Gita Hasan POV:
"Ya, Bu," suaraku serak tapi tegas. "Aku ikut."
Di seberang telepon, Ibu terdengar sangat lega. "Syukurlah, Nak. Ibu sudah sangat rindu. Jadi kau tidak akan tinggal bersama Dzaki lagi?"
Kata "Dzaki" dan "tinggal bersama" terasa seperti duri yang menusuk ulu hatiku. Selama tiga tahun, Dzaki adalah duniaku. Setiap langkah, setiap keputusan, selalu tentang dia. Dia adalah bintang di galaksiku, padahal aku hanyalah planet kecil yang mengelilinginya, tanpa cahaya sendiri.
Pikiranku melayang pada kilasan Dzaki yang tertawa. Tawa yang kini tahu artinya. Tawa yang mengolok-olok kebodohanku. Matanya yang dingin ketika membicarakan "rencana" mereka. "Mencampakkannya setelah koleksi musim panas selesai." Kalimat itu berulang-ulang, tanpa ampun, di benakku.
Dadaku sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungku. Aku memejamkan mata, menahan rasa sakit yang membakar. Nafas kuambil perlahan, berusaha menenangkan diri.
"Tidak, Bu," jawabku, suaraku nyaris tak terdengar. "Aku dan dia sudah selesai. Selamanya."
Aku mengakhiri panggilan, berdiri di tengah dek kapal yang kini terasa begitu dingin dan sepi. Langit kelabu di atas Labuan Bajo seolah mencerminkan perasaanku. Angin berembus kencang, menusuk kulit. Aku harus kembali. Ada satu hal lagi yang harus kulakukan sebelum aku benar-benar pergi.
Tujuanku adalah apartemen Dzaki. Apartemen yang selama ini juga menjadi rumahku. Aroma maskulinnya, perpaduan kayu cendana dan sedikit tembakau, menyambutku saat aku membuka pintu. Aroma yang dulu menenangkan, kini menyesakkan. Aku berdiri di ambang pintu, menatap sekeliling. Sepi dan hampa.
Aku teringat saat dia dulu mengajakku tinggal bersama. Waktu itu, aku merasa seperti mimpi menjadi kenyataan. Dia tersenyum padaku, memegang tanganku, mengatakan bahwa dia ingin selalu ada untukku. Aku membayangkan masa depan yang cerah, rumah dengan anak-anak yang berlarian, tawa kami yang mengisi setiap sudut.
Betapa bodohnya aku. Semua itu hanyalah bagian dari skenario balas dendamnya. Aku hanyalah boneka yang ia gerakkan. Apakah dia benar-benar mencintai Rosa? Atau Rosa juga hanyalah bagian dari permainannya? Tidak, itu tidak mungkin. Dzaki begitu defensif setiap kali ada yang menyudutkan Rosa. Dia melindunginya seolah Rosa adalah harta paling berharga.
Aku mulai membersihkan barang-barangku. Pakaian, buku-buku sketsa, alat jahitku. Setiap benda terasa berat, penuh kenangan yang kini beracun. Aku menemukan sebuah kotak kecil di bawah tempat tidur. Isinya adalah buku harian lamaku.
Aku membukanya dengan tangan gemetar. Halaman demi halaman dipenuhi tulisan tangan yang penuh cinta, harapan, dan kebodohan. Kutulis setiap kencan kami, setiap ciuman, setiap janji manis yang Dzaki ucapkan. Air mata mengalir deras, membasahi tinta, membuat kata-kata itu buram.
Ini adalah bukti kebodohanku. Aku telah mencintai seorang pria yang hanya melihatku sebagai alat. Aku tidak bisa membiarkan ini ada lagi. Dengan tangan gemetar, aku merobek setiap halaman, lalu memasukkannya ke dalam kantong sampah. Bersama dengan foto-foto kami, hadiah-hadiah kecil yang pernah ia berikan. Aku tidak ingin ada lagi jejak Dzaki dalam hidupku.
Sebuah suara kunci berputar di pintu. Jantungku berdebar kencang. Dzaki.
Dia masuk, melihatku dengan kantong sampah di tangan, dan keranjang berisi barang-barangku di samping. Topeng senyumnya kembali, tapi kali ini, aku melihat celah di sana.
"Sedang apa kau?" tanyanya, suaranya tenang, terlalu tenang.
"Membersihkan barang-barang yang tidak penting," jawabku, suaraku datar.
Dia mengerutkan kening. "Kenapa kau tidak menemuiku di rumah sakit tadi? Aku sudah keluar."
Aku tertawa sinis. "Kau begitu cepat pulih. Kupikir kau butuh waktu seminggu penuh untuk berjemur di bawah matahari dan mendapatkan simpati." Aku tidak tahu harus memakai ekspresi apa di wajahku, jadi aku hanya menyeringai, sebuah cerminan kehancuran dari dalam.
Dia berjalan mendekat, mencoba menyentuh pipiku. "Kau ini kenapa? Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?"
Aku menepis tangannya. Sentuhannya kini terasa menjijikkan. "Jangan sentuh aku."
Dzaki terdiam, matanya menatapku tajam. "Ada apa denganmu? Kau berubah."
"Berubah?" Aku menatapnya. Mataku mungkin terlihat kosong, tapi hatiku berteriak. "Apa yang kau harapkan, Dzaki? Aku harusnya tetap menjadi Gita yang dulu? Gita yang buta, yang mencintaimu sampai mati?"
Dia menatapku, mencoba membaca pikiranku. Aku merasakan aura kegelisahan darinya, seolah dia takut aku akan mengetahui kebenarannya. Tapi aku sudah tahu.
"Aku... aku tidak mengerti," gumamnya, meskipun aku tahu dia mengerti segalanya. "Aku... aku akan mengadakan pesta kecil malam ini. Hanya untuk teman-teman. Kau ikut, kan?"
Pesta? Setelah semua yang kudengar, dia masih berani mengajakku berpesta? Betapa kejamnya dia.
Aku tersenyum tipis. "Tentu," jawabku, suaraku setenang mungkin. "Kenapa tidak?"
Dia menatapku, ekspresi terkejut di wajahnya. Lalu, senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum kemenangan. Dia tidak tahu, ini adalah awal dari kehancurannya.
"Bagus," katanya. "Nanti malam aku jemput."
Dia berbalik, meninggalkan apartemen. Aku mendengar pintu tertutup di belakangnya. Aku tahu dia merayakan kemenangannya. Dia pikir aku masih bodoh, masih dalam genggamannya. Padahal, dia baru saja menandatangani surat kematiannya sendiri.
Aku memandang kantong sampah di tangan. Kantong berisi sisa-sisa cintaku yang hancur. Aku akan membuangnya, dan aku akan membuangnya jauh-jauh. Malam ini akan menjadi malam terakhir Gita yang lama.
Aku menatap langit kelabu yang mulai gelap. Angin semakin kencang, membawa serta bau laut yang asin. Badai akan datang. Dan saat badai itu tiba, aku akan memastikan bahwa Dzaki, dan semua orang yang telah menertawakanku, akan mengingat namaku.
"Malam ini, Dzaki," bisikku pada diri sendiri, "Kau akan tahu rasanya kehilangan segalanya."
Gita Hasan POV:
"Malam ini, Dzaki," bisikku pada diri sendiri, "Kau akan tahu rasanya kehilangan segalanya."
Malam harinya, Dzaki datang menjemputku. Wajahnya terlihat puas, seolah ia telah memenangkan lotre-atau lebih tepatnya, memenangkan manipulasi terbesarnya. Ia membukakan pintu mobil untukku, dengan senyum menawan yang kini terasa hambar dan menjijikkan. Aku masuk tanpa banyak bicara, membiarkan tubuhku tenggelam dalam jok kulit yang dingin.
Perjalanan singkat namun terasa abadi itu berakhir di sebuah klub malam mewah di tengah kota Jakarta. Lampu berkedip-kedip, musik menghentak, dan aroma alkohol serta parfum mahal bercampur aduk. Aku menatap pemandangan itu dengan hati kosong. Ini adalah dunia Dzaki, dunia yang penuh kepalsuan dan topeng.
Dzaki memegang tanganku erat, menarikku menembus keramaian seolah aku adalah piala yang baru saja ia menangkan. Tangannya hangat, tapi aku merasakan dingin yang menusuk dari dalam. Aku membiarkannya, tidak melawan. Setiap sentuhan yang ia berikan adalah pengingat akan kebohongannya.
Lalu, mataku menangkap sosok itu. Rosa Cokrohadisuryo. Ia berdiri di tengah kerumunan, dikelilingi teman-teman sosialitanya, tertawa manja. Gaunnya berkilauan, wajahnya dipoles sempurna. Ia terlihat seperti ratu malam ini. Aku tahu, ia pasti merasa menang.
Melihatnya, aku teringat lagi. Rosa, mantan teman kuliahku di jurusan desain mode. Ia selalu iri dengan bakatku, dengan desain-desain orisinal yang selalu kupunya. Aku ingat bagaimana ia memfitnahku mencuri portofolionya, bagaimana ia menangis di depan Dzaki, seolah aku adalah penjahatnya. Dan Dzaki, yang buta karena kedekatan masa kecil, bersumpah akan membalas dendam untuknya. Kini, aku tahu betapa dalam obsesi Rosa pada Dzaki, dan betapa liciknya ia memanipulasi kami berdua.
Mata Rosa bertemu denganku. Senyum kemenangan itu mengembang lebih lebar di bibirnya. Ada kilatan mengejek di sana, seolah berkata, "Lihat? Kau tidak pernah bisa menang melawanku." Napas ku tercekat. Ruangan itu terasa sempit, musik yang menghentak kini bagai palu yang memukul-mukul kepalaku.
Dzaki menyadari tatapanku. Ia melirik Rosa, lalu seketika melepaskan tanganku. Ia berjalan menghampiri Rosa, yang langsung memeluknya manja. Mereka berbisik-bisik, tawa Rosa kembali terdengar, memenuhi udara. Aku hanya bisa memandang, hatiku perih.
Dzaki dan Rosa. Mereka adalah pasangan sempurna di mata semua orang. Teman masa kecil, pewaris konglomerat dan model papan atas. Aku hanyalah bayangan, yang kini telah ia lepaskan.
Tidak lama kemudian, teman-teman Dzaki menghampiriku. Wajah-wajah yang tadi kudengar menertawaiku. Arbi, si playboy, dengan seringai di wajahnya. Dan teman-teman lainnya, yang dulu selalu memujiku sebagai desainer berbakat.
"Gita! Kenapa diam saja?" Arbi menyodorkan segelas alkohol padaku. "Ini pesta! Ayo minum!"
Aku menggeleng. "Aku tidak minum."
"Ayolah, jangan jual mahal!" Teman yang lain, Rita, menyenggolku. "Malam ini kan spesial, kan? Ulang tahun ketiga kau dan Dzaki!"
Kata-kata itu bagai pisau yang menusuk. Mereka tahu. Mereka tahu ini semua lelucon.
"Aku bilang tidak," suaraku meninggi sedikit.
Arbi tertawa. "Dia mulai berani sekarang. Mungkin efek putus cinta?"
Tiba-tiba, sebuah tangan mendorongku dari belakang. Aku kehilangan keseimbangan. Aku mencoba menahan diri, tapi tubuhku limbung. Dan dalam sekejap, aku merasa jatuh. Bukan di lantai klub, tapi ke dalam sesuatu yang dingin, gelap, dan mematikan. Kolam renang di tengah klub.
Air dingin menyelimutiku. Aku tidak bisa berenang. Panik menyerang. Aku meronta, berusaha meraih permukaan, tapi tubuhku terasa berat. Suara musik yang menghentak kini berubah menjadi dengungan di telingaku. Orang-orang di atas sana hanya menatap, beberapa tertawa. Mereka pikir ini bagian dari hiburan.
Paru-paruku mulai terbakar. Aku berusaha bernapas, tapi hanya air yang masuk. Penglihatanku mulai kabur. Wajah-wajah di atas sana tampak seperti siluet yang menari-nari. Aku melihat Dzaki, ia berdiri di samping Rosa, menatapku dengan ekspresi datar. Tidak ada kekhawatiran. Hanya kebosanan.
Kegelapan mulai menyelimuti. Aku merasa tubuhku melayang, kesadaranku memudar. Ini akhirnya. Akhir dari Gita yang bodoh.
Aku membuka mata. Atap putih. Bau desinfektan. Aku terbatuk, merasakan perih di tenggorokanku. Aku berada di ranjang rumah sakit. Aku ingat jatuh ke kolam. Siapa yang menyelamatkanku?
Pintu terbuka. Masuklah Dzaki, dengan wajah cemas yang dibuat-buat. Ia duduk di samping ranjang, memegang tanganku. "Kau baik-baik saja? Aku khawatir sekali."
Aku menarik tanganku. "Bagaimana aku sampai di sini?"
"Kau... kau pingsan di kolam. Aku menyelamatkanmu." Ada keraguan dalam suaranya.
Aku menatapnya. Ia berbohong. Aku tahu. Aku melihatnya berdiri di sana, tanpa bergerak.
"Aku haus," kataku, mengubah topik.
Dzaki segera mengambil segelas air dan memberikannya padaku. Aku meminumnya. Setelah itu, ia memberiku sebuah pil. "Ini penenang. Agar kau bisa istirahat."
Aku meminumnya tanpa curiga. Kepalaku terasa berat, dan tidak lama kemudian, aku kembali terlelap.
Ketika aku terbangun lagi, Dzaki tidak ada. Kamar itu kosong. Aku merasa tubuhku panas, kepalaku pusing. Ada yang tidak beres. Aku mencoba bangun, tapi kakiku lemas. Aku harus pergi ke rumah sakit.
Dengan sisa tenaga, aku memanggil perawat. Dokter memeriksa. Wajahnya terlihat serius. "Nona, Anda mengalami demam tinggi dan keracunan obat."
Jantungku berdebar. Keracunan obat? "Obat apa?"
Dokter mengambil sisa pil yang Dzaki berikan. Ia memeriksanya, lalu menatapku dengan ekspresi syok. "Ini... ini bukan penenang biasa. Ini adalah dosis tinggi obat yang bisa menyebabkan gagal hati jika dikonsumsi terus-menerus."
Tanganku mulai gemetar. Ini pasti perbuatan Dzaki. Ia ingin aku mati.
Tiba-tiba, ponselku berbunyi. Sebuah notifikasi grup chat. Aku membukanya. Itu grup chat teman-teman Dzaki.
"Akhirnya Gita mati! Kerja bagus, Dzaki!"
"Drama yang sempurna!"
"Dia pasti mengira itu penenang, hahaha!"
"Ayo rayakan kematian si bodoh itu!"
"Rencana ganti obatnya berhasil!"
Aku melihat nama-nama di grup itu. Arbi. Rosa. Mereka semua ada di sana. Dan aku. Aku juga ada di dalam grup itu. Aku adalah orang yang akan mereka rayakan kematiannya.
Aku adalah target mereka. Target yang sedang membaca rencana kematiannya sendiri.
Ini bukan lagi permainan. Ini adalah pembunuhan. Dan aku ada di dalam daftar mereka.