Bab 2

Hari ini orientasi Fakultas di Gedung C. aku bertemu dengan teman-temanku yang beda jurusan dan asyik mengobrol di belakang.

Tiba-tiba aku disuruh maju ke depan dan dihukum untuk kesalahan yang mengada-ada. Hukumannya aneh pula. Idih males banget cium tangan orang songong. Mending aku gigit aja telunjuknya, lalu berlari keluar, menuju musholla karena sudah masuk waktu ashar.

Selesai Shalat, ponselku berdenting, ternyata pesan dari Barata, pacarku sejak SMA, katanya ingin mengobrol lewat telepon.

Aku pamit pulang duluan, teman-temanku masih ada acara dengan jurusannya masing-masing. Dengan kecepatan sedang, aku mengendarai motor menuju rumah kontrakan kami yang terletak di sebuah perumahan agak jauh dari kampus.

Rumah kontrakan itu mungil, terdiri dari dua kamar tidur, dan kutinggali bersama tiga teman sekampus: Reni, Nani, dan Sinta. Ruang tamunya kami ubah menjadi ruang kerja bersama, lengkap dengan satu PC, printer, dan dua meja belajar.

Ruang makan kami kadang-kadang juga difungsikan untuk ruang belajar.

Meski sederhana, rumah ini cukup nyaman untuk ukuran mahasiswa: ada empat spring bed tunggal tanpa dipan, lemari kecil masing-masing orang, kompor gas, kulkas, AC, dan mesin cuci dua tabung.

Sewa bulanannya Rp2 juta, dibagi berempat, jauh lebih hemat dibandingkan kos ber ac dengan kamar mandi di dalam, hanya untuk sendiri dengan harga yang sama.

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar, menyalakan AC, dan merebahkan diri di kasur. Sambil menunggu telepon dari Barata, aku memandangi langit-langit kamar, membiarkan pikiranku melayang. Ada perasaan tidak nyaman yang entah dari mana datangnya sore ini.

Tak lama, ponselku berdering.

"Assalamualaikum, Delia. Apa kabar?" Suara Barata terdengar hangat seperti biasa.

"Waalaikumsalam, Alhamdulillah, baik. Akang gimana? Bandung dingin, ya?" sahutku mencoba ceria.

"Iya, dingin banget," jawabnya singkat. Lalu tanpa banyak basa-basi, ia berkata, "Del, akang mau ngomong. Kita putus, ya."

Aku diam membeku, rasanya seperti tersambar petir.

"Kenapa, Kang? Delia salah apa?" tanyaku dengan suara bergetar, berusaha menahan tangis.

"Enggak salah apa-apa. Akang cuma... Akang gak mau pacaran lagi. Akang maunya nanti langsung nikah, kalau sudah kerja. Akang janji bakal datang melamar Delia," katanya tenang.

Aku menggigit bibir, menahan sesak yang mulai memenuhi dada. Air mata menggenang di mataku.

"Akang pasti udah ketemu gadis Bandung yang cantik-cantik, kan? Udahlah, terserah. Delia juga udah ketemu yang lebih ganteng di sini," balasku cepat, lebih karena sakit hati.

Tanpa menunggu jawaban, aku langsung memutuskan sambungan telepon. Dengan tangan gemetar, aku memblokir semua akun Barata di WhatsApp dan media sosial. Ponselku kulempar ke samping, lalu aku membiarkan tubuhku larut dalam tangis.

Aku menangis lama, sendirian di kamar itu, seolah dunia runtuh di hadapanku. Semua cita-cita, harapan, dan janji manis yang kami ukir bersama sejak SMA, kini hancur berantakan.

Entah berapa lama aku menangis hingga akhirnya tertidur. Saat terbangun, kulihat teman-temanku sudah mengelilingiku dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Kamu kenapa, Del? Gara-gara Arkan ya? Makanya jangan bikin masalah sama dia. , Del." kata Sinta, yang memang paling dewasa di antara kami.

Aku buru-buru menggeleng, meski mataku masih sembab.

"Bukan karena cowok songong itu aku nangis," sahutku membela diri, suaraku serak.

"Terus kenapa? Sampai sesegukan begitu," tanya Nani, duduk di pinggir tempat tidurku.

"Barata ngajak putus," ujarku lirih. Air mata kembali mengalir.

"Lha, kenapa? Tiba-tiba?" tanya Reni, heran.

"Gak jelas. Katanya mau serius, gak mau pacaran lagi. Tapi aku yakin sih, dia udah nemu cewek baru di Bandung," jawabku, mencoba terdengar kuat.

Reni menghela napas panjang. "Kirain gara-gara Arkan. Dengar ya, Del, jangan bikin masalah sama Arkan. Dia cucu konglomerat Bimasakti. Banyak orang yang berusaha dekat sama dia, siapa tahu bisa gampang dapat kerja, atau malah... nikah sekalian," katanya setengah bercanda, setengah serius.

"Idih! Gak mau, ah! Baik-baik aja males, apalagi deket-deket cowok songong begitu," gerutuku.

"Nanti kamu susah cari kerja, Del. Katanya mau bantuin Umi sama Abah?" tambah Sinta, mencoba menasehati.

"Kerja gak harus lewat dia. Rezeki dari Allah, bukan dari manusia!" jawabku keras kepala.

Mereka hanya diam, mungkin malas berdebat dengan aku yang masih emosional.

"Yuk, shalat. Udah Maghrib. Habis itu makan malam. Besok kuliah pagi, lho," ujar Nani mengalihkan suasana.

Aku mengangguk pelan, mencoba menata hatiku.

Keesokan harinya, aku kembali berangkat kuliah. Meski tinggal serumah, kami berempat berbeda jurusan, walaupun di fakultas yang sama. Jadi masing-masing membawa motor sendiri.

Setelah memarkir motorku dengan hati-hati, memastikan stang terkunci, aku setengah berlari menuju Gedung C. Hari ini ada kuliah umum, dan aku tak mau lagi kebagian kursi belakang seperti pekan lalu.

Aku sengaja datang lebih awal supaya bisa duduk di barisan depan. Namun, baru sampai di depan gedung, langkahku terhenti.

Di sana, berdiri si Songong - Arkan - bersama beberapa teman cowoknya. Melihatku, dia langsung menghadang jalanku dengan santai.

"Delia, urusanmu belum selesai sama aku," katanya sambil menatapku penuh tantangan.

Aku berusaha menghindar, menunduk, lalu mempercepat langkah. Tapi dengan sigap, Arkan menghadang jalanku.

"Mau kabur? Gak semudah itu," katanya, terkekeh kecil.

Aku mendengus kesal. "Mau kuliah, kan? Aku juga." kataku datar.

"Ya, tapi ada syarat," katanya, memasang senyum licik.

Aku menarik napas panjang, mencoba bersabar. "Mau apa lagi sih?"

Arkan menyeringai puas. "Jawab pertanyaanku. Kalau kamu bisa jawab, kamu boleh lewat. Kalau tidak, kamu harus menerima hukumanku."

"Terserah," sahutku malas.

"Siap?"

Aku hanya mengangguk pasrah.

Bab 3

Aku melihat Delia berjalan cepat menuju Gedung C. Ia mengenakan blus merah berlengan panjang, dengan garis putih di kerah dan manset, dipadukan dengan celana putih dan sepatu merah model Aladin andalannya.

Rambutnya dikuncir tinggi dengan ikat rambut merah-membuat wajah manisnya terlihat semakin jelas. Ah, Delia. Gadis keras kepala yang bahkan dengan tampilan sesederhana itu tetap berhasil mencuri perhatianku.

Tanpa pikir panjang, aku langsung melangkah untuk menghadangnya di depan pintu masuk. Teman-temanku bersiul pelan di belakang, menonton dengan semangat seperti sedang menonton adegan drama.

"Delia," panggilku, nada suaraku setengah menantang. "Urusanmu belum selesai sama aku."

Dia berhenti. Wajahnya langsung masam. Ia mencoba menghindar, menunduk dan mempercepat langkah. Tapi aku lebih sigap. Tanganku terulur, menghalangi jalannya.

"Mau kabur? Gak semudah itu," ucapku sambil tertawa kecil. "Kalau mau masuk, ada syarat."

Delia menatapku kesal. Tapi aku tahu, dia bukan tipe yang suka bikin keributan di tempat umum.

"Ya udah, maunya apa lagi sih?" balasnya, nada sebal tak bisa ditutupinya.

"Kalau kamu jadi Sri Mulyani, menghadapi situasi sekarang, apa yang bakal kamu lakukan?" tanyaku tiba-tiba, kali ini dengan nada serius.

Dia menarik napas, siap menjawab. Tapi aku langsung mengangkat tangan, memotong.

"Kelamaan! Kamu harus dihukum!" ucapku sambil nyengir.

Delia melotot. "Hukuman apaan sih?!"

Teman-temanku mulai bersorak kecil, menanti hukuman aneh yang pasti sudah kusiapkan.

Aku menyeringai. "Kamu pilih. Mau nyanyi lagu Sakitnya Tuh di Sini sekarang juga... atau kasih nomor WhatsApp kamu."

Delia mendelik. Wajahnya jelas bingung. Dua-duanya memalukan, cuma beda tingkat.

Akhirnya, dengan suara pelan tapi tegas, dia menjawab, "Kasih nomor WA aja."

Aku menahan tawa. Sudah kuduga dia bakal pilih itu. Tapi aku juga tahu kelakuannya-pasti nanti diblokir.

Aku mengangguk, pura-pura puas. "Gak jadi. Ganti. Kasih alamat rumah kamu aja."

Wajah Delia langsung berubah. "Buat apa alamat rumah?" tanyanya curiga.

Aku mendekat sedikit, suaraku diturunkan, tapi cukup membuatnya waspada. "Kalau alamatnya palsu, kamu harus siap dihukum dua kali lipat."

Dia menggigit bibir bawah, ragu. Tangannya mencengkeram erat tali tas selempangnya. Setelah hening beberapa detik, akhirnya ia menyebutkan alamat kontrakannya-lengkap, dengan blok dan nomor rumah.

Aku mengeluarkan ponsel. "Ulangin. Aku catat."

Dengan wajah merah padam, Delia mengulanginya. Teman-temanku bersorak di belakang, seolah aku baru saja menang taruhan.

Selesai mencatat, aku menatapnya. "Bagus. Kalau ternyata palsu, hukumannya dobel."

Delia mendengus, lalu berjalan melewatiku-menabrak bahuku dengan tas selempangnya. Aku membiarkannya lewat, tak bisa menahan senyum.

Bocah keras kepala.

Kamu boleh lari sekarang, Delia, tapi kamu nggak akan bisa lari terus dariku.

♡♡♡

Sudah tiga bulan sejak dia memberikan alamat itu. Aku belum pernah ke sana. Bukan karena takut dia bohong-Delia terlalu jujur untuk itu. Tapi entahlah. Setiap kali aku mengingat alamat itu, ada rasa gugup yang aneh.

Jadi selama tiga bulan terakhir, aku hanya mengamatinya dari kejauhan. Diam-diam. Seperti penguntit amatir dengan niat mulia.

Sore ini, akhirnya aku memutuskan untuk datang. Sempat terpikir untuk berdandan rapi. Tapi kupikir, ah sudahlah. Ini kunjungan resmi ke rumah cewek paling menyebalkan sekaligus paling menarik di kampus-mungkin penampilan biasa saja lebih jujur.

Yang penting, mobil sport merah kesayanganku dicuci sampai mengilap. Mobil itu kuparkir tepat di depan rumah kontrakan Delia, sedikit miring supaya kelihatan elegan dari segala sudut. Lampu hazard kunyalakan sebentar. Lalu ku tekan klakson-sekali saja. Dramatis.

Tapi harapanku langsung runtuh saat Delia keluar. Bukannya kaget atau kagum, dia malah langsung panik. Membawa gayung biru, wajahnya penuh curiga.

"ARKAN?!" serunya. "Ngapain kamu ke sini?!"

Ya ampun, Delia. Boro-boro terkesan, melirik mobil pun tidak. Aku tersenyum miris dalam hati.

Mobil sport merah, kalah saing sama gayung plastik.

"Aku cuma mau buktiin kamu nggak kasih alamat palsu," sahutku santai.

Dia membuka pagar dengan malas. Berdiri di depan pintu sambil menyilangkan tangan di dada.

"Terus sekarang kamu mau apa? Laporin ke rektor? Atau ngajak nyanyi dangdut keliling RT?"

Aku tertawa pelan. "Tenang. Aku nggak sejahat itu. Tapi boleh juga tuh... karaoke duet pas lebaran."

Dia melotot, tapi pipinya memerah. Duh, lucunya.

"Kalau kamu cuma mau malu-maluin aku, mending pulang aja," ujarnya sambil mulai menutup pagar.

Tapi aku tahan. "Gak. Aku ke sini bukan buat itu. Aku cuma... pengen lihat kamu aja. Tanpa baju merah. Tanpa wajah galak."

Dia terdiam. Tatapannya lebih lama kali ini.

"Dan kamu puas sekarang?"

Aku mengangkat bahu. "Lumayan. Tapi kalau kamu bikinin teh manis, mungkin aku bakal lebih puas lagi."

Dia mendecak. "Dasar cowok aneh."

Tapi pagar itu tetap dibuka lebar. Dan tanpa sadar, dia masuk ke dalam, sambil ngomel-ngomel kecil.

Aku tersenyum lebar, lalu menyusulnya masuk.

Lucu ya, hidup ini... dari ancaman dangdut jadi undangan teh manis.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED