"Kalian akan menikah resmi, mengulang ijab qobul atas nama, Edward dan Claire."
Claire dan Edward saling lirik, mendengar kalimat Sonya yang tak lain ibu dari Edward dan Ethan.
Sesuai yang dikatakan Edward kemarin, hari ini dua keluarga itu berkumpul untuk membicarakan masalah yang ada.
"Maaf ya, Bu Celin, Pak Wirya, tapi jujur saya dan suami saya tidak setuju dengan hubungan, Edward dan Clarha."
Celin dan Wirya mengangguk, mereka menyadari jika sosok Clarha memang tidak seperti Claire, Clarha lebih bersikap seenaknya dibanding Claire.
"Tidak masalah, Bu Sonya, kami mengerti dengan itu, kami minta maaf atas segala sikap buruk, Clarha, selama ini."
"Iya, Bu, tapi kami harap jika mereka berdua bisa benar-benar menikah, bukan Ethan dan Claire, tapi Edward dan Claire."
"Mamih, gak seperti itu dong," ucap Edward.
"Kenapa, kamu masih mempertahankan, Clarha?"
"Aku dan Clarha, sudah berakhir, jadi kami tidak sama-sama lagi sekarang."
"Oh bagus dong," ucap Sonya girang.
"Bagus kan, Bu Celin, Pak Wirya?" tanya Sonya.
Mereka hanya sedikit tersenyum menanggapinya, bagaimana pun, perasaan Claire adalah yang utama bagi mereka.
"Claire, kamu mau kan menerima, Edward, kami akan menikahkan kalian berdua."
Pertanyaan Sonya tak mampu dijawab Claire, tentu saja itu tidak mungkin, Claire tidak ada perasaan apa pun juga pada Edward, bagaimana bisa mereka menikah dan menjadi suami istri.
"Gak bisa, Mamih, sudahlah gak usah membuat rumit semuanya," ucap Edward.
"Lalu kamu mau seperti apa, kamu mau memilih berpisah dengan Claire, kalian baru saja menikah, mau dikemanakan harga diri kami kalau kalian sudah bercerai lagi."
Edward diam, Claire melirik Edward, terdiam menatap lelaki itu, Edward memilih berjabat tangan dengan penguhulu itu demi membela keluarga, agar tidak mempermalukan mereka di hadapan tamu undangan.
Dan mungkin benar, jika mereka memilih membuat perceraian, tetap saja mereka akan mempermalukan keluarga.
Claire menunduk, tapi Claire juga tidak mau menikah dengan Edward.
"Bagaimana, Claire?" tanya Arya.
Claire menoleh, sepertinya bapak dari Edward juga menginginkan hal yang sama seperti istrinya, lalu apa yang harus dikatakan Claire.
"Gak, Mamih, kita tidak bisa menikah tanpa ada rasa cinta," ucap Edward.
"Cinta apa sih, perasaan cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya, dengan kalian terbiasa bersama, maka cinta pasti akan datang."
"Gak semudah itu, Mamih."
"Aku mau, kalau memang, Edward, juga mau."
Edward menoleh dan menatap Claire, apa maksudnya, kenapa seperti itu kalimatnya, Claire tidak menginginkannya tapi kenapa Claire justru menyetujuinya.
"Claire, itu tidak mungkin," ucap Edward.
"Kamu mau kembali sama, Clarha?"
"Bukan, tapi kita ...."
"Aku tidak apa-apa, benar kata, Mamih kamu kalau cinta akan datang seiring berjalan waktu."
"Claire, kamu tidak perlu memaksakan, keadaan ini hanya keterpaksaan saja, jangan menambah kekecewaan kamu sendiri."
"Aku tidak memaksa, aku bilang, aku mau kalau kamu mau, kalau kamu tidak mau, maka tidak akan terjadi pernikahan kita berdua."
Edward diam, apa yang harus dilakukan sekarang, Edward memang telah kecewa dengan Clarha tapi tidak mungkin jika langsung berpaling pada Claire.
"Kamu yang bilang kan, apa yang kamu lakukan kemarin, adalah untuk membebaskan keluarga kita dari rasa malu, itu artinya kita harus mempertahankan apa yang telah kamu mulai."
"Tapi, Claire."
"Sudahlah, Edward, kamu tidak perlu mendebat semua ini, kami yakin kalau kamu akan lebih bahagia bersama, Claire."
Perbincangan panjang itu telah membuat perdebatan yang cukup panas, Edward yang tetap menolak dan Claire yang tetap setuju.
Tidak ada yang mendukung Edward, karena orang tua Claire pun turut mendukung agar pernikahan itu ada.
Setelah menghabiskan cukup banyak waktu, setelah Edward mengingat semua hal buruk yang terjadi dalam hubungannya dengan Clarha, Edward akhirnya setuju untuk mengulang ijab qobul antara dirinya dan Claire.
Bukankah mereka sama-sama kecewa dengan pasangan masing-masing, mungkin saja dengan pernikahan itu, mereka bisa menyembuhkan luka yang telah menggores perasaan mereka.
Orang tua mereka mampu bernafas lega, atas jawaban yang diberikan oleh keduanya, mereka akan segera mengulang ijab qobul setelah semua keharusannya terpenuhi.
----
Langit terang telah berubah gelap, keluarga Claire telah kembali ke rumahnya, sedangkan Claire tetap tinggal di rumah Edward.
Claire terduduk di halaman belakang rumah, sudah sejak tadi Claire berada di sana, Edward berjalan menghampiri wanita itu, duduk di sampingnya dan merangkulnya hangat.
Claire menoleh dan menunjukan sedikit senyuman pada Edward.
"Sampai kapan kamu disini?" tanya Edward seraya mengusap pundak Claire.
"Sampai aku mengantuk."
Edward tersenyum, kasihan sekali wanita itu, perasaannya pasti sangat terluka karena ulah Ethan, bisa-bisanya Ethan meninggalkan Claire begitu saja.
"Kamu bisa membatalkan semuanya, kalau memang kamu berubah fikiran."
Claire menoleh dan menggeleng, tidak ada yang akan dirubahnya, Claire tidak ingin mengecewakan orang tuanya.
"Maafkan, Ethan, apa pun yang dilakukannya, jangan pernah membencinya."
Claire berpaling, setelah lelaki itu pergi begitu saja, setelah hatinya terluka seperti saat ini, apa bisa Claire masih berbaik hati pada lelaki itu.
"Keburukan, Ethan, saat ini pasti masih banyak juga kebaikannya sebelum keburukan ini."
"Aku tidak mau memperdulikannya lagi."
"Tapi kamu masih melamunkannya juga."
"Tidak, aku hanya sedang berfikir saja, apa hidup aku akan lebih baik setelah ini."
Edward tersenyum dan membawa Claire bersandar ke pundaknya, mengusap lembut kepalanya.
"Aku masih menyayangi, Clarha," ucap Edward.
"Kalau begitu, silahkan kamu saja yang membatalkan semuanya, dan kamu bisa mencari, Clarha."
"Tidak, mungkin perpisahan aku dan Clarha, bisa jadi awal yang baik untuk aku, selama ini kebersamaan aku dan Clarha, tidak pernah lepas dari cekcok dan pertengkaran, mungkin Tuhan menunjukan jika hubungan kami bukanlah yang seharusnya."
Claire diam, Claire tahu tentang itu, Clarha memang kerap pulang dengan wajah kesal setelah jalan dengan Edward, dan itu nyaris setiap pertemuan.
"Kalau nanti, Ethan, datang diwaktu pernikahan kita, kamu akan batalkan semuanya?"
"Tidak, tapi aku sudah bilang semua terserah kamu, kalau kamu mau bertahan, maka aku akan bertahan, tapi kalau kamu ingin mundur, aku tidak bisa memaksa kamu untuk bertahan."
"Dan kamu akan kembali pada, Ethan?"
"Tidak, seperti apa yang kamu katakan tentang, Clarha, mungkin Tuhan juga menunjukan jika, Ethan, bukan yang terbaik untuk aku."
Edward tersenyum, keputusan yang mereka ambil saat ini adalah dalam kesadaran, niat baik seharusnya mendapatkan hasil yang baik.
"Kamu, mau menikahi aku?" tanya Claire.
"Tentu saja, aku sudah katakan kalau aku setuju."
Claire mengangguk, tak ada lagi kalimat yang terlontar, keduanya diam, bergelut dengan fikiran masing-masing.
Claire dan Edward berharap, jika keputusan mereka itu akan mendatangkan kebahagiaan yang sebenarnya.
"Claire, Edward, ayo keluar, ayo kita sarapan sama-sama," ucap Sonya seraya mengetuk pintu.
Penghuni di dalam sana rupanya juga telah siap, mereka akan keluar dan ikut sarapan bersama orang tuanya.
"Keluar sekarang?" tanya Edward.
"Ayo."
Claire sesaat menatap wajahnya di kaca, matanya sedikit sembab karena sempat menangis semalam, tapi itu bukan masalah mereka pasti bisa mengerti.
Keduanya keluar dan berjalan ke ruang makan bersama dengan Sonya, Edward tersenyum melihat Sonya yang begitu hangat memperlakukan Claire.
"Kalian datang juga, apa saja yang dilakukan, lama sekali," ucap Arya
Ketiganya duduk di kursi masing-masing, tanpa banyak bicara, mereka mulai menikmati sarapan paginya itu.
Satu hari, satu minggu, sampai satu bulan, kehidupan Claire terasa semakin hangat berada di tengah keluarga Edward.
Banyak hal manis yang terjadi diantara mereka, utamanya antara Claire dan Edward sendiri, banyak kejadian yang justru membuat mereka semakin dekat dan dekat lagi.
Keberadaan Claire di rumah itu, telah membuat Claire lebih memahami seperti apa keadaan rumah, dan seperti apa orang-orang di dalam rumah tersebut.
Hari demi hari yang Claire lewati di sana, dengan berbagai kegiatan dan kebiasaan yang biasa dilakukan penghuni rumah itu, telah memberikan kenyamanan tersendiri bagi perasaan Claire, Edward yang selalu bersikap baik padanya dan tak pernah kurang ajar meski mereka tidur di satu ruang kamar yang sama.
Sampai satu bulan terlewat, Ethan tak kunjung kembali, begitu juga dengan Clarha, entah dimana dua orang itu sekarang, karena kontak mereka pun tidak bisa dihubungi sampai detik ini.
30 hari sudah Claire ada di ruang makan bersama dengan Edward dan keluarganya, Claire bahkan tak pernah sekali pun datang ke rumah orang tuanya sendiri, Claire hanya berhubungan dengan keluarganya lewat sambungan telepon saja.
"Papih, sudah selesaikan semuanya, jadi kalian bisa mulai fikirkan kapan kalian akan menikah."
Perkataan Arya tentu saja membuat ketiganya terdiam bersamaan, Arya dan Sonya memang begitu berusaha untuk bisa melangsungkan pernikahan mereka berdua, dan sepertinya tidak lama lagi, pernikahan itu akan terjadi.
"Papih, bicarakan dulu saja sama keluarga, Claire," ucap Edward.
"Tentu saja, sebelum bicara saat ini, Papih, sudah lebih dulu bicara kepada mereka, dan mereka menyerahkan keputusannya pada kalian berdua."
Mendengar penjelasan Arya, Claire dan Edward saling lirik.
"Lebih cepat lebih baik, kalian pasti akan bahagia," ucap Sonya.
"Kamu maunya gimana?" tanya Edward.
"Gimana bagusnya saja, aku ikut," jawab Claire.
Edward mengangguk, ia berpaling dan meneguk minumnya, Edward memang telah memikirkan semuanya, tapi jujur sampai detik ini perasaannya masih sangat kuat untuk Clarha.
"Edward, kenapa kamu diam?" tanya Sonya.
Edward menoleh dan menggeleng, rasanya akan menyinggung perasaan mereka jika Edward bicara jujur, utamanya perasaan Claire sendiri.
"Gak apa-apa kok, Mamih."
"Lalu, bagaimana?"
"Ya sudah, lanjutkan saja, nanti aku bicara dulu sama, Claire."
"Bicara apa?" tanya Claire.
"Bicara baiknya harus gimana, hari baik kita berdua."
Claire tersenyum dan mengangguk, mungkin itu seharusnya juga, jadi Claire akan ikut saja.
"Ya sudah, nanti malam, kami tunggu jawaban pastinya ya," ucap Sonya
Edward mengangguk pasti, itu bisa saja, dan semoga apa yang akan jadi keputusan mereka adalah yang terbaik, dan akan bisa mendatangkan kebahagiaan untuk semuanya.
"Kamu ke Kantor hari ini?" tanya Arya.
"Mungkin besok, hari ini sepertinya masih bisa kerja di rumah," ucap Edward.
"Baik, bagus kalau seperti itu, berarti kalian bisa bicarakan saat ini juga."
Edward tersenyum dan mengangguk, itu juga yang difikirkannya, dan sebaiknya memang lebih cepat.
Claire berjalan memasuki kamar lebih dulu, diikuti Edward kemudian, sarapan mereka telah usai, sehingga mereka bisa memulai kegiatannya masing-masing.
"Kamu tidak perlu memaksakan, kalau memang tidak mau, maka tidak perlu, biarkan saja orang mau bergunjing apa pun."
Claire duduk dan melirik Edward yang turut duduk, kalimat Edward memang benar adanya, tapi Claire merasa tidak lagi memiliki pilihan sekarang, jadi biarkan saja Claire akan ikuti seperti apa keharusannya.
"Kamu bisa pulang ke rumah kamu, dan bebas dari pernikahan palsu ini, kamu juga tidak perlu menjebak diri kamu sendiri dalam pernikahan yang tidak kamu inginkan."
Claire mengangguk, kalimat Edward memang benar, tapi Claire merasa semua akan sama saja hasilnya, sama-sama membuat mereka semua kecewa.
"Claire."
"Kamu, masih menunggu kembalinya, Clarha?" tanya Claire.
Edward berpaling, mungkin itu benar, tapi mungkin juga tidak, Edward memang masih menyayangi Clarha, tapi waktu kebersamaan dengan Claire selama 1 bulan ini, cukup membuat Edward sadar tentang tidak baiknya hubungannya dengan Clarha selama ini.
"Mungkin kamu yang harus memikirkan semuanya dengan benar, berulang kali, dan yakinkan diri sendiri, karena mungkin kamu yang akan merasa terjebak jika pernikahan kita terjadi."
Edward diam, sepertinya perasaan dan pemikiran mereka sama untuk saat ini, tapi bukankah untuk mendapatkan kebahagiaan itu butuh pengorbanan.
"Kalau kita menikah, bagaimana kalau mungkin tiba-tiba Ethan kembali lagi, dan meminta kembali sama kamu?"
"Itu pertanyaan untuk kamu juga."
Keduanya tersenyum bersamaan, Claire berpaling dan bangkit berjalan menjauhi Edward.
"Kalau kita menikah, aku akan fokuskan diri untuk pernikahan kita saja, untuk rumah tangga kita, kalau pernikahan kita terjadi, itu artinya aku sudah siap menjalani hidup baru dan melupakan hidup aku yang lama."
Edward bersandar, terdiam menatap tubuh yang membelakanginya itu.
"Aku tidak tahu siapa jodoh aku, dan seperti apa proses aku untuk bisa bertemu jodoh aku, aku hanya bisa mengikuti alurnya saja, termasuk juga kalau harus menikah sama kamu."
Edward mengusap wajahnya, 1 bulan Clarha tidak sedikit pun memberi kabar padanya, dan begitu juga dengan Ethan yang seperti sudah melupakan Claire sepenuhnya.
Jika cinta bisa datang karena terbiasa, mungkin saja Edward akan bisa mencintai Claire setelah kebersamaan mereka dalam pernikahan nanti.
"Lalu, kapan kamu siap menikah sama aku?"
Claire berbalik, dengan senyuman yang terlihat di bibirnya, Claire kembali duduk di samping Edward.
"Apa aku yang harus melamar mu?"
Edward mengernyit, pertanyaan macam apa itu, bisa sekali Claire bertanya seperti itu.
"Aku akan menunggu sampai kamu mau melamar aku, dan aku akan menerimanya, jadi kalau singkatnya malam ini kamu lamar aku, maka meski pernikahan harus terjadi besok, aku akan terima."
"Kamu yakin?"
"Harus yakin, untuk menata hidup, menata hati yang telah rusak, aku harus yakin kalau langkah aku adalah yang terbaik."
Edward mengangguk, perlahan tapi pasti keduanya tersenyum bersamaan, Edward merangkul Claire dan membawanya agar bersandar ke pundak.
Tak ada kalimat apa pun lagi, Claire hanya dian merasakan usapan tangan Edward di kepalanya.