"Saya yang akan menggantikan Bapak dan Ibu mencicil utang sama anda." Ina memberanikan diri untuk menjawab.
Sayangnya, bukan persetujuan yang Ina dapatkan. Malah seringai menyebalkan dari pria bangkotan itu, yang benar-benar meremehkan sahutan Ina.
"Dengan apa kamu akan membayar, Ina? Dengan upah harian kamu yang tak seberapa dari warteg di pasar itu, huh? Mana bisa! Buat makan sehari saja tidak cukup. Apalagi untuk bayar hutang. Gak akan mungkin!" Jawaban juragan Joko mampu menohok Ina sampai ke ulu hatinya.
"Lagipula hutang orang tua kamu sudah terlalu banyak dan terlalu lama. Saya tidak bisa menunggu lagi." Pak Joko menambahkan dengan tegas.
"Ta-tapi--"
"Hais, sudah!" Pak Joko memangkas ucapan Ina dengan cepat. Sengaja tak ingin memberikan Ina kesempatan beralaskan lagi.
"Kalau kamu memang ingin membayar hutang dengan uang, silahkan. Tapi, saya ingin sekarang juga!"
Degh! Apa?! Itu tidak mungkin!
"Atau .... " Pak Joko.menambahkan, seraya menggantung kalimatnya diiringin senyum culas mempermainkan Ina. "Kamu harus rela menikah dengan saya saat ini juga!" putus Pak Joko dengan suara dalam. Membuat semua orang terkesiap karenanya.
Ina pun tercekat di tempatnya, seketika bingung harus mengambil keputusan apa saat ini? Kedua pilihan itu seperti neraka untuk Ina, tidak ada yang bisa meringankan beban Ina.
Harus bagaimana sekarang?
Harus dengan apa Ina membayar hutang orang tuanya?
Ina tak punya uang sama sekali. Bahkan kain kafan untuk orang tuanya pun, itu dapat dari pemberian tetangga. Lalu, harus pada siapa Ina meminta tolong lagi?
Adakah yang mau menolong Ina? Tidak perlu memberi dengan percuma. Menghutangkan saja, Ina sudah sangat bersyukur. Yang penting Ina tidak harus menikah dengan pria bangkotan Ini.
Karena sumpah demi apapun, pria ini bahkan lebih tua dari ayahnya. Sungguh, tidak ada pantasnya bersanding dengan Ina.
Bukan Ina memandang fisik. Hanya saja ... demi Tuhan. Ina tidak mau menikah dengan pria ini!
Ina mencoba menatap semua orang yang hadir disana dengan tatapan menghiba. Meminta belas kasih dari mereka, yang mungkin saja mau membantu Ina keluar dari masalahnya Ini.
Namun, sejauh mata Ina memandang. Tidak ada satu orang pun yang bersedia menolong. Semuanya menunduk prihatin, bahkan ada juga yang langsung buang muka saat mata bersirobok.
Batin Ina menjerit pilu meratapi ketidakberdayaannya ini. Tuhan ... apakah hidup Ina harus berakhir bersama pria tua bangka ini?
Apa takdirnya memang harus menjadi istri ke tujuh bangkotan bau tanah ini?
Tuhan ... berikanlah keajaibanmu. Datangkanlah siapa saja yang bisa menolong Ina. Ina benar-benar tidak mau menjadi istri muda lintah darat tukang kawin ini.
"Bagaimana? Bisa kamu melunasi hutang kamu sekarang?" Seringai menyebalkan itupun kembali dipertunjukan. Membuat Ina muak sekali.
"Pak, tolong berikan waktu lagi pada saya. Saya janji akan melunasi semuanya." Ina mulai menghiba, dengan air mata yang kembali membasahi pipinya.
Demi Tuhan, jasad orang tuanya saja masih ada disini. Belum di antar ke rumah terakhir mereka, dan Ina pun belum memberikan penghormatan terakhirnya.
Kenapa nasib kejam sudah muncul dan mendesaknya kembali?
Apa tidak bisa Tuhan memberikan tenggang waktu sedikit lagi untuk Ina bernapas lega?
Atau ... setidaknya sampai semua urusan pemakaman selesai. Agar Ina bisa berpikir dengan hati tenang.
Kalau seperti ini? Jangankan berpikir tenang, bernapas pun rasanya sesak sekali.
Tuhan ... kenapa kau tega sekali?
"Saya tidak punya waktu lagi!" Jawaban Pak Joko pun makin membuat Ina merepih luar biasa.
Kejam!! Kenapa takdir harus sekejam ini padanya?
"Sudahlah, Ina. Kamu terlalu banyak membuang waktu saya!" sentak Pak Joko mulai tak sabaran. "Pokoknya kalau kamu ingin membayar hutang. Maka lunasi sekarang juga! Atau ... ikut saya ke penghulu. Mengerti!"
Tidak! Ina tidak mau!
Tuhan ... Tolong Ina! Harus bagaimana ini? Ina bingung sekali. Ina gak tahu harus bagaimana sekarang?
Ina pun hanya bisa menangis pilu setelahnya, karena merasa buntu dan tak punya pilihan lagi.
"Ck ... lama kamu, Ina. Udah! Ikut saya ke penghulu sekarang!"
Pak Joko pun dengan kurang ajar mencekal lengan Ina, dan menyeretnya begitu saja keluar dari tempat yang sebenarnya tidak layak di sebut rumah.
Ina menangis, meronta, dan mencoba minta tolong pada siapa saja yang bersedia menolongnya. Namun tak ada satu pun yang berbaik hati mengulurkan tangan. Untuk menolong Ina.
Sekuat apapun Ina meronta. Sekuat apapun Ina menghiba. Mereka semua seakan tutup telinga dan mata pada penderitaan Ina saat itu.
Miris sekali!
Pak Joko sudah berhasil menyeret Ina beberapa langkah dari gubuknya, tanpa adanya aral yang menghambat. Membuat Ina akhirnya pasrah, karena sadar tidak bisa lari lagi. Mungkin, nasibnya memang .....
Ciiiittt ....
Tiba-tiba saja sebuah sepeda motor yang dikenal sebagai salah satu ojeg di daerah sana, berhenti beberapa meter dari mereka.
Kemudian, seorang wanita paruh baya berpakaian mahal pun turun, sambil menyalak ke arah kerumunan di depan Gubuk Ina.
"Eh, eh, ada apa ini? Kenapa anda menarik-narik Ina?" bentaknya galak, sambil menerjang maju dan mencoba melerai cekalan Pak Joko di tangan gadis yang kini sudah jadi yatim piatu.
Siapa wanita ini? Ina merasa asing padanya. Apa Ina mengenalnya?
"Jangan ikut campur! Ini bukan urusan Anda!" balas Pak Joko tidak kalah galak.
Namun wanita itu tidak gentar sama sekali. Dia malah menatap Pak Joko sengit, sambil berkacak pinggang dengan tegas.
"Kata siapa ini bukan urusan saya? Jelas ini urusan saya. Karena yang anda tarik itu calon menantu saya."
Apa?!
Semua orang yang hadir disana pun menahan napas dengan kaget mendengar pernyataan wanita itu, pun Ina yang memang tidak tahu apa-apa.
Calon menantu? Siapa? Ina? Tapi siapa wanita ini?
"Maksud anda?" tanya Pak Joko, menyuarakan isi kepala semua yang hadir disana.
"Ya, maksud saya jelas. Ina ini calon menantu saya. Ngapain anda tarik-tarik seperti itu. Anda pikir Ina kerbau?" sahut Wanita itu tak bersahabat sama sekali.
"Eh, anda jangan sembarangan, ya? Ina ini calon istri muda saya?" Namun ternyata, Pak Joko pun tak mau mengalah sama sekali.
"Hah? Yang benar saja? Jangan ngawur, deh. Anda tidak punya kaca ya di rumah? Masa tampang bau tanah seperti anda mau menikahi Ina. Ingat umur, Pak. Udah tua, sebentar lagi mati. Harusnya yang di perbanyak itu amal ibadah, Pak. bukan istri. Tidak tahu malu!" Wanita itu menyahut dengan entengnya.
Seketika tawa orang-orang yang ada disana pun terdengar tanpa di cegah. Membuat wajah Pak Joko langsung merah padam, sambil melayangkan tatapan tajam pada semua orang yang berani menertawakannya.
Pria ini pasti marah sekali saat ini, karena merasa dipermalukan.
"Kurang ajar! Anda sudah bosan hidup sepertinya!" Murka Pak Joko, seraya mengangkat tangan hendak memukul wanita itu. Tapi ....
Ttiiiiiiinnnn ....
Sebuah motor lain tiba-tiba datang, sambil membunyikan klakson panjang sekali. Lalu ....
Bugh!
Seorang pria gagah meloncat turun dari boncengan, dan langsung melayangkan tinjuan keras pada Pak Joko hingga tersungkur mengenaskan.
Ina hanya bisa berdiri kaku dan mengerjap pelan dengan napas tercekat melihat kejadian itu. Antara ingin tertawa dan ngeri melihat bagaimana Pak Joko tersungkur mengenaskan, tanpa ada satu pun yang menolongnya.
Ina bingung harus bereaksi seperti apa saat ini.
Akan tetapi, sebenarnya Ina lebih takjub pada pria gagah itu, sih. Soalnya, kedatangannya seperti oase di hidup Ina yang tadi gersang.
Bukan karena ketampanannya. Melainkan karena kehadirannya yang tepat di saat Ina benar-benar butuh bantuan.
Apa ini keajaiban?
Apa orang ini pahlawan?
Entahlah, namun satu yang harus Ina niatkan dalam hati. Setelah ini Ina harus berterima kasih pada pria itu.
"Sean, sudah!" seru wanita kaya itu, seraya menahan pria gagah yang sepertinya masih ingin menghajar Pak Joko.
Oh ... namanya Sean.
"Tapi, Mah. Dia tadi mau pukul Mama," sahut pria itu, masih dengan wajah kesal sekali.
Tunggu!
Tadi dia panggil wanita itu apa? Mama?
Astaga! Apa mungkin dia ....
"Tapi kan gak jadi berkat kamu. Sudah! Jangan teruskan lagi. Mama gak mau masalah ini sampai berbuntut panjang," sahut wanita, yang memang sepertinya Mamanya pria gagah itu.
Pria gagah itu pun mendengkus kesal. Seraya menurunkan kepalan tangannya, menuruti mau sang Mama.
"Saya akan laporkan kalian ke polisi!"
Namun sayangnya, ternyata Pak Joko masih ingin memancing keributan pada dua orang kota ini.
"Sean!" larang Mamanya, saat melihat anaknya bersiap menghajar Pak Joko lagi. "Biar Mama aja," bujuknya kemudian, sebelum mengalihkan atensi pada Pak Joko.
"Mau lapor? Lapor aja. Saya gak takut. Karena kami juga bisa balik melaporkan anda, atas apa yang anda lakukan pada Ina. Ingat itu!" tantang Mama Sean, dengan gagah berani.
"Ck, itu hanya akan jadi hal sia-sia. Karena apa yang saya lakukan pada Ina. Itu memang sudah ada pada perjanjian hutang ayahnya dulu."
Degh!
Apa?
"Hutang?" Beo wanita itu dan anaknya kompak.
"Bohong!" Sebelum Pak Joko memuntahkan racunnya, Ina pun dengan segera berseru membantah semua tuduhan itu.
"Apa? Kamu mau bohong kalau orang tua kamu punya hutang banyak sama saya?" Delik marah Pak Joko pun di tujukan pada Ina.
"Tidak. Untuk hutang Ibu dan Bapak. Saya tidak akan berbohong. Ya! Kami memang punya hutang pada Pak joko. Tapi, untuk perjanjian yang mengatakan bahwa saya harus rela jadi istri muda Pak Joko demi tebusan. Itu bohong! Bapak saya tidak mungkin melakukannya! Tolong anda jangan fitnah, ya!" ungkap Ina berusaha menjelaskan detail masalah yang ada.
"Kamu tidak tahu apa-apa Ina. Karena waktu itu kamu sedang terbaring hampir mati. Perjanjian itu hanya antara saya dan ayah kamu saja."
Tidak! Ina tidak mau percaya! Ina yakin ayahnya tidak mungkin setega itu padanya.
"Tapi saya tetap tidak percaya dengan apa yang anda katakan. Karena saya yakin, Bapak saya tidak seperti yang anda tuduhkan. Kalau pun memang ada perjanjian, itu pasti tidak seperti yang ada ucapkan sedari tadi!" tegas Ina bersikukuh.
Namun Pak Joko malah kembali menyeringai penuh kemenangan, seraya melipat tangannya di bawah dada dengan jumawa.
"Kamu harus tahu, Ina. Jika orang terdesak itu bisa menghalalkan segala cara."
"Tapi Bapak saya tidak mungkin melakukan hal itu!" Ina tetap bersikukuh. Menolak percaya pada apapun yang di katakan Pak Joko.
Itu tidak mungkin!
Itu tidak mungkin!
Bapaknya bukan orang seperti itu. Buktinya setelah punya hutang, Bapak terus banting tulang demi melunasi hutang mereka. Jadi ....
Pokoknya itu tidak mungkin!
Diam-diam Ina pun menggeram dalam hati, karena kesal luar biasa pada ucapan Pak Joko yang sebenarnya ada benarnya juga.
Orang memang bisa melakukan apapun saat terdesak. Tapi ....
Tuhan, benarkah ini semua?
"Sudahlah, Ina. Percuma menolak juga. Perjanjian sudah di buat dan--"
"Kalau memang perjanjian itu ada. Coba tunjukan pada kami," sela pria gagah itu tiba-tiba. Membuat semua mata terfokus padanya lagi.
"Buat apa? Gak ada urusannya sama kamu!" bantah Pak Joko tak suka.
"Eh, tentu saja ada. Kan saya sudah bilang Ina itu calon menantu saya. Nah, ini adalah anak saya itu. Calon suaminya Ina!"
Hah?! Apa? Jadi benar kalau pria itu adalah pria yang akan menikahinya.
"Saya juga sudah bilang kalau Ina itu adalah calon istri muda saya. Karena dia harus bertanggung jawab melunasi hutang orang tuanya!" geram Pak Joko tak terima.
"Eh, gak bisa gitu. Di mana-mana hutang itu ya di bayar dengan apa yang dihutangnya. Misal mata di bayar mata, nyawa di bayar nyawa. Nah, karena orang tua Ina hutangnya uang, ya berarti hutangnya harus di bayar uang juga. Bukan pernikahan!" Mamanya pria itu menyalak dengan garang.
"Tapi orang tuanya sudah meninggal, dan--"
"Saya sudah bilang akan mencicilnya!" Kali ini Ina ikut bersuara. Dia ingin berjuang sekali lagi membela diri.
"Dengan apa? Kan saya sudah bilang, upah harian kamu di warteg aja, gak cukup buat makan kamu. Bagaimana kamu akan membayar hutang orang tua kamu?" Pak Joko benar-benar meremehkan Ina.
"Saya akan mencari pekerjaan lain selain menjaga warteg."
"Kerja apa? Kamu itu cuma lulusan SD Ina. Gak ada yang bisa dibanggain dari kamu selain wajah. Jadi, daripada kamu buang-buang waktu. Sia-siain masa muda dan kecantikan kamu. Mending kamu jadi istri muda saya saja. Saya jamin kamu pasti akan bahagia dengan limpahan uang dari saya."
"Saya gak--"
"Berapa?" ucap dingin pria gagah itu tiba-tiba menyela ibunya. Sambil menatap Pak joko tajam sekali.
"Apanya?"
"Total hutang gadis itu," ulang pria itu dengan tenang.
"Mau apa kamu tanya-tanya," geram Pak joko tak terima.
"Ck, tinggal sebutin aja, lama. Anda mau di bayar atau tidak hutangnya?" desis Sean dingin. Mampu membuat Pak Joko gelagapan.
"Kenapa? Kamu mau jadi sok--"
"Berapa?!" sentak Sean lagi dengan garang. Membuat Pak joko langsung terlihat menelan salivanya kelat.
"Ba-banyak." Pak Joko pun menjawab dengan terbata.
"Tepatnya?"
"Lebih dari 100jt."
"Te-pat-nya!" ulang Sean dingin tak sabaran, seraya sengaja memberi tekanan pada nada pada setiap penggalan kata-katanya. Juga sambil menatap nyalang Pak Joko. Membuat pria itu makin gelagapan.
"150jt. Dengan bunga bulan ini."
Hah?!
Ina pun langsung terbelalak mendengar total hutang orang tuanya. Karena ... setahu Ina dulu ayahnya cuma pinjam tujuh juta saja untuk operasi usus buntu yang harus Ina laksanakan. Kenapa jadi berkembang sebanyak itu?
Itu pun, setahu Ina sudah dicicil beberapa kali. Kenapa bukannya berkurang malah bertambah? Aneh!
"Saya bayar hutang Ina sekarang juga. Tapi berikan surat itu pada saya," balas Sean masih dengan suara yang dingin.
"Surat apa?" tanya Pak Joko dengan bodoh.
"Tentu saja surat perjanjian hutang hitam di atas putih. Anda punya, kan?" jelas Sean makin galak.
"Itu ... itu ...." Pak Joko malah gelagapan setelahnya.
"Kenapa anda jadi gelagapan? Jangan-jangan ...." Sean seperti sudah tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya. Karena itulah dia makin menekan Pak joko.
"Saya tidak butuh surat apapun dalam memberikan hutang. Karena anak buah saya adalah saksi hidupnya," jawab Pak Joko kemudian dengan berani.
Namun sayangnya, Sean malah menanggapinya dengan seringai miring yang menakutkan.
"Saya akan membawa kasus ini ke tanah hukum. Dengan tuduhan penipuan, pemaksaan, dan pelecehan. Kita lihat berapa lama anda akan mendekam di penjara." Sean pun akhirnya memberikan ancamannya. Membuat pak Joko murka seketika.
"Heh, kamu! Jangan coba-coba mengancam saya, ya? Kamu tidak tahu siapa saya? Saya ini--"
"Ini kartu nama saya." Sean menyerahkan kartu namanya dengan santai kehadapan Pak Joko. "Silahkan lawan saya kalau anda bisa," imbuhnya lagi dengan sombong.
Meski begitu, anehnya di mata Ina, kesombongan Sean itu malah terlihat keren sekali. Karena Ina sudah terlanjur baper pada aksi Sean yang hero itu.
Sayangnya, rasa baper itu pun harus pupus seketika. Saat akhirnya Sean meliriknya tajam, dan mendesis tajam.
"Merepotkan!"