Suara desahan dan erangan Albert menggema memenuhi kamarnya yang luas, entah berapa kali dia menggagahi Renata, dia selalu nambah dan nambah hingga Renata dibuat lemah tak berdaya oleh Albert.
"Aaahhhhhhhh." Albert menegang dan mendapatkan pelampiasannya lagi.
"Tubuhku lelah sekali," kata Renata.
Albert tersenyum ingin sekali dia menggempur wanitanya tersebut namun karena pinggulnya sudah pegal Albert pun menyudahi aksinya.
"Kita lanjut besok pagi lagi," kata Albert lalu dia membersihkan diri dan tidur.
Renata yang lelah juga memutuskan tidur dengan tubuh polosnya namun tetap menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.
Entah berapa lama Renata tidur, dia merasa kalau tubuhnya ada yang menindih lagi dan benar saja Albert tengah memainkannya kembali. Renata tak habis pikir dengan Albert yang kuat menggagahinya padahal semalam dia sudah menggagahinya lebih dari tiga ronde.
"Tidurlah kalau kamu lelah biar aku bermain sendiri," kata Albert dengan tersenyum licik.
"Apa anda tidak memiliki rasa puas tuan? sehingga anda menggagahi saya lagi," kata Renata dengan kesal.
"Kalau mainan baru aku tidak pernah puas," sahut Albert.
Renata terdiam dia merasa sangat hina karena Albert menganggapnya mainan yang bisa bebas digagahi tanpa memikirkan perasaannya sama sekali.
Kejam dan biadab ya begitulah namun bagaimana lagi Renata telah dijual oleh Rian pada Albert.
Albert yang merasa telah membeli tentu bebas melakukan apapun pada Renata.
Lama bermain kini Albert sudah mendapatkan pelepasannya, dia segera beranjak dan membersihkan diri sedangkan Renata menangis lagi mengingat nasib dirinya yang tiada arti seperti ini. Begitu rendah dan hina di mata Albert.
"Aku kini sudah kotor," gumamnya dengan memukul-mukulkan tangannya di kasur, dia berusaha melampiaskan rasa kesalnya.
Seusai mandi Albert segera memakai baju kerjanya, dia nampak tampan sekali dengan setelan jas warna abu-abu.
"Boleh saya ke kampus tuan?" tanya Renata sambil menghapus air matanya yang tersisa.
Albert menatap Renata lalu mengangguk.
"Bersiaplah aku akan mengantarmu," kata Albert.
"Jangan GR dulu aku mau mengantar kamu karena pasti antara pangkal paha kamu sakit," Imbuh Albert
"Punya hati juga dia," batin Renata.
Renata segera melangkahkan kaki ke kamar mandi, sungguh bagian sensitifnya sangat perih entah bagaimana keadaannya di dalam.
"Auuuwwwww," pekik Renata saat dia buang air kecil.
Dia merasakan perih saat air seninya keluar dan mengenai lubang sensitifnya.
"Perih sekali, rudal besar milik Albert telah mengobrak abrik milikku," gerutu Renata.
Dengan pelan Renata membasuh bagian sensitifnya setelah itu dia mengguyur tubuhnya dengan air, dibawah guyuran air Renata menggosok tubuhnya dengan banyak sabun supaya bekas Albert hilang.
Sesudah mandi, Renata keluar dan di tempat tidur sudah ada baju bangus untuknya.
Renata bergegas memakainya lalu keluar.
"Lama sekali," protes Albert.
"Makanlah setelah itu kita berangkat," imbuh Alber.
Albert menunggu Renata makan, asistennya tersenyum karena baru kali ini dia menunggui wanita makan biasanya dia akan meninggalkan wanitanya makan sendirian.
Renata yang lelah karena digempur semalaman sengaja makan dengan porsi jumbo, di samping itu dia sengaja membuat Albert ilfil padanya supaya Albert mau melepaskannya.
"Kamu berapa tahun tidak makan?" tanya Albert.
"Makan saya memang banyak, lagipula semalam kan tuan menggagahi saya hingga dini hari," seloroh Renata.
Asisten dan anak buah Albert yang berada di sana menahan tawa, mereka baru tau kalau bosnya maniak sex.
"Tertawa potong gaji lima puluh persen," ancam Albert sehingga mereka semua tidak berani menahan tawa.
Albert menatap gadis kecil yang berada di seberang tempatnya duduk, ada rasa kesal karena Renata telah berani mempermalukannya depan anak buahnya.
"Lihatlah nanti setelah aku pulang kerja," batin Albert dengan senyum menyeringai.
Seusai makan Renata sengaja bersendawa dengan keras sehingga membuat Albert menggelengkan kepala.
"Astaga," batin Albert.
Renata bisa saja menahan sendawa namun lagi-lagi dia ingin membuat Albert ilfil, dengan begitu Albert akan berpikir kembali untuk menjadikannya budak di ranjang panas miliknya.
"Tuan anda punya mobil lain sekali mobil ini?" tanya Renata.
Melihat dirinya akan diantar mobil Renata menjadi tidak enak sehingga dia meminta Albert untuk menggunakan mobil lainnya.
"Ada banyak kenapa?" tanya Albert heran.
"Anda bisa kan mengantar saya menggunakan mobil biasa saja, saya tidak enak dengan teman-teman kalau diantar menggunakan mobil seperti ini," jawab Renata.
Albert dan asistennya saling pandang, biasanya wanita wanita Albert suka bila diantar dengan mobil mewah tapi Renata malah memilih diantar menggunakan mobil biasa.
"Gimana tuan, ganti mobil atau tidak?" tanya Gibran
"Ganti dengan yang lain," jawab Albert.
Lagi-lagi Albert menuruti keinginan Renata setelah ganti mobil mereka berangkat.
"Kenapa kamu tidak suka jika aku mengantar kamu menggunakan mobil mewah?" tanya Albert.
"Aku gak suka saja jadi pusat perhatian, pasti setelah itu mereka pada kepo dan tanya macam-macam padaku," jawab Renata.
Albert menatapnya dengan tersenyum.
"Logis juga wanita ini," batin Albert.
Tak selang lama mereka telah sampai di kampus, Renata turun dari mobil Albert namun sebelumnya dia mencium terlebih dahulu punggung tangan Albert.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Albert.
"Ini tuh namanya Salim, tradisi dari keluarga aku," jawab Renata lalu turun sedangkan Albert masih memperhatikan Renata yang berjalan masuk ke dalam kampus.
Di kampusnya Renata tidak begitu terkenal dia juga tidak memiliki banyak teman hanya ada beberapa orang yang mau berteman dengannya.
"Ren," teriak Mira
Renata menoleh lalu menghentikan langkahnya.
Temannya yang bernama Mira memanggil.
"Aku perhatikan jalan kamu agak aneh seperti orang habis malam pertama saja," kata Mira dengan menatap Renata.
"Udah deh nggak usah negatif thinking sama aku, aku kemarin habis jatuh dan itu aku kena kursi sumpah rasanya sakit banget," sahut Renata dengan berbohong.
"Oh ya bagaimana dengan tugas praktek kita?" tanya Renata mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
"Kan kamu tau sendiri kalau kelompok kita tidak memiliki sponsor, bisanya juga masuk ke kalangan bawah dengan harga minim tidak sebanding dengan biaya yang kita keluarkan. Berbeda dengan kelompok lain yang up, sayur mereka tentu masuk supermarket besar dengan bantuan orang dalam," jawab Mira menjelaskan panjang kali lebar.
Renata melemas nasib orang di bawah rata-rata memang seperti ini berbeda dengan orang kalangan up.
"Ren, kan cowok kamu itu pebisnis kenapa kamu nggak minta tolong ma dia untuk memasukkan sayur organik kita ke supermarket besar." Mira memberikan ide.
Renata mengepalkan tangannya, dia teringat kembali akan kebiadaban Rian kekasihnya.
"Jangan sebut si brengsek itu," kata Renata dengan marah.
"Kenapa? bukannya kamu cinta mati tu ma dia?" tanya Mira heran.
"Udahlah Mir, aku tu benci tujuh turunan sama dia, please ya jangan sebut dia saat bersama aku," jawab Renata.
Meskipun Mira penasaran dengan apa yang terjadi pada Renata dan Rian namun Mira tidak ingin membuat temannya ilfil.
Di sisi lain Gibran dan Albert memutar jalan karena jalan kantor dan kampus Renata berlawanan arah.
"Tuan, kampus nona Renata dalam naungan perusahaan kita," lapor Gibran.
"Benarkah," sahut Albert.
Terlintas berbagai rencana licik di otak Albert sehingga membuatnya tersenyum licik.
Entah apa yang Albert pikirkan, sehingga dia tersenyum licik seperti itu.
Sepulang dari kampus Renata enggan sekali untuk pulang ke mension Albert, dia malas melayani Albert yang merupakan penggemar sex.
"Malas sekali pulang ke rumahnya tapi kalau aku kabur percuma juga," gumam Renata dengan sedih.
Renata memutuskan jalan-jalan ke mall yang letaknya tak jauh dari kampus, saat akan masuk mall ponselnya berdering.
"Nomor siapa ini?" batin Renata lalu mengangkat panggilan yang masuk.
"Cepat pulang dan tunggu aku, siapa yang mengijinkan kamu jalan-jalan ke mall," maki Albert dari seberang sambungan telponnya.
Seketika Renata membolakan mata, bagaimana bisa Albert tau kalau dirinya kini berada di mall?
Bola mata Renata memutar mencari keberadaan Albert namun nihil malah yang dia temukan adalah Rian si mantan yang tega menjaminkan dirinya untuk bisnis yang menguntungkan Rian sendiri.
"Iya-iya aku pulang," sahut Renata yang langsung memutus panggilan telpon dari Albert.
Renata bergegas menghampiri Rian, melihat Rian darahnya langsung mendidih, amarah di dalam dadanya bergejolak hebat.
"Enak sekali kamu mas, berduaan dengan seorang wanita dan tidak memperdulikan nasib aku yang kamu jual pada Albert," maki Renata.
Rian tertawa keras mendengar makian Renata, untuk apa memperdulikan nasib Renata jika nasibnya sudah enak.
"Lagian siapa yang tahan dengan wanita sok suci seperti kamu, oh ya pasti sekarang hilang sudah kan kesucian kamu yang selalu kamu jaga itu," sahut Rian sembari meledek Renata.
"Brengsek kamu mas, tidak kah kamu pikir kalau apa yang kamu lakukan ini adalah tindakan tidak bermoral," timpal Renata.
"Bodoh amat asal aku dapat banyak uang," tukas Rian.
Renata mengepalkan tangannya, dia sungguh menyesal telah membuka pintu hatinya untuk pria brengsek seperti Rian.
"Lihat saja aku akan membuat kamu hancur," ancam Renata.
"Silahkan. seharusnya kamu itu berterima kasih padaku karena tidak semua wanita bisa menjadi wanita Tuan muda Albert," Rian tertawa sambil mengibaskan tangannya, mengkode Renata untuk pergi.
Renata yang kesal mengambil segelas lemon tea yang ada di meja dan menyiramkannya pada Rian kemudian dia berlari.
"Awas kamu Renata!" teriak Rian dengan baju yang basah kuyup.
Renata membalikan badannya, dia menjulurkan lidahnya pada Rian lalu tertawa, dia sungguh puas sekali karena bisa menyiram Rian dengan es.
Merasa lelah Renata berhenti untuk mengambil nafas, tiba-tiba ada sebuah mobil yang mendekatinya.
"Masuk!" teriak seorang pria yang tak lain adalah Albert.
Renata menolah dan betapa kagetnya dia kalau yang berteriak adalah Albert.
"Bagaimana bisa dia ada disini," batin Renata.
"Aku hitung sampai tiga, kalau kamu masih berdiri di sana jangan salahkan aku jika aku turun dan memaksa kamu," ancam Albert yang membuat Renata segera masuk ke dalam mobil.
"Jalan Gibran," titah Albert.
Albert yang kesal mencengkeram lengan Renata dan ini membuat Renata kesakitan.
"Aku meminta kamu untuk pulang tapi kenapa masih di sini, hah! dan lagi seenaknya memutus telpon dariku memangnya kamu siapa!" bentak Albert yang membuat Renata tersentak kaget.
"Saya tidak tau menahu urusan anda dan Rian, saya juga tidak ingin menjadi budak ranjang anda tuan Albert, lagipula ya beginilah saya kalau tidak suka anda bisa melepaskan saya," sahut Renata yang membuat Albert semakin emosi.
Dengan tatapan bak kilatan petir, Albert meminta Gibran untuk menepikan mobilnya.
Renata menelan salivanya dengan kasar, dia takut melihat Albert yang marah seperti ini.
Setelah mobil berhenti, Albert meminta Gibran untuk keluar.
"Keluarlah Gibran," Gibran segera keluar.
Setelah Gibran keluar, dia mengendurkan dasi miliknya lalu melepas kancing satu persatu.
"Apa yang akan anda lakukan tuan?" tanya Renata dengan tubuh yang bergetar karena ketakutan.
"Mengingatkan kamu bahwa kamu adalah seorang budak yang seharusnya tidak boleh melawan tuannya apalagi berbicara kasar. Ingat! aku sudah membeli dirimu jadi semua telah menjadi milik aku termasuk harga diri kamu," jawab Albert.
Albert memaksa Renata untuk melepas pakaiannya, Renata berusaha keras menolak namun tenaga Albert lebih besar darinya.
Kini tubuhnya di bawah kungkungan tubuh Albert dan fenomena mobil bergoyang pun terjadi. Albert yang marah melakukan hal itu dengan kasar, dia tidak peduli dengan Renata yang kesakitan. Albert meluapkan emosinya pada tubuh Renata, kulit yang semula putih kini berubah menjadi merah bahkan ada yang sampai membiru.
Albert menggigit pucuk buah dada Renata dengan keras sehingga membuat Renata menangis, dia merasakan sakit dan nikmat secara bersamaan.
Sudah dua puluh menit fenomena mobil bergoyang masih belum selesai, Albert terus menggila dan ini membuat Renata kesakitan.
"Maafkan aku tuan Albert," bisik Renata memohon ampun pada tuannya karena dia telah membangkang.
Albert tentu tidak mempedulikan ucapan Renata, baginya yang terpenting adalah dia bisa menghukum plus mendapatkan pelepasannya.
Albert meremas buah dada Renata hingga memerah, dia terus memaju mundurkan pinggulnya dengan cepat hingga mobil bergoyang cukup kuat
Renata menangis bukan hanya sakit fisiknya tapi juga sakit hatinya karena diperlakukan seperti binantang.
"Aaaaaahhhhhhh." Albert mengerang hebat karena dia telah mendapatkan pelepasannya.
Dia segera mencabut miliknya dan membersihkannya dengan tisu sedangkan Renata berusaha keras untuk bangun karena dia juga harus membersihkan area kewanitaannya.
Melihat baju Renata yang sobek, Albert berinisiatif meminjamkan kemejanya pada Renata sedangkan dia memilih bertelanjang dada.
"Sekali lagi kamu melawanku, lihatlah apa yang akan aku lakukan," ancam Albert yang membuat Renata mengangguk dengan takut.
Kini Albert memerintahkan Gibran untuk masuk mobil, melihat Albert yang bertelanjang dada sudah dipastikan kalau mereka habis bercocok tanam.
"Tuan Albert memang gila," batin Gibran.
Sesampainya di mention, Albert menggendong Renata masuk ke kamar namun sebelumnya dia meminta pelayan untuk mengantar makanan ke kamar.
"Kamu kenapa diam saja?" tanya Albert.
"Apa aku disuruh berteriak?" batin Renata yang kesal dengan Albert.
"Lagi tidak mood bicara tuan," jawab Renata.
"Kenapa? apa karena aku memaksa kamu bercinta di mobil tadi?" tanya Albert.
"Salah satunya itu tapi yang membuat saya dongkol adalah Rian mantan saya," jawab Renata.
Albert mengerutkan dahinya sedangkan Renata tiba-tiba mendapatkan ide untuk membalaskan dendamnya pada Rian.
"Boleh saya minta sesuatu tuan?" tanya Renata.
"Apa?" tanya Albert balik.
"Hancurkan Rian, anda kan orang berkuasa tentu pasti mudah untuk menghancurkan Rian," jawab Renata.
Albert menatap Renata dengan tatapan yang tak biasa, dia tak menduga kalau Renata ingin membalaskan dendamnya pada Rian.
"Semua tergantung servis kamu Renata, semakin kamu membuat aku puas, aku akan menghancurkan Rian hingga dia menyesal karena lahir di dunia ini," kata Albert.
Renata mendengus kesal, Albert selalu menginginkan tubuhnya, tidak bisakah membantu tanpa harus ada bayarannya?
"Baiklah Tuan, tapi beri saya waktu untuk belajar memuaskan anda," pungkas Renata.
Renata yang ingin melihat Rian hancur pun menyanggupi keinginan Albert, toh dia juga sudah tidak suci lagi dan ini semua juga karena Rian.
"Aku hancur kamu juga harus hancur karena sungguh tidak adil jika aku sendiri yang hancur mas Rian sayang," batin Renata.
Renata menggunakan laptop milik Albert untuk Googling dia mencari artikel bagiamana cara memuaskan pasangan, ada banyak video panas yang bisa buat referensi bagi Renata.
"Lihat videonya ah," gumam Renata.
Video yang Renata lihat adalah blue film, awalnya Renata agak kurang suka namun demi bisa memuaskan Albert dirinya rela menonton video itu sampai selesai.
"Ah membuat aku pengen saja," batin Renata.
Renata yang tidak ingin memanas menyudahi pencairannya yang penting dia sedikit banyak tau bagaimana menservis Albert dengan baik.