Bab 2

Karang bolong, Banten.

Deburan ombak membentur karang, suaranya terdengar menakutkan. Angin di pantai menerpa wajah gadis bersurai hitam, rambutnya menari-nari di udara diterpa angin nakal. Gadis pemilik hazel coklat ini duduk memeluk lutut, menatap laut yang luas. Bayangan satu bulan silam masih membekas dalam ingatan. Ketika dia melihat sang ibu terkapar di tepi pantai dengan tubuh beku tak bernyawa. Dia hanya bisa memeluk jasad ibunya, disaksikan banyak orang.

Air mata meleleh tanpa seizin sang empunya. Hidungnya memerah dan pipi sudah basah oleh air mata. Seorang pria datang menuntun sepeda ontel membawa dua buah ice cream Cornetto dalam kresek yang bergelantungan di stang sepeda. Dia menghentikan langkah tepat dibelakang gadis ini. Menstandarkan sepeda dan ikut duduk disamping gadis bersurai panjang dan hitam.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun ia menyodorkan ice cream rasa strawberry. Gadis ini menoleh dan menerima ice cream. Kembali menatap laut yang luas dengan tangan membuka bungkus Cornetto. Anak lelaki ini duduk tepat di samping temannya yang masih menangis.

"Satu bulan sudah aku menjalani kehidupan yang hampa," ucapnya dengan tersenyum getir.

Pria ini mengangguk dan tersenyum tipis.

"Dan, tujuh tahun sudah aku kehilangan sosok seorang ibu," keluhnya.

Gadis ini menoleh dengan menikmati ice creamnya. "Kita sama."

Pria ini mengangguk. "Kau tak sendirian. Aku akan selalu ada untukmu, Pelangi Mekka Rubby," ucap Rain.

"Mungkin aku sudah mengakhiri hidup jika tidak ada kau," balas Rubby dengan terkekeh.

"Dasar bodoh! Jangan bicara seperti itu, mati tidak enak." Rain mencubit hidung mancung Rubby.

Riak ombak terdengar begitu indah, bagai alunan musik yang menyejukan. Air di laut melambai, membuat Rubby tergoda untuk masuk dan bergabung. Rubby beranjak dari duduk, berdiri dan berjalan ke tengah laut. Menaburkan bunga seraya berkata. "Mah, Rubby, kangen," ucapnya.

Rubby duduk diantara air laut. Membiarkan celana jeans yang dikenakan basah. "Maafkan, Rubby, Mah. Mungkin, Rubby tidak lagi sering datang ke tempat kesayangan Mamah.

Pantai, adalah tempat yang menyimpan berjuta kenangan antara Rubby dan Sherena. Namun, dia harus pergi meninggalkan tempat penuh kenangan ini. Rubby dan keluarga harus berpindah ke Jakarta.

"Rubby pamit, Mah." Dia beranjak, berbalik dan kembali menemui Rain.

Rain membuka jaket dan memakaikan pada Rubby. Rain membonceng Rubby dengan sepeda ontel, mengajak Rubby bersepeda mengelilingi pantai.

"Rain apa kita akan sedekat ini, jika kita tidak tinggal di kota yang sama?" tanya Rubby dengan melingkarkan tangan di pinggang Rain.

"Aku sudah bilang padamu, Rain dan Pelangi Mekka Rubby tidak akan bisa dipisahkan."

"Maksudnya?"

"Akan ada pelangi setelah hujan turun."

"Eh, kalau ada petir gimana?" Rubby bertanya asal.

Rain menghentikan laju sepedanya. Dia merengut. "Tidak akan ada petir saat Rain—hujan turun," ucap Rain tegas. "Dan, setelah itu pelangi akan hadir."

"Tidak jelas!" Rudy mencebik. Dia menyandarkan kepada di punggung Rain.

Rain dan Ruby, mereka bersahabat sejak kecil. Tetangga rumah dan selalu menghabiskan waktu bersama. Mereka saling terikat, memberi manfaat dan keindahan. Seperti halnya hujan dan pelangi.

Pulang ke rumah disambut dengan wajah tidak ramah Nani sang ibu tiri. Rubby berjalan masuk melewati Nani tanpa sepatah katapun.

"Hey, mau kemana kau, hah!?" Nani menjambak rambut Rubby.

"Lepaskan, Mah!" Rubby memberontak.

"Tante!" teriak Rain yang masih berada di depan gerbang rumah Rubby. Dia menjatuhkan sepeda ontel dan berlari menghampiri Rubby.

"Apa kau, hah!? Berani padaku!?" Nani memelototi Rain.

"Aku tidak takut padamu, lepaskan Rubby penyihir!" bentak Rain. Dia mencoba melepaskan rambut Rubby dari cengkraman Nani.

"Kau salah besar, Rain. Dengan kau menentangku, aku akan membuat Rubby lebih penderita!" ancamnya.

"Rain, pulanglah. Aku tidak apa," ucap Rubby dengan menangis merasakan sakit bekas Jambakan Nani.

"Nah, kau dengar itu anak sok pahlawan!" berangnya.

"Rubby," lirih Rain.

Nany kembali menjambak rambut Rubby dan menyeretnya masuk ke dalam rumah. Menurut pintu dengan keras, membuat Rain tersentak.

"Astaghfirullah," pekik Rain mengusap dada. Wajahnya terlihat sangat khawatir. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Rain mengusap wajah dengan kasar, berbalik dan meninggalkan rumah Rubby.

"Cepat kau bersihkan rumah!" titahnya, Nani mendorong Rubby hingga kepalanya membentur kaki sofa.

"Sudah kubersihkan, Mah. Aku lelah, ingin istirahat."

"Beraninya kau membangkang, Rubby!"

"Aku memang sudah mengerjakan semua, Mah."

"Lancang kamu, Rubby!" Tangan Nani melesat indah di pipi kiri Rubby.

Rubby hanya bisa meratapi nasib yang menimpanya. Kebahagiaan itu telah sirna, ketika Nani mulai hadir dalam kehidupan mereka. Sejak saat itu, Sherena sering bertengkar dengan Brahma. Hingga ibunya mati mengenaskan. Dan, kini Rubby menjalani hidup penuh penderitaan. Sejak pulang dari pantai hingga Brahma akan pulang, Rubby terus mengerjakan pekerjaan rumah.

Malam hari, sayup Rubby mendengar Nani mengadu pada Brahma ketika makan malam. Rubby yang sedang berada di depan pintu dapur pun menghentikan langkah.

"Sayang," rengek Nani pada Brahma.

"Ada apa?" Brahma menoleh.

"Rubby itu lho, tadi marah dan membuang semua beras ke got. Aku pusing dengan tingkah anakmu."

"Apa!?" Mata Brahma membulat.

"Astaghfirullah, fitnah Dajjal," gumam Rubby.

"Mana Rubby, biar aku hajar dia!" Brahma beranjak.

"Jangan, Mas. Kasihan, namanya juga anak-anak. Mas, mau kan memberiku tambahkan uang belanja," bujuknya.

"Kamu masih saja baik pada anak itu. Padahal, dia selalu membuat onar."

"Tidak apa, Mas. Lalu, bagaimana dengan uang belanja?"

"Iya, aku tambahin tapi ingat di awet-awet ya!"

"Iya, Mas."

Rubby hanya mendesis, dia berbalik dan enggan untuk makan malam. Lebih baik dia segera berkemas untuk hari esok. Semoga saja Jakarta tidak seseram yang ada di pikirannya.

*

Jakarta, kata itu mengawali kehidupan di ibu kota. Jauh dari Rain—sahabat yang selalu ada untuknya. Namun siapa sangka, satu bulan Rubby pindah ke Jakarta Rain pun ikut pindah. Dan, dia kembali menjadi tetangga Rubby. Tidak sulit bagi Dharma untuk membuat anaknya senang. Dia bahkan rela kerja bolak-balik hanya untuk memenuhi keinginan anaknya Rain. Meski begitu, Rain tidak pernah suka dengan Dharma. Karena Rain menganggap kematian ibunya disebabkan oleh Dharma. Kehadiran Rain memberikan nyawa kembali bagi Rubby.

***

Waktu bergulir cepat dan tujuh tahun sudah, waktu berputar menyimpan kenangan.

Perdebatan sengit di kolong langit Amerika. Tepat hari ulang tahun yang ke tujuh belas, seorang remaja tampan telah melempar kue ulang tahun ke kolam renang. Setelah ia membaca surat wasiat peninggalan ayahnya—Emanuel.

Wanita paruh baya berambut pirang itu hanya duduk manis dengan mengangkat satu kaki. Menikmati pemandangan indah—anak kandungnya yang marah-marah. Beruntung para tamu undangan sudah pulang.

"Aku tidak mau menikah dengan wanita kampung!"

"Tidak masalah, berarti semua harta warisan papamu jatuh ke panti asuhan," ucapnya enteng dengan meneguk wine di tangan.

"Oh, shit!" Anak remaja itu mengumpat dan melempar gelas yang berada di atas meja.

"Bersiaplah, bulan depan kita akan tinggal di Indonesia!"

"Indonesia? No!"

"Terserah, kau mau tinggal di sini bersama Eliza?" Wanita yang dipanggil mamah itu, beranjak dari duduk dengan mengangkat gaunnya yang panjang.

"Tidak! Adakah pilihan lain? Eliza itu cerewet dan eksentrik," sahut anak remaja itu. Namun, ibunya acuh tak acuh berjalan menjauh.

"Indonesia, I'm Coming." Ibunya menurunkan gaun, mengangkat kedua tangan di udara dengan segelas wine masih dalam cengkeraman tangan kanannya.

"Ibu gila!" umpatnya.

Anak remaja itu adalah Halilintar Mahaputra Emanuel, anak yang lahir dari rahim seorang ibu yang bernama—inggrid.

Halilintar meneguk wine dalam botol, hingga habis dan membuangnya sembarang.

Bab 3

Inggrid memejamkan mata. Dia membuka kembali kotak kenangan bersama suaminya yang meninggal karena mengalami kecelakaan. Membuka foto seorang wanita berambut hitam yang duduk bersebelahan dengan suaminya.

"Sherena, maafkan aku. Seandainya aku tahu, kau hidup menderita dengan Brahma. Aku tidak akan melarang Emanuel dekat denganmu dulu. Semoga anakku bisa membahagiakan anakmu, Pelangi.

"Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana membongkar tabir rahasia yang menyadarkan Brahma," keluh Inggrid dengan menyandarkan tubuh di kepala ranjang.

*

Udara pagi menyapa, sinar keemasan menerobos ranting pohon. Daun-daun menari seirama dengan hembusan angin. Di bawah pohon besar, Rubby dan Rain menikmati sarapan. Satu bekal berdua sudah biasa mereka nikmati.

Rain menyingkirkan daun kering yang jatuh, menyentuh pucuk kepala Rubby. Siapapun yang melihat akan menganggap mereka pacaran. Namun, nyatanya hanya persahabatan yang mengikat mereka.

"Masakan, Mbok Minah selalu enak ya?" Rubby membuka suara.

"Kau suka?" Rain memiringkan wajah ke satu sisi dengan tersenyum tipis. Senyum yang hanya terukir untuk Rubby seorang.

"Heum." Rubby mengangguk antusias. Dengan lahap kembali memasukan satu sendok nasi ke dalam mulut.

"Kebiasaan, makan belepotan." Rain membersihkan satu nasi yang ada di ujung bibir Rubby. Rubby hanya tersenyum dengan mulut penuh dengan nasi.

"Makan nih, dari tadi aku aja yang makan," cicit Rubby menyuapkan satu sendok nasi pada Rain. Rain membuka mulutnya.

"Kau beruntung punya Mbok Minah."

"Hanya dia yang kumiliki setelah ibu pergi. Ayah selalu sibuk. Aku benci!" sahut Rain.

"Bukankah dia sangat baik? Buktinya dia mau ikut pindah ke Jakarta memenuhi keinginanmu," tutur Rubby.

"Ya karena kebetulan saja dia pindah kerja," sahut Rain. Rubby tidak memperpanjang pembahasan. Karena tahu, Rain tidak suka.

Usai sarapan Rubby mengeluarkan kertas HVS. Dia merogoh pensil yang lancip.

"Berposelah!" titah Rubby.

"Huh, kebiasaan," keluh Rain. Rubby hanya membalas dengan terkekeh.

"Sampai kapan kau jadikan aku objek lukisanmu, Rubby?" protes Rain. Rubby tidak menjawab. Rubby fokus menggoreskan pensil pada kertas putih. Dia melukis Rain yang sedang duduk, memegang kotak bekal yang berada dalam pangkuan.

"Rubby aku pegel, udah blom?" protes Rain setelah lima menit dia berpose dengan mencucutkan bibir.

"Diem nape. Berisik!" bentak Rubby.

"Huh!"

"Tuh bibir mau kulukis manyun?" goda Rubby.

"Eh, jangan macam-macam ya," ancam Rain.

beberapa menit berlalu.

"Selesai!" Rubby tersenyum sumringah.

Rubby menyodorkan sketsa wajah Rain. Mata Rain membola, memukul kepala Rubby dengan kotak bekal. Dia mencekik Ruby dengan siku dan menghadapkan wajah Rubby pada ketiaknya. Bukan marah Rubby terkekeh.

"Rubby, Astaga! Gambar apa ini? Kenapa bibirku jadi seperti ini? Kau pikir aku bang Malih!?" Rain tidak berhenti menjitak pelan kepala Rubby.

"Haha, sukurin. Kubilang jangan manyun!"

Rubby menggigit dada Rain, hingga meringis dan Rain melepaskan tangannya yang mengunci kepala Rubby.

"Dasar nakal!" Rain mengacak rambut Rubby.

"Hey, apa salahku? Aku sudah bilang

kan, jangan cemberut! Itulah hasilnya," kilah Rubby.

Mereka tertawa senang. Rain memasukan sketsa gambarnya ke dalam tas ransel. Rubby sudah tidak heran, dia tahu Rain memajang semua goresan tangan Rubby di ruangan yang khusus. Mereka masih bercanda dengan banyak tawa yang terukir. Hingga teriakan perempuan mengalihkan mereka.

Noli—sahabat Rubby datang. Dia berteriak dengan napas tersengal-sengal. Sampai di hadapan Rubby, dia membungkukkan setengah badan.

Hosh

Hosh

Ruby dan Rain hanya duduk santai menyaksikan Noli. Menunggu berita apa lagi yang akan dibawa biang gosip itu.

Noli menegakkan tubuh dan mulai berbicara, meski napasnya masih belum beraturan.

"Ka kalian tahu, tidak?" ucapnya terbata.

"Apa?" jawab Rubby. Rain hanya diam tidak menanggapi.

"Itu … a anu …."

"Gak jelas deh," keluh Rubby. Dia beranjak dari duduk. "Ngomong tuh jangan terpotong-potong gitu! Pelan-pelan," serunya.

"Tarik napas," titah Rubby. Noly mengikuti dia menarik napas panjang. "Hembuskan!"

"Duuuuutt."

"Astagfirullah, Noliiiii!" teriak Ruby dengan menutup hidung.

Noly menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tersenyum cengengesan dan itu terlihat menyebalkan di mata Rubby.

"Sorry, keceplosan, hehe." Noli mengacungkan jari tengah dan telunjuk membentuk huruf V.

Rubby mengibaskan tangan. "Bau tahu, dasar jorok!" umpatnya. Noli hanya terkekeh. Rain merotasikan mata jengah.

"Katakan deh ada apa, heboh banget," selidik Rubby.

"Eh, lo tau, gak? Di sekolah kita akan ada murid baru. Anjirrrrr, ganteng banget ke Lee min ho," cicitnya histeris dengan menjerit histeris.

"Jadi itu yang kau bilang, berita penting?" Rubby mengangkat satu alis. Tidak tertarik.

"Iya, keren kan. Yakin kalau lo lihat, pasti jatuh cinta. Dan, lo batu es." Noli menunjuk Rain yang masih acuh.

"Gue yakin, persona lo, bakal kalah." Noli tersenyum meremehkan. Rain sama sekali tidak peduli. Dia bersiul mendongak menatap daun-daun.

"Pesona, oncom, bukan persona," koreksi Rubby dengan menoyor kepala Noli.

"Ya, itu deh. Oh iya. Gimana kalau kita lihat dia, katanya lagi di parkiran. Uwuuuu, seganteng apa sih," cicit Noli.

"Jadi kamu belum lihat? Katanya seperti leho," seloroh Rubby.

"Oh ya ampun, ya ampun." Noly menepuk jidatnya sendiri. "Lee Min-ho, bukan leho atau ingus!" geram Noli.

"Sama aja." Rubby mengibaskan tangan.

"Ayo kita lihat." Noli menarik tangan Rubby.

"No!" tolak Rubby menepis tangan Noli.

"Gak solder Lo." Noli mencucutkan bibir.

"Solider, bege!" Rubby menoyor Noli.

"Dah ah, aku mau ke kelas!" Rubby berjalan acuh, meninggalkan Noli yang terus bersungut-sungut. Rain ikut beranjak dan membuntuti Rubby. Rubby dan Rain berjalan menuju koridor kelas, sedangkan Noli lebih memilih ke parkiran mencari anak baru.

Sepanjang jalan, banyak adik kelas yang kecentilan pada Rain. Namun, seperti biasa, pria itu hanya mengangguk tanpa tersenyum. Dingin dan ganteng, dua kata itu yang menjadi perbincangan para wanita. Banyak adik kelas yang memberikan bunga, coklat, bekal dan surat cinta. Tangan Rubby yang siap sedia menerima itu semua. Rain selalu meminta Rubby membuang semua pemberian para fans-nya. Namun, Rubby tidak pernah melakukan itu. Dia akan menghabiskan semua pemberian fans Rain dengan Noly dan Cloud.

"Kalau gini terus kau tidak akan punya pacar. Terlalu dingin nanti gak kawin-kawin," cicit Rubby dengan kedua tangan membawa semua pemberian Fans Rain.

"Ngapain pusing kan ada kamu, Rub."

"Maksudnya?" Rubby menatap Rain.

"Dasar tulalit, dah ah!"

Rain berjalan cepat meninggalkan Rubby dengan wajah yang memerah. Rain merutuki kebodohan ucapannya. Dia pergi meninggalkan Rubby, tidak kuasa menahan genderang jantungnya yang terus berdebar tidak karuan.

Rubby berlari mengejar Rain, penasaran dengan apa yang diucapkan Rain. Karena tidak fokus dia menabrak seseorang. Hingga Rubby terjatuh ke lantai dan barang bawaannya berhamburan.

"Aduh, sakit," pelik Rubby memegangi pantatnya.

"Hey, kalau jalan pake mata dong!" Pria itu menendang coklat Rubby yang berhamburan di lantai.

Rubby beranjak dari duduk dengan wajah murka. Dia mengambil satu buket bunga mawar.

"Hay, kau! Seenaknya menendang makanan. Kau tahu tidak, cari duit itu susah!" omel Rubby dengan bertolak pinggang.

"Lo yang salah jalan tidak pakai mata! Dasar udik!"

"Kau jalan pake mata?" tanya Rubby. "Cih!" Rubby mengangkat satu sudut bibirnya.

"Ya. Emang lo, buta!" semburnya.

"Dasar bodoh, enak saja bilang buta!" Rubby memukul kepala pria asing itu dengan buket bunga mawar. Sehingga kelopaknya berhamburan di lantai.

"Beraninya lo, pukul gue!" Pria itu murka dengan wajah yang memerah.

"Kenapa harus takut pada orang bodoh!?"

"Gue tidak bodoh!"

"Kau bilang jalan pake mata, dimana-mana jalan pake kaki bukan mata! Jadi, apa namanya kalau bukan bodoh, hem?" Ruby memiringkan wajahnya.

"Nah, itu dia murid barunya! Kejaaaaaar!" seru Noli bersama siswi yang lain.

"Rubby, tahan dia!" titah Noli dengan berteriak.

Pria asing yang tadi menabrak Rubby pun ketakutan saat siswa perempuan mengejar dia. Sebelum pergi dia mengacungkan jari telunjuk di depan wajah Rubby. "Awas kau!" ancamnya. Rubby tidak terpengaruh, dia berjongkok dan merapikan kembali barang-barang yang terjatuh.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED