Bab 2

Pagi menjelang, Dira terbangun dari tidurnya. Perlahan-lahan mata Dira terbuka sebelum kesadarannya kembali penuh dia merasakan pening di kepalanya. Ingatan tentang vonis dokter membuat Dira menghembuskan napasnya dalam-dalam. 

"Ternyata kamu masih bisa bernapas, Dir." Dira memijit kepalanya agar bisa mengurangi pening yang dia rasakan. Meskipun pening itu gak kunjung menghilang.

Samar-samar Dira mendengar suara wanita di dapur. Dira berpikir itu maling atau pembantu yang baru Abi pekerjaan. Namun, rasanya itu tidak mungkin karena Abi pernah bilang jika dia tidak akan mengundang orang lain untuk menjadi pembantu rumah tangga di apartemennya ini.

Dira bangkit dari tempat duduknya berusaha menghilangkan pening di kepalanya dengan menepuk-nepuk dahinya menggunakan tangan, lalu berjalan terseok-seok menuju dapur. 

"Kakak, kenapa di sini?" tanya Dira sedikit bingung. Sejak tiga bulan lamanya baru kali ini Nadya datang sepagi ini ke apartemen. 

"Kenapa kaget begitu? Semalam aku menginap di sini," ujar Nadya tanpa ada rasa takut. 

Nadya ingin membuat darah Dira mendidih, sebenarnya dia baru saja tiba karena ada berkas yang harus dia serahkan pada Abi. 

Tiga bulan yang lalu, setelah pernikahan Dira dan Abi yang digelar secara sederhana di puncak. Lelaki yang kini memimpin salah satu perusahaan terbesar milik keluarga Sander grup, memilih Nadya Sabit sebagai sekretarisnya. 

Sander, nama keluarga itu cukup terkenal di kalangan keluarga elit. Siapa yang tak tahu nama keluarga itu, keluarga yang tak diragukan lagi kekayaannya. Memiliki bisnis di bidang tekstil dan merambat ke bidang perhotelan membuat keluarga itu termasuk dalam jajaran orang terkaya ke 100 di Indonesia. 

Harusnya Dira beruntung mendapatkan Abi, tapi mendapatkan saja tak cukup jika tidak memilikinya, bukan?

"Oh, jadi Kakakku sekarang sudah berani menaiki ranjang suami orang. Ups ... Salah, suami adiknya." Dira tidak sadar dengan apa yang diucapkan kali ini dan dia juga tidak tahu dari mana keberanian berucap demikian pada sang kakak. Mungkin ini yang disebut naluri seorang istri yang ingin menjaga rumah tangganya. 

"Ralat. Kamu bukan adikku, Andira Sabit. Lagi pula aku tidak memiliki adik, yang aku tahu, aku memiliki musuh yang berkedok sebagai adik. Kamu tahu beberapa bulan yang lalu dia sudah menikam diriku dari belakang," ucap Nadya panjang lebar. 

'Maafkan aku Kak. Aku memang tidak pantas menjadi adikmu, tapi kamu juga belum tentu pantas menjadi kakakku, kamu sudah tega menyembunyikan rahasia besar padaku. Jika kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan.' Suara batin Dira seperti ingin mengatakan hal itu langsung pada Nadya.

Namun, ia tidak ada kuasa. Dira ingat akan penyakit yang divonis dokter padanya, mungkin sebentar lagi dia akan pergi. Biarlah semua berjalan seperti ini. 

"Lalu, tidakkah Kakak ingin meracuninya? Mungkin dengan dia mati, bisa membuat Kakak senang?" celetuk Dira. Seperti memberikan kesempatan pada Nadya agar dia bisa membunuhnya.

"Ck, aku tidak perlu mengotori tanganku sendiri agar dia mati. Lagi pula lama kelamaan dia sendiri yang akan bunuh diri," ujar Nadya. Dia berkata sedingin mungkin dengan ekspresi seperti mengejek Dira. 

Dira hanya tersenyum kecut melihat dan mendengar ucapan itu, sembari bergumam dalam batinnya. 'Iya benar. Aku akan mati dengan sendirinya, mereka tidak perlu repot-repot membeli racun.'

"Bukannya akan lama jika kamu menunggu kesempatan itu? Harusnya lebih cepat kamu melakukan, kamu juga akan lebih cepat mendapatkan lelaki itu. Jangan sampai lelaki itu nanti berada di dekapan adikmu, Kak," tutur Dira yang sukses membuat darah Nadya mendidih. 

Nadya sangat takut dengan semua kalimat yang diucapkan Dira akan menjadi kenyataan. Meskipun Abi tidak pernah menyukainya, tapi Abi juga tidak menceraikannya. 

"Dasar kamu wanita tidak tahu terima kasih, wanita murahan!" Nadya langsung melayangkan satu tamparan ke wajah Dira.

Dira dengan ikhlas menerima tamparan itu, dia hanya bisa berharap jika Abi melihat apa yang diperbuat Nadya lelaki itu akan membela dirinya. 

Sementara itu, Abi baru saja keluar kamar ia mendengar keributan di dapur. Tak ingin menebak-nebak Abi menghampiri suara itu. Abi melihat Nadya menampar Dira, bekas tamparan itu tercetak jelas di pipi mulus Dira. 

"Sayang apa yang terjadi?" tanya Abi yang langsung memeluk Nadya.

Dira tersenyum kecut harapannya pupus dan kini dia justru melihat drama sepasang kekasih di hadapannya, terlihat dengan jelas Dira seperti tak dianggap sebagai istri. Harusnya lelaki itu membela Dira yang terluka dan memeluknya agar sakit yang Dira rasakan mereda. Namun, ini justru sebaliknya. 

"Kamu tahu Sayang, apa yang dia bilang? Dia akan membawa dirimu dalam dekapannya," ujar Nadya tanpa menambahkan bumbu-bumbu kata sedikitpun. 

"Sayang, tenang. Itu tidak akan mungkin, aku hanya milikmu dan terus menjadi milikmu. Dia hanya bermimpi untuk bisa mendapatkan diriku!" jelas Abi menenangkan Nadya.

Abi sangat tahu jika kondisi mental Nadya tidak akan baik jika sudah membicarakan hal yang menyangkut dirinya, terlebih jika dirinya dimiliki orang lain. Abi memang beruntung mendapatkan cinta yang begitu menggebu dari Nadya.

"Kamu, Dira. Tidakkah kamu berpikir terlebih dahulu jika ingin berbicara? Dasar tidak berguna," kecam Abi, membuat tubuh Dira bergetar saat bola mata berwarna hitam pekat itu menatap tajam ke arahnya.

Tubuh Dira refleks mundur dengan sendirinya entah itu karena kemarahan Abi, atau pemandangan di depannya. Abi sangat mengkhawatirkan Nadya dan mendekap tubuh Nadya dengan penuh kasih sayang. 

"Maaf aku salah," ucap Dira merendah.

Dira tidak ingin melawan Abi. Semalam ia sudah bertekad ingin membuat lelaki itu merasa kehilangan saat dirinya sudah pergi dari dunia ini. 

Bukankah itu impas, sekarang lelaki itu membuatnya seperti terkurung di dalam sangkar emas. Dianggap sebagai istri tidak, diceraikan juga tidak. Apa salahnya jika dia membuat lelaki itu mengurung nama Andira Sabit dalam hatinya. 

"Nyahlah dalam pandanganku sekarang juga. Aku benci dengan kata maaf darimu!" seru Abi dengan nada tinggi dan tegas menandakan jika perintahnya tidak ingin dibantah.

Mendengar suara bentakan Abi yang dilontarkan pada Dira. Nadya tersenyum mengejek padanya. 

Tanpa memberikan perlawanan Dira pergi meninggalkan Abi dan Nadya, tapi sebelum itu Dira membungkuk meminta maaf pada Nadya. 

Bagi Dira tidak masalah ini memang permintaan maaf yang tulus darinya, bukan sekedar berakting. 

Abi dibuat tercengang dengan sikap Dira yang seperti tidak tahu malu. Lelaki itu kini mendudukkan Nadya di sofa dan menenangkannya. 

"Sudah, Sayang. Jangan dipikirkan lagi. Kamu tahu sendiri adikmu itu sekarang sedang bermimpi mendapatkan diriku." 

"Bagaimana aku tidak memikirkannya, kamu sudah tiga bulan hidup satu atap dengannya. Kapan kamu akan menceraikan dia dan hidup bersama denganku?" Nadya memanyunkan bibirnya. 

"Cerai? Sayang kamu tahu aku belum bisa melakukan itu. Aku ingin membuat dia terus terkurung dalam lingkaran hubungan yang tidak menguntungkan. Bukankah itu cara elegan untuk membalasnya?" ujar Abi.

Nadya hanya bisa mengepalkan tangannya, sudah tiga bulan jawaban ini yang terus diucapkan Abi. Dia tidak ingin terus menunggu hingga membuat dia akan kehilangan. Dalam benak Nadya, dia ingin merencanakan sesuatu untuk bisa memiliki Abi.

Bab 3

Siang ini Dira berkunjung ke rumah mertuanya, meskipun kehadirannya akan ditolak, baginya tidak masalah dia akan tetep mencoba. 

Dira memencet bel rumah, seorang pembantu paru baya membuka pintu untuknya. 

"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya seperti tidak mengenal Dira.

Dira tersenyum miris, segitu tak berharganya dia sampai tak dikenal sebagai menantu dari keluarga Sander.

Namun, Dira harus tetap bersikap sopan lagi pula sampai meninggal pun mungkin dia hanya akan dikenang di keluarga Sander sebagai wanita perebut kekasih kakaknya. "Siang, Bi. Ibu Miranda ada?" 

"Ada, Non. Tunggu sebentar saya panggilkan, Non—?" 

"Dira, Bi," ucap Dira menyebutkan namanya agar pembantu itu tidak bingung.

"Baik, Non Dira. Saya Minah, Silahkan masuk," perintah Minah. 

"Terima kasih," ucap Dira. 

Bi Minah bergegas memanggil Miranda, ia takut tamu di depan mungkin orang yang penting. Karena dilihat dari penampilannya terlihat anggun dan elegan. 

Sebelum berangkat ke rumah mertua, Dira tadi sempat mampir ke salon. Dia tidak ingin dicaci maki oleh ibu mertuanya, tidak masalah jika dia harus keluar biaya untuk berpenampilan sepadan dengan sang mertua. Toh, untuk apa uang yang tiap bulan diberikan Abi dia tabung. Lagi pula dia juga tidak akan menikmati hingga tua nanti. 

Tidak lama Miranda keluar dari kamarnya. Miranda berjalan dengan anggun, penampilan seperti biasanya yang menunjukkan bahwa dia adalah wanita berkelas. 

"Untuk apa kamu datang ke sini," ucap Miranda dari kejauhan, saat melihat sosok yang dia kenal sedang duduk di bangku tamu. 

"Siang, Ma. Aku hanya ingin mengunjungi Mama. Apa Mama ada waktu, buat kita berbincang. Aku ingin mengenal Mama lebih jauh, agar aku bisa menjadi menantu idaman Mama," tutur Dira tanpa jeda.

"Jangan sok baik. Lebih baik kamu pulang, nikmati saja apa yang sudah kamu dapat, sebelum semuanya berakhir," ujar Miranda seperti memperingati dan mengancam Dira. 

Dira yang sekarang bukanlah Dira yang dulu yang selalu memendam dan menahan rasa sakit itu sendirian. Orang yang akan mengalah demi kepentingan orang lain. 

"Ma, apa yang Mama ucapkan itu benar. Aku akan menikmati apa yang aku dapat dan sekarang bukankah Mama adalah salah satu apa yang aku dapat? Aku akan menikmati itu," ujar Dira. 

"Apa kamu kira aku ini barang yang bisa kamu nikmati?" 

"Tidak. Mama adalah sosok yang akan aku sayangi. Ma, aku lapar ayo, kita makan siang bersama!" ajak Dira dengan beraninya menggandeng tangan Miranda merengek seperti anak kecil sedang meminta sesuatu. 

"Hai, apa-apaan kamu ini. Lepaskan aku!" pekik Miranda, kini tubuhnya sudah dibawa Dira ke dapur.

"Mama belum masak? Aku bantu ya Ma, tapi aku bantu ngupas bawang aja, sama cuci piring atau sayur. Karena aku belum pandai memasak," ujar Dira setelah tubuh mereka sudah sampai dapur. 

Lama kelamaan Miranda menjadi tersentuh dengan Dira, sejujurnya Miranda adalah wanita yang penuh kasih sayang. Hanya saja ia tidak bisa menerima Dira karena sering mendengar hal buruk tentangnya dan ditambah Dira sudah berani membuat Abi anak kesayangannya menikahi dirinya.

Miranda masih diam tak bersuara. Namun, tangannya dengan cekatan mengambil sayuran yang ingin dia masak, lalu menyerahkan pada Dira agar dicuci. Begitupun dengan bumbu-bumbu yang ingin dia pakai, diserahkan pada Dira untuk dikupas. 

Dira tersenyum, ingin rasanya waktu berhenti untuk sekarang. Seumur hidupnya dia tidak pernah merasa sehangat ini, bisa seperti ibu dan anak sungguhan. Inilah mimpi kecilnya sejak dulu, bisa memasak berdua sambil bercerita. Namun, Dira tidak ingin meminta lebih. Begini saja dia sudah senang. 

"Abi suka semua makanan, kecuali yang bikin dia alergi salah satunya adalah kacang," ujar Miranda seperti memberi tahu Dira. 

Dira seperti bermimpi, wanita di sampingnya mau mengajak dia berbicara, dengan cepat Dira menjawab, "Baik, Ma. Jika suatu saat dia mau makan hasil masakanku yang gak seberapa enak. Akan aku hindari bahan itu." 

"Kenapa, kamu tidak bisa memasak? Sebagai seorang istri itu harus pandai memasak." 

"Bukannya Mama sudah tahu alasannya?" jawab Dira membuat Miranda terdiam. 

Miranda sadar jika dia sudah berbuat jahat pada Dira. Bagaimana pun hubungan antara Abi dan Nadya di belakang Dira, dia juga sudah menyetujuinya. 

Acara memasak sudah selesai. Miranda menginstruksikan Bi Minah untuk memanggil Fauzan sang suami, agar bisa makan bersama. 

"Kamu di sini?" tanya Fauzan tanpa ekspresi saat melihat Dira. 

"Iya, aku ingin makan siang bersama kalian. Semoga saja aku tidak diusir dengan perutku yang keroncong ini." Dira sedikit ingin bercanda agar bisa dekat dengan mertua lelaki. 

Fauzan tidak mengindahkan candaan Dira. Dia duduk di bangku pemimpin sedangkan Miranda dengan Dira saling berhadapan. 

"Stop, Ma. Biar aku yang mengambilkan kalian makan," ucap Dira, ia pun menyendok nasi lalu di taruh ke piring Miranda dan Fauzan. 

"Papa, mau lauk apa?" Dira dengan sendok di tangannya bersiap mengambil lauk yang akan diminta Fauzan. 

"Capcai dan udang saja." 

"Mama, mau apa?" 

"Sama," jawab Miranda, dengan senang hati Dira mengambilkan makanan itu. 

"Ma, Pa. Kenapa tidak memakan ayam goreng? Bukannya Mama sudah memasak, sayang loh," ujar Dira, ia pun mengambilkan sepotong ayam untuk Miranda dan Fauzan. 

Kedua orang tua itu dibuat tercengang dengan sikap Dira. Mereka berpikir apakah selama ini sudah salah menilai Dira?

Belum pertanyaan itu terjawab suara dari luar membuat kedua orang tua itu tersadar dan Dira yang ingin menyendokkan makanan untuk masuk ke mulutnya tidak jadi dilaksanakan. 

"Dira, apa yang kamu lakukan?" tanya Nadya yang baru saja datang dengan Abi. 

"Aku sedang makan, Kak. Kakak mau ikut makan juga? Aku bisa mengambilkan untuk Kakak." 

"Dira, berhenti bersikap sok baik di sini. Orang tuaku tidak akan menyukaimu!" seru Abi yang tidak suka jika Dira mendekati orang tuanya. 

"Baik, Kak. Dira akan pulang," jawab Dira.

"Pa, Ma. Dira pamit dulu ya, lain kali kita makan bersama lagi," imbuh Dira berpamitan sembari mengedipkan matanya.

Sebenarnya Dira tidak ingin kehilangan moment langka seperti ini. Selain dirinya yang tidak ingin berdebat dengan Abi, dia kini merasakan ada cairan yang akan segera keluar dari hidungnya. Dia tidak ingin terlihat sangat mengenaskan di mata semua orang. 

Dira bergegas mengambil tas selempang yang dia bawa tadi, lalu dengan langkah cepat dia keluar dari rumah keluarga Sander.

Saat tiba di beranda rumah, benar saja darah segar mengalir dari hidungnya, Dira segera mengambil tisu menyumpal hidung itu agar darah yang keluar tidak berceceran di mana-mana. 

Bi Minah yang melihat itu bergegas menghampiri Dira. "Non Dira tidak apa-apa?" 

"Tidak apa-apa, Bi. Bisakah Bibi membantu Dira ke depan dan memanggil taxi?" pinta Dira. 

Dira merasa matanya sudah berkunang-kunang, tidak mungkin juga bisa berjalan ke depan sendirian. 

Bi Minah membantu Dira sampai ke depan dan sesuai permintaan Dira, ia memanggil taxi. 

"Bi, janji sama Dira. Bibi gak akan bilang ini pada siapa-siapa. Dira yakin bibi orang baik dan terima kasih," ujar Dira yang tidak membutuhkan jawaban dari Bi Minah. Dia langsung menyuruh supir taxi menjalankan kemudiannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED