"Peka banget tuan muda Goldwyn."
Saat Rikkard mendengar kata-kata dari Cathleen, emosinya memuncak. Dia tidak bisa menahan kemarahannya lagi. Dengan cepat dan tanpa peringatan, dia mengapit leher Cathleen dengan tangannya yang kuat. Dia mendorongnya ke depan, memaksa mereka berdua dalam jarak yang sangat dekat, hidung mereka hampir bersentuhan. Cathleen menahan napasnya, terkejut dengan kedekatan mereka yang tiba-tiba. Aroma mint yang keluar dari mulut Rikkard memasuki hidung Cathleen, membuatnya merasa tidak nyaman.
Rikkard memandangi mata hijau Cathleen dengan tatapan yang dalam dan intens. Dia terpaku sejenak, terpesona oleh mata yang begitu teduh dan menenangkan. Namun, itu hanya berlangsung sebentar. Ekspresi Rikkard berubah secara dramatis, seringai licik muncul di bibirnya dan matanya menjadi tajam dan dingin.
"Lo sudah terlalu banyak ngusik kehidupan gue sampe-sampe gue muak liat gadis ular seperti lo terus berkeliaran di hadapan gue. Gue ingetin sekali lagi, jangan ngusik hidup gue terlalu jauh sebelum gue main tangan terhadap lo." Dia berbicara dengan suara yang dingin dan tajam, penuh ancaman. Dia memperingatkan Cathleen untuk tidak mengganggu hidupnya lagi, mengancam akan bertindak jika dia melanggar batas. Bahkan teman-teman Rikkard yang biasanya mengenalnya sebagai pribadi yang hangat dan ramah, merasa ngeri melihat perubahan sikapnya yang drastis.
Namun, Cathleen tidak terpengaruh oleh ancaman Rikkard. Dia malah menertawakan ancamannya, yang hanya membuat Rikkard semakin marah. Emosinya semakin membara, dan dia merapatkan genggaman tangannya di leher Cathleen, membuatnya kesulitan bernapas.
Namun, Cathleen tetap tegar. Meski napasnya tercekat, dia tetap berkata dengan suara yang penuh keteguhan, "Gue enggak takut." Dia menatap Rikkard dengan tatapan yang sama tajamnya, menunjukkan bahwa dia tidak akan mudah dikalahkan.
Bella datang tepat pada waktunya, mendorong tangan Rikkard yang mencekik leher Cathleen. Bella berteriak, "Apa-apaan sih lo, Rikkard! Lo pengen liat sahabat gue mati?" Suaranya keras dan tegas, penuh dengan kemarahan dan kekhawatiran untuk sahabatnya.
Sementara itu, Cathleen berusaha menarik napas sebanyak mungkin, terbatuk-batuk dan merintih kesakitan. Matanya memerah, dan dia merasa seperti tenggorokannya terbakar. Dengan tangan gemetar, dia mengusap lehernya yang sudah memerah dan bengkak. Saat merasa telah cukup menghirup napas sontak Naomi membalikkan tubuhnya menghadap Rikkard lalu gadis menyinggung senyuman licik sembari menatap tajam Rikkard.
"Sebelum gue benar-benar liat lo hancur, gue enggak pernah berhenti untuk ngusik lo, bahkan gue bakal buat semua cewek yang dekat dengan lo menjauh dan gue bakal buat citra lo buruk di depan semua orang!"
"Sebelum lo lakuin itu semua, gue bakal terlebih dahulu ngehancurin hidup lo tanpa tersisa sedikitpun hingga buat semua orang membenci lo dan jijik terhadap lo"
Tidak ada yang ingin mengalah di antara mereka, mereka terlihat saling melayangkan tatapan tajam dan dingin, bahkan tanpa peduli mereka telah menjadi pusat perhatian para penonton balapan malam ini.
"Silahkan hancurin gue sesuka lo, tuan muda. Gue Cathleen enggak pernah takut dengan ancaman lo."
Rikkard mengepal kuat tangannya sehingga terlihat buku-buku jari dengan urat-urat tangan menonjol jelas. Tapi itu tidak membuat Cathleen merasa takut sama sekali karena rasa cinta gadis itu kepada Rikkard lebih besar daripada ketakutannya kepada pemuda itu.
"Cath, ayo pulang! Nanti tante Alena nyariin lo," bisik Bella sembari mengapit tangan Cathleen supaya menjauh dari Rikkard karena suasana semakin mencekam kala melihat tatapan menggelap dari pemuda itu yang di layangkan kepada Cathleen.
Cathleen membenarkan perkataan Bella sehingga gadis itu hanya pasrah di tarik Bella menjauh dari hadapan Rikkard tapi tidak membuat gadis itu melepaskan tatapan tajamnya kepada pemuda itu sampai di depan mobil.
"Gue tunggu,” ucap Cathleen sebelum benar-benar menghilang masuk kedalam mobil. Seketika Bella kembali lagi mendekati segerombolan pemuda itu lalu gadis itu menjinjitkan kakinya mengecup sekilas pipi Zeus.
"Aku pulang dulu, Babe," ucap Bella sebelum benar-benar hilang mengikuti Cathleen masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati," jawab Zeus dan mendapat anggukan dari Bella.
Cathleen mengendarai mobil tepat di hadapan Rikkard dan yang lain lalu gadis itu memencet klakson sambil mengacungkan jari tengahnya lewat jendela mobil.
"Baru kali ini gue liat cewek berani banget sama lo, lo enggak ada ngerencanain buat gadis iblis itu kapok?" tanya Theo kepada Rikkard yang masih memandang mobil yang mulai keluar dari area sirkuit.
"Selama cewek tuh enggak melampaui batas gue biasa aja tapi kalo sampe benar-benar di luar jalur gue enggak segan-segan bunuh cewek tuh."
Theo hanya manggut-manggut paham lalu beralih menoleh Zeus dengan tatapan penuh tanda tanya. "Lalu kenapa lo enggak ngelarang Bella deket-deket dengan cewek ular tuh, lo enggak takut cewek lo bakal sama dengan dia, berubah jadi licik?"
"Gue udah ngelarang cewek gue untuk enggak temenan dengan Cath tapi ya itu katanya Cathleen enggak pernah ajakin Bella bekerja sama berbuat hal-hal buruk, malah Cath ngelarang cewek gue ikut serta dengannya membully anak-anak,” jelas Zeus dengan santai.
"Kadang kala gue agak gimana ya dengan sikap Cath, gue ngerasa cewek tuh penuh teka-teki soal selalu ganggu lo Rikkard seakan-akan cewek tuh pengen ngungkapin sesuatu kepada lo tapi dengan cara buat lo benci sama dia." Rikkard menyentil keras kening Theo membuat pemuda itu hanya meringis kesakitan.
"Jauhin pikiran lo tentang cewek tuh, gue yakin dia tuh pengen hidup gue hancur makanya selalu mencari masalah dengan gue,” ucap Rikkard setelah menghela napas panjang.
"Gue harap juga gitu."
***
Cathleen melangkah masuk ke perkarangan rumahnya yang luas setelah pagar besi hitam dibuka oleh satpam yang setia. Rumahnya, meskipun bukan istana, adalah rumah yang nyaman dan hangat, dengan taman yang terawat dengan baik dan pohon-pohon yang rindang. Cathleen bukan berasal dari keluarga super kaya, tetapi dia juga jauh dari miskin. Keluarganya, meski tidak mewah, selalu memberikan segala yang dia butuhkan dan lebih. Mereka adalah keluarga yang penuh cinta dan harmonis, meski hanya terdiri dari Cathleen dan ibunya, Alena.
Ayah Cathleen, seorang pria baik dan penyayang, meninggal saat Cathleen masih berusia 10 tahun. Itu adalah masa yang sulit bagi mereka berdua, tetapi Alena, ibunya, tidak pernah mencari pengganti untuk suaminya. Dia berkomitmen untuk fokus pada kebahagiaan dan kesejahteraan Cathleen, dan dia telah melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam hal itu. Rumah mereka dipenuhi dengan kenangan indah, cinta, dan tawa. Itu adalah tempat di mana Cathleen selalu merasa aman dan dicintai, tidak peduli apa yang terjadi di luar dunia mereka.
"Pak Bondan, tolong rawat dan jaga mobil aku ya!" ucap Cathleen ramah sembari menyodorkan kunci mobil kepada Pak Bondan.
"Siap, Nona! Pak Bondan kece nih bakal jagain mobil Nona Vienna dengan baik," ucap Pak Bondan dengan mengangkat sebelah tangannya untuk diletakkan di kening. "Tapi dari mana nona cantik nih dapetin mobil mewah ini?” gumamnya lagi sembari berjalan menelisik mobil itu dengan seksama, bahkan pria itu mengelus body mobil itu dengan lembut.
Cathleen terkekeh ringan lalu mendekati Pak Bondan yang masih menelisik mobil itu. "Aku menang balapan, Pak. Mulai sekarang mobil nih bakal menjadi mobil kesayangan Vienna."
"Wah! Hebat banget Nona Vienna hingga bisa menang balapan."
"Aku main curang Pak, biar dapat mobil nih loh."
"Kayaknya seneng banget dapet mobil nih?" goda Pak Bondan saat melihat anak majikannya memandang mobil itu dengan tatapan berbinar.
"Vienna sangat sangat senang, Pak,” ucap Cathleen dengan senyuman mengembang yang terukir indah di wajah gadis itu.
"Oya aku masuk dulu ya, Pak!” pekik Cathleen sambil melambaikan tangan ke arah Pak Bondan.
"Selamat istirahat, Nona!" Pak Bondan geleng-geleng kepala melihat kegirangan Cathleen tapi tak urung pria itu tersenyum lebar.
Cathleen berjalan pelan menuju pintu depan rumahnya, rumah minimalis dua lantai berwarna putih yang selalu terlihat bersih dan rapi. Dia memegang gagang pintu dengan lembut, berusaha untuk tidak membuat suara yang bisa membangunkan ibunya, Alena. Melihat ke dalam, dia bisa melihat bahwa rumahnya sudah gelap. Lampu ruang tamu sudah dimatikan, menandakan bahwa Alena sudah pergi tidur. Jam dinding menunjukkan hampir pukul satu pagi.
Dia melepaskan sepatu putihnya di pintu dan memegangnya di tangannya, berjalan dengan kaki telanjang di lantai yang dingin. Dia berusaha sebisa mungkin untuk berjalan tanpa membuat suara, menahan napasnya setiap kali langkahnya berdecit di bawah berat badannya. Cathleen merasa sedikit cemas, menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Dia tahu ibunya akan khawatir jika mengetahui dia pulang larut malam, dan dia tidak ingin membuat ibunya stres. Dia berharap bisa mencapai kamarnya tanpa membangunkan Alena.
"Cathleen Vienna Aubrey!”
Cathleen berjalan dengan hati-hati, menahan napasnya setiap kali lantai di bawah kakinya berdecit. Dia menatap sekeliling, memastikan bahwa tidak ada yang terbangun. Dia merasa seperti seorang pencuri di rumahnya sendiri, dan dia tidak bisa menahan rasa gugup yang memenuhi hatinya. Dia melihat ke arah ruang tamu, melihat bahwa lampu sudah dipadamkan. Dia merasa lega, mengetahui bahwa sang mommy-Alena, sudah tertidur.
Cathleen menurunkan sepatu putihnya di lantai dengan hati-hati, berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat suara. Dia terus mengigit bibir bawahnya, merasa gugup dan takut. Dia berjalan perlahan menuju kamarnya, berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat suara. Dia merasa seperti seorang pencuri di rumahnya sendiri, dan dia tidak bisa menahan rasa gugup yang memenuhi hatinya.
Seseorang menekan sakral lampu sehingga ruangan yang tadinya gelap gulita kini sudah terang karena cahaya. Cathleen merasa hatinya berdebar-debar saat melihat sang mommy berjalan ke arahnya. Dia berusaha menahan senyumnya, mencoba menutupi rasa gugup yang memenuhi hatinya.
"Baru pulang?" tanya ibunya, suaranya lembut dan penuh kasih sayang.
"He-he-he, mommy cantik ternyata masih belum tidur," jawab Cathleen, berusaha sebisa mungkin untuk tidak terdengar gugup. Dia berjalan menghampiri Alena dan duduk di sampingnya, memeluk lengan Alena dengan manja.
Alena hanya tersenyum tipis, merasa senang melihat anaknya begitu bahagia. "Sudah puas bersenang-senang hingga lupa jam pulang, hm?" tanyanya dengan lembut, tangannya mengusap rambut pirang Cathleen dengan lembut.
Cathleen merasa begitu beruntung memiliki ibu seperti Alena. Dia merasa begitu dicintai dan dihargai. Dia tahu bahwa sang mommy selalu ada untuknya, tidak peduli seberapa larut dia pulang.
"Puas benget, Mom. Aku enggak pernah sesenang gini bikin Kak Kara ngalah sama aku," jawab Cathleen dengan antusias membuat Mommy Alena terkekeh ringan. Bukan rahasia lagi bagi Alena untuk mengetahui sang anak memanggil Rikkard dengan Kak Kara saat bersama dengannya.
"Memangnya anak mommy malam ini ngapain Kak Kara hm?"
"Aku berhasil dapetin mobil kesayangan Kak Kara dan mommy tau, aku berhasil ngalahin Kak Kara di balapan loh."
"Pasti kamu bermain curang, kan?" Saking gemasnya melihat sang anak begitu antusias, wanita itu menoel hidung mancung Cathleen dengan lembut. Seketika gadis itu menyengir memamerkan gigi putihnya di hadapan Alena saat mengetahui sang mommy langsung bisa menebak isi pikirannya, tepatnya kebiasaannya.
"Mommy luar biasa! Cantik, pintar, dan baik lagi bikin Vienna beribu-ribu menyanyangi mommy," katanya lagi memeluk Alena dari samping sehingga membuat Alena mengecup singkat pelipis sang anak dengan penuh kasih sayang.
"Sayang." Cathleen hanya bergumam menjawab panggilan sang mommy.
"Kamu benar enggak mau ikut mommy pulang ke rumah nenek?"
Beberapa hari yang lalu Alena mendapat telepon mengabari kesehatan ibunya semakin menurun drastis. Karena Alena seorang dokter beda, wanita itu terpaksa pindah dinas ke kota sang ibu supaya lebih leluasa menjaga wanita yang telah melahirkannya. Alena telah mengajak anak gadisnya ikut dengannya tapi jawaban gadis itu selalu menggeleng, katanya Cathleen ingin melihat Rikkard setiap hari.
Alena merasa hatinya berat. Dia tahu bahwa ibunya membutuhkan dirinya, tetapi dia juga tahu bahwa Cathleen membutuhkannya. Dia merasa terpecah antara keinginannya untuk merawat ibunya dan keinginannya untuk tetap berada di sisi Cathleen.
"Vienna sayang, kamu yakin tidak mau ikut dengan mommy?" tanya Alena, mencoba untuk memahami keputusan anaknya.
Cathleen menggeleng, matanya penuh dengan keberanian dan keteguhan. "Aku ingin tetap di sini, Mom. Aku ingin melihat Kak Kara setiap hari," jawabnya, suaranya penuh dengan kepastian.
Alena merasa begitu bangga melihat anaknya tumbuh menjadi wanita yang kuat dan independen. Dia tahu bahwa Cathleen bisa menjaga dirinya sendiri, tetapi dia juga tahu bahwa dia akan merindukannya.
"Baiklah, Sayang. Tapi kamu harus berjanji pada mommy bahwa kamu akan merawat dirimu sendiri dan tidak melakukan hal-hal yang berbahaya, oke?" ucap Alena, merasa sedikit lebih lega.
Cathleen mengangguk, matanya penuh dengan kepastian. "Aku berjanji, Mom," ucapnya, membuat Alena merasa sedikit lebih lega.
"Vienna mau di sini sebentar melihat Kak Kara, walaupun dari jauh. Nanti kalo Vienna sudah lelah, Vienna bakal nyuruh mommy jemput aku di sini," ulang Cathleen lagi menyakinkan sang mommy. Alena semakin mengeratkan pelukan sembari membubuhkan Cathleen beberapa kecupan di pucuk kepala gadis itu.
"Baiklah, mommy mengizinkan kamu tinggal di sini untuk sesaat tapi kamu harus janji sama mommy untuk memberitahu kabar kamu tiap hari supaya mommy sedikit lebih tenang di sana. Kalo ada apa-apa jangan sungkan minta bantuan sama Pak Bondan dan Bi Asih ya," ujar Alena lembut walaupun dia tidak rela berpisah jauh dari sang anak si mata wayang, namun dia tidak mungkin mengekang kehidupan Cathleen mengingat sang anak telah beranjak dewasa.
"Iya mommy-ku sayang, Vienna akan mengabari mommy setiap hari."
"Dan jauhin alkohol, mommy enggak mau alergimu kambuh sayang."
"Baik ... Baik ... Baik ...." Cathleen mendongak mengecup pipi sang mommy bertubi-tubi sehingga mendapat kekehan dari Alena.
"Sana pergi tidur, Sayang. Besok bangun telat gimana? Katanya ada kelas pagi." Sontak Cathleen berdiri lalu meletakkan tangannya di atas pelipis dengan senyum tercetak sempurna di wajah gadis itu.
"Siap ibu negara! Hamba akan menuruti perintah anda." Cathleen mengecup kedua sisi pipi sang mommy bertubi-tubi karena sudah menjadi kebiasaan gadis itu saat hendak tidur ataupun bangun tidur, dia akan memberi kecupan untuk Alena di manapun gadis itu berada. Sebelum itu gadis itu meraih sebuah foto lalu mengecupnya dengan penuh kasih sayang.
"Selamat malam daddy!"
Alena hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum tipis saat melihat tingkah kegirangan anaknya dan matanya tak pernah beralih menatap sang anak mulai menghilang daripada pandangannya menuju ke kamar. Setelah melihat punggung Cathleen menghilang dari pandangannya, wanita itu menoleh ke sebuah foto di atas nakas lalu meraihnya dan mengelus sebentar sambil tersenyum bahagia.
"Sayang, dia sudah besar dan mirip banget denganmu,” ujar Alena meneteskan air mata tepat di atas foto sang suami yang sudah meninggalkannya di bumi ini. "Semoga dia selalu bahagia."
Cathleen terus mengayunkan langkahnya menuju ke kamar, sontak langkah gadis terhenti kala melewati sebuah ruangan dengan dihiasi pintu bercat coklat. Di pintu terdapat tulisan 'dilarang masuk kecuali aku dan mommy'. Gadis itu menarik gagang pintu secara perlahan dengan senyuman yang tak pernah luntur di bibirnya. Kesan pertama saat masuk ke ruangan itu adalah sebuah bau yang begitu wangi masuk ke hidung gadis itu, siapa saja yang masuk ke ruangan itu pasti akan tenang dan bahagia.
Cathleen menekan saklar lampu, seketika ruangan itu terang dengan cahaya lampu. Sontak gadis itu tersenyum bahagia saat memandang banyak foto Rikkard berbagai gaya terpajang indah di dinding. Setelah puas memandang foto Rikkard cukup lama, gadis itu mengayunkan langkahnya kembali menuju ke sebuah meja yang terdapat sebuah buku tebal di atasnya. Dia menarik bangku ke belakang lalu mendudukkan bokongnya sembari meraih pena di samping buku itu. Tangannya mulai bergerak menulis setiap kata yang keluar dari otak kecil gadis itu, sesekali gadis terkekeh ringan saat teringat kejadian di sirkuit beberapa saat yang lalu.
' Lembaran ke 3600 aku dengan Kak Kara mengadakan balapan mobil. Sebenarnya akulah orang pertama yang menentang Kak Kara balapan denganku walaupun kemampuan balapanku enggak sehebat Kak Kara. Aku bahagia sekali saat Kak Kara langsung menyetujui tantanganku, sekalipun aku tahu Kak Kara saat itu semakin membenciku karena kembali menganggu kehidupannya. Tapi enggak apa-apa, yang penting aku memenangkan balapan itu dengan sengaja menciptakan kecurangan di antara kami berdua. Dan akhirnya aku berhasil memiliki mobil kesayangan Kak Kara hanya untukku seorang hehehe. I LOVE KAK KARA aku akan selalu mencintai Kak Kara selamanya'. Cathleen menutup buku itu setelah menulis semua yang terjadi hari ini tentang Rikkard. Bahkan gadis itu menulis setiap detail ekspresi yang ditunjukan Rikkard kepadanya.
"Selamat malam Kak Kara! Semoga Kak Kara bahagia selalu," gumam Cathleen di hadapan foto Rikkard yang berukuran sangat besar.
Cathleen bangkit dari tempat duduknya lalu mengayunkan kakinya keluar dari ruangan itu menuju ke kamarnya, namun sebelum itu gadis itu mengecup singkat foto Rikkard dengan sumringah. Cathleen menarik gagang pintu kamarnya, hal pertama saat masuk pertama kali adalah kegelapan dan kesunyian. Gadis itu menekan saklar lampu dan terlihatlah kamar bernuansa krim terpancar indah akibat cahaya lampu. Sontak Cathleen mengerutkan kening kala melihat sebuah kado di atas ranjangnya. Perlahan gadis itu membuka kado itu dengan hati-hati.
"Aaa mommy!"