Malam itu, Adara duduk di sisi ranjang Garen, memandangi suaminya yang terbaring tak berdaya. Detik jam dinding terasa seperti pukulan palu di kepalanya. Setiap desahan napas Garen yang tertahan adalah pengingat akan kerapuhan hidup dan urgensi situasi. Dokter telah menjelaskan berulang kali mengenai kondisi kritis Garen dan biaya pengobatan yang membengkak, angka yang terasa seperti tembok raksasa yang tak mungkin ia daki sendirian.
Ponselnya bergetar di genggamannya. Sebuah nomor tak dikenal. Adara tahu, ini Rian Kusuma. Tangan Adara bergetar saat ia menekan tombol jawab.
"Halo?" suaranya nyaris berbisik.
"Nyonya Wijaya? Ini Rian. Saya berasumsi Anda sudah mempertimbangkan tawaran saya," suara Rian terdengar tenang, tanpa emosi, seolah sedang membahas transaksi bisnis biasa.
"Tuan Rian, saya..." Adara memulai, mencari kata-kata yang tepat. "Saya tidak tahu harus berkata apa. Bantuan Anda sangat berarti, tapi..."
"Tidak ada 'tapi', Nyonya Wijaya," Rian memotong dengan tegas. "Saya tidak suka membuang waktu. Saya sudah mengatur pertemuan di restoran 'The Summit' pukul delapan malam ini. Meja reservasi atas nama saya. Sendirian."
Adara terkesiap. Sendirian? Ia ingin menolak, berteriak bahwa ia tidak bisa meninggalkan Garen, tidak bisa pergi menemui pria asing di tengah malam. Namun, bayangan Garen yang terbaring tak bergerak kembali menghantuinya. Ini satu-satunya harapan.
"Baik," Adara akhirnya menjawab, suaranya tercekat. "Saya akan datang."
Sambungan telepon terputus. Adara menatap ponselnya, merasa seperti boneka yang digerakkan oleh benang takdir. Ia kembali menatap Garen, mengusap pipi suaminya yang dingin. "Maafkan aku, Mas," bisiknya, air mata kembali mengalir. "Aku akan menyelamatkanmu. Apapun yang terjadi."
Ia bergegas pulang untuk berganti pakaian. Ia memilih gaun sederhana berwarna gelap, mencoba terlihat seprofesional mungkin, namun hatinya terasa berat, dipenuhi kecemasan dan ketakutan akan apa yang menunggunya.
Restoran 'The Summit' benar-benar berada di puncak salah satu gedung pencakar langit, menawarkan pemandangan malam kota yang gemerlap. Adara merasa kecil dan tidak nyaman di tengah kemewahan yang asing itu. Ia melangkah ragu-ragu menuju meja yang ditunjukkan oleh pelayan, di sudut ruangan dengan pemandangan terbaik.
Rian Kusuma sudah menunggu. Ia duduk tegak, dengan setelan jas mahal yang pas di tubuhnya yang atletis. Wajahnya yang tampan terlihat dingin di bawah cahaya temaram, matanya yang tajam menatap Adara saat ia mendekat. Ia tidak tersenyum.
"Nyonya Wijaya," Rian menyapa, tanpa beranjak dari kursinya. "Silakan duduk."
Adara duduk di hadapan Rian, merasakan aura dominan pria itu. Ruangan itu terasa hening, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu dari meja lain yang jauh.
"Terima kasih sudah datang," kata Rian, menuangkan air ke gelas Adara. "Langsung saja. Saya tidak suka berbasa-basi."
Adara mengangguk, tangannya sedikit gemetar saat meraih gelas.
"Saya sudah berbicara dengan tim medis. Kondisi suami Anda memang kritis, dan pengobatan yang dibutuhkan sangat mahal, juga kompleks," Rian menjelaskan. "Saya sudah mengeluarkan perintah untuk mentransfer sejumlah dana ke rekening rumah sakit atas nama suami Anda. Semua biaya akan saya tanggung."
Hati Adara mencelos. Jumlah yang fantastis itu, kini sudah dibayarkan. Ia merasakan kelegaan yang luar biasa, namun juga ketakutan. Jika Rian sudah bertindak sejauh ini, apa yang akan ia minta sebagai imbalan?
"Tu-tuan Rian, saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih," Adara berkata, suaranya tercekat. "Tapi... Anda bilang ada hal lain yang ingin Anda bicarakan. Syarat apa yang Anda inginkan?"
Rian menatap Adara intens, tatapannya seolah menelanjangi jiwanya. Adara merasa tidak nyaman, namun ia tidak bisa mengalihkan pandangannya.
"Saya ingin Anda menjadi istri saya."
Kata-kata itu menghantam Adara seperti sambaran petir. Ia terkesiap, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "A-apa? Apa maksud Anda? Saya... saya sudah bersuami! Saya mencintai suami saya!"
Rian tetap tenang, tidak sedikit pun tergoyahkan oleh reaksi Adara. "Saya tahu Anda bersuami, Nyonya Wijaya. Dan saya juga tahu Anda mencintai suami Anda. Tapi Anda berada dalam posisi di mana Anda tidak punya pilihan lain."
Ia mengeluarkan selembar dokumen dari tas kulitnya dan meletakkannya di atas meja. Sebuah perjanjian pranikah dan beberapa surat lainnya.
"Ini adalah kontrak pernikahan," Rian menjelaskan. "Anda akan menjadi istri kedua saya. Anda akan tinggal di salah satu properti saya. Status Anda akan terjamin, dan semua kebutuhan Anda dan suami Anda akan terpenuhi. Tentu saja, termasuk biaya pengobatan Garen seumur hidupnya."
Adara menatap dokumen itu, lalu kembali menatap Rian. Pria ini gila. Atau dia iblis. Ini adalah sebuah lelucon, bukan?
"Anda tidak bisa melakukan ini! Ini tidak masuk akal!" Adara berteriak, suaranya sedikit meninggi. "Saya tidak akan pernah menikahi Anda! Saya tidak akan mengkhianati suami saya!"
Rian menyilangkan tangannya di dada, tatapannya semakin dingin. "Anda bisa menolak, Nyonya Wijaya. Tidak ada yang memaksa. Tapi jika Anda menolak, saya akan menarik semua bantuan finansial saya. Dan suami Anda..." Ia berhenti sejenak, membiarkan ancaman itu menggantung di udara. "Maka Garen Wijaya tidak akan mendapatkan pengobatan yang layak. Anda tahu apa artinya itu."
Ancaman itu menghantam Adara. Garen. Nyawa Garen. Paralisis seumur hidup. Atau yang lebih buruk. Ketakutan itu mencengkeramnya begitu kuat hingga ia hampir tidak bisa bernapas.
"Ini... ini pemerasan!" Adara membantah, air mata mulai menggenang di matanya.
"Anggap saja itu sebagai harga dari bantuan saya," Rian berkata acuh tak acuh. "Saya tidak melakukan amal, Nyonya Wijaya. Saya melakukan investasi. Dan investasi ini, saya menginginkan Anda sebagai imbalannya."
Adara merasa jijik. Ia benci Rian. Ia benci dirinya sendiri karena terjebak dalam situasi mengerikan ini. Ia harus memilih antara cintanya pada Garen dan nyawa Garen.
"Mengapa saya? Kenapa harus saya?!" Adara bertanya, suaranya frustrasi. "Anda bisa mendapatkan wanita mana pun yang Anda inginkan dengan kekayaan Anda!"
Rian tersenyum tipis, senyum pertama yang ia tunjukkan malam itu, namun senyum itu sama sekali tidak menghibur. Itu adalah senyum predator. "Anda menarik, Nyonya Wijaya. Anda memiliki sesuatu yang tidak dimiliki wanita lain yang pernah saya temui. Dan saya terbiasa mendapatkan apa yang saya inginkan. Lagipula, Anda tidak perlu khawatir. Pernikahan ini hanya formalitas. Saya tidak akan meminta apa pun dari Anda selain keberadaan Anda sebagai istri saya. Anda akan memiliki hidup yang nyaman, dan suami Anda akan mendapatkan perawatan terbaik."
Pernikahan hanya formalitas? Adara tahu itu bohong. Tidak ada pernikahan yang hanya sebuah formalitas, terutama jika itu dilakukan dengan pria seperti Rian.
Air mata Adara akhirnya pecah. Ia terisak pelan, bahunya bergetar. Hati kecilnya menjerit. Ia tidak ingin melakukan ini. Ia tidak bisa melakukannya. Tapi bagaimana dengan Garen? Bagaimana dengan suaminya yang terbaring tak berdaya, bergantung padanya?
Ia menatap Rian, mata penuh kebencian dan keputusasaan. "Anda... Anda benar-benar tidak punya hati nurani."
Rian mengangkat bahu. "Saya hanya seorang pengusaha, Nyonya Wijaya. Saya tahu bagaimana cara mendapatkan apa yang saya mau. Pikirkan baik-baik. Suami Anda tidak punya banyak waktu. Saya butuh jawaban Anda sebelum tengah malam."
Rian bangkit dari kursinya. "Saya akan menunggu jawaban Anda di sini. Atau Anda bisa menelepon saya." Ia meletakkan kartu namanya di samping dokumen kontrak. "Pikirkan baik-baik masa depan suami Anda."
Rian berbalik dan pergi, meninggalkan Adara sendirian di meja mewah itu, dikelilingi oleh penderitaan dan pilihan yang mengerikan.
Adara kembali ke rumah sakit, hatinya terasa kosong. Ia duduk di samping Garen, menggenggam tangan suaminya yang masih terpasang infus. Ia menatap wajah damai Garen yang terlelap, dan air matanya kembali mengalir.
"Mas... apa yang harus aku lakukan?" bisiknya. "Aku tidak bisa kehilanganmu. Tapi aku juga tidak bisa mengkhianatimu."
Ia teringat janji pernikahan mereka, sumpah suci di hadapan Tuhan. Janji untuk setia, dalam suka dan duka. Sekarang, ia dihadapkan pada pilihan untuk melanggar janji itu demi menyelamatkan Garen. Apakah ini takdir? Takdir yang begitu kejam?
Waktu terus berjalan. Jarum jam berdetak menuju tengah malam. Adara mencoba mencari solusi lain, menghubungi setiap kenalan yang ia punya, memohon bantuan. Namun, tak ada satu pun yang bisa menolongnya dengan jumlah uang sebanyak itu dalam waktu sesingkat ini. Mereka hanya bisa memberikan kata-kata semangat, yang tidak bisa menyembuhkan Garen.
Bayangan wajah Rian, tatapan dinginnya, dan senyum predatornya terus menghantuinya. Rian benar. Ia tidak punya pilihan.
Pukul sebelas malam, Adara meraih ponselnya. Tangannya gemetar hebat. Ia tidak ingin menelepon nomor itu, namun ia harus. Demi Garen.
Ia menekan nomor Rian. Panggilan itu langsung terjawab.
"Nyonya Wijaya? Saya menunggu jawaban Anda." Suara Rian terduma tenang, seolah ia sudah tahu apa yang akan Adara katakan.
"Saya... saya menerimanya," Adara berbisik, suaranya pecah. "Saya akan menikahi Anda."
Ada keheningan sesaat di ujung telepon. Lalu, Rian berkata, "Pilihan yang bijak. Pengacara saya akan mengurus semua dokumen. Besok pagi, Anda akan menikah dengan saya secara hukum. Setelah itu, suami Anda akan dipindahkan ke rumah sakit swasta terbaik, dan saya akan memastikan dia mendapat perawatan kelas satu."
Adara merasakan jiwanya tercabik-cabik. "Tapi... saya minta satu syarat," kata Adara, suaranya mencoba terdengar tegas, meskipun ia tahu ia tidak punya kekuatan untuk mengajukan syarat. "Pernikahan ini tidak boleh diketahui siapa pun. Terutama suami saya. Dia tidak boleh tahu."
Rian tertawa pelan, sebuah tawa tanpa kehangatan. "Baiklah. Sebuah pernikahan rahasia. Saya tidak keberatan. Tapi ingat, Nyonya Wijaya, Anda sekarang adalah milik saya. Jangan coba-coba melarikan diri."
Sambungan telepon terputus. Adara menjatuhkan ponselnya ke lantai. Ia telah menjual jiwanya. Ia telah mengkhianati cinta sucinya demi nyawa suaminya. Ia telah menjadi istri bagi pria yang ia benci, demi pria yang ia cintai.
Ia menatap Garen, air mata membanjiri wajahnya. "Maafkan aku, Mas," bisiknya lagi, meremas tangan Garen. "Ini demi dirimu. Aku janji, aku akan menemukan cara untuk kembali padamu."
Sementara itu, di penthouse mewahnya, Rian Kusuma tersenyum puas. Ia berhasil. Wanita anggun itu, yang telah menarik perhatiannya sejak pertama kali melihatnya di sebuah acara seni, kini akan menjadi miliknya. Ia suka tantangan, dan Adara adalah tantangan terbesar yang pernah ia hadapi.
Ia mengeluarkan ponselnya, menghubungi Kirana.
"Halo, sayang?" suara Kirana terdengar ceria. "Sudah pulang?"
"Sudah, Kirana," Rian menjawab, nada suaranya lembut, tanpa sedikit pun bayangan dari percakapan yang baru saja ia lakukan dengan Adara. "Bagaimana kabarmu?"
"Baik, Bang. Abang baik-baik saja, kan? Proyeknya sudah beres?"
"Sudah beres. Ada sedikit kendala, tapi sudah kuatasi," Rian berkata, pandangannya menerawang ke arah kota. "Sekarang, aku bisa lebih fokus padamu. Bagaimana kalau besok kita mulai mencari rumah di desa impianmu?"
Kirana bersorak gembira di ujung telepon. "Benarkah, Bang Rian?! Aku senang sekali!"
Rian tersenyum. Ia punya rencana besar. Rencana yang akan melibatkan Adara dan Kirana, dua wanita yang kini menjadi bagian dari hidupnya. Ia tahu Kirana adalah wanita lugu yang akan percaya padanya. Dan Adara, wanita yang terpaksa menikahinya, akan berada di bawah kendalinya.
Ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Sebuah investasi yang sempurna, dalam pandangannya. Namun ia tidak tahu, bahwa takdir memiliki rencana lain. Rencana yang jauh lebih rumit dan menyakitkan dari yang bisa ia bayangkan. Sebuah jerat takdir yang akan melibatkan mereka semua dalam pusaran rahasia, pengorbanan, dan kebohongan.
Mentari pagi di Jakarta menyinari sebuah babak baru dalam hidup Adara. Tidak ada lagi kehangatan pelukan Garen, hanya kekosongan yang menyesakkan di ranjang. Ia telah menghabiskan malam tanpa tidur di rumah sakit, menyaksikan jarum jam berputar, menghitung detik-detik sebelum hidupnya berubah drastis. Sebuah perjanjian tersembunyi kini mengikatnya pada Rian Kusuma, dan jiwanya terasa terbelah.
Pukul delapan pagi, seorang pengacara datang ke rumah sakit, membawa tumpukan dokumen. Wajahnya ramah, namun tatapannya profesional dan tanpa emosi. "Nyonya Adara Paramitha? Saya Dion, pengacara Tuan Rian Kusuma."
Adara mengangguk kaku. Ia duduk di ruang tunggu rumah sakit, jantungnya berdebar kencang. Ia hanya ingin ini semua cepat selesai.
"Dokumen ini adalah perjanjian pernikahan Anda dengan Tuan Rian Kusuma," jelas Dion, meletakkan berkas di meja. "Dan ini adalah surat kuasa untuk pemindahan Tuan Garen Wijaya ke rumah sakit lain."
Adara membaca sekilas dokumen pernikahan itu. Semua klausulnya mengikat, tegas, dan dingin. Ia akan menjadi istri kedua Rian, dengan segala hak dan kewajiban yang telah ditentukan. Sebuah pernikahan yang hanya di atas kertas, sebuah transaksi tanpa cinta. Air mata nyaris kembali menggenang di matanya, namun ia menahannya. Ia harus kuat. Demi Garen.
Dengan tangan gemetar, Adara membubuhkan tanda tangannya di setiap lembar yang ditunjuk Dion. Setiap goresan pena terasa seperti goresan di hatinya. Setelah selesai, Dion menyerahkan salinan kepadanya.
"Selamat, Nyonya Kusuma," kata Dion datar, tanpa ekspresi. "Sekarang, izinkan saya mengurus pemindahan Tuan Garen."
Adara hanya bisa mengangguk. Beberapa saat kemudian, Garen dipindahkan dari UGD ke ambulans mewah yang sudah menunggu. Ambulans itu akan membawanya ke rumah sakit swasta terbaik di Jakarta, sebuah tempat yang jauh lebih canggih dan mahal. Adara naik bersamanya, matanya tak lepas dari wajah Garen. Ia tahu, inilah harga yang harus ia bayar.
Rumah sakit baru itu jauh berbeda. Bangunannya megah, interiornya mewah, dan setiap perawat serta dokter tampak sangat profesional. Garen langsung dibawa ke ruang operasi khusus yang sudah disiapkan. Adara menunggu di luar, didampingi Dion yang sesekali menjelaskan prosesnya.
"Operasi ini akan memakan waktu lama, Nyonya Kusuma," kata Dion. "Tuan Rian sudah memesan suite pribadi untuk Anda di rumah sakit ini, untuk sementara. Setelah kondisi Tuan Garen stabil, Anda akan tinggal di salah satu properti Tuan Rian."
Adara tidak menjawab. Ia hanya ingin operasi ini berjalan lancar. Ia ingin Garen selamat.
Berjam-jam berlalu dalam ketegangan. Akhirnya, dokter keluar dari ruang operasi, wajahnya terlihat lelah namun ada senyum tipis.
"Operasinya berhasil, Nyonya Kusuma," kata dokter. "Tuan Garen sudah melewati masa kritis. Pendarahan di otaknya sudah teratasi, dan tulang-tulang yang patah sudah kami pasang pen. Kondisinya kini stabil, namun ia masih akan dalam kondisi koma untuk beberapa waktu."
Adara merasakan kelegaan yang luar biasa. Ia nyaris tumbang. "Syukurlah... syukurlah..."
"Untuk cedera sumsum tulang belakangnya, kita harus melihat perkembangannya setelah ini," tambah dokter. "Ada kemungkinan ia masih akan membutuhkan terapi jangka panjang, dan ada risiko kelumpuhan. Tapi setidaknya, nyawanya sudah tertolong."
Nyawa Garen tertolong. Itu yang terpenting. Adara kini tahu, ia harus memenuhi bagian dari perjanjian itu.
Beberapa hari kemudian, Garen dipindahkan ke ruang perawatan intensif dengan peralatan canggih. Kondisinya stabil, meskipun ia masih terbaring tak sadarkan diri. Adara selalu ada di sisinya, membisikkan kata-kata cinta, memegang tangannya, berharap Garen akan merasakan kehadirannya.
Di sore hari, Rian Kusuma datang mengunjungi. Ia masuk ke ruangan Garen, di mana Adara duduk di samping ranjang suaminya. Rian terlihat sangat berkuasa dengan setelan jas mahalnya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Rian datar, tatapannya menyapu Garen, lalu beralih ke Adara.
"Stabil, Dokter bilang operasinya berhasil," jawab Adara, suaranya dingin. Ia tidak ingin melihat Rian, namun ia terpaksa.
Rian mengangguk. "Bagus. Saya sudah mengatakan pada Anda, saya akan memastikan dia mendapat yang terbaik." Ia kemudian menatap Adara dengan tajam. "Sekarang, giliran Anda memenuhi janji Anda. Saya sudah menyiapkan kediaman baru Anda."
Hati Adara mencelos. Saatnya telah tiba.
"Saya ingin memastikan suami saya mendapat perawatan terbaik, Nyonya Kusuma. Dan Anda akan menjalankan peran Anda sebagai istri saya. Ingat, pernikahan ini rahasia. Tidak ada yang boleh tahu." Rian mengingatkan dengan suara penuh ancaman.
Adara hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tidak punya pilihan lain.
Malam itu, Adara pindah ke rumah baru yang telah disiapkan Rian. Sebuah rumah mewah bergaya modern minimalis, terletak di kawasan elite Jakarta. Rumah itu besar, megah, dan terasa dingin. Tidak ada kehangatan yang ia rasakan di apartemen kecilnya bersama Garen. Di sini, ia hanyalah bagian dari properti Rian.
Rian tidak tinggal di sana. Ia tinggal di penthouse-nya sendiri bersama Kirana. Rumah ini murni disiapkan untuk Adara, sebagai tempat ia tinggal sebagai 'istri kedua' yang rahasia.
Hidup Adara berubah total. Setiap pagi, ia akan bangun, mandi, dan berganti pakaian yang sudah disiapkan oleh asisten pribadi yang ditugaskan Rian kepadanya. Asisten itu, seorang wanita paruh baya bernama Bu Ida, sangat profesional namun juga menjaga jarak. Semua kebutuhannya terpenuhi, kartu kredit tanpa batas diberikan kepadanya, namun ia merasa seperti burung dalam sangkar emas.
Setiap hari, ia akan pergi ke rumah sakit, menghabiskan waktu berjam-jam di sisi Garen. Ia akan membacakan buku, memijat kakinya, berbicara tentang kenangan indah mereka. Ia akan menangis dalam diam, berharap Garen akan terbangun dan semua mimpi buruk ini akan berakhir.
Rian sesekali datang mengunjunginya, bukan karena cinta atau perhatian, melainkan untuk memastikan Adara mematuhi perjanjian. Ia akan datang ke rumah sakit, memeriksa kondisi Garen, berbicara singkat dengan dokter, lalu melirik Adara dengan tatapan pemilik.
"Anda sudah makan?" Rian akan bertanya, nada suaranya tanpa emosi.
"Sudah," Adara akan menjawab singkat.
"Ada keluhan tentang perawatan suami Anda?"
"Tidak."
Pertemuan mereka selalu formal dan kaku. Tidak ada sentuhan, tidak ada kehangatan. Adara merasa seperti robot, menjalani hidupnya tanpa jiwa. Ia selalu mengenakan cincin pernikahannya dengan Garen di jari manis kirinya, sebuah pengingat akan cintanya yang tak pernah pudar, meskipun ia kini terikat pada pria lain.
Sementara itu, di penthouse Rian, kehidupan Kirana terus berjalan dalam balutan kebahagiaan yang semu. Rian semakin sering mengajaknya mencari rumah di pedesaan, membahas detail pernikahan impian mereka. Kirana sangat bahagia. Ia tidak tahu apa pun tentang sisi gelap kehidupan Rian, tentang pernikahan rahasianya dengan Adara, atau tentang Garen yang terbaring koma di rumah sakit mewah.
Kirana melihat Rian sebagai pahlawan, pria yang telah menyelamatkannya dari kehidupan sederhana di desa, pria yang akan memberinya masa depan yang cerah. Ia mencintai Rian dengan tulus, dengan kepolosan yang naif.
Suatu siang, Kirana sedang membaca majalah arsitektur di penthouse Rian. Sebuah artikel tentang proyek Menara Kencana menarik perhatiannya. Ia melihat foto arsitek utamanya, seorang pria muda yang tampak familiar.
"Bang Rian, bukankah ini arsitek yang abang sebutkan bermasalah waktu itu?" tanya Kirana polos. "Yang kata abang keras kepala itu?"
Rian yang sedang menyeruput kopi, mengangkat pandangannya. Ia melihat foto Garen Wijaya di majalah itu. Ekspresinya sedikit berubah, namun dengan cepat ia menyembunyikannya.
"Ah, ya," Rian berkata acuh tak acuh. "Dia memang sedikit bermasalah. Ada kecelakaan kecil di lokasi proyek, dan dia salah satu korbannya. Tapi semuanya sudah beres sekarang."
"Kecelakaan? Oh, kasihan sekali," Kirana berkomentar. "Semoga dia baik-baik saja."
Rian hanya mengangguk, kembali pada korannya. Ia tidak akan membiarkan Kirana tahu apa pun tentang Garen atau Adara. Dunia itu, dunia yang kotor dan penuh rahasia, harus tetap terpisah dari Kirana, bunga lugunya.
Minggu-minggu berubah menjadi bulan. Garen masih belum sadarkan diri, meskipun kondisinya stabil. Adara tetap setia di sisinya, berharap pada sebuah keajaiban. Ia telah kehilangan semua berat badannya, wajahnya terlihat pucat, namun matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.
Rian terus memenuhi janjinya. Biaya rumah sakit selalu terbayar lunas. Terapi fisik dan perawatan terbaik diberikan untuk Garen. Namun, setiap kali Rian datang, Adara merasakan jiwanya menciut. Ia adalah istrinya, namun tanpa cinta, tanpa ikatan. Hanya sebuah transaksi.
Suatu hari, saat Rian datang berkunjung, ia membawa sebuah dokumen lain.
"Anda sudah tinggal di rumah itu selama beberapa bulan, Nyonya Kusuma," kata Rian, sambil berdiri di samping ranjang Garen. "Sekarang, saya ingin Anda sesekali datang ke penthouse saya. Sebagai istri saya, Anda juga harus terlihat di sana, sesekali."
Adara terkesiap. Datang ke penthouse Rian? Itu berarti ia akan bertemu Kirana. Ia tidak siap untuk itu. Ia tidak ingin terlibat lebih jauh dalam kebohongan ini.
"Tidak bisa," Adara menolak tegas. "Saya tidak ingin bertemu siapa pun. Saya hanya ingin di sini, di samping suami saya."
Rian menatapnya dingin. "Anda tidak punya pilihan, Nyonya Kusuma. Anda sudah menandatangani kontrak. Anda adalah istri saya. Dan ada hal-hal tertentu yang harus Anda penuhi. Ini bukan permintaan, ini perintah."
"Tapi... ada Kirana di sana," Adara mencoba membantah. "Dia tidak tahu apa-apa."
"Dan dia tidak perlu tahu," Rian memotong. "Anda akan datang sebagai rekan bisnis saya, atau teman lama. Saya akan mengurusnya. Anda hanya perlu tampil, bersikap ramah, dan kemudian Anda bisa kembali ke sini. Itu hanya sesekali. Jangan buat ini menjadi sulit."
Ancaman itu jelas. Jika ia menolak, nasib Garen akan dipertaruhkan. Adara menghela napas pasrah. Ia tidak punya kekuatan untuk melawan.
"Baiklah," Adara berkata, suaranya nyaris tak terdengar. "Tapi hanya sesekali."
Rian tersenyum puas. Ia menyukai kepatuhan Adara. Ia menyukai tantangan yang perlahan-lahan ia menangkan.
"Bagus," kata Rian. "Saya akan memberi tahu Anda jadwalnya. Dan pastikan Anda terlihat segar. Anda sekarang adalah istri saya. Anda harus menjaga penampilan."
Rian meninggalkan ruangan, meninggalkan Adara sendirian lagi. Adara menatap pantulan dirinya di jendela. Wanita yang dulu penuh semangat, penari balet yang anggun, kini hanyalah bayangan dirinya. Ia merasa kotor, tercemar oleh rahasia dan kebohongan yang harus ia jalani.
Ia kembali menggenggam tangan Garen, air mata menetes membasahi punggung tangan suaminya. "Maafkan aku, Mas," bisiknya. "Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Tapi aku akan terus bertahan demi dirimu."
Adara tahu, setiap langkah yang ia ambil, setiap keputusan yang ia buat, kini didikte oleh Rian Kusuma. Ia terperangkap dalam jerat takdir yang kejam, sebuah rahasia yang tersembunyi dari dunia, yang mengancam untuk menghancurkan semua yang tersisa dari dirinya. Ia hanya bisa berharap, suatu hari nanti, keajaiban akan terjadi, dan ia bisa kembali ke kehidupan yang ia impikan bersama Garen. Namun, harapan itu terasa sangat jauh, terkubur di bawah tumpukan kebohongan dan keputusasaan.