juga!"

"Sama. Gue bingung harus gimana, kalau gue cerita hal ini ke keluarga Lili, apa mereka percaya? Yang ada gue disangka gila!"

"Iya juga sih, Ros. Terus gimana rencana lu?"

Aku mengangkat kedua bahu lalu menarik nafas kasar. Sejurus dengan hal itu, sosok wanita yang kulihat dalam penglihatan semalam justru muncul. Berjalan dengan santai di antara pelayat yang hadir. Bahkan dia dan Ramon saling bersalaman seolah tidak mengenal satu sama lain. Mama Lili memeluk wanita muda itu sambil berderai air mata.

"Mey, itu cewek siapa? Kok gue baru lihat, dan kayaknya akrab sama tante Dahlia."

"Itu? Hm, gue juga baru lihat, siapa ya? Memangnya kenapa?"

Belum sempat kami membahas hal ini, ada sepasang orang tua sebaya dengan tante Dahlia dan Om Roy berjalan di belakang wanita tadi. Melihat gelagatnya, aku yakin mereka adalah orang tua wanita itu, dan sepertinya sangat dekat dengan keluarga Lili.

"Mey, lu tau nggak, kalau itu cewek yang gue lihat semalam."

"Cewek yang mana?"

"Astaga, Mey! Cewek yang di tunjukin Lili di mimpi gue!" jelas ku sedikit kesal.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Cermin

Bab 2
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED