Bab 2

Athalia sangat membutuhkan uang itu untuk Yasna—adiknya yang sakit. Tapi apa ia harus menyerahkan kehormatannya pada Mahesa? Tidak! Athalia tidak akan melakukan itu.

Seperti nasihat ibu. Kehormatan bagi wanita selayaknya sebuah mahkota. Athalia harus menjaganya, lalu memberikannya pada suaminya kelak. Bukan pada lelaki di hadapannya yang saat ini sedang menatapnya dengan senyum penuh hinaan.

Athalia balas menatap tajam, matanya menyiratkan kemarahan yang tertahan.

Tangan rampingnya merebut cek dari tangan Mahesa, membuat Mahesa tersenyum puas karena berpikir Athalia akan menerima tawarannya.

Namun selanjutnya Mahesa terkejut melihat apa yang Athalia lakukan di depan matanya. Athalia merobek cek itu, kemudian melemparnya ke wajah Mahesa.

“Meski seribu kali Anda bertanya padaku, jawabanku akan tetap sama. Aku tidak sudi menyerahkan kehormatanku pada lelaki seperti Anda. Jika memang aku dipecat hari ini, maka aku akan pergi. Dan aku bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kakiku lagi di perusahaan ini!” tegas Athalia dengan berani.

Napasnya memburu penuh emosi. Keberaniannya membuat Mahesa terkesiap. Selama hidupnya, ini kali pertama ia dibentak oleh seorang wanita miskin seperti Athalia.

Kini Athalia membalikan badan, bergegas keluar dari ruang kerja Mahesa. Bola mata abu milik Mahesa terus memindai punggung wanita itu sampai benar-benar menghilang dari pandangannya.

“Menarik sekali. Ini pertama kalinya aku melihat wanita yang menolak uang dengan jumlah sebesar itu.” Mahesa tersenyum tipis.

Jujur, ada sedikit kekaguman dalam hatinya terhadap sikap Athalia yang tetap bersikeras ingin mempertahankan kehormatannya dan menolak tawaran menggiurkan yang diberikan oleh Mahesa.

Mengingat, para aktris serta model papan atas justru saling berebut mendekatinya. Tentu saja mereka sangat terpikat pada paras Mahesa yang tampan dan berkarisma. Lebih lagi pada kekayaannya yang tak terhitung banyaknya.

Tetapi manusia tidak pernah ada yang benar-benar sempurna. Pasti ada cela yang tersembunyi dalam kehidupan pribadi mereka.

Maka Mahesa pun memiliki sisi kekurangannya sendiri. Dan kekurangannya itu adalah akibat dari kelamnya masa lalu yang sangat tidak ingin Mahesa ingat.

Masa lalu itu pula lah yang akhirnya membentuk Mahesa menjadi seorang lelaki yang tak percaya dengan adanya cinta.

“Tapi bukankah semua wanita itu sama saja? Aku yakin, dalam satu atau dua hari, Athalia pasti akan kembali menghadapku untuk menyetujui apa yang kutawarkan,” gumamnya tersenyum kecut.

***

Pasrah, Athalia memilih menyerahkan semuanya pada Tuhan. Mungkin esok hari ia akan mendapatkan pinjaman dari orang lain.

Namun, begitu pulang ke rumah, Athalia justru mendengar kabar buruk. Adiknya dilarikan ke rumah sakit.

“Sebelum semuanya makin parah, sebaiknya proses transplantasinya segera dilakukan. Mungkin kami tidak bisa menjamin kesembuhannya. Tetapi dari sebagian besar kasus leukimia jenis ini, memiliki kemungkinan sembuh yang lebih besar setelah melakukan cangkok sumsum tulang belakang. Sumsum tulang belakangnya Yasna yang telah rusak harus diganti dengan sumsum tulang belakang sehat yang cocok dengannya.” Dokter Andri memaparkan hal yang sebenarnya sudah Athalia ketahui sejak beberapa hari ke belakang.

Ini kedua kalinya Dokter Andri mengatakan itu pada Athalia.

Athalia mengetahui tentang kondisi Yasna yang harus melakukan transplantasi. Tetapi ia tidak tahu harus mencari uang sebanyak itu dari mana.

Sebenarnya untuk pendonornya sendiri, Dokter Andri mengatakan kemungkinan besar yang paling cocok adalah ibunya. Meskipun nantinya tetap harus dilakukan tes kecocokan terlebih dahulu.

“Aku tahu ini tidak mudah, Athalia. Biayanya memang sangat besar. Aku mengerti keadaan ekonomi keluargamu. Sebagai dokter, aku harus mengatakan apa jalan terbaik untuk kesembuhan Yasna.”

Athalia mengangguk, tersenyum pahit. Keadaan Yasna semakin serius. Apa yang bisa ia lakukan untuk adiknya itu?

‘Aku pengangguran. Uang di dompetku sudah habis semua hari ini. Sedangkan Yasna sangat membutuhkannya. Apa yang harus aku lakukan sekarang?’ batin Athalia.

Kini ia melangkah keluar dari ruangan Dokter Andri. Athalia berdiri menyandarkan punggungnya di tembok, matanya menatap sayu ke depan, sementara benaknya berkecamuk memikirkan banyak hal.

Sampai tiba-tiba ucapan Mahesa kembali terngiang di telinganya.

‘Pilihannya hanya dua, Athalia. Terima tawaranku dan selamatkan adikmu. Atau kau kupecat dan adikmu tidak akan tertolong.’

“Adikku tidak akan tertolong…” Athalia mengulang kalimat Mahesa sambil memejamkan mata, membuat setetes air jatuh melewati pelipisnya.

Ada rasa sesal dalam hatinya, mengapa ia harus berada dalam situasi yang sangat berat seperti ini? Jika ia menerima tawaran Mahesa, kemungkinan Yasna untuk sembuh sangat besar. Tetapi ia harus melakukan sebuah pengorbanan yang besar pula. Athalia harus merelakan keperawanannya untuk Mahesa, serta menjadi teman tidur lelaki itu selama satu bulan penuh.

“Tapi jika aku menolaknya, di mana aku harus mencari uang untuk biaya transplantasinya Yasna?” desahnya lelah.

Hembusan napas pelan lolos dari bibir mungilnya. Athalia sudah berkata pada Mahesa bahwa ia tidak akan pernah menginjakkan kakinya lagi di perusahaan milik lelaki itu.

Kemudian benaknya membayangkan kondisi Yasna yang kemungkinan akan semakin bertambah parah lagi seandainya tidak segera mendapat tindakan.

Tidak! Athalia tidak bisa kehilangan Yasna.

***

Pagi ini Mahesa sedang sibuk berjibaku dengan pekerjaannya.

Lelaki berwajah tampan itu kemudian mengangkat kepalanya dari berkas yang sedang ia tandatangani saat mendengar suara pintu yang diketuk, lalu pintu pun terbuka begitu ia mempersilakan masuk.

“Athalia?!” mata Mahesa menyipit melihat Athalia yang masuk dengan wajah tertunduk. Gurat pasrah di wajah wanita itu membuat sebelah ujung bibir Mahesa tertarik.

Athalia datang? Bukankah dia sudah dipecat? Mahesa tersenyum miring dalam hati. Ia sudah bisa menduga apa niat kedatangan Athalia ke ruangannya.

“Kemarin kau bilang tidak akan sudi lagi menginjakkan kaki di perusahaanku. Tapi sekarang kau datang. Lucu sekali, Athalia. Ternyata wanita pemberani sepertimu pandai menarik ucapannya sendiri.” Mahesa meletakan bolpoin yang tadi dipegangnya ke atas meja.

Menatap Athalia, ia menautkan kedua tangannya di bawah dagu, sementara siku tangannya tertumpu di tepi meja. Kedua bola mata abunya sempurna melekat pada wajah Athalia yang tampak memerah.

Athalia pun menaikan pandangan, membuat mata hazel berwarna cokelat muda miliknya, dapat melihat wajah Mahesa yang menampilkan raut jumawa. Athalia sadar, Mahesa pasti telah menebak niat kedatangannya.

“Kau akan bicara atau hanya tetap diam saja? Katakan, Athalia! Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggumu membuka mulut.” Mahesa mendesak.

Cepat Athalia menarik napasnya dalam, membuangnya kasar sebelum kemudian ia meremas tangan, memejamkan mata dan berkata.

“Aku mau menerima tawaran Anda yang kemarin, Tuan.”

Meski sudah menebaknya, Mahesa tetap saja merasa terkejut. Netranya semakin lamat memperhatikan gerak bibir bawah Athalia yang bergetar pelan, lalu pandangannya turun pada kedua tangan Athalia yang mengepal erat.

“Tawaranku yang mana? Aku tidak ingat.” dengan sengaja Mahesa mempermainkan Athalia, membuat Athalia sempurna membuka matanya, menatap Mahesa tak percaya.

“Jawab Athalia! Memangnya aku pernah memberi tawaran apa padamu?”

Athalia menelan ludahnya berat. Ia sadar, Mahesa hanya ingin membuatnya semakin merasa malu dan terhina.

“Tawaran Anda yang mengatakan akan membiayai seluruh biaya pengobatan adikku sampai sembuh, dan aku harus membayarnya dengan menjadi teman tidurmu selama satu bulan.”

Kini senyum miring tercetak jelas di bibir Mahesa. Athalia menahan sesak yang berkumpul di dadanya.

“Sudah kubilang, bukan? Aku terbiasa mendapatkan apa yang kuinginkan, Athalia.” Mahesa bangkit berdiri.

Jika berkenan, mampir ke novelku yang lainnya yuk! Siapa tahu ada yang kalian suka.

Judulnya:

1. Mantan Istri CEO Tampa

2. Gadis yang Ternoda

3. Salah Pilih Pengantin.

Bab 3

Tubuh Athalia terasa mengkerut setiap kali langkah kaki panjang Mahesa makin mendekat padanya.

Mahesa menduduki tepi meja tepat di depan Athalia, melipat kedua tangannya di dada, seraya matanya memindai tubuh wanita itu dari atas ke bawah. Hal itu membuat Athalia menahan napas sekuat tenaga. Tatapan Mahesa begitu merendahkan.

“Aku sudah setuju dengan penawaran Anda, Tuan. Dan aku tidak ingin berdebat lagi. Terserah dengan apa tanggapan Anda tentang diriku. Aku hanya ingin meminta uang satu miliar itu. Adikku sangat membutuhkannya sekarang.”

“Hei? Apa aku tidak salah dengar, Athalia? Kau ingin meminta bayaranmu sementara kau belum memberikan apa yang seharusnya kudapatkan.” Mahesa mengangkat alis, membuyarkan tangannya yang terlipat di dada.

Ketukan sepatu mahal itu terdengar kembali, mengusik jantung Athalia yang semakin berdetak resah.

Satu tangan Mahesa menjepit dagu Athalia dan menariknya hingga mata mereka kembali bersinggungan.

Athalia menelan ludah. Dada mereka yang nyaris tak berjarak membuat Athalia harus sedikit menahan napasnya.

“Aku tidak akan memberikan uang itu sebelum kau melakukan tugasmu,” bisik Mahesa mengingatkan. Terpaan napasnya terasa hangat di permukaan wajah Athalia. “Kau sudah menyepakati tawaranku untuk mendapatkan uang itu, bukan? Kau ingin aku membiayai seluruh pengobatan adikmu sampai dia benar-benar sembuh? Kau ingin uang itu secepatnya?” lanjutnya bertanya pada Athalia.

Athalia sedikit bergidik ketika telapak tangan Mahesa yang lebar menelisik ke dalam rambutnya, mengelusnya dengan gerakan halus, sebelum akhirnya menyelipkannya ke belakang telinga.

Tetapi kepala Athalia tak urung mengangguk sebagai jawaban.

“Adikku harus segera melakukan transplantasi. Dia tidak punya banyak waktu.” suara Athalia agak bergetar saat mengatakan itu.

Pundaknya berjengit menghindari sentuhan tangan Mahesa yang mencoba mengelus leher jenjangnya. Terasa geli dan aneh bagi Athalia yang tak pernah merasakan sentuhan dari laki-laki dewasa.

Mahesa tersenyum menang. “Baiklah. Tampaknya kau sudah sangat tidak sabar ingin segera mendesah di atas ranjangku,” ejeknya membuat Athalia mendengus dan mengalihkan pandangan ke samping.

Menyeringai tipis, Mahesa memindai wajah Athalia yang begitu polos. Wajah yang meski jarang terpoles oleh make-up tebal, tetapi masih menampilkan kesan cantik yang unik.

Tangannya mengambil sebuah kartu di dompet, lalu memberikannya pada Athalia.

“Itu kartu namaku. Di sana ada alamat apartmenku. Kalau kau ingin semua dilakukan secepatnya, maka datanglah malam ini. Mulai nanti malam kau sudah bisa bekerja sebagai teman tidurku,” ucap Mahesa.

Athalia menerima kartu nama itu dengan tangan yang agak bergetar. Meski hati kecilnya sangat menentang apa yang ia putuskan saat ini. Tetapi Athalia tetap harus melakukannya untuk Yasna.

Mata bulatnya melekat pada kartu nama yang tadi disodorkan Mahesa. Tiba-tiba Athalia menelan ludahnya berat, benaknya membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam dengan dirinya?

“Kenapa kau terlihat gugup? Kau tahu ‘kan, sekali kau memutuskan maka kau tidak akan pernah bisa membatalkannya.” matanya mengamati keresahan yang tergambar jelas di wajah Athalia.

“Selama satu bulan penuh, tubuhmu adalah milikku. Dan tugasmu adalah menghangatkan ranjangku,” bisik Mahesa, mengelus leher jenjang Athalia dengan gerakan seringan bulu. Membuat Athalia sejenak memejamkan mata.

Ingin rasanya ia menghindar, tetapi sialnya Athalia tak bisa melakukan itu.

Hembusan napas lelaki itu di kulit pipinya membuat Athalia bergidik.

“Lalu… bagaimana dengan pekerjaanku? Apa aku tetap dipecat?”

Mahesa tertawa pelan.

“Jika aku memecatmu, lalu siapa yang akan melayani hasratku saat aku di kantor? Aku membayarmu bukan hanya untuk dipajang di apartmenku. Tapi untuk melayaniku selagi aku menginginkanmu dimanapun dan kapanpun.”

Athalia sedikit terhenyak.

Dimanapun dan kapanpun katanya? Bagaimana jika Mahesa meminta dirinya di tempat dan waktu yang tak terduga?

“Apa kata-kataku cukup jelas untuk kau pahami, Athalia? Kau mengerti dengan yang aku maksud?”

Athalia mengangguk pelan. Itu artinya ia tidak jadi dipecat. Tapi kabar buruknya, bukan tidak mungkin Mahesa akan memanggilnya sewaktu-waktu ke ruang kerja lelaki itu, hanya untuk menuntaskan hasratnya yang seperti kuda liar.

“Aku mengerti.”

“Bagus! Sekarang keluarlah dan lakukan pekerjaanmu seperti biasa.” sebelah tangan Mahesa mengibas di depan Athalia.

Athalia baru akan berbalik ketika Mahesa mendudukan dirinya kembali di kursi kerjanya. Namun saat tangan Athalia hendak mengayunkan daun pintu, suara baritone itu terdengar memanggilnya.

“Athalia!”

Athalia menoleh, menatap dengan raut penuh tanya.

“Iya Tuan?”

Mahesa tidak langsung menjawab. Ia tampak berdeham sejenak, sebelum kemudian bicara.

“Saat datang ke apartmenku nanti malam, pakailah gaun yang seksi!”

Seketika bola mata Athalia membeliak lebar.

***

“Athalia. Kau mau pergi ke mana? Tidak biasanya kau dandan malam-malam begini?”

Spontan Athalia menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengoles lipstick di depan cermin, ketika tiba-tiba Dian datang dan memergokinya di dalam kamar.

“Ibu. Aku pikir Ibu sudah tidur dengan Yasna.”

Diam mengangguk, mengelap keningnya yang sedikit berkeringat sambil menghampiri Athalia yang sibuk dengan peralatan make-up murah seadanya yang ia miliki.

“Yasna memang sudah tidur. Tapi Ibu belum. Tidak tahu kenapa, malam ini rasanya Ibu susah sekali untuk tidur. Padahal hanya tinggal memejamkan mata. Hati Ibu seperti merasa tidak tenang. Rasanya resah sekali. Perasaan Ibu tidak enak. Ibu juga bingung, mengapa Ibu merasakan perasaan aneh seperti ini.”

Mendengar itu, Athalia tergugu di tempatnya berdiri. Matanya menatap nyalang pada cermin yang memantulkan bayangannya sendiri.

‘Ibu tidak tahu. Sebenarnya apa yang sedang Ibu rasakan adalah sebuah firasat buruk. Sesuatu yang buruk akan menimpa diriku, Bu. Malam ini aku akan menyerahkan kehormatanku dan menjadi wanita murahan bagi bossku sendiri. Maafkan aku, Bu.’ Athalia membatin.

Dengan alasan akan menginap di rumah teman, akhirnya Dian mengizinkan Athalia keluar rumah malam ini.

Padahal Dian tidak tahu jika sebenarnya Athalia akan pergi ke apartmen Mahesa.

Menggunakan ojek online, Athalia pun sampai di depan pintu apartmen milik bossnya. Tangannya ragu-ragu memencet bel, sampai akhirnya daun pintu berayun terbuka dan sosok Mahesa yang masih terbalut lengkap dengan kemeja kerjanya, kini berdiri menjulang di hadapannya.

“Kupikir kau tidak akan datang,” katanya pada Athalia, bibirnya menyungging senyum kemenangan.

“Masuklah! Selamat datang di tempat kerjamu yang baru,” ledek Mahesa sembari membuka daun pintu lebih lebar.

Athalia membuang napasnya pelan, merasa kesal. Tetapi kakinya tetap melangkah masuk. Dan mata Mahesa memindai tubuh bagian belakang Athalia yang tampak ramping.

“Apa kau ingin minum?” Mahesa sudah duduk kembali di sofanya, tangannya mengangkat gelas berisi minuman memabukan pada Athalia.

Athalia yang masih berdiri di tempatnya hanya menggeleng. “Tidak. Terima Kasih,” jawabnya sembari mengalihkan pandangan dan mengusap lengannya sendiri.

Mahesa meneguk minumannya cepat sementara matanya masih lekat menatap wajah Athalia.

“Duduklah, Athalia. Jika kau duduk terus, nanti darahmu turun.” Mahesa mengedikkan dagu ke arah sofa di seberangnya.

Athalia menurut, ia menghempaskan pantatnya di sana. Namun seketika itu juga Athalia menjadi semakin gelisah.

Menyadari bahwa mereka hanya berdua saja di apartmen ini, membuat Athalia menelan salivanya berat.

‘Mahesa terus saja menatapku setajam itu. Aku tahu kalau malam ini aku sudah tidak bisa melepaskan diri darinya. Karena aku sudah menjatuhkan pilihan dengan menjadi teman tidurnya. Hanya satu bulan, Athalia, semua ini hanya satu bulan saja. Setelah itu aku bisa bebas dari lelaki ini.’

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED