Bab 2

Leana mematung mendengar pernyataan dari Elvano, apakah dirinya sebegitu tak layak untuk dicintai?

“Saya paham” ucap perempuan itu menunduk, membuat Elvano mengeluarkan semriknya. Ia pun menegakkan kembali tubuhnya, seraya melangkah ke arah pintu utama. Tanpa repot-repot berpamitan kepada sang istri.

Sedangkan Leana hanya terdiam, ia menatap punggung Elvano yang sudah menjauh. Katakanlah jika Leana terlalu percaya diri mengatakan hal seperti itu kepada Elvano, tetapi tidak ada yang salah bukan? Takdir tidak ada yang tahu, bisa jadi orang yang kamu anggap tak berart saat ini, akan menjadi pusat duniamu suatu hari nanti.

Leana mengalihkan atensinya pada jam dinding di sudut ruangan, yang menunjukkan pukul satu dini hari. Leana tak tahu jam kerja seorang dokter, tetapi apakah semua dokter harus berangkat kerja dini hari seperti ini?

“Huftt….” Leana menghembuskan nafas pelan, ia yakin hari-hari kedepannya akan lebih berat lagi.

"Buk Leana"

Leana terlonjak kaget ketika mendengar suara dari belakang punggungnya.

"Mohon maaf jika saya mengagetkan Ibu" ucap wanita paruh baya itu dengan nada tak enak sembari membungkuk rendah.

"Eh, tidak apa-apa mbok, saya saja yang kurang fokus" Leana tersenyum lembut "Mbok Sumi kan ya? Mas Elvano sempat memberi tau saya"

"Benar Buk, Pak Elvano memang sering ada panggilan darurat dari rumah sakit. Dan beliau juga selalu melupakan jam makannya, alhasil pak Elvano makan tengah malam” mbok Sumi memejamkan mata ketika merasa terlalu banyak berbicara. Padahal Leana belum bertanya tentang hal itu.

Leana menyimak semua penjelasan dari wanita paruh baya di hadapannya ini, bukankah Elvano seorang dokter? Lantas, bagaimana bisa pria itu mempunyai jadwal makan yang brantakan?

"Duduk dulu mbok, temani saya makan ya. Sayang sekali jika makanan ini tidak habis"

Wanita paruh baya itu tertegun ketika mendapatkan sifat ramah dari majikannya ini, berbeda jauh dengan kekasih Elvano yang dulu.

"Tidak apa-apa mbok, duduk saja temani saya ya?" Leana mengulangi kembali kalimatnya kala melihat keraguan di mata mbok Sumi.

"Terima kasih, Buk" ucap mbok Sumi pada akhirnya.

Leana tersenyum lembut "Mbok sudah berapa lama kerja di sini?"

"Dari Pak Elvano umur lima tahun, kebetulan saya dulu merangkap bantu-bantu jagain juga" Leana mengangguk mengerti "Berarti mbok udah lama banget ya?"

Mbok sumi hanya tersenyum tipis sebagai respon "Tapi sifat mas Elvano memang dingin banget ya mbok? Terkadang saya merasa segan sama dia" Leana meringis, ia tak tahu lagi ingin bertanya kepada siapa tentang Elvano, bahkan tidak ada yang Leana kenal di keluarga pria itu.

"Pak Elvano sangat baik, bahkan kebaikannya sering dimanfaatkan oleh orang-orang terdekatnya" mbok Sumi menunduk setelah mengucapkan kalimat itu, terlihat jelas jika ia merasa bersalah.

"Maaf, sepertinya saya terlalu banyak berbicara. Apakah ada yang Buk Leana butuhkan lagi?"

Leana gelagapan "Ah-tidak mbok, ini udah selsai kok. Tolong sisanya dihangatkan saja ya" Leana berdehem canggung, karena sepertinya mbok Sumi terlihat tidak nyaman berbicara dengannya.

"Saya ke atas dulu kalau begitu, atau mau saya bantu bawa ke dapur mbok?" tanya Leana sebelum beranjak dari kursinya.

"Tidak usah Buk, biar saya saja" mbok Sumi tersenyum sopan, yang di balas senyuman manis oleh Leana

"Baik, saya ke atas dulu ya mbok. Selamat malam"

Leana bergegas menuju kamarnya. Meninggalkan mbok Sumi yang mentapnya dengan sendu. “Semoga Buk Leana bisa menjadi penawar untuk Pak Elvano”

Bab 3

"Selamat pagi Dokter Elvano" Elvano yang mendapat sapaan itu hanya mengangguk kecil seraya terus melangkah menuju ruangannya. Elvano tampak sekali sedang menahan kantuk, mengingat ia baru selsai mengoprasi pasien gagal jantung hingga pukul enam pagi.

"Dokter Elvano memang tiada duanya ya, beruntung sekali perempuan yang akan mendampinginya nanti" ujar salah satu perawat setelah melihat Elvano menjauh.

"Bukannya dia sudah mempunyai tunangan ya? Kalau tidak salah namnya Sasmita Alera, itu lho... Desainer muda yang cantikanya tiada tara itu" ucap perawat yang bername tag Sita.

"Hus-hus! Gosip aja kalian pagi-pagi. Nanti kalau di dengar sama Dokter Elvano bisa gawat. Ayo kembali bekerja!"

Di sisi lain, Elvano sudah sampai di ruangannya. Pria itu hanya melirik singkat ke arah perempuan yang sedang duduk di kursi kerjanya.

"Van, aku udah nunggu kamu dari tadi. Ternyata baru balik ya? Gimana oprasinya, lancar?"

"Lancar, kamu bisa menunggu di ruang tamu. Jangan langsung ke ruangan saya"

Bukannya tersinggung, justru perempuan itu tertawa lembut sembari melangkah menuju Elvano. "Formal banget Dokter yang satu ini, kita sahabatan dari orok lho. Coba dong ubah gaya biacara kamu" ucapnya manja seraya memegang lengan Elvano.

"Zelina" ucap Elvano dengan nada dingin, satu hal yang perlu dicatat, jika Elvano tidak suka disentuh.

"Oke-oke, aku cuma becanda. Sarapan yuk, aku udah panggil Zion juga. Ada resto baru di deket sini, kata temen aku sih enak" ucap Zelina sambil melepas tautan tangannya dari lengan pria tampan di hadapannya itu.

"Tidak, saya butuh istirahat"

Zelina mencebikkan bibir mungilnya, perempuan cantik itu terlihat sekali sedang kesal pada Elvano. "Kamu mah, masa iya cuma aku sama Zion aja. Kan nggak asik!"

"Kamu bisa keluar, saya mau istriahat dulu"

"Vano ih! Padahal aku masih kangen lho sama kamu. Emang kamu nggak kangen sama sahabat cantikmu ini?" tanya Zelina dengan nada menuntut.

Elvano menghembuskan nafas lelah "Zelina, kita ngobrol nanti ya. Saya benar-benar butuh istirahat"

Zelina yang sudah terbiasa dengan sifat Elvano hanya mendengus kesal "Oke! Tapi nanti aku main ke rumah kamu ya? Aku kangen sama sop buah buatan mbok Sumi"

"Hem"

"Yes! Udah lama banget soalnya nggak makan itu lagi. Nanti kita-" perkataan Zelina terhenti kala melihat Elvano yang sudah melangkah ke arah sofa di pojok ruangan. "Kalau begitu aku keluar dulu ya, babay Dokter Elvano!" serunya dengan memasang senyuman lebar.

"Elvano memang selalu menarik" kekeh perempuan itu sembari berlalu pergi.

Sedangkan di tempat lain, Leana selalu melihat jam dinding yang ada di ruang tamunya. Sudah pukul sembilan malam, dan Elvano juga belum kembali.

"Apa aku minta nomernya di mbok Sumi aja kali ya?" monolog Leana dengan kening berkerut. "Astaga! Tapikan ponselku masih di rumah Ibu!" Leana menepuk keningnya. Sedetik kemudian bola mata perempuan itu membulat kala mengingat ia belum memberitahukan pihak prusahaan mengenai libur dadakan yang ia lakukan.

"Ya Tuhan...Pak Sagara pasti ngamuk!" saking paniknya, Leana sampai tersandung karena ingin cepat-cepat sampai ke kamarnya. Ia memutuskan akan menuju rumah Ibunya sekarang juga, bisa gawat urusannya jika Leana menghilang tanpa kabar. Dan saat ini Leana hanya bisa berdoa semoga Sagara tak memecatnya.

Setelah mengambil tas beserta dompetnya, Leana pun dengan cepat menuju pintu utama.

Tetapi, tubuh Leana mematung kala pintu utama terbuka, dengan jelas ia melihat Elvano yang sedang berpelukan bersama seorang perempuan .

"Mas Elvano..."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED