"Apa?" tanya Nikolas yang tidak menyangka Laura akan berinisiatif menyebutkan cerai. Tidak tahu permainan apa yang dimainkan Laura setelah membiusnya semalam, dia bertanya, "Apa yang kamu rencanakan kali ini?"
Laura menatap Nikolas dengan tatapan dingin. Meskipun tubuhnya lebih kecil dari Nikolas, dia memancarkan aura yang kuat sehingga hampir mengintimidasi pria itu.
"Bukankah kamu selalu ingin menceraikanku? Kakekmu memaksamu untuk menikahiku. Karena beliau sudah meninggal, tidak ada lagi yang menghentikanmu untuk meninggalkanku demi bersama Elisabeth. Apa kamu tidak ingin menikahinya?" tanya Laura blak-blakkan dan langsung ke intinya.
Wajah Nikolas berkerut dan dia menatapnya dalam-dalam. Mungkinkah Laura benar-benar berbaik hati membiarkannya bersama wanita yang sangat dia cintai? Melihat keseriusan di mata Laura, sepertinya wanita itu mengatakan yang sebenarnya, jadi dia mendengus dan berkata dengan nada dingin, "Jangan menyesalinya."
Laura mencibir dengan dingin. Dia sudah membuat keputusan dan tidak pernah merasa semantap ini. "Satu hal yang kuharap tidak pernah kulakukan adalah menikah denganmu," ucapnya sambil melangkah keluar ruangan dengan mantap.
Nikolas menatap punggung Laura untuk waktu yang lama saat wanita itu beranjak pergi. Dia belum pernah melihat Laura bertindak setegas ini sebelumnya. Wanita lemah lembut dan penurut yang dia kenal telah berubah menjadi tangguh dan tegas, sehingga dia bertanya-tanya apa yang telah berubah.
Mungkinkah Laura tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi semalam? Akan tetapi, jika bukan dia, lalu siapa?
Pagi ini, keduanya pergi ke gedung pengadilan.
Laura mengenakan pakaian biasa dan tidak menarik, sementara Nikolas mengenakan setelan hitam Prada yang dipesan khusus. Perbedaan penampilan mereka menarik perhatian banyak orang di sekitar, tetapi Laura tidak menghiraukannya. Dia fokus menyelesaikan perceraian mereka secepat mungkin.
Akhirnya, hanya dalam sepuluh menit, pernikahan yang membawa begitu banyak kesedihan itu bubar.
Memandang surat cerai yang berada di tangannya, Laura termenung sejenak.
"Sudah beres. Selamat tinggal," ucap Nikolas dengan dingin dan beranjak pergi.
Laura menyaksikan Nikolas menghilang ke kejauhan tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau meliriknya lagi. Pria itu bahkan tidak berusaha menyelamatkan pernikahan mereka seolah-olah tidak pernah menjadi suaminya sejak awal.
"Dia membuat hal ini jauh lebih mudah bagiku," ucap Laura yang kemudian tertawa pahit. Sikap Nikolas yang dingin membuatnya lebih mudah untuk melupakan. Sekarang, mereka tidak lebih dari orang asing yang ditakdirkan untuk menjalani kehidupan yang terpisah.
Laura menggelengkan kepala untuk menjernihkan pikiran, lalu melangkah maju. Tiba-tiba, ada sebuah mobil Bentley berwarna hitam berhenti di depannya.
Begitu pintu mobil terbuka, seorang pria tua berambut abu-abu keluar dari mobil dan berjalan menghampirinya dengan ditemani oleh empat pengawal bertubuh kekar.
Mengenali siapa pria itu, Laura menegakkan punggung dengan aura bangsawan dan bergumam pada diri sendiri, "Sepertinya ayahku selalu mengetahui informasi terbaru. Aku baru saja bercerai dan beliau sudah mengirimmu ke sini."
Pria tua itu, Ganang Darusman, tersenyum manis, lalu membungkuk di hadapan Laura dan berkata, "Nona, hari ini adalah hari terakhir dari perjanjian tiga tahun Anda dengan ayah Anda."
Ganang mengambil waktu sejenak untuk mengamati surat cerai yang dipegang Laura di tangan, lalu berkata dengan berpura-pura menyesal, "Sepertinya Anda gagal memenangkan hatinya. Jika demikian, Anda harus pulang ke Kota Aste untuk mewarisi bisnis keluarga seperti yang dijanjikan."
Dengan kening berkerut, Laura tetap diam untuk waktu yang lama.
Sesuatu yang mengerikan terjadi pada Laura ketika baru berusia lima belas tahun sehingga dia kehilangan ingatan dan dikirim ke panti asuhan di Kota Pode. Kemudian, dia dibawa pulang ke rumah Keluarga Riyadi oleh Legar Riyadi setelah menyelamatkan pria itu.
Begitu Laura sudah dewasa, Legar memerintahkan cucunya, Nikolas, untuk menikahi wanita itu.
Pada malam pernikahannya dengan Nikolas, Laura baru mendapatkan kembali ingatannya. Hanya saja, pada saat itu, dia telah memilih Nikolas daripada ayahnya sendiri dan membuat kesepakatan untuk pulang ke rumah setelah tiga tahun jika dia gagal membuat suaminya jatuh cinta padanya. Setelah dipikir-pikir, ternyata dia telah membuang tiga tahun hidupnya untuk seorang pria yang tidak mencintainya.
"Pak Adika sangat merindukan Anda. Tolong pulanglah bersama saya. Jangan terus-menerus membuat ayah Anda marah. Dia ...."
Dengan raut wajah yang semakin dingin saat mendengar Ganang mengungkit masa lalu, Laura memotong, "Ganang, beliau memiliki wanita itu di sisinya. Keluarga Sandira tidak membutuhkanku. Ada beberapa hal penting yang harus kutangani di sini, jadi aku tidak akan pulang bersamamu."
Selama tiga tahun terakhir, Laura diam-diam menyelidiki dan berusaha mengungkap siapa yang menyebabkannya kehilangan ingatan dan bagaimana dia bisa berada di Pode. Dari hasil penyelidikannya, dia menyimpulkan bahwa orang tersebut kemungkinan besar bekerja di Grup Sandira. Akan tetapi, dia masih tidak tahu siapa orang tersebut. Dengan musuh yang bersembunyi di balik bayang-bayang, terlalu berisiko baginya untuk pulang ke Keluarga Sandira sekarang.
Terlebih lagi, Laura tidak ingin pulang dan bertemu dengan ibu tirinya.
Ganang menghela napas berat dan berkata, "Pak Adika benar. Anda masih memendam kebencian terhadapnya, jadi tidak akan mudah bagi Anda untuk pulang."
Setelah itu, Ganang mengeluarkan kartu bank hitam emas dari dompetnya dan menyerahkannya pada Laura sambil berkata dengan hormat, "Ini adalah kartu ATM Anda. Terdapat uang sebesar enam puluh triliun di dalamnya."
Kemudian, Ganang melambaikan tangan pada para pengawal yang berdiri di belakangnya dan mereka segera menyerahkan kontrak baru pada Laura.
"Pak Adika bilang Anda boleh tetap di sini, tapi ada syaratnya. Anda harus mengelola Sudut International, salah satu cabang Grup Sandira di Pode dan menghasilkan laba lima persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Dia juga mengatakan bahwa Anda bisa menolaknya, tapi dia tidak akan menjamin keselamatan Grup Riyadi," lapor Ganang dengan sopan.
Laura menggertakkan giginya ketika mendengar ini. Dia telah berjanji pada Legar ketika pria itu terbaring sekarat bahwa dia akan melindungi Grup Riyadi, jadi dia tidak bisa membiarkan apa pun terjadi.
Ayahnya tahu apa kelemahannya dan menggunakan itu sebagai senjata andalan untuk memanipulasinya. Alih-alih memaksanya untuk pulang, pria itu menuntut agar dirinya mengambil alih Sudut International. Apa yang sebenarnya direncanakannya?
"Oke, aku akan melakukannya," ucap Laura dengan enggan.
Dia mengambil pena dan menuliskan namanya di kontrak. Kemudian dia mengambil kartu ATM yang berisi enam puluh triliun rupiah di dalamnya.
Dia terkekeh sambil menatap kartu itu.
Beberapa menit yang lalu, dia sangat miskin sampai uang seratus ribu saja tidak ada di dompetnya. Dia bahkan tidak mampu naik taksi untuk pulang. Akan tetapi, sekarang ....
Jadi, ini yang disebut mendadak kaya?
Karena kesepakatannya dengan sang ayah, rekening bank Laura dibekukan dan dia harus menyembunyikan identitas aslinya demi menghindari pelanggaran kesepakatan.
Selama ini, Keluarga Riyadi selalu memandang rendah Laura. Mereka tidak pernah menganggapnya serius dan hanya ingin berhubungan dengan orang-orang kaya.
Bayangkan betapa terkejutnya mereka ketika mengetahui bahwa dia sebenarnya adalah putri bungsu Keluarga Sandira, keluarga terkaya di seluruh negeri dengan kekayaan triliunan rupiah di rekening banknya.
Tiba-tiba, pikiran Laura melesat ke momen ketika sahabatnya di panti asuhan sedang sekarat. Laura berlutut sambil memohon untuk meminjam uang pada ibu Nikolas, Aprillia.
Wanita itu dengan sombong memamerkan kartu bank platinumnya, tetapi tidak memberikan apa pun pada Laura.
"Tebak berapa banyak uang yang kumiliki di kartu ini? Dua miliar! Apa kamu pernah melihat uang sebanyak itu seumur hidupmu? Tapi, aku tidak akan meminjamkan sepeser pun padamu. Lebih baik aku membeli makanan anjing dengan semua uang itu! Bagiku, teman miskinmu itu tidak sebanding dengan seekor anjing peliharaan."
Laura kembali menggertakkan gigi ketika perasaan terhina dan direndahkan muncul di hatinya.
Jika diberi kesempatan, dia akan memberi pelajaran pada ibu dan adik perempuan Nikolas. Dia ingin membalas dendam untuk penghinaan yang diterima sahabatnya dan dirinya.
Ketika dia masih tenggelam dalam pikirannya, seseorang tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dengan kasar dari belakang.
Laura berbalik dan melihat bahwa orang yang melakukan itu adalah Aprillia.
Aprillia mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan menatap Laura dengan ekspresi jijik. Di belakangnya, berdiri banyak wanita kaya yang memegang tas-tas belanja di tangan mereka. Tampaknya mereka baru saja pergi berbelanja bersama.
Laura dengan santai memasukkan kartu ATM ke dalam tasnya, lalu bertanya dengan dingin, "Kamu ada urusan apa?"
Aprillia tercengang melihat sikap baru Laura. Dia tidak menyangka bahwa suatu hari Laura bisa memperlakukannya dengan acuh tak acuh seperti ini. Karena terbiasa meremehkan dan mengintimidasi Laura, Aprillia tidak bisa menerima perlakuan lancangnya begitu saja.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk keluar? Apa kamu sudah selesai dengan semua tugas rumah tangga? Kamu sudah menyiapkan makan siang? Aku akan mengulitimu hidup-hidup jika kamu berani membuat putraku kelaparan. Baju macam apa yang kamu kenakan itu? Kamu benar-benar aib bagi keluarga kami! Kamu telah menikah dengan putraku selama bertahun-tahun, tapi kamu masih saja berpakaian seperti orang miskin. Dasar tidak tahu malu! Keluar dari sini!"
"Aib?" Laura terkekeh mendengar perkataan Aprillia. "Setelah aku menikah dengan keluargamu, kamu memecat semua pelayan dan memaksaku berhenti dari pekerjaanku. Kemudian kamu membuatku mengurus putramu, seperti seorang pelayan. Aku melakukan semua yang kamu perintahkan, tapi apa kamu pernah puas? Tidak. Kamu bahkan menuduhku mencuri perhiasanmu dan menghukumku dengan membuatku berlutut di tengah hujan lebat. Apa kamu ingat itu?"
Para wanita kaya yang ada di belakang Aprillia menunjukkan ekspresi tidak nyaman. Mereka tahu bahwa Aprillia selalu bersikap jahat pada Laura, tetapi mereka benar-benar tidak menyangka bahwa dia akan melakukan hal sekejam itu untuk menyiksanya.
Ketika ketegangan di udara semakin terasa, wanita-wanita itu mulai mengungkapkan berbagai alasan untuk pergi dari sana.
"Kamu ... omong kosong apa yang kamu bicarakan?"
Aprillia mencoba menyela, tetapi terpana oleh kata-kata Laura yang cepat.
"Jangan pura-pura bodoh. Kamu tahu persis apa yang kubicarakan." Laura mengangkat dagunya dan melanjutkan, "Aku sudah muak dengan semua omong kosongmu. Jika kamu berani membuat masalah denganku lagi, aku pastikan kamu akan membayar semua perbuatanmu di masa lalu!"