Bab 2

Pagi itu, langit Jakarta tampak muram, seolah ikut merasakan beban hati Nadira. Langkahnya membawa dia ke tempat yang paling ingin dia hindari sejak dipecat: rumah masa kecilnya di daerah Cipete.

Sudah dua tahun ia memilih tinggal terpisah dari ibunya, bukan karena benci, tapi karena luka-luka lama yang tak kunjung sembuh. Ibunya, seorang wanita keras dengan prinsip bahwa hidup hanya akan berpihak pada mereka yang pandai memanfaatkan kesempatan, pernah menyuruh Nadira mendekati bosnya dulu-dengan dalih bahwa wanita harus "pandai menempatkan diri" jika ingin bertahan di dunia kerja.

Dan sekarang, semua mimpi itu telah meledak, berserakan di hadapannya, menyisakan kenyataan pahit: ia hamil, tanpa pekerjaan, tanpa dukungan.

Nadira berdiri di depan pintu rumah kecil bercat hijau pudar itu. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk. Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari dalam, lalu pintu terbuka, memperlihatkan sosok wanita setengah baya dengan kerudung yang agak miring dan mata tajam yang langsung menyipit melihatnya.

"Nadira?" suara ibunya datar. "Tumben datang."

Nadira menunduk, mencoba menahan air mata. "Aku... bisa masuk?"

Ibunya mengangguk pelan, lalu mempersilakannya masuk. Rumah itu tak banyak berubah. Bau kayu tua dan aroma dapur yang lembap masih menyelimuti udara. Nadira duduk di sofa reyot yang biasa ia tempati saat remaja dulu.

"Kenapa kamu kelihatan pucat?" tanya ibunya tanpa basa-basi.

"Aku hamil," jawab Nadira lirih, hampir tak terdengar. Namun ibunya membeku seketika.

"Apa?"

"Aku hamil, Bu... Tiga minggu lalu aku dipecat dari kantor. Dituduh... menjebak bosku. Tapi itu tidak benar. Aku dijebak seseorang, dan sekarang aku sendiri... dan aku tidak tahu harus bagaimana."

Ibunya diam cukup lama sebelum akhirnya berkata dingin, "Bosmu itu... siapa namanya? Elvano Mahardika?"

Nadira mengangguk perlahan.

Ibunya menghela napas. "Jadi... kau berhasil, ya."

Ucapan itu seperti cambuk yang mencabik harga diri Nadira.

"Berhasil? Aku bahkan dipermalukan, dipecat, dilempar uang seperti aku-" Suaranya tercekat.

Tapi ibunya hanya menatapnya, seolah luka anaknya adalah konsekuensi dari rencana yang tak sempurna. "Kau mungkin tidak sengaja, tapi Tuhan sudah beri jalan. Kau sekarang mengandung darah Mahardika. Anakmu punya nama besar di belakangnya."

"Jadi aku harus ke sana? Mengemis pengakuan dari pria yang sudah menghancurkan aku?"

"Kalau bukan untukmu, lakukan demi anakmu," balas ibunya cepat. "Atau kau mau anakmu lahir tanpa nama, tanpa hak waris, tanpa masa depan?"

Nadira bangkit, tubuhnya bergetar. "Aku tidak akan menjual harga diriku seperti itu. Bahkan jika aku harus bekerja jadi pelayan, aku akan membesarkan anak ini dengan tanganku sendiri. Tapi... aku juga tidak akan diam dan membiarkan Elvano hidup dengan keyakinan bahwa dia bisa menghancurkan orang sesuka hati."

Ibunya menatap Nadira, kali ini dengan pandangan yang agak berbeda-bukan penuh perhitungan, tapi ada kilatan kekaguman yang samar.

Sore itu, Nadira berdiri di depan gedung Mahardika Corp, tubuhnya ditutupi mantel hitam yang kebesaran. Ia sudah tahu ia tidak akan bisa langsung bertemu Elvano. Tapi ia tahu siapa yang bisa membantunya: Arya, asisten eksekutif Elvano sekaligus satu-satunya orang yang tak ikut mempermalukannya saat insiden itu terjadi.

Dia menunggu di luar lobi hingga Arya keluar, seperti biasa dengan kemeja rapi dan map di tangan.

"Arya," sapa Nadira pelan.

Pria itu terkejut, matanya membesar. "Nadira? Ya Tuhan, kau... ke mana saja?"

"Aku butuh bantuanmu. Aku tidak datang untuk balas dendam. Aku hanya ingin bertanya satu hal-dan mungkin, kau satu-satunya yang bisa membantuku."

Arya menatap sekeliling, lalu mengangguk. Mereka pindah ke kafe kecil di seberang gedung.

"Aku tahu Elvano bukan pria yang mudah didekati," ucap Arya. "Tapi waktu itu... aku yakin kau tidak bersalah. Aku tahu kau tidak pernah bermain kotor."

Nadira mengangguk, suaranya nyaris bergetar. "Malam itu, aku tidak ingat apa-apa. Tapi seseorang menjebakku, Arya. Ada yang memasukkan sesuatu ke minuman atau makananku. Aku yakin."

Arya menunduk. Wajahnya gelisah. "Aku tak bisa mengatakan banyak, tapi aku tahu malam itu ada seseorang yang datang ke ruang Elvano sebelum kau dipanggil."

Nadira menegang. "Siapa?"

"Aku tidak yakin... tapi aku mendengar suara Kirana. Putri Pak Rendra, salah satu pemegang saham. Dia... punya hubungan dekat dengan Elvano. Dan dia membencimu sejak lama."

Darah Nadira berdesir. Kirana. Wanita cantik, ambisius, dan selalu memandangnya seperti debu di bawah sepatu mahalnya.

Arya menatapnya tajam. "Kau harus hati-hati. Jika kau ingin mengungkap semua ini... kau harus siapkan bukti. Dan nyali yang lebih besar dari sebelumnya."

Nadira mengangguk pelan. Tangannya menyentuh perutnya yang masih datar. "Bukan hanya aku yang harus kulindungi sekarang. Tapi anakku. Dan aku tidak akan membiarkan dia tumbuh dalam kebohongan."

Malam itu, Nadira berdiri di depan cermin, melihat wajahnya yang mulai berubah. Di balik kulit pucat dan mata yang kelelahan, ia melihat sorot mata seorang perempuan yang sudah terlalu lama diam.

Bukan lagi korban.

Bukan lagi bayangan.

Tapi seorang ibu yang siap memperjuangkan kebenaran-meski harus berhadapan dengan pria yang dulu pernah membuatnya hancur.

Dan ia tahu, waktu itu akan datang lebih cepat dari yang ia perkirakan.

Bab 3

Suara langkah sepatu hak tinggi menggema di sepanjang lantai marmer lobi Mahardika Corp yang mewah. Setiap kepala yang berada di sana sempat menoleh, sebagian dengan rasa heran, sebagian lagi dengan tatapan sinis. Wajah itu-yang sempat menjadi bahan gosip murahan selama berminggu-minggu-kini kembali muncul, lebih tegar dari sebelumnya.

Nadira tidak peduli pada bisik-bisik yang mulai terdengar pelan. Dia sudah menghabiskan cukup banyak waktu menelan malu. Kini gilirannya bicara.

"Aku ingin bertemu Elvano Mahardika," ujarnya tegas pada resepsionis.

Gadis di balik meja itu kelihatan ragu. "Maaf, tanpa janji, tidak bisa-"

"Beritahu dia, Nadira Anastasya ingin menemuinya. Katakan, ini tentang malam itu."

Wajah resepsionis pucat seketika. Ia segera menghubungi lantai eksekutif tanpa berkata banyak.

Butuh waktu lima menit yang terasa seperti lima jam sebelum akhirnya seorang pria berpakaian rapi-bodyguard-datang mendekat dan berkata, "Ikuti saya."

Pintu lift terbuka di lantai 42, dan Nadira dibawa menyusuri koridor senyap menuju ruang pribadi Elvano. Jantungnya berdegup keras, bukan karena takut-tapi karena marah. Marah pada dirinya sendiri karena masih mengingat suara laki-laki itu. Marah karena bagian kecil di hatinya masih menginginkan penjelasan.

Begitu pintu besar terbuka, Elvano sudah berdiri di dekat jendela kaca besar, membelakangi Nadira. Tubuh tinggi itu tampak tegang, dan tangan kanannya menggenggam gelas kristal berisi cairan kuning keemasan. Pemandangan kota Jakarta di baliknya seolah tak mampu menyaingi aura dingin yang memancar dari pria itu.

"Aku tidak menyangka kau akan punya cukup keberanian kembali ke sini," ucap Elvano tanpa menoleh.

Nadira berdiri tegak. "Aku bukan datang untuk meminta maaf, karena aku tidak melakukan kesalahan."

Elvano berbalik perlahan. Tatapannya tajam, tapi Nadira tidak mundur. "Tidak bersalah?" Suaranya pelan, namun nadanya tajam. "Kau masuk ke kamarku malam itu dengan tubuh setengah telanjang, menatapku dengan mata mabuk, dan merayap di ranjangku seperti-"

"Berhenti!" Nadira menggertakkan gigi. "Aku tidak tahu apa yang terjadi malam itu! Aku tak pernah berniat masuk kamar Anda! Aku bahkan tidak ingat apa pun kecuali makan malam di ruang rapat bersama tim."

Elvano menyipitkan mata, seolah mencoba menelanjangi kebohongan dari wajah Nadira. "Lalu siapa yang harus aku percaya? Mataku sendiri atau ocehanmu sekarang?"

"Percaya insting Anda-kalau Anda masih punya hati. Apakah Anda benar-benar percaya aku, sekretaris Anda selama dua tahun, mendadak berubah jadi wanita licik yang menjebak Anda hanya untuk tidur satu malam dengan CEO?"

"Aku percaya bukti. Dan malam itu, semuanya menunjukkan kau sengaja."

Nadira tertawa getir. "Bukti? Bukti mana? Rekaman? Saksi? Atau hanya asumsi Anda karena melihatku di ranjang?"

Elvano tak menjawab.

"Anda tidak pernah bertanya padaku, tidak pernah mendengarkan penjelasan. Yang Anda lakukan hanya satu: melempar uang ke wajahku seperti aku sampah!"

"Karena aku muak!" bentak Elvano. "Aku muak karena... aku-"

Suara pria itu tercekat.

Nadira menatap tajam. "Karena apa? Karena Anda tidak bisa mengendalikan diri Anda malam itu? Karena Anda takut merasa bersalah? Karena lebih mudah menyalahkanku daripada menerima bahwa Anda juga berandil dalam kejadian itu?"

Elvano memalingkan wajah, rahangnya mengeras. Ia tak menyangka Nadira akan berbicara seterang ini. Wanita itu bukan lagi sosok lemah yang dulu menangis sambil memohon penjelasan.

"Aku tidak datang untuk menggali luka lama, Elvano. Aku datang karena aku hamil."

Hening.

Seketika seluruh ruangan seperti tertelan diam. Hanya detak jam mewah di sisi ruangan yang terdengar. Elvano perlahan menoleh, wajahnya tegang. "Apa?"

"Aku mengandung anakmu," ucap Nadira dengan nada pelan namun pasti.

Elvano melangkah mendekat, matanya membelalak. "Jangan main-main denganku."

"Aku tidak pernah main-main dengan hidupku," balas Nadira. "Dan anak ini... dia bukan hasil rencana. Tapi dia nyata. Aku sudah periksa, sudah cek darah, dan ini benar. Aku hamil hampir dua bulan."

Wajah Elvano berubah. Sebagian dari dirinya ingin menyangkal, tapi bagian lain tahu Nadira bukan tipe wanita yang bermain drama demi simpati.

"Kenapa sekarang kau baru datang?" tanyanya dengan suara rendah.

"Karena aku sempat ingin menghilang dari hidupmu selamanya," jawab Nadira. "Tapi kemudian aku sadar, anak ini punya hak. Dan kau... setidaknya harus tahu bahwa dia ada."

Elvano kembali berjalan ke jendela, membelakangi Nadira. Tangannya menggenggam tepi kaca begitu keras hingga buku jarinya memutih.

"Apakah kau ingin aku menikahimu?" tanyanya tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Nadira terdiam. Ia memandangi punggung pria itu, merasakan rasa sakit lama menggedor dadanya. "Aku tidak butuh belas kasihanmu. Aku hanya ingin kau tahu. Aku akan membesarkan anak ini sendiri jika perlu. Tapi aku tidak akan diam jika suatu hari dia bertanya siapa ayahnya, dan aku harus menjawab dengan kebohongan."

Elvano berbalik. Wajahnya kelam, matanya mengunci pada wajah Nadira.

"Kau tidak bisa pergi begitu saja setelah menjatuhkan bom seperti itu."

Nadira mengangkat dagu. "Aku sudah menghabiskan cukup waktu menanggung malu karena perbuatan yang tidak kulakukan. Sekarang, terserah padamu mau jadi ayah atau tidak. Tapi aku tidak akan biarkan anak ini tumbuh dalam bayang-bayang fitnah dan hinaan."

Saat Nadira berbalik, tangan Elvano menahan pergelangan tangannya. Genggaman itu kuat, tapi tak menyakitkan. "Tunggu."

Nadira menoleh, mata mereka bertemu.

"Aku ingin tahu semuanya. Apa yang terjadi malam itu... dari awal."

"Sudah terlambat untuk itu, Elvano," bisik Nadira, suara lirih penuh luka. "Yang kuinginkan sekarang hanyalah keadilan. Untukku. Dan untuk anak kita."

Ia melepaskan diri dan melangkah keluar, meninggalkan pria itu terdiam dengan matanya tertuju pada pintu yang kini tertutup rapat.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Elvano merasa kehilangan kendali.

Dan ia membencinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED