"Saya tidak ingin tau, pokonya projects ini harus kita selesaikan dalam waktu yang sudah ditentukan. Dan kamu Kayana. Saya mau kamu awasi projects pembangunan hotel itu selagi saya mengambil cuti pernikahan!" perintah Dave, CEO perusahaan kontraktor di tempat Kayana bekerja.
Kali ini Kayana mendapatkan tanggung jawab yang sangat besar karena projects pembangunan hotel klien kali ini harus Kayana yang mengurusnya karena sang boss mengambil cuti, dan ini menambah beban pekerjaan Kayana sebagai sekretaris.
"Baik pak. Saya akan pastikan jika semua akan berjalan lancar lagi pula pembangunan ini hampir selesai." ucap Kayana.
"Iya saya tahu, maka dari itu saya mengambil cuti pernikahan saya mulai besok. Dan saya percayakan ini semua sama kamu dan juga Reno."
Setelah rapat dadakan itu selesai Kayana pun segera bersiap untuk pulang. Hari sudah sangat larut tinggal Kayana wanitanya sendiri.
"Kayana apa kamu ingin pulang bersama," tawar Reno asisten pribadi Dave. Reno adalah partner yang akan mengawasi projects yang telah di serahkan oleh Dave kepada Kayana bersama Reno.
"Tidak, terimakasih aku membawa mobil," tolak Kayana.
"Ayolah ini sudah sangat malam tidak baik jika wanita pulang sendiri."
"Sekali lagi terimakasih, tapi aku membawa mobil. Lagipula aku terbiasa pulang sendiri dan tidak terjadi apapun," ucap Kayana kemudian melenggang pergi meninggalkan Reno di lobi kantor.
Saat Kayana pergi, Reno hanya bisa menatapnya dari jauh. Kayana adalah wanita yang sangat sulit di dekati entah kenapa. Setiap cowok yang mendekatinya pasti tidak akan bertahan lama. Mungkin karena sifat Kayana itu yang cuek terhadap lawan jenis sehingga mereka memilih mundur.
Dan setelah melihat Kayana pergi dengan mobilnya. Reno pun memilih untuk pulang. Meskipun ada rasa khawatir dalam dirinya kepada Kayana. Reno memilih untuk menahan untuk tidak memaksa Kayana pulang bersamanya.
***
Di perjalanan, saat ini Kayana tengah kalut dengan permintaan sang ayah yang ingin dirinya segera menikah. Tapi bagaimana ia bisa menikah jika calon pun ia tak punya. Di tambah projects pembangunan hotel ini menjadi beban pikiran.
"Ahh aku butuh refreshing. Apa aku klub aja ya," gumam Kayana kemudian ia pun mengambil jalan yang berbeda yaitu ke klub malam.
Klub malam bukanlah tempat biasa Kayana menghabiskan waktu atau tempat ia menjernihkan otaknya. Namun, kali ini Kayana benar-benar kalut. Walaupun ia tampak tidak peduli dengan permintaan ayahnya. Tapi Kayana tetaplah seorang anak yang memikirkan kebahagiaan orang tuanya. Walaupun terkadang ia egois.
Namun, saat di perjalanan menuju klub malam tiba-tiba saja mobil Kayana tiba-tiba berhenti. kayana yang merasakan hal itu mencoba memeriksa apa yang terjadi.
"Sial!" Umpat Kayana ketika mobilnya berhenti di tempat yang sepi. Walaupun begitu Kayana tetap turun dan memeriksa mobilnya. Kayana mengecek mulai dari ban mobil hingga kapnya.
"Mogok,"
Braakk!
Tiba-tiba saja segerombolan pria mencoba menghampiri Kayana.
"Hay manis, kenapa malam-malam begini sendirian mau ditemenin gak?" kata pria jalanan itu. Kayana sudah hapal dengan wajah -wajah orang yang suka seenaknya itu.
"Jangan ganggu," ucap Kayana kemudian mengambil uang yang ada di dalam dompetnya. Semuanya ia keluarkan dan ia berikan kepada preman itu.
"Ini ambil jangan banyak bicara dan banyak tingkah." Kayana pun melempar uang tersebut.
"Hei nona apa cara ini kamu bersikap," ujar preman jalanan yang berjumlah tiga orang itu.
"Saya akan bersikap bagaimana itu tergantung dengan orang yang saya temui dan saya sangat hapal orang-orang tidak berguna seperti kalian itu bagaimana. Jadi sekarang kalian pergi dan jangan ganggu saya, dan silahkan. Ambil uang itu," kata Kayana menatap para preman itu dengan tajam.
Para preman itu pun mengambil uang yang Kayana lemparkan.
"Waw lumayan untuk mencicipi tubuh satu tubuh gadis. Tapi sepertinya anda lebih menarik." Seringai preman itu menatap Kayana dengan tatapan melecehkan.
Kayana yang paham dengan kondisinya yang tidak bagus pun mulai waspada..
"Jangan mendekat!" teriak Kayana ketika salah satu preman itu mulai mendekati dirinya.
Jangankan di sentuh, di tatap seperti makanan oleh preman itu Kayana sudah amat merasa jijik.
"Ouh ayolah kita tidak cukup jika harus membayar satu wanita sedangkan kami bertiga. Jadi anda bisa menjadi salah satu wanita untuk kami jelajahi.
"Brengsek!" umpat Kayana. Kemudian ia pun segera lari, karena tidak mungkin ia akan diam terus. tapi dengan keadaanya itu ia tidak bisa lari dengan cepat. Heels yang ia gunakan dan rok span itu menyusahkan langkahnya. Satu -satunya yang Kayana lakukan adalah berteriak minta tolong. Walaupun keadaannya sepi Kayana berharap ada orang yang mendengarnya.
"Woy jangan lari loh," Kayana pun tetap berlari meskipun hasilnya akan sia-sia dan saat ini para preman itu mengejarnya.
"Astaga kemana aku harus lari dan bagaimana aku harus mencari pertolongan," gumam Kayana sesekali melirik ke belakang.
Dengan nafas yang memburu, Kayana sudah mulai merasa lelah. Sedangkan para preman itu masih mengejarnya dan beberapa langkah lagi para preman itu akan sampai dan menangkap dirinya. Kayana yang melihat itu segera melanjutkan larinya. Namun, sayang, sepatu heels yang Kayana gunakan membuat larinya lambat dan.
Hap
Tangan Kayana pun sudah berada di genggaman salah satu preman.
"Lepasin! Lepasin tangan saya dari tangan kotor kalian!" Sentak Kayana.
"Ouh ayolah manis, jangan seperti itu. Dari pada kamu capek lari-lari lebih baik capek bermain sama kita iya gak. Hahaha," para preman itu pun tertawa.
"TOLONGGGG! TOLONGGGG! TOLONGGG!" Teriak Kayana sekencangnya.
"Percuma sayang, sekencang apapun kamu berteriak tidak akan ada orang yang mendengarnya karena daerah sini jauh dari pemukiman warga dan satu lagi kita akan bersenang-senang. Haha," preman itu pun mencolek dagu Kayana.
Kayana yang merasa di perlakukan tidak baik mencoba menghindar itu semua. Tapi karena kedua tangannya sudah di cekal Kayana tidak bisa menepis tangan kurang ajar itu menyentuh wajahnya.
"TOLONGGGG! TOLONGG! TOLONGGG!" teriak Kayana kembali. Kayana tidak akan berhenti berteriak meminta pertolongan, ia berjanji dalam hatinya siapapun yang menolongnya malam ini ia akan memenuhi keinginan sang ayah, bila perlu jika yang menolongnya adalah seorang pria ia akan menikah dengan pria tersebut.
"DIAM!" bentak salah satu preman tersebut.
Kemudian preman yang paling besar tubuhnya di antara mereka menyeret Kayana ke kebun yang berbeda di pinggir jalan tersebut secara paksa dan membekap mulut Kayana agar tidak berteriak.
Perasaan Kayana mulai tidak enak. Jantung Kayana tidak berhenti berdetak keras.
Ya ampun siapapun tolong aku. Aku berjanji jika ada yang menolongnya kali ini ia akan membantu orang tersebut. Batin Kayana ketakutan bahkan air mata Kayana sudah keluar dari tempatnya membentuk sebuah aliran sungai.
"Ah sepertinya tempat ini cocok." Kata preman tersebut. Kedua preman yang memegang tubuh Kayana pun mengangguk dan menyeringai senang.
"Ok siapa dulu nih?" tanya permen yang memegang tangan Kayana di sebelah kiri.
"Gue dulu," kata preman yang berbadan paling besar.
Kayana yang sudah sangat lemas tak bertenaga pun mulai memejamkan matanya ia tidak siap jika kehidupan sempurnanya akan hancur malam ini.
Namun, tiba-tiba saja ada suara pukulan yang begitu keras dan suara orang meringis kesakitan.
"Ahh brengsek!" umpat preman yang berbadan paling besar.
Sedangkan preman yang memegang kedua tangan Kayana pun mulai melepaskan cekalannya dan mulai membantu temannya yang saat ini sedang di pukuli oleh seorang pemuda yang sama seperti mereka, kurus dan berpenampilan berantakan.
"Eh siapa lo main ganggu kita. Kalau lo mau tunggu giliran," Kata preman yang berbadan kurus berkulit hitam dengan warna rambut hijau berkalung rantai.
Sedangkan pria yang menolong Kayana itu tidak banyak bicara langsung saja menyerang kedua preman yang berwarna rambut hijau dan biru itu dengan dua pukulan masing-masing, tanpa menunggu persiapan kedua preman itu.
Berbeda dengan Kayana yang melihat itu bukan merasa tenang. Akan tetapi makin bertambah ketakutannya karena melihat orang yang telah menolongnya itu sama. Karena dari penampilannya yang memakai celana lepis robek-robek serta kaus yang sangat dekil. Kayana mengira jika orang yang saat ini tengah memukuli ke tiga preman itu adalah sama-sama preman tapi berbeda kelompok.
Ingin rasanya Kayana berlari ke jalan namun, kakinya terasa lemas dan rasanya sulit untuk di gerakan lagipula jika berlari pun hasilnya akan sama ia akan tertangkap.
Setelah pria jangkung namun kurus berpenampilan preman itu selesai menghajar habis ke-tiga preman itu. Ia pun mulai menghampiri Kayana yang saat ini sudah sangat kacau. Mata yang sebab, baju yang sudah sangat acak-acakan karena kancing kemeja sudah terlepas dua bagian paling atas memperlihatkan teng-top warna hitamnya. Saat pria yang Kayana kira termasuk permen itu mendekat Kayana pun mulai berlari sekencang-kencangnya namun sayang Kayana malah terjatuh karena menginjak tanah yang berlubang.
"Jangan mendekat! Jangan sentuh saya. Saya mohon apapun yang kamu mau silahkan ambil tapi jangan sentuh saya." Kayana pun melepaskan jam tangan mahalnya serta cincin yang di pakainya.
"Ini silahkan kamu ambil, tapi biarkan saya pergi," mohon Kayana.
Sedangkan pria yang melihat itu malah membuka jaktet lepisnya lalu memakaikannya kepada tubuh Kayana.
kayana yang melihat sikap pria yang ia kira preman itu pun menoleh dan menatap pria tersebut.
"Saya tidak meminta barang yang kamu punya. Saya ikhlas hanya ingin membantu mari," pria jangkung itu pun mengulurkan tangannya.
"Ini! silahkan kamu ambil. Tapi biarkan saya pergi," mohon Kayana.
Sedangkan pria itu malah menggubris ucapan Kayana. Malah pria membuka jaktet lepisnya lalu memakaikannya kepada tubuh Kayana. Yang terbuka.
Kayana yang melihat sikap pria, yang ia kira preman itu pun menoleh dan menatap pria tersebut.
"Saya tidak meminta barang yang kamu punya. Saya ikhlas, hanya ingin membantu mari." pria jangkung itu pun mengulurkan tangannya. Bukan menerima jam serta perhiasan Kayana akan tetapi untuk membantu Kayana bangun.
Sedangkan Kayana yang melihat uluran tangan pria itu pun menerimanya dengan ragu. Sesekali Kayana menatap pria yang telah menolongnya.
"Te-terima ka-sih," ucap Kayana dengan gugup.
Kemudian pria jangkung itu pun memapah Kayana untuk keluar dari kebun tersebut. Sedangkan para preman yang mencoba melecehkan Kayana sudah terkapar tidak berdaya, mereka tidak berani membalas pria jangkung yang telah menolong mangsa mereka.
Sesampainya di jalan, tempat dimana mobil Kayana berada. Kayana pun segera masuk ke dalam karena takut jika pria yang menolongnya itu hanya pura-pura. Namun, ketika orang yang menolongnya itu pergi begitu saja Kayana pun langsung memanggilnya. Karena Kayana tidak ingin punya hutang Budi.
Setelah memastikan wanita yang di tolongnya masuk ke dalam mobilnya. Pria itu pun melenggang pergi tanpa menjawab ucapan terimakasih Kayana.
"Hei tunggu!" Panggil Kayana. Dengan posisi masih di dalam mobil. Dia membuka kaca jendelanya agar pria itu mendengar panggilannya.
Sedangkan pria jangkung itu baru saja melenggangkan beberapa langkah harus terhenti karena panggilan wanita yang di tolongnya
Sementara Kayana ia memilih untuk turun dari mobilnya.
"Tunggu!" Panggil Kayana kembali.
"Ini ambilah." Kayana pun menyerahkan kembali jam tangan beserta cincinnya.
"Apa?" tanya pria jangkung itu tidak paham dengan maksud orang yang sudah ia tolong.
"Ini ambillah, sebagai ucapan terima kasih saya karena telah di tolong. Saya tidak punya uang cash untuk membayarmu jadi kau ambilah ini," pria jangkung itu hanya menatap Kayana dengan intens.
"Tidak perlu," ucapnya kemudian pergi meninggalkan Kayana dengan cepat.
"Hei!" Kayana pun mengikuti langkah pria jangkung yang telah menolongnya itu.
"Jika kau tidak ingin mengambil jam serta perhiasan saya maka kau bisa menyebutkan no. Rekeningmu biar saya bisa mengirim uangnya langsung."
Namun, perkataan Kayana dihiraukan oleh pria itu.
"Baiklah jika kau tidak punya no. Rekening kau bisa ambil ini. Ini adalah kartu namaku Jika kau butuh bantuan atau sesuatu kau bisa menemui saya atau menelepon." Kayana yang merasa sudah terlalu jauh mengikuti pria tersebut pun dengan paksa memberikan kartu namanya. Dan setelah itu, Kayana pun kembali ke tempat dimana mobilnya berada.
Sedangkan pria itu hanya menatap punggung kecil itu menjauh darinya meninggalkan jalanan itu. Dengan mobil yang baru.
"Ah sepertinya aku sudah sangat terlambat," ucap pria jangkung itu. Kemudian segera berlari ke arah yang berlawanan.
***
"Maaf kakak terlambat," ucap pria itu.
"Kak Dirza!" teriak anak berusia 10 tahun. Dia berlari menghampiri pria yang di panggil kak Dirza itu kemudian dipeluknya kaki panjang itu
"Kakak dari mana saja? kita udah nungguin kakak dari tadi tau," ucap gadis remaja itu.
"Maaf tadi ada masalah saat di perjalanan menuju pulang," ucapnya kemudian mengusap kepala adik bungsunya yang sedang memeluk kakinya itu.
"Kakak. Apa kakak membawa sesuatu?" tanya bocah berusia 10 tahun itu.
Sedangkan pria yang bernama Dirza itu hanya bisa menatap adik bungsunya sedih karena tidak bisa membawa sesuatu untuk mengganjal perut mereka malam ini.
"Maaf ya kakak gak bawa apa-apa malam ini,"
Sedangkan anak gadis remaja yang mendengar itu terduduk lesu
Hingga suara perut lapar pun terdengar dan hal itu membuat pria yang bernama Dirza yang mendengar itu. hanya bisa mengatakan "Maaf."
"Tidak apa kak, kita bisa menahannya sampai besok pagi," ucap gadis remaja itu.
"Maaf ya malam ini kita tahan dulu. Kakak janji besok kita akan makan banyak dan juga enak," hibur Dirza.
Adik bungsu Dirza yang mendengar itu tersenyum bahagia."Asyikk!" Girangnya.
Adik bungsu Dirza itu sudah hapal jika kakaknya sudah berjanji artinya itu akan terjadi.
"Kak, Firda gak mau kakak capek atau maksa untuk memberikan kita makanan yang enak. Cukup roti saja itu udah cukup kok," Dirza yang mendengar penuturan adiknya yang perempuan pun merasakan sesak dalam dadanya. Karena ia tidak bisa memberikan makanan yang bergizi untuk adik-adikanya beserta ibunya yang saat ini terbaring sakit. Bahkan Dirza tidak mampu membawa ibunya ke klinik sekali pun untuk berobat.
"Tidak apa Firda. Besok kakak akan berusaha lebih keras lagi untuk kuli di pasar, kakak yakin besok kakak akan mendapatkan uang lebih, jadi kita membeli 3 bungkus nasi Padang untuk kita dan obat untuk ibu."
"Maaf ya kak, Firda belum bisa bantu kakak," sesal Firda. Karena tidak bisa membantu kakaknya itu.
"Hei kenapa bilang begitu. Kamu sudah sangat membantu kakak malah dengan menjaga ibu dan adik di rumah itu sudah sangat membantu. Jadi jangan berpikiran Seperti itu."
"Ya sudah sekarang kalian tidur gih," titah Dirza kepada kedua adiknya.
Kedua adik Dirza pun mengangguk lalu tidur di alas lantai tanpa kasur, hanya selembar kain yang menjadi alas mereka tidur.
Dirza bukanlah pria yang bekerja dengan penghasilan besa. Ia hanyalah seorang kuli panggul yang penghasilannya tidak menentu di pasar Dan di mana Dirza tinggal sekarang adalah hanya di kontrakan kecil yang sangat sempit hanya satu petak. Dirza tidak mampu menyewa kontrakan yang lebih besar.
Dirza pun menghela nafasnya. Ia pun keluar dari kontrakan kecil itu, namun sebelum itu ia menghampiri ibunya yang sedang sakit keras. Ibunya saat ini sedang berbaring lemah di kasur lantai. Dirza pun mengecek kondisi ibunya terlebih dahulu sebelum keluar untuk pergi ke pasar, ia yakin jika sekarang barang-barang sudah pada turun di pasar. Jika ia terlambat maka ia tidak akan kebagian dengan kuli yang lain.
"Bu do'akn Dirza ya semoga hari ini Dirza mendapatkan uang lebih buat ibu berobat." Setelah berpamitan Dirza pun pergi ke pasar dengan jalan kaki.
Namun, saat di tengah perjalanan Dirza mendengar seseorang yang berteriak meminta tolong. Dan suara itu semakin jelas ketika Dirza menghampiri sumber suara tersebut.
Dan ketika Dirza sampai ia melihat ada seorang wanita yang sedang ingin di lecehkan. Dirza yang merasa memiliki adik perempuan pun menolong gadis itu yang tidak lain adalah Kayana.
Dirza pun memberikan pukulan kepada para preman itu sebelum lawannya sadar dan memberi perlawanan. Dan ketika semua lawannya tidak berdaya Dirza pun segera membawa wanita yang di tolongnya itu ke jalan raya walaupun awalnya wanita itu ragu menerima pertolongannya. Tapi, kemudian wanita itu menerima ajakannya setelah ia berlari tapi terjatuh.
Dan setelah memastikan wanita itu pulang dengan mobilnya, Dirza pun segera melanjutkan perjalanannya untuk pergi ke pasar. Dan menyimpan kartu nama wanita itu di kantong celana leceknya.
Sesampainya di pasar orang-orang pun sudah ramai membawa barang-barang yang datang, Dirza yang melihat itu pun segera ikut bergabung sebelum kehabisan barang dan tidak mendapatkan upah.
***
Sesampainya di rumah, hari sudah sangat larut bahkan Kayana datang pada pukul 01.07 dini hari.
Ayah Kayana yang saat itu kebetulan bangun dan mendengar suara pintu terbuka pun langsung berjalan ke arah pintu utama untuk melihat siapa yang baru saja pulang. Dengan langkah pelan, Rendra pun segera menghampirinya ketika yang datang adalah Kayana putri sulungnya.
"Astaghfirullah Al adzim," kaget Rendra ketika telah sampai dihadapan Kayana dan melihat penampilan anaknya yang begitu berantakan.
"Yana.... kamu kenapa nak?" tanya Rendra.
"Aku gak papa yah, " jawab Kayana.
"Tapi_" seketika perkataan Rendra terpotong.
"Udah yah jangan banyak nanya, aku capek. Besok aku harus berangkat pagi." Kemudian Kayana pun meninggalkan ayahnya yang begitu kahawtir dengan kondisinya.
Sedangkan sesampainya Kayana di kamar ia langsung bergegas membersihkan dirinya. Kayana tidak ingin pusing memikirkan insiden yang menimpanya hari ini. Mungkin dalam beberapa hari ia akan yakin bisa melupakannya. Walaupun sekelebat bayangan pira yang telah menolongnya itu membuat dirinya ragu. Ragu apa dirinya akan melupakannya secepat itu atau tidak seperti yang lainnya.
"Huh, sepertinya besok aku harus segera mencari seseorang yang telah menolongku. Aku tidak yakin jika pria itu akan menghubungiku," monolog Kayana.
Setelah selesai membersihkan diri. Kayana melihat jaket orang yang telah menolongnya jaket itu terlihat sangat dekil sekali. Dalam pikirannya ia tak habis pikir, bagaimana bisa ia memakai jaket itu selama di perjalanan.
Kemudian ia pun segera mengambil jaket itu kemudian ia masukkan ke dalam keranjang cucian untuk ia cuci besok pagi.