Bab 2

Gyda menatap pria itu lekat-lekat menahan luapan amarah di dalam dirinya. Sejujurnya emosinya belum stabil gara-gara kejadian yang dia lihat di apartment lamanya. Sekarang dia malah disambut dengan ekspresi wajah menyebalkan yang di tunjukan sang pemilik akun postingan random, gesture tubuhnya apalagi. Mudah bagi Gyda untuk melihat betapa terang-terangannya pemuda itu memperlihatkan ketidaksukaan pada dia. Apakah sekali lagi dia bertemu dengan pria gay?

Padahal kalau mau sombong, Gyda ini sudah banyak sekali mendapatkan pujian dari para kaum adam yang straight. Gyda bahkan bertaruh tidak ada seorang pun yang bisa menolak pesonanya. Tapi sekarang pemuda di hadapannya seolah ingin di beri kesan berbeda, seolah dia istimewa. Jadi ketika dia mendapati situasi semacam ini rasanya Gyda seperti sedang di hina sekaligus menguak luka lama.

Tapi berhubung dia butuh tempat bernaung sekarang, Gyda mencoba mengesampingkan rasa kesal dan marahnya. Gadis itu akan pasang muka tebal dan karena dia sudah berkeputusan untuk tinggal di rumah pemuda bernama Delmar dihadapannya. Anggap saja ini adalah sebuah tindakan urgensi, lebih baik tinggal bersama pria yang jelas-jelas tidak menyukainya daripada harus tidur di jalanan. Gyda tentu tidak ingin di ingat sebagai gelandangan.

Karena itu berpegang dengan kehebatan aktingnya, Gyda kembali memasang senyuman termanis yang selalu berhasil dia andalkan dalam setiap situasi sulit. Dia berharap itu juga cukup untuk membuat pria itu bersedia memberi ruang dan mempersilahkan masuk, alih-alih hanya membuka sedikit pintu dengan penampilan carut marut.

Gyda sekali lagi menanyakan pertanyaan yang sama dengan kesabaran yang semakin terkikis hingga pada titik terdasar. “Aku di terima jadi teman sekamarmu kan, umm… Delmar?”

Pria dengan wajah mengantuk tersebut hanya menggosok pelipisnya malas bahkan dengan tidak sopannya menguap di depan muka Gyda layaknya pria barbar tidak beretika. “Aku butuh teman sekamar pria, bukan perempuan,” jawabnya tegas dan lugas. Bahkan Gyda yakin pria itu sengaja menekan suaranya pada kalimat pria sehingga Gyda bisa mendengar berapa besar penolakan yang pemuda itu miliki untuknya.

Apa sekarang pesonanya sebagai perempuan telah hilang? Atau jangan-jangan dia itu gay sama seperti mantanya? Karena Pria itu jelas-jelas sama sekali tidak terlihat tertarik meskipun Gyda telah mengeluarkan seluruh kharismanya? Holy shit! Ini jelas pertanda buruk. Ada apa dengan para pria di tahun dua ribu dua puluh tiga?!

“Tapi kau jelas-jelas tidak mengungkit soal itu di room chat, di postinganmu juga tidak tertulis begitu.” Gyda mulai kehilangan kesabarannya. Dia menunjuk ponselnya sendiri dan menunjukan bukti bahwa pria itu harus menerimanya karena ini jelas bukan salah Gyda. Menuntut pria itu untuk konsisten terhadap apa yang sudah dia katakan.

“Ya, memang.” Dia mengangguk setuju. “Itu memang kesalahanku, makanya akan aku perbaiki postingan itu nanti saat aku sudah tidak malas lagi,” imbuhnya sambil dengan enteng hendak menutup pintu di depan muka Gyda begitu saja. Membuat kedua mata si gadis kontan membulat.

“Hei, tunggu dulu!” Gyda bersyukur dia memiliki refleks yang bagus sehingga bisa menghentikan pintu sebelum benar-benar tertutup rapat. “Apa maksudnya itu? kau tidak mau menerimaku ?” Nada suara Gyda kini agak naik.

“Ya, aku tidak mau menerimamu,” balasnya ringan tanpa rasa bersalah. Tanpa mempertimbangkan seberapa banyak usaha dan keringat yang telah Gyda keluarkan dari tubuhnya hanya untuk mencapai tempat ini. Dasar pria brengsek!

“Tapi kau sudah setuju untuk membiarkanku tinggal!” Gyda bahkan tanpa sadar sampai menggertakan giginya menahan emosi. Pria bernama Delmar ini lebih menyebalkan dari pada mantan kekasihnya. Sangat tidak berertika dan buruk dalam menghadapi perempuan. “Aku sudah berjalan jauh kemari, berkeringat, dan lelah tapi kau bilang kau akan memperbaiki postinganmu dan mengusirku ? yang benar saja brat!”

“Aku tidak tahu darimana kau berasal, dan apa yang membuatmu sangat memaksa. Ini apartmentku aku yang punya keputusan untuk menerimamu atau tidak. Lagipula aku tidak suka sekamar dengan seorang perempuan,” balasnya lagi dengan nada suara yang tegas.

“Like hell, aku juga benci sekamar dengan seorang pria. Aku muak dengan kalian para jantan bajingan!”

“Kalau begitu kita sama,” sahut Delmar dengan santai kemudian kembali menarik pintunya lagi untuk dia tutup sepenuhnya. “Selamat tinggal, hati-hati di jalan.”

Sekali lagi Gyda menghentikan aksi yang hendak di tuntaskan oleh si pemuda. Membuat pria itu mendesah kencang di depan mukanya. “Tapi aku lebih benci tidak punya tempat tinggal.”

Dia melonggarkan pegangannya pada pintu, kemudian angkat bahu tanpa empati. “Itu urusanmu, tidak ada yang bisa aku lakukan untuk itu.”

“Oh ya? Sebenarnya ada.” Gyda tersenyum manis sebanyak yang dia bisa. Lalu ketika pria itu tidak fokus Gyda kemudian menghantamkan koper yang dia bawa pada Delmar tanpa ampun lalu mengambil kesempatan itu untuk merangsek masuk saat Delmar mengaduh kesakitan akibat ulahnya. “Permisi, aku masuk ya. Terima kasih sudah mengijinkanku tinggal disini,” ujar Gyda setelah dia masuk kemudian duduk santai di sofa milik Delmar dengan super santai seolah dia adalah pemilik rumah sebenarnya.

“Hei! Kau tidak diterima disini!”

***

“Kurasa sekarang kita harus mulai mengatur segalanya,” tutur gadis itu tanpa rasa bersalah setelah menyuruh Delmar menyajikan teh hangat untuknya.

Delmar merasa bahwa dia baru saja mengalami pembajakan, mengingat bagaimana cara gadis itu masuk ke rumahnya nyaris mirip dengan sebuah perampokan alih-alih memohon untuk tinggal. Delmar hanya bisa pasrah dan mendudukan dirinya dengan tenang di kursi sebrang si gadis, bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa dia malah jadi mengikuti alur yang di buat oleh orang asing ini dan membiarkan dia merajai semua hal di dalam kediamannya sendiri.

Apakah karena dia seorang perempuan? Ataukah karena kasihan? Ya, bisa jadi. Terlebih ketika dia sadar hari sudah gelap di luar. Meski malas meladeni perempuan tapi karena mereka terus berdebat sejak tadi. Maka keputusan untuk mengusirnya dan membiarkan dia berkeliaran diluar rasanya tidak etis. Salahkan didikan dari sang ayah yang memintanya untuk menghormati perempuan. Walaupun sebenarnya dia sempat hampir melupakan wejangan tersebut tadi. Namun sekarang haruskah dia menyesal karena memilih menjadi seorang lelaki gentleman? Ya, Delmar sangat menyesalinya.

“Pengaturan apa maksudmu?” Delmar berucap, melupakan fakta bahwa dirinya bisa mengetahui banyak hal. Tapi terkait perempuan ini dia tiba-tiba merasa bahwa otaknya tersendat begitu saja.

Si gadis tersenyum padanya lagi sebelum memberikan jawaban, “Untuk hidup bersama, tentu saja.”

“Hold it right there.” Delmar langsung mengangkat tangannya, dia jelas tidak menyukai gagasan yang baru saja di ujarkan si gadis padanya. Tidak. Kebaikannya bukan untuk di manfaatkan seperti ini. Delmar tidak bisa terima. “Aku memang setuju dan bilang padamu bahwa aku menerimamu sebagai teman sekamarku. Tapi bukan ini akhir yang aku harapkan.”

“Tapi intinya kau setuju aku tinggal bersamamu dan itu sudah cukup,” balas Gyda tidak ingin kalah.

“Kau masuk secara paksa, lalu aku bermurah hati setelahnya mempertimbangkan apa yang mungkin terjadi padamu di luar sana. Tapi setuju yang aku maksud adalah aku membiarkanmu tinggal disini hanya untuk menginap satu malam saja,” sergah Delmar.

Untuk saat ini dia betulan merasa kesal. Sudah dipukul dengan koper, rumahnya dibajak, sekarang gadis itu bahkan ingin tinggal dengannya untuk waktu lama. Tidak bisa. Delmar jelas tidak bisa diam saja. Karena itu, sebelum segalanya jadi tambah lebih buruk. Delmar lantas menuntut pada si gadis untuk mengerti bahwa dia tidak menerimanya seperti statement awal yang dia ujarkan, “Kamu harus mencari tempat bernaung lain besok pagi. Aku sangat yakin ada banyak rumah yang tersedia di luar sana.”

“Aku ragu bisa menemukan yang lebih baik. Lagi pula, kenapa kau sebegitu tidak sukanya aku disini? tempatmu luas dan sangat sempurna untuk ditinggali oleh dua orang. Faktanya juga tempat ini sangat dekat dengan pusat keramaian daripada di rumah lamaku. Hanya beberapa blok saja dari sini, dan itu bisa di tempuh dengan hanya berjalan kaki,” ungkap gadis itu dengan sangat ceria.

Dia hanya mengambil napas lelah sebelum berucap, “Karena aku tidak suka—” Aneh bagi Delmar untuk berhenti mengucap demi mempertimbangkan perasaan lawan bicaranya. Kenapa harus dia jeda?

“Tidak suka?”

“Tidak suka memiliki teman sekamar seorang perempuan.”

“Terus kenapa? Karena kau gay dan mengharapkan seorang pria untuk tidur bersamamu?”

Delmar langsung terkesiap. Perempuan ini terlalu blak-blakan dan seenaknya mengeluarkan statement. Tapi jika dia berpikir begitu bukankah akan jadi lebih sederhana?

“Sederhana. Perempuan menggangguku, dan aku tidak punya cukup kesabaran untuk menoleransi hal itu.” Delmar tidak mengklarifikasi hal itu dan membiarkan saja gadis itu berpikir demikian tentangnya.

“Nah itu dia mengapa sejak awal aku bilang kita harus mengatur segalanya. Kita butuh sebuah kesepakatan yang adil dan memiliki kompensasi sepadan jika terjadi hal yang tidak kita sukai,” usul perempuan itu dengan percaya diri seolah dia baru saja menemukan sebuah penemuan baru yang berguna untuk seluruh kehidupan.

“Cara bicaramu seperti seorang ahli.”

“Aku bisa bilang begitu karena sebelumnya teman sekamarku juga laki-laki gay juga.” Nada suara perempuan itu tiba-tiba agak berubah sebal ketika mengatakannya.

Delmar hanya menaikan sebelah alisnya, meski heran dengan perubahan itu tapi itu bukan urusannya untuk bertanya. “Lalu tindakan terbaikmu?”

“Kita bisa berpikir seolah kita berdua tidak saling melihat satu sama lain. Maksudku kita tidak perlu saling menganggap bahwa kita berdua ada di tempat yang sama,” jawabnya cepat.

“Mudah bagimu untuk mengatakannya,” timpal Delmar sambil mendecakan lidahnya.

“Akan lebih mudah bila langsung di praktekan,” saran perempuan itu cepat seolah dia tidak ingin kalimat yang keluar dari bibirnya di potong sama sekali. “Ayolah, setidaknya beri aku waktu untuk tinggal disini, sementara aku mencari tempat tinggal lain yang lebih sempurna dari milikmu ini. Ini permohonanku yang paling tulus, aku benar-benar sedang putus asa saat ini,” pungkas perempuan itu lagi sambil memperlihatkan ekspresi yang sulit di mengerti. Tapi meski begitu Delmar tahu bahwa dia tidak sedang mencoba membohongi.

Kini pikiran pria itu dipaksa untuk berpacu. Dia harus memilih antara emosionalnya sendiri ataukah logikanya.

“Selama kau disini aku akan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah. Bagaimana dengan penawaranku yang satu itu?” tawar perempuan itu lagi. Kali ini Delmar sudah sangat yakin bahwa dia benar-benar putus asa sungguhan.

“Kau bisa melakukan semuanya? Mencuci, memasak, bersih-bersih, buang sampah, dan belanja?” Delmar memang pada dasarnya butuh pembantu untuk melakukan pekerjaan rumah.

“Tentu bisa selama pembagian pembayaran uang sewanya cukup adil dan aku memiliki privasi yang cukup. Why not?”

Mungkin ini bisa berhasil, mungkin negosiasi ini akan menguntungkannya, mungkin juga pertemuannya dengan perempuan aneh ini bukanlah sebuah pertanda buruk atau barangkali perempuan ini betulan malaikat yang di kirimkan untuknya? Delmar rasa dia sudah gila untuk meyakini yang terakhir itu meskipun hanya di kepalanya.

“Delmar Armanath.” Dia mengulurkan tangannya pada si tamu asing yang telah memberikan penawaran menarik.

Perempuan itu menerima uluran tangan tersebut dan menggoyangkannya sebagai tanda kesepakatan, tak lupa dengan senyuman menawan andalannya. “Aku tahu namamu kok, sudah tertulis jelas di akunmu.” jawabnya yang membuat Delmar mendecak sebal.

“Tapi aku tidak.”

“Gyda Lagherta,” tuturnya halus. Entah mengapa dia senang mendengar namanya. Terdengar catchy.

Tanpa sadar Delmar bahkan berceletuk ria tanpa pikir panjang, “Nama yang bagus.”

“Pemberian ayahku, dia menyukai film tentang Vikings lalu mengambil nama itu dari tokoh favoritnya,” jelas Gyda yang padahal Delmar tidak memintanya memberitahunya sesuatu seperti itu.

Delmar hanya menganggukan kepalanya, “Ah, aku bisa mengerti, sangat mencerminkan dirimu sekali.”

“Memangnya apa?” tanya Gyda yang malah penasaran.

“Nope.”

Setelah perbincangan singkat itu kini Gyda melirik kesana kemari. Dia seperti mencari sesuatu dari ruangan di apartment sempurnanya. “By the way, apa ini kamarku?” Dengan mudahnya Gyda bangkit dari posisinya meraih satu pintu yang adalah ruangan pribadi teman sekamar lamanya yang kebetulan masih ditempeli poster-poster nude tubuh wanita. Sial, Delmar belum sempat membereskannya. Bisa gawat bila dia melihat!

“Jangan buka pintu itu!”

Bab 3

“Shit!” Delmar mengutuk. Ini hari minggu dan baru pukul tujuh tapi dia sudah terjaga lebih awal.

“Apa yang sebenarnya perempuan itu lakukan dengan kebisingan di luar sana?”

Delmar kini seratus persen kehilangan rasa nyaman, dia sudah tidak bisa berpura-pura tidur karena telinganya terus mendengar suara gaduh dari luar. Delmar mengerang, rasa kantuk masih memaksanya untuk tidur tapi dia betulan terganggu dengan suara-suara di luar yang menyaingi suara di diskotik murahan. Delmar sempat mencoba untuk menutup wajahnya dengan bantal, tapi itu tetap tidak membantu. Alhasil bantal yang tidak bersalah tersebut dia lemparkan sebagai bentuk pelampiasan amarah.

Delmar menerobos keluar dari kamarnya tanpa memperdulikan penampilannya sama sekali. Persetan dengan penampilan, saat itu yang ada di pikirannya adalah membentak habis-habisan mahluk berisik di luar sana untuk sedikit lebih tenang. Syukur-syukur bisa dibuat diam.

***

Gyda menyenandungkan lagu yang dia putar keras-keras melalui ponselnya yang sudah dia sambung dengan speaker salon bass kesukaannya. Menganggap bahwa saat ini dia sedang party bersama kawan-kawannya di club. Ini adalah sebuah bentuk dari upaya Gyda untuk menghapus kejadian kemarin sekaligus bahwa saat ini nyatanya dia hanya sedang menyedot debu dari karpet tebal yang berwarna busuk di bawah kakinya. Gyda saat itu hanya mengenakan atasan sederhana berlengan pendek diatas lutut yang menutupi celana hot pants yang dia kenakan. Untuk rambutnya, perempuan itu suka yang simple saat sedang di dalam rumah. Hanya sanggul sederhana agar dia tidak perlu merasa kegerahan saat beraktivitas membersihkan rumah yang luar biasa jorok ini agar menjadi tempat yang lebih layak huni.

“Jorok sekali laki-laki sialan itu! sudah jorok mesum pula,” sungut Gyda seraya mengerjakan aktivitasnya. Bukan tanpa alasan dia dijuluki mesum, sebab kemarin ketika dia membuka salah satu kamar. Gyda menemukan poster perempuan dengan pose seksi tanpa pakaian juga ada sebuah majalah gay yang teronggok di lantai. Mengingat hal kemarin membuat Gyda benar-benar trauma.

Sejatinya meski dia menyanyi dan menari saat sedang melakukan pekerjaan rumah untuk mendistraksi pikirannya sendiri. Pandangan matanya malah tertumbuk pada kamar Delmar, teman sekamarnya sekarang.

Jujur saja, kemarin dia sempat ragu untuk menemui pemuda itu karena sedikit takut barangkali dia adalah seorang pria botak, gendut, dan aneh. Tapi ketika melihat tampangnya dan bagaimana dia bersikap pada Gyda, anehnya dia justru malah merasa sedikit aman dan yang paling penting dan terbaik dari itu adalah Delmar bukanlah tipe-nya dan pria itu juga sudah fix berada digolongan kaum pelangi. Mungkin itu sebabnya Gyda merasa sangat aman berada di rumah ini selain karena alasan bayar sewanya yang murah.

Walaupun kesan pertama yang melekat untuk Delmar adalah dia termasuk dalam kategori good looking. Tapi untuk Gyda dia jelas terlalu sederhana dan tidak keren sama sekali. Dia masih ingat pria itu menguap di depan mukanya, sambil menggaruk dirinya sendiri. Tampilan awut-awutan dengan kuncir rambut yang longgar di kepalanya. Tidak ada yang istimewa dari itu semua.

Padahal Gyda paling tahu bahwa cara tercepat untuk menyembuhkan patah hati adalah jatuh cinta lagi, atau paling tidak memiliki pelampiasan dengan mencari pacar baru. Dia bahkan sempat memikirkan ide gila untuk mengencani teman sekamarnya, tapi melihat gelagat Delmar yang begitu tentu saja hal gagasan absurd tersebut tidak akan pernah kejadian. Memikirkannya saja Gyda sudah malas.

Delmar sudah jelas akan langsung dia keluarkan dari daftar pria yang wajib dia kencani.

Sejak dahulu tipe Gyda selalu sama. Tipe pria yang tampan, cool, classy, elegan, stylish, pintar, seksi dan yang paling penting harus tahu bagaimana caranya memperlakukan perempuan dengan benar. Tanpa salah satu dari klasifikasi itu, Gyda bisa dengan cepat mengatakan tidak dengan sangat mudah tanpa ada penyesalan.

Asyik dengan dunianya sendiri, Gyda mendengar suara pintu yang dibanting. Ruangan yang tertutup rapat sejak kejadian lucu kemarin akhirnya terbuka lebar. Gyda kemudian mendongak untuk berhadapan langsung dengan teman sekamar barunya. Kini dia berdiri tepat di depannya dengan tampang siap membunuh kapan saja. Mulut Gyda terbuka lebar. Hampir tidak percaya dengan satu kalimat yang terlintas di kepalanya.

“Damn! Kenapa terlihat seksi?” gumamnya tanpa sadar.

Buru-buru Gyda menutup mulutnya sendiri yang bicara tanpa izinnya. Menatap si pemuda yang masih berdiri di posisinya tanpa sedikitpun berubah.

“Apa yang sedang kau lakukan pagi-pagi? Ini bukan tempat karaoke! Kau tidak bisa memutar musik keras-keras dan bernyanyi disini pagi-pagi dan menganggu ketenangan tidurku!” Delmar telihat menuntut pada Gyda dengan tangan yang dia simpan di pinggulnya. Pose yang lucu tapi seksi. Bagaimana menjelaskannya ya.

“Aku harap aku tidak meneteskan air liurku saat menatapnya.” Isi hati Gyda berbisik, untungnya kali ini bibirnya bisa diajak kerja sama dengan tidak mengatakan keras-keras apa yang ada di kepala. Tapi kemudian dia menampar dirinya sendiri untuk mengembalikan kewarasannya ke titik semula. Dia mengangkat dagunya tinggi-tinggi sambil memandang rendah ke arah Delmar untuk menghadapi intimidasinya yang terlalu menyilaukan sesaat.

“Saya sedang membersihkan kediaman Anda yang lebih mirip seperti kandang babi, tepat seperti yang anda lihat Tuan Muda pengoleksi majalah gay dan poster porno,” sindir Gyda. Bagus, untuk sesaat dia merasa bangga karena telah berhasil menghadapinya dengan cara yang benar.

Dia melihat Delmar mendengus. “Bisa kau melakukannya nanti? ini terlalu berisik… dan aku sedang tidur. Dan um… tentang kemarin itu salah paham. Benda itu bukan milikku,” sanggahnya.

“Tapi sekarang kau sudah bangun, jadi aku bisa melanjutkan pekerjaanku. Untuk yang kemarin aku tidak peduli itu milikmu atau bukan, tapi yang pasti aku melihatnya berserakan di ruangan yang kau akui sebagai kamarmu. Jadi apakah benda terbang dan tertempel sendiri disana jika kau bukan pemiliknya ?”

Delmar menghela napas, Gyda tahu bahwa pemuda itu sedang menggerutu. Tapi setelah itu dia menatap kearah lain. “Kalau mau bersih-bersih kau bisa gunakan benda yang lebih tenang dan klasik. Sapu misalnya. Juga tidak perlu memutar musik keras-keras kalau hanya sedang melakukan pekerjaan rumah.”

“Ya, tapi dengan sapu debu tidak akan keluar dari karpet kumalmu ini,” sahut Gyda sambil terus melakukan pekerjaannya. Dia tidak mau terjeda dengan Delmar lagi. Dia takut terpesona dan tidak waras jika berlama-lama menatapnya. “Dan musik membuatmu lebih bersemangat mengerjakan semua pekerjaan rumah ini. Aku juga tidak mau melakukannya, tapi ini bagian dari kesepakatan kita kan? atau kau mau merevisinya? Itu lebih bagus malah.”

Delmar bedecak. “Bisa hentikan saja dan lanjutkan nanti? aku mau lanjut tidur lagi,” ujar Delmar.

Tapi Gyda malah dengan sengaja menaikan frekuensi penyedot debunya menjadi level maksimal sehingga dengungannya lebih tinggi. Membuat pria itu harus bicara lebih keras agar Gyda mendengarnya. Sejujurnya dia suka mengisengi laki-laki itu.

“Tapi aku tipe orang yang benci saat pekerjaanku harus di jeda. Aku tidak bisa tenang saat aku merasa pekerjaanku belum selesai.”

Akhirnya sunyi senyap ketika Delmar tiba-tiba saja mematikan musik yang menyala dari ponsel Gyda disusul dengan direbutnya mesin penyedot debu dari tangan Gyda. Delmar kemudian berkacak pinggang di depannya berlagak layaknya si penguasa. “Lakukan lain kali, oke?”

Tapi bukan Gyda jika dia mengalah dengan mudah. “Sudah aku bilang kalau aku tidak suka saat pekerjaanku harus terjeda oleh sesuatu yang tidak penting. Aku benci harus menunda pekerjaan yang bisa di selesaikan saat itu juga. Lagipula apa masalahmu? Ini sudah pagi. Kenapa harus tidur saat kau bisa beraktivitas seperti seorang manusia pada umumnya? Kau bahkan tidur lebih awal semalam.”

“Hari ini hari Minggu dan itu adalah hari tidur sepuasku. Kau tidak berhak ikut campur dan berkomentar soal itu.” Kali ini Delmar makin geram.

“Bukannya kita sepakat kemarin kalau kita harus bertindak tidak terlihat satu sama lain? kau bisa berpura-pura aku tidak ada disini. Semua beres kan?” timpal Gyda santai dan merebut kembali mesin penyedot debu dari tangan Delmar.

“Ya, bagaimana aku bisa berpura-pura kau tidak ada disini kalau kau terlihat di depan mukaku dengan suara-suara gaduh dan juga nyanyian fals yang kau buat ha?”

Bukannya merasa terintimidasi Gyda malah angkat bahu. “Ya, itu kan bukan urusanku. Aku hanya melakukan pekerjaanku sesuai dengan perjanjian yang kita buat ah, lebih tepatnya sesuai dengan keinginanmu. Terserah padaku bagaimana caranya aku melakukan ini, tidak ada aturan soal ini. Sumbat saja telingamu dengan kapas atau sesuatu. Sudahlah pergi sana jangan ganggu saat aku sedang bekerja. Kalau sudah bersih kau sendiri juga menikmati hasilnya.” ujar Gyda sembari memperagakan tangannya seperti sedang mengusir ayam.

Gyda bisa melihat kedua kepalan tangan Delmar terguncang, dia mungkin sedang mencoba untuk menahan dirinya. Gyda jadi penasaran sejauh mana pria itu bisa bersabar. Apakah dia akan memukulnya seperti yang pernah mantannya yang kesekian perbuat? Atau membentaknya dan mengusirnya seperti kemarin?

Tapi ditunggu aksi apa yang Delmar pilih, rupanya pria itu malah tidak melakukan apa-apa. Delmar hanya membisikan umpatan yang tidak jelas sebelum akhirnya balik kanan dan kembali ke kamarnya.

Lho, dia bisa sabar?

Segera setelah Gyda memastikan Delmar menghilang dari pandangannya, gadis itu melepaskan cengkramannya dari alat penyedot debu kemudian meletakan tangannya di sisi kiri dadanya.

Jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang tidak karuan. Ini jelas tanda yang agak berbahaya. Ini tidak normal bagi seorang Gyda.

“Apa yang terjadi padaku sih?” bisiknya pada diri sendiri. “Kenapa dengan jantung bodoh ini? kenapa tidak bisa berdetak dengan normal? Apa tadi aku terlalu berlebihan? Sialan, aku gugup sekali tadi.”

Bayangan Delmar ketika berhadapan dengannya tadi kembali berputar dalam ingatan. Pria itu berdiri tepat di depan mukanya dengan wajah congkak penuh kemarahan dalam kondisi rambut yang tergerai dan hanya mengenakan kaos tanpa lengan yang memperlihatkan beberapa otot di bagian bisep dan trisepnya. Satu hal yang pasti dari penampilan itu adalah, dia terlihat sangat seksi di mata seorang Gyda yang pemilih soal pria.

Pikirannya membayangkan bagaimana bentuk dalamnya. Ketika lehernya, dan bahunya yang terlihat jelas itu agak menggoda. Bagaimana dengan bagian dada yang sepertinya kuat, perut yang terukir indah bagaikan pahatan dewa dewi, pinggang yang ramping dan pinggul yang sempurna, kulit yang sedikit kecoklatan yang indah dan oh… sekali lagi Gyda menampar dirinya sendiri. Kini dua bekas kemerahan membuat dia dibawa kembali ke alam nyata. Pikirannya barusan lebih terlihat seperti seorang tante girang mesum. Itu tidak benar!

Dengan cepat Gyda menyingkirkan semua bayangan bodoh itu. Mencoba menyangkal semua pikiran yang mampir di kepalanya. Gyda ingin menyangkal soal fakta mengerikan yang dia rasakan. Bahwa dia sudah mulai merasakan adanya sedikit ketertarikan padanya.

“Sialan!” Sekali lagi dia mengutuk. “Ya Tuhan! kenapa dia harus terlihat begitu seksi sih?”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED